BAB IV HASIL DAN PEMABAHASAN
B. Pertambahan Berat Badan (PBB) Harian
Rata-rata pertambahan berat badan (PBB) harian ayam broiler yang diberikan TCT (Lumbricus rubellus) sebagai aditif pakan dengan komposisi berbeda, dapat dilihat pada tabel 5. sebagai berikut:
Tabel 5. Rata-rata Pertambahan Berat Badan (PBB) Harian Ayam Broiler (gram/ekor/hari) yang Diberikan Perlakuan Penambahan TCT (Lumbricus rubellus) dengan Komposisi Berbeda.
Ulangan P0 P1 P2 P3 P4
1 51,4 55,4 59,4 58,7 62,5
2 48,6 56,6 59,4 62,3 58,5
3 59,3 59,9 66,0 55,6 55,6
4 61,0 61,9 63,4 66,5 60,1
Total 220,3 233,7 248,1 243,1 236,7
Rata-rata 55,1 58,4 62,0 60,8 59,2
Sumber: Data Primer yang Telah Diolah, 2019.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian TCT (Lumbricus rubellus) sebagai aditif pakan, tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertambahan berat badan (PBB) harian seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 5. Hal ini diduga karena perbedaan nilai protein pakan perlakuan (Tabel 3) masih dalam kisaran kebutuhan protein yang dibutuhkan oleh ayam broiler yaitu sekitar 19 – 23%. Hal ini sesuai dengan pendapat Colin, dkk., (2004), yang menyatakan bahwa batasan protein dalam pakan pada broiler adalah 23% pada usia starter (1 – 15 hari) dan 18,5% pada usia finisher (15 – 45 hari). Hasil pada penelitian ini juga senada dengan hasil yang diperoleh Resnawati (2004), yang menyatakan bahwa penambahan TCT dalam pakan sampai level 5% tidak
memberikan pengaruh nyata terhadap berat badan broiler. Sehingga protein yang disediakan oleh pakan basal telah cukup untuk memenuhi kebutuhan protein dalam bentuk asam amino yang berperan sebagai penyusun jaringan tubuh dan pertumbuhan (Setiyawan, dkk., 2007).
Berdasarkan data pada tabel 5. meskipun tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, rata-rata pertambahan berat badan tertinggi pada perlakuan dengan penambahan TCT sebanyak 1% (P2), yaitu 62 gram/ekor/hari dibandingkan dengan yang tidak diberikan perlakuan penambahan TCT (P0), yaitu 55,1 gram/ekor/hari. Hal ini menunjukkan bahwa dengan penambahan TCT sebanyak 1% sebagai aditif dalam pakan dengan diduga mampu memaksimalkan metabolisme protein untuk hidup pokok dan pertumbuhannya.
C. Konversi Pakan
Rata-rata konversi pakan ayam broiler yang diberikan TCT (Lumbricus rubellus) sebagai aditif pakan dengan komposisi berbeda, dapat dilihat pada tabel 6. sebagai berikut:
Tabel 6. Rata-rata Konversi Pakan Ayam Broiler yang Diberikan Perlakuan Penambahan TCT (Lumbricus rubellus) dengan Komposisi Berbeda.
Ulangan P0 P1 P2 P3 P4
1 1,95 1,79 1,63 1,69 1,60
2 2,01 1,72 1,68 1,59 1,71
3 1,68 1,61 1,51 1,78 1,77
4 1,65 1,62 1,58 1,49 1,65
Total 7,29 6,74 6,40 6,56 6,74
Rerata 1,82 1,68 1,60 1,64 1,68
Sumber: Data Primer yang Telah Diolah, 2019.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian TCT (Lumbricus rubellus) sebagai aditif pakan, tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konversi pakan seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 6. Akan tetapi jika ditinjau lebih lanjut dengan menggunakan analisis beda nyata terkecil (BNT), pengaruh pemberian TCT sebagai aditif pakan terhadap konversi pakan berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol, khususnya pada perlakuan penambahan TCT dengan level 1%
(P2) dan penambahan TCT dengan level 2% (P3). Hal ini terjadi karena terdapat perbedaan jumlah konsumsi harian (pada tabel 4.) dan jumlah pertambahan berat badan harian (pada tabel 5.). Tingkat efisiansi konsumsi pakan dan pertambahan berat badan bermuara pada tingkat kecernaan makanan, sehingga dapat dikatakan bahwa dengan penambahan TCT sebagai aditif dalam pakan basal dapat membantu tingkat kecernaan pakan menjadi daging.
