22
23 No.46/Kpts/Um/1978 tanggal 25 Januari 1978 dengan luas 31.000 Ha.
3. Suaka Margasatwa Sungai Sopu berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 1012/Kpts/Um/1981 tanggal 10 Desember 1981 dengan luas 67.000.Ha.
Ketiga kawasan tersebut disatukan dalam kawasan konservasi menjadi taman nasional dengan luas 229.000 ha dengan dikeluarkannya Surat Instruksi kedua oleh Menteri Kehutanan No.593/Kpts-II/1993 tanggal 5 Oktober 1993.
Kemudian tahun 1999 dilakukan pengukuran dan tata batas definitif melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.464/kpts-II/1999 tanggal 28 Juli 1999 secara resmi luas Taman Nasional Lore Lindu ditetapkan sebesar 217.991,18 Ha.
Selanjutnya pada tahun 2014 telah disahkan perubahan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tengah yang berimplikasi pada perubahan kawasan hutan termasuk Kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Perubahan tersebut telah diakomodir melalui Surat Keputusan menteri Kehutanan Nomor: SK.869/Menhut-II/2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Sulawesi Tengah, tanggal 29 September 2014 sehingga luas TNLL menjadi 215.733,70 Ha.
Kawasan TNLL secara geografis terletak pada koordinat 1190 58’ BT – 1200 16’ BT dan 10 8'LS – 10 3' LS. Secara administrasi, kawasan TNLL berada di dua kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, yakni Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi. Wilayah TNLL terluas berada di Kabupaten Sigi yakni seluas 112.792,08 ha (52,28%), sementara di Kabupaten Poso adalah seluas 102.941,62 ha (47,72%).
Proses pendirian dan pemantapan kawasan TNLL memakan waktu lebih dari 20 tahun. Proses ini dimulai dengan usulan pada tahun 1976 sampai dikukuhkan pada tahun 1997 dan selanjutnya pada tahun 1999 memperoleh status penuh dengan penetapan pemerintah sebagai TNLL dan dikelola oleh Kepala Balai TNLL.
24
Tahap-tahap pemantapan kawasan TNLL selengkapnya diuraikan pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Tahapan Proses pemantapan kawasan TNLL
TAHAPAN TAHUN PROSES
I 1976 Pengusulan
II 1982 Pernyataan Menteri Pertanian III 1993 Penunjukan (survei kawasan)
IV 1995 Tata batas/pemancangan batas (temu gelang 644 km)
VI 1999 Penetapan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 464/Kpts-
II/99 tentang Penetapan Kelompok Hutan Lore Lindu Seluas 217.991,18 Ha, di
Kabupaten Daerah Tingkat II Donggala dan Poso Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah sebagai Kawasan Hutan Tetap dengan Fungsi Taman Nasional.
VI 2014 Perubahan luas kawasan menjadi 215.733,7 Ha dengan diterbitkannya SK 869/Menhut- II/2014 tentang Kawasan Hutan dan
Konservasi Perairan Provinsi Sulawesi Tengah.
Mengakibatkan adanya beberapa Enclave di TNLL
VII 2017 Proses Tata Batas kawasan yang mengalami enklave. Kegiatan ini difasilitasi oleh BPKH Wilayah XVI Sulawesi Tengah.
Sumber: Laporan revisi zonasi TNLL Provinsi Sulawesi Tengah
Zona Pengelolaan Kawasan TNLL
Pengelolaan taman nasional menerapkan pendekatan landscape dengan sistem zonasi, yakni membagi kawasan TNLL ke dalam beberapa zona pengelolaan sesuai peruntukkannya. Pada prinsipnya, zonasi merupakan metode klasifikasi untuk mendeskripsikan fenomena, termasuk di dalamnya menggambarkan hubungan antara manusia dengan sumber daya
25 alam di dalam kawasan Taman nasional yang boleh dan tidak boleh dimanfaatkan. Pengelolaan taman nasional dengan sistem zonasi melalui pengaturan hubungan manusia dengan sumber daya alam merupakan upaya untuk memenuhi prinsip-prinsip kelestarian dan pemenuhan kebutuhan manusia secara lestari.
Zonasi ditentukan berdasarkan hasil analisis spasial pengelompokan sumber daya yang mempunyai kemampuan dan karakteristik yang sama, dengan tujuan memberikan arah pengelolaan dan perencanaan menyeluruh pada suatu wilayah, yang membagi wilayah tersebut ke dalam zona-zona yang sesuai dengan peruntukan dan kegiatan yang bersifat saling mendukung (compatible) serta memisahkannya dari kegiatan yang saling bertentangan (incompatible) (Rustiadi et. al, 2004).
Penetapan zona pengelolaan taman nasional ditentukan berdasarkan hasil analisa keruangan dengan mempertimbangkan nilai penting taman nasional, faktor biofisik dan sosial budaya masyarakat yang kehidupannya sangat tergantung pada sumber daya alam di taman nasional. Dalam penentuan zona tersebut, yang terpenting didahulukan adalah perlindungan flora, fauna dan keterwakilan ekosistem yang nantinya akan memberi dampak positif, baik langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang berdiam di dalam dan sekitar taman nasional.
Pengelolaan zona ini diharapkan akan meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga ketergantungan terhadap sumber daya biofisik lainnya di dalam taman nasional dapat dikurangi
Penetapan zona pengelolaan TNLL mengalami perubahan mengikuti dinamika sosial dan perubahan arah kebijakan pemerintah tentang pengelolaan kawasan konservasi. Pada tahun 2018, Balai Besar TNLL melakukan revisi zonasi. Beberapa pertimbangan dalam penetapan revisi zonasi TNLL yakni, a) menyinergikan konsep ruang menurut adat ke dalam zona pengelolaan TNLL, b) pemanfaatan masyarakat lokal dan pemanfaatan jasa lingkungan di dalam kawasan TNLL, c) pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan, d)
26
penyesuaian terhadap kondisi lahan terbaru dalam kawasan, e) mengakomodir ruang kemitraan konservasi masyarakat, f) kebijakan baru terkait dengan kawasan.
Pembagian zona TNLL meliputi 6 zona yakni zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona tradisional, zona rehabilitasi dan zona khusus. Tiap zona tersebut memiliki peruntukan baik untuk kepentingan pelestarian fungsi kawasan maupun untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar kawasan TNLL.
Gambar 1. Peta zonasi TNLL
Menyinergikan konsep ruang menurut adat dalam zona pengelolaan taman nasional dan mengakomodir ruang kemitraan konservasi masyarakat menjadi ciri khas penetapan zonasi TNLL.
Sinergi ini memberikan ruang bagi masyarakat dalam mewujudkan kolaborasi pengelolaan TNLL. Perubahan nyata dalam revisi zonasi adalah penetapan zona tradisional seluas 25.299,6 ha atau seluas 11,7% sebagai ruang akses bagi masyarakat setempat di dalam kawasan TNLL untuk memenuhi kebutuhannya secara tradisional, dimana sebelumnya tidak tersedia ruang ini.
27 Tabel 3. Pembagian zona pada kawasan TNLL
Zona TNLL Batasan Peruntukan Luas
Ha %
Inti Bagian dari kawasan TNLL yang mempunyai kondisi alam baik biota atau fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu oleh manusia yang mutlak dilindungi, berfungsi untuk perlindungan keterwakilan
keanekaragaman hayati yang asli dan khas
Perlindungan ekosistem, pengawetan flora dan fauna khas beserta habitatnya yang peka terhadap gangguan dan perubahan, sumber plasma nutfah dari jenis tumbuhan dan satwa liar, untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan,
pendidikan, penunjang budidaya
112.117 52
Rimba Bagian Kawasan TNLL yang karena letak, kondisi dan potensinya mampu mendukung kepentingan pelestarian pada zona inti dan zona pemanfaatan
Kegiatan pengawetan dan pemanfaatan SDA dan lingkungan alam bagi kepentingan penelitian, pendidikan, konservasi, wisata terbatas, habitat satwa migrant dan menunjang budidaya serta mendukung zona inti
65.441,7 30,3
Pemanfa- atan
Bagian dari kawasan TNLL yang letak, kondisi dan potensi alamnya, yang terutama dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi/jasa lingkungan lainnya.
Pengembangan
pariwisata alam dan rekreasi, jasa lingkungan, pendidikan, penelitian dan pengembangan yang menunjang
pemanfaatan, kegiatan penunjang budidaya
8.314,4 3,9
Tradisional Bagian dari Kawasan TNLL yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahan mempunyai
ketergantungan dengan SDA
Pemanfaatan potensi tertentu oleh masyarakat setempat secara lestari melalui pengaturan pemanfaatan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya
25.229,6 11,7
Rehabilitasi Bagian dari Kawasan TNLL yang karena mengalami kerusakan, sehingga perlu dilakukan kegiatan pemulihan
Mengembalikan
ekosistem kawasan yang rusak menjadi atau mendekati kondisi ekosistem alamiahnya
911,7 0,4
28
komunitas hayati dan ekosistemnya yang mengalami kerusakan Khusus Bagian dari Kawasan
TNLL karena kondisi yang tidak dapat dihindarkan telah terdapat kelompok masyarakat dan sarana penunjang
kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional, antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik
Kepentingan aktivitas kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut
3.719,2 1.7
Pembagian ruang dalam kawasan taman nasional melalui sistem zonasi memiliki implikasi terhadap hukum atau aturan pemanfaatan dalam sistem zonasi tersebut, meliputi peruntukan dan kegiatan yang boleh atau tidak boleh dilaksanakan. Hal ini ditegaskan dalam peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2006.
Pada zona inti kegiatan yang boleh dilaksanakan adalah 1) perlindungan dan pengamanan, 2) inventarisasi dan monitoring sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, 3) penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan atau penunjang budidaya, 4) dapat dibangun sarana dan prasarana tidak permanen dan terbatas untuk kegiatan penelitian dan pengelolaan.
Kegiatan yang boleh dilaksanakan pada zona rimba adalah 1) perlindungan dan pengamanan, 2) inventarisasi dan monitoring sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, 3) pengembangan penelitian, wisata terbatas dan 4) pengembangan sarana dan prasarana tidak permanen untuk kegiatan penelitian dan pengelolaan.
Pada zona pemanfaatan, kegiatan yang boleh dilaksanakan adalah; 1) perlindungan dan pengamanan, 2) inventarisasi dan monitoring sumber daya alam hayati dengan ekosistemnya, 3)
29 penelitian dan pengembangan pendidikan dan penunjang budidaya, 4) pengembangan potensi dan daya tarik wisata alam, 5) pembinaan habitat dan populasi, 6) pengusahaan pariwisata alam dan pemanfaatan kondisi/jasa lingkungan, 7) pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan, penelitian, pendidikan, wisata alam dan pemanfaatan kondisi/jasa lingkungan.
Pada zona tradisional, kegiatan yang boleh dilaksanakan adalah 1) perlindungan dan pengamanan, 2) inventarisasi dan monitoring potensi jenis yang dimanfaatkan masyarakat, 3) pembinaan habitat, 4) penelitian dan pengembangan, 5) pemanfaatan potensi dan kondisi sumber daya alam sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan yang berlaku. Kegiatan pemanfaatan sumber daya yang boleh dimanfaatkan pada zona tradisional sesuai dengan ketentuan yang berlaku adalah a) pemungutan hasil hutan bukan kayu, b) budidaya tradisional, perburuan tradisional terbatas untuk jenis yang tidak dilindungi, pemanfaatan sumber daya perairan terbatas untuk jenis-jenis yang tidak dilindungi, dan wisata alam terbatas.
Pada zona religi, budaya dan sejarah, kegiatan yang boleh dilaksanakan adalah 1) perlindungan dan pengamanan, 2) pemanfaatan pariwisata alam, penelitian, pendidikan dan religi, 3) penyelenggaraan upacara adat, 4) pemeliharaan situs budaya dan sejarah, serta keberlangsungan upacara-upacara ritual keagamaan/adat yang ada.
pada zona rehabilitasi, kegiatan yang boleh dilaksanakan hanyalah kegiatan perlindungan. Sementara itu, kegiatan yang boleh dilaksanakan pada zona khusus adalah 1) perlindungan dan pengaman, 2) pemanfaatan untuk penunjang kehidupan masyarakat, 3) Rehabilitasi, 4) monitoring populasi dan aktivitas masyarakat serta daya dukung wilayah.
30
Organisasi Pengelola TNLL
Secara struktur kelembagaan, organisasi pengelola TNLL adalah Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu dengan klasifikasi organisasi Tipe A. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.07/Menlhk/Setjen/OTL.0/2016 tanggal 29 Januari 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional dijelaskan secara eksplisit bahwa Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) taman nasional yang memiliki 3 Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) dan 6 Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN).
Dalam menjalankan fungsi pengelolaan, Kepala Balai Besar TNLL dibantu oleh 5 pejabat Eselon III/Administratur yakni 1) Kepala Bagian Tata Usaha, 2) Kepala Bidang Teknis Konservasi, 3) Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Saluki, 4) Kepala PTN Wilayah II dan 5) Kepala Bidang PTN Wilayah III).
Struktur organisasi Balai Besar TNLL menerapkan pendekatan wilayah secara berjenjang yakni Bidang Pengelolaan Wilayah, Seksi Pengelolaan Wilayah dan Resort. Masing-masing PTN wilayah memiliki dua Seksi dan masing-masing seksi memiliki dua Resort. Resort merupakan level organisasi pengelola tingkat tapak. Dalam menunjang pengelolaan dan pelayanan masyarakat, organisasi Balai Besar TNLL didukung oleh Kelompok Jabatan Fungsional yang terdiri dari Polisi Kehutanan (Polhut), Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Penyuluh Kehutanan, dan Fungsional Umum.
Pengelolaan TNLL memiliki 6 Seksi PTN Wilayah. Bidang PTN Wilayah I Saluki terdiri atas dua seksi yakni Seksi PTN Wilayah I Mataue dan Seksi PTN Wilayah II Gimpu. Bidang PTN Wilayah II Makmur terdiri atas Seksi PTN Wilayah III Tongoa dan Seksi PTN Wilayah IV Bora. Bidang PTN Wilayah III Poso terdiri atas Seksi PTN Wilayah V Lengkeka dan Seksi PTN Wilayah VI Wuasa.
31 Gambar 2. Pembagian wilayah pengelolaan TNLL
NO WILAYAH PENGELOLAAN TNLL LUAS (Ha)
A. BPTN Wilayah I Saluki 76.712,68
1. SPTN Wilayah I Mataue 32.738,12
2. SPTN Wilayah II Gimpu 43.974,56
B. BPTN Wilayah II Makmur 48.230,21
1. SPTN Wilayah III Tongoa 33.367,17
2. SPTN Wilayah IV Bora 14.863,04
C. BPTN Wilayah III Poso 93.048,29
1. SPTN Wilayah V Lengkeka 23.845,99
2. SPTN Wilayah VI Wuasa 69.202,30
Unit terkecil pengelolaan taman nasional berada pada resort. Resort merupakan ujung tombak pengelolaan taman nasional karena bersentuhan langsung dengan kelompok masyarakat. Pada tingkat resort ini kelestarian sumber daya hutan akan lebih efektif terkontrol.
Gambar 3. Cakupan wilayah masing-masing Resort NO RESORT TAMAN NASIONAL LORE
LINDU
LUAS AREAL (Ha)
1. Resort Simoro 8.165,53
2. Resort Lindu 24.572,59
3. Resort Toro 24.922,63
4. Resort Moa 19.051,93
5. Resort Kadidia 12.078,63
6. Resort Tongoa 21.288,54
7. Resort Bobo 6.778,43
8. Resort Sibalaya 8.084,61
9. Resort Tuare 12.756,78
10. Resort Lelio 11.089,21
11. Resort Sedoa 27.283,50
12. Resort Doda 41.918,80
Resort pengelolaan TNLL berjumlah adalah 12 unit. Resort yang memiliki luas paling kecil adalah resort Bobo yakni seluas
32
6.778,43 ha, sementara itu resort yang terluas adalah resort Doda yakni seluas 41.918,80 ha.
Gambar 4. Pembagian Resort Kawasan TNLL
33 Gambar 5. Struktur organisasi Balai Besar TNLL
Jumlah personil yang mengelola Kawasan TNLL, berdasarkan buku statistik TNLL (2018) adalah 76 personil yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil dan 77 personil harian lepas. Sebaran pegawai pengelola TNLL disajikan pada Tabel 4.
34
Tabel 4. Sebaran Pegawai Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu Menurut Golongan Per Lokasi Unit Kerja
Sumber: Buku Statistik TNLL 2018
Desa Penyangga TNLL
Keberadaan kawasan TNLL tidak terlepas dari interaksi masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Sebagian besar masyarakat tersebut menggantungkan hidupnya terhadap sumber daya di dalam kawasan TNLL. Terdapat 76 Desa di dua kabupaten yang berbatasan langsung dengan TNLL, yakni Desa- desa Kabupaten Sigi dan Kabupaten Poso. Sebagian besar desa di Kabupaten Sigi berbatasan langsung dengan Kawasan TNLL.
Terdapat 52 desa di Kabupaten Sigi yang berbatasan dengan Kawasan TNLL.
Pengelolaan TNLL menerapkan pendekatan pengelolaan kewilayahan. Bidang wilayah pengelolaan di Kabupaten Sigi meliputi BPTN Wilayah I Saluki dan BPTN Wilayah 2 Makmur.
Wilayah pengelolaan BPTN wilayah I Saluki terletak di kecamatan Gumbasa, Kulawi, Lindu, dan Kulawi selatan. Terdapat 27 desa di BPTN Wilayah I Saluki, tersaji pada Tabel 5.
No Lokasi Golongan IV Golongan III Golongan II Golongan I Jumlah (L) (P) (L) (P) (L) (P) (L) (P) (L) (P) Total 1 BBTN. Lore Lindu 1 - - - 1 1
A Bagian Tata Usaha - 1 - - - 1 1 Sub Bagian Umum 1 - 4 3 3 2 1 - 9 5 13 Sub Bagian Perencanaan dan Kerjasama - - 2 - 1 - - - 3 - 3 Sub Bagian Data, Evaluasi, Pelaporan dan - - 1 1 1 - - - 2 1 3 Kehumasan
B Bidang Teknis Konservasi 1 - - - 1 - 1 Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan 1 - 3 1 - - - - 4 1 5 Seksi Perlindungan, Pengawetan dan Perpetaan - - 3 1 1 - - - 4 1 5 C Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I 1 3 - - - 4 - 4 Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I - - 4 - 2 - - - 6 - 6 Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II - - 3 - 2 - - - 5 - 5 D Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II 1 - 1 2 1 - - - 3 2 5 Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III - - 4 - 2 - - - 6 - 6 Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah IV - - 3 - 2 - - - 5 - 5 E Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III 1 - 2 - 1 - - - 4 - 4 Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V - - 3 - - - 3 - 3 Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI - - 3 - 3 - - - 6 - 6 Jumlah Keseluruhan 7 1 39 8 19 2 1 - 67 11 76
35 Tabel 5. Desa-desa penyangga pada BPTN Wilayah I Saluki
NO
Desa
Penyangga Kecamatan Kabupaten Seksi Wilayah Pengelolaan 1 Pakuli Gumbasa Sigi SPTN Wilayah I Mataue 2 Simoro Gumbasa Sigi SPTN Wilayah I Mataue
3 Omu Gumbasa Sigi SPTN Wilayah I Mataue
4 Tuva Gumbasa Sigi SPTN Wilayah I Mataue
5 Salua Kulawi Sigi SPTN Wilayah I Mataue
6 Namo Kulawi Sigi SPTN Wilayah I Mataue
7 Bolapapu Kulawi Sigi SPTN Wilayah I Mataue 8 Mataue Kulawi Sigi SPTN Wilayah I Mataue 9 Sungku Kulawi Sigi SPTN Wilayah I Mataue
10 Puroo Lindu Sigi SPTN Wilayah I Mataue
11 Langko Lindu Sigi SPTN Wilayah I Mataue 12 Tomado Lindu Sigi SPTN Wilayah I Mataue
13 Anca Lindu Sigi SPTN Wilayah I Mataue
14 Olu Lindu Sigi SPTN Wilayah I Mataue
15 Toro Kulawi Sigi SPTN Wilayah II Gimpu
16 Marena Kulawi Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 17
Poleroa
Makuhi Kulawi Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 18 Oo Parese Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 19 Watukilo Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 20 Salutome Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 21 Lawua Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 22 Tompibugis Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 23 Tomua Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 24 Gimpu Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 25 Lempelero Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 26 Pili/makujawa Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu 27 Moa Kulawi Selatan Sigi SPTN Wilayah II Gimpu
Wilayah pengelolaan BPTN wilayah II Makmur terletak di Kecamatan Palolo, Nokilalaki, Tanambulava, Sigi Biromaru dan sebagian desa di Kecamatan Gumbasa. Terdapat 25 desa yang berada pada wilayah pengelolaan ini, tersaji pada Tabel 6.
Tabel 6. Desa- desa penyangga di BPTN Wilayah II Makmur
NO Desa Penyangga Kecamatan Kabupaten Seksi Wilayah Pengelolaan 1 Sintuwu Palolo Sigi SPTN Wilayah III Tongoa 2 Rahmat Palolo Sigi SPTN Wilayah III Tongoa 3 Tongoa Palolo Sigi SPTN Wilayah III Tongoa 4 Karunia Palolo Sigi SPTN Wilayah III Tongoa 5 Bulili Nokilalaki Sigi SPTN Wilayah III Tongoa
36
6 Sopu Nokilalaki Sigi SPTN Wilayah III Tongoa 7 Kadidia Nokilalaki Sigi SPTN Wilayah III Tongoa 8 Kamarora B Nokilalaki Sigi SPTN Wilayah III Tongoa 9 Kamarora A Nokilalaki Sigi SPTN Wilayah III Tongoa 10 Lambara Tanambulava Sigi SPTN Wilayah IV Bora 11 Sibalaya Selatan Tanambulava Sigi SPTN Wilayah IV Bora 12 Sibalaya Utara Tanambulava Sigi SPTN Wilayah IV Bora 13 Sibowi Tanambulava Sigi SPTN Wilayah IV Bora 14 Sidondo IV Sigi Biromaru Sigi SPTN Wilayah IV Bora 15 Sidondo III Sigi Biromaru Sigi SPTN Wilayah IV Bora 16 Sidondo II Sigi Biromaru Sigi SPTN Wilayah IV Bora 17 Sidondo I Sigi Biromaru Sigi SPTN Wilayah IV Bora 18 Bora Sigi Biromaru Sigi SPTN Wilayah IV Bora 19 Sigimpu Palolo Sigi SPTN Wilayah IV Bora 20 Baku bakulu Palolo Sigi SPTN Wilayah IV Bora
21 Bobo Palolo Sigi SPTN Wilayah IV Bora
22 Bunga Palolo Sigi SPTN Wilayah IV Bora 23 Kapiroe Palolo Sigi SPTN Wilayah IV Bora 24 Pandere Gumbasa Sigi SPTN Wilayah IV Bora 25 Kalawara Gumbasa Sigi SPTN Wilayah IV Bora
Wilayah pengelolaan BPTN wilayah III Poso terletak di Kabupaten Poso meliputi 4 kecamatan yakni Kecamatan Lore Barat, Lore Utara, Lore Tengah dan Lore Piore. Terdapat 24 desa di wilayah pengelolaan ini yang berbatasan langsung dengan kawasan TNLL, tersaji pada Tabel 7.
