BAB III METODOLOGI PENELITIAN
G. Populasi dan Sampel
Pada situasi social atau objek penelitian ini peneliti dapat mengamati secara mendalam aktivitas (activity) orang-orang (actors) yang ada pada tempat tertentu (plece).
Jadi, Populasi adalah keseluruhan juru parkir baik yang resmi maupun yang tidak resmi di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki oleh populasi tersebut. Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti dengan pertimbangan populasi penelitian ini cukup banyak. Untuk mengetahui ini peneliti mengambil informasi dari responden yang diambil sebagai sampel dengan tehnik purposive sampling (pengambilan sempel berdasarkan tujuan). Adapun pengambilan dan penentuan sampel yaitu 15 orang juru parkir yang ada di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar.
Sehingga jumlah sampel yang dilakukan peneliti adalah 15 orang juru parkir baik yang resmi maupun yang tidak resmi dengan menggunakan tehnik purposive sampling (pengambilan sempel berdasarkan tujuan).
H. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:
1. Data Primer
wawancara yang dilakukan peneliti adalah dengan cara mencatat berdasarkan pedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Wawancara ini dilakukan beberapa kali sesuai dengan keperluan peneliti yang berkaitan dengan kejelasan dan kemantapan masalah yang dijelajahi.
b. Teknik Observasi
Dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara langsung terhadap hal yang dianggap berhubungan dengan objek yang diteliti, atau hal yang berkaitan dengan masalah penelitian.
c. Dokumentasi
Dokumentasi tahap terakhir yaitu dokumentasi, dimana peneliti melakukan pengambilan gambar/foto untuk memperkuat data-data yang telah dikumpulkan. Pengambilan foto dapat dilakukan peneliti sendiri ataupun dengan bantuan orang lain agar terlihat peran serta dalam penelitian ini.
2. Data Sekunder
Dalam penelitian kualitatif agar mendapatkan hasil yang optimal dan benar-benar menemukan data sebagaimana terkandung dalam natural setting, maka selain teknik data dengan observasi dan wawancara, maka dapat dilengkapi dengan teknik pengumpulan data dengan dokumen.
Dokumen dapat berbentuk tertulis, gambar, atau karya menumental dari seseorang lainnya.
memanfaatkan penggunaan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan penyelesaian atau sebagai pembanding terhadap data yang sudah ada.dimana dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, Artinya membandingkan dan mengecek kembali derajat kepercayaan suatu sumber informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.
Hal ini dapat dicapai dengan jalan :
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
4. Membandingkan hasil wawancara dengan suatu dokumen yang berkaitan (Sutopo 2006: 72)
Dari keempat hal tersebut peneliti menggunakan metode membandingkan data hasil penelitian dengan data wawancara.
dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.
Aktifitas dalam analisis data yaitu:
a. Reduksi data (Data Reduction)
Dengan mereduksi data peneliti mencoba menggabungkan, menggolongkan, mengklasifikasikan, memilah-milih atau mengelompokkan data dari penelitian di lapangan, seperti peneliti memfokuskan pada fenomena sosial dan faktor- faktor perebutan lahan parkir. maka reduksi data dilakukan dengan merangkum hal-hal apa saja yang berhubungan dengan data tentang fenomena sosial dan faktor-faktor apa saja sehingga terjadinya perebutan lahan parkir di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar..
b. Penyajian data (data display)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data.
Melalui penyajian data tersebut maka data akan tersusun dalam pola hubungan yang disajikan dalam bentuk bagan, uraian singkat, laporan tulisan yang dijelaskan (yang bersifat naratif). Seperti hasil penelitian yang didapat, dapat disajikan yaitu:
a) Fenomena sosial juru parkir
b) Faktor-faktor penyebab perebutan lahan parkir.
hasil penelitian yang telah disajikan dalam uraian singkat tersebut.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Dikaitkan dengan penelitian ini tentu saja proses verifikasi atau kesimpulan awal dapat dilakukan misalnya kesimpulan mengenai data-data tentang fenomena sosial dan faktor-faktor penyebab perebutan lahan parkir.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian a. Letak Geografis
Kelurahan Bulo Gading merupakan salah satu Kelurahan di Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, dimana perkembangannya telah menunjukkan kemajuan di berbagai bidang sesuai dengan peran dan fungsinya, hal ini didorong oleh potensi dan sumber daya manusia dan sumber daya alam.
