• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produk dan Jasa Layanan PT. BPRS Aman Syariah

Dalam dokumen Eka Riana NPM. 1704100264 (Halaman 53-68)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Produk dan Jasa Layanan PT. BPRS Aman Syariah

Produk penghimpun dana yang ditawarkan di BPRS Aman Syariah meliputi:

1) Tabungan Pendidikan Aman Syariah (TAPENAS) 2) Tabungan Masa Tua (TAMATU)

3) Tabungan Anak Sejahtera (TABANAS) 4) Tabungan Haji Mambur (TAJIMABRUR)

5) Tabungan Qurban Aman Syariah (TAQURBANAS) 6) Tabungan Makbullah Umrah (TAMU)

7) Tabungan Wisata (TAWA)

8) Tabungan Keluarga Samara (TAKASMARA)

68 Wawancara dengan Bapak Sugiyanto, Direktur BPRS Aman Syariah, Kamis 16 Mei 2019.

9) Tabungan Idul Fitri (TIFI)

10) Tabungan Mudharabah (TABAH) 11) Deposito Mudharabah (TOBAH)

b. Produk Pembiayaan

PT. BPRS Aman Syariah menyalurkan pembiayan dengan akad murabahah, mudharabah, Ijarah, Multijasa, Qardhul Hasan dan Istishna yang ditujukan untuk membiayai pembiyaan seperti:

1) Modal kerja, usaha-usaha, renovasi, pembelian tanah, kendaraan, rumah dan konsumtif lainnya.

2) Pembiayaan untuk kebutuhan manfaat seperti jasa pendidikan, Umrah, perjalanan wisata, dll.

3) Pembiayaan lainnya yang lazim dilakukan PT. BPRS Aman Syariah sepanjang disetujui Dewan Pengawas Syariah.

a. Produk Jasa lainnya

PT. BPRS Aman Syariah menyediakan produk jasa pelayanan Gadai Emas Syariah (Rahn) yang ketentuan dan tata caranya ditetapkan oleh PT. BPRS Aman Syariah.69

69 Dokumentasi PT. BPRS Aman Syariah dikutip pada 16 Mei 2019.

B. Analisis Upaya BPRS Aman Syariah dalam Mencegah Risiko Penyalahgunaan Dana pada Pembiayaan Murabahah

Murabahah dalam konteks perbankan syariah adalah akad jual beli antara bank syariah dengan nasabah atas suatu jenis barang tertentu dengan harga yang disepakati bersama.70 Di BPRS Aman Syariah pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan yang paling mendominasi dibandingkan pembiayaan lainnya, direktur PT. BPRS Aman Syariah Bapak Sugiyanto menyebutkan bahwa terdapat 3 (tiga) jenis Pembiayaan murabahah yang ada di BPRS Aman Syariah, diantaranya pembiayaan murabahah Modal Kerja, Investasi dan Konsumtif. Pembiayaan murabahah modal kerja ditujukan untuk tambahan modal usaha nasabah misalnya untuk pembelian barang dagangan, dll. Sedangkan pembiayaan murabahah investasi ditujukan untuk pembelian aset atau kepemilikan modal tetap seperti pembelian lahan untuk warung sembako, pembangunan warung, sampai dengan pembelian kendaraan untuk angkutan barang, dan lain-lain. Sementara, untuk pembiayaan murabahah konsumtif lebih ditujukan untuk pembelian peralatan atau barang-barang seperti kendaraan bermotor, TV, kulkas, kursi dll. Dari ketiga jenis murabahah tersebut jumlah nasabah pembiayaan murabahah didominasi oleh pembiayaan murabahah Modal Kerja. Hal ini karena rata-rata nasabah di BPRS Aman Syariah banyak yang bergerak disektor

70 Imam Mustafa, Fiqih Muamalah Kontemporer, (Lampung: STAIN Jurai Siwo Metro Lampung, 2014), 67.

perdagangan, sehingga kebanyakan nasabah mengajukan pembiayaan murabahah modal kerja untuk pembelian barang dagangan.71

Dalam penyaluran pembiayaan dengan akad murabahah modal kerja, BPRS Aman Syariah biasanya menyertakan akad wakalah di dalamnya. Dimana dalam implementasinya, pembelian objek murabahah dapat dilakukan oleh nasabah selaku wakil dari pihak bank dengan menggunakan akad wakalah atau perwakilan. Dalam praktiknya bank tidak memberikan barang kepada nasabah, namun menyerahkan sejumlah uang disertai surat kuasa dan untuk selanjutnya nasabah yang membeli sendiri barang yang diinginkan sesuai kontrak.72

