• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pesantren

Dalam dokumen self acceptance santri resistensi di (Halaman 48-54)

BAB II KAJIAN TEORI

C. Pesantren

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi santri resistensi di pondok pesantren, yaitu21 :

1. Kebiasaan, santri menolak berubah karena perubahan dianggap sebgai sebuah ancaman pada pola perilaku yang telah melekat.

2. Rasa aman, seseorang merasa perubahan akan mengancam rasa keamanan mereka.

3. Faktor faktor ekonomi, dimana santri yang mengalami masalah ekonomi dalam keluarganya, akan mempengaruhi sikap dilingkungannya.

4. Ketakutan berlebihan, dimana rasa takut akan masa depan yang tidak diketahui dan kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi itu dapat memicu penolakan terhadap perubahan.

33 (santri). Singkatnya, Pesantren adalah rumah umum atau tempat para santri belajar agama.‖

Untuk memberi definisi sebuah pondok pesantren, kita harus melihat makna perkataanya. Istilah pondok diambil dari Bahasa Arab Al-Funduq yang artinya : hotel, penginapan.23 Istilah pondok diartikan juga dengan asrama.

Dengan demikian, sebagai tempat tinggal. Sedangkan kata pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal santri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti santri adalah orang yang mendalami agama islam.24 Maka pondok pesantren adalah asrama tempat tinggal para santri untuk belajar agama islam. Menurut Wahid, ―pondok pesantren mirip dengan akademi militer atau biara (monestory, convent) yang berarti mereka berada di sana mengalami suatu kondisi totalitas.25

Pondok pesantren juga memiliki makna subtantif sebagai tempat bagi santri untuk memahami dan mendalami ilmu ilmu agama, serta mengamalkan ilmu ilmu tersebut dalam kehidupan sehari hari, sehingga ilmu ilmu agama tersebut mampu menjadi way of life. Pondok pesantren memiliki jiwa dan watak yang jarang sekali

23 Munawwir Ahmad Warson, Munawwir Zainal Abidin, and Ma‘shum Ali, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia ([Surabaya] : Pustaka Progresif, (1984), n.d.), 1154.

24 Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2nd ed. (Jakarta : Balai Pustaka, 1999, n.d.), 783.

25 Ziemek Manfred, Siregar B, and Sunjoyo Butche B, Pesantren Dalam Perubahan Sosial / Pesantren Islamische Bildung in Sozialen Wandel, n.d., 16.

ditemukan di lembaga pendidikan yang lain, watak islami yang kuat, watak kemandirian, watak sosial kemasyarakatan, bermusyawarah, watak ikhlas, dan jiwa jiwa perjuangan.

1. Unsur unsur Pondok Pesantren

Unsur unsur pondok pesantren sebagai berikut : a. Pondok

Pondok merupakan ciri khas pesantren dimana para santri tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan seorang atau lebih dari seorang guru yang dikenal dengan Kyai. Komplek pesantren biasanya dikelilingi oleh tembok agar para santri dapat diawasi keluar dan masuknya sesuai dengan aturan yang berlaku.

b. Masjid

Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dari pesantren karena masjid adalah pusat pendidikan dalam pesantren. Dan berfungsi sebagai manifestasi universalisme dari system pendidikan Islam tradisional.

c. Pengajaran kitab-kitab Islam klasik

Zaman sekarang banyak bebrapa pesantren memasukkan kurikulum pembelajaran pengetahuan umum sebaagai salah satu bagian penting dalam pendidikan di pesantren. Namun, pengajaran kitab – kitab klasik tetap diberikan sebagai salah satu upaya untuk meneruskan tujuan

35 utama pondok pesantren yaitu mendidik calon – calon ulama.26

d. Kyai

Kyai merupakan elemen yang harus ada dari suatu pesantren. Bahkan seringkali kyai merupakan pendiri sebuah pondok pesantren.

