BAB III METODE PENELITIAN
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3. Defenisi Operasional
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian dan defenisinya akan dijelaskan melalui table berikut ini:
Tabel 3.1 Defenisi Operasional Jenis
Variabel
Nama Variabel
Defenisi
Independen Pajak Daerah penerimaan daerah yang berasal dari orang pribadi atau badan yang sifatnya dapat dipaksakan (yuridis) berdasarkan peraturan perundang-undangan dan tidak ada imbalan secara langsung serta untuk membiayai pemerintah dan pembangunan daerah.
Dependen Pendapatan Asli Daerah (PAD)
semua penerimaan keuangan suatu daerah, dimana penerimaan keuangan itu bersumber dari potensi-potensi yang ada di daerah tersebut misalnya pajak daerah, retribusi daerah dan lain-lain, serta penerimaan keuangan tersebut diatur oleh peraturan daerah.
Sumber : data yang diolah peneliti, 2013
3.4. Prosedur Pengumpulan Data
Pada penelitian ini , pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap. Tahap pertama dilakukan dengan studi pustaka , yakni jurnal dan buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Pada tahap kedua, peneliti mengumpulkan data primer dengan melakukan teknik dokumentasi yakni memperoleh data penelitian langsung dari tempat penelitian berupa data realisasi PAD dan data realisasi pajak daerah dari Dispenda Kabupaten Karo selama tahun 2010-2012.
Pada tahap ketiga, pengumpulan data sekunder. Untuk mendapatkan data sekunder, teknik pengumpulan data yang dapat digunakan adalah teknik pengumpulan data dari basis data (Jogiyanto,2004:82) yang diperoleh dari media internet.
3.5. Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan analisis kontribusi, uji asumsi klasik, pengujian hipotesis.
3.5.1. Analisis Kontribusi
Analisis kontribusi digunakan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi yang dapat disumbangkan dari penerimaan pajak daerah terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Karo. Perbandingan yang digunakan adalah realisasi pendapatan pajak daerah terhadap PAD. Rumus yang digunakan menghitung kontribusi adalah:
Pn = QYn
QXn
Keterangan :
Pn = kontribusi penerimaan pajak daerah terhadap pendapatan asli daerah(rupiah).
QX = jumlah penerimaan pajak daerah (rupiah).
QY = jumlah penerimaan pendapatan asli daerah (rupiah).
3.5.2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam variabel dependen dengan variabel independen mempunyai distribusi normal atau tidak.
Proses uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Distribusi data dapat dilihat dengan membandingkan Zhitung dan Ztabel dengan kriteria sebagai berikut :
1) Jika Zhitung (Kolmogorov Smirnov) < Ztabel (1,96), atau angka signifikan > taraf signifikan (α) 0,05 maka distribusi data dikatakan normal.
2) Jika Zhitung (Kolmogorov Smirnov) > Ztabel (1,96), atau angka signifikan < taraf signifikan (α) 0,05 maka distribusi data dikatakan tidak normal.
3.5.3. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk mengidentifikasi ada tidaknya hubungan antar variabel independen dalam model regresi. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebasnya. Untuk menguji ada tidaknya multikolinieritas, dapat dilakukan dengan cara :
1) Nilai R2 pada estimasi model regresi,
2) Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen,
3) Menggunakan variance inflation factor dan nilai tolerance.
Multikolinieritas terjadi jika VIF lebih dari 10 dan nilai tolerance lebih kecil dari 0,10.
3.5.4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode saat ini dengan kesalahan penggangu pada periode sebelumnya. Autokorelasi sering terjadi pada sampel dengan data time series. Pengujian autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson. Kriteria untuk penilaian terjadinya autokorelasi yaitu :
1) Angka D-W di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif,
2) Angka D-W di antara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi, 3) Angka D-W di atas +2 berarti autokorelasi negatif.
3.5.5. Uji Heterokedasititas
Uji heterokedasititas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model gresi telah terjadi ketidaksamaan varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lainnya. Model regresi yang baik adalah model regresi yang memiliki persamaan variance residual atau homokedastisitas. Untuk melihat ada tidaknya heterokedasititas dapat dilakukan dengan melihat grafik Scatterplot. Cara memprediksi pola gambar Scatterplot adalah dengan :
1) Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka 0, 2) Titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja,
3) Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar,
4) Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola.