Sedangkan untuk jenis murabahah investasi dan konsumtif pihak bank sendiri yang akan membelanjakan atau menyediakan barang yang diinginkan nasabah tanpa melalui akad wakalah. Jadi dalam hal ini nasabah langsung menerima barang bukan berupa uang yang dibelanjakan sendiri. Hal ini dilakukan sebagai bentuk upaya antisipasi terhadap risiko penyalahgunaan dana yang sering terjadi di BPRS Aman Syariah. Strategi ini mulai diterapkan sejak Juli 2017 dimana sebelumnya pembelian barang bisa dilakukan oleh nasabah sendiri selaku wakil dari bank dengan menggunakan akad wakalah. Namun setelah bapak Sugiyanto menjabat

71 Wawancara dengan Bapak Sugiyanto, Direktur BPRS Aman Syariah Sekampung, 23 Januari 2019.

72Wawancara dengan Bapak Sugiyanto, Direktur BPRS Aman Syariah Sekampung, Senin 16 Mei 2019.

dibagian bisnis, beliau mengubah strategi dengan tidak menggunakan akad wakalah pada pembiayaan murabahah konsumtif dan investasi. 73

Namun saat ini di BPRS Aman Syariah akad wakalah masih tetap diterapkan pada pembiayaan murabahah modal kerja dengan alasan karena menurut pihak bank, akan sulit sekali apabila melakukan pembelian sendiri atas barang-barang yang dibutuhkan nasabah untuk modal kerja yang biasanya lebih dari satu jenis barang, sehingga dengan menggunakan akad wakalah akan lebih memudahkan dalam hal pengadaan barang yang sesuai dengan kebutuhan nasabah. Selain itu pihak bank juga tidak mendampingi dalam pembelian barang, karena alasan keterbatasan bank. Hal inilah yang memberikan peluang kepada nasabah untuk melakukan side streaming karena nasabah leluasa untuk membelanjakan dananya sendiri tanpa ada pendampingan dari pihak bank.

Beberapa kasus yang terjadi di BPRS Aman Syariah Sekampung dimana terdapat nasabah yang mengajukan pembiayaan murabahah modal kerja. Namun yang terjadi, nasabah tidak amanah dan dana tersebut digunakan untuk membiayai keperluan lain yang tidak sesuai dengan perjanjian di awal.74 Berdasarkan kasus tersebut, dapat dikatakan bahwa penggunaan akad wakalah dalam sistem pengadaan barang yang dianggap sebagai langkah praktis justru memberikan keleluasaan bagi nasabah untuk membelanjakan anggarannya sendiri. Pada akhirnya hal tersebut menimbulkan suatu tindakan penyimpangan, seperti penyalahgunaan dana

73 Ibid.

74 Wawancara dengan Bapak Sugiyanto, Direktur BPRS Aman Syariah Sekampung, Senin 16 Mei 2019.

yang dilakukan oleh nasabah atau yang dikenal dengan istilah side streaming.

Direktur PT. BPRS Aman Syariah Bapak Sugiyanto menjelaskan bahwa penyalahgunaan dana merupakan salah satu faktor utama terjadinya pembiayaan bermasalah di BPRS Aman Syariah, jadi pembiayaan bermasalah di BPRS Aman Syariah didominasi dari kasus penyalahgunaan dana oleh nasabah.75 Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengantisipasi atau mencegah agar risiko penyalahgunaan dana tidak terjadi sehingga dapat mengurangi angka pembiayaan bermasalah di BPRS Aman Syariah.

Secara garis besar upaya-upaya BPRS Aman Syariah untuk mencegah risiko penyalahgunaan dana pada pembiayaan murabahah dilakukan melalui upaya-upaya yang bersifat preventif (Pencegahan).

