• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematika Dakwah pada Masyarakat Pesisir Kelurahan

Dalam dokumen problematika dakwah pada masyarakat pesisir (Halaman 55-69)

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Problematika Dakwah pada Masyarakat Pesisir Kelurahan

Dakwah merupakan risalah penting yang diwariskan dari para Nabi dan Rasul dengan tujuan menyelamatkan ummat dari gelapnya kejahiliaan dan kebodohan menuju kepada cahaya kebahagiaan dan kemenangan. Namun jalan dakwah tidak selalu mudah seperti yang kita kira, karena ada banyak tantangan dan problematika yang harus ditempuh dalam mengarungi jalan dakwah. Bahkan Rasulullah SAW sendiri sampai diusir dari kampung halamannya, menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu berjalan mulus dan lancar. Demikian pula dakwah pada masyarakat pesisir Kelurahan Barombong, ada tantangan dan problematika yang harus dihadapi.

Kelurahan Barombong memiliki 13 RW dan 69 RT secara keseluruhan, namun hanya beberapa RW yang posisinya dekat dari pantai seperti RW 01, RW 02, RW 04 dan RW 10. Sehingga peneliti hanya mengambil sampel di beberapa RW saja yang sesuai dengan fokus penelitian yaitu masyarakat pesisir.

Kegiatan keagamaan di Kelurahan Barombong berjalan dengan cukup baik namun hanya di beberapa tempat berdasarkan wawancara dengan Imam Kelurahan Bapak Drs. Rahmat Idrus atau biasa disapa juga dengan Daeng Lurang pada tanggal 14 April 2018 berikut.

“Di Kelurahan barombong yang memiliki 13 Rw ada beberapa saja yang aktif dakwahnya, diantaranya tempat beliau tinggal yaitu di Rw 1”

Beliau adalah Imam Kelurahan yang bertugas mengotrol kegiatan-kegiatan keagamaan di Kelurahan Barombong misalnya TPA dan Majlis Ta’lim. RW 01 adalah tempat beliau tinggal dan kurang lebih 8 tahun beliau menjabat sebagai Imam Kelurahan. Keteladanan yang beliau tunjukkan bisa diacungi jempol, dalam urusan dakwah misalnya Bapak Daeng Lurang tidak membeda-bedakan apakah dakwah dari NU, Muhammmadiyah atau Jamaah Tabligh yang penting aqidahnya sama maka beliau terima dengan senang hati. Siapa pun orangnya atau dari organisasi manapun yang ingin berdakwah di tempat beliau maka akan diterima dengan baik, namun dengan

48

catatan jangan jadikan masalah khilafiah sebagai perpecahan dan kebencian.

“Siapapun yang mau masuk berdakwah kita terima dengan senang hati hanya dengan catatan tidak boleh terlalu dibicarakan tentang masalah khilafiah, jadi kita cari persamaan yang bisa kita ambil”. (Tokoh Agama: Bp.

Rahmat Idrus)

Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Bp.

Rahmat Idrus pada tanggal 14 April 2018, ada beberapa problematika yang dihadapi oleh masyarakat pesisir Kecamatan Barombong diantaranya:

a. Kurangnya Dai

Salah satu unsur penting dalam dakwah adalah seorang penyampai pesan dakwah yaitu dai. Dalam dakwah kita mengenal ada beberapa unsur dakwah yang saling terkait tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Jika hilang salah satu maka akan berefek pada dakwah itu sendiri, dakwah akan pincang dan tidak akan tercapai maksud dan tujuan dari dakwah.

Kegiatan keagamaan yang harusnya menjadi sesuatu yang penting dalam sebuah masyarakat untuk memahamkan penduduk tentang ajaran-ajaran dan nilai-nilai islam untuk diketahui dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi data yang diperoleh dalam observasi yang dilakukan pada tanggal 16 April 2018. Disebabkan kurangnya tenaga pendakwah atau dengan kata

lain seorang dai, sehingga kegiatan yang terkait dengan keagamaan kurang diperhatikan.

Kelurahan Barombong sebenarnya sering didatangi oleh para dai dari Jamaah Tabligh, menurut Bapak Daeng Lurang atau Imam Kelurahan. Bahkan bisa 3 kali dalam sebulan ada jamaah yang datang singgah di masjid hingga 3 hari. Setelah itu mereka akan pindah ke masjid yang lain lagi. Sebagaimana yang disampaikan Bp. Rahmat Idrus dalam wawancara pada tanggal 15 April 2018.

