PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya rebutan tempat parkir di Kelurahan Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Juru Parkir
Tempat parkir adalah suatu area yang cukup luas untuk menampung kendaraan dengan akses tidak terbatas (tidak ada halangan), namun tetap menghalangi ruang untuk manuver kendaraan (Edward, 1992). Akumulasi parkir adalah jumlah total kendaraan yang parkir pada suatu area tertentu pada waktu tertentu (Edward, 1992). Durasi parkir adalah durasi waktu parkir suatu tempat parkir. Satuan Tempat Parkir (SRP) merupakan ukuran luas efektif untuk memarkir kendaraan (mobil penumpang, bus/truk, atau sepeda motor).
Cara ini juga digunakan pada tempat parkir atau gedung parkir, terutama untuk mengisi ruang parkir yang tidak memungkinkan parkir sudut.
Hakikat Masyarakat
Dalam penelitian ini fenomena sosial yang akan diteliti adalah salah satu penyimpangan sosial yaitu fenomena sosial tukang parkir yang berebut tempat parkir di kota Makassar. Konflik mengenai tempat parkir seringkali muncul karena perputaran uang di tempat parkir tersebut bisa mencapai jutaan rupiah sehingga membuat banyak orang tertarik untuk menjadi juru parkir. Teori ini dapat digunakan untuk menganalisis fenomena sosial juru parkir dan faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perebutan tempat parkir.
Perebutan tempat parkir dapat menciptakan solidaritas sosial antar juru parkir jika mereka saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Dengan demikian, dalam profesi juru parkir, kedudukan dan wewenangnya dapat menimbulkan konflik apabila tidak dilakukan dengan baik dan dapat menciptakan ketertiban dengan saling menghormati dan menghargai sesama juru parkir dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Interaksi sosial antara aparat, juru parkir dan satu sama lain harus berjalan lancar, agar tidak timbul diskomunikasi yang berujung pada konflik sosial.
Juru parkir merupakan suatu profesi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat sebagai pengguna jasa juru parkir pada suatu tempat atau ruangan tertentu. Profesi juru parkir sebenarnya membantu masyarakat dalam memarkir kendaraannya yang tugasnya membersihkan, memelihara pelayanan untuk menyelenggarakan atau berhubungan dengannya. kepada komunitas. Perebutan tempat parkir merupakan fenomena sosial dalam profesi valet yang mempunyai dampak negatif dan positif. Perampasan tanah seringkali dilakukan oleh petugas parkir tidak resmi, namun terkadang juga dilakukan oleh petugas parkir resmi, sehingga fenomena sosial ini menarik untuk diteliti.
Keberadaan pemerintah dalam hal ini Perusahaan Parkir Daerah Makassar Raya yang mempunyai kewenangan mengelola parkir di Kota Makassar hendaknya berperan aktif dalam mengatur dan memastikan efektifnya pengawasan terhadap juru parkir sehingga terjadi praktik-praktik yang tidak sesuai dengan masyarakat. ekspektasi dapat dikurangi semaksimal mungkin. Bagan: Kerangka Mental Fenomena Sosial Juru Parkir (Studi Kasus Perjuangan Parkir di Desa Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar).
Deskripsi Fokus Penelitian
Perebutan tempat parkir merupakan fenomena sosial yang terkadang dilakukan oleh juru parkir resmi maupun tidak resmi di Kelurahan Bulogading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Lalu bagaimana fenomena sosial tempat parkir dan faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya rebutan tempat parkir? Perebutan lahan parkir tentunya membawa dampak positif dan negatif, oleh karena itu diperlukan pengelolaan dan pengawasan yang efektif oleh pemerintah dalam hal ini instansi yang berwenang yaitu Perusahaan Parkir Daerah Makassar Raya.
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Instrumen Penelitian
Permasalahan, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan semuanya tidak didefinisikan secara pasti dan jelas sebelumnya. Dalam situasi yang tidak pasti dan tidak jelas ini, tidak ada solusi lain dan hanya peneliti sendirilah satu-satunya alat yang dapat mencapai hal tersebut”.