Upaya yang bersifat preventif dilakukan BPRS Aman Syariah sejak permohonan pembiayaan diajukan, dimana pihak bank melakukan analisa yang akurat terhadap kelayakan pembiayaan dengan prinsip 5C (Character, Capacity, Capital ,Collateral ,Condition). BPRS Aman Syariah menggunakan analisis 5C dalam menilai calon nasabah, hal ini untuk memperoleh keyakinan sebelum memberikan pembiayaan,

Pada BPRS Aman Syariah, nasabah yang hendak mengajukan pembiayaan harus melakukan prosedur-prosedur dan penilaian yang telah ditetapkan oleh BPRS Aman Syariah. Prosedur awal adalah calon nasabah

75Wawancara dengan Bapak Sugiyanto, Direktur BPRS Aman Syariah Sekampung, Senin 16 Mei 2019.

melakukan negosiasi atau wawancara dengan Customer Service BPRS Aman Syariah tentang pembiayaan yang akan dilakukan, negosiasi tersebut membicarakan tentang semua hal-hal yang berhubungan dengan pembiayaan yaitu terkait barang apa yang akan dibiayai dan lain-lain.

Setelah prosedur wawancara selesai dan disepakati oleh calon nasabah dan pihak BPRS Aman Syariah, prosedur berikutnya adalah calon nasabah harus mengisi formulir permohonan pembiayaan yang telah disediakan oleh BPRS Aman Syariah. selanjutnya pihak bank akan menganalisis permohonan pembiayaan dengan mempertimbangkan prinsip 5C. Pada BPRS Aman Syariah analisis 5C ini dilaksanakan oleh Account Officer (AO).76

Adapun analisis 5C yang dilakukan Account Officer (AO) adalah sebagai berikut:

1. Character, BPRS Aman Syariah menilai karakter calon nasabah dengan cara BI Checking, wawancara, dan kunjungan ke lingkungan nasabah dengan menanyakan langsung kepada masyarakat tentang karakter calon nasabah melalui tetangga, teman kerja dan rekan bisnis untuk melihat apakah nasabah mempunyai karakter baik atau tidak di lingkungan.

2. Capital (Modal), BPRS Aman Syariah dalam menganalisis capital selalu mempertimbangkan modal yang ada pada nasabah sebelum melakukan pencairan, dan modal nasabah harus lebih besar daripada

76 Wawancara dengan ibu Eka Wulandari, Account Officer BPRS Aman Syariah, Senin 16

Mei 2019.

pembiayaan yang akan diberikan.

3. Capacity, BPRS Aman Syariah dalam menilai kemampuan nasabah dilihat dari pendapatan. Apabila nasabah memiliki pendapatan bersih melebihi 50% dari angsuran maka dapat dipastikan nasabah memiliki kemampuan untuk membayar angsuran.

4. Collateral, BPRS Aman Syariah dalam menilai jaminan disesuaikan dengan taksiran jaminan, jaminan yang dapat dijaminkan seperti BPKB, Sertifikat Tanah, dll.

5. Condition of Economy, BPRS Aman Syariah dalam menilai kondisi ekonomi nasabahnya dengan melihat bagaimana usaha yang mereka lakukan bagaimana daya beli masyarakatnya, bagaimana bentuk persaingannya.77

Selanjutnya hasil dari analisis oleh Account Officer ini akan dipresentasikan dalam rapat komite pembiayaan yang dihadiri oleh Direktur untuk menentukan pengajuan pembiayaan murabahah disetujui atau ditolak.

Pada saat peneliti melakukan wawancara dengan Account Officer permasalahan yang timbul dalam analisis 5C ini adalah character nasabah, Account Officer BPRS Aman Syariah menjelaskan bahwa yang paling sulit adalah menilai character calon nasabah, yaitu saat melakukan wawancara langsung dengan calon nasabah yang mengajukan pembiayaan, terkadang calon nasabah menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan

77 Wawancara dengan ibu Eka Wulandari, Account Officer BPRS Aman Syariah, Senin 16

Mei 2019.

supaya bisa mendapatkan pembiayaan di BPRS Aman Syariah. Sehingga AO harus melakukan kroscek lingkungan untuk memastikan kebenaran apa yang disampikan calon nasabah dan jika terjadi kesalahan dalam menganalisis character nasabah dan hal tersebut berakibat pada pembayaran yang akan dilakukan. Tanda-tanda atau gejala sebelum terjadinya penyalahgunaan dana oleh nasabah biasanya diketahui oleh AO ketika melakukan wawancara langsung dengan nasabah. Nasabah biasanya akan memberikan keterangan yang tidak sesuai atau tidak masuk akal dengan besarnya jumlah pembiayaan yang akan diajukan berdasarkan jenis usaha dan keperluan dana yang dibutuhkan.78 Dengan begitu AO tidak bisa melanjutkan proses pengajuan pembiayaan oleh nasabah karena sudah mengetahui bahwa nasabah mempunyai i’tikad tidak baik untuk menyalahgunakan dana tersebut.

