• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

C. Keterampilan Menyimak

3. Proses Menyimak

Menurut Munir (2015:3) di dalam proses menyimak, ada beberapa tahapan yang perlu dilalui oleh si penyimak. Tahap-tahap menyimak sebagai berikut:

1) Tahap mendengar (hearning)

Dalam tahap ini penyimak baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya.

2) Tahap memahami (understanding)

Setelah mendengar, ada keinginan penyimak untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh si pembicara.

3) Tahap menginterpretasi

Penyimak yang baik, yang cermat dan teliti, belum merasa puas jika hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara, dia ingin menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang

terdapat dan tersirat dalam ujaran itu.

4) Tahap menilai

Setelah memahami serta dapat menafsirkan atau menginterprestasikan isi pembicaraan, sang penyimak mulai menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan sang pembicara, tentang keunggulan dan kelemahan, kebaikan dan kekurangan sang pembicara.

5) Tahap menanggapi

Tahap ini merupakan tahap akhir dalam kegiatan menyimak.

Sang penyimak menyambut, mengecamkan, menyerap, serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya.

4. Factor yang Berpengaruh dalam Menyimak

Syamsuri (2013:62) menyatakan ada beberapa factor penting dalam keterampilan menyimak, di antaranya:

a. Unsur Pembicara

Pembicara harus menguasai materi, penuh percaya diri, berbicara sistematis dan kontak dengan penyimak juga harus bergaya menarik/bervariasi. Pembicara adalah person atau orang yang menyampaikan pesan, ide, informasi, gagasan, atau amanat pembicara.

b. Unsur Materi

Unsur yang diberikan harus actual, bermanfaat, sistematis dan seimbang. Materi yang disusn sebaliknya memperhatikan tingkat perkembangan siswa. Tema materi yang dipergunakan sebaiknya bervariatif. Dengan demikian, siswa tidak akan jenuh belajar dan pembelajaran minyimak menjadi menyenangkan.

c. Unsur Penyimak/Siswa

Penyimak adalah individu yang berposisi sebagai penerima pesan, reseftif, individu yang mendengar dan memahami isi bahan simakan yang disampaiakn oleh pembicara dalam suatu fenomena menyimak.

d. Unsur Suasana/Atmosfer

Suasana adalah segala komponen penyerta yang seiring dengan peristiwa menyimak di luar pembicara, materi, dan penyimak. Suasana atau atmosfer tersebut sangat mempengaruhi dan menentukan keefektifan menyimak.

D. Cerita

1. Pengertian Cerita

Menurut Mustakhim (2005: 12) cerita adalah gambaran tentang kejadian suatu tempat, kehidupan binatang sebagai lambang dari kehidupan manusia, kehidupan manusia dalam masyarakat, dan cerita tentang mite yang ada di dalam masyarakat. Mustakhim (2005: 12-13) menambahkan bahwa cerita mempunyai makna yang luas apabila ditinjau dari segi bentuk dan isi cerita. Dari segi bentuk cerita dimaknai bahwa cerita adalah fantasi atau khayalan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat (floklore), cerita yang benar-benar terjadi seperti sejarah (history), dan cerita dalam imajinasi penulis/pengarang (fiction).

Sedangkan cerita dari segi isi berupa cerita tentang kepahlawanan, cerita ilmu pengetahuan, cerita keagamaan, dan cerita tentang suka duka pengarang.

Bahri (2005: 17) cerita adalah sarana untuk menyampaikan ide atau pesan melalui serangkaian penataan yang baik dengan tujuan agar pesan menjadi lebih mudah diterima dan memberikan dampak yang lebih luas pada sasaran atau penyimak. Menurut Supriyadi (2006: 4) cerita anak adalah karya imajinatif dalam bentuk bahasa yang berisi pengalaman, perasaan, pikiran anak secara jujur yang ditulis oleh pengarang anak-anak atau dewasa dan secara khusus ditujukan bagi anak-anak.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan pengertian cerita adalah sebuah karya imajinatif dalam bentuk bahasa yang berisi

pengalaman, perasaan, pikiran yang ditulis oleh pengarang anak-anak atau dewasa dan secara khusus ditujukan bagi anak-anak dengan tujuan agar pesan menjadi lebih mudah diterima.