3.5.6 Pengujian Hipotesis
Model penelitian ini menggunakan model regresi linier berganda. Model regresi linier berganda adalah model regresi yang memiliki lebih dari satu variabel independen. Model regresi linier berganda dikatakan model yang baik jika model tersebut memiliki asumsi normalitas data dan terbebas dari asumsi-asumsi klasik statistik baik multikolinieritas, autokorelasi dan heterokedastisitas.
Persamaan regresi linier berganda yaitu :
Y = α + β1X1 + β2X2 +β3X3 + β4X4+β5X5 + β6X6+ε
Keterangan :
Y = Indeks Pengungkapan, X1 = Pajak Hotel,
X2 = Pajak Restoran, X3 = Pajak Hiburan,
X4 = Pajak Penerangan Jalan, X5 = Pajak Reklame
X6 = Pajak Galian Gol.C α = Konstanta,
ε = error,
β1, β2 = koefisien regresi yang menunjukkan perubahan variabel dependen berdasarkan pada variabel independen
a. Uji Parsial (t-test)
Uji parsial digunakan untuk menguji seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelasan/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Hipotesis statistik yang diajukan adalah :
H1 : bi ≠ 0 : ada pengaruh
Kriteria yang digunakan dalam menerima atau menolak hipotesis adalah : 1) H1 diterima apabila thitung > ttabel, pada α = 5% dan nilai probabilitas <
level of significant sebesar 0,05,
2) H1 ditolak apabila thitung < ttabel, pada α = 5% dan nilai probabilitas >
level of significant sebesar 0,05
b. Uji Simultan (F-test)
Uji F dilakukan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model regresi berganda mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut :
H1 : b0 = b1 = b2 ≠ 0 : semua variabel independen berpengaruh secara bersama-sama.
Kriteria yang digunakan dalam menerima atau menolak hipotesis adalah : 1) H1 diterima apabila Fhitung > Ftabel, pada α = 5% dan nilai probabilitas
< level of significant sebesar 0,05,
2) H1 diterima apabila Fhitung < Ftabel, pada α = 5% dan nilai probabilitas
> level of significant sebesar 0,05.
3.6. Jadwal dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Karo (DISPENDA) dengan perencanaan jadwal penelitian dimulai pada bulan september sampai selesai.
BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN
4.1. Data Penelitian
4.1.1.Gambaran Umum Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Karo
Kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah berada di bawah pimpinan Kepala Dinas dengan pangkat Pembina utama muda yang dipimpin langsung oleh Sekda, alamat kantor berada di jalan Jamin Ginting Kabanjahe. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan, namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintah harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri.
Pemerintahan kabupaten karo sebagai suatu organisasi memiliki fungsi memberikan pelayanan kepada publik. Demi terlaksananya tugas tersebut diperlukan adanya peranan kepemimpinan yang akan bertanggungjawab atas beban tugas yang telah dilimpahkan oleh organisasi dimana pimpinan tersebut bekerja.
Dinas pendapatan, pengelolaan, keuangan dan asset daerah dipimpin oleh seorang kepala dinas. Kepala dinas pendapatan, pengelolaan keuangan dan asset daerah berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris daerah.
Organisasi dinas pendapatan, pengelolaan keuangan dan asset daerah terdiri dari:
a. Kepala Dinas b. Sekretariat c. Sub bagian d. Bidang e. Seksi f. UPT Dinas
g. Jabatan fungsional pada UPT
Uraian tugas jabatan kepala dinas, sekretaris, bidang, sub bagian dan seksi akan ditetapkan kemudian dengan peraturan bupati. Kelompok jabatan fungsional pada UPT terdiri dari sejumlah tenaga terampil dalam jenjang jabatan fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang keahliannya.
Dalam melaksanakan tugas pokok, kepala dinas pendapatan, pengelolaan keuangan dan asset daerah mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Memimpin,merencanakan, mengatur, membina, mengkoordinasikan, dan mengendalikan pelaksanaan tugas pokok baik keskretariatan, perencanaan program maupun urusan pemerintahan dalam bidang administrasi keuangan yang meliputi peningkatan sumber daya pengelolaan keuangan daerah, anggaran daerah, pendapatan dan investasi daerah, dana perimbangan, pelaksanaan, penatausahaan, akuntansi dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sesuai dengan standar pelayanan minimal.
b. Menetapkan, melaksanakan visi dan misi dinas untuk mendukung visi dan misi daerah.
c. Menyusun dan menetapkan rencana strategis dan program kerja dinas sesuai dengan visi dan misi daerah.
