BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Proses Adaptasi Mahasiswa Asal Bima Terhadap Culture Shock
Individu yang hidup dalam lingkungan baru akan melalui proses penyesuaian diri atau disebut dengan adaptasi. Namun ketika seseorang hidup pada lingkungan baru dengan kondisi kebudayaan yang berbeda dari lingkungan asalnya, tak jarang akan menimbulkan situasi dimana seseorang merasa tidak mampu untuk menampilkan perilaku yang sesuai dengan aturan perilaku yang ada di lingkungan baru tersebut. Hal tersebut dikenal dengan istilah culture shock. Adapun culture shock yang dialami individu umumnya terjadi dalam masa transisi penyesuaian diri di lingkungan baru.
Mahasiswa asal Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Universitas Muhammadiyah Makassar merupakan contoh kelompok individu yang mengalami culture shock setelah memutuskan merantau dan kuliah di Makassar. Maka dari itu proses penyesuaian diri menjadi upaya penting bagi mereka agar dapat menyatu dengan segala kondisi di lingkungan baru mereka yakni di Makassar, termasuk dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang menyebabkan mereka mengalami culture shock.
Hasil penelitian ini menjelaskan tentang proses adaptasi mahasiswa asal Bima terhadap culture shock yang mereka alami dengan mengacu pada empat fase adaptasi budaya ditambah dengan satu fase (fase perencanaan) yang dikemukakan oleh Young Y. Kim (dalam Oriza, 2016: 2380) sebagai berikut:
1. Fase perencanaan
Fase perencanaan adalah fase awal sebelum mahasiswa masuk ke lingkungan baru. Pada fase ini mahasiswa mempersiapkan segala sesuatu yang dianggap perlu sebelum masuk ke lingkungan baru.
a) Persiapan materiel
Persiapan materiel yang dimaksud ialah segala persiapan yang bersifat kebendaan. Informan pertama bernama Yuyun selaku mahasiswa program studi Hukum Ekonomi Syariah menuturkan, “Saya mengurus berkas-berkas
penting untuk pendaftaran seperti SKHU, domisili, surat berkelakuan baik,
KTP, dan lain-lain.” (wawancara, 02/10/20)
Persiapan pertama yang dilakukan Yuyun sebelum merantau ke Makassar yakni mempersiapkan segala dokumen penting yang dianggap akan dibutuhkan dalam proses pendaftaran kuliah seperti SKHU, surat berkelakuan baik dan dokumen penting lainnya.
Informan kedua dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris bernama Jumriati mengemukakan, “Persiapan saya waktu itu untuk merantau ke
Makassar yang pertama itu berkas-berkas untuk masuk universitas, tiket kapal,
pakaian-pakaian.” (wawancara, 29/10/20)
Persiapan yang dilakukan Jumriati sebelum merantau hampir sama dengan informan pertama yakni mempersiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran kuliah, mempersiapkan beberapa pakaian sebagai salah satu kebutuhan utama, dan juga tiket kapal.
Informan berikutnya bernama Uswatun dari program studi Pendidikan Matematika menuturkan, “Paling kayak bahan pokok ji saja.” (wawancara, 28/09/20). Uswatun menjelaskan bahwa salah satu persiapan yang ia lakukan sebelum merantau ialah mempersiapkan kebutuhan pangan seperti bahan-bahan makanan dan sejenisnya untuk nantinya dikonsumsi sehari-hari.
Informan selanjutnya yakni mahasiswa dari program studi Ilmu Komunikasi bernama Yulianah, ia menuturkan, “Untuk persiapannya kalau
finansial sama orang tua lah.” (wawancara, 28/09/20). Bagi Yulianah salah
satu hal yang perlu dipersiapkan sebelum merantau ialah persiapan finansial atau biaya yang tentunya menjadi penunjang kebutuhan hidup selama di perantauan.
b) Persiapan mental
Persiapan mental yang dimaksud ialah kesiapan yang berasal dari dalam diri mahasiswa (secara psikologis) untuk memulai kehidupan di lingkungan baru. Yuyun mengungkapkan, “Dan juga keberanian supaya saya tidak takut.” (wawancara, 02/10/20). Persiapan lain yang dilakukan Yuyun ialah mendorong dirinya untuk bersikap berani agar ia tidak merasa takut untuk memulai kehidupan di Makassar dalam waktu yang cukup lama.