Berikut penuturan beliau.

“Kalo di Barombong kita sering didatangi oleh para dai jamaah tabligh, mereka biasa singgah selama 3 hari di setiap masjid. Dan dalam sebulan kadang 3 hingga 4 rombongan yang datang”

Dari cerita Bp. Rahmat Idrus atau Daeng Lurang bahwa ketika Jamaah Tabligh berada di tempatnya atau di masjid Kelurahan Barombong maka kegiatan di masjid akan berjalan maksimal. Ini dibuktikan dengan program yang mereka lakukan yaitu mereka membacakan buku fadhilah amal di setiap selesai shalat wajib yang berisi tentang motivasi dan penyemangat dalam beribadah serta melakukan amalan-amalan shaleh lainnya.

Akan tetapi masalah atau problemnya adalah ketika Jamaah Tabligh berpindah ke masjid yang lain setelah 3 hari maka kegiatan di masjid akan berjalan lagi seperti biasanya dikarenakan tidak ada dai tetap yang melanjutkan ta’lim dan pengajian untuk tetap

50

memotivasi jamaah dan menjelaskan pesan nilai-nilai islam kepada masyarakat.

Adapun wawancara dengan Bp.Rahmat Idrus pada tanggal 15 April 2018 beliau menuturkan bahwa di Barombong terdapat instansi dakwah namun untuk sekarang instansi tersebut hanya aktif mengisi khutbah jumat, sebagai berikut.

“Sebenarnya di Barombong juga ada instansi dakwah seperti LDI yang membantu dalam pelaksanaan shalat jumat, mereka biasa menjadi khatib jumat di masjid-masjid Barombong. Hanya saja mereka cuma aktif dalam program pekanan yaitu jumatan”(Bp. Rahmat Idrus)

Hal ini menunjukkan bahwa walaupun telah ada instansi dakwah di Barombong seperti LDI (Lembaga Dakwah Islam) namun dakwah yang dilakukan belum maksimal dan masih kurang dalam program-program keagamaannya.

Khutbah jumat yang dilaksanakan untuk saat ini dapat dikatakan telah berjalan dengan baik. Hanya saja apa yang peneliti dapatkan di lapangan sesuatu yang sudah masyhur kita ketahui adalah bahwa di setiap pelaksanaan khutbah jumat selalu ada jamaah yang kadang-kadang mengantuk atau bahkan sampai ada yang tertidur. Ini menunjukkan pesan khutbah hanya sampai pada sebagian kecil orang atau jamaah sehingga pengaruh pada masyarakat hampir tidak terlihat sama sekali. Yang jadi masalah juga karena masyarakat kebanyakan hanya sekedar datang untuk

mengikuti rangkaian pelaksanaan ibadah jumat tanpa ada niat dari awal untuk mengambil pelajaran dari apa yang disampaikan oleh khatib. Kesadaran dari masyarakat untuk mempelajari dan memahami ajaran islam masih sangat minim, mengapa demikian?

Ini juga salah satu faktor tidak adanya dai yang menetap untuk memberikan pengarahan dan bimbingan untuk masyarakat setempat.

Begitu pentingnya seorang dai yang mengajarkan dan menyampaikan pesan-pesan ajaran islam, sehingga Allah SWT menjelaskan dalam Al Quran ketika masa Rasulullah SAW. Allah memerintahkan agar ada sebagian dari kalangan sahabat ada yang pergi bejihad yaitu berperang di jalan Allah dan ada sebagian lagi yang menunggu untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agama.

Sehingga ketika yang pergi berperang telah kembali maka yang telah belajar agar mengajarkan kembali kepada mereka yang baru pulang dari peperangan. Menunjukkan pentingnya saling mengingatkan antara kaum muslimin. Sebagaimana peran seorang dai dalam sebuah masyarakat agar selalu terbimbing dan terarah tujuan hidupnya yang jelas.

Pengaruh kurangnya tenaga dai atau muballigh di masyarakat pesisir juga menyebabkan kegiatan kegamaan tidak pernah bertahan lama, dengan kata lain bahwa kegiatan yang ada tidak terkontrol dengan baik. Seperti yang terjadi di salah satu masjid

52

Kelurahan Barombong yang katanya menurut cerita Bapak Imam masjid sebelumnya pernah ada pengajian ibu-ibu majlis ta’lim dibimbing oleh seorang ustadzah. Namun sayangnya ustadzah tersebut bertempat tinggal di luar Kelurahan Barombong sehingga tidak memungkinkan baginya untuk mengontrol secara konsisten ibu-ibu majlis ta’lim yang ada.

