BAB III BAB III TINJAUAN KHUSUS
3.1.2. PERTEATERAN DI SURABAYA
Kehidupan perteateran di Surabaya memang diperbincangkan . Meski secara kuantitatif pentas masih berdenyut, secara kualitas agak merosot.
layak teater
1 HN. Laporan Buletin OKS
Solichin Jabbar
28
_ _ _ _ ---.-J'
,
-----_. -_._-~-~.- ~ _.- -_.- ---._._.
Bahkan secara keseluruhan, kehidupan teater di Surabaya terus menurun dan memprihatinkan. Ini merupakan tantangan yang harus diselesaikan agar kesenian tak kehi
langan peran dan ditinggalkan.
Beberapa pendapat dari Temu Teater Jawa Timur 1995
*2)
Hare Rallel/per
"Tidak adanya komunitas kesenian yang memadai, tidak adanya kantong-kantong kesenian seperti diJakarta dan persoalan utama adalah visi".
"Kalangan teaterwan menjadi macet bisa jadi fungsi laboto
riumnya yang tidak jalan".
Solichin Jabar
"Teater Surabaya masih terbe-lenggu pada persoalan grup masing-masing".
"Gagasan sudah dijadi modal bagi mereka, namun sayangnya hanya berhenti pada gagasan belaka.
Ivan Hariyanto
"Komunitas kesenian itu sudah sedemikian enaknya. Diskusi antar-kamar kos sudah biasa dilakukan. mereka saling kritik, mereka saling dorong dan saling bantu mencarikan jalan keluar kalau ada teman yang misalnya macet proses berkeseniannya".
4 Taman Budaya Jawa Timur,20-22 Januari 1995.
29
- ! - - "
Chusnul Huda
"Ada kerancuan yang terjadi pada kalangan para pekerja teater".
"Andai kata di Surabaya ada semacam sekolah yang mencetak pemain teater, pemusik dan pengamat teater dalam fakultas
fakultas tersendiri".
~ribowo
"Kesenian di Surabaya dirasakan masih jalan ditempat" ..
"Revolusi b~rfikir itu penting agar tidak terjebak dalam persoalan hitam putih kesenian. Agar tidak menorehkan penilain baik dan jelek ketika melihat karya seni".
"Diperlukan enersi lain yang tidak hanya dari teater, bahkan juga tidak harus bersumber dari kesenian untuk memberikan muatan dalam prose~ kreatif berteater.
Hoekit
"Yang menjadi persoalan teater di Surabaya atau Jawa Timur pada umumnya adalah krisis Sutradara".
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan dalam temu teater Jawa Timur dapat diambil beberapakesimpulan yang menjadi permasalahan perteateran di Surabaya, yaitu :
- Kurangnya sarana yang mendukung untuk menampung kegiatan perteateran dimana seniman berkarya.
- Belum adanya wadah dimana hasil karya seniman dipentas
kan yang syarat akustiknya.
Ide-ide yang muncul dari hasil karya seniman teater hanya berupa gagasan.
- Kurangnya komunikasi antara grup teater.
:::;.0
-~\\
Kreativitas seniman masih kurang.
- Kurang mendukung antara kesenian yang satu dengan yang lainnya.
Dari beberapa permasalahan diatas dapat diambil suatu kesimpulan bagaimana membangkitkan perteateran di Surabaya, yaitu menumbuhkan agar kreativitas seniman terus tumbuh dan berkembang dan berjalan dengan ide-ide maupun gagasan baru. Agar dapat menyemarakan kembali perteateran di Surabaya dengan suatu sarana dan pendukungnya juga sebagai tempat aktivitas seniman berkarya yaitu berupa gedung teater.
3.2. Gedung Teater
3.2.1. Batasan pengertian Gedung : wadah/tempat
Teater : seni pertunjukan drama yang merupakan luluhan dari seni tari, seni rupn, seni suara, dan Bani sastra.
go dung teater adalah wadah/tempat sebasai sarana pertunjukkan seni teater / drama / sandiwara dengan per
syaratan akustiknya.
Gedung teater diartikan sebagai wadah dengan syarat akustiknya dikhususkan pada pertunjukan atau pergelaran teater dan tidak menutup kemungkinan mewadahi Seni pertun
jukan lainnya baik tradisional maupun kontemporer dan juga kegiatan lainnya seperti seminar. Batasan ini didasarkan pada
Potensi senipertunjukan teater dan pertunjukan
31
-1
tradisional yang sangat besar di kota Surabaya.
- Mengaktifkan kembali seni teater di Surabaya agar tetap lestari.
- Tumbuhnya sarana pendidikan kesenian teater yang menghasilkan para seniman , seniman dengan segala kreativitasnya yang memberi warna tersendiri.
3.2.2. Fungsi dan Tujuan
R. Fungsi
Sebagai sarana untuk mendukung terwujudnya suatu komunikasi antara pemain dengan pemirsanya, bersifat hiburan - rekreatif. Maka diperlukan suatu wadah dalam kaitannya dalam seni pertun
jukan teater. Lebih kompleknya sebagai sarana informasi seni / pendidikan. Sebagai wadah untuk menampung kreativitas cipta para seniman. Juga sebagai upaya pelestarian dan pengembangan seni khususnya seni pertunjukan teater.
b. Tujuan
Sebagai sarana hiburan dan pendidikan yang pada fungsi utamanya sebagai wadah yang menampung dan menumbuhkan daya cipta seniman pertunjukan , masyarakat sebagai upaya pelestarian dan pengem
bangan seni pertunjukan di Surabaya.
