Perbuatan Surya tersebut mengakibatkan dirinya didakwa oleh Kejaksaan Agung dengan 2 dakwaan antara lain: Tuntutan Utama; Melanggar Pasal 2 ayat 1, juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 re. Sedangkan dakwaan subsider: Pelanggaran Pasal 3 dibacakan dengan Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 55(5). . 1-1, dalam KUHP. Selain dakwaan terkait korupsi, Surya juga didakwa dengan dugaan TPPU, yakni pelanggaran Pasal 3(1). 1(c) UU No.15 Tahun 2002 tentang TPPU sebagaimana telah diubah dengan UU No.25 Tahun 2003 tentang perubahan UU No.15 Tahun 2002 tentang TPPU serta dakwaan pokok ketiga: pelanggaran Pasal 3 UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU dan anak perusahaannya: melanggar Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU.
Selain itu, Syamsuar juga memimpin langsung rapat konsep Riau Hijau dalam RPJMD di Kantor Bappeda Riau pada bulan yang sama. Ditegaskannya, konsep Riau Hijau bukan sekadar penanaman pohon, melainkan konten perbaikan pengelolaan lingkungan hidup di Riau.
Deforestasi Riau
Terkait dengan semakin berkurangnya luas tutupan hutan alam di konsesi HTI, Eyes on the Forest (EoF) - Koalisi Kalaulahari, WALHI Riau dan WWF -. Dari hasil analisis tersebut ditemukan adanya indikasi deforestasi alami yang dilakukan oleh PT Arara Abadi dan PT SPM. Dari hasil pantauan di lapangan terlihat adanya kegiatan penebangan alam dan diduga dilakukan untuk menanam bibit baru di kawasan tersebut.
Sisa tegakan pohon alami dan ekskavator kecil yang terletak di lokasi pembukaan hutan alam. Sesuai hasil di PT Arara Abadi, PT SPM juga menebang hutan alam dan melakukan perhitungan, luas tutupan hutan alam yang hilang mencapai 66,85 ha. Penebangan hutan secara alami yang dilakukan PT Sekato Pratama Makmur Dari hasil analisis, areal penebangan hutan secara alami yang dilakukan PT SPM berada pada kawasan gambut dengan kedalaman lebih dari 4 meter.
Tidak hanya di konsesi HTI, penebangan hutan alam juga terjadi di wilayah yang mendapat izin HGU.
Deforestasi Tutupan Hutan Alam di Areal Korporasi yang Izinnya Telah Dicabut
Hasil analisis Jikalahari mengenai sisa tutupan hutan alam di wilayah operasi yang dicabut izinnya masih terbilang luas: 50.930 ha dan deforestasi terjadi sekitar 1.283 ha.
Hotspot sepanjang 2022
Dari data di atas terlihat wabah banyak terjadi pada bulan Maret, Mei, dan Juli yang bertepatan dengan musim kemarau di Riau. Peta Sebaran Titik Panas di Provinsi Riau Sepanjang Tahun 2022 Jumlah titik api yang muncul pada tahun ini merupakan yang terendah dibandingkan dua dekade terakhir. Iflahari mencatat, pada tahun 2000 hingga 2022, jumlah titik panas pada tahun ini menduduki peringkat kedua terendah yang hanya berjumlah 824 titik dibandingkan tahun 2000 yang berjumlah 173 titik api. Dari hasil analisis ditemukan bahwa titik api banyak muncul di kabupaten-kabupaten yang menjadi pusat perusahaan pulp dan kertas serta memiliki wilayah gambut yang cukup luas, seperti Pelalawan, Siak dan Indragiri Hilir serta Bengkalis.
Kalaulahari juga melakukan analisis untuk melihat lokasi titik api dengan cara overlay peta titik api dengan peta dari HGU, HTI dan izin kawasan konservasi. Untuk kawasan HTI, titik api terbanyak muncul di wilayah konsesi milik PT RAPP, PT Sumatera Riang Lestari dan PT Rimba Mutiara Permai yang merupakan afiliasi grup APRIL. Sedangkan untuk afiliasi APP Group, titik api terbanyak muncul di wilayah PT Arara Abadi, PT Sekato Pratama Makmur, dan PT Mutiara Sabuk Khatulistiwa.
Sedangkan titik api areal HGU terbanyak terdapat di wilayah PT Trisetya Usaha Mandiri, PT Kilau Kemuning, dan PT Sabira Negeri Utama. Selain wilayah yang terkena izin industri pulp dan kertas, Kalaulahari juga melakukan pendataan titik api yang terjadi di wilayah HGU. Untuk kawasan konservasi, muncul 45 titik api dan 31 diantaranya berpotensi menjadi titik panas dengan tingkat keyakinan >70%.
