III. METODOLOGI PENELITIAN
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini yaitu jumlah Paberre Jokka-Jokka yang dimiliki oleh pengusaha sebagai objek penelitian. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu secara sengaja. Sebanyak 15 unit usaha Paberre Jokka-Jokka (penggilingan padi keliling) yang terdapat pada 6 (enam) desa/kelurahan yang dijadikan sebagai sampel.
3.3. Teknik Pengambilan Data
Usaha pengumpulan data yang lengkap dalam penelitian ini digunakan instrumen-instrumen penelitian sebagai berikut :
1. Observasi merupakan kegiatan yang dilakukan secara langsung dilapangan sesuai dengan fakta yang ada, kemudian disesuaikan dengan data hasil pengumpulan data dari hasil pengumpulan koesioner responden.
2. Pencatatan merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mencatat data yang ada hubungannya dengan objek penelitian.
20 3. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti dari hasil pengumpulan koesioner dan wawancara dengan responden. Sedangkan data sekunder yaitu data yang diambil dengan mencatat dari kantor pemerintah daerah setempat.
3.4. Analisis Data
Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif.
Analisis deskriptif yang dilakukan secara secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai faktor-faktor yang ada pada tempat penelitian.
1. Rumus untuk menghitung biaya total perusahaan pertanian yaitu : TC = VC + FC
Keterangan :
TC = biaya total (Rp)
VC = pengeluaran operasional (variabel cost) (Rp) FC = pengeluaran tetap (fixed cost) (Rp)
VC = ∑ (Xi . Pxi)
Xi = input variabel ke i (Kg) Pxi = harga per unit input Xi (Rp)
2. Rumus untuk menghitung penerimaan sebagai berikut.
R = ∑ (Yi . Pyi) Keterangan :
R = penerimaan (Rp)
Yi = jumlah produk ke-i (Kg) Pyi = harga per unit produk i (Rp)
21 3. Rumus untuk menghitung pendapatan usaha yaitu sebagai berikut :
Pd = TR – TC Keterangan :
Pd = pendapatan (Rp) TR = total penerimaan (Rp) TC = total biaya (Rp)
4. Rumus untuk menghitung R/C sebagai berikut.
R/C = ∑ (Yi . Pyi) ∑ (Xi . Pxi)
Keterangan :
R = penerimaan (Rp) C = biaya (Rp)
Yi = jumlah produk (Kg) PYi = harga/ unit produk (Rp) Xi = input produksi i
Pxi = harga per unit input ke-i 3.5. Defenisi Operasional Variabel
Defenisi operasional variabel merupakan batasan-batasan variabel yang digunakan dalam penelitian analisis pendapatan dan kelayakan usaha Paberre Jokka-Jokka di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang yaitu : 1. Paberre Jokka-Jokka adalah penggilingan padi yang beroperasi secara keliling
dari satu tempat ke tempat lain, yang digunakan petani menggiling hasil panennya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
22 2. Upah adalah sejumlah uang (Rp) atau beras (Kg) yang diterima oleh pemilik usaha Paberre Jokka-Jokka dalam jangka waktu tertentu atas pemakaian jasa.
3. Biaya variabel adalah biaya (Rp) yang dikeluarkan dalam jumlah totalnya akan berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan penggilingan padi, misalnya biaya bahan bakar dan pelumas, biaya pemeliharaan, biaya perbaikan, dan upah operator (Rp).
4. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam volume kegiatan penggilingan padi dalam waktu tertentu yang tidak berpengaruh langsung, terhadap jumlah produksi misalnya biaya penyusutan alat dan pajak yang diukur dengan rupiah (Rp).
5. Produksi adalah jumlah beras yang dihasilkan dari usaha Paberre Jokka-Jokka yang diukur dengan kilogram (Kg).
6. Penerimaan adalah jumlah uang yang diterima pelaku usaha Paberre Jokka- Jokka dari jumlah beras (hasil) dikali dengan harga penjualan yang diukur dengan rupiah (Rp).
7. Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima pelaku usaha Paberre Jokka- Jokka dari hasil penjualan beras setelah dikurangi biaya yang dikeluarkan dalam setiap kegiatan penggilingan yang diukur dalam rupiah (Rp).
8. Kelayakan usaha adalah total penerimaan (Rp) dibagi dengan besarnya total biaya yang dikeluarkan pemilik Paberre Jokka-Jokka tersebut yang diukur dalam rupiah (Rp).