Sudah seharusnya pertumbuhan pesantren bergantung pada kemampuan pribadi kyainya.27 e. Santri

Istilah santri adalah nama lain dari murid atau siswa. Nama santri dipakai khusus untuk lembaga pendidikan pondok pesantren, sedangkan gurunya bernama kyai, syekh, ustdz/ustdzh.28 Santri adalah siswa yang tinggal didalam pondok pesantren, guna menyerahkan diri. Ini merupakan untuk dirinya menjadikan anak didik Kyai dalam arti sepenuhnya, Dengan kata lain, ia harus memperoleh kerelaan Kyai dengan mengikuti segenap kehendaknya dan juga melayani segenap kepentingannya.29 Santri adalah orang yang menuntut ilmu atau mencari dan memperdalam ilmu di pesantren. Tentu ilmu yang dipelajari

26 Sulthon Masydud, Tipologi Pondok Pesantren, (Jakarta : Putra Kencana, 2006, n.d.), 89.

27 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren : Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai Dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Cetakan 10 Agustus 2019 (Jakarta : LP3ES, 2011, n.d.), 18.

28 Soeleiman Fadeli and Mohammad Subhan, Antologi NU : Sejarah- Istilah-Amaliah-Uswah (Surabaya : Khalista, 2007, n.d.), 140.

29 Majid, Bilik Bilik Pesantren : Sebuah Potret Perjalanan, 20.

adalah ilmu – ilmu agama islam. Tetapi pada perkembangan selanjutnya santri juga memperdalam ilmu-ilmu umum yang telah diprogramkan oleh pondok pesantren yang telah mengalami modernisasi.30

Menurut KBBI kata santri yaitu orang yang mendalami agama islam, orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh, orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pondok pesantren dan sebagaianya.

2. Tipe tipe Pondok Pesantren

Secara factual ada beberapa tipe pondok pesantren yang berkembang dalam masyarakat yaitu :

a. Pondok pesantren tradisional

Pondok pesantren ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 dengan menggunakan bahasa Arab. Pola pengajarannya dengan menerapkan system halaqah yang di masjid atau surau.

b. Pondok pesantren modern

Pondok pesantren ini merupakan pengembangan tipe pesantren karena orientasi belajarnya cenderung mengadopsi seluruh sostem belajar klasik dan meninggalkan system belajar tradisional. Penerapan system belajar modern ini

30 Muhammad Syaifueddin, Budaya Pesantren Dan Pendidikan Karakter (Semarang : UIN Walisongo, 2013, n.d.), 34.

37 nampak pada penggunaan kelas kelas belajar baik dalam bentuk madrsah maupun sekolah.

c. Pondok pesantren komprehensif

Pondok pesamtren ini disebut komprehensif karena system pendidikan dan pengajaran gabungan anatara pondok pesantren tradisional dan pondok pesantren modern, artinya, dalamnya diterapkan pendidikan dan pengjaran kitab salaf dengan metode sorogan, bandongan dan wethonan.

38

PAPARAN DATA

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al Iman Putri Termotivasi oleh amanat Syaikh Mahmud Syaltut Ulama Mesir kepada KH. Ahmad Sahal untuk mendirikan seribu Gontor di negeri ini. Maka dengan berawal dari niat untuk ikut serta memenuhi panggilan Allah untuk berjuang melestarikan dan memajukan Agama Allah, Bapak KH. Mahfudz Hakiem bertekad untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan pondok pesantren. Yang juga mendasari beliau mendirikan Pondok Pesantren Al Iman yaitu sebuah keyakinan akan firman Allah SWT.

مكمادقأ تبثيو مكرصني للها ارصنت نإ اونماء نيذلا اهيأي

Artinya: “Hai orang orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dab meneguhkan kedudukanmu”.31

Keberanian ini didukung oleh latar belakang pendidikan beliau di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 1957 dilanjutkan di ISID tahun 1968 di tambah kiprah beiau di masyarakat yang hamper semua berbau dakwah dan pendidikan.

Diantaranya ikut membidangi kelahiran Madrasah

31 Al Qur‘an 47: 7

39 Tsanawiyah dan Aliyah Al Islam Joresan Ponorogo yang kemudian memimpinnya selama 24 tahun (1967- 1991).

Agar beliau tetap bisa menuangkan segala aspirasinya kependidikan dan tetap bisa meneruskan perjuangan Rasulullah SAW secara maksimal, maka pada tahun 1986 seusai menunaikan haji beserta ibu, beliau mengajak ibu untuk memasang niat dan menyusun strategi untuk merealisasikan keinginan itu.

Walaupun dengan modal materi yang sangat jauh dan memadai. Beliau selalu berdoa dan meminta kepada Allah SWT agar keempat putrinya dan suami suaminya beserta anak anaknya kelak mau dan mampu membantu dan meneruskan perjuangan beliau.

Dan Alhamdulillah dengan modal keyakinan kepada Allah dan berbekal pendidikan yang beliau terima serta pengalaman mendidik dan mengajar di berbagai lembaga pendidikan Islam terutama menajadi Anshor dan pendidik di Pondok Modern Darussalam yang diangkat oleh KH. Imam Zarkasyi dan KH.

Ahmad Sahal selama lebih dari 34 tahun, maka pada hari Rabu tanggal 5 Dzulhijjah 1412/ 17 Juli 1991, beliau bersama menantu pertamanya Drs. KH. Imam Bajuri dan dibantu beberapa Ustdz resmi mendirikan pondok pesantren Al Iman di Gandu dan Bajang Mlarak Ponorogo dengan jumlah santri 18 orang (putra – putri).

Setelah kurang lebih satu tahun perjalanan, pendiri pondok dipanggil oleh Pimpinan Pondok

Modern Darussalam Gontor dengan maksud bahwa pondok pesantren Al Iman harus pindah dari Gandu/

Bajang karena jarak yang terlalu dekat dengan Gontor.

Berkat pertolongan Allah SWT, pada hari Rabu, 11 Jumadal Ula 1414 H/ 27 Oktober 1993 upacara perpindahan dilaksanakan dan berhijrahlah 75 santri dan beberapa guru dengan berjalan kaki sejauh 19 KM ke lokasi baru dan dilepas oleh Pimpinan Pondok Modern Gontor. Lokasi tersebut betempat di dusun Ngambakan Desa Bangunrejo, Kecamatan Sukorejo Ponorogo yang maana sebagaian diwakafkan dan dibeli oleh Bapak KH. Mahfudz Hakiem.

Menyusul kemudian santriwati putri hijrah ke lokasi barunya di desa Pondok, Kecamatan Babadan Ponorogo pada tanggal 28 Juli 1995. Dan Alhamdulillah, sampai sekarang Al Iman sudah berkembang dan terus berkembang. Keempat putri dan menantu beliau semuanya ada dan turut berjuang di pondok pesantren Al Iman.

Program pendidikan dan pengajarannya berorientaskan untuk mempersiapkan kader kader Islam yang siap berjuang di segala lini kehidupan di sepanjang masa. Sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Pondok pesantren AL IMAN mengintegrasikan PQ (Physic Quotient), SQ (Spiritual Quotient), IQ (Intelegent Quotient) dan EQ (Emotional Quotiont) dalam menanamkan pilar kemantapan akidah dan kedalaman pritual, akhlakul

41 karimah, keluasan dan kedalaman IPTEK dan kematangan hidup.

Panca jiwa yaitu Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah dan Kebebasan diupayakan menjiwai setiap langkah dalam kegiatan santri, karena bagi PONDOK PESANTREN AL IMAN, lembaga ini bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga institusi pembudayaan, Disiplin, dan kehidupan Islami bukan sekedar ―kepatuhan‖ tetapi lebih karena kesadaran bahkan kebutuhan. Disamping program tersebut, pondok memiliki banyak kegiatan dan aktivitas yang berhubungan dengan masyarakat sekitar.

Menimbang dan mengingat pentingnya program pendidikan serta pengajaran di pondok Al Iman yang mana itu semua demi merealisasikan cita-cita pondok ini yaitu agar seluruh santrinya mampu berjuang di masyarakat dengan ilmu dan pengetahuan yang di dapat, serta banyaknya item dan agenda yang positif dengan masyarakat sekitar pondok. Menjadikan santri generasi yang ready for use siap pakai di segala lini kehidupan bermasyarakat.

2. Letak Geografis dan Profil Pondok Pesantren Al Iman Putri

Berdasarkan hasil observasi, wawancara langsung dan studi dokumentasi di lokasi penelitian, dapat ditemukan gambaran umum mengenai kondisi pondok pesantren Al Iman Putri yang merupakan sebbagai berikut:

Pondok pesantren Al Iman Putri terletak di Kota Ponorogo tepatnya di Jl. Raya Ponorogo-Madiun KM 05 Babadan Ponorogo dengan luas tanah 6000m2, berada di area yang staregis mengarah langsung di Jalan Raya besar.

3. Visi, Misi Pondok Pesantren Al Iman

Jika Ingin tercipta Pondok Pesantren yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik, maka Pondok Pesantren harus memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas. Jika tidak Pondok Pesantren tidak dapat berkembang dan berjalan baik. Berikut visi, misi, dan tujuan Pondok Pesantren Al Iman .

a. Visi Pondok Pesantren Al Iman

Menciptakan generasi siap juang fiddaroini dengan kemantapan, iman, ilmu, dan akhlak.

b. Misi Pondok Pesantren Al Iman

1) Membina potensi religius, intelektual, dan emosional secara integral dan berkesinambungan.

2) Membudayakan kehidupan islami dan menjadikan Al Qur‘an dan Sunnah sebagai pedoman utama dan karya pemikiran para ulama sebagai sumber pendamping.

3) Mengembangkan potensi life skill yang dimiliki santri.

4) Mengembangkan pendidikan berorientasi internasional dengan mempertahankan budaya lokal

43 4. Keadaan Pondok Pesantren dan Pengurus

Pondok pesantren Al Iman dipimpin oleh satu kyai, dengan Ibunda sebagai pelindung dan juga pengasuh pondok pesantren Al Iman yang dibantu juga oleh menantu menatu beliau beserta ustdz/ustdzh yang mengabdi di dalam pondok pesantren Al Iman.

Saat ini tenaga pengajar didalam pondok pesantren Al Iman berjumlah 160 ustdz/ustdzh. Tenaga pengajar adalah alumni dari pondok pesantren Al Iman tetapi ada juga beberapa dari ustdz/ustdzh berasal dari luar pondok pesantren. Pendidikan didalam pondok pesantren Al Iman 100% mengikuti kurikulum gontor, ditambah dengan mengikuti kurikulum Kemenag dan Diknas, dan juga Kitab kuning sebagai Salafiyyah, dan Tahfidz.

5. Keadaan Santri

Berawal dari niat dan keyakinan belian Bapak KH. Mahfudz Hakiem disertai dengan latar belakang pendidikan beliau yaitu KMI pondok pesantren Modern Darussalam Gontor, yang awalnya pondok pesantren Al Iman berdiri pada tahun 1991 dengan jumlah santri 18 santri putra/putri. Seiring berkembang dan bertumbuhnya pondok pesantren Al Iman dengan pesat hingga saat ini tahun 2022 jumlah santri putri 840 dan 760 santri putra. Para santri tersebut berasal dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Yogjakarta, Kalimantan, Sulawesi, Jambi, Bali, Makasar bahkan Luar Negeri seperti Malaysia juga ada dengan mayoritas santri setiap

daerah yang berbeda beda menciptakan berbagai ragam kebudayaan dan bahasa yang berbeda pula yang akan tumbuh dalam satu naungan Pondok Pesantren.

Lembaga pondok pesantren memiliki aturan dan disiplin yang sama dengan lembaga lembaga sekolah pada umunya. Para santri harus taat dan patuh pada peraturan peraturan yang ada didalam pondok pesantren baik itu peraturan yang berupa kewajiban atau peraturan larangan.

6. Sarana dan Prasarana

Pondok Pesantren Al Iman memiliki fasilitas sarana dan prasarana berupa:

a. Gedung sekolah b. Asrama

c. UKS (Unit Kesehatan Sekolah) d. Laboratorium Komputer e. Lapangan Olahraga

f. Koperasi pelajar dan kantin g. Mini Market

h. Perpustakaan i. Ruang Multimedia j. Gedung pertemuan k. Ruang Tamu l. Wartel

m. Wisma Tamu (Guest House) n. Unit Usaha

7. Tata Tertib Pondok Pesantren Al Iman

Sarana untuk mencapai tujuan dalam proses belajar mengajar sangat ditunjang dengan adanya tata

45 tertib sebagai penginkat yang akan untuk bersama sama di taati dan dilaksanakan. Karena sesungguhya membentuk karakter dan perilaku santri yang baik diperlukan alat pembantu seperti motivator, batasan batasan dalam tata tertib, contoh nyata dari ustdz/ustdzh, berikut beberapa tata tertib di pondok pesantren Al Iman putri :

a. Kewajiban Santri :

1) Mengikuti shalat 5 waktu secara berjamaah 2) Membaca Al Qur‘an

3) Mengikuti jam belajar malam 4) Menjaga nama baik pondok 5) Menjaga kebersihan pondok 6) Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler

7) Patuh terhadap tata tertib pondok pesantren 8) Menjaga sopan santun terhadap pimpinan dan

ustdz/ustdzh di pondok pesantren

9) Menjaga hubungan baik dengan sesama santri didalam pondok pesantren

10) Mematuhi kegiatan kegiatan yang telah ditentukan oleh Ospi (Organisasi santri pondok pesantren Al Iman Putri)

11) Berbicara dan berkata dengan sopan santun kepada seluruh anggota di dalam pondok pesantren

b. Larangan santri

1) Pulang dan keluar dari pondok tanpa izin 2) Berpacaran

3) Membawa alat elektronik seperti Handphone, soundbox, dll

4) Bertemu dan membawa teman laki laki ke dalam pondok

5) Mencuri barang yang bukan miliknya 8. Kegiatan Santri di Pondok Al Iman

a. Jadwal Harian Santri Pondok Pesantren Al Iman

Jam Kegiatan

03.00 – 04.00 Qiyamul Lail

04.00 – 05.00 Shalat Subuh Berjama‘ah + Baca Al Qur‘an 05.00 – 06.00 Tasyji‘ul Lughoh

06.00 - 06.30 Persiapan Masuk Kelas

06.30 – 07.00 Shalat Dhuha + Hafalan Juz ‗amma 07.00 – 09.00 Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 09.00 – 09.20 Istirahat

09.20 – 11.30 Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 11.30 – 12.15 Istirahat / Shalat Dhuhur

12.15 – 13.30 Kegatan Belajar Mengajar (KBM) 13.30 – 14.30 Kegiatan Pribadi

14.30 – 15.00 Shalat Ashar Berjama‘ah 15.00 – 15.30 Shalat Ashar Berjama‘ah

15.30 – 16.30 Ekstrakurikuler (Kesenian, Olahraga, Pramuka) atau Tahfidz Al Qur‘an

16.30 – 17.00 Mudzakarah / Kajian Kitab Kuning 17.00 – 17.45 Shalat Maghrib, Tilawah Al Qur‘an 17.45 – 19.45 Sholat Isya‘

19.45 – 20.15 Makan Malam 20.15 – 22.00 Belajar Malam

47 22.00 – 22.15 Tasyji‘ul Lughoh

22.15 – 03.00 Istirahat b. Ekstrakurikuler

1) Tahfidz dan Tilawah Al Qur‘an 2) Diskusi dan Kajian Ilmiah 3) Kajian Kitab Kuning

4) Program pengembangan Bahasa Arab dan Inggris

- Penyampaian kosa kata - Percakapan

- Language Fun Olympiad

- Drama berbahasa Arab dan Inggris - Olimpiade Nahwu Shorof

5) Pelatihan Kepemimpinan dan Organisasi 6) Kepramukaan

- Marching Band

- Perkemahan Bina Andika - Kursus Mahir Dasar (KMD) - Kurusu Mahir Lanjutan (KML) - Kursus Pelatih Dasar (KPD) 7) Olahraga

- Jujitsu - Voli - Tenis meja - Bulu Tangkis - Senam 8) Kesenian

- Seni letter

- Kaligrafi - Seni Tari - Olah Vocal - Band - Hadroh - Teater

- Menggambar 9) Muhadloroh 10) Literasi

11) Penerbitan bulletin dan Majalah Dinding 12) Pementasan Seni

13) Kepanitiaan berbagai acara, baik skala kecil maupun besar

B. Deskripsi Data Khusus

1. Gambaran Self Acceptance Santri di Pondok Pesantren Al Iman

Berdasarkan wawancara dan observasi di pondok pesantren Al Iman Putri pada santri putri ditemukan beberapa santri putri yang mengalami perasaan takut, gelisah, tidak tenang, dan juga terasa asing di lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan dirumah. Seperti yang diungkapkan oleh AS dalam sebuah wawancara :

“Saat pertama kali masuk ke dalam pondok pesantren ini, saya merasakan datang di tempat baru yang asing kak, belum kenal siapa siapa rasanya takut, gelisah. Apalagi pas orang tua sudah pamit mau pulang, rasanya jadi tidak tenang. pas orang tua sudah pulang, dan saya

49 sudah ditinggal di pondok sendiri,waktu itu muncul perasaan pengen ikut orang tua pulang saja sambil nangis tidak mau disini, pengen kabur dari sini .”32

AS masuk ke dalam pondok pesantren karena keinginan orang tua, tidak ada keinginan dari AS untuk masuk ke dalam pondok pesantren, bahkan subjek 1 sudah ingin mendaftar di sekolah luar.

Seperti yang diungkapkan oleh AS :

Orang tua yan g pengen saya mondok kak, saya sama sekali tidak ada niat untuk mondok, saya padahal sudah ingin daftar di sekolah lain yang ada diluar”33

Perasaan yang AS rasakan saat orang tuanya meminta masuk ke dalam pondok, adanya penolakan dari AS, Ia merasa pendidikan di dalam pondok dengan di sekolah luar sama, dan juga jika Ia di dalam pondok Ia bakal tidak boleh pulang. Seperti yang di ungkapkan oleh AS :

Saya menolak mbak, saya awalnya gak mau kenapa harus dimasukkan pondok, disekolah luar kan juga bisa. Mungkin pendidikannya juga hampir sama. Kalo masuk pondok kan kita bakal gak boleh pulang.”34

32 Lihat Transkip Wawancara Nomor : W/01/18/10/2022/01

33 Lihat Transkip wawancara nomor : W/01/23/11/2022/01

34 Lihat Transkip wawancara nomor : W/01/23/11/2022/02

Hal yang akan AS lakukan jika orang tuanya masih tetap menginginkan dia masuk ke dalam pondok, Ia akan marah, dan ingin mengunci diri di dalam kamar. Seperti yang di ungkapkan oleh AS:

Saya akan marah kak, beberapa hari waktu itu saya ngambek sama papa mama. Saya tidak keluar kamar, karena memang mereka masih meminta saya untuk masuk ke dalam pondok pesantren.”35

