Dalam penanganan wabah COVID-19 di China, Departemen Kesehatan pada ting- kat kabupaten perlu mengatur dan menerapkan pelacakan dan manajemen kontak dekat dengan institusi terkait. Orang-orang yang pernah kontak dekat dengan orang yang suspek dan kasus yang terdiagnosis secara klinis (hanya di Provinsi Hubei), atau kasus yang telah dikonfirmasi, atau pembawa (carrier) tanpa gejala harus mendapat- kan observasi isolasi medis terpusat. Daerah yang tidak memenuhi persyaratan dapat mengadopsi observasi medis isolasi berbasis rumah. Untuk lebih jelas, dapat dilihat pada Rencana Manajemen Kontak Dekat COVID-19 Edisi Keempat. Pantau suhu tu- buh paling kurang 2 kali seharid an pantau apakah kontak dekat menunjukkan adanya gejala serangan akut pernapasan atau gejala terkait lainnya dan monitor perkemban- gan penyakit. Periode observasi untuk kontak dekat adalah 14 hari sejak kontak tera- khir dengan kasus COVID-19 atau pembawa (carrier) tanpa gejala.
Pelacakan kontak dekat digunakan untuk mengidentifikasi memiliki hubungan dekat dengan seseorang yang didiagnosis dengan penyakit Coronavirus (COVID-19). Ses- eorang dari unit kesehatan umum setempat akan menghubungi kontak dekat setiap hari saat individu berisiko terinfeksi untuk memantau gejala-gejalanya. Kontak ter- dekat yang memiliki riwayat kontak dengan penderita harus mengisolasi diri di rumah selama 14 hari setelah kontak terakhir dengan kasus yang dikonfirmasi.
Orang-orang yang direkomendasikan untuk diisolasi tidak boleh menghadiri tem- pat-tempat umum, khususnya pekerjaan, sekolah, penitipan anak atau universitas.
Jangan izinkan pengunjung masuk ke rumah. Tidak perlu memakai masker di rumah.
Jika memungkinkan, hubungi orang lain seperti teman atau keluarga, yang tidak di- haruskan terisolasi, untuk mendapatkan makanan atau keperluan lain. Jika harus meninggalkan rumah, seperti mencari perawatan medis, diwajibkan mengenakan masker bedah.
Kemenkes mengadopsi tahapan pelacakan kontak erat terdiri dari 3 komponen utama yaitu identifikasi kontak (contact identification), pencatatan detil kontak (contact listing) dan tindak lanjut kontak (contact follow up).
Ada 6 (enam) tahapan yang harus dilakukan dalam memonitor kontak terdekat terkait penyebaran COVID-19, yaitu:
1. Identifikasi kontak
Identifikasi kontak merupakan bagian dari investigasi kasus. Jika ditemukan ka- sus COVID-19 yang memenuhi kriteria pasien dalam pengawasan, kasus kon- firmasi, atau kasus yang mungkin, maka perlu segera untuk dilakukan identifika- si kontak erat. Informasi terkait paparan ini harus selalu dilakukan pengecekan ulang untuk memastikan konsistensi dan keakuratan data untuk memperlambat dan memutus penularan penyakit. Untuk membantu dalam melakukan identifi- kasi kontak dapat menggunakan tabel formulir identifikasi kontak erat.
2. Pendataan kontak
Petugas surveilans yang telah melakukan kegiatan identifikasi kontak dan pen- dataan kontak akan mengumpulkan tim baik dari petugas puskesmas setempat, kader, relawan dari PMI dan pihak-pihak lain terkait. Pastikan petugas yang me- mantau dalam kondisi sehat dan tidak memiliki penyakit komorbid. Alokasikan satu hari untuk menjelaskan cara melakukan monitoring, mengenali gejala, tindakan observasi rumah, penggunaan alat pelindung diri (APD). Komunikasi risiko harus secara pararel disampaikan kepada masyarakat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti munculnya stigma dan diskriminasi akibat ketidaktahuan.
Gambar 5.1:
Mekanisme identifikasi kontak dengan pendekatan tracking.
Sumber : Kemenkes, 2020
3. Tatalaksana Kontak
Seluruh kegiatan tatalaksana kontak ini harus dilakukan dengan penuh empati kepada kontak erat, menjelaskan dengan baik, dan tunjukkan bahwa kegiatan ini adalah untuk kebaikan kontak erat serta mencegah penularan kepada orang- orang terdekat (keluarga, saudara, teman dan sebagainya). Diharapkan tim pro- mosi kesehatan juga berperan dalam memberikan edukasi dan informasi yang benar kepada masyarakat.