2. Unsur Cerita

Menurut Nurgiyantoro (2013: 221) unsur-unsur pembangun sebuah cerita terdiri atas dua macam yaitu unsur ekstrisik dan unsur intrinsik.

Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada di luar teks cerita seperti jati diri pengarang yang mempunyai ideologi, pandangan hidup, kondisi kehidupan sosial-budaya masyarakat yang dijadikan latar cerita, dan lain- lain. Sedangkan unsur intrinsik merupakan merupakan unsur pembangun cerita yang berasal dari dalam, yaitu: a) tokoh, b) alur cerita, c) latar, d) tema, e) moral, f) sudut pandang, dan g) stile dan nada.

a. Tokoh

Menurut Nurgiyantoro (2013: 222) tokoh cerita merupakan pelaku yang dikisahkan perjalanan hidupnya dalam cerita. Menurut Supriyadi (2002: 59) Tokoh cerita yang membawa amanah atau pesan baik adalah tokoh protagonis, sedangkan tokoh cerita yang memiliki sifat buruk disebut dengan tokoh antagonis.

b. Alur Cerita

Menurut Nurgiyantoro (2013: 237) alur dipahami sebagai rangkaian peristiwa yang terjadi berdasarkan hubungan sebab akibat.

Wellek (Supriyadi 2006: 60) mendefinisikan alur atau plot sebagai rangkaian peristiwa yang disusun secara logis dalam suatu cerita.

c. Latar

Menurut Nurgiyantoro (2013: 249) latar atau setting merupakan lokasi dimana cerita itu terjadi, waktu, kapan cerita itu terjadi, dan lingkungan sosial budaya.

d. Tema

Menurut Lukens (Nurgiyantoro, 2013: 260) tema merupakan gagasan yang mengikat cerita. Nurgiyantoro (2013: 249) menambahkan tema merupakan dasar pengembangan sebuah cerita.

e. Moral

Menurut Nurgiyantoro (2013: 265) moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca, misalnya: bermanfaat bagi kehidupan, bermakna positif, dan mendidik.

f. Sudut Pandang

Menurut Abrams (Nurgiyantoro, 2013: 269) sudut pandang merupakan cara atau pandangan pengarang sebagai sarana untuk menampilkan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa.

g. Style/gaya penceritaan

Menurut Nurgiyantoro (2013: 273) style berkaitan dengan masalah pilihan berbagai aspek kebahasaan yang dipegunakan dalam sebuah teks cerita.

3. Manfaat Cerita

Musfiroh (2005: 95-115) menjelaskan tentang manfaat sebuah cerita yang dipandang dari berbagai aspek yaitu:

a. Membantu pembentukan pribadi dan moral

Cerita sangat efektif untuk membentuk cara berpikir dan berperilaku seorang anak. Anak yang sudah biasa menyimak cerita, dalam jiwa mereka akan tumbuh sebagai pribadi yang hangat serta memiliki kecerdasan interpersonal. Selain itu, dengan menyimak cerita juga dapat mendorong perkembangan moral anak.

Hal tersebut dikarenakan di dalam sebuah cerita biasanya terkandung

contoh perilaku yang baik maupun perilaku yang buruk. Contoh perilaku yang baik dimaksudkan agar siswa dapat meniru dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan contoh perilaku yang buruk dimaksudkan agar siswa dapat menghindari dan tidak meniru perbuatan buruk tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

b. Menyalurkan kebutuhan imajinasi

Seorang anak membutuhkan penyaluran imajinasi mengenai berbagai hal yang selalu muncul di dalam pikiran mereka. Pada saat menyimak cerita

imajinasi yang ada pada diri anak akan mulai bekerja. Mereka membayangkan kejadian dan juga perilaku tokoh yang ada di dalam cerita. Imajinasi yang ada pada diri anak pada saat menyimak cerita akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah secara kreatif.

c. Memacu kemampuan verbal

Pada saat menyimak cerita, anak dapat belajar mengucapkan bunyi-bunyi yang bermakna dengan benar, sehingga mereka dapat menyusun kata-kata dengan logis dan mudah dipahami. Hal tersebut menjadikan anak terdorong untuk senang bercerita atau berbicara.

d. Merangsang minat baca

Menyimak cerita dapat menjadi cara yang efektif untuk menstimulus anak agar anak gemar membaca.

e. Membuka cakrawala pengetahuan

Dengan menyimak cerita maka akan menambah pengetahuan seorang individu tentang hal-hal yang belum diketahui. Misalnya saja bahan simakan cerita anak berupa cerita yang memiliki karakteristik budaya, sehingga anak dapat mengenal nama-nama tempat, kebiasaan masyarakat yang tinggal di daerah tertentu, bahasa yang digunakan, dan lain-lain yang sebelumnya belum diketahui oleh anak.