Titik panas ini banyak terjadi di TN Tesso Nilo, HL Bukit Suligi, dan HW Sungai Dumai dengan masing-masing 9 titik api.
Analisis Peta Potensi Pangan Riau
Rata-rata di setiap kabupaten kota di Riau, dalam 11 tahun tersebut, lebih dari 30% wilayah pangannya hilang dari wilayah aslinya. Hilangnya zona pangan sejalan dengan banyaknya izin yang diberikan kepada korporasi baik di sektor HTI maupun sawit. Kalaulahari mencatat, pengurangan lahan yang dapat dimakan cukup tinggi pada kawasan yang dibebani izin HGU dengan luas mencapai hektar dan pengurangan lahan yang dapat dimakan pada konsesi HTI sebesar hektar.
Jikalahari juga memetakan lokasi pengurangan izin HTI dan HGU lahan pangan di seluruh Riau.
Persoalan LHK Riau 1. Banjir
- Karhutla
- Illog
- Konflik (satwa dan sosial)
- Pencemaran Lingkungan
Penebangan liar atau illegal logging masih terus terjadi di Riau, terutama di kawasan hutan lindung dan konservasi. Jikalahari memantau dan merangkum pemberitaan terkait illegal logging melalui media cetak Riau Pos dan Tribun Pekanbaru serta media online di Riau sepanjang tahun 2022. Illegal logging juga terjadi pada bulan Agustus 2022 di wilayah Siak Kecil, Bengkalis, Pulau Padang dan juga di Pulau Bengkalis. , Kabupaten Bengkalis, kawasan ini merupakan kawasan pesisir pantai yang ada di Riau.
Hasil pembalakan liar dikirim ke sejumlah wilayah di Riau dan di Pulau Bengkalis terdapat 4 unit mobil pengangkut kayu yang melaju di sepanjang jalan raya. Konflik antara hewan dan manusia sering terjadi di Riau, kata Direktorat Jenderal Lingkungan Hidup dan Penegakan Hukum (Gakkum). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Kementerian Kehutanan Republik Indonesia seperti dimuat di media online antarnews.com mencatat terdapat 55 kasus konflik hewan-manusia sepanjang Januari – Agustus 2022 di Provinsi Riau.
Konflik satwa-manusia serta perburuan satwa liar akan mengancam potensi keanekaragaman hayati di Riau, khususnya satwa yang hidup di lanskap Provinsi Riau, seperti harimau dan gajah. Sepanjang tahun 2022, Kalaulahari merangkum berita dari media cetak dan online terkait konflik satwa dan sosial di Riau. Beberapa bulan kemudian, kasus konflik satwa kembali terjadi ketika Indra yang merupakan seorang pemburu warga Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, tewas mengenaskan di hutan pada 6 April 2022.
Pencemaran lingkungan masih sering terjadi di Provinsi Riau, baik yang berasal dari limbah rumah tangga maupun perusahaan. Pencemaran lainnya terjadi di Kota Dumai, saluran drainase kota tercemar limbah PT Nagamas Palmoil Lestari (NPL). Iflahari Jugha memberikan pendampingan kepada masyarakat yang berkonflik dengan korporasi dan berusaha mendapatkan ruang pengelolaan, mendampingi masyarakat dalam penyusunan proposal perhutanan sosial, penanaman mangrove dan melakukan kajian terkait perhutanan sosial dan mangrove di Riau.
Investigasi Jikalahari
Eksperimen diskusi kebijakan juga dilakukan Kalaulahari bersama KLHK dan BRGM dengan membahas temuan di lapangan terkait kebijakan pemerintah serta hasil kajian yang dilakukan Kalaulahari. 3 PT Merbau Pelalawan Lestari Grup APRIL Riau 4 PT Merbau Pelalawan Lestari Grup APRIL Riau 5 PT Bukit Raya Pelalawan Grup APRIL Riau 6 PT Sari Hijau Mutiara Grup APRIL Riau 7 PT Rimba Rokan Lestari Grup APRIL Riau 8 PT Selaras Abadi Utama Grup APRIL Riau. 33 PT Itci Hutani Manunggal - Kalimantan Timur 34 PT Rimba Ekuator Permai - Kalimantan Barat 35 PT Mayawana Persada Sumitomo Kalimantan Barat.
Kedua laporan tersebut menggambarkan HTI dan perusahaan kelapa sawit melanggar hukum, merusak hutan, dan merampas lahan hutan. Terkait laporan investigasi pelanggaran komitmen perusahaan HTI untuk menghindari deforestasi, no gambut dan no eksploitasi (NDPE) dan kebijakan berkelanjutan. Peninjauan kembali izin yang diberikan karena ditemukan telah terbakar, tidak melakukan upaya restorasi pada konsesi, berlokasi di pulau kecil dan telah merampas hak-hak masyarakat hukum adat dan lokal;
Presiden Jokowi segera menepati janjinya berupa pencabutan lahan bekas perusahaan dan diberikan kepada masyarakat adat dan lokal. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan segera melakukan penindakan terhadap perusahaan yang masih beroperasi setelah izinnya dicabut, menerbitkan perhutanan sosial, dan melakukan restorasi pada areal eks HTI yang disita.