Hasil ini sesuai dengan pendapat Cho, dkk., (1998), bahwa kandungan lumbricine dalam tepung cacing tanah mampu berperan sebagai anti bakteri kadar rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai pemicu pertumbuhan (growth promoters) dalam tubuh ternak. Mekanisme kerja dari antibiotics growth promoters (AGP’s) menurut Feigher dan Dashkevich, (1987), diantaranya adalah membantu dalam proteksi makanan dari destruksi bakteri patogen, antibiotik juga dapat meningkatkan absorpsi nutrisi dengan cara membuat barier di dinding usus dan membantu menurunkan produksi toksin dari bakteri saluran
pencernaan dan menurunkan infeksi saluran pencernaan. Akibatnya efisiensi pakan akan meningkat karena absorpsi zat makanan yang meningkat untuk pertumbuhan. Senada dengan penelitian Wiyana (2006), bahwa pemberian antibiotik dengan level berbeda dapat menurunkan konversi pakan dibandingkan dengan ayam yang tidak diberikan antibiotik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian TCT sebagai aditif dalam pakan basal tidak berpengaruh signifikan terhadap konsumsi pakan harian, pertambahan berat badan harian dan konversi pakan ayam broiler penelitian.
B. Saran
Perlu penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan level penggunaan TCT untuk mencapai tingkat performans ayam broiler yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, A. 2015. Budidaya Cacing Tanah Unggul ala Adam. Jakarta:
AgroMedia Pustaka.
Bintang, K.,G. N. Made dan N. Supardjata. 1985. Pengaruh Anti Biotika Kadaluarsa Tetrasiklin dan Ampisilin terhadap Pertumbuhan Broiler.
Prosiding Seminar Peternakan Unggas dan Aneka Ternak. Ciawi.
Bogor.
Bogaard, Van De. and E.E. Stobberingh. 1999. Antibiotic usage in animals: impact on bacterial resistance and public health. Drugs.
58(4):589-607.
Card L. E and M. C. Nesheim. 1972. Poultry production, lea and Febiger, Philandelphia.
Cho, J.H., C.B. Park, Y.G. Yoon and S.C. KIM. 1998. Lumbricin I, a novel proline-rich antimicrobial peptide from the earthworm: purification, cDNA cloning and molecular characterization.Biochim. Biophys.
Acta. 1408: 67-76.
Colin, G.S., G. Brant, and M.E. Ensminger. 2014. Poultry Science ed.
Pearson education, Inc, New Jersey.
Colin, G. S.,Brant, and M. E. Ensiminger. 2004. Poultry Science. 4 th . Person education, Inc, New Jersey.
Donoghue, dan J. 2003. Antibiotics residues in poultry tissues and eggs:
human health concerns. Poultry Science, J. 82:618-621.
Damayanti, E., H. Julendra dan A. Sofyan. 2008. Aktivitas antibakteri tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) dengan metode pembuatan yang berbeda terhadap Escherichia coli. Prosiding Seminar Nasional Pangan. Yogyakarta, 17 Januari 2008.
Yogyakarta. hlm. 54–60.
Damayanti, E., A. Sofian, H. Julendra dan T. Untari. 2009. Pemanfaatan tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) sebagai agensia Antipolrumdalam imbuhan pakan ayam broiler. Jurnal ilmu ternak veteriner 14(2):
Febrita, E., Darmadi, & Siswanto, E. 2015. Pertumbuhan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) dengan Pemberian Pakan Buatan untuk Mendukung Proses Pembelajaran pada Konsep Pertumbuhan dan
Perkembangan Invertebrata. Jurnal Biogenesis Vol. 11(2): 169-176.
ISSN : 1829-5460.
Feighner, S.D., and M.P. Dashkevicz. 1987. Subtherapeutic levels of antibiotics in poultry feeds and their effects on weight gain, feed efficiency, and bacterial cholyltaurine hydrolase activity. Appl.
Environ. Microbiol. 53:331-336.
Gaspersz, V. 1991. Metode perancangan percobaan. CV. ARMICO.
Hunton, P 1995. Poultry Production. Elsevier, Amsterdam.
Hakim. 2012. Pengaruh Penambahan Jahe Terhadap Konversi Pakan, Pertambahan Bobot Badan Dan Konsumsi Pakan Terhadap Ayam Broiler. https:// harihakim14.wordpress.com/. (10 November 2018).
Istiqomah, A. L., Sofyan, A., Damayanti, & Julendra, H. (2009). Amino Acid Profile Of Earthworm And Earthworm Meal for Animal Feedstuff. J.Indonesian Trop. Anim. Agric, 34 (4), 253-257.
Japfacomfeed. 2019. Brosur pakan Japfacomfeed indonesia. Peterbit Pt.
Japfacomfeed indonesia, TBK., Jakarta.
Jaelani, A. 2011. Performans Ayam Pedaging yang diberi Enzim Beta Mannanase dalam Ransum yang Berbasis Bungkil Inti Sawit.