Setelah melakukan upaya preventif sebelum pembiayaan disetujui, upaya BPRS Aman Syariah dalam mencegah risiko penyalahgunaan dana juga dilakukan setelah pembiayaan disetujui, upaya tersebut dilakukan melalui monitoring atau pemantauan terhadap pembiayaan murabahah.79 Bentuk monitoring yang dilakukan BPRS Aman Syariah adalah sebagai berikut:

1. Kunjungan Lokasi Fisik

Yaitu dengan datang langsung ke lokasi nasabah minimal 1 kali dalam sebulan untuk memantau apakah dana yang sudah diberikan

78 Ibid.

79Wawancara dengan Bapak Sugiyanto, Direktur BPRS Aman Syariah Sekampung, Senin 16 Mei 2019.

digunakan sesuai dengan tujuan awal atau tidak. Pihak bank akan mengecek nota-nota pembelian untuk memastikan bahwa barang yang dibeli oleh nasabah sesuai dengan tujuan pembiayaan.

2. Maintenance

Maintenance merupakan salah satu upaya yang dilakukan BPRS Aman Syariah untuk memelihara hubungan baik dengan nasabah agar nasabah merasa nyaman dan loyal terhadap bank.

Maintenance digunakan oleh bank sebagai upaya bank untuk melakukan pendekatan secara emosional kepada nasabah, selain itu juga maintenance berfungsi sebagai monitoring pembiayaan yang dilakukan oleh bank, serta memantau dan menganalisa kondisi usaha yang sedang terjadi. Account Officer BPRS Aman Syariah mengatakan bahwa bentuk maintenance yang dilakukan oleh BPRS Aman Syariah yaitu dengan menghubungi melalui sms atau telepon ataupun secara langsung berkunjung ketempat nasabah untuk collection (mengambil angsuran) atau untuk sekedar silaturahmi.80

3. Trade Checking

BPRS Aman Syariah tidak hanya melakukan kunjungan atau survei ditempat nasabah. Tetapi pihak bank juga melakukan kunjungan ke lingkungan nasabah, tetangga atau rekan bisnis nasabah untuk memantau kondisi usaha yang dijalankan oleh nasabah tersebut. BPRS Aman Syariah melakukan trade checking ini untuk memantau aktivitas

80Wawancara dengan ibu Eka Wulandari, Account Officer BPRS Aman Syariah, Senin 16 Mei 2019.

usaha nasabah melalui orang lain, sehingga bank dapat menilai apakah usaha yang dijalankan nasabah sesuai atau tidak dengan pengajuan pembiayaan.

4. Credit Checking

BPRS Aman Syariah melakukan pemantauan pembiayaan dengan memanfaatkan informasi yang berkaitan dengan kelancaran utang piutang. Hal ini dapat dilihat dari kelancaran nasabah melakukan pembayaran, apakah ada penunggakan dalam pembayaran atau tidak.

Karena penyalahgunaan dana menjadi faktor utama terjadinya pembiayaan bermasalah di BPRS Aman Syariah, dimana terdapat banyak kasus penyalahgunaan dana dan akhirnya pembiayaan tersebut menjadi macet atau bermasalah. Hal ini terjadi ketika dana yang seharusnya diperuntukkan untuk modal kerja digunakan untuk keperluan lain, maka terdapat kemungkinan angsuran yang dibayarkan nasabah tidak akan berjalan lancar sehingga terjadi pembiayaan bermasalah yang disebabkan oleh penyalahgunaan dana.81

Berdasarkan pemaparan di atas, upaya-upaya yang dilakukan BPRS Aman Syariah untuk mencegah risiko penyalahgunaan dana melalui upaya preventif sesuai dengan teori A. Wangsawidjaja Z. A.

