• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanian 5. Perhubungan

Dalam dokumen 1.1. Konsep Pembinaan (Halaman 89-96)

PEMERINTAHAN UMUM

4. Pertanian 5. Perhubungan

o o o o o o a o o o o o o a 3 o o o o

O

o a o

92

pemerintah kabupaten/kota memiliki kewenangan yang sangat banyak

dan

besar. Oleh karena

itu,

bobot kewenangan terletak

di

pemerintah

kabupaten/kota.

Mengenai

kewenangan

yang menjadi

kompetensi kabupaten/kota, baik undang-undang maupun Peraturan Pemerintah tidak mengatur

secara spesifik.

Undang-Undang

hanya

memberi rumusan

umum yang pada dasarnya meletakkan semua

kewenangan

pemerintahan pada tingkat

kabupaten/kota,

kecuali

kewenangan- kewenangan

yang

ditentukan pemerintah pusat

dan

provinsi. Dengan demikian, kabupaten/kota dapat berinisiatif membuat kewenangan sendiri berdasakan kebutuhan daerahnya. Kewenangan yang dimaksud bukan berdasarkan pendekatan sektor, departemen, dan non departemen yang ada, tapi berdasarkan pembidangan kewenangan. Kabupaten/kota dapat membuat

rincian

kewenangan

lalu

diagregasikan

sehingga

menjadi kewenangan yang setara/setingkat antar bidang. Sehingga penggunaan nomenklaturnya didasarkan rumpun pekerjaan yang mempunyai karakter dan sifat sejenis dan saling berkaitan serta pekerjaan yang memerlukan penanganan khusus.

Namun demikian,

pasal 11 ayat 2

Undang-Undang Nomor 22

Tahun 1999 menentukan bahwa daerah

kabupaten/kota harus melaksanakan 11 kewenangan wajib yaitu :

1.

Pekerjaan umum

o o o o 3 o o

O

o o o o o a a o o a o o a

t

o

93

7.

Penanaman modal

8.

Lingkungan hidup

9.

Pertanahan 10. Koperasi 11. Tenaga kerja

Berbeda dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, Undang-

Undang Nomor 32 Tahun 2004

menetapkan

urusan

pemerintahan pemerintah kabupaten/kota

yang

bersifat

wajib dan pilihan.

Urusan

pemerintah yang bersifat wajib mencakup urusan-urusan

di

bawah yang berskala kabupaten/kota :

1.

Perencanaan dan pengendalian pembangunan

2.

Perencanaan, pengawasan, dan pemanfaatan tata ruang

3.

Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat

4.

Penyediaan sarana dan prasarana umum

5.

Penangan bidang kesehatan

6.

Penyelenggaraan bidang pendidikan

dan

alokasi sumber daya manusia potensial

7.

Penanggulangan masalah sosial

8.

Pelayanan bidang ketenagakerjaan

9.

Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah 10. Pengendalian lingkungan hidup

1 1. Pelayanan pertanahan

l2.Pelayanan kependudukan dan catatan sipil 13, Pelayanan administrasi umum pemerintahan 14. Pelayanan administrassi penanaman modal 15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya, dan

16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang- undangan.

Adapun urusan yang bersifat pilihan meluputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan,

dan

potensi unggulan daerah yang bersangkutan.

o o o o o

I

a a o

I

o o o a a o o a o o o a o

94

sebagaimana halnya povinsi, kabupaten/kota juga menerima tugas pembantuan dari pemerintah atasnya yaitu pemerintah pusat dan provinsi (sebagai daerah otonom). Tugas pembantuan yang diberikan pemerintah kepada kabupaten/kota meliputi sebagian tugas bidang politik luar negeri,

pertahanan keamanan, peradilan, moneter

dan fiskal, agama,

dan kewenangan

lain yakni

kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengedalian pembangunan secara makro, dana perimbangan keuangan,

sistem administrasi negara dan lembaga

perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi, dan standarisasi nasional. Sedangkan tugas pembantuan yang diberikan oleh

provinsi sebagai daerah otonom kepada

kabupaten/kota meluputi sebagian tugds dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten

dan kota, serta

sebagian

tugas

pemerintahan

dalam

bidang tertentu lainnya, termasuk

juga

sebagian tugas pemerintahan yang

tidak

atau belum dapat dilaksanakan oleh provinsi.