E. Boneka Tangan sebagai Media Pembelajaran Menyimak Cerita 1. Pengertian Boneka Tangan

Menurut Mufida (2013), boneka tangan adalah boneka yang hanya terdiri dari kepala dan dua tangan saja, sedangkan bagian badan dan kakinya hanya merupakan baju yang akan menutup lengan orang yang memainkannya disamping cara memainkannya juga hanya memakai tangan (tanpa menggunakan alat bantu yang lain).

Sudjana dan Rivai (Widowati, 2016) menyatakan bahwa boneka tangan adalah boneka yang digerakkan dari bawah oleh seseorang yang tangannya dimasukkan ke bawah pakaian boneka tersebut.

Berdasarkan pengertian yang dipaparkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa media boneka tangan adalah suatu media tiruan binatang yang digerakkan dari bawah oleh seseorang yang tangannya dimasukkan ke bawah pakaian boneka tersebut.

2. Jenis-Jenis Boneka

Ada beberapa jenis boneka tangan menurut ahli, sebagai berikut:

Menurut Daryanto (2013: 33) boneka dapat diklasifikasikan ke dalam lima jenis yaitu: a) boneka jari, b) boneka tangan, c) boneka tongkat, d) boneka tali, dan e) boneka bayang-bayang.

a. Boneka jari merupakan boneka yang dimainkan dengan menggunakan jari tangan.

b. Boneka tangan merupakan boneka yang dimainkan dengan menggunakan tangan.

c. Boneka tongkat seperti wayang-wayangan.

d. Boneka tali (marionet) digerakkan melalui tali yang menghubungkan kepala, tangan, dan kaki.

e. Boneka bayang-bayang (shadow pupet) merupakan boneka yang dimainkan dengan cara mempertontonkan gerak bayang-bayangnya.

Berdasarkan pemaparan tentang klasifikasi boneka di atas, maka peneliti memilih boneka tangan sebagai media untuk pembelajaran

menyimak cerita. Pemilihan media boneka tangan ini dikarenakan dapat menarik perhatian siswa dalam pembelajaran menyimak cerita, sehingga siswa dapat lebih mudah memahami isi yang terkandung di dalam cerita.

3. Penggunaan Media Boneka Tangan dalam Pembelajaran Menyimak Cerita

Cakra (2012: 64-65) menyatakan bahwa ada rambu-rambu dalam memainkan boneka yaitu: a) tanpa panggung, dan b) menggunakan panggung.

a. Memainkan boneka tanpa panggung dilakukan dengan cara sebagai berikut.

1) Boneka cukup dua buah.

2) Cara memainkan boneka harus tepat, jangan sampai lepas.

3) Dialog boneka ke anak cukup satu boneka saja.

4) Intonasi wajib diperhatikan.

5) Waktu dan misi.

b. Memainkan boneka dengan menggunakan panggung dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1) Konstruksi panggung harus memenuhi kriteria yang terbaik, antara lain:

a) panggung boneka jangan sampai banyak gambar, b) tempat penyimpanan boneka tangan harus ada,

c) tempat pendongeng dan pembantu harus sudah disediakan, dan

d) pemakaian background sudah jelas diatur dalam situasi dan kondisi dongeng.

2) Keluar atau masuknya boneka tangan harus diperhatikan.

3) Dialog boneka dengan anak hanya satu boneka saja.

4) Intonasi setiap pelaku boneka harus jelas.

5) Jumlah boneka yang main harus sudah disiapkan.

6) Misi dan waktu.