4. Pemantauan
Petugas surveilans kab/kota dan petugas surveilans provinsi diharapkan dapat melakukan komunikasi, koordinasi dan evaluasi setiap hari untuk melihat perkembangan dan pengambilan keputusan di lapangan.
5. Pencatatan dan Pelaporan
Setiap penemuan kasus baik di pintu masuk negara maupun wilayah harus melakukan pencatatan sesuai dengan formulir (terlampir) dan menyampaikan laporan. Selain formulir untuk kasus, formulir pemantauan kontak erat juga ha- rus dilengkapi. Laporan hasil orang dalam pemantauan, pemantauan kontak erat, dan pemantauan orang dalam observasi/karantina dilaporkan setiap hari oleh petugas surveilans Dinkes setempat secara berjenjang.
Gambar 5.2:
Alur Pelaporan Pencataran Kontak Sumber : Kemenkes, 2020
Kisah Pasien Virus Corona di Indonesia Sembuh
Setelah sembuh dari virus corona, pasien 01, warga asal Depok, Jawa Barat mengisahkan pen- galamannya selama menjalani masa isolasi. Setelah sepekan menjalani masa isolasi, ia menangis lantaran identitas dan profesinya terbongkar ke publik. Tak hanya itu, ia juga mendapat banyak pesan di WhatsApp maupun Direct Message.
Pasien yang kini dinyatakan sembuh memberikan pesan untuk seluruh masyarakat Indonesia dan mengimbau, masyarakat dan media untuk mendukung pasien yang dinyatakan positif Covid-19 yang tengah dirawat di rumah sakit. Menurutnya, informasi yang tidak akurat sangat mengganggu psikis pasien yang positif corona. “Mendukung secara moral karena penyebaran informasi tidak akurat yang dilakukan oleh berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab itu sangat mengganggu psikis kami di dalam,”
Wanita berusia 31 tahun tersebut juga menyinggung soal identitasnya yang bocor. “Dan identitas kami yang bocor itu juga mengakibatkan masyarakat luar jadi panik,” katanya. Ia juga mengaku, ban- yak mendapat pesan dari media sosial soal kepanikan yang terjadi di masyarakat.
“Karena saya banyak sekali mendapatkan direct message dari sosial media maupun WhatsApp.
Mereka menanyakan ke saya, bagaimana gejalanya. Saya mau cek tapi saya takut, saya takut nanti identitas saya terbongkar”, terang dia.
Ia berharap identitas pasien yang positif virus corona harus dirahasiakan. Dan juga meminta, mas- yarakat untuk tidak menghakimi orang yang dinyatakan positif corona dengan berbagai stigma nega- tif. Pandangan negatif terhadap pasien tersebut dapat mengganggu kondisi psikis pasien yang juga dapat berdampak pada kondisi kesehatan tubuhnya.
Wanita yang berprofesi sebagai penari ini juga mengaku, seminggu menjalani isolasi, ia terus menangis karena stigma yang diterima. “Karena saya tahu yang dibicarakan oleh media dan orang- orang yang menyebarkan mengenai saya dan ibu saya dan menyerang profesi kami sebagai penari.
Penggiat seni dan pejuang budaya yang selama hidup kami satu keluarga kami selalu berbuat apap- un yang kami bisa untuk Indonesia dalam hal seni dan budaya,” ungkap dia.
Ia juga menegaskan, virus yang muncul pertama kali di Kota Wuhan, China ini tidak memandang bulu, tidak memilih ras serta agama dan profesi apapun dan virus ini bisa
menular ke siapapun. Pasien kasus 02 yang dinyatakan sembuh dari virus corona mengingatkan warga Depok untuk tetap bahagia demi meningkatkan imunitas tubuh. Perempuan berusia 64 tahun tersebut juga meminta warga Depok tak panik menghadapi wabah virus corona. “Warga Depok, mo- hon, jangan panik, kami semuanya harus tetap bahagia, tetap senang untuk menumbuhkan imun di dalam tubuh.”
Dia menjelaskan ketika panik, imunitas tubuh yang bersangkutan akan turun sebagai dampaknya.
Oleh karena itu, dia mengingatkan berulang kali untuk tak panik dan berserah kepada Tuhan. Selain itu, pasien tersebut berterima kasih kepada warga Depok terutama lingkungan tempatnya tinggal karena mereka tetap menerima kehadiran dirinya dan anaknya yang menjadi sempat terinfeksi virus corona meski saat ini sudah sembuh.