23
IV. POTENSI DAERAH PENELITIAN
Kecamatan Pitu Riawa merupakan salah satu dari 11 Kecamatan yang ada di Kabupaten Sidenreng Rappang yang terletak ± 22 Km di sebelah timur kota Pangkajene (Ibukota Kabupaten Sidenreng Rappang). Kecamatan Pitu Riawa terletak 183 Km di sebelah utara Makassar (Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan).
Kecamatan ini terbentuk berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah TK I Sulawesi Selatan tanggal 6 Februari 1995 Nomor 80/11/1995 yaitu hasil pemekaran Kecamatan Dua Pitue. Wilayah Kecamatan Pitu Riawa dengan luas 210,47 Km2 yang terbagi dalam 2 (dua) Kelurahan dan 10 (sepuluh) Desa.
Kecamatan Pitu Riawa dikenal sebagai salah satu daerah pertanian terluas di Kabupaten Sidenreng Rappang. Terlihat dari peran sektor pertanian terutama tanaman pangan yang besar dalam perekonomian. Beberapa komoditas tanaman pangan andalan yang dihasilkan yaitu padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang-kacangan. Produksi tanaman padi di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap pada tahun 2011 mencapai jumlah produksi 63.874,07 Ton dengan luas panen 11.844,05 Ha dengan jumlah produktivitas 53,54 Ku/Ha, (BPS, 2012).
Berdasarkan jumlah produksi gabah setiap tahunnya meningkat, maka dapat memberikan peluang besar terhadap masyarakat dalam mengembangkan usaha Paberre Jokka-Jokka agar dapat menambah pendapatan masyaraka khusunya pengusaha penggilingan padi. Selain itu, memberikan solusi terhadap petani yang akan menggiling hasil panennya untuk kebutuhan rumah tangga.
24
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Identitas Responden Pengusaha Paberre Jokka-Jokka
Responden dalam penelitian ini merupakan pengusaha yang mempunyai Paberre Jokka-Jokka di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang.
Karakteristik responden dapat dilihat dari segi umur, pendidikan, pengalaman, dan jumlah mesin penggilingan padi. Aspek-aspek tersebut sangat erat kaitannya dengan usaha Paberre Jokka-Jokka. Sehingga dalam mengelola usaha ini dapat menentukan alternatif, salah satunya yaitu menetukan strategi dalam menjalankan usaha Paberre Jokka-Jokka. Adapun karakteristik pengusaha responden yaitu sebagai berikut :
5.1.1. Umur
Salah satu faktor penting yang menetukan keberhasilan seseorang dalam mengelola usaha Paberre Jokka-Jokka adalah umur. Hal ini sangat mempengaruhi kemampuan fisik dan pola berfikir sehingga berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Di Kecamatan Pitu Riawa antara pengusaha Paberre Jokka-Jokka yang satu dengan yang lainnya memiliki tingkat umur yang bervariasi. Pada umumnya pengusaha yang berusia muda mempunyai kemampuan fisik yang lebih kuat dan cepat menerima informasi serta inovasi baru, karena lebih berani dalam menanggung resiko. Sedangkan umur yang relatif tua, mempunyai kapasitas yang matang dalam mengelola usahanya karena didukung oleh pengalamannya.
Sehingga lebih berhati-hati dalam bertindak dalam menjalankan usaha Paberre Jokka-Jokka agar dapat mencapai tujuan usahanya.
25 Selanjutnya untuk mengetahui umur dari masing-masing responden, diperlukan pengelompokan umur dari interval tertentu. Pada Tabel 1 berikut ini akan menggambarkan pengelompokan umur dari responden Paberre Jokka-Jokka sebagai berikut ini :
Tabel 1. Identitas Responden Paberre Jokka-Jokka Berdasarkan Tingkat Umur di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang
Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 29 – 34
35 – 40 41 – 46 47 – 52
4 4 3 2
30,76 30,76 23,07 15,38
Jumlah 13 100,00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014
Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah pengusaha Paberre Jokka-Jokka yang terbanyak berada pada kelompok umur 29-34 dan 35-40 tahun yaitu masing- masing 4 orang (30,76%). Hal ini menunjukkan bahwa pengusaha Paberre Jokka- Jokka di Kecamatan Pitu Riawa berada pada kategori usia produktif. Sedangkan jumlah terendah berada pada umur 47-52 tahun 2 orang (15,38%) artinya pada usia tersebut kurang produktif.