4. Manfaat Media Boneka Tangan

Menurut Daryanto (2013: 33) kelebihan menggunakan media boneka tangan sebagai media pembelajaran adalah sebagai berikut.

a. Efisien terhadap waktu, tempat, biaya, dan persiapan.

b. Tidak memerlukan keterampilan yang rumit.

c. Dapat mengembangkan imajinasi dan aktivitas anak dalam suasana gembira.

D. Kerangka Pikir

Keterampilan menyimak adalah suatu proses kegiatan untuk mengorganisasikan apa yang didengar dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi agar dapat memperoleh informasi dari seorang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang aling awal sebelum mempelajari keterampilan berbahasa yang lainnya.

Kegiatan menyimak merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan dalam kehidupan manusia dibandingkan dengan kegiatan berbicara, membaca,

dan menulis. Untuk itu sebagai seorang guru hendaknya mempunyai kemampuan yang baik untuk mengajarkan keterampilan menyimak kepada siswa, supaya mereka dapat memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh pembicara. Pemahaman dalam memahami makna komunikasi dari pembicara dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia maupun pembelajaran.

Salah satu materi menyimak yang terdapat di dalam pelajaran bahasa Indonesia di kelas II SD adalah menyimak cerita. Pada pelajaran bahasa Indonesia di kelas II semester 2 terdapat standar kompetensi yaitu memahami pesan pendek dan dongeng yang dilisankan. Berdasarkan standar kompetensi tersebut maka siswa diharapkan untuk memahami isi cerita yang disampaikan oleh guru.

Perkembanagan ranah kognitif siswa kelas II SD yang berumur 8/9 tahun tergolong dalam tahap operasioal konkret. Pada tahap ini anak-anak berpikir secara sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret, sehingga dalam mengajarkan materi menyimak cerita diperlukan media yang tepat agar dapat menunjang keberhasilan siswa dalam menyimak cerita.

Salah satu media yang dapat digunakan pada pembelajaran menyimak cerita adalah media boneka tangan. Media boneka tangan adalah suatu media yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran, berupa boneka yang digerakkan dari bawah oleh seseorang yang tangannya dimasukkan ke bawah pakaian boneka tersebut. Boneka adalah suatu benda yang pada umumnya disukai oleh anak-anak, sehingga pemilihan boneka tangan ini dirasa sangat tepat karena dapat dengan mudah menarik perhatian siswa. Selain itu,

pembuatan media boneka tangan ini sangat mudah dan sederhana, sehingga guru tidak perlu kesusahan dalam mencari media ini. Jika siswa, tertarik untuk mengetahui isi cerita yang diceritakan oleh guru dengan menggunakan media boneka tangan maka akan berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menyimak cerita yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Bagan 2.1 Kerangka Pikir Pembelajaran Bahasa

Indonesia

Sastra

Berbicara Membaca Menulis

Menyimak

Media Boneka Tangan

Penggunaan media boneka tangan : 1) Boneka cukup dua buah.

2) Cara memainkan boneka harus tepat, jangan sampai lepas.

3) Dialog boneka ke anak cukup satu boneka saja.

4) Intonasi wajib diperhatikan.

5) Waktu dan misi.

Analisis Posttest Pretest

Temuan

E. Hipotesis

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir yang telah dipaparkan di atas, dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ha = terdapat pengaruh penggunaan media boneka tangan terhadap hasil

belajar keterampilan menyimak cerita siswa kelas II SDN 148 Pamolongan.

Ho = tidak terdapat pengaruh penggunaan media boneka tangan terhadap

hasil belajar keterampilan menyimak cerita siswa kelas II SDN 148

Pamolongan.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Metode penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2017:107).

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre- Exsperimental atau pra eksperimen.

B. Desain Penelitian

Desain penelitian menggunakan bentuk desain One-Group Pretest- Posstest Design. Sugiyono (2017: 111) menggambarkan One Group Pretest- Posttest Design adalah sebagai berikut:

Bagan 3.1 Desain Penelitian O1 = Nilai pretest (sebelum diberi perlakuan)

O2 = Nilai posstest (setelah diberi perlakuan) X = Perlakuan atau treatment

C. Variabel Penelitian

Sugiyono (2017:61), macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi:

O1 X O2

a. Variabel independen (bebas) adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini yaitu media boneka tangan.

b. Variabel dependen (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel dependen (terikat) dalam penelitian ini yaitu keterampilan menyimak cerita siswa kelas II SDN 148 Pamolongan.