Wangsawidjaja Z menyebutkan bahwa upaya-upaya untuk mencegah risiko penyalahgunaan dana dapat dilakukan melalui upaya preventif sebelum pembiayaan disetujui dan upaya preventif setelah pembiayaan

81 Ibid.

disetujui.82 Bentuk upaya yang dilakukan BPRS Aman Syariah melalui penilaian kelayakan pembiayaan dengan prinsip 5C merupakan bentuk upaya preventif sebelum pembiayaan disetujui. BPRS Aman Syariah menggunakan analisis 5C dalam menilai calon nasabah, hal ini untuk menentukan pengajuan pembiayaan pada murabahah yang disetujui atau ditolak.

Penilaian kelayakan pembiayaan dengan prinsip 5C pada BPRS Aman Syariah sudah dilaksanakan dengan baik, hanya saja ada beberapa kendala yang menjadi permasalahan yang menyebabkan analisis tersebut tidak optimal. Dimana AO kesulitan untuk menilai character calon nasabah, yaitu saat melakukan wawancara langsung dengan calon nasabah yang mengajukan pembiayaan, terkadang calon nasabah menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan supaya bisa mendapatkan pembiayaan di BPRS Aman Syariah. sehingga AO harus melakukan kroscek lingkungan untuk memastikan kebenaran pernyataan calon nasabah.83

Selain itu upaya BPRS Aman Syariah dalam mencegah risiko penyalahgunaan dana melalui peemantauan atau monitoring juga telah sesuai dengan teori yang ada. Dimana dalam teori disebutkan bahwa bentuk pengawasan atau monitoring nasabah pembiayaan murabahah dapat dilakukan melalui kunjungan lokasi fisik, trade checking dan credit

82 A. Wangsawidjaja Z., Pembiayaan Bank Syariah, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2012), 95-101.

83Wawancara dengan ibu Eka Wulandari, Account Officer BPRS Aman Syariah, Senin 16 Mei 2019.

checking.84 Dalam hal ini BPRS Aman Syariah juga melakukan upaya monitoring atau pengawasan melalui kunjungan ke lokasi nasabah, menjalin hubungan baik dengan nasabah (Maintenance), trade checking (kroscek lingkungan) sampai dengan credit checking untuk memantau kelancaran nasabah dalam membayar angsuran.

Proses monitoring atau pengawasan terhadap nasabah pembiayaan murababah di BPRS Aman Syariah sudah dilaksanakan dengan baik, hanya saja ada beberapa kendala yang menyebabkan pengawasan tersebut tidak optimal. Account Officer BPRS Aman Syariah menjelaskan bahwa banyak kendala yang dihadapi ketika bank melakukan kunjungan lokasi fisik nasabah yaitu jauhnya lokasi nasabah, jalan transport yang sulit dijangkau, dan ketidakkooperatifan nasabah ke pihak bank ketika dilakukan monitoring melalui telepon ataupun kunjungan langsung.85 Ini artinya monitoring belum dilakukan secara menyeluruh dan kurang optimal karena adanya kendala tersebut sehingga masih berpeluang terjadi penyalahgunaan dana oleh nasabah pada saat pembiayaan sudah dicairkan.

Adapun upaya-upaya yang sudah dilakukan BPRS Aman Syariah dalam mencegah risiko penyalahgunaan dana belum memberikan dampak atau hasil terhadap jumlah pembiayaan bermasalah yang ada di BPRS Aman Syariah. Hal ini di tunjukkan berdasarkan data jumlah nasabah pembiayaan bermasalah sebagai berikut:

84 Ikatan bankir Indonesia, Mengelola Bisnis Pembiayaan Bank Syariah. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama, 2015), 129.

85Wawancara dengan ibu Eka Wulandari, Account Officer BPRS Aman Syariah, Senin 16 Mei 2019.

Tabel 4.1

Data Jumlah Nasabah Pembiayaan Bermasalah BPRS Aman Syariah86

No Tahun Jumlah Nasabah Pembiayaan Bermasalah

1 2015 -

2 2016 3

3 2017 6

4 2018 46

Sumber: PT. BPRS Aman Syariah Sekampung

Berdasarkan data jumlah nasabah pembiayaan bermasalah yang setiap tahun meningkat menunjukkan bahwa upaya-upaya yang dilakukan BPRS Aman Syariah belum memberikan dampak untuk mengurangi jumlah pembiayaan bermasalah dan upaya tersebut belum dikatakan berhasil untuk mengurangi angka pembiayaan bermasalah di BPRS Aman Syariah.