Pada akhirnya kata Bapak Imam, majlis ta’lim pun bubar dan hingga kini belum ada pengganti seorang pembina untuk ibu-ibu majlis ta’lim. Adapun dari salah satu anggota ibu majlis ta’lim yang pernah bercerita kepada peneliti dan dia juga adalah istri dari Bapak Imam masjid. Beliau menuturkan bahwasanya angota ibu- ibu majlis ta’lim yang lain sebenarnya masih ada keinginan untuk melanjutkan kegiatan tersebut. Namun, sulit menurutnya mendapatkan seorang pembina menyebabkan semangat dari anggota ibu-ibu majlis ta’lim terus menurun.

b. Rendahnya Pemahaman Agama Masyarakat

Masyarakat Kelurahan Barombong adalah penduduk yang mayoritas memeluk agama islam, bahkan dapat dikatakan hampir 100 % beragama islam. Hal ini sebenarnya merupakan faktor pendukung dalam pelaksanaan dakwah di Kelurahan Barombong.

Akan tetapi kenyataannya tidak demikian, karena masyarakat Kelurahan Barombong yang belum sepenuhnya memahami ajaran- ajaran agama secara mendalam.

Imam Kelurahan atau Daeng Lurang mengatakan bahwa di Kelurahan Barombong biasa diadakan festival tahunan atau ulang tahun kampung. Kegiatan ini dilakukan satu kali dalam setahun bersamaan dengan hari raya idul qurban. Mirisnya kegiatan ini dilaksanakan dengan cara yang mengandung kesyirikan seperti masyarakat yang membawa sesajenan.

Rendahnya pemahaman masyarakat tentang agama berimbas pada minimnya kesadaran masyarakat dalam menjalankan ibadah sesuai ajaran agama islam. Dan juga pola pikir masyarakat yang materialistis sehingga kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa meskipun mereka tidak shalat, tidak puasa dan tidak melakukan ibadah-ibadah lainnya mereka tetap bisa makan dan mendapatkan kecukupan kebutuhan sehari-hari.

Para orang tua kebanyakan tidak memperhatikan perkembangan anaknya khususnya dalam pendidikan agama.

Peneliti melihat di beberapa masjid dekat pesisir Kelurahan Barombong telah diadakan pengajian untuk anak-anak namun belum ada kesadaran serta pehatian secara maksimal dari para orang tua dalam mendorong anak-anak mereka untuk mempelajari Al Quran. Menurut salah satu pengajar TPA ketika diwawancarai pada tanggal 16 April 2018 menuturkan bahwa.

“anak-anak yang biasa mengaji datang dengan sesuka hatinya. Maksudnya jika suasana hatinya sedang baik maka dia akan datang untuk mengaji, sebaliknya jika suasana hatinya sedang buruk maka dia tidak akan datang

54

mengaji. Sayangnya orang tua sebagai wali tidak melakukan apa-apa bahkan acuh dan tidak peduli dengan keadaan tersebut”

c. Kerja Sama yang Belum Baik

Suatu kegiatan akan berjalan dengan baik dan rapi sesuai rencana yang telah disusun jika ada koordinasi yang bagus dari seluruh anggota pelaksana. Artinya jika tim pelaksana saling bekerja sama dalam melaksanakan sesuatu pasti akan tercapai tujuan dan cita-cita demi kepentingan bersama. Di dalam berdakwah juga harus ada kerja sama antara pihak-pihak yang bersangkutan.

Adapun di Kelurahan Barombong, berdasarkan hasil pengamatan yang peneliti lakukan pada tanggal 17 April 2018.

Belum ada koordinasi yang baik antara anggota pengurus masjid atau biasa kita kenal dengan BKM. Seperti salah satu masjid di Kelurahan Barombong tidak atau belum aktif dengan baik dan maksimal kegiatan dakwahnya. Seperti yang peneliti temukan bahwa di masjid itu untuk sementara hanya aktif digunakan oleh masyarakat sebagai wadah melaksanakn ibadah shalat berjamaah saja, sejatinya masih banyak kegiatan yang dapat dilakukan demi kepentingan dakwah. Tentu hal ini membutuhkan kerja sama yang baik antara anggota BKM agar masjid dapat difungsikan secara maksimal dan efektif. Berdasarkan penuturan Bp. Imam Masjid

ketika peneliti melakukan wawancara kepada beliau pada tanggal 17 April 2018.