Informan berikutnya yaitu mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan bernama Rajak mengemukakan:
“Persiapannya sebelum merantau dulu sih sebelum ke Makassar sempat bergaul dengan kawan-kawan yang memang kuliah di Makassar. Semisalkan kondisi Makassar yang panas geografisnya panas sosial budaya masyarakatnya. Kita sudah tau bagaimana itu Makassar jadi itu bisa menjadi salah satu persiapan mental kita.” (wawancara, 30/09/20)
Persiapan yang dilakukan Rajak sebelum merantau ke Makassar ialah dengan terlebih dahulu mencari tahu tentang gambaran kondisi kehidupan di Kota Makassar melalui teman-teman sepergaulannya di desa yang telah lebih dulu kuliah di Makassar. Maka dengan adanya informasi tersebut Rajak merasa terbantu untuk mempersiapkan mentalnya menghadapi kehidupan di kota besar seperti Makassar.
Informan selanjutnya yaitu Jumriati menuturkan, “Saya memberanikan
diri saja untuk merantau karena saya percaya saya berjodoh untuk menetap
dan kuliah disana.” (wawancara, 29/10/20). Jumriati menjelaskan bahwa
keberanian dan keyakinannya untuk kuliah di Makassar merupakan modal awal baginya untuk melakukan perantauan.
Selanjutnya yaitu Uswatun mengungkapkan, “Kalau dari segi mental sih
paling minta arahan dulu dari orang tua bagaimana sikap ta di sini supaya
tidak mengganggu orang lain begitu.” (wawancara, 28/09/20). Persiapan
mental dari Uswatun ialah meminta bantuan kepada orang tuanya agar diberi arahan tentang bagaimana bersikap yang baik di lingkungan orang lain agar kelak ia tidak menimbulkan masalah yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Berdasarkan penuturan kelima informan mengenai persiapan awal yang dilakukan sebelum merantau pada fase perencanaan, dapat dilihat pada tabel matriks berikut:
Tabel 4.1. Fase Perencanaan dalam Proses Adaptasi Mahasiswa Asal Bima Terhadap Culture Shock
No. Nama Fase Perencanaan
1. Yuyun
- Mempersiapkan berkas pendaftaran kuliah - Memberanikan diri
2. Rajak
- Mencari informasi tentang Kota Makassar melalui teman sepergaulan di Bima yang kuliah di Makassar
3. Jumriati
- Mempersiapkan berkas pendaftaran kuliah - Memberanikan diri
4. Uswatun
- Mempersiapkan bahan pokok - Meminta arahan orang tua
5. Yulianah - Mempersiapkan finansial
(Sumber: Hasil olahan data primer, tahun 2021)
Berdasarkan penuturan informan mengenai fase perencanaan dalam proses adaptasi dapat disimpulkan bahwa persiapan yang dilakukan mahasiswa dapat digolongkan menjadi dua yakni persiapan secara materiel dan persiapan secara mental. Persiapan secara materiel meliputi persiapan yang berhubungan dengan benda-benda yang diperlukan oleh masing-masing mahasiswa seperti berkas kelengkapan persyaratan pendaftaran kuliah, pakaian-pakaian, bahan-bahan makanan, dan biaya hidup (uang). Adapun persiapan mahasiswa dari segi mental yakni seperti mempersiapkan keberanian diri untuk merantau, mencari informasi terlebih dahulu mengenai gambaran keadaan lingkungan baru yang akan dimasuki, serta meminta arahan kepada orang tua. Persiapan yang
dilakukan para mahasiswa berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
2. Fase honeymoon
Fase kedua adalah fase honeymoon, yaitu ketika mahasiswa telah berada di lingkungan baru yakni di Makassar, sekaligus menjadi tahap awal dari proses adaptasi. Pada fase ini suasanan baru yang dirasakan mahasiswa menimbulkan kesan tersendiri pada masing-masing mahasiswa.
a) Perasaan bahagia
Yuyun mengungkapkan, “Perasaannya senang, bahagia.” (wawancara, 02/10/20). Menurut Yuyun dirinya merasa bahagia setelah berada di Kota Makassar. Hal senada juga diungkapkan oleh mahasiswa lain yaitu Yulianah, ia mengungkapkan, “Cukup bahagia dan tentunya bersemangat untuk
menjalankan amanah yang diberikan orang tua.” (wawancara, 28/09/20)
Yulianah menjelaskan bahwa setelah tiba di tempat perantauan dirinya merasa bahagia dan merasa bersemangat untuk memulai kehidupannya di Makassar khususnya berkuliah.
