BAB II LANDASAN TEORI
2.1.7. Profil Risiko Bank
Risiko kredit pada umumnya terdapat pada seluruh aktivitas Bank yang kinerjanya bergantung pada kinerja pihak lawan (counterparty), penerbit (issuer), atau kinerja peminjam dana (borrower). Risiko Kredit juga dapat diakibatkan oleh terkonsentrasinya penyediaan dana pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu”.
Menurut Ghozali (2007), risiko kredit didefinisikan sebagai risiko kerugian yang dikaitkan dengan kemungkinan gagal bayar oleh nasabah dalam memenuhi kewajibannya atau risiko dimana debitur tidak dapat melunasi hutangnya.
2.1.8.2. Risiko Pasar
Dalam SE No.13/24/DPNP/2011 dijelaskan bahwa “Risiko Pasar adalah Risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan dari kondisi pasar, termasuk Risiko perubahan harga option. Risiko Pasar meliputi antara lain Risiko suku bunga, Risiko nilai tukar, Risiko ekuitas, dan Risiko komoditas”.
Menurut Ghozali (2007) “risiko pasar adalah risiko gabungan yang terbentuk akibat perubahan suku bunga, perubahan nilai tukar serta hal-hal lain yang menentukan harga pasar saham, maupun ekuitas dan komoditas”.
2.1.8.3. Risiko Likuiditas
Dalam SE No.13/24/DPNP/2011 dijelaskan bahwa Risiko Likuiditas adalah
“Risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank. Risiko ini disebut juga Risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk). Risiko Likuiditas juga dapat
disebabkan oleh ketidakmampuan Bank melikuidasi aset tanpa terkena diskon yang material karena tidak adanya pasar aktif atau adanya gangguan pasar (market disruption) yang parah. Risiko ini disebut sebagai Risiko likuiditas pasar (market liquidity risk)”.
Menurut Ghozali (2007) risiko likuiditas dapat dibedakan menjadi 2 yaitu risiko likuiditas asset (asset liquidity risk) dan risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk). Risiko likuiditas asset sering disebut juga dengan market/product liquidity risk yang timbul ketika transaksi tidak dapat dilaksanakan pada harga pasar yang terjadi.
Sedangkan risiko likuiditas pendanaan yang sering juga disebut cash flow risk yaitu ketidakmampuan memenuhi kewajiban yang sudah jatuh tempo yang pada akhirnya akan mengakibatkan likuidasi atas asset tertentu.
2.1.8.4. Risiko Operasional
Menurut SE No.13/24/DPNP/2011, Risiko Operasional adalah “Risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank. Sumber Risiko Operasional dapat disebabkan antara lain oleh sumber daya manusia, proses, sistem, dan kejadian eksternal”.
Menurut Ghozali (2007), risiko operasional adalah risiko kerugian sebagai akibat dari tindakan manusia, proses, infrastuktur atau teknologi yang berdampak pada kegiatan operasional bank. Termasuk dalam risiko ini adalah kegiatan yang menjurus terjadinya kecurangan, kegagalan manajemen, tidak memadainya sistem pengendalian dan prosedur operasional. Kesalahan teknis dapat menyebabkan kerusakan sistem informasi, kerusakan proses transaksi, tidak berfungsinya sistem settlement atau tidak berjalannya back-office operation.
2.1.8.5. Risiko Hukum
Risiko Hukum menurut SE No.13/24/DPNP/2011 adalah “Risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini juga dapat timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau agunan yang tidak memadai”
Menurut Ghozali (2007) Risiko hukum adalah risiko yang timbul dari potensi terjadinya pelanggaran kontrak, kasus pengadilan atau kebijakan yang salah yang dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap kondisi keuangan maupun operasional bank.
Risiko hukum umumnya berkaitan dengan risiko kredit oleh karena kerugian counterparty dimana bank mencari penyelesaian melalui pengadilan. Bentuk lain adalah gugatan terhadap perusahaan yang dilakukan oleh para pemegang saham karena menderita kerugian besar.
2.1.8.6. Risiko Sratejik
Risiko Stratejik menurut SE No.13/24/DPNP/2011 adalah “Risiko akibat ketidaktepatan Bank dalam mengambil keputusan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Sumber Risiko Stratejik antara lain ditimbulkan dari kelemahan dalam proses formulasi strategi dan ketidaktepatan dalam perumusan strategi, ketidaktepatan dalam implementasi strategi, dan kegagalan mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis”.
Menurut Ghozali (2007), risiko strategik adalah risiko yang disebabkan adanya penetapan dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya bank terhadap perubahan eksternal. Akibat
dari keputusan yang tidak tepat ini, bank harus mengeluarkan biaya yang besar dan gagal mencapai target bisnisnya.
2.1.8.7. Risiko Kepatuhan
Risiko Kepatuhan menurut SE No.13/24/DPNP/2011 adalah “Risiko yang timbul akibat Bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang- undangan dan ketentuan yang berlaku. Sumber Risiko Kepatuhan antara lain timbul karena kurangnya pemahaman atau kesadaran hukum terhadap ketentuan maupun standar bisnis yang berlaku umum”.
Menurut Ghozali (2007), risiko kepatuhan merupakan risiko yang disebabkan bank tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Risiko kepatuhan melekat pada risiko bank yang terkait pada peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku, seperti risiko kredit terkait dengan ketentuan kewajiban pemenuhan modal minimum (KPMM), Kualitas Aktiva Produktif, Pembentukan Penyisihan Aktiva Produktif (PPAP), Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), risiko pasar terkait dengan ketentuan Posisi Devisa Netto (PDN), risiko Strategik terkait dengan ketentuan Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) bank, dan risiko lain yang terkait dengan ketentuan tertentu.
2.1.8.8. Risiko Reputasi
Risiko Reputasi adalah Risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Bank. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengkategorikan sumber Risiko Reputasi bersifat tidak langsung (below the line) dan bersifat langsung (above the line) (SE No.13/24/DPNP/2011).
Menurut Ghozali (2007), risiko reputasi adalah risiko kerusakan potensial sebagai akibat opini negatif publik terhadap kegiatan bank sehingga bank mengalami penurunan jumlah nasabah atau menimbulkan biaya besar karena gugatan pengadilan atau penurunan pendapatan bank. Rumor dipasar atau persepsi publik merupakan penyebab signifikan didalam menentukan tingkat risiko reputasi.