Konflik Masyarakat Adat Pantai Raja VS PTPN V
Petisi Mendukung Pengembalian Lahan Duta Palma ke Masyarakat Jikalahari memanfaatkan laman change.org untuk kampanye pasca
Pemantauan Sidang Kasus Korupsi dan Lingkungan
Dalam persidangan, KPK meminta agar Sudarsa divonis 3 tahun penjara dan denda Rp200 juta, ditambah 4 bulan kurungan. Sedangkan Andi Putra divonis 8,5 tahun penjara, denda Rp400 juta, denda tambahan membayar uang pengganti Rp500 juta, dan tidak boleh dipilih dalam jabatan politik selama 5 tahun setelah menjalani hukuman. Sudarso menyuap Bupati Kuantan Singingi Andi Putra untuk mendapatkan surat rekomendasi persetujuan pendirian perkebunan plasma di Kabupaten Kampar.
Sudarso juga menyuap Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah Riau, Muhammad Syahrir, sebesar 1,2 miliar. Rp. Uang tersebut disetorkan langsung di rumah dinas Syahrir dalam mata uang Dolar Singapura sebelum berkas perpanjangan HGU diserahkan. Selain Andi dan Syahrir, Sudarso juga membagikan uang kepada sejumlah pegawai di Kantor Wilayah BPN Riau, Sekretariat Daerah Kuansing dan beberapa tokoh desa yang meminta perusahaannya membangun perkebunan plasma.
Sedangkan Andi Putra divonis 5 tahun 7 bulan penjara dan denda Rp200 juta berdasarkan putusan hakim PN Pekanbaru pada 27 Juli 2022.
Diskusi Kebijakan bersama KLHK
Kajian Komoditi PS
Kajian Gambut dan Mangrove
Penguatan Kapasitas dan Bedah Buku bersama Jejaring
Usulan PS Jikalahari
Perda Siak Kabupaten Hijau
RUU Provinsi Riau
Ranpergub Tata Cara Pengakuan Keberadaan masyarakat hukum adat dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Publikasi bersama EoF
Mereka akan diidentifikasi untuk solusinya, Pasal 110A bagi yang memiliki izin usaha dan Pasal 110B bagi yang tidak memiliki izin. Jika setelah UU Cipta Kerja disahkan tetap melakukan kegiatan baru, maka langsung dikenakan sanksi pidana, tanpa administrasi. Terdapat risiko Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat memberikan izin kepada perusahaan yang perkebunan kelapa sawitnya telah dikembangkan di kawasan hutan atau belum.
Jika melihat kasus Surya Darmadi, ia rela menyuap Annas Maamun untuk menghapus perkebunan sawit PT Duta Palma Group yang berada di kawasan hutan melalui amandemen RTRWP Riau. Tentu saja, upaya serupa yang dilakukan Surya Darmadi dan Surya, Surya lainnya memiliki potensi besar dalam penerapan Pasal 110A dan 110B UU Cipta Kerja. Jelas bahwa kegagalan proses sensus dalam menerapkan Pasal 110A dan 110B UU Cipta Kerja akan mengancam deforestasi besar-besaran.
Ada risiko pemberian izin kepada perusahaan yang perkebunan kelapa sawitnya tidak dikembangkan – masih hutan alam – padahal masih dalam izin usaha (ILOK-IUP) sebagai penerapan Pasal 110A UU Ketenagakerjaan. Berkaca dari kasus Surya Darmadi, ia rela menyuap Annas Maamun untuk menghapus perkebunan sawit PT Duta Palma Group yang berada di kawasan hutan melalui perubahan RTRWP Riau. Penebangan hutan ini akan dilanjutkan dengan UU Cipta Kerja dengan jangka waktu pengelolaan hingga 180 tahun.
Pemerintah dan DPR RI segera merevisi UU Cipta Kerja tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup untuk menyelamatkan hutan alam dari ancaman deforestasi akibat pemberlakuan UU Cipta Kerja. Menteri LHK harus serius dan melibatkan masyarakat dalam proses inventarisasi serta memastikan kondisi yang ada di kawasan saat penerapan UU Cipta Kerja. Gubernur, bupati/walikota dan Kementerian Pertanian segera mencabut atau mengurangi atau merevisi ILOK dan IUP yang diterbitkan di kawasan hutan, khususnya yang tidak dikembangkan sebagai perkebunan kelapa sawit.