Sekretaris mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Merencanakan, mengatur, membina, mengelola, mengkoordinasikan, dan mengendalikan pelaksanaan tugas kesekretariatan yang meliputi urusan keuangan, umum, dan perlengkapan serta barang milik daerah pada SKPD maupun kepegawaian.
b. Melakukan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan dan perumusan program kerja dinas berdasarkan program dan kegiatan masing- masing bidang, seksi, dan sub bagian.
c. Memberikan pelayanan teknis operasional dan pelayanan administrasi sesuai dengan petunjuk atasan kepada seluruh bidang, seksi, dan sub bagian dalam lingkungan dinas.
Kepala sub bagian keuangan mempunyai uraian tugas sebagai berikut : a. Mempelajari peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
pengelolaan keuangan.
b. Melakukan koordinasi, sinkronisasi dan memverifikasi usulan rencana kerja anggaran masing-masing bidang dan mengacu kepada prioritas plafon anggaran (PPA).
c. Menghimpun dan memverifikasi usulan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) masing – masing bidang berdasarkan rencana kerja dan anggaran.
Kepala sub bagian umum dan kepegawaian mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Melaksanakan penerimaan dan pendistribusian naskah dinas melalui pengelolaan kearsipan.
b. Melaksanakan rencana pengadaan alat tulis kantor dan pendistribusiannya sesuai dengan kebutuhan dinas.
c. Melaksanakan pengelolaan dan penyiapan bahan pembinaan kearsipan kepada unit kerja di lingkungan dinas.
Kepala Bidang Pajak dan Retribusi Daerah mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Merencanakan, mengatur, membina, mengkoordinasikan, dan mengendalikan pelaksanaan pengelolaan pemungutan pajak, retribusi, dan pendapatan lain-lain dan pendataan serta verifikasi.
b. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan.
Kepala Seksi Pajak dan Pendapatan lain-lain mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Menghimpun dan mempelajari peraturan daerah yang mengatur pajak daerah dan pendapatan lain-lain.
b. Melaksanakan inventarisasi jenis-jenis pajak daerah dan pendapatan lain-lain.
c. Melaksanakan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah dan pendapatan lain-lain dengan instansi terkait.
Kepala Seksi Retribusi dan Pendapatan Lain-lain mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Menghimpun dan mempelajari peraturan daerah yang mengatur retribusi daerah dan pendapatan lain-lain.
b. Melaksanakan inventarisasi jenis-jenis retribusi daerah dan pendapatan lain-lain.
c. Melaksanakan intensifikasi dan ekstensifikasi retribusi daerah dan pendapatan lain-lain dengan instansi terkait.
Kepala Seksi Pendataan dan verifikasi mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Melaksanakan pendataan dan verifikasi terhadap subjek pajak.
b. Melakukan pengujian dan pemeriksaan lapangan terhadap objek pajak dan retribusi daerah sesuai dengan permohonan keberatan pajak dan retribusi daerah.
c. Menerapkan sanksi hukum terhadap subjek pajak dan retribusi daerah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kepala Bidang Pasar mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Merencanakan, mengatur, membina, mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan penataan dan pengembangan sarana dan prasarana pasar serta pemberdayaan dan pembinaan pedagang.
b. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Pasar mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Menyiapkan bahan perumusan kebijakan penetapan lokasi, pendirian pasar tradisional, pusat pembelanjaan toko modern mengacu pada rencana tata ruang wilayah kabupaten dan rencana detail tata ruang kabupaten termasuk peraturan zonasisasinya.
b. Menginventarisasi keberadaan sarana dan prasarana pasar.
c. Menyiapkan bahan kajian kelayakan keberadaan sarana dan prasarana pasar dalam pengembangan dan peningkatan sarana dan prasarana pasar.
Kepala Seksi Pemberdayaan dan Pembinaan Pedagang mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Menghimpun, menganalisa data dan informasi di bidang pemberdayaan dan pembinaan pedagang.
b. Menyiapakan bahan penyusunan, bahan petunjuk teknis di bidang pemberdayaan dan pembinaan pedagang.
c. Menyiapkan data para pedagang dalam rangka menjalin kerja sama dengan pihak lain untuk mengupayakan sumber-sumber alternatif pendanaan untuk pemberdayaan pasar tradisional sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kepala Bidang Anggaran dan Pembendaharaan mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Merencanakan, mengatur, membina, mengkoordinasikan, dan mengendalikan pelaksanaan anggaran dan belanja dan penatausahaan keuangan.
b. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tuganya masing-masing.