D. Definisi Operasional Variabel

Secara operasional, variabel yang digunakan dalam penelitian dapat didefinisikan sebagai berikut:

1. Media boneka tangan adalah suatu media tiruan binatang yang digerakkan dari bawah oleh seseorang yang tangannya dimasukkan ke bawah pakaian boneka tersebut.

2. Keterampilan menyimak cerita adalah mendengarkan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi agar dapat memahami isi dari cerita yang didengar.

E. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi yaitu seluruh kelas II SDN 148 Pamolongan yag terdiri dari 18 siswa .

Tabel 3.1 keadaan populasi

No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah

1. II 11 7 18

Sumber: Guru Kelas SDN 148 Pamolongan 2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SDN 148 Pamolongan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel di bawah:

Tabel 3.2 keadaan sampel

No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah

1. II 11 7 18

Sumber: Guru Kelas SDN 148 Pamolongan F. Instrumen Penelitian

Purwanto (2010: 56) menjelaskan instrumen penelitian adalah alat ukur yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data dengan cara pengukuran. Instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Tes.

Tes yang digunakan untuk mengukur keterampilan menyimak cerita dalam penelitian ini adalah tes objektif. Menurut Arifin (2012:153) tes objektif sering juga disebut tes dikotomi (dichotomously scored item) karena jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Tes objektif menuntut peserta didik untuk memilih jawaban yang benar diantara kemungkinan jawaban yang telah disediakan, memberikan jawaban singkat,

dan melengkapi pertanyaan atau pernyataan yang belum sempurna. Bentuk tes objektif yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk tes pilihan ganda.

 Bentuk Tes Pilihan Ganda

Menurut Arifin (2012:156-157) soal tes bentuk pilihan-ganda dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang lebih kompleks dan berkenaan dengan aspek ingatan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pilihan jawaban terdiri atas jawaban yang benar atau yang paling benar.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan dokumentasi.

1. Tes

Arifin (2012:130) tes merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran, yang didalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik.

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif. Menurut Arifin (2012:153) Tes objektif terdiri atas beberapa bentuk, yaitu benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, dan melengkapi atau jawaban singkat.. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tes dengan bentuk pilihan ganda. Tes dalam penelitian ini berupa pretest dan posttest.

Pretest merupakan tes yang diberikan sebelum pembelajaran dimulai atau sebelum siswa diberikan perlakuan dengan tujuan untuk mengukur kemampuan awal siswa pada materi menyimak cerita. Posttest yaitu tes yang diberikan pada akhir pembelajan atau setelah siswa diberikan perlakuan dengan tujuan untuk mengukur hasil akhir siswa pada pembelajaran keterampilan menyimak cerita.

2. Dokumentasi

Menurut Sugiyono (2017:329) dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu yang dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya seseorang. Dokumentasi dalam penelitian ini berupa foto-foto selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Foto-foto tersebut digunakan sebagai bukti jika penelitian sudah dilaksanakan serta mengetahui aktivitas siswa selama pembelajaran menyimak cerita.

H. Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2017: 207) analisis data adalah kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data terkumpul. Analisis data pada penelitian ini menggunakan statistik deskriptif dan analisis inferensial pada t- test (uji t).

1. Sugiyono (2017: 207-208) menjelaskan statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul secara apa adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau

generalisasi. Rumus statistik yang digunakan untuk menghitung rata-rata atau mean adalah sebagai berikut:

Keterangan :

M = rata-rata (mean)

∑fx = jumlah semua angka

N = banyaknya angka yang dijumlahkan 2. Uji Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Ha : Terdapat pengaruh penggunaan media boneka tangan terhadap kemampuan menyimak cerita siswa kelas II SDN 148 Pamolongan.

Ho : Tidak ada pengaruh penggunaan media boneka tangan terhadap kemampuan menyimak cerita siswa kelas II SDN 148 Pamolongan.