5.1.2. Tingkat Pendidikan Responden
Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan akan membentuk keleluasaan pengetahuan seseorang yang akan mempengaruhi perilaku dan pengembangan keputusannya. Dengan semakin tingginya tingkat pendidikan yang
26 diperoleh, maka orang akan cenderung lebih rasional dalam mencermati setiap kejadian. Tingkat pendidikan formal pengusaha Paberre Jokka-Jokka merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh dalam pengembangan usaha, khususnya dalam penyerapan inovasi yang dapat menunjang pencapaian pendapatan yang optimal. Apabila pendidikan formal pengusaha relatif tinggi, maka akan memudahkan dalam menerapkan teknologi baru, strategi serta manajemen usaha yang lebih efektif dan efisien. Dari hasil pengumpulan data yang telah diperoleh menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pengusaha responden Paberre Jokka- Jokka cukup bervariasi. Pada Tabel 2 akan menggambarkan kompetensi tingkat pendidikan pengusaha responden sebagai berikut :
Tabel 2. Identitas Responden Paberre Jokka-Jokka Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
SD SMP SMA
3 5 5
23,07 38,46 38,46
Jumlah 13 100,00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014
Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah pendidikan pengusaha responden Paberre Jokka-Jokka yang tertinggi berada pada tingkat SMP dan SMA yaitu masing-masing 5 orang (38,46%) dan pendidikan terndah yaitu pada tingkat SD sebanyak 3 orang (23,07%). Tingkat pendidikan dari pengusaha responden termasuk berada pada kategori cukup baik.
27 5.1.3. Pengalaman dalam Usaha Paberre Jokka-Jokka
Pengalaman usaha berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan.
Pengalaman usaha merupakan waktu yang terhitung sejak mulai melakukan usaha Paberre Jokka-Jokka. Semakin lama seseorang menekuni pekerjaannya, maka semakin banyak pula pengalaman dalam usahanya tersebut. Hal ini tentu saja akan meningkatkan keberhasilan usahanya, karena selain mereka mempunyai pengalaman dalam pengelolaannya mereka juga mengetahui celah-celah mana yang sekiranya dapat membuat petani berminat untuk menggiling padinya sehingga akan memperbesar jumlah penerimaan yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan. Dengan pengalaman kerja yang lama, seseorang akan lebih terampil, cekatan dan cepat dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga pekerjaan yang dilakukan akan memberikan hasil yang baik.
Pengalaman usaha ini dapat dimasukkan ke dalam pendidikan informal, yaitu pengalaman sehari-hari yang dilakukan secara sadar atau tidak dalam lingkungan pekerjaan dan sosialnya. Dari pengalaman usahanya, seseorang dapat mengumpulkan informasi. Sehingga semakin banyak pengetahuan dan semakin terampil dalam bekerja akan membuat mereka tidak ragu lagi dalam mengambil keputusan dalam berusaha. Semakin lama seorang pengusaha bekerja, berarti semakin banyak pengalaman yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan yang diperoleh. Komposisi pengusaha responden yang didasarkan pada pengalaman dalam berusaha mengelola usaha Paberre Jokka-Jokka dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut :
28 Tabel 3. Identitas Responden Paberre Jokka-Jokka Berdasarkan Tingkat Pengalaman Usaha di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang
Pengalaman Berusaha Jumlah (Orang) Persentase (%) 0 – 1
2 – 3 4 – 5 6 – 7
2 4 4 3
15,38 30,76 30,76 23,07
Jumlah 13 100,00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014
Tabel 3 menunjukkan bahwa pengusaha memiliki pengalaman dalam mengelola usaha Paberre Jokka-Jokka. Sebagian besar pengusaha di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki pengalaman dalam mengelola usaha Paberre Jokka-Jokka 2-5 tahun sebanyak 8 orang (30,76%).
