BAB III PEMBAHASAN
1. Proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng
Salah satu bentuk kebudayaan yang masih tetap dijaga dan masih dilestarikan sampai saat ini yaitu tradisi Barus Geleng. Tradisi Brus Geleng merupakan sebuah tradisi yang dilakukan setiap setahun sekali pada waktu tertentu, tempat tertentu dan alat-alat ritual tertentu. Pelaksanaan tradisi Barus Geleng memiliki cara tersendiri untuk dilakukan, ada beberapa tahapan untuk pelaksanaan tradisi Barus Geleng yaitu:
a. Tahap persiapan
Pada persiapan acara tradisi Barus Geleng dimulai dengan melakukan musyawarah bersama. Musyawarah ini dipimpin oleh tokoh tokoh agama, tokoh adat, kepala desa, kepala wilayah, dan masyarakat.
Mengadakan perundingan acara tradisi Barus Geleng tujuannya adalah untuk mencari titik terang untuk mencapai kesepakatan bersama.
Persiapan ini terbentuk dengan adanya kerja sama dengan orang yang terlibat dalam acara tradisi ini dengan mengikuti musyawarah guna untuk melakukan acara tradisi Barus Geleng yang dilaksanakan pada awal bulan Maulid bertepatan pada tanggal 6 bulan Hijriyah.
Berlangsungnya tradisi Barus Geleng perlu adanya persiapan dengan matang, mengingat acara ini melibatkan banyak orang. Tradisi ini merupakan kepentingan bersama sehingga acara ini disambut dengan antusias. Selanjutnya apabila sudah ada kesepakatan mengenai dana,
64
kemudian mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan yang akan digunakan dalam tradisi Barus Geleng.
b. Tahap Pelaksanaan
Tahap Pelaksanaan dalam acara tradisi Barus Geleng meliputi beberapa pelaksanaan antara lain:
1. Tempat Pelaksanaan Tradisi Barus Geleng
Mengenai tempat pelaksanaan tradis Barus Geleng memiliki tempat khusus yaitu dulunya dilaksanakan di Dusun Sekilat tetapi, sekarang dilaksanakannya di kediaman TG Abdul Mukid, karena dari dulu sudah dilakukan di Dusun Sekilat dan tidak sembarang tempat untuk bisa dijadikan tempat untuk melakukan acara tradisi Barus Geleng ini.
2. Waktu
Dalam acara tradisi Barus Geleng, waktu pelaksanaanya pada awal bulan Maulid sekitar jam 10:00 sampai dengan jam 19:30, karena sebelum ditentukan waktu dan tanggal, tokoh adat dan tokoh agama melakukan shalat istikharah terlebih dahulu agar acara tradisi Barus Geleng bisa berjalan dengan baik dan lancar sampai selesai dan biasanya dipercayai masyarakat Jerowaru pada pukul 10:00 acaranya bisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan dan diharuskan menggunakan baju adat lengkap dengan sapuk.
3. Perlengkapan-Perlengkapan yang digunakan
65
Adapun beberapa perlengkapan yang akan digunakan selama acara tradisi Barus Geleng dilakukan meliputi kambing hitam mulus, ayam bin kuning, jeruk nipis, dulang janggak, mangkok mulus, bunga, kemenyan, men-men dan daun nao. Di dalam tradisi Barus Geleng terdapat komunikasi simbolik baik secara verbal dan non verbal. Perasaan simpatik kemudian direalisasikan dengan memberikan sesuatu materi merupakan simbol verbal dan non verbal dalam tradisi Barus Geleng. Joel M Charrom berpendapat pentingnya memahami simbol, simbol adalah objek sosial dalam interaksi yang digunakan sebagai perwakilan dan komunikasi yang ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya. Orang-orang tersebut memberi arti, menciptakan, dan mengubah objek di dalam interaksi. Simbol sosial tersebut dapat berwujud dalam objek fisik, perasaan, ide, dan nilai, serta tindakan yang dilakukan orang untuk memberi arti dalam berkomunikasi dengan orang lain.52
4. Proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng
Adapun proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng sebagai berikut:
a. Sebelum pelaksanaan tradisi Barus Geleng dilakukan masyarakat Jerowaru mengadakan musyawarah untuk menentukan hari, tanggal dan jam terlebih dahulu agar tradisi
52 Mediator, Vol. 9, No. 2, Desember 2008,
hlm. 302
66
yang dilakukan berjalan dengan lancar, dalam bermusyawarah tentunya kita harus menggunakan perkataan yang benar dan sesuai dengan prinsip komunikasi Islam bahwa kita dianjurkan
dalam melaksanakan musyawarah.