Adapun tugas pembantuan yang diberikan provinsi sebagai wirayah administrasi kepada kabupaten/kota mencakup sebagian tugas dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada gubernur sebagai wakil

pemerintah. Jadi, tugas pembantuan yang diberikan

kepada kabupaten/kota

adalah

kewenangan

yang merupakan

kompetensi pemerintah pusat dan pemerintah provinsi baik sebagai daerah otonom maupun sebagai wilayah administrasi.

o o o o o

I I t

O

o

O

I

o

O

o

O

o a o o o o o

95

Pemerintah kabupaten dipimpin oleh bupati, dan memiliki DPRD Kabupaten yang merupakan lembaga pembuat kebijakan dan pengawas pemerintahan

daerah yang

anggotanya

dipilih oleh rakyat

melalui

pemilihan umum. Di samping

pemerintahan

kabupaten ada

juga

pemerintahan kota. Sebelum Undang-Undang Nomor

22

Tahun 1999, pemerintah kota disebut sebagai Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat

ll. Menurut UU

No.2211999 nomenklatur

tersebut

berubah menjadi pemerintah kota saja, yaitu pemerintahan yang sejajar dengan pemerintah kabupaten

yang

keduanya sama-sama daerah otonom dengan asas desentralisasi

penuh.

Pemerintah

kota

dipimpin

oleh walikota,

dan memiliki DPRD Kota yang merupakan pembuat kebijakan dan pengawas kebijakan daerah.

3.5.

Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahan Daerah2e

Pemerintah daerah adalah subsistem pemerintahan nasional dalam

struktur Negara Kesatuan Republik Indoneisa. Oleh sebab

itu,

penyelenggaraan pemerintahan daerah harus tetap dalam koridor negara

kesatuan. Untuk

melaksanakan

hal tersebut maka

diperlukannya pembinaan

dan

pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Dalam rangka pembinaan Peraturan Pemerintah Nomor 20

Pengawasan

Penyelenggaraan

dan

pengawasan tersebut dikeluarkan Tahun 2001 tentang Pembinaan dan

Pemerintahan Daerah

sebagai 8/btd, 199-199

o o o o o o o a o o o o o a o o o

I

o

O

o o o

pelaksanaan Bab

Xll

Undang-Undang Nomor 22Tahun 1999. DUelaskan bahwa pembinaan adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah pusat

terhadap

pemerintah

daerah, yang meliputi pemberian

pedoman,

bimbingan, pelatihan, arahan, dan supervise. Pemerintah

pusat memberikan pedoman dalam bentuk pertanggungjawaban, laporan, dan evaluasi

atas

akuntabilitas

kinerja

gubernur,

bupati, serta

walikota.

Pemerintah pusat memberikan bimbingan terhadap penyusunan prosedur

dan tata kerja

pelaksanaan pemerintahan provinsi/kabupaten/kota.

Pemerintah

pusat

memberikan pelatihan dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia aparat pemerintahan provinsi/kabupaten/kota dalam bentuk pendidikan dan pelatihan. Pemerintah pusat memberikan arahan terhadap penyusunan rencana, program dan kegiatan/proyek yang

bersifat nasional dan regional sesuai dengan

periodisasinya. Dan

pemerintah pusat melakukan supervisi terhadap

pelaksanaan pemerintahan provinsi/kabupaten/kota. Untuk melaksanakan pembinaan tersebut, pemerintah pusat dapat melimpahkan kewenangannya kepada gubernur sebagai wakil pemerintah

di

daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Di samping

memberikan pembinaan, pemerintah

pusat

juga melakukan pengawasan. Pengawasan

dalam

bahasa Inggris disebut

control.