Uswatun juga menuturkan hal yang sama, “Ya senang, bersyukur akhirnya
tiba di Makassar.” (wawancara, 28/09/20). Perasaan bahagia juga dirasakan
oleh Uswatun setelah berada di Makassar. Selanjutnya, Jumriati menuturkan
“Perasaan saya setelah di Makassar saya merasa senang karena apa yang saya inginkan itu sudah terwujud.” (wawancara, 29/10/20)
Senada dengan Yuyun, Yulianah, dan Uswatun, keinginan Jumriati untuk kuliah di Makassar membuatnya merasa bahagia setelah berada di Makassar.
b) Terkesan dengan keramahan penduduk
Yuyun menuturkan, “Kesannya Makassar seru dan orang-orangnya juga
pada asyik.” (wawancara, 02/10/20). Suasana Kota Makassar yang ramai dan
sepanjang hari dihidupkan dengan beragam aktivitas penduduknya serta keramahan para penduduk kepada orang lain termasuk kepada para pendatang membuat Yuyun merasa terkesan dengan Kota Makassar.
c) Terkesan dengan kondisi sosial budaya Makassar
Kondisi sosial budaya sebuah kota metropolitan seperti Kota Makassar yang dinilai sangat berbeda dengan Kabupaten Bima membuat mahasiswa Bima merasa terkesan, seperti yang diungkapkan Rajak bahwa:
“Yang menarik sekaligus uniklah semisalkkan menariknya kota Makassar ini lingkungannya cukup produktif dan sisi uniknya juga adalah kayak bahasanya. Itu menjadi semangat awal lah untuk kita yang baru di Makassar untuk belajar bagaimana budaya di Makassar ini.”
(wawancara, 30/09/20)
Aktivitas masyarakat di Kota Makassar yang setiap hari terbilang sibuk, membuat Rajak menilai Makassar sebagai kota yang produktif. Kesibukan masyarakat di kota yang terlihat berbeda dengan masyarakat di desa menjadi hal yang menarik bagi Rajak. Kemudian yang menarik lainnya adalah dari segi bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat. Sisi menarik yang ditemukan Rajak pada awal tinggal di Makassar membuatnya bersemangat untuk mempelajari budaya di Kota Makassar.
Jumriati juga menilai banyak hal menarik dari Kota Makassar. Jumriati menuturkan:
“Banyak yang menarik dari Kota Makassar menurut saya, seperti gedung-gedungnya, terus ada grab juga karena di kampung itu saya jarang sekali
naik mobil sedan begitu, dan juga ada pete-pete karena di kampung saya juga jarang ada pete-pete kayak gitu, dan juga bahasanya dengan orang-orang di sana beda jauh sekali dengan di sini dan juga aneh saya dengarnya begitu. Itu sih yang menarik menurut saya.” (wawancara,
29/10/20)
Gedung-gedung tinggi Kota Makassar serta tersedianya transportasi umum seperti layanan grab dan mobil angkutan umum yang dikenal dengan sebutan pete-pete, menjadi hal yang menarik bagi Jumriati. Terlebih transpotasi umum yang terdapat di Makassar masih terbilang jarang ditemukan di desa Jumriati. Selain dari segi bangunan dan transportasi kota, bahasa keseharian masyarakat setempat yang meskipun terdengar aneh tetapi menarik bagi Jumriati.
Berdasarkan penuturan kelima informan mengenai perasaan serta kesan yang didapatkan setelah berada di Makassar dalam fase honeymoon, dapat dilihat pada tabel matriks berikut:
Tabel 4.2. Fase Honeymoon dalam Proses Adaptasi Mahasiswa Asal Bima Terhadap Culture Shock
No. Nama Fase Honeymoon
1. Yuyun - Terkesan dengan keramahan penduduk
2. Rajak - Terkesan dengan sosial budaya Kota Makassar - Bersemangat mempelajari budaya Makassar
3. Jumriati - Terkesan dengan sosial budaya Kota Makassar
4. Yulianah - Merasa bahagia
5. Uswatun - Merasa bahagia
Berdasarkan penuturan informan mengenai fase honeymoon dalam proses adaptasi dapat disimpulkan bahwa setelah berada di Kota Makassar atau awal masuk di lingkungan Kota Makassar mahasiswa Bima merasakan hal positif yang mencakup perasaan bahagia karena telah berada di Makassar, merasa terkesan dengan keramahan para penduduk, dan merasa terkesan dengan kondisi sosial budaya Kota Makassar seperti suasana kota yang ramai dengan bangunan-bangunannya yang tinggi serta bahasa masyarakat setempat yang dinilai unik.
