2.3 Bangunan Pengambilan
2.2.6. Pilar Intake dan Dinding Banjir
42
Lebar lubang intake; bila menggunakan pintu sorong yang dioperasikan secara manual, maka besarnya diambil lebih kecil dari 2,50 m untuk satu pintu. Bila diinginkan lebarnya lebih besar dari 2,50 m maka harus dibuat beberapa pintu dengan pilar untuk penempatan pintu.
Tinggi pintu; atau h berbanding dengan lebar pintu, b, dapat diambil dengan perbandi ngan seperti berikut:
b : h = 1: l atau b : h = 1,5 : l atau b : h = 2 : I
43
• bagian awalnya diletakkan agak mundur, sebesar, R; ini agar diperoleh aliran yang masuk lebih mulus,
• bentuk awal pilar, bulat dan tegak dan atau dengan kemiringan,
• bagian hilirnya dapat dibuat tegak atau dengan kemiringan.
• ketebalan pilar sekitar 0,70 -1,0 m.
Adakalanya arah intake menyudut dan bukaannya lebih dari satu bukaan maka pengaturan letak bagian awal pilar intake dan pintu-pintunya yaitu seperti berjenjang. Bentuk ini dapat mengurangi pusaranpusaran aliran yang akan terjadi di udik pintu dan mengurangi endapan sampah yang mengapung serta memudahkan pembersihan sampah yang mengapung di udik pintu, serta aliran yang masuk ke intake akan jauh lebih mulus (Gbr. 3.3.11)
2) Dinding banjir dan sponeng; dinding banjir diperlukan pada bangunan intake. Diletakkan di hilir pintu intake. Fungsinya untuk mencegah aliran banjir, masuk ke intake mengurangi kecepatan aliran yang menuju intake dalam kaitannya sebagai pengendalian pergerakan angkutan muatan sedimen ke intake. Bahannya dibuat dari beton bertulang dengan ketebalan yang tergantung dari tingginya. Umumnya dengan ketebalan sekitar 0,25 meter. Bagian atasnya disatukan dengan jembatan plat pelayanan yang bentuknya dapat diperhatikan pada Gbr. 3.3.12 (atas).
Sponeng pada pilar: diperlukan untuk penempatan pintu dimana ukuran sponeng {ebih besar dari balok kayu. Sponeng cadangan diperlukan
44
pula dalam rangka pemeliharaan (Gbr. 3.3.12 bawah)
Contoh desain pintu intake dari bahan kayu dapat diperhatikan pada Gbr. 3.3.13.
2.2.7. Dua Intake di Satu Sisi Bendung
1) Maksud Pada beberapa kasus, intake dirancang di satu sisi bendung untuk dua daerah irigasi yang terletak di kedua sisi bendung. Seharusnya untuk kedua daerah irigasi yang terletak di kedua sisi bendung tersebut dibangun dua pula intakenya. Tetapi, bila salah satu dderah irigasi tersebut debit pengambilannya kurang dari satu m3/det maka intake dapat dibuat di satu tempat atau satu sisi saja. Ini akan menghemat biaya pembuatan bangunan pembilas, karena hanya dibuat satu buah bangunan pembilas yang berdekatan dengan intake tersebut (Gbr. 3.3.14).
45
2) Desain dua bangunan intake yang ditempatkan di satu sisi bendung diatur sedemikian, yaitu:
• pintu intake ditempatkan di pilar pembilas (Gbr. 3.3.15),
• gorong-gorong untuk menyeberangkan aliran ditempatkan di dalam tubuh bendung,
• kecepatan aliran di dalam gorong-gorong diambil sekitar 2,50 mldet sehinggadapat menghanyutkan sedimen yang masuk ke dalam goronggorong, tetapi tidak pula terlalu tinggi untuk menghindari bahaya pengikisan,
• hendaknya dirancang pula fasilitas pembilasan sedimen tepat di pengeluaran gorong-gorong di awal saluran induk,
• karena dibutuhkan untuk penempatan pintu intake, maka tebal pilar pembilas, t >= 2 m
t minimum = 1,0 m; t untuk pasangan batu 1,0 m - 2,0 m.