Pengujian hipotesis menggunakan t-test (uji t), dengan rumus :

Keterangan:

t = nilai t yang dihitung

Md = mean dari perbedaan pretest dan posstest

xd = deviasi masing-masing subjek = jumlah kuadrat deviasi

N = jumlah subjek pada sampel

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Data hasil penelitian yang dilakukan di SDN 148 Pamolongan adalah sebagai berikut :

1. Analisis data Deskriptif

1) Deskripsi hasil pretest keterampilan menyimak cerita

Penelitian diawali dengan memberikan soal pretest. Soal pretest ini diberikan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada materi menyimak cerita. Pretest dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2018. Soal pretest yang diberikan berjumlah 20 soal pilihan ganda yang diikuti oleh 18 siswa. Data hasil nilai pretest keterampilan menyimak cerita dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.1. Distribusi Nilai Pretest.

Interval Frekuensi Kriteria 85 – 100 4 Sangat Tinggi

70 – 84 4 Tinggi 60 – 69 8 Sedang 51 – 59 1 Rendah

0 – 50 1 Sangat Rendah Jumlah 18

Berdasarkan tabel nilai pretest di atas dapat diketahui 4 siswa memperoleh nilai antara 85 - 100, 4 siswa mempeoleh nilai antara 70 - 84, 8 siswa memperoleh nilai antara 60 – 69, 1 siswa memperoleh nilai antara 51 – 59 dan 1 siswa memperoleh nilai antara 0 - 50. Hasil nilai pretest keterampilan menyimak cerita di atas dapat dihitung nilai rata-rata

atau mean. Dari data di atas dapat diketahui bahwa nilai mean pretest siswa kelas II SDN 148 Pamolongan adalah 70,28.

2) Penggunaan Media Boneka Tangan dalam Pembelajaran Menyimak Cerita Siswa Kelas II SDN 148 Pamolongan

Penggunaan media boneka tangan ini dengan cara guru memberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai materi cerita, setelah itu guru menggunakan media boneka tangan untuk menceritakan sebuah cerita kepada siswa kemudian siswa secara berkelompok menulis kembali cerita yang di dengar. Setelah itu tiap kelompok menceritakan hasil simakannya di depan kelas dengan menggunakan media boneka tangan.

Dengan menggunaan media boneka tangan maka pembelajaran Bahasa Indonesia materi menyimak cerita siswa kelas II SDN 148 Pamolongan akan mengalami peningkatan hasil belajar, dapat memotivasi siswa dalam belajar dan pembelajaran akan menyenangkan bagi siswa.

3) Deskripsi hasil posttest keterampilan menyimak cerita

Pelaksanaan pembelajaran menyimak cerita dengan menggunakan media boneka tangan dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan. Setelah 3 kali pembelajaran menyimak cerita kemudian dilakukan pengukuran kemampuan siswa dengan memberikan posttest keterampilan menyimak cerita. Posttest dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2018. Soal posttest yang diberikan berjumlah 20 soal pilihan ganda yang diikuti oleh 18 siswa. Data hasil nilai posttest keterampilan menyimak cerita dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.2 Distribusi Nilai Posttest.

Interval Frekuensi Kriteria 85 – 100 9 Sangat Tinggi

70 – 84 9 Tinggi 60 – 69 0 Sedang 51 – 59 0 Rendah

0 – 50 0 Sangat Rendah Jumlah 18

Berdasarkan tabel nilai posttest di atas dapat diketahui 9 siswa memperoleh nilai antara 85 – 100 dan 9 siswa mempeoleh nilai antara 70 – 84. Hasil nilai posttest keterampilan menyimak cerita di atas dapat dihitung nilai rata-rata atau mean. Dari data di atas dapat diketahui bahwa nilai mean posttest siswa kelas II SDN 148 Pamolongan adalah 85.

Berdasarkan data hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan rerata atau mean antara pretest dan posttest yang ditunjukkan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.3 perbandingan nilai mean pretest dan mean posttest

Mean pretest Mean posttest

70,28 85

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat nilai mean pretest adalah 70,28 dan nilai mean posttest dengan menggunakan media boneka tangan adalah 85. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media boneka tangan berpengaruh terhadap keterampilan menyimak cerita siswa kelas II SDN 148 Pamolongan. Jika digambarkan dalam diagram batang akan terlihat sebagai berikut.

Dokumen terkait