Secara geografis Kelurahan Bulo gading terletak di sebelah utara Kecamatan Wajo dengan luas wilayah 0,23 km. Kelurahan Bulo Gading berada di dekat pantai losari yang dimana setiap hari pantai losari banyak pengunjungnya.
Keluarahan Bulo Gading tergolong dalam topografi dataran rendah.
Adapun batas-batas wilayah Kelurahan Bulo Gading sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Wajo b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Maloku c. Sebelah Timur berbatasan denganKelurahan Baru d. Sebelah Barat berbatasan dengan Pulau Lae-lae
Untuk lebih jelasnya luas wilayah Kelurahan Bulo Gading dapat di lihat melalui tabel luas wilayah Kecamatan Uung Pandang berikut:
43
Tabel 3.1 Keadaan Luas Wilayah Kecamatan Ujung Pandang
NO. KELURAHAN LUAS (Km)
1 BARU 0,21
2 BULO GADING 0,23
3 LAE-LAE 0,22
4 MALOKU 0,20
5 LOSARI 0,27
6 MANGKURA 0,37
7 SAWERIGADING 0,41
8 PISANG SELATAN 0,18
9 PISANG UTARA 0,34
10 LAJANGIRU 0,20
JUMLAH 2;63
Sumber: Kantor Camat Tahun 2014-2015
Berdasarkan tabel 4.1 diatas maka Kelurahan yang paling luas wilayahnya adalah Kelurahan Sawerigading dengan luas 0,41 km,dan Kelurahan Pisang Selatan merupakan Kelurahan yang paling kecil wilayahnya dengan luas 0,18 km.
Sedangakan Kelurahan Bulo Gading berada ditengah-tengah dengan luas wilayahnya yaitu 0,23 km.
b. Keadaan Demografis
Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan suatu wilayah adalah jumlah penduduk yang bermukiman atau beraktifitas di wilayah tersebut. Saat ini jumlah penduduk di Kelurahan Bulo Gading sebanyak2.704jiwa. Untuk lebih
jelasnya data tentang jumlah penduduk di Kelurahan Bulo Gading dapat dilihat pada tabel jumlah penduduk Kecamatan Ujung Pandang di bawah ini.
Tabel 3.2: Jumlah Penduduk Kecamatan Ujung Pandang
NO. KELURAHAN
JUMLAH PENDUDUK
1 BARU 1.569
2 BULO GADING 2.704
3 LAE-LAE 1.727
4 MALOKU 2.456
5 LOSARI 2.055
6 MANGKURA 1.457
7 SAWERIGADING 1.616
8 PISANG SELATAN 3.940
9 PISANG UTARA 4.312
10 LAJANGIRU 5.969
JUMLAH 27.802
Sumber: Kantor Camat Tahun 2014-2015
Berdasarkan tabel 3.2 di atas maka jumlah penduduk terbanyak berada pada Keluarahan Lajangiru dengan jumlah penduduk 5.969 jiwa dan jumlah penduduk terendah berada pada Kelurahan Mangkura dengan jumlah penduduk 1.457 jiwa, sedangkan Kelurahan Bulo Gading berada pada posisi keempat dengan jumlah penduduk 2.704 jiwa. Berdasarkan data jumlah penduduk diatas Kelurahan Bulo Gading seharusnya banyak lapangan kerja yang harus disediakan
oleh pemerintah, supaya penduduk yang ada mendapatkan pekerjaan sesuai tingkat pendidikan masing-masing.
Tabel 3.3 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
NO. KELURAHAN
LAKI- LAKI
PEREM PUAN
JUMLAH TOTAL
1. BARU 792 777 1.569
2 BULO GADING 1.245 1.459 2.704
3 LAE-LAE 865 862 1.727
4 MALOKU 1.147 1.309 2.456
5 LOSARI 809 1.246 2.055
6 MANGKURA 730 727 1.457
7 SAWERIGADING 750 866 1.616
8 PISANG SELATAN 1.914 2.026 3.940
9 PISANG UTARA 2.069 2.243 4.312
10 LAJANGIRU 2.793 3.173 5.969
JUMLAH 13.114 14.688 27.802 Sumber: Kantor Camat Tahun 2014-2015
Adapun pada tabel 3.3 jumlah penduduk perempuan pada Kelurahan Bulo Gading lebih banyak dari pada laki-laki dengan jumlah 1.459 jiwa, sedangkan penduduk laki-laki sebanyak 1.245 jiwa.Data tersebut menggambarkan bahwa dewasa ini perempuan lebih banyak dari pada laki-laki, sehingga kesetaraan gender memang harus dilakasanakan. Supaya kaum perempuan mendapatkan lapangan pekerjaan di luar rumah dan tidak menjadi pengangguran.