46
3) Contoh penempatan dua intake di satu sisi Bendung yang menggunakan sistem penempatan dua intake di satu sisi bendung dijumpai antara lain pada bendung Nambo di Sungai Comal, Jateng (Gbr.3.3.17) bendung Suliti di Batang Suliti, Sumatera Barat (Gbr.3.3.18 atas) dan bendung Canden di Kali Opak, Yogyakarta (Gbr.3.3.18 bawah).
a) Intake Bendung Nambo Bendung Nambo dibangun di S. Comal Jawa Tengah sekitar tahun 1934. Karena hancur total sekitar tahun 1978 maka bendung ini dibangun kembali sekitar tahun 1980. Daerah irigasi berada di kedua sisi bendung dengan luas di bagian kiri 653 hektar dan kanan 335 hektar. Untuk melayani kedua daerah irigasi ini dibangun intake kiri dan kanan menjadi satu kesatuan dengan bangunan pembilas di bagian kiri sisi bendung.
Intake kiri; arahnya terhadap sumbu sungai tegak lurus membentuk sudut kira-kira 90'. Lebarnya 1,50 meter. Dilengkapi dengan satu pintu sorong kayu. UIir pintu diletakkan di dalam sponeng sehingga dapat mencegah kerusakan akibat tekanan aliran dan sampah. Pintu dioperasikan secara manual. Menurut keterangan petugas, pengoperasian pintu tidak berat dan cukup mudah diputar naik turun. Di atas pintu dipasang dinding penahan banjir dari pasangan beton untuk mencegah masuknya aliran banjir.
47
Intake kanan; pintu pengambilannya diletakkan pada pilar pembilas. Air untuk saluran irigasi dialirkan melalui gorong-gorong yang diletakkan di dalam tubuh bendung. Ini dimungkinkan karena debit saluran irigasi kanan relatif kecil yaitu sekitar 500 l/det. Manfaat rancangan bentuk ini yaitu biaya bangunan akan menjadi lebih murah, karena tidak memerlukan bangunan pembilas yang melengkapi intake. Juga pengoperasian pintu-pintu akan lebih mudah karena tempatnya menjadi satu kesatuan dengan bangunan intake kiri dan pembilas. Kekhawatiran sistem ini yaitu aliran di dalam gorong-gorong terganggu akibat penyumbatan oleh sedimen. Tetapi kekhawatiran ini tidak perlu, karena selama ini tidak terjadi gangguan pengaliran akibat endapan sedimen di dalam gorong-gorong tersebut. Menurut keterangan petugas tidak ada endapan sedimen di dalam gorong-gorong. Hal ini diketahui dari pemeriksaan petugas yang masuk ke dalam gorong-gorong tersebut sekali setahun disaat pengeringan. Upaya menghindarkan terjadinya pengendapan di dalam gorong-gorong dapat dilakukan dengan' merencanakan kecepatan aliran sekitar 2,50 mldet. Kecepatan aliran sebesar ini sudah dapat menghanyutkan pasir dan kerikil halus seandainya masuk ke dalam gorong-gorong. Selain itu bentuk bangunan pembilas dengan undersluice di udik pintu intake dan pengoperasian pembilasan sedimen dapat pula mencegah masuknya angkutan sedimen dasar ke dalam gorong-gorong.
48
Trash rack; dipasang di mulut bangunan intake dan pembilas. Terbuat dari pipa besi bulat berjarak 20 cm. Dan dipasang seperti bentuk pagar.
Fungsinya untuk mencegah benda padat seperti sampah.jerami, dan sampah lainnya masuk ke intake. Sampah-sampah yang menyangkut ke trash rack dibersihkan secara manual oleh petugas bendung.
Bangunan ukur; untuk mengukur besarnya debit ke saluran dipakai alat ukur tipe Parshal Flume. Diletakkan agak jauh di hilir pintu intake.
Besarnya aliran diketahui dengan membaca tinggi muka air di pelskal.
Untuk mengatur besarnya aliran petugas harus bolak-balik mengatur besar bukaan pintu intake dan membaca tinggi muka air di pelskal. Di bagian udik alat ukur di saluran, dilengkapi dengan sand ejector dan pintu pembilas. Sehingga sedimen yang terperangkap dapat dibilas secara hidraulik. Tetapi untuk bagian kanan sedimen yang terperangkap tidak dapat dibilas seluruhnya. Pengoperasian pembilasan di bagian ini dilakukan sekali seminggu.
b) Intake Bendung Suliti Bendung Suliti dibangun di Batang Suliti, Muara Labuh Sumatera Barat. Bendung ini melayani daerah irigasi di sisi kiri dan kanan bendung. Intake untuk melayani daerah irigasi bagian kiri diletakkan di bagian kanan bendung. Karena debit intake tidak dapat dilayani oleh satu gorong-gorong maka harus dibuat dua buah seperti tampak pada Gbr.3.3.18 atas dan tengah.
49