Objek dan Sasaran Penelitian
Sumber Data
Jenis Data
Populasi dan Sampel
Jadi, populasi adalah jumlah seluruh juru parkir, baik resmi maupun tidak resmi, di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Sampel yang diambil dan ditentukan yaitu 15 orang juru parkir di Kelurahan Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar. Fenomena perebutan tempat parkir memunculkan suatu bentuk kerjasama yang menciptakan ketertiban dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari petugas parkir.
Informan mengatakan, ketersediaan tempat parkir yang tersedia sangat sedikit, tidak sebanding dengan masyarakat yang ingin menjadi juru parkir. - Fenomena sosial apa yang Anda lihat dialami oleh juru parkir di Desa Bulo Gading? Menurut Anda, apa solusi untuk mengatasi kesulitan tukang parkir dalam mendapatkan tempat parkir?
Apakah ada pengawasan dari pemerintah daerah terhadap permasalahan yang dihadapi juru parkir di Desa Bulo Gading? Dari uraian diatas peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “fenomena sosial juru parkir (studi kasus berebut tempat parkir di Kelurahan Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar)”. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami realitas sosial dari fenomena sosial juru parkir dan faktor penyebab terjadinya rebutan tempat parkir di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar.
Informan mengatakan bahwa lahan parkir yang tersedia sangat sedikit, tidak sebanding dengan masyarakat yang menginginkan lahan parkir. Inti dari tesisnya adalah sebagai berikut: distribusi. status sosial pekerja parkir dan apa saja faktor penyebab terjadinya perebutan tempat parkir.
Tekhnik Pengumpulan Data
- Validitas Data
Tekhnik Analisis Data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Pemerintah dalam hal ini yang mempunyai kewenangan dalam pengelolaan parkir hendaknya mengatasi masalah sosial ini agar tidak menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan dalam kehidupan juru parkir. Pengawasan dan ketegasan pemerintah terhadap profesi juru parkir harus ditingkatkan demi keselamatan dan ketertiban masyarakat. Fakta yang ada yaitu adanya petugas parkir tidak resmi menunjukkan lemahnya perhatian instansi yang berwenang.
Pengunjung adalah orang yang menggunakan jasa juru parkir untuk memarkir kendaraannya guna mengatur dan menjaga keselamatan kendaraannya. Konflik tempat parkir sering terjadi karena perputaran uang di tempat parkir tersebut bisa mencapai jutaan rupee sehingga banyak masyarakat yang tertarik untuk dijadikan tempat parkir. Kurangnya pengetahuan juru parkir terkadang pada saat beroperasi tidak sesuai dengan harapan masyarakat atau masyarakat.
Perbedaan kewenangan merupakan tanda adanya perbedaan kedudukan dalam masyarakat.Teori ini dapat digunakan untuk menganalisis fenomena sosial juru parkir dan faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perebutan tempat parkir. Fenomena sosial juru parkir di Kelurahan Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar antara lain: bentrokan (gesekan) antara juru parkir dengan masyarakat, hadirnya juru parkir tidak resmi, adanya pengunjung yang tidak membayar biaya parkir, kekhawatiran seperti hal. SH. minta uang, rokok, dan berebut tempat parkir. Masalah apa yang biasa Anda temui pada petugas parkir selama ini?
Kurangnya pengetahuan juru parkir terkadang pada saat beroperasi tidak sesuai dengan harapan masyarakat atau masyarakat. Menurut informan penelitian, kecemburuan sosial mempunyai dampak yang sangat negatif terhadap kehidupan sehari-hari pekerja parkir.