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan.
Kepala Seksi Anggaran dan Belanja mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Menyusun rancangan peraturan daerah tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah.
b. Menyiapkan bahan penetapan standar satuan harga dan analisis standar belanja daerah.
c. Melakukan perencanaan anggaran penanganan urusan pemerintahan.
Kepala Seksi Penatausahaan Keuangan mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Menyusun pedoman dan petunjuk teknis tata cara pengelolaan pembendaharaan.
b. Memberikan pelayanan konsultasi kepada para bendahara pada masing-masing SKPD Kabupaten karo guna kelancaran penatausahaan pengelolaan keuangan.
c. Menatausahakan pengelolaan dan pertanggungjawaban pendapatan dan belanja daerah.
Kepala Bidang Akuntansi dan pengelolaan asset daerah mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Merencanakan, mengatur, membina, mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan akuntansi keuangan dan pengelolaan asset daerah.
b. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepda bawahan.
Kepala Seksi Akuntansi Keuangan mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Menyiapkan bahan perumusan penetapan kebijakan tentang sistem dan prosedur akuntansi pengelolaan keuangan daerah kabupaten dan desa.
b. Menghimpun, mengolah dan menganalisa laporan realisasi APBD dari pengguna anggaran satuan kerja perangkat daerah.
c. Menyiapkan bahan penyusunan laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kabupaten dan desa.
Kepala Seksi Pengelolaan Aset daerah mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Menyiapkan bahan untuk penyelenggaraan pelaksanaan pengelolaan inventaris dan asset daerah sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
b. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.
c. Menyiapkan bahan untuk penyelenggaraan pelaksanaan fasilitasi, pengelolaan asset daerah pemekaran sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Kepala Bidang Perencanaan Mempunyai uraian tugas sebagai berikut : a. Mendistribusikan dan mengkoordinasikan tugas-tugas kepada
bawahan sesuai dengan bidangnya masing-masing.
b. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pelaporan kepada atasan untuk pertimbangan dalam upaya peningkatan karir.
c. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan seksi berdasarkan realisasi program kerja untuk bahan penyempurnaan program berikutnya.
Kepala Seksi Perencanaan, program dan penegndalian mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
a. Mempersiapkan program dan rencana kerja, kegiatan tahunan berdasarkan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) dan rencana strategis dinas.
b. Mempersiapkan bahan penyusunan program kerja dan rencana anggaran berdasarkan KUA dan PPA.
c. Mempersiapkan bahan penyusunan standar pelayanan minimal SKPD.
Kepala Seksi Pengumpulan Data, pengolahan dan pelaporan mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Mengumpulkan bahan dalam rangka penyusunan laporan atas pelaksanaan program kerja.
b. Mengolah data dan bahan penyusunan laporan atas pelaksanaan program kerja.
c. Menyusun laporan pelaksanaan program kerja dalam hal prosedur, mekanisme, dan sistem kerja pencapaian program dan kegiatan serta laporan akuntabilitas kinerja pemerintah sesuai dengan program.
Dalam melakukan pemungutan pajak dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) sistem. Yang pertama adalah official assessment system dimana jumlah pajak yang harus dilunasi atau terutang oleh wajib pajak dihitung dan ditetapkan oleh petugas yang berwenang dari pihak DPPKAD. Sistem perhitungan ini diberlakukan pada WP yang tidak melakukan pembukuan hanya pencatatan saja dan biasanya terdapat pada usaha berskala kecil. Besarnya pajak ditetapkan berdasarkan laba yang diperolehnya.
Dalam menetapkan besarnya pajak, maka petugas yang berwenang dalam melakukan penagihan akan datang ke lokasi wilayah WP dan melihat keadaan usahanya serta meminta beberapa bukti penjualan seperti bon atau faktur. Untuk melakukan pembayaran diterbitkan SKPD ( Surat Ketetapan Pajak Daerah) dan jumlah pajak tersebut akan dievaluasi setiap 3 bulan sekali untuk melakukan tinjauan kembali terhadap jumlah pajak yang dibayarkan. Dengan adanya evaluasi kembali ini pajak yang akan dibayarkan untuk 3 bulan berikutnya akan berbeda dari 3 bulan sebelumnya dan begitu seterusnya.