“para anggota pengurus masjid Nurul Insyaf telah dipilih namun mereka belum terlalu aktif dalam melakukan kegiatan-kegiatan di masjid, bahkan untuk shalat berjamaah sekalipun mereka masih jarang kelihatan”

Di sisi lain para anggota sendiri belum memiliki kesadaran individu untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Padahal selayaknya mereka adalah orang-orang yang harus menjadi contoh bagi masyarakat lainnya dengan menjaga shalat berjamaah di masjid. Seharusnya pengurus masjid bisa menciptakan lading- ladang ta’lim dan pengajian yang teratur dan berkesinambungan dalam rangka menyampaikan dan memahamkan kepada masyarakat tentang ajaran-ajaran islam yang benar.

C. Upaya Dalam Mengatasi Problematika Dakwah Pada Masyarakat Pesisir Di Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar

Masyarakat pesisir Kelurahan Barombong adalah masyarakat yang mayoritas memeluk agama islam, bahkan dengan presentase 98

%. Akan tetapi dengan presentasi yang banyak ini belum menjamin sebuah masyarakat yang islami atau masyarakat yang berpemahaman sesuai dengan ajaran islam yang benar. Demikian halnya dengan masyarakat pesisir kelurahan barombong yang masih

56

sangat minim dalam mengamalkan ajaran-ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini merupakan gambaran dari sebuah masyarakat yang belum memahami agama islam yang dianutnya dengan baik dan benar juga disebabkan berbagai problematika dan masalah dakwah yang ada pada masyarakat tersebut sehingga pesan-pesan dakwah belum tersampaikan secara meyeluruh dan merata.

Setelah mengetahui masalah dan problematika dakwah yang dihadapi oleh masyarakat pesisir kelurahan barombong, maka dalam mengatasi problematika itu ada upaya-upaya yang dilakukan sehingga kegiatan maupun aktivitas dakwah bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Membina serta Menyiapkan Generasi Muda Sedini Mungkin

Untuk mengatasi problematika dakwah di Kelurahan Barombong yang kekurangan dai dan muballigh, maka mereka berusaha dengan mengadakan pembinaan dan pengkaderan generasi-generasi muda. Seperti hasil wawancara peneliti dengan Bp. Marwan (Ketua RW 10).

“di Kelurahan Barombong ini sangat minim atau sedikit sekali orang-orang yang menyampaikan dakwah sehingga masyarakat di sini sangat kering istilahnya dalam kehidupan beragama, oleh karena itu kami sebagai tokoh masyarakat dan sebagai orang tua kami arahkan anak- anak kami dan remaja serta pemuda-pemuda yang ada agar mereka aktif di masjid dan mau mengikuti kegiatan- kegiatan keagamaan lainnya”

Pembinaan yang dilakukan di masyarakat pesisir kelurahan barombong adalah memasukkan anak-anak mereka di tpa/tpq.

Adapun para remaja dan pemuda mereka diarahkan untuk aktif mengikuti program ataupun kegiatan yang dilakukan oleh jamaah tabligh, wahdah maupun al-islah dan muhammadiyah. Dengan begitu mereka akan terbiasa dengan aktivitas keagamaan dan dakwah sehingga di masa yang akan datang para generasi muda ini yang akan menjadi dai-dai dan muballigh di Kelurahan Barombong.

b. Membuat Kajian-Kajian

Untuk memahamkan suatu masyarakat tentang ajaran agama islam, maka dibutuhkan cara atau metode yang cocok dan sesuai sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bp. Rahmat Idrus pada tanggal 15 April 2018.

“kami berusaha dengan sebisa mungkin untuk memaksimalkan waktu dan tenaga yang ada untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti kajian rutin yang diadakan setiap malam senin untuk umum. Ada juga kajian ibu-ibu majelis ta’lim diadakan setiap sebulan satu kali, mereka mengundang ustadz dari kota untuk jadi pemateri.