PENUTUP
Saran
Bahwa pemerintah daerah setempat berupaya memberikan pembinaan (sosialisasi) kepada petugas parkir yang bertugas, dan memerintahkan agar mengutamakan sikap saling menghormati antar sesama, sehingga keselamatan dan ketertiban tetap terjaga. Masyarakat juga harus membayar biaya parkir pada saat menggunakan jasa juru parkir atau pada saat memarkir kendaraannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada dirinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (i) fenomena sosial petugas parkir yaitu persaingan merebut tempat parkir di Kecamatan Bulo Gading justru menghasilkan kerja sama, dan sebaliknya pihak yang mengalah ketika lahan disita sudah terlanjur melakukan kerja sama. seorang pemilik. ii) faktor penyebab terjadinya perebutan tempat parkir adalah kebutuhan atau tekanan ekonomi, rendahnya pendidikan, kecemburuan sosial, kurangnya ketersediaan tempat parkir, perasaan memiliki kekuasaan (egoisme) dan kurangnya perhatian dari pemerintah dalam hal ini instansi yang berwenang.
Hal ini kemudian memungkinkan dengan hadirnya juru parkir baik yang resmi maupun tidak resmi, banyaknya jumlah juru parkir menimbulkan fenomena sosial dalam profesi juru parkir. Kehadiran juru parkir tidak resmi menimbulkan kecemburuan dari petugas parkir resmi, dimana konflik bisa muncul bila mereka tidak berkomunikasi dengan baik. Dan yang lebih penting lagi adalah pemerintah harus melakukan sosialisasi dan pelatihan agar juru parkir dalam operasionalnya mematuhi ketentuan yang berlaku.
Namun kenyataannya, ada pula pengunjung yang dengan tidak membayar parkir berarti tidak menghargai dan menghargai jasa juru parkir. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa faktor penyebab terjadinya rebutan tempat parkir di Kelurahan Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar adalah faktor kebutuhan atau tekanan ekonomi, faktor rendahnya pendidikan sehingga masyarakat bersaing untuk mendapatkan tempat parkir. pemilihan profesi juru parkir karena tidak menggunakan ijazah, faktor kecemburuan sosial yaitu kecemburuan terhadap penghasilan juru parkir yang sekilas pekerjaannya tidak terlalu sulit, faktor kurangnya ketersediaan tempat parkir, faktor perasaan mempunyai kekuasaan sehingga ingin merampas hak orang lain, dan juga faktor kurangnya perhatian dari pemerintah dalam hal ini lembaga yang berwenang untuk melakukan hal tersebut. mengelola parkir di kota makassar. Sebab pemerintah sebagai penggerak atau penguasa seharusnya memberikan motivasi, kesadaran dan pelatihan kepada para wali.
Kebijakan pemerintah sangat menentukan kelangsungan kehidupan sosial masyarakat, dalam hal ini profesi juru parkir perlu dilakukan pengawasan secara lebih efektif dan efisien. Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab terjadinya rebutan lahan parkir di Kelurahan Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar antara lain adalah faktor kebutuhan atau tekanan ekonomi, faktor rendahnya pendidikan sehingga masyarakat berlomba-lomba memilih menjadi juru parkir karena tidak menggunakan surat keterangan, faktor kecemburuan sosial dimana mereka iri dengan penghasilan juru parkir yang sepintas tidak bekerja terlalu keras, faktor kurangnya ketersediaan tempat parkir, faktor perasaan mempunyai kekuasaan sehingga ingin merampas hak orang lain dan juga faktor kurangnya perhatian dari pemerintah dalam hal ini instansi yang berwenang melakukan penertiban parkir dalam pengelolaan Kota Makassar. Bagi pemerintah daerah setempat agar melakukan upaya untuk memberikan pembinaan (sosialisasi) kepada juru parkir yang dipekerjakan, dan memerintahkan mereka untuk mengutamakan rasa saling menghargai satu sama lain sehingga keselamatan dan ketertiban tetap terjaga.
Warga juga harus membayar biaya parkir pada saat menggunakan jasa bengkel parkir atau pada saat memarkir kendaraannya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada dirinya.