Tabel 3.4Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
NO.
KELOMPOK UMUR
LAKI- LAKI
PEREM PUAN
JUMLAH TOTAL
1. 0-4 85 96 181
2 5-9 97 104 201
3 10-14 97 98 195
4 15-19 118 137 255
5 20-24 149 145 294
6 25-29 141 137 278
7 30-34 96 122 218
8 35-39 70 98 168
9 40-44 81 104 185
10 45-49 74 99 173
11 50-54 84 104 188
12 55-60 45 56 101
13 60-64 41 50 91
14 65+ 67 109 176
Jumlah 1.245 1.459 2.704
Sumber: Kantor Kelurahan Tahun 2014-2015
Berdasarkan Tabel 3.4 bahwa jumlah penduduk di Kelurahan Bulo Gading terbanyak berada pada kelompok umur 20-24 tahun sedangkan terendah berada pada kelompok umur 60-64 tahun. Data diatas menunjukan bahwa penduduk yang umurnya 20-24 tahun di Kelurahan ini sangat banyak, tentu membutuhkan
pekerjaan untuk menafkahi kehidupan diri-sendiri dan keluarga. Keterbatasan lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah bisa menimbulkan terjadinya konflik karena pasti adanya perebuatan. Dimana salah satunya di Kelurahan ini terjadinya perebutan lahan parkir antar profesi juru parkir.
c. Mata Pencaharian Penduduk
Di kecamatan Ujung Pandang Khususnya Kelurahan Bulo Gading mata pencaharian masyarakat yaitu masih didominasi oleh pedagang atau pengusaha.
Pedagang dan pengusaha dalam mengembangkan usahanya tentu membutuhkan juga jasa dari juru parkir untuk melayani dalam hal menjaga, merapikan kendaraan pengunjung.
d. Sarana dan Prasarana a) Sarana Pendidikan
Pada tahun ajaran 2014-2015 jumlah TK di Kecamatan Ujung Pandang ada 18 sekolah dengan jumlah murid 1.056 orang dan 133 orang guru. Pada tingkat SD baik negeri maupu swasta berjumlah sebanyak 29 sekolah dengan 8.858 murid dan 535 orang guru. Untuk tingkat SMP sebanyak 16 sekolah dengan 6. 918 orang murid dan 403 orang guru. Sedangkan untuk tingkat SMA terdapat 10 sekolah dengan 4.581 orang murid dan 328 orang guru. Selain itu terdapat juga sekolah menengah kejuruan (SMK) yaitu SMK Negeri 7 dengan jumlah murid 864 orang dan 80 orang guru. Untuk lebih jelasnya dalam tabel 3.6 tentang jumlah sarana pendidikan di Kecamatan Ujung Pandang.
Tabel 4.6 Sarana dan Prasarana Pendidikan di Kecamatan Ujung Pandang.
NO SARANA DAN PRASARANA JUMLAH
1 TAMAN KANAK-KANAK (TK) 18
2 SEKOLAH DASAR 29
3 SMP 16
4 SMA/SMK 11
5 PERGURUAN TINGGI -
JUMLAH 74
Sumber: Kantor Camat Tahun 2014-2015 b) Kesehatan
Jumlah sarana kesehatan tahun 2015 di Kecamatan Ujung Pandang tercatat 3 rumah sakit umum/khusus, 1 puskesmas, 2 pustu, 5 rumah bersalin, dan 32 posyandu. Ini menandakan bahwa sarana perasarana kesehatan di wilayah Ujung Pandang cukup memadai dalam melayani dan mewujudkan kesehatan masyarakat.
c) Agama
Jumlah fasilitas ibadah di Kecamatan Ujung Pandang sangat memadai karena terdapat 19 buah masjid, 7 buah langgar/mushalah, 11 buah gereja, 5 vihara Dengan tersedianya sarana ibadah tersebut akan memberikan kemudahan bagi penduduk setempat untuk menunaikan ibadahnya terhadap Tuhan sesuai kepercayaan masing-masing. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dengan pembangunan mental spritual dengan kata lain pembangunan yang dilaksanakan sekarang ini untuk mencapai keseimbangan lahir dan batin.
2. Fenomena Sosial Juru Parkir
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Bapak Syahrun Abbas, selaku informan dan beliau merupakan salah satu ketua kelompok juru parkir di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung pandang mengungkapkan:
Fenomena sosial juru parkir di kelurahan Bulo Gading ini begitu banyak diantaranya adanya perebutan lahan parkir, kadang terjadi benturan atau gesekan antara masyarakat dengan juru parkir, kurangnya perhatian dari pemerintah.Di mana semua fenomena ini yang menarik adalah perebutan lahan parkir.Pada umumnya ketika mendengar kata perebutan pasti masyrakat di pikirannya bahwa terjadi kontak fisik yakni perkelahian atau saling serang di antara juru parkir. Namun perlu saya katakan di kelurahan ini ketika terjadi perebutan biasanya lebih kepada terjalinya kerjasama diantara juru parkir melalui musyawarah seperti yang terlihat adanya pembaian jam kerja (wawancara pada hari minggu tanggal 12 juli 2015).
Berawal dari pernyataan Bapak Syahran Abbas, beliau mengatakan bahwa fenomena sosial juru parkir begitu banyak seperti adanya kehadiran Juru Parkir tidak resmi, adanya pengunjung tidak membayar parkir dan salah satu yang menarik adalah persaingan memperebutkan lahan parkir, fenomena ini tentunya perlu dipahami sebagai dinamika kehidupan para Juru Parkir, realitasnya disatu sisi mendorong terjalinnya kerjasama namun disisi lain juga terjadi disfungsi antar profesi juru parkir. Karena perebutan lahan parkir adalah sebuah fenomena yang harus diteliti dan dikaji keberadaannya dari sudut pandang manapun sehingga terlebih dahulu perlu diketahui pengertian dari fenomena itu sendiri.
Fenomena diartikan sebagai keadaan yang sebenarnya dari suatu urusan atau perkara, keadaan atau kondisi khusus yg berhubungan dengan seseorang atau suatu hal, soal atau perkara. Jadi, berdasarkan penjelasan di atas fenomena dalam ruang lingkup social adalah rangkaian peristiwa, fakta maupun kenyataan yang
sedang terjadi di masyarakat yang dapat diamati ataupun diteliti melalui pendekatan-pendekatan tertentu. Dan pengertian fenomena sosial adalah kondisi dimana manusia menganggap segala hal yang dialaminya adalah sebuah kebenaran absolut. Padahal, hal itu sebenarnya adalah kebenaran semu yang dibuat melalui simulasi simbol-simbol, kode-kode yang dicitrakan sedemikian dari sebuah objek yang benar.
Fenomena social yang terjadi di era mordenisasi ini sangat kompleks, semua aspek kehidupan sudah pasti ada yang namanya fenomena social. Dimana dapat diteliti dan dikaji melalui disiplin ilmu tertentu. Fenomena social tentunya bisa berdampak positif dan juga negative.
Fenomena social juru parkir dapat dianalisis melalui teori structural fungsional, karena fenomena social yang terjadi antar juru parkir berhubungan satu sama lain dan adanya fenomena tersebut mengantarkan terjadinya kerjasama antar profesi juru parkir, masyarakat dan pemerintah. Sebagaimana dalam teori structural fungsional menekankan kepada keteraturan dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat.Teori ini memandang masyarakat bahwa merupakan suatu sistem social yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen- elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan.
Fenomena perebutan lahan parkir disini mengarah kepada suatu bentuk kerjasama yang akan menciptakan ketertiban dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari para Juru Parkir.
Selanjutnya peneliti wawancara bersama Bapak Muhammad Amiruddin selaku Lurah Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Beliau mengungkapkan:
Juru parkir di kelurahan ini terlihat aman karena jarang terjadi permusuhan dan perkelahian, memang benturan pendapat, adanya gangguan pasti ada tetapi tidak sampai kepada terjadinya konlik.
Bahkan dari adanya persaingan dalam perebutan lahan parkir mereka bertemu lansung dan bermusyawarah untuk tercapainya kerjasama dalam beroperasi sebagai juru parkir (wawancara pada hari Kamis tanggal 16 juli 2015 ).