5.1.4. Jumlah Mesin Paberre Jokka-Jokka
Jumlah mesin penggilingan padi sangat mempengaruhi produktivitas seorang pengusaha Paberre Jokka-Jokka. Selain itu banyaknya jumlah unit penggilingan padi yang dimiliki akan membuka kesempatan untuk menambah pendapatan responden, karena apabila terjadi kerugian pada mesin penggilingan lainnya dapat tertutupi dari yang lainnya. Hasil pengumpulan data yang diperoleh , menunjukkan bahwa pengusaha responden Paberre Jokka-Jokka memiliki jumlah yang bervariasi. Komposisi pengusaha responden yang didasarkan pada jumlah unit penggilingan padi dapat dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut :
29 Tabel 4. Jumlah Unit Mesin Penggilingan Padi Pengusaha Responden Paberre
Jokka-Jokka di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang Jumlah Mesin (Unit) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 2
11 2
84,61 15,38
Jumlah 13 100,00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014
Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah unit mesin penggilingan padi yang dimiliki responden Paberre Jokka-Jokka sebagian besar berada pada jumlah mesin 1 unit dengan jumlah 11 orang (84,61%). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah mesin penggilingan yang dimiliki pengusaha Paberre Jokka-Jokka masih tergolong sedikit/rendah. Oleh karena itu, diperlukan penambahan jumlah Paberre Jokka-Jokka, agar jumlah pendapatan yang didapatkan setiap bulan lebih tinggi.
5.2. Usaha Paberre Jokka-Jokka
Paberre Jokka-Jokka merupakan penggilingan padi keliling yang beroperasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Penggilingan padi ini muncul sejak tahun 2007 di Kecamatan Pituriawa Kabupaten Sidenreng Rappang, yang dipelopori oleh salah seorang pemilik penggilingan padi. Dengan adanya usaha penggilingan padi tersebut, dapat menambah lapangan kerja masyarakat dan menambah penghasilan masyarakat. Jumlah tenaga kerja pada penggilingan padi keliling yang ada di Kecamatan Pitu Riawa yaitu maksimal tiga orang dalam satu unit penggilingan padi dan minimal dua orang. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi adanya Paberre Jokka-Jokka yaitu kurangnya penggilingan padi
30 statis yang beroperasi untuk melayani petani, adanya permasalahan terhadap dampak pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh penggilingan padi yang berada di lingkungan permukiman penduduk.
Penggilingan padi ini beroperasi setiap hari dengan menggunakan mobil, sehingga mudah untuk berpindah tempat. Kapasitas giling yang digunakan Paberre Jokka-Jokka yaitu 900–1500 Kg gabah kering giling. Proses penggilingan padi ini, secara umum sama dengan penggilingan padi pada umumnya yaitu mulai dari pemisahan kulit sampai pada pemolesan biji beras. Bahkan beras yang dihasilkan sama dengan penggilingan padi pada umumnya ( Lampiran 7).
Penggilingan padi yang ada di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang termasuk penggilingan padi dengan mesin satu step yaitu penggilingan padi yang menggunakan sistem mesin pengupas dan pemoles satu unit logam yang masuk gabah keluar menjadi beras dengan satu arah. Akan tetapi Paberre Jokka-Jokka ini menggunakan dua jenis bahan bakar yaitu untuk mobil menggunakan bensin, sedangkan pada mesin penggilingan padi menggunakan bahan bakar solar. Operator menggunakan solar sebagai bahan bakar kerana harga solar lebih murah dibandingkan bensin.
Pada awal berdirinya penggilingan padi tersebut menggunakan mesin biasa seperti yang digunakan penggilingan padi sebelumnya. Akan tetapi seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, serta tingkat adopsi pengusaha tinggi terhadap teknologi sehingga sebagian besar menganti mesin penggilingan dengan mesin mobil. Hal ini sangat memudahkan operator Paberre Jokka-Jokka dalam menjalankan mesin, karena tidak membutuhkan tenaga besar untuk menjalankan mesin. Cukup dengan mengunci mesin layaknya menyalakan mobil
31 maka mesin terbut akan berfungsi. Setelah pemakaian jasa maka petani harus membayar upah Paberre Jokka-Jokka, sebesar 1 Kg dalam 10 Kg atau 10% dari beras yang telah digiling. Akan tetapi, ada juga Paberre Jokka-Jokka yang menetapkan pembayaran upah sebanyak 1 Kg dalam 12 Kg beras giling. Hal ini merupakan salah satu kelemahan dari penggilingan ini karena tidak ada ketentuan secara menetap dalam pembayaran upah.
Adapun keuntungan adanya Paberre Jokka-Jokka terhadap petani yaitu petani mudah untuk menggiling gabahnya, setiap waktu dengan skala rumah tangga karena penggilingan padi ini datang langsung di rumah petani apabila dihubungi tanpa harus mengankut gabah ke tempat penggilingan padi tersebut.
Sedangkan keuntungan untuk pelaku usaha Paberre Jokka-Jokka yaitu hemat biaya, karena tidak dikeluarkan biaya untuk mengambil gabah petani seperti penggilingan padi sebelumnya. Selain itu, sangat memungkinkan jumlah gabah yang digiling meningkat, karena mendapatkan pelanggan dari berbagai tempat.
