• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pilar Ontologi

Dalam dokumen Pendidikan Integratif (Halaman 47-52)

E. Filosofi Integrasi Sains dalam Agama

1. Pilar Ontologi

Ontologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji mengenai hakikat ”yang ada”. Melalui pilar ini, akan diidentifikasi mengenai hakikat ”yang ada” dalam konteks pengembangan

integrasi sains dalam agama. Positivisme sebagai landasan filosofis sains modern mengatakan bahwa ”yang ada adalah yang nyata/positif” dan ”yang tidak nyata/positif itu tidak ada”. Oleh karena itu, objek sains modern adalah ”yang nyata/

positif dan terukur”. Satu-satunya realitas yang diperhatikan dalam kasus sains modern adalah realitas Cartesian yang telah direduksi menjadi pikiran dan materi (Bakar, 2008). Sementara, agama merupakan bidang keilmuan manusia yang meyakini bahwa ajaran-ajaran agama itu pasti benar yang kebenarannya tidak dapat diukur secara kuantitatif, karena bersumber dari yang tidak nyata, yaitu Tuhan.

Untuk menetapkan objek kajian dari integrasi sains dalam agama harus didasarkan pada konsep mengenai ”yang ada”, misalnya dalam al-Qur’an: ”maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat” (Q.S.

al-Haq (69): 38-39). Merujuk pada ayat tersebut ”yang ada” itu dapat diklasifikasikan menjadi ”yang ada” secara nyata-positif (yang dapat kamu lihat) dan ”yang ada” secara tidak nyata- positif (yang tidak dapat kamu lihat). Hakikat dunia ini adalah yang nyata dan yang tidak nyata, bukan sebagaimana yang dipahami positivisme dan materialisme Barat.

Menurut Leaman (2002), al-Qur-’an telah menjelaskan bahwa pengetahuan manusia dapat dikelompokkan menjadi pengetahuan yang bersumber pada yang nyata dan yang tidak nyata (ghaib). ”Yang nyata” biasanya dapat dijelaskan oleh sains, sementara ”yang tidak nyata” biasanya hanya dapat dijelaskan oleh wahyu. Pemisahan antara ”yang nyata” dan

”yang tidak nyata” akan mendorong munculnya pemahaman yang disintegratif, karena ”yang nyata” dan ”yang tidak nyata”

dipahami bukan sebagai kesatuan antara fakta dan makna atau fisika dan metafisika.

Iqbal (dalam Rahman, 2007) menyodorkan pandangan bahwa bahwa hal-hal yang dapat diamati, diobservasi, atau keseluruhan benda fisik syarat dengan keajaiban atau rahasia yang sangat memikat persepsi manusia. Keajaiban dan rahasia itu dapat menghantarkan manusia mencapai kebenaran tertinggi. Seorang Muslim harus membiasakan diri merenungkan dan menyelidiki benda-benda fisik dan keajaiban serta rahasia dibaliknya sebagai fenomena besar alam semesta ini. Umat Islam tidak dapat menafikan benda- benda fisik, karena dari yang fisik tersebut dapat dieksplorasi mengenai tanda-tanda kekuasaan Allah.

Objek integrasi sains dalam agama harus didasarkan sumber yang mampu memberikan pandangan yang holistik.

Jika menengok objek sains Barat dibatasi pada entitas-entitas fisik - padahal, realitas dunia ini tidak hanya menyuguhkan entitas-entitas fisik, tetapi juga menyuguhkan entitas-entitas non-fisik (Kartanegara, 2005) – maka objek integrasi sains dalam agama adalah realitas yang nyata dan yang tidak nyata.

Oleh karena itu, ontologi dunia dalam perspektif integrasi sains dalam agama bersifat dualistik yang holistik, yaitu yang material dan immaterial. Berangkat dari asumsi ini, integrasi sains dalam agama menjadi sangat penting seperti pentingnya Allah memerintahkan manusia membaca (iqra’) dengan nama Allah. Melalui metode membaca dengan nama Allah ini entitas nyata dan tidak nyata dapat terbaca dengan baik.