Hasil wawancara peneliti dengan Lurah Bulo Gading tersebut menguatkan pernyataan informan sebelumnya bahwa fenomena sosial juru parkir dalam hal ini perebutan lahan parkir identik dengan kerjasama disosiatif yakni kerjasama yang melalui persaingan demi mencapai sebuah tujaun yaitu adanya rasa aman dalam beroperasi sebagai juru parkir. Rasa aman dalam beroperasi adalah kebutuhan yang harus dimiliki oleh Juru Parkir di lapangan, ini tentunya bukan hanya Juru Parkir saja yang membutuhkannya akan tetapi semua manusia membutuhkan hal itu. Pemerintah seharusnya memberikan perhatian yang besar terhadap para Juru Parkir dengan kekuatan kekuasaannya yaitu posisi dan wewenangnya supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama seperti permusuhan, perkelahian dan pertentangan yang mengakibatkan konflik sosial.
Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Bapak Rudi selaku juru parkir.
Beliau menyatakan bahwa:
Adanya kerjasama antara kami sebagai juru parkir disebabkan oleh berbagai factor seperti persaingan dalam perebutan lahan parkir, adanya kesadaran menghargai sesama profesi, bertemu lansung dan melakukan musyawarah untuk menyamakan keinginan masing-masing sehingga jarang di lihat terjadinnya bentrokan atau perkelahian (hasil wawancara pada hari MingguTanggal 12 juli 2015).
Bapak Rudi mengatakan bahwa mereka sebagai profesi Juru Parkir di wilayah Kelurahan Bulo Gading dalam memperebutkan lahan parkir mengedepankan musyawarah untuk bekerjasama dan adannya kesadaran saling menghargai sesama profesi. Kesadaran menghormati dan menghargai dalam kehidupan sosial masyarakat adalah jembatan penghubung terciptanya kehidupan yang tertib dan aman. Sehingga masyarakat sebagai system sosial yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dimana saling berhubungan antara elemen-elemen yang ada, dan tentunya interaksi sosial yang melansungkan dinamika kehidupan masyarakat.
Selanjutnya peneliti wawancara kepada juru parkir yang lain, yakni Daeng aswar mengatakan:
Fenomena sosial yang dialami juru parkir biasa ada gangguan dari pihak lain ketika saat beroperasi di lapangan, seperti minta uang, rokok, bahkan ingin mengambil atau menguasai lahan yang sudah menjadi lahan operasi kita. namun gangguan tersebut tidak sampai kepada terjadinya perkelahian karena kita bermusyawarah untuk menjelaskan seperti apa keinginan masing-masing, sehingga bisa saja sepakat untuk kerjasama dengan membagi jam operasi dan bisa juga yang datang ingin merebut lahan memilih untuk mengalah (wawancara pada hari kamis tanggal 16 juli 2015)
Hasil wawancara dengan Daeng Aswar bahwa fenomena sosial yang dialami oleh Juru Parkir seperti gangguan untuk memperebutkan lahan parkir bisa diatasi dengan baik melalui jalur musyawarah untuk mempertemukan kemauan atau keinginan dari pihak tersebut. Proses pendekatan persuasive ini sangat dibutuhkan dalam ruang konfik agar mengakomodasi kepentingan-kepentingan pihak masing-masing.
Sementara itu Daeng Rizal mengungkapakan:
Memang di sini juru parkir saat beroperasi di lapangan terlihat aman dan tidak terjadi permusuhan dan perkelahian karena lahan yang kami tempati itu pemberian dari orang tua sehingga walaupun ada yang datang untuk merebutnya, kami tinggal menjelaskan bahwa ini lahannya orang tua kami dulu (wawancara pada hari selasa tanggal 21 juli 2015) Daeng Rizal menegaskan bahwa lahan yang mereka tempati di wilayah tersebut untuk beroperasi di dapat dari orang tua, sehingga kecil kemungkinan pihak lain datang untuk merampasnya karena mereka sadar bahwa itu sudah jelas pemiliknya. Walaupun seperti itu faktanya namun dalam kehidupan sosial memang rentan terjadinya saling mengklaim atas asset-aset sosial. Sebagaimana Teori konflik memandang masyarakat dalam dualisme kelas yang tersusun atas kelas borjuis dan proletariat. Sumber perubahan adalah dualisme kelas sosial yang selalu bertentangan sebagai akibat ketidakadilan dalam pembagian aset-aset sosial ekonomi.
Konsep sentral teori ini adalah wewenang dan posisi, keduannya merupakan fakta social. Inti tesisnya sebagai berikut distribusi kekuasaan dan wewenang secara tidak merata tanpa kecuali menjadi factor yang menentukan konflik social secara sistematis. Perbedaan wewenang adalah suatu tanda adanaya berbagai posisi dalam masyarakat. Sehingga realitas banyak orang yang menggunakan kekuasaannya untuk merampas hak orang lain dengan cara-cara yang tidak beretika.
Selnjutnya kami wawancara dengan Bapak Firman yang mengatakan:
fenomena sosial yang saya alami saat beroperasi sebagai juru parkir di lapangan selama ini ada pengunjung yang tidak membayar parkir, adanya gangguan dari pihak lain untuk merebut lahan yng kita miliki
namun saya hadapi mereka dengan melakukan pendekatan secara lansung untuk membicarakan bagaimana baiknya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan (wawancara pada hari selasa tanggal 21 juli 2015)
Ada juga juru parkir seperti Bapak Firman yang mengatakan profesi juru parkir, fenomena sosial yang dialami yakni adanya pengunjung yang tidak membayar parkir, adannya gangguan dari pihak lain juga namun tidak menimbulkan hal-hal negatif seperti perkelahian, saling serang karena dia melakukan pendekatan persuasif. Pengunjung yang tidak membayar parkir ini adalah sebuah fonomena sosial juru parkir. Perlu diketahui mengapa banyak pengunjung yang tidak membayar parkir, realitasnya melalui pengamatan peneliti bahwa adanya hubungan kausalitas yakni hubungan sebab akibat. Fenomena ini terjadi karena Juru Parkir banyak yang tidak melakukan profesinya sesuai harapan masyarakat seperti ada yang tidak memakai rompi sebagai penanda Juru Parkir resmi, ada yang meminta uang parkir yang tidak sesuai aturan yang berlaku, dan lain-lain.
Kemudian Bapak Muhammad Imran selaku salah satu juru parkir mengatakan:
Fenomena sosial yang di alami oleh juru parkir di kelurahan ini begitu banyak seperti adanya pengunjung tidak membayar parkir, adanya gangguan dari pihak lain, biasa ada juga juru parkir yang tidak memakai rompi,atribut. Tetapi fenomena ini tidak semua juru parkir mengalaminya, dan saya bisa katakana profesi juru parkir di wilayah ini telihat aman dalam beroperasi karena terlihat jarang terjadi perkelahian, dan saling serang di antar juru parkir (wawancara hari selasa tanggal 22 juli 2015) Dari pernyataan Bapak Muhammad Imran selaku salah satu juru parkir dimana fenomena sosial juru parkir diantaranya adanya gangguan dari pihak lain, adanya pengunjung tidak membayar parkir, tetapi tidak mengakibatkan terjadinya
konflik antar juru parkir maupun dengan masyarakat sebagai pengguna jasa juru parkir.
Selanjutnya peneliti wawancara dengan masyarakat salah satunya pemilik toko, Bapak muhsin mengatakan:
Fenomena sosial juru parkir di kelurahan ini saya lihat biasa ada gangguan dari pihak lain yang memiliki kekuatan untuk memperebutkan lahan yang sudah ada pemiliknya, namun mereka bertemu dan bermusyawarah untuk menghindari terjadinya pertengkaran atau perkelahian sehingga bisa di katakana disini juru parkirnya dalam beroperasi di lapangan terlihat aman-aman saja (wawancara pada hari rabu tanggal 5 agustus 2015)
Pandangan masyarakat yaitu Bapak muhsin mengatakan fenomena sosial Juru Parkir seperti perebutan lahan parkir tidak menimbulkan perkelahian karena mereka mengedepankan musyawarah untuk bekerjasama satu sama lain dan demi terwujunya rasa aman dalam beroperasi.
Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat diberikan kesimpulan bahwa fenomena sosial juru parkir diantaranya adanya pengunjung yang tidak membayar uang parkir, adanya gangguan seperti minta uang, rokok dan perebutan lahan parkir. Namun fenomena tersebut khususnya perebutan lahan parkir mendorong terjadinya kerjasama diantar juru parkir karena ketiaka ada masalah mereka bermusyawarah dengan baik dan mengedepankan kesadaran untuk saling menghargai, Sehingga tercipta keamanan dalam beroperasi sebagai profesi juru parkir.