Berikutnya adalah self assessment system yang merupakan sistem pemungutan pajak dimana wajib pajak yang harus menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri jumlah pajak yang terutang. Sistem ini diberlakukan kepada WP yang sudah menyelenggarakan pembukuan secara lengkap. Untuk melakukan penagihan dan pembayaran WP harus membuat SPT yang di dalamnya tercantum besar jumlah pajak terutang. Setelah menerima SPT, petugas dari pihak DPPKAD akan melakukan pemeriksaan terhadap pembukuan WP, dan apabila terdapat ketidakcocokan jumlah antara yang tertera pada SPT dan hasil temuan
pemeriksaan maka dikeluarkan juga SKPDLB (surat ketetapan pajak daerah lebih bayar) atau SKPDKB (surat ketatapan pajak daerah kurang bayar).
4.1.2. Pajak Daerah Kabupaten Karo
Kabupaten Karo melakukan pemungutan beberapa jenis pajak daerah berdasarkan ketentuan dalam Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Dasar hukum pelaksanaan pemungutan pajak daerah Karo adalah Peraturan Daerah Pemerintah Kabupaten Karo Nomor 5 Tahun 2006.
Adapun sumber pajak daerah kabupaten Karo antara lain : 1. Pajak Hotel, terdiri dari :
a. Hotel bintang lima b. Hotel bintang empat c. Hotel bintang tiga d. Hotel bintang dua e. Hotel melati tiga
f. Losmen/R.H. Penginapan/Pasanggrahan/R.Kos 2. Pajak Restoran, terdiri dari :
a. Restoran b. Rumah makan c. Kafetaria
3. Pajak Hiburan, terdiri dari : a. Pameran
b. Permainan biliar
c. Permainan ketangkasan d. Pusat kebugaran
4. Pajak Penerangan Jalan 5. Pajak Reklame
6. Pajak Galian Golongan C
Berikut ini adalah target dan realisasi pajak daerah Kabupaten Karo tahun 2010-2012 :
Tabel 4.1
Target dan Realisasi Pajak Hotel Kabupaten Karo Tahun 2010-2012
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) % Pertumbuhan (%)
2010 3.637.000.000,00 2.552.167.853,91 70,17 _ 2011 3.344.000.000,00 3.389.621.016,59 101,36 31,19 2012 2.821.000.000,00 3.421.717.759,00 121,29 19,93
Rata-rata 97,61
Sumber : Dinas Pendapatan Kab.Karo
Dari tabel terlihat bahwa penerimaan PAD dari sektor pajak hotel selama tahun pengamatan tidak selalu dapat mencapai target di mana pada tahun 2010 realisasi hanya 70,17 % dari target yang ditetapkan dan pencapaian tertinggi adalah tahun 2012 sebesar 121,29%. Meskipun tidak selalu mencapai target
namun jika dilihat dari sektor pertumbuhan penerimaannya selama tahun pengamatan mengalami kenaikan tahun 2011 yaitu 31,19% dan 19,93% pada tahun 2012.
Tabel 4.2
Target dan Realisasi Pajak Restoran Kabupaten Karo Tahun 2010-2012
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) % Pertumbuhan (%) 2010 848.036.500,00 1.292.304.024,27 152,39 _ 2011 1.091.001.500,00 1.488.102.389,00 136,40 -15,99 2012 1.135.000.000,00 1.835.245.740,00 161,70 25,3
Rata-rata 150,16
Sumber : Dinas Pendapatan Kab.Karo
Dari tabel terlihat bahwa penerimaan PAD dari sektor pajak restoran selama tahun pengamatan selalu dapat mencapai target (overtarget) di mana pencapaian tertinggi adalah tahun 2012 sebesar 161,70%. Meskipun selalu mencapai target namun jika dilihat dari sektor pertumbuhan penerimaannya selama tahun pengamatan mengalami penurunan pada tahun 2011 yaitu -15,99%.
Tabel 4.3
Target dan Realisasi Pajak Hiburan Kabupaten Karo Tahun 2010-2012
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) % Pertumbuhan (%) 2010 579.365.000,00 1.203.115.203,99 207,66 _ 2011 1.018.500.000,00 1.626.121.017,00 159,66 -48 2012 1.266.800.000,00 1.943.279.776,00 153,40 -6,26
Rata-rata 173,57
Sumber : Dinas Pendapatan Kab.Karo
Dari tabel terlihat bahwa penerimaan PAD dari sektor pajak hiburan selama tahun pengamatan selalu dapat mencapai target di mana pencapaian tertinggi adalah tahun 2010 sebesar 207,66%. Meskipun selalu mencapai target namun jika dilihat dari sektor pertumbuhan penerimaannya selama tahun pengamatan mengalami penurunan tahun 2011 yaitu -48% dan -6,26% pada tahun 2012.
