• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deva Seftiani 180301159 - etheses UIN Mataram

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Deva Seftiani 180301159 - etheses UIN Mataram"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Tradisi Barus Geleng yang dilakukan oleh masyarakat desa Jerowaru merupakan upacara keris yang tergolong sangat ketat dan tertib. Oleh karena itu saya tertarik untuk meneliti tradisi Barus Geleng di desa Jerowaru dari perspektif komunikasi Islam. Maka penelitian ini berjudul Kajian Komunikasi Islam Terhadap Penerapan Tradisi Barus Geleng (Keris) Dalam Membangun Solidaritas Sosial.

Rangkuman komunikasi Islam pada tradisi Barus Geleng dalam membangun solidaritas dan pemahaman masyarakat terhadap tradisi Barus Geleng. Masyarakat Suku Sasak khususnya Desa Jerowaru masih mempertahankan atau melestarikan salah satu tradisi yang disebut dengan tradisi Barus Geleng. Simbol yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi Barus Geleng adalah simbol yang berwujud benda.

Karena itulah masyarakat kota Jerowaru mengenalnya dengan tradisi Barus Geleng yang masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi Barus Geleng merupakan tradisi yang dapat menangkal segala macam musibah atau menangkal bahaya.

Rumusan Masalah

Tujuan dan Manfaat

  • Tujuan
  • Manfaat

Khususnya mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang mendalami ilmu dakwah dan dapat memberikan gambaran tentang komunikasi Islam untuk arah utama komunikasi siaran Islam untuk kepentingan efektifitas dan efisiensi.

Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Telaah Pustaka

Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang asal usul tradisi Rebo Bontong pada masyarakat Dusun Ketapang Desa Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi Rebo Bontong pada masyarakat Dusun Ketapang, Desa Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, dan untuk mengetahui fungsi sosial dalam tradisi Rebo Bontong pada masyarakat Dusun Ketapang, Desa Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Peneliti sebelumnya telah membahas pentingnya Rebo Bontong dalam kehidupan masyarakat, namun penelitian ini akan fokus pada pemahaman masyarakat tentang tradisi Barus Geleng. 2Erwinda Febriani Afandi, Tradisi Rebo Bontong di Dusun Ketapang Desa Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, (Disertasi, FUSA Uin Mataram, Mataram, 2020), hal.

Peneliti sebelumnya membahas tentang pentingnya mencari pasangan hidup antara laki-laki dan perempuan, namun penelitian ini akan fokus pada pemahaman masyarakat tentang tradisi Barus Geleng. Suku Sasak Merarik di Lombok, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pola integrasi agama dengan adat Sasak, mengetahui format tradisi perkawinan Merarik di Lombok dan menggali masa depan perkawinan Merarik di Lombok untuk tetap dipertahankan. dengan tuntutan kehidupan modern. Peneliti sebelumnya membahas proses pernikahan untuk keluar dari konflik, namun penelitian ini akan fokus pada pemahaman masyarakat tentang tradisi Barus Geleng.

Kerangka Teori

  • Tinjauan Komunikasi Islam
  • Tradisi Barus Geleng
  • Solidaritas Sosial

Pemahaman tokoh agama Islam terhadap tradisi Barus Geleng merupakan salah satu tradisi yang masih dipraktikkan oleh masyarakat desa Jerowaru dan tradisi ini mengandung unsur Islam. Tradisi Barus Geleng merupakan salah satu tradisi leluhur yang dipraktikkan oleh masyarakat desa Jerowaru dan hingga kini masih dilestarikan dan dilestarikan dalam kehidupan masyarakatnya. Inti dari tradisi Barus Geleng adalah ritual meminta pertolongan untuk melindungi diri dari segala macam kesialan.

Tujuan perundingan acara tradisional Barus Geleng adalah untuk mencari titik terang untuk mencapai persetujuan bersama. Meneruskan tradisi Barus Geleng memerlukan persiapan rapi, kerana acara ini melibatkan ramai orang. Cara melakukan tradisi Barus Geleng ialah menggunakan dulang jangjak dan bukan menggunakan dulang biasa.

Metode Penelitian

  • Pendekatan Penelitian
  • Kehadiran Peneliti
  • Lokasi Penelitian
  • Sumber Data
  • Prosedur Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Pengecekan Keabsenan Data

Sistematika Pembahasan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

  • Sejarah Desa Jerowaru
  • Letak Geografis
  • Kondisi Perekonomian
  • Kondisi Sosial Budaya
  • Kondisi Sarana dan Prasarana Desa
  • Deskripsi Informasi Penelitian

Kampung Jerowaru lahir sebelum Perang Kemerdekaan dengan melalui masa penjajahan Belanda dan Jepang kemudian melalui masa G 30S/PKI. Sebagian wilayah Desa Jerowaru merupakan kawasan pesisir yaitu Jor, Telong-Elong, Poton Bako, Tutuk dan pembuangan limbah dimana satu. Desa Jerowaru merupakan salah satu dari 15 desa yang ada di Kecamatan Jerowaru yang terletak 0,5 km sebelah utara kota kecamatan dengan luas 16,73 km2 atau 1.673,00 ha (sekitar 12% dari luas wilayah Kecamatan Jerowaru).

Penggunaan lahan di Desa Jerowaru sebagian besar adalah untuk persawahan pertