• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peta Konflik

Dalam dokumen Daftar Isi (Halaman 84-89)

BAB III MODERASI BERAGAMA DAN

B. Teori Konflik

1. Peta Konflik

Teknik analisis konflik merupakan langkah awal untuk mendiskripsikan konflik. Ada banyak teknik analisis konflik yang dapat digunakan, yaitu; metode tingkat konflik (stage of conflict), garis waktu (timelines), pemetaan konflik (conflict mapping), segitiga ABC (the ABC- Attitude, Behaviour, Contect- tiangle), model bawang (the unioin), atau donat (doughnut), pohon konflik (the conflict tree), analisis kekuatan lapangan (force-field analysis), pillars, dan alat analisis model piramid (the Piramid).76 Penelitian kali ini menggunakan teknik analisis dengan pemetaan konflik. Alur konflik juga dapat mempermudah menemukan langkah-langkah resolusi yang bisa ditempuh. Peta konflik dapat dikatakan cocok untuk menganalisis konflik yang sudah sangat keruh. Seperti dalam konflik Ahmadiyah ini, disamping karena jangka konflik yang tergolong panjang maka dari sejak konflik terbuka sampai konflik tertutup saat ini. Oleh karena itulah, teknik analisis dengan menggunakan pemetaan konflik akan digunakan untuk membaca konflik Ahmadiyah.

Pemetaan konflik memberikan deskripsi pendahuluan mengenai berbagai sikap, perilaku, dan situasi yang berkembang dalam dinamika konflik. Menurut Fisher, pemetaan konflik meliputi pemetaan pihak berkonflik dan berbagai aspirasi dari pihak-pihak yang ada. Pemetaan

76 Muksin Jamil, Mengelola Konflik Membangun Damai (Semarang:

WMC (Walisongo Mediation Centre, 2007), hlm. 48.

merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menggambarkan konflik secara grafis, menghubungkan pihak-pihak dengan masalah dan dengan pihak lainnya.

Ketika masyarakat yang memiliki berbagai sudut pandang berbeda memetakan situasi mereka secara bersamaan, mereka saling memperlajari pengalaman dan pandangan masing-masing.77 Pemetaan konflik juga merupakan metode menghadirkan analisis terstruktur terhadap konflik tertentu pada waktu tertentu pula. Metode memberikan gambaran singkat tentang pandangan mereka terhadap situasi konflik.

Setiap konteks masyarakat dengan berbagai tipe konflik yang ada, seperti tipe konflik realistis atau non- realistis78, akan menghasilkan pemetaan yang berbeda-beda.

Pada masyarakat tertentu akan terhasilkan satu pemetaan yang sederhana, sedangkan pada masyarakat yang lain bisa saja tergambarkan peta konflik yang begitu kompleks.79

Pemilihan teknik pemetaan konflik dilakukan sesuai dengan konteks dan tipologi masyarakat. Salah satu model yang akan digunakan yaitu teknik pemetaan konflik yang digagas oleh Wehr dan Bartos80:

a. Specify the context, yang menelusuri informasi mengenai sejarah konflik dan bentuk fisik taat organisasi yang

77 Simon Fisher dkk, Mengelola Konflik : Keterampilan ..., hlm. 22

78 Lewis A Coser, The Function of Social Conflict (New York: Free Press. 1956), hlm. 156

79 Novri Susan, Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 95.

80 Otomar J Barthos dan Paul Behr, Using Conflict Theory (New York: Cambridge University Press), hlm. 67-69.

berkonflik. Konflik tidak muncul diruang hampa, bisa muncul dalam konteks politik negara, keluarga, perusahaan dan komunitas etnis dan agama.

b. Identify the parties, menemukan siapakah yang menjadi pihak-pihak berkonflik. Pihak utama pelaku konflik adalah mereka yang menggunakan perilaku dan tindakan koersif dan memiliki arah kepentingan dari hasil konflik. Pihak konflik sekunder memiliki kepentingan tidak langsung terhadap hasil konflik.

Pihak ketiga adalah aktor yang netral dan bersedia mendorong proses resolusi konflik.

c. Separate causes from consequences, seseorang peneliti perlu memisahkan apa yang menjadi sebab akar konflik dan akibat-akibat sampingan dari konflik. Ketidakcocokan tujuan dan kepentingan yang dirasakan adalah mungkin menjadi salah satu penyebab paling dasar dari konflik sosial. Pertahanan identitas seseorang sering menyebabkan ketidakcocokan tersebut, khususnya di dunia kontemporer, di mana kesadaran dan hak-hak kelompok telah mengasumsikan visibilitas tinggi.