b. Setelah diadakan musyawarah masyarakat Jerowaru menetukan siapa saja yang harus terlibat dalam acara tradisi Barus Geleng yaitu, tokoh agama, tokoh adat, kepala desa Jerowaru, kepala wilayah Jerowaru, dan masyarakat.
c. Masyarakat desa Jerowaru berkumpul di rumah TG Abdul Mukid dan membawa peralatan-peralatan yang akan digunakan.
d. Sebelum melakukan acara tradisi Barus Geleng tokoh agama ukaan yang menandakan acara
menggunakan perkataan yang lembut dan sesuai dengan prinsip komunikasi Islam bahwa kita dianjurkan untuk mengucapkan perkataan yang lembut (Qaulan Layyina).
e. Kemudian masyarakat membaca ayat kursi, dan tokoh agama
Barus Geleng.
67
f. Sebelum pembacaan ayat kursi dimulai disiapkan dulu hidangan persembelihan yaitu kambing hitam mulus dan ayam bin kuning.
g. Ketika melakukan tradisi Barus Geleng yaitu harus menyediakan kambing hitam mulus dan ayam bin kuning yang harus disembelih dan dibersihkan lalu diolesi dengan jeruk nipis. Cara melakukan tradisi Barus Geleng harus menggunakan dulang janggak dan tidak boleh menggunakan dulang biasa.
Tradisi Barus Geleng harus disiapkan oleh dua orang perempuan yang sudah berhenti menstruasi menandakan bahwa perempuan itu harus suci dan menyiapkan dulang dan nasi rasul (nasi maulid) tanpa garam yang sebanyak dua kali sembilan dan lebih tepatnya delapan belas dulang yang harus disiapkan, memasak nasi harus menggunakan kayu bakar dan membutuhkan ayam sebanyak delapan belas ekor untuk disedikan di dulang tersebut akan tetapi, semua ayam tersebut harus dibakar bukan dimasak atau digoreng. Di dalam dulang tersebut harus menggunakan mangkok putih mulus, bunga, daun pandan, dan men-men, keris tersebut dibuatkan berugak dan dililitkan oleh daun nao, orang terlibat dalam tradisi tersebut harus laki-laki dan menggunakan baju adat selain tidak
68
menggunakan baju adat dilarang untuk mengikuti tradisi Barus Geleng.
h. T
dilanjutkan dengan makan bersama atau bahasa Lombok mangan gibung.
i. Pada pukul 19:30 dua orang cowok ditugaskan untuk mengelilingi desa Jerowaru agar terhindar dari segala macam bentuk musibah.
5. Orang-orang yang terlibat dalam tradisi Barus Geleng
Tradisi Barus Geleng merupakan suatu kegiatan yang tidak lepas dari peran masyarakat dan orang-orang yang terlibat dalam tradisi Barus Geleng yaitu,
a. Tokoh adat memiliki peran penting dalam pelaksanaan acara tradisi Barus Geleng, karena tokoh adatlah yang mempersiapkan pelaksanaan tradisi ini dari awal sampai akhir.
b. Tokoh agama memiliki peran untuk memimpin doa pada saat pelaksanaan tradisi agar acaranya berjalan dengan lancar.
c. Kepala desa dan kepala wilayah Jerowaru sebagai tokoh sambutan yang perlu hadir dalam acara pelaksanaan tradisi Barus Geleng.
69
d. Masyarakat Jerowaru berperan penting dalam pelaksanaan acara tradisi Barus Geleng.
Dari beberapa proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng masyarakat desa Jerowaru tentu membutuhkan waktu untuk mempersiapkan peralatan- peralatan yang akan digunakan sehingga pelaksanaanannya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan ketika pelaksanaan tradisi ini.