Adapun jamaah tabligh mereka jika singgah di masjid maka setiap hari selesai shalat ashar ada yang membacakan buku fadhilah amal”

Seperti yang dikatakan oleh Bp. Imam Kelurahan Rahmat Idrus bahwa dalam program harian diisi oleh jamaah tabligh yaitu setiap selesai shalat ashar, adapun program pekanan dengan

58

kajian ayat-ayat al-quran yang dilaksanakan setiap malam senin diisi oleh ust bakri yang merupakan penduduk kelurahan barombong dan yang terakhir adalah program bulanan untuk ibu- ibu majlis talim yang mengundang ustadz dari kota untuk mengisi kajian atau sebagai pemateri.

c. Membangun Kerja Sama yang Baik antara Kelompok-Kelompok Dakwah

Persatuan sangatlah penting khusunya dalam berdakwah di suatu daerah. Dimana kelompok-kelompok dakwah akan sangat membutuhkan dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Demikian halnya di Kelurahan Barombong terdapat beberapa kelompok-kelompok dakwah yang diantaranya telah bermarkas di daerah tersebut. Demi membangun masyarakat yang agamis dan islami maka tokoh agama di Kelurahan Barombong berusaha agar semua kelompok dakwah yang ada bisa saling bahu-membahu dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan dakwah. Upaya yang ditempuh dalam menjadikan semua kelompok bisa bersatu seperti yang dituturkan oleh Bp. Rahmat Idrus ketika diwawancarai pada tanggal 15 April 2018.

“telah masuk kelompok dakwah seperti jamaah tabligh, al- islah, wahdah dan muhammadiyah. Semuanya adalah gerakan dakwah yang seharusnya bisa saling membantu dalam memahamkan umat tentang ajaran islam yang sebenarnya. Kata beliau di salah satu kampung kelurahan barombong yang dulunya dikenal banyak peminum alcohol namun sekarang setelah ada wahdah, jamaah tabligh,

muhammadiyah dan al-islah kampung tersebut mengalami perubahan yang cukup baik bahkan beliau mengatakan hampir 80 % yang telah meninggalkan minuman keras itu”

60 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Profil masyarakat pesisir Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar secara umum dapat dikatakan sudah baik, hubungan sosial kemasyarakatan warga setempat terjalin dengan baik, akan tetapi kesadaran secara individu dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan tuntunan agama masih minim. Disebabkan kurangnya pengetahuan mereka tentang agama.

2. Problematika dakwah yang dihadapi oleh masyarakat pesisir di Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:

a. Kurangnya dai, seorang dai sebagai penyampai pesan- pesan dakwah dan juga sebagai sosok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengarahkan serta menjelaskan tentang ajaran-ajaran islam. Kenyataannya di Kelurahan Barombong sangat sedikit jumlah dai yang ada, sehingga untuk membangun masyarakat yang faham tentang ajaran agama memerlukan waktu yang lebih lama.

b. Pemahaman agama masyarakat yang masih rendah, hal ini termasuk salah satu diantara faktor yang menghambat pergerakan dakwah. Karena pemahaman masyarakat yang rendah mempengaruhi pola pikir mereka menjadi materialistis sehingga masyarakat akan lebih mementingkan kehidupan dunia dan mengesampingkan bekal untuk kehidupan di akherat kelak.

c. Kerja sama yang belum baik, khususnya antara anggota kepengurusan masjid dan juga antara instansi ataupun kelompok-kelompok dakwah yang ada di Kelurahan Barombong.

3. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi problematika dakwah adalah sebagai berikut:

a. Membina serta menyiapkan generasi muda sedini mungkin, para tokoh masyarakat mengarahkan kepada anak-anak dan remaja serta pemuda di Kelurahan Barombong agar selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan dakwah dan keagamaan demi menyiapkan generasi muda yang dapat diandalkan.

b. Membuat kajian-kajian, dalam rangka memahamkan masyarakat agar tidak salah langkah dalam mengambil tujuan hidup yang sesuai dengan tuntunan Islam maka diadakan ta’lim dan pengajian yang rutin dilakukan setiap hari, setiap pekan dan setiap bulan.

62

c. Membangun kerja sama yang baik antara kelompok- kelompok dakwah, agar dakwah dapat berhasil dan mencapai cita-cita yang diinginkan maka kelompok- kelompok dakwah yang ada diberikan keluasan dalam berdakwah namun dengan catatan tidak saling menyalahkan dan memperbesar malah-masalah khilafiah.

B. Saran

1. Bagi Tokoh Agama

Realita bahwa kebanyakan masyarakat muslim di Kelurahan Barombong belum melaksanakan ajaran agama secara total, menjadi tanggung jawab utama para tokoh agama masyarakat Kelurahan Barombong. Hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:

a. Harus selalu bersemangat dan istiqamah untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dakwah

b. Harus peka dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat sehingga dapat memberikan tanggapan yang positif dalam menjawab masalah-masalah yang muncul sesuai dengan tuntunan agama yang benar

c. Memberikan teladan kehidupan bagi masyarakat Kelurahan Barombong yang membutuhkan seorang figur yang bisa menjadi panutan.

2. Bagi tokoh pemerintahan/perangkat desa

Tokoh pemerintahan/perangkat desa dapat juga berperan aktif dalam mewujudkan masyarakat Kelurahan Barombong yang islami. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara:

a. Memberikan kebijakan berupa kemudahan ijin dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan keagamaan

b. Siap menjadi payung hukum dalam artian memberikan jaminan secara perundang-undangan sesuai ketentuan yang diatur oleh pemerintah desa dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan

c. Memberikan fasilitas yang memadai untuk pelaksanaan kegiatan dakwah demi pengembangan keagamaan bagi masyarakat

3. Bagi masyarakat umum

Untuk masyarakat Kelurahan Barombong yang mayoritas beragama islam dapat memberikan partisipasi dalam mewujudkan cita-cita pembangunan masyarakat yang memiliki pribadi religius dengan ikut serta dalam berbagai acara keagamaan serta siap membantu dan berkorban demi menjunjung tinggi nilai-nilai agama islam.

64

DAFTAR PUSTAKA

Ady Dermawan DKK. Metodologi Ilmu Dakwah, Yogyakarta : LESFI 2002.

Ahmad, Amrullah. Dakwah Islam Dan Perubahan Sosial, Yogyakarta:

PLPAN 1978.

Alawiyah, Tuti. Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim, Bandung:

Mizan 1997.

Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Tidak Mudah Menjadi Ulama dan Dai, Jakarta : Pustaka At-Tazkia 2011.

Al-Qur’an Terjemahan Perkata. Asbabun Nuzul dan Tafsir Bil Hadis, Bandung: Semesta Al-Qur’an 2013.

As-Sisi, Abbad. Dakwah dan Hati, Solo: Intermedia 1998.

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka 2005.

Departeman Pendidikan dan Kebuudayan RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka 1990.

El Ishaq, Ropingi. Pengantar Ilmu Dakwah, Malang: Madani 2016.

Habib, M. Syafa’at. Buku Pedoman Dakwah, Jakarta: Restu 1982.

Haekal, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammmad, Diterjemahkan Dari Hayat Muhammad Oleh Ali Audah Jakarta: Tintamas 1984.

Hadi, Sutrisno. Metode Research, Yogyakarta: Andi Offet 1989.

Harapah Adnan. Dakwah Islam Teori dan Praktik, Yogyakarta:

Sumbangsih Offset 1978.

Koentjaraningrat. Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama 1991.

M. Quraish Shihab. Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan 1993.

Mahfudz, Ali. Hidayah al-Mursyidin ila Thuruq al-Wa’dzi wa al-Khithabah, Beirut: Dar al-Ma’rifah 2006.

Maleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya 2001.

Marwan, Abu Ahmad. Yang Tegar di Jalan Dakwah, Yogyakarta: YP2SU 1994.

Masy’ari, Anwar. Butir-Butir Problematika Dakwah Islamiyah, Surabaya:

Bira Ilmu 1993.

Mubarok Achamat. Psikologi Dakwah Membangun cara berfikir dan merasa Malang: Madani Press 2014.

Munir, M danWahyu Ilaihi. Manajemen Dakwah Jakarta: Kencana 2009.

Narbuka, Cholid. Metode Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara 2002.

Nasution, S. Metode Research (Penelitian Ilmiah), Jakarta: Bumi Aksara 2004.

Natsir, M. Fiqhud Dakwah, Solo: CV. Ramadhani 1987.

Rozak, Nasruddin. Metodologi Dakwah, Semarang: Toha Putra 1979.

Saputra, Wahidin. Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta: Rajawali pers 2011.

Suharsimi, Arikunto. ProsedurPenelitian (Suatu Pengantar Praktik), Yogyakarta: Rineka Cipta 1995.

Sukamto, Soerdjono. Kamus Sosiologi, Jakarta: Rajawali 1985.

Syukir, Asmuni. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Surabaya: Al-Ikhlas 1983.

Wahid, Said Bin Ali Bin. Al-Qahthari, Jakarta: Gema Insani Press 1994.

Yusuf, Tayar dan Syaiful Anwar. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, Jakarta: Raja Grofindo Persada 1997.

Dalam dokumen problematika dakwah pada masyarakat pesisir (Halaman 55-69)

Dokumen terkait