Tabel 7. Desa-desa penyangga pada BPTN Wilayah III Poso
NO Desa Penyangga Kecamatan Kabupaten Seksi Wilayah Pengelolaan 1 Lelio Lore Barat Poso SPTN Wilayah V Lengkeka 2 Kolori Lore Barat Poso SPTN Wilayah V Lengkeka 3 Lengkeka Lore Barat Poso SPTN Wilayah V Lengkeka 4 Kageroa Lore Barat Poso SPTN Wilayah V Lengkeka 5 Tomehipi Lore Barat Poso SPTN Wilayah V Lengkeka 6 Tuare Lore Barat Poso SPTN Wilayah V Lengkeka 7 Sedoa Lore Utara Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 8 Watumaeta Lore Utara Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 9 Wuasa Lore Utara Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 10 Kaduwaa Lore Utara Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 11 Dodolo Lore Utara Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 12 Wanga Lore Peore Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 13 Siliwanga Lore Peore Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 14 Watutau Lore Peore Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 15 Betue Lore Peore Poso SPTN Wilayah VI Wuasa
37
16 Talabosa Lore Peore Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 17 Rompo Lore Tengah Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 18 Torire Lore Tengah Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 19 Katu Lore Tengah Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 20 Doda Lore Tengah Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 21 Bariri Lore Tengah Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 22 Hanggira Lore Tengah Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 23 Lempe Lore Tengah Poso SPTN Wilayah VI Wuasa 24 Baliura Lore Tengah Poso SPTN Wilayah VI Wuasa
Penduduk desa-desa di sekitar TNLL dihuni oleh perpaduan penduduk asli dan penduduk migran. Penduduk asli dan penduduk migran di sekitar kawasan TNLL hidup rukun dan harmonis. Kehidupan masyarakat masih memegang teguh nilai- nilai budaya, adat istiadat, norma dan aturan adat.
Keberadaan masyarakat di wilayah penyangga TNLL memiliki keterkaitan dengan sumber daya hutan dalam kawasan TNLL. Interaksi masyarakat terhadap sumber daya hutan membentuk pola hidup dan budaya tertentu. Di wilayah penyangga TNLL bermukim beberapa etnis-etnis lokal, yang terkonsentrasi bermukim di lembah dan dataran tinggi yang dikelilingi oleh pegunungan. Masyarakat etnis lokal bermukim di Lembah Sopu, Dataran Tinggi Napu, Behoa, Lindu, Kulawi dan Bada. Interaksi masyarakat terhadap sumber daya hutan di dalam kawasan TNLL antara lain pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, pemanfaatan sumber daya hutan untuk kebutuhan tradisional, dan berburu.
Tabel 8. Penyebaran suku dan etnis di sekitar TNLL No Kecamatan Suku dan Etnis
1 Sigi Biromaru Kaili
2 Gumbasa Kaili Ado, Edo
3 Lindu Kaili
4 Kulawi Kaili
5 Kulawi Selatan Kaili Moma
6 Tanambulava Kaili
7 Palolo Kaili
8 Nokilalaki Kaili Da’a
9 Lore Utara Pokerehua,Tawaelia-Baria
38
10 Lore Piore Behoa, Pokerehua
11 Lore Tengah Behoa
12 Lore Barat Bada
Sumber. Dokumen RPJP TNLL 2016-2022
Sejak Tahun 1997, terjadi banyak migrasi penduduk di sekitar TNLL. Migrasi penduduk ke wilayah sekitar TNLL antara lain disebabkan oleh tugas dan dorongan pencarian tempat hidup yang lebih baik. Faktor pendorong masyarakat bermigrasi ke kawasan TNLL adalah terjadinya penurunan kondisi ekonomi Indonesia saat itu serta konflik di Kota Poso dan sekitarnya yang memicu perpindahan penduduk dalam jumlah besar. konflik sebagian penduduk kembali ke Poso namun sebagian lainnya memilih tetap tinggal di daerah pengungsian dan membuka wilayah baru untuk lahan pertanian, tidak terkecuali pembukaan lahan baru di dalam kawasan TNLL. Situasi ini memberikan tekanan terhadap sumber daya hutan dan lahan dalam kawasan TNLL.
39