Perbedaan budaya adalah sumber dari keterpisahan dan perbedaan, dan menciptakan rasa tidak cocok.

Perbedaan keyakinan dan nilai-nilai juga menjadi penyebab dasar dari konflik sosial. Konflik sosial bernuansa agama tidak asing lagi ditelinga masyarakat.

Mereka biasanya berangkat dari citra negatif lawan untuk mendapatkan klaim yang lebih benar.

Perselisihan atas fakta memunculkan banyak konflik dan mungkin tipe konflik ini yang paling mudah untuk

diselesaikan. Lalu ada konflik yang terjadi karena salah satu atau kedua pihak hanya ingin memperjuangkan sesuatu, tidak peduli dengan yang lainnya. Konflik menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, mungkin karena melepaskan ketegangan.

d. Separate goals from interest goals, adalah sasaran selama proses konflik, lebih spesifik. Kepentingan biasanya termotivasi dari sesuatu yang benar-benar mereka perlukan untuk mencapainya, seperti; keamanan, pengakuan, penghormatan, keadilan, dan sebagainya.

e. Understand the dynamics, dinamika adalah perkembangan situasi-situasi yang dibentuk oleh berbagai model tindakan para pihak berkonflik.

f. Search for positive function, adalah menemukan bentuk- bentuk perilaku yang memungkinkan konflik bisa mengarah pada penyelesaian.

g. Understand the regulation potential, bagaimana aturan legal, seperti undang-undang, bisa mengintervensi atau menggawangi proses konflik.

Dengan mengadaptasi kerangka kerja yang ditawarkan oleh Wehr diatas maka Hugh Miall81 menyarankan langkah-langkah yang digambarkan sebagai berikut :

81 Hugh Miall, Oliver Ramsbothan dan Tom Woodhouse, Resolusi Damai Konflik Kontemporer: Menyelesaikan, Mencegah, Mengelola dan Mengubah Konflik Bersumber Politik Sosial (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 144-145

a. Latar Belakang 1) Peta area konflik

2) Garis-garis besar dinamika konflik b. Pihak-pihak yang bertikai dan persoalannya

1) Siapa yang menjadi inti pihak yang bertikai?

Apa sub-kelompok internal mereka dan pada apa mereka tergantung.

2) Apa persoalan konflik?

Apa mungkin membedakan antara posisi, kepentingan (kepentingan materi, nilai hubungan) dan kebutuhan?

3) Apa hubungan antara pihak-pihak yang bertikai?

Apakah ada ketidak simetrisan kualitatif atau kuantitatif?

4) Apa persepsi penyebab dan sifat konflik diantara pihak-pihak yang bertikai.

5) Apa prilaku akhir-akhir ini pihak-pihak yang bertikai? (apakah konflik dalam fase ‘eskalasi’ atau fase ‘deeskalasi’)?

6) Siapa pemimpin pihak-pihak yang bertikai? Pada tingkat elit dan individual, apa tujuan, kebijakan, kepentingan, kekuatan dan kelemahan relatif mereka?

c. Konteks: faktor-faktor global

1) Pada level negara: apa sifat negara yang sedang bertikai? Bagaimana keterbukaan dan aksesibilitas aparatur negara? Apakah ada institusi atau badan yang dapat berfungsi sebagai saluran legitimasi untuk mengelola konflik? Bagaimana masalah

keadilan dalam pembangunan ekonomi dan apakah ada kebijakan ekonomi yang dapat mempunyai dampak positif?

2) Pada tingkat regional: bagaimana hubungan dengan negara dan masyarakat tetangga dapat mempengaruhi konflik? Apakah pihak-pihak yang bertikai mempunyai pendukung regional eksternal? Aktor regional mana yang dapat dipercaya oleh pihak-pihak yang bertikai?

3) Pada tingkat global: apakah ada kepentingan geopolitik dari pihak luar dalam konflik itu?

Apakah faktor eksternal yang menjadi pendorong konflik dan apa yang dapat mengubahnya?

Dalam dokumen Daftar Isi (Halaman 84-89)

Dokumen terkait