Skripsi Peternakan. Jurusan Peternakan. Fakultas Peternakan.
Universitas Islam Kalimantan. Kalimantan.
Julendra, H. dan A. Sofyan. 2007. Uji in vitro penghambatan aktivitas Escherichia coli dengan tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus).
Media Peternakan, Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Peternakan 30(1):1-70.
Juledra, H, Zuprisal dan Supadmo. 2010. Penggunaan tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) sebagaiadiftif pakan terhadap penampilan produksi ayam pedaging, profit darah dan kecernaan protein, Buletin peternakan vol. 34(1) 21-29,februari 2010
Liu, Y-Q., Z-J Sun., C. Wang., S-J. Li., and Y-Z. Liu. 2004. Purification of a novel anti-bacterial short peptide in earthworm Eisenia foetida. Acta Biochimica et Biophysica Sinica 36(4):297-302
Maulidya, Ria. 2011. Skripsi. Kajian Penggunaan Tepung Kulit Pisang terhadap Konsumsi dan Konversi Ransum Broiler. Unkhair Ternate.
Mubarok, A., & Zalizar, L. 2003. Budidaya Cacing Tanah Sebagai Usaha Alternatif Di Masa Krisis Ekonomi. Jurnal Dedikasi, 1 (1),129-135.
Muharlein, Sudjarwo, E., Hamyati, A dan Setyo, H. 2017. Ilmu Produksi Ternak Unggas. Malang: UB Press. Hal: 42.
Negoro, A.S, dan Muharlien. 2013.Pengaruh Penggunaan Tepung Kemangi dalam Pakan Penampilan Produksi Ayam Pedaging.
Skripsi Peternakan Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Kalimantan.
Palungkun, R. 2010. Usaha Ternak Cacing Tanah. Jakarta: Swadaya.
Priyatno, 2000. Ayam Broiler Siap Panen 22 hari. PT Penebar Swadaya.Jakarta.
Rasyaf. 2008. Panduan beternak ayam pedaging. Edisi ke 1. Penebar Swadaya, Jakarta.
Resnawati, S.H. 2004. Bobot Potongan Karkas dan Lemak Abdomen Ayam Ras Pedaging yang diberi Langsung Mengadung Tepung Cacing Tanah. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan Veteriner. Bogor, 4-5 Agustus 2004. Pp. 473-478.
Rose, S.P. 2001. Principles of poulrtry science. CAB International
Rudi. 2013. Kebutuhan Nutrisi pada Ayam Broiler.
http://rudinunhalu.blogspot. com/2013/10/kebutuhan-nutrisi-pada- ayam-broiler.html. (10 November 2018).
Sahraei, M. 2012. Feed restriction in broiler chickens production. A.
Review Global Veterinaria 8 (5): 449-458.
Setiyawan, H.,G.Piliang.,D. T. H. Sihombing., W. Manalu N. A. Anang.
2007. Suplementasi Fitase, Seng, dan Tembaga dalam Ransum Sebagai Stimulan Pertumbuhan Ayam Broiler. Media Peternakan, Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Peterenakan 30(2): 139- 145.
Soenanto, H. 2000. Budidaya Cacing Tanah (Lumbricus rubellus). CV.
Aneka. Solo.
Suharyono, S.U., Nurdin, R.W. Arief dan Murhadi. 2005. Protein quality of indonesia common maize does not less superior to quality protein maize. Makalah pada 9thASEAN food conference. Jakarta 8-10 agustus 2005.
Soeparno. 2015. Ilmu dan tehnologi daging, cetakan III. Gajah Mada University Pess. Yogyakarta.
Suprijatna, E. 2008.ilmu dasar ternak unggas. Penebas swadaya. Jakarta.
Tamalluddin F. 2012. Ayam Broiler, 22 Hari Panen Lebih Untung. PT Penebar swadaya. Jakarta.
Wuryaningsih, E. 2005. Kebijakan pemerintah dalam pengamanan pangan asal hewan. Prosiding Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan, Bogor, 14 September 2005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. hlm. 9−13.
Wahyu, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke- 5, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Wahju, J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan Ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wiyana, I. K. A. 2006. Pengaruh Oxitetrasiklin dan Amopsisilin Sebagai Aditif Pakan Terhadap Performa Residu Dalam Jaringan dan Eskreta Broiler. Tesis. Fakultas Peternakan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Zulfanita. Roisu, E.M. Dyah P.U. 2011. Pembatasan Ransum Berpengaruh terhadap Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler pada Periode Pertumbuhan. Skripsi Peternakan. Jurusan Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas Muhammadiyah Purworejo. Purworejo.
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Perhitungan SPSS Konsumsi Pakan Harian.
Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors
Value Label N
Perlakuan 1 P0 4
2 P1 4
3 P2 4
4 P3 4
5 P4 4
Descriptive Statistics
Dependent Variable:Konsumsi Perlakua
n Mean Std. Deviation N
P0 99.4500 1.20692 4
P1 98.3000 1.75309 4
P2 99.1500 1.80462 4
P3 99.1750 .17078 4
P4 99.5000 .87560 4
Total 99.1150 1.24532 20
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable:Konsumsi
Source
Type III Sum of
Squares Df Mean Square F Sig.
Corrected Model 3.718a 4 .929 .542 .708
Intercept 196475.665 1 196475.665 1.145E5 .000
Perlakuan 3.718 4 .930 .542 .708
Error 25.748 15 1.717
Total 196505.130 20
Corrected Total 29.465 19
a. R Squared = ,126 (Adjusted R Squared = -,107)
Estimated Marginal Means
Grand Mean Dependent Variable:Konsumsi
Mean Std. Error
95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound
99.115 .293 98.491 99.739
Lampiran 2. Perhitungan SPSS Pertambahan Berat Badan (PBB) Harian.
Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors
Value Label N
Perlakuan 1 P0 4
2 P1 4
3 P2 4
4 P3 4
5 P4 4
Descriptive Statistics
Dependent Variable:PBB Perlakua
n Mean Std. Deviation N
P0 55.0750 6.01075 4
P1 58.4500 2.98496 4
P2 62.0500 3.23883 4
P3 60.7750 4.69707 4
P4 59.1750 2.89525 4
Total 59.1050 4.41570 20
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable:PBB
Source
Type III Sum of
Squares Df Mean Square F Sig.
Corrected Model 112.547a 4 28.137 1.636 .217
Intercept 69868.021 1 69868.021 4.063E3 .000
Perlakuan 112.547 4 28.137 1.636 .217
Error 257.922 15 17.195
Total 70238.490 20
Corrected Total 370.470 19
a. R Squared = ,304 (Adjusted R Squared = ,118)
Estimated Marginal Means
Grand Mean Dependent Variable:PBB
Mean Std. Error
95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound
59.105 .927 57.129 61.081
Lampiran 3. Perhitungan SPSS Konversi Pakan Harian.
Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors
Value Label N
Perlakuan 1 P0 4
2 P1 4
3 P2 4
4 P3 4
5 P4 4
Descriptive Statistics
Dependent Variable:Konversi_Pakan Perlakua
n Mean Std. Deviation N
P0 1.8225 .18392 4
P1 1.6850 .08583 4
P2 1.6000 .07257 4
P3 1.6375 .12527 4
P4 1.6825 .07365 4
Total 1.6855 .12902 20
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable:Konversi_Pakan
Source
Type III Sum of
Squares Df Mean Square F Sig.
Corrected Model .114a 4 .028 2.101 .131
Intercept 56.818 1 56.818 4.204E3 .000
Perlakuan .114 4 .028 2.101 .131
Error .203 15 .014
Total 57.134 20
Corrected Total .316 19
a. R Squared = ,359 (Adjusted R Squared = ,188)
Estimated Marginal Means
Grand Mean Dependent Variable:Konversi_Pakan
Mean Std. Error
95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound
1.686 .026 1.630 1.741
Post Hoc Tests Perlakuan
Multiple Comparisons Konversi_Pakan
LSD (I) Perlakua n
(J) Perlakua n
Mean Difference
(I-J) Std. Error Sig.
95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
P0 P1 .1375 .08220 .115 -.0377 .3127
P2 .2225* .08220 .016 .0473 .3977
P3 .1850* .08220 .040 .0098 .3602
P4 .1400 .08220 .109 -.0352 .3152
P1 P0 -.1375 .08220 .115 -.3127 .0377
P2 .0850 .08220 .318 -.0902 .2602
P3 .0475 .08220 .572 -.1277 .2227
P4 .0025 .08220 .976 -.1727 .1777
P2 P0 -.2225* .08220 .016 -.3977 -.0473
P1 -.0850 .08220 .318 -.2602 .0902
P3 -.0375 .08220 .655 -.2127 .1377
P4 -.0825 .08220 .331 -.2577 .0927
P3 P0 -.1850* .08220 .040 -.3602 -.0098
P1 -.0475 .08220 .572 -.2227 .1277
P2 .0375 .08220 .655 -.1377 .2127
P4 -.0450 .08220 .592 -.2202 .1302
P4 P0 -.1400 .08220 .109 -.3152 .0352
P1 -.0025 .08220 .976 -.1777 .1727
P2 .0825 .08220 .331 -.0927 .2577
P3 .0450 .08220 .592 -.1302 .2202
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = ,014.
*. The mean difference is significant at the ,05 level.