3. Fase frustation
Fase ketiga adalah fase frustation, yaitu fase ketika mahasiswa mulai menemukan berbagai masalah di lingkungannya sehingga semangat yang dirasakan pada fase sebelumnya tidak lagi sama karena mahasiswa mulai menyadari realita di lingkungan yang sebenarnya.
a) Kebingungan terhadap bahasa
Penggunaan bahasa keseharian oleh masyarakat di masing-masing daerah seperti penggunaan dialek dan kosa kata yang berbeda menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami oleh para pendatang yang berbeda secara kultural. Hal tersebut juga dialami oleh mahasiswa Bima. Yuyun sebagai informan pertama mengungkapkan:
“Saya sempat shock itu karena dari segi bahasanya, banyak menggunakan kata tambahan seperti ji, mi, ki, ka, dan lain sebagainya yang membuat saya keliru. Terus karena pengucapan bahasanya juga berbeda jadi saya tidak mengerti. Jadi pertamanya saya takut terus enggak pede kalau bicara.” (wawancara, 02/10/20)
Permasalahan pertama yang dialami Yuyun yaitu berkaitan dengan bahasa. Bahasa keseharian orang Makassar yang sering menggunakan kata imbuhan hampir disetiap kalimat seperti imbuhan ji, mi, ki, ka, dan lain-lainnya membuat Yuyun kebingungan saat berkomunikasi. Selain itu, perbedaan suku kata antara bahasa yang digunakan orang Makassar dengan bahasa yang biasanya Yuyun gunakan di Bima membuatnya tidak paham sehingga Yuyun merasa takut dan tidak percaya diri untuk berkomunikasi.
Selanjutnya yaitu Yulianah, ia mengungkapkan:
“Jadi pas pertama masuk dalam lingkungan budaya Makassar itu sendiri sempat kaget apalagi dalam hal bahasa. Banyak perbedaan logat, kata ganti, kata bantu. Itu sama sekali hal yang baru buat saya karena di Bima tidak ada kata bantu seperti itu. Terus kalau orang disini kan juga masih biasa menggunakan bahasa Indonesia tapi kalau di tempat saya di kampung betul-betul bahasa asli Bima. Kalau saya dengar logat Makassar juga bahasanya kayak dibolak balik begitu jadi saya bingung. Jadi bahasanya memang sangat berbeda sekali. Terus pernah waktu KKP di Gowa karena memang langsung berhadapan dengan kebudayaan yang sangat berbeda, berbaur dengan masyarakat yang sangat berbeda bahasanya jadi mereka bicara saya tidak tau saya bingung. Jadi ya merasa terasingkan sih dan kayak kebingungan begitu” (wawancara
28/09/20)
Perbedaan bahasa keseharian orang Makassar mulai dari dialek, penggunaan kata ganti seperti kata “kita” yang umumnya bermakna lebih dari satu orang tetapi bagi orang Makassar artinya “kamu”, kemudian penggunaan kata bantu seperti kata imbuhan ji, mi, ki, dan lainnya adalah sesuatu yang tidak ada dalam bahasa Bima. Serta penempatan kata dalam bahasa keseharian orang Makassar yang kadang dibolak-balik membuat Yulianah bingung saat diajak berkomunikasi. Perbedaan lainnya yaitu kebiasaan orang Makassar yang masih sering menggunakan Bahasa Indonesia saat berbicara sedangkan di
tempat asal Yulianah di Bima, masyarakatnya menggunakan bahasa asli Bima. Pengalaman lain yang juga pernah dialami ketika ia melaksanakan tugas KKP di salah satu kabupaten yang secara kultur tidak jauh berbeda dengan Makassar yaitu di Kabupaten Gowa. Pengalamannya berbaur langsung dengan masyarakat yang sangat berbeda dari segi budaya khususnya bahasa, membuat Yulianah merasa asing berada di tengah masyarakat tersebut.