Posisi dua entitas itu dapat dianalisis dalam dua sisi, yaitu (i) entitas yang tidak dapat dilihat dengan yang dapat dilihat dengan posisi secara berlawanan, dan (ii) entitas yang tidak dapat dilihat dan yang dapat dilihat dengan posisi yang berhubungan. Posisi pertama akan menjelaskan bahwa kedua entitas itu bagaikan

hukum identitas dalam prinsip berpikir Aristoteles. Entitas tertentu diakui adanya, sebaliknya entitas lain tidak diakui adanya.

Pandangan ini menjadi ciri khas modernitas dan menunjukka ciri sains yang netral dan objektif. Dunia bagaikan kerja mesin besar yang masing-masing entitas bertindak menurut fungsi dan perannya sendiri. Dunia itu bersifat mekanistik. Posisi kedua akan menjelaskan bahwa antara entitas satu dengan entitas yang lain terhubung secara organismik. Pandangan ini menjadi mirip dengan pandangan mekanika kuantum yang meletakkan substansi sesuatu itu pada relasinya dengan benda atau peristiwa lainnya. Pilihan ontologis dalam konteks integrasi ini adalah dua entitas dalam satu kesatuan organistik.

Konsekuensinya, objek integrasi sains dalam agama adalah entitas-entitas fisik dan non-fisik yang terelasikan dalam sistem yang bersifat organismik. Alam semesta ini akan menginformasikan sesuatu yang nyata dan al-Qur’an akan menginformasikan sesuatu yang tidak nyata dan futurologis. Jika menggunakan analogi relasional entitas di atas, maka al-Qur-

’an sebagian ayat-ayatnya membicarakan alam semesta. Alam semesta dapat memberi informasi deskriptif dan empiris untuk memahami ayat-ayat tentang alam semesta. Jika keduanya dipahami dalam perspektif relasional, maka dimungkinkan menghasilkan pandangan atau teori baru yang holistik. Alam semesta sebagai objek sains keberadaannya ada secara sistemik relasional dengan wahyu sebagai objek ilmu agama.

Apa yang dapat Anda lihat menggambarkan sesuatu yang measurable secara kuantitatif, sementara yang tidak dapat Anda lihat adalah realitas atau fenomena yang unmeasurable secara kuantatif. Menurut Purwanto (2008), manusia tidak dapat dibatasi hanya pada hal-hal yang materil, tetapi juga yang

imaterial. Manusia adalah makhluk yang berjasad yang tersusun dari unsur-unsur tanah. Sebagai makhluk yang memiliki ruh, manusia memiliki substansi yang tidak nyata, yaitu unsur-unsur sisi Allah. Kedua entitas yang ada pada manusia ini terrelasikan satu sama lain sehingga memungkinkan adanya kehidupan manusia.

Hal ini berbeda dengan sains modern yang berkembang dan dikembangkan dari objek yang nyata dan terukur saja. Keyakinan saintifik yang berkembang dari sains modern itu adalah bebas nilai. Ini merupakan akibat materialisasi sains yang mengalami puncak kejayaannya di era positivisme. Benih materialisasi ini diawali sejak era renaisan yang menolak kebenaran-kebenaran yang berasal dari campur tangan gereja (Purwanto, 2004).

Bahkan, secara ekstrim pada era pencerahan (aufklarung) beberapa ilmuwan Inggris mengumandang kematian Tuhan.

Kematian Tuhan semakin mendorong pesatnya temuan- temuan saintifik yang dikawal oleh positivisme. Paradigma sains yang demikian akan menjauhkan manusia dari hakikat non- fisiknya sendiri dan menjauhkan manusia dari Tuhannya.

Positivisme, motor penggerak utama sains modern, memahami alam hanya sebagai fenomena fisik saja. Alam semesta tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang memiliki tujuan dan bersifat spiritual, namun hanya dilihat sebagai fenomena benda-benda. Bagi masyarakat tradisional, alam dipahami sebagai realitas simbol-simbol dan memiliki makna spiritual. Sedangkan, positivisme yang merupakan ruh bagi modernisme telah mencabut spiritualitas itu dan memposisikan alam sebagai objek eksploitasi saja. Hal ini terjadi karena menurut Kartanegara (2005) dalam filsafat ilmu Barat (modern), sains dibatasi hanya pada bidang empiris atau

fisik. Inilah dasar ontologis sains modern yang harus diganti dalam sistem keilmuan integrasi sains dan agama, yaitu bidang empiris dan tidak empiris.

Dalam dokumen Pendidikan Integratif (Halaman 47-52)