Bentuk-bentuk komunikasi Islam terhadap tradisi Barus Geleng dapat dilihat pada saat proses pelaksanaan berlangsung bernuansa Islam begitu jelas dengan adanya pembacaan ayat-ayat Al- seperti, ayat kursi. Jadi, Komunikasi Islam terhadap pelaksanaan tradisi Barus Geleng ditandai dengan adanya sebelum tradisi Barus Geleng dilakukan tokoh adat dan tokoh agama harus melakukan sholat istikharah terlebih dahulu untuk menentukan hari, dan tanggal agar acaranya berjalan dengan lancar, untuk meminta pertolongan agar dijauhkan dari musibah dan meminta petunjuk agar acara tradisi Barus Geleng berjalan dengan baik. Masyarakat Jerowaru yang mengumpulkan uang atau beras seikhlasnya untuk membeli kambing dan keperluan untuk melaksanakan tradisi Barus Geleng untuk menciptakan suatu interaksi sosial karena yang melakukan tradisi tersebut dari berbagai dusun Jerowaru. Tradisi Barus Geleng ini bisa berinteraksi sosial antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya, karena banyak masyarakat yang mengikuti tradisi ini, karena tradisi ini turun temurun dan tidak terlepas dari kepercayaan terhadap dunia mistis yakni kekuasaan Allah SWT. Tradisi Barus Geleng dilakukan
70
sudah sangat lama dan pelaksanaanya harus dimulai dengan musyawarah atau rapat guna untuk mempersiapkan berbagai alat yang dibutuhkan.
71
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka skripsi ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pemahaman masyarakat tentang tradisi Barus Geleng adalah tradisi Barus Geleng berarti selamatan keris yang dipercayai masyarakat desa Jerowaru bisa menjauhkan dari segala macam bentuk musibah atau menolak bahaya. Tradisi iniwajib dilakukan setiap setahun sekali pada awal bulan Maulid Tanggal 6 bulan Hijriyah, dan apabila tradisi ini tidak dilakukan maka musibah akan menghampiri masyarakat Jerowaru.
2. Tinjauan komunikasi Islam terhadap pelaksanaan tradisi Barus Geleng dalam membangun solidaritas sosial adalah ditandai dengan sebelum acaranya dilaksanakan tokoh-tokoh yang berperan dalam tradisi ini harus melakukan sholat istikharah terlebih dahulu untuk menentukan hari dan tanggal, sebelum acaranya diselenggarakan, masyarakat desa Jerowaru mengadakan musyawarah terlebih dahulu, dan setelah ditetapkan hari dan tanggalmasyarakat desa Jerowaru mengumpulkan uang untuk membeli kambing dan perlengkapan lainnya. Sebelum acaranya dimulai masyarakat Jerowaru harus dalam keadaan berwudhu, membaca ayat kursi dan membaca ayat-ayat suci Al-
72 B. Saran-saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ada beberapa saran untuk masyarakat Desa Jerowaru maupun peneliti-peneliti selanjutnya.
1. Diharapkan kepada seluruh masyarakat desa Jerowaru agar menjaga dan melestarikan kebudayaan serta adat istiadat yang ada dan tetap menjaga kelestarian nilai-nilai tradisi yang dimiliki agar agar tradisi dari nenek moyang tetap terjaga.
2. Kepada pemerintah Desa Jerowaru agar mendokumentasikan budaya baik dalam bentuk tulisan ataupun lain sebagianya sehingga akan menjadi wawasan ilmu pengetahuan yang akan datang.
3. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar dapat dijadikan contoh dan bermanfaat untuk semua orang.
73
DAFTAR PUSTAKA
Abdi Fauji Hardiono, Jurnal Pendidikan dan Ilmu Komunikasi.
Vol. VIII. Nomor. 1. Tahun. 2016.
Ahda Sabila, n Adat Sasak Di Desa Saribaye Kec.
(Skripsi, UIN Mataram, 2017), hlm. 18.
Alo Liliweri,Dasar-Dasar Komunikasi Islam,Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2009.
Al- -Mubin, Al- , Jakarta Timur: Pustaka Al-
Mubin . 2013
Agustina, Jurnal
Fungsi Sosial.Vol 1.Nomor 2. September 2012.
Ahmad Arif Musadad,
Jurnal Tradisi. Vol. 7. Nomor. 2 September 2008, hlm. 148.
Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Kencana: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2014.
(Skripsi, SA Uin Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2017).
Aulia Harridhi Khilal, https://www.kompasiana.com/amp/ilal/5-pendekatan-dalam- penelitian-kualitatif diakses pada tanggal 15 Desember 2020, pada pukul 22.14.