Selain itu juga mementaskan dengan mendapatkan pemasukan melalui karcis pertunjukan yang bertu
juan untuk :
- Henampung dan menumbuhkan daya cipta seniman.
32
1
Menampung aspirasi ataupun kegiatan masyara
kat.
Meningkatkan· kehidupan seni dan senimannya, guna kelangsungan pelestarian dan pengemban
gannya.
3.2.3. Status, Spesifikasi dan Klasifikasi a. Status
Gedung Teater pada perencanaannya akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan baik yang formal maupun non formal. Kerja sama tersebut dalam penyediaan materi-materi pengetahuan mengenai seni pertunjukan khususnya teater, pergelaran-pergelaran dan lain sebagainya. Atas dasar kajian dalam hal pendanaan serta pengelo
~
laan guna tercapainya tingkat optimalisasi, pengelolaan gedung teater ini adalah pihak swasta.
b. Spesifikasi
Berangkat dari fungsi gedung teater, hal-hal yang dianggap spesifik dengan tinjauan banding dalam fungsi yang lain adalah :
Ruang pentas, dimana bentuk dan ukurannya berkaitan erat dengan ruang penonton.
- Akustik, penyelesaian akustik dituntut dapat memberikan kemungkinan untuk pemakaian dengan atau tanpa penguat suara (amplifikasi) mengingat fungsinya sebagai pergelaran seni
,"::,"7
...
'pertunjukan.
- Tata cahaya , dengan berkembangnya teknologi menjadikan perangkat tata cahayapun demikian aneka ragam baik jenisnya maupun cahaya yang dihasilkan. Permainan cahaya itupun sebagai kriteria penentu kualitas dalam suatu pementa
san.
c. Klasifikasi
Pengertian ruang yang berkaitan dengan seni pertunjukan ini sebenarnya terbatas pada fungsi
nya , yang secara praktis dapat dikatagorikan dalam empat macam klasifikasi yakni :
- Panggung (acting area).
- Ruang penonton (auditorium)
- Penunjang (auxiliary working storage).
- Ruang pengadaan/gudang (storage space).
Keempat kriteria tersebut merupakan satu kesa
tuan yang saling mendukung dalam menyiapkan dan melaksanakan aktivitas pementasan.
3.2.4. Penjabaran Kegiatan
Aktivitas-aktivitas yang terjadi pada gedung teater dipisahkan berdasarkan bentuk aktivitas dari masing masing ruang.
3.2.5. Faktor-faktor Pendukung.
Dalam gedung teater tidak lepas dari adanya ruang spatial, yang secara fisik suatu ruang spatial dapat terbentuk oleh adanya faktor yang teraga yakni ;
:::4
- Adanya berkas cahaya.
- Adanya alur atau jalur kegiatan.
- Adanya elemen pendukung seperti tangga, selasar, perala
tan/perabot dan sejenisnya.
- Adanya komponen yang secara langsung berkaitan seperti : lantai (bidang horizontal), dinding (bidang vertikal), langit-langit.
3.2.6. Persyaratan-persyaratan Gedung Teater.
Pada dasarnya ruang inti pada gedung teater adalah auditorium, merupakan masalah yang kompleks dalam praktek arsitektur masa kini karena mencakup persyaratan estetika, Fungsional, teknis, budaya dan ekonomi.
Timbulah konotasi antara fungsi gedung teater dengan motivasi penonton pada saat memasuki auditorium kenyamanan, keamanan, suasana yang menyenangkan,penerangan yang cukup, pemandangan (view) yang memadai selain kuali
tas suara yang ditimbulkan dan acaranya.
Kondisi dalam tiap auditorium sangat dipengaruhi oleh design arsitektur interior murni, sepert1 : bentuk ruang, trimatra, volume, letak batas-batas permukaan, pengaturan tempat duduk, kapasitas penonton, hingga sampai lapisan permukaan dan materi bahan dekorast interior.
Hampir tiap rinci dalam ruang tertutup sedikit banyak menentukan penampilan akustiknya. Garis besar persyaratan akustik dalam suatu auditorium adalah :
1. Harus ada kekerasan (loudnes) yang cukup dalam tiap bagian auditorium terutama ditempat-tempat duduk yang
35
jauh dari panggung.
2. Energi bunyi harus didistribusikan secara merata (terdifusi) dalam ruang.
3. Karakteristik dengung optimum harus disediakan dalam auditorium untuk memungkinkan penerimaan bahan acara oleh penonton dan penampilan acara yang paling efisien oleh pemain .
4. Ruang harus bebas dari cacat akustik seperti; gema, pantulan yang berkepanjangan (long delayed reflektions), gaung, pemusatan bunyi, distorsi, bayan
gan bunyi dan resonansi ruang.
5. Bising dan getaran yang akan mengganggu pendengaran atau pementasan harus dihindari atau dikurangi dengan cukup banyak dalam tiap bagian ruang.
3.3. Kesimpulan
Dari bab keenam ini dapat diambil suatu kesimpulan dimana perkembangan teater di Indonesia khususnya di Surabaya cukup baik dan berjalan bersamaan dengan kesen1an lainnya. Beranjak dari permasalahan yang timbul akibat menurunnya kualitas dari perteateran di Surabaya diakibat
kan beberapa hal antara lainnya belum adanya sarana yang menunjang untuk aktivitas pergelaran maupun pertunjukan dan wadah bagi para seniman berkarya dan menuangkan hasil karyanya berupa pementasan. Untuk itu pada bab ini dibahas perteateran di Surabaya dan permasalahannya yang membahas jawaban dari permasalahan yaitu berupa gedung teater dengan persyaratannya.
::::6