Jika dibandingkan jumlah gabah yang digiling Paberr Jokka-Jokka lebih banyak, dibandingkan tinggal secara menetap menunggu petani datang menggiling gabahnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan bahwa pendapatan penggilingan padi ini, setiap bulannya relatif merata pada waktu musim kemarau.
Karena Paberre Jokka-Jokka tidak hanya beroperasi di Kecamatan Pitu Riawa saja, akan tetapi di daerah lain seperti Dua Pitue dan Maritenggae. Sebagaimana kita ketahui bahwa Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan daerah penghasil padi, dimana waktu musim panen setiap daerah berbeda-beda. Hal ini merupakan salah satu strategi dapat menjadi faktor pendukung dalam mengelola usaha
32 Paberre Jokka-Jokka tersebut. Namun kualitas penggilingan juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat minat petani untuk menggiling padinya.
Usaha Paberre Jokka-Jokka selain ada keuntungan terhadap petani dan pelaku usaha, maka terdapat pula kerugian. Menurut informasi masyarakat bahwa Paberre Jokka-Jokka ini meresahkan sebagaian masyarakat. Hal ini disebabkan masih kurangnnya kesadaran operator Paberre Jokka-Jokka akan pencemaran limbah yang dihasilkan terhadap lingkungan. Sebagian besar dari operator penggilingaan padi ini tidak memperhatikan bahwa tempat permukiman kurang tepat untuk menggiling gabah.
Contoh kasus yang pernah terjadi pada masyarakat yaitu orang yang mempunyai gabah, hanya digiling gabahnya di depan rumah, sehingga rumah masyarakat sekitarnya terkena debu. Sebaiknya apabila hendak menggiling, seharusnya mencari lahan yang tidak terlalu dekat dengan rumah penduduk.
Adapun kelemahan atau faktor penghambat dalam mengelola usaha Paberre Jokka-Jokka yang ada di Kecamatan Pitu Riawa yaitu belum mempunyai surat izin usaha dari pemerintah kabupaten dan setempat, penggilingan padi terhambat apabila hujan turun karena berpengaruh terhadap kualitas beras yang dihasilkan.
Selain itu, jumlah penggilingan padi jumlahnya semakin meningkat. Sehingga diperlukan strategi-strategi yang lebih baik agar tidak tergeser dengan adanya Paberre Jokka-Jokka yang baru.
33 5.3. Analisis Pendapatan dan Kelayakan Usaha Paberre Jokka-Jokka
Perubahan tingkat penerimaan pengusaha responden dalam mengelola usaha Paberre Jokka-Jokka di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang akan mempengaruhi besarnya tingkat pendapatan yang diperoleh. Pada Tabel 5 digambarkan analisis pendapatan dan kelayakan usaha sebagai berikut : Tabel 5. Analisis Pendapatan dan Kelayakan Usaha Paberre Jokka-Jokka di
Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang
No. Uraian (Rp/Bulan/Unit)
I
1. Penerimaan a. Upah b. Harga
c. Total Penerimaan
2.540,00 7.033,00 17.826.000,00
II
2. Biaya Usaha Paberre Jokka-Jokka a. Biaya Tetap (FC)
- Penyusutan Alat - Pajak
b. Biaya Variabel (VC) - Bahan Bakar
- Tenaga Kerja - Oli
- Minyak Rem - Air Accu - Perbaikan
3. Total Biaya (TC = TVC + TFC)
223,392.00 55.114,00 2.628.000,00 4.009.500,00 286.333,33 24.133,33 34,333,33 442,333,33 7,703,139.00
III 4. Pendapatan (Pd) (I-II) 10,122,860.00
IV 5. R/C rasio 2,31
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014
34 Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan hasil penelitian dari usaha Paberre Jokka-Jokka di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang bahwa usaha ini jumlah hasil rata-rata per bulan dalam satu unit penggilingan padi yang diperoleh pengusaha responden sebanyak 2.540 Kg. Upah yang diperoleh dari usaha Paberre Jokka-Jokka ini dijual ke pedagang pengumpul dengan harga rata- rata Rp 7.033/Kg. Dari usaha Paberre Jokka-Jokka ini pengusaha memperoleh penerimaan sebesar Rp 17.826.000/unit dalam waktu satu bulan.