Ayu Isti Prabandri, https://raharja.ac.id/2020/11/09/perbedaan-data-primer-dan-data- skunder diakses pada tanggal 17 Desember 2020, pada pukul 19.03.
Da pengantar , Vol. 9, No. 2,
Desember 2008,
Daryanto, Ilmu Komunikasi,Bandung: PT Sarana Tutorial Nurani Sejahtera. 2011.
Dr Dewi K Soedarsono, Sistem Manajemen Komunikasi, Bandung: Refika Offset.
2014.
Dr. Hefani Komunikasi Islam
Dosen Pendidikan, https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-tradisi diakses
74 pada 22 Desember 2020, pukul 18.30.
Erwinda Febriani Afandi, Tradisi Rebo Bontong di Dusun Ketapang di Desa
Pringgabaya Kecamatan Lombok Timur, (Skripsi, FUSA UIN MATARAM, Mataram, 2020).
Kearifan Lokal Dalam Membangun Solidaritas Dan Integrasi Sosial Masyarakat Jurnal Sosial Budaya.Vol. 9.Nomor. 2. Juli-Desember 2012.
Intan Permata http://sastra-indonesia.com/2010/11/komunikasi-antarbudaya-sebuah-
pengantar/diakses pada 15 Desember 2019,pukul 22:04.
Jamal Syarif, - Jurnal Sosial Budaya. Vol.
V. Nomor. 1. Tahun. 2017.
Jurnal Penelitian Nasional. Vol. VI. Nomor.
1. Tahun. 2018.
Jualiana M,
(Skripsi, UIN Alauddin Makasar, Makasar, 2017).
Haslinda, Persepektif Makna Komunikasi Islam, (Skripsi,UIN Sumatra Utara, 2019) M. Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, Jakarta: Kencana, 2009.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jerowaru,Jerowaru,Lombok_Timur diakses pada tanggal 10 Desember, pukul 16.30
Skripsi, HKI UIN MATARAM, Mataram, 2019).
Muri Yusuf Metode Penelitian: Kuantitatif,
Kencana: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2014.
Muslimah,
Vol. 13. Nomor 2, Tahun 2016.
Nawari Islam,Metode Penelitian untuk Study Islam: Panduan Praktis dan Diskusi Isu, Yogyakarta: Samudra Biru, 2015.
75
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial. Vol 7. Nomor. 1, Tahun 2020.
Onong Uchjana Effendy,Ilmu Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 2015.
Poerwardaminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2010.
Jurnal Ilmu Komunikasi. Vol. 11. Nomor 2.
Desember 2016.
Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,Jakarta: Rajawali Pers, 1990.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Bandung: Alfabeta, 2010.
Sukrian,
Skripsi, FDIK IAIN Mataram, Mataram, 2013.
Komunikasi Rasululah
Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2014
Yhoga Rizky Kristanto, Komunikasi Islam, Jakarta: PT Surya Kencana, 2014.
Wikipedia, https://id.m.wikipedia.org/wiki/sosialisasi, diakses pada tanggal 15 Desember 2020, pukul 22:00.
76
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1 Photo Peralatan Untuk Pelaksanaan Tradisi Barus Geleng
77
Lampiran Kegiatan Pelaksanaan Tradisi Barus Geleng
78
79 Lampiran 3 Photo Keris
Lampiran 4 Photo Wawancara
80
81
82
83
84
85
86
PEDOMAN WAWANCARA 1
1. Papuk sekam (Tokoh Adat) 2. Papuk Kebi (Tokoh Agama) 3. Suhur (Masyarakat)
4. Papuk Amat (Tokoh Adat) 5. Papuk Jongkot (Tokoh Agama)
a. Bagaimana sejarah terjadinya tradisi Barus Geleng?
b. Bagaimana proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng?
c. Apakah tradisi Barus Geleng ada unsur agamanya?
d. Bagaimana pemahaman masyarakat terhadap tradisi Barus Geleng?
e. Siapa saja yang terlibat pada pelaksanaan tradisi Barus Geleng?
f. Kenapa tradisi Barus Geleng dilakukan?
g. Apa sih arti dari tradisi Barus Geleng?
h. Apakah tradisi Barus Geleng tidak menyimpang dari ajaran Islam
i. Bagaimana pandangan tokoh agama terhadap pelaksanaan tradisi Barus Geleng?
j. Apakah ada ayat khusus yang digunakan dalam tradisi Barus Geleng?