Kebingungan terhadap bahasa juga dialami oleh Jumriati, ia mengungkapkan:
“Bahasanya yang sangat jauh berbeda bikin saya bingung sampai sekarang. Karena dulu sebelum ke Makassar saya pikir nda sulit seperti itu bahasanya. Pertama-tamanya saya kan belum bisa bahasa Makassar jadi saya hanya mendengarkan mereka saja tidak berani berbicara. Karena takut berbicara itu jadi saya merasa terkucilkan karena saya hanya diam saja, nda mau saya berbicara sekalipun. Saya minder karena tidak bisa sekali bahasa Makassar. Sulit sekali.” (wawancara, 29/10/20)
Bahasa orang Makassar yang sangat jauh berbeda dengan orang Bima membuat Jumriati hingga kini masih dibuat kebingungan. Semula ia beranggapan bahwa bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Kota Makassar tidak rumit dan mudah dipahami. Namun setelah ia berada di Makassar ia baru menyadari bahwa bahasa keseharian orang Makassar sangat sulit. Ketidakmampuannya berbahasa Makassar membuat Jumriati merasa tidak percaya diri untuk berkomunikasi sehingga ia lebih memilih untuk diam dan mendengarkan orang lain berbicara dan hal tersebut membuatnya merasa terkucilkan.
b) Cita rasa makanan
Permasalahan kedua yang dialami oleh mahasiswa Bima yakni perbedaan cita rasa makanan. Yulianah menuturkan, “Yang kedua dalam hal
makanannya. Makanan yang pake sagu itu yang kapurung dicampur dengan
bahan-bahan sayuran itu hal yang baru juga karena di Bima tidak ada sagu
jadi saya enggak suka.” (wawancara, 28/09/20)
Menurut Yulianah hal baru lainnya adalah dari segi makanan. Di Makassar terdapat makanan dengan bahan utamanya terbuat dari sagu yang dikenal dengan nama kapurung. Walaupun kapurung bukan makanan khas Makassar tetapi kebanyakan orang Makassar senang memakannya. Kapurung juga salah satu hidangan yang tergolong mudah dalam pembuatannya sehingga sering dijadikan sebagai menu makanan dalam acara pertemuan seperti arisan ataupun perkumpulan yang sifatnya informal. Makanan seperti kapurung yang terbuat dari sagu dan sayur-sayuran adalah makanan yang tidak disukai Yulianah karena di Bima tidak terdapat sagu sehingga ia tidak terbiasa dengan rasa dari sagu ataupun makanan-makanan yang berbahan dasar sagu.
Persoalan makanan lainnya juga diungkapkan oleh Uswatun,
“Masakannya disini berbeda. Kalau disini itu saya lihat masakannya itu enak sih iya cuma kayak banyak campurannya. Kalau di Bima itu kita masak, bumbunya ya sederhana saja. Jadi aneh saja rasanya karena biasanya makan makanan yang bumbunya itu seadanya saja.”
(wawancara, 28/09/20)
Makanan khas Makassar dikenal dengan rasa bumbunya yang kuat serta kebiasaan orang Makassar menggunakan berbagai jenis bumbu dan rempah dalam mengolah makanan. Tetapi bagi Uswatun ia tidak terbiasa dengan
makanan yang diolah dengan berbagai macam bumbu karena orang-orang di Bima hanya menggunakan bumbu seadanya saat memasak sehingga cita rasa makanan di Makassar dirasa kurang cocok dengan lidah Uswatun.
Permasalahan yang sama juga diungkapkan Jumriati. Ia mengungkapkan,
“Saya baru tau ternyata di Makassar itu makanannya macam-macam seperti ada pisang epe, kapurung, barobbo, tapi ada beberapa makanan yang rasanya
aneh di lidah saya seperti kapurung itu.” (wawancara, 29/10/20)
Menurut Jumriati hal baru yang ia ketahui setelah tinggal di Makassar ialah banyaknya jenis makanan yang biasa dimakan ataupun dijual di Makassar. Namun dari berbagai jenis makanan tersebut terdapat beberapa makanan yang tidak disukai oleh Jumriati, salah satunya kapurung. Cita rasa makanan di Makassar yang berbeda dengan yang biasanya dimakan oleh Jumritati selama di Bima juga menjadi alasan ia tidak menyukai beberapa jenis makanan di Makassar.
c) Keamanan kota
Faktor keamanan kota juga dinilai sebagai masalah bagi mahasiswa Bima setelah tinggal di Kota Makassar. Yuyun mengungkapkan, “Saya kira
Makassar itu aman kayak diperkampungan gitu jauh dari kejahatan ternyata
tidak. Ternyata di lorong saya ada begal. Makanya saya tidak berani pulang
larut malam. Jadi keamanannya saya tidak suka, tindak kejahatannya banyak.”