Dalam menjalankan usaha Paberre Jokka-Jokka ini ada penerimaan yang diperoleh. Selain itu, ada pula total biaya yang telah dikeluarkan pengusaha responden sebesar Rp 7,703,139.00/unit dalam jangka waktu satu bulan. Oleh karena itu, dapat diketahui jumlah pendapatan yang diperoleh responden pengusaha yang dihasilkan dari penerimaan sebesar Rp 17,826,000.00/unit dikurang dengan total biaya sebesar Rp 7,703,139.00/unit, maka diperoleh pendapatan sebesar Rp 10,122,860.00/unit dalam waktu satu bulan.
Berdasarkan adanya pendapatan yang diperoleh, maka dapat diketahui bahwa tingkat kelayakan usaha Paberre Jokka-Jokka di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang layak dan menguntungkan untuk diusahakan. Hal ini diperoleh dari jumlah penerimaan dibagi total biaya sehingga diperoleh nilai sebesar 2,31. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Indriani di Kecamatan Pantai Labu dan Kecamatan Pantai Cermin Sumatera Utara bahwa penggilingan padi keliling layak untuk diusahakan. Tingkat kelayakan usaha Paberre Jokka- Jokka ini mengacu pada teori analisis R/C ratio bahwa apabila nilai R/C ˃1 berarti penggunaan modal makin efisien, (Padangaran, 2013).
35
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang bahwa pendapatan rata-rata yang diperoleh pengusaha dalam mengelola penggilingan padi ini sebesar Rp 10,122,860.00/unit dalam waktu satu bulan, dengan R/C ratio 2,31 artinya layak dan menguntungkan untuk diusahakan.
Pendapatan rata-rata per bulan yang diperoleh pengusaha Paberre Jokka-Jokka relatif merata pada waktu musim kemarau, karena penggilingan padi ini tidak hanya beroperasi di Kecamatan Pitu Riawa. Akan tetapi, Paberre Jokka-Jokka beroperasi lintas Kecamatan.
6.2. Saran
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang maka disarankan bahwa :
1. Pendapatan Paberre Jokka-Jokka kedepannya dapat ditingkatkan agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga, dengan cara menambah jumlah mesin penggilingan padi, karena usaha ini layak dan menguntungkan diusahakan.
2. Sebaiknya pemerintah lebih tegas dalam menetapkan aturan, khususnya mengeluarkan surat izin usaha agar terjadi simbiosis mutualisme antara pengusaha dengan masyarakat lainnya.
36
DAFTAR PUSTAKA
Agussalim, dkk. 2011. Analisis Kelayakan dan Sensitivitas Usaha Penggilingan padi mobile di Desa Teteaji Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten Sidenreng Rappang.
file:///C:/Users/Acer/Documents/Jurnal%20Kemandirian%20Edisi%20Agu stus%20201120Analisis%20Kelayakan%20dan%20Sensitivitas%20Usaha
%20Penggilingan%20Padi%20%E2%80%93%20JURNAL%20KEMANDI RIAN%20AGRIBISNIS.htm. diakses Januari 2014
Andoko, A. 2002. Budidaya Padi. Penebar Swadaya. Jakarta
BPS. 2012. Sidenreng Rappang dalam Angka 2012. BPS Kabupaten Sidenreng Rappang. 2012
Kasmir dan Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Kencana. Jakarta
Hardjosentono, M. dkk. 2000. Mesin - Mesin Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta Indriani. 2013. Analisis Kelayakan Usaha Penggilingan Padi Mobile di
Kecamatan Pantai Labu dan Kecamatan Pantai Cermin. Skripsi. Fakultas Pertanian. Sumatera Utara
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39158/7/Cover.pdf.
Diakses Februari 2014
Padangaran, A.M. 2013. Analisis Kuantitaif Pembiayaan Pertanian. IPB Press.
Bogor
Pradhana, A.Y. Analisis Biaya dan Kelayakan Usaha Penggilingan Padi Mobile di Desa Cihideung Ilir Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Skripsi.
Departemen Teknik dan Biosistem. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
http://lppm.trunojoyo.ac.id/upload/penelitian/penerbitan_jurnal/F11ayp_B AB%20III%20Metodologi%20Penelitian.pdf. Diakses Januari 2014
Purwono dan Heni, P. 2007. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta
Patiwiri, A.W. 2006. Teknologi Penggilingan Padi Mobile. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Sijabat, S.G. 2009. Analisis Kebutuhan Bahan Bakar Penggilingan Padi Mobile Besar dan kecil di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Begadai.