Setiap orang akan melakukan penolakan terhadap suatu hal yang tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Dalam hal ini AS marah dan menolak karna tidak ingin dimasukkan ke dalam pondok pesantren, maka Ia mengurung diri di dalam kamar, dengan harapan bahwa orangtuanya akan lupa ajakan untuk masuk ke dalam pondok pesantren. Seperti yang diungkapkan oleh AS :

Biasanya saya mengurung diri di dalam kamar untuk beberapa hari kak, sampe orang tua lupa ajakan buat masuk pondok .”36

Orang tua AS tetap dengan keinginannya untuk memasukkan AS ke dalam pondok pesantren, tetapi mereka melakukan penawaran dengan AS Seperti yang diungkapkan AS :

Tidak kak, mereka tetap pengen saya masuk

35 Lihat Transkip wawancara nomor : W/01/23/11/2022/04

36 Lihat Transkip wawancara nomor : W/01/23/11/2022/05

51 pondok, Mereka malah membuat kesepakatan dengan saya, kalo saya mau masuk pondok pesantren mereka bakal membelikan hp baru waktu liburan dari pondok pesantren.”37

Yang ada dalam pikiran AS setelah orang tuanya menawarkan penawaran seperti dalam wawancara di atas, Ia mulai berfikir terkait apa orang tuanya tawarkan, Ia akan berusaha mencoba masuk ke dalam pondok pesantren. Seperti yang diungkapkan AS :

“Saya mulai berfikir kak dengan apa yang dijanjikan orang tua saya, karena memang dari dulu saya pengen punya hp baru, gapapa deh saya masuk pondok, saya coba dulu. Kalo memang sudah tidak kuat banget, pasti saya bakal minta pulang sama orang tua.” 38

Setelah sekitar 5 bulan AS berada di dalam pondok pesantren, Ia banyak merasakan perbedaan antara dirumah dan dipondok pesantren, seperti salah satunya kamar mandi yang jauh dari kamar, merasa juga terkadang ingin pulang karena rindu dengan suasana rumah, rindu dengan kedua orang tua. Seperti yang diungkapkan AS :

“Ternyata saya banyak merasakan perbedaan antara di dalam Pondok dengan dirumah seperti kamar mandi jauh dari kamar. Terkadang ada

37 Lihat Transkip wawancara nomor : W/01/23/11/2022/06

38 Lihat Transkip wawancara nomor : W/01/23/11/2022/07

perasaan seneng karna tidak merengek minta pulang tetapi kadang juga ada perasaan sedih kalo kangen sama rumah, kangen sama orangtua, kangen adek, kangen kucing dirumah.”39

Beberapa perasaan yang dialami AS, menunjukkan bahwa Ia mengalami hambatan saat berada didalam pondok pesantren, seperti yang diungkapkan AS dalam sebuah wawancara :

“Iya ada hambatan, kadang masih kangen sama rumah belum juga terbiasa dengan makanan dipondok, kamar mandinya mungkin masih terasa belum begitu nyaman, semua pelajaran yang menggunakan bahasa arab, disiplin yang ketat, aktivitas yang padat dari bangun tidur hingga tidur lagi, tidak boleh adanya penjengukan di bulan pertama hingga ketiga masuk pondok.”40

Karna hambatan yang dialami AS, Ia merasa mengalami stress ringan saat awal awal masuk ke dalam pondok pesantren. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman teman baru, jauh dari orang tua dan keluarga, dan juga bahasa yang digunakan masih terdengar asing. Sebagaimana yang diungkapkan AS dalam wawancara :

39 Lihat Transkip wawancara nomor : W/01/18/10/2022/01

40 Lihat Transkip wawancara nomor : W/01/18/10/2022/02

Dalam dokumen self acceptance santri resistensi di (Halaman 48-54)

Dokumen terkait