(wawancara, 02/10/20)
Kondisi keamanan di Kota Makassar yang marak terjadi pembegalan membuat Yuyun tidak berani pulang larut malam saat bepergian di malam hari.
Sebelumnya ia yang menganggap bahwa Kota Makassar adalah kota yang aman seperti di kampung halamannya merasa terkejut setelah sempat mengetahui adanya begal di daerah tempat tinggalnya di Makassar.
Kemudian permasalahan lain juga diungkapkan oleh Rajak, “Sedikit
membuat risih ya ini sih kayak geng motor. Saya kalau liat kayak geng motor
begitu lewat ya agak sedikit takut sih. Apalagi pernah liat kejadian di
Pettarani.” (wawancara, 30/09/20)
Maraknya geng motor yang berkeliaran di jalan raya Kota Makassar sudah menjadi salah satu permasalahan umum di Makassar. Namun bagi Rajak sendiri, keberadaan geng motor secara nyata yang ternyata mengerikan baru ia ketahui setelah berada di Makassar, dikarenakan di tempat asalnya di Bima keberadaan geng motor masih terbilang jarang bahkan tidak pernah. Sebuah kejadian di salah satu jalan raya di Makassar yang disebabkan oleh geng motor juga pernah disaksikan langsung oleh Rajak. Hal tersebut menjadikannya begitu takut jika melihat komplotan geng motor melintas di jalan.
Permasalahan pada keamaan kota lainnya diungkapkan pula oleh Uswatun. Ia menuturkan, “Kalau dilihat dari segi masyarakatnya sih ini ada
begal, kalau di kampung nda ada begal. Terus ini ada juga si Mr. Black, jadi
ngeri juga.” (wawancara 28/09/20)
Keberadaan begal yang menakutkan serta adanya pelaku penyimpangan seks yang berkeliaran di sekitar tempat tinggal Uswatun yang dikenal dengan sebutan Mr. Black adalah permasalahan yang mengkhawatirkan bagi Uswatun.
Terlebih masalah-masalah tersebut adalah hal yang sebelumnya belum pernah dialami Uswatun selama di Bima.
d) Kondisi geografis
Kondisi geografis seperti perbedaan cuaca yang dirasakan oleh Mahasiswa Bima juga menjadi hal yang dikeluhkan setelah tinggal di Makassar. Rajak mengungkapkan, “Yang berbeda yang lainnya itu seperti cuacanya, jauh lebih
panas ternyata.” (wawancara, 30/09/20). Kondisi geografis Kota Makassar
menurut Rajak terasa lebih panas dibanding dengan di desa tempat asalnya. Kemudian hal serupa juga diungkapkan oleh Jumriati, “Pemikiran saya
Kota Makassar itu cuacanya dingin terus ternyata panas.” (wawancara,
29/10/20). Permasalahan yang sama juga dirasakan oleh Jumriati yakni cuaca di Makassar yang dirasa panas, padahal sebelumnya ia mengira bahwa Makassar adalah kota dengan kondisi geografisnya yang dingin.
e) Gaya pergaulan
Gaya pergaulan yang dimaksud ialah kebiasaan yang dilakukan oleh pemuda-pemudi atau remaja-remaja di kota dalam bergaul. Gaya pergaulan di kota dinilai berbeda oleh salah satu mahasiswa Bima yaitu Rajak. Ia mengungkapkan:
“Dari sisi pergaulannya ku lihat ada beberapa kriteria semisalkan dari teman-teman satu kelas itu kan atau satu angkatan ada pergaulannya yang bisa dikatakan sedikit elitis lah dalam pergaulannya kayak nongkrong di kafe atau warung kopi. Ya ku pikir yang biasa ku temani nongkrong di tempat biasa sih karena di kampung juga begitu kan.” (wawancara,
30/09/20)
Gaya pergaulan anak-anak di Kota Makassar contohnya pada teman-teman sekelas maupun teman seangkatan Rajak di kampus dinilai cukup elit
(berkelas), seperti menjadikan kafe atau warung kopi sebagai tempat untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman. Kebiasaan teman-temannya dalam bergaul tersebut dinilai berbeda dengan kebiasaannya selama di Bima. Saat di Bima Rajak bersama teman-teman sepergaulannya lebih sering menghabiskan