Sementara

dalam ilmu

manajemen, pengawasan diartikan sebagai tindakan mengendalikan agar apa yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana, dan

tidak

menyimpang. Adanya

O

o o o a o

I

a o o o

O

o o

t

o a o a o

t

I I

97

pengawasan yang sistematis dan terpogram maka semua kegiatan akan dijaga agar terus terarah pada sasaran-sasaran yang ingin dicapai. Dalam

PP

No.2012a02 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintah daerah adalah proses kegiatan yang ditujukan untuk menjamin

agar

pemerintahan daerah berkalan sesuai dengan rencana

dan

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam pengawasan dikenal dua jenis pengawasan, yaitu :

1)

Pengawasan Preventif

Pengawasan yang bersifat mencegah, dalam artian pencegahan

agar pemerintah daerah tidak mengambil kebijakan

yang bertentang_an

dengan peraturan

perundang-undangan

i"ng berlaku. Dalam

pengertian

yang sifatnya

operasional, y"ng dimaksud

dengan

pengawasan

preventif adalah

pengawasan terhadap pemerintahan

daerah agar

pemerintah

daerah

tidak menetapkan kebijakan

yang

bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau peraturan perundang-undangan lainnya.

2)

Pengawasan Represif

Pengawasaan

yang berupa

penangguhan

atau

pembatalan

terhadap kebijakan yang telah ditetapkan daerah,

baik

beruapa Peraturan Daerah, Keputusan Kepala Daerah, Keputusan DPRD,

maupun Keputusan Pimpinan DPRD dalam

rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dalam

arti lain,

bahwa pengawasan

represif

dilaksanakan

untuk

penangguhan atau pembatalan terhadap kebijakan daerah yang dinilai bertentangan dengan kepentingan umum, seperti har-har yang berkaitan dengan kepatutan atau kebiasaan yang berlaku di suatu daerah, layaknya norma agama, adat istiadat, budaya serta susila, dan

juga

yang

bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan yang

berlaku.

Pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah pusat

agar pelaksanaan otonomi

daerah dapat

berjalan

sesuai

dengan tujuan, dilakukan dalam bentuk :

o

O

o

O

o o t

a o o o o o

I

o o

I

o o

O

I

o

t

a.

Pengawasan terhadap produk kebijakan daerah, yaitu pengawasan yang bersifat represif yang dilaksanakan oleh Menteri Dalam Negeri

dan gubernur selaku wakir pemerintah pusat terhadap kebijakan daerah yang dilaksanakan.

b. Pengawasan terhadap kebijakan daerah

menyangkut kesesuaiannya terhadap kepentingan umum (meit review'1.

c. Pengawasan terhadap kebijakan daerah

menyangkut kesesuaiannya dengan peraturan perundang-undangan yang teoin tinggi (legal review).

selain itu,

pengawasan

juga

dilakukan terhadap penggunaan Anggaran Pendapatan

dan

Beranja Daerah (APBD), dana dokesentrasi dan dana tugas pembantuan yang dilaksanakan oleh Badan pemeriksa Keuangan

(BPK). sesuai

dengan fungsinya sebagai lembaga tinggi negara memeriksa, menguji,

dan

menilai penggunaan apakah sesuai dengan tujuan penganggaran yang telah direncanakan. BpK melakukan pengawasan penggunaan APBD dalam tahun anggaran yang berjalan.

Hasil pemeriksaan dilaporkan kepada DPR dan DPRD untuk ditindak lebih

lanjut. Di samping itu BpK juga

melakukan pengawasan terhadap penggunaan

dana

dekonsentrasi

pada

pemerintah provinsi

dan

dana tugas pembantuan baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota, dan pengawasan ini bersifat represif.

o o o o o

I

o

)

o o o o o o o o o

I

o o o o o

BAB

IV

Dalam dokumen 1.1. Konsep Pembinaan (Halaman 89-96)