Tabel 4.4
Target dan Realisasi Pajak Penerangan Jalan Kabupaten Karo Tahun 2010-2012
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) % Pertumbuhan (%) 2010 3.800.000.000,00 5.490.864.090,00 144,50 _ 2011 6.000.000.000,00 6.245.352.915,00 104,09 -40,41 2012 7.500.000.000,00 7.443.253.586,00 99,24 -4,85
Rata-rata 115,94
Sumber : Dinas Pendapatan Kab.Karo
Dari tabel terlihat bahwa penerimaan PAD dari sektor pajak penerangan jalan selama tahun pengamatan tidak selalu dapat mencapai target dimana pada tahun 2012 realisasi hanya 99,24% dari target yang ditetapkan dan pencapaian tertinggi adalah tahun 2010 sebesar 144,50%. Meskipun selalu mencapai target namun jika dilihat dari sektor pertumbuhan penerimaannya selama tahun pengamatan mengalami penurunan tahun 2011 yaitu -40,41% dan -4,85% pada tahun 2012.
Tabel 4.5
Target dan Realisasi Pajak Reklame Kabupaten Karo Tahun 2010-2012
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) % Pertumbuhan (%) 2010 200.000.000,00 248.050.170,00 124,03 _ 2011 230.000.000,00 267.064.213,00 116,11 -7,92
2012 191.700.000,00 _ _ -116,11
Rata-rata 120,07
Sumber : Dinas Pendapatan Kab.Karo
Dari tabel terlihat bahwa penerimaan PAD dari sektor pajak reklame selama tahun pengamatan tidak selalu dapat mencapai target di mana pada tahun 2012 tidak ada realisasi dari target yang ditetapkan dan pencapaian tertinggi adalah tahun 2010 sebesar 124,03%. Jika dilihat dari sektor pertumbuhan penerimaannya selama tahun pengamatan mengalami penurunan tahun 2011 yaitu -7,92% dan -116,11% pada tahun 2012.
Tabel 4.6
Target dan Realisasi Pajak Galian Golongan C Kabupaten Karo Tahun 2010-2012
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) % Pertumbuhan (%) 2010 110.000.000,00 91.616.830,00 83,29 _ 2011 90.200.000,00 70.299.024,00 77,94 -5,35
2012 208.000.000,00 _ _ -77,94
Rata-rata 80.62
Sumber : Dinas Pendapatan Kab.Karo
Dari tabel terlihat bahwa penerimaan PAD dari sektor pajak galian golongan C selama tahun pengamatan tidak selalu dapat mencapai target di mana pada tahun 2010 realisasi hanya 83,29% dan pada tahun 2011 hanya sebesar 77,94% dari target yang ditetapkan. Jika dilihat dari sektor pertumbuhan penerimaannya selama tahun pengamatan mengalami penurunan tahun 2011 yaitu -5,35% dan -77,94% pada tahun 2012.
4.1.3. Pendapatan Asli Daerah
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dijelasskan bahwa Pendapatan Asli Daerah terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, bagi hasil laba BUMD dan investasi lain, dan lain-lain PAD yang sah. PAD Kabupaten Karo juga
bersumber dari elemen-elemen yang tersebut di atas. Berikut adalah target dan realisasi PAD Kabupaten Karo selama tahun 2010-2012.
Tabel 4.7
Target dan Realisasi PAD Kabupaten Karo Tahun 2010-2012
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) % Pertumbuhan (%) 2010 25.039.000.000,00 27.610.858.122,00 110,27 _ 2011 31.020.000.000,00 33.921.855.156,00 109,35 -0,92 2012 45.648.934.000,00 38.831.872.171,00 85 -24,35
Rata-rata 101,54
Sumber : Dinas Pendapatan Kab.Karo
Dari tabel terlihat bahwa dari tahun 2010-2012 Kabupaten Karo selama tahun pengamatan tidak selalu mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Jika dilihat dari pertumbuhan realisasi penerimaan PAD mengalami penurunan pada tahun 2011 sebesar -0,92% dan -24,35% tahun 2012.