86 Dokumentasi PT. BPRS Aman Syariah dikutip pada 23 Januari 2019.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa upaya BPRS Aman Syariah dalam mencegah risiko penyalahgunaan dana dilakukan melalui upaya preventif sebelum dan sesudah pembiayaan disetujui. Sebelum pembiayaan disetujui BPRS Aman Syariah melakukan upaya dengan analisis 5C untuk menilai kelayakan pembiayaan.

Sedangkan bentuk upaya preventif setelah pembiayaan disetujui BPRS Aman Syariah melakukan monitoring atau pengawasan terhadap pembiayaan murabahah dengan kunjungan lokasi nasabah, maintenance, trade checking, serta credit checking. Upaya-upaya tersebut sudah dilaksanakan dengan baik, hanya saja ada beberapa kendala yang menyebabkan upaya tersebut tidak optimal, seperti sulitnya menilai character nasabah, pengawasan yang tidak menyeluruh serta penerapan kebijakan pembiayaan murabahah modal kerja di BPRS Aman Syariah yang diberikan dalam bentuk uang bukan dalam bentuk barang, sehingga masih berpeluang terjadi penyalahgunaan dana yang dilakukan oleh nasabah. Selain itu upaya-upaya yang sudah dilakukan BPRS Aman Syariah dalam mencegah risiko penyalahgunaan dana belum memberikan dampak atau hasil untuk mengurangi pembiayaan bermasalah. Hal ini di tunjukkan berdasarkan data jumlah nasabah pembiayaan bermasalah yang masih meningkat setiap tahunnya.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan mengenai Upaya Bank dalam Mencegah Risiko Penyalahgunaan Dana pada Pembiayaan murabahah, maka peneliti memberikan beberapa saran bagi pihak BPRS Aman Syariah sebagai berikut:

1. BPRS Aman Syariah sebaiknya mempertahankan dan meningkatkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan murabahah agar dapat mengantisipasi terjadinya penyalahgunaan dana.

2. Account Officer harus lebih cermat dan teliti dalam menganalisis character nasabah terhadap calon nasabah yang mengajukan pembiayaan murabahah.

3. Selalu melakukan monitoring yang komprehensif yang dilakukan secara disiplin dan konsisten agar kualitas pembiayaan tetap terjaga dalam keadaan baik.

4. Pihak bank harus lebih mengoptimalkan upaya preventif terhadap pembiayaan nasabahnya supaya nasabah yang melakukan penyalahgunaan dana tidak terus menerus bertambah disetiap tahunnya.

DAFTAR PUSTAKA

Antonio, Muhammad Syafi’i. Bank Syariah dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press, 2001.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:

Rineka Cipta, 2010.

Bungin, M. Burhan. Metodologi Penelitian Sosial & Ekonomi. Jakarta: Kencana, 2013.

Fathoni, Abdurrahmat. Metodelogi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi.

Jakarta: Rineka Cipta, 2011.

Hakim, Lukmanul. Manajemen Risiko Pembiayaan Mutabahah pada Bank BNI Syariah Cabang Fatmawati. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2011 dalam repository.uinjkt.ac.id diunduh pada 20 November 2018.

Ismail. Perbankan Syariah. Jakarta: Kencana, 2011.

---. Manajemen Perbankan: Dari Teori Menuju Aplikasi. Jakarta: Kencana, 2010.

Karim, Adiwarman A. Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013.

Kasiram, Moh. Metode Penelitian : Kualitatif – kuantitatif. Malang: UIN-Maliki Press, 2010.

Muhammad. Manajemen Bank Syariah. Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2011.

Mujahidin, Akhmad. Hukum Perbankan Syariah. Jakarta: Rajawali Pers, 2016.

Mustafa, Imam. Fiqih Muamalah Kontemporer. Lampung: STAIN Jurai Siwo Metro Lampung, 2014.

Patton, Michael Quinn. Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Peraturan Bank Indonesia No.13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.

Rakhmah, Arsyada. Penyelesaian Masalah Penyimpangan Penggunaan Dana Murabahah Bil Wakalah di BMT Al-Hikmah Jepara. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2017 dalam digilib.uin-suka.ac.id diunduh pada 20 November 2018.

Rozalinda. Fikih Ekonomi Syariah: Prinsip dan Implementasi pada Sektor Keuangan Syariah. Jakarta: Rajawali Pers, 2016.

Saebani, Beni Ahmad dan Kadar Nurjaman. Manajemen Penelitian. Bandung:

Pustaka Setia, 2013.

Saeed, Abdullah. Bank Islam dan Bunga: Studi Kritis Larangan Riba dan Interpretasi Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Sugiyono. Metode Penelitian Manajemen. Bandung: Alfabeta, 2013.

Sumar’in. Konsep Kelembagaan Bank Syariah. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012.

Suryabarata, Sumardi. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Grafindo Persada, 2011.

Umam, Khaerul. Manajemen Perbankan Syariah. Bandung: Pustaka Setia, 2013.

Umam, Khotibul. Perbankan Syariah; Dasar-Dasar dan Dinamika Perkembangannya di Indonesia.Jakarta: Rajawali Pers, 2016.

Usanti, Trisadini P. dan Abd. Shomad. Transaksi Bank Syariah. Jakarta: Bumi Aksara, 2013.

Usman, Rachmadi. Aspek Hukum Perbankan Syariah di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 2012.

Veithzal Rivai. Islamic Financial Management: Teori, Konsep, dan Aplikasi:

Panduan Praktis untuk Lembaga Keuangan, Nasabah, Praktisi, dan Mahasiswa. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.

Wahyudi, Imam dkk. Manajemen Risiko Bank Islam. Jakarta: Salemba Empat, 2013.

Z., A.Wangsawidjaja. Pembiayaan Bank Syariah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Zainudin, Muhammad. Analisis Penanganan Pembiayaan Murabahah Bermasalah di BMT Surya Sekawan Mandiri dalam Perspektif Ekonomi Islam. Semarang: UIN Walisongo, 2015 dalam eprints.walisongo.ac.id diunduh pada 20 November 2018.

Zuhairi et.al. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers, 2016.

UPAYA BANK DALAM MENCEGAH RISIKO PENYALAHGUNAAN DANA PADA PEMBIAYAAN MURABAHAH (STUDI KASUS DI BPRS

AMAN SYARIAH SEKAMPUNG)

ALAT PENGUMPUL DATA (APD)

A. Wawancara

1. Wawancara dengan Direktur PT. BPRS Aman Syariah Sekampung a. Berapakah jumlah nasabah pembiayaan murabahah yang ada di BPRS

Aman Syariah?

b. Bagaimana sistem pengadaan barang pada pembiayaan murabahah di BPRS Aman Syariah?

c. Selama ini adakah kasus penyalahgunaan dana yang dilakukan oleh nasabah khususnya pada pembiayaan murabahah?

d. Apakah penyalahgunaan dana ini termasuk risiko yang dihadapi oleh BPRS Aman Syariah?

e. Adakah upaya BPRS Aman Syariah dalam mencegah risiko penyalahgunaan dana?

f. Bagaimana bentuk upaya BPRS Aman Syariah dalam mencegah penyalahgunaan dana ?

2. Wawancara dengan Marketing bagian Pembiayaan

a. Bagaimana prosedur analisis pembiayaan melalui pendekatan 5C yang dilakukan oleh BPRS Aman Syariah?

b. Apakah pendekatan 5C yang meliputi character, capital, capacity, collateral, condition of economy sudah diterapkan semua dalam melakukan analisis pembiayaan, terutama dalam menilai karakter calon nasabah?

c. Apakah ada kendala dalam melakukan analisis 5C?

d. Apakah ada tanda-tanda atau gejala sebelum terjadinya penyalahgunaan dana oleh nasabah?

e. Bagaimana bentuk monitoring yang dilakukan BPRS Aman Syariah untuk memantau nasabah pembiayaan murabahah?

f. Apa saja yang diperiksa ketika melakukan monitoring langsung ke lokasi nasabah?

g. Jika dari hasil monitoring langsung ke lokasi nasabah ditemukan tanda-tanda atau gejala timbulnya penyalahgunaan dana, bagaimana langkah bank untuk mengantisipasi penyalahgunaan dana tersebut?

h. Adakah kendala ketika melakukan kunjungan ke lokasi fisik / lokasi nasabah?

B. Dokumentasi

1. Sejarah dan perkembangan PT. BPRS Aman Syariah Sekampung.

2. Visi dan Misi PT. BPRS Aman Syariah Sekampung.

3. Struktur Organisasi PT. BPRS Aman Syariah Sekampung.

Dalam dokumen Eka Riana NPM. 1704100264 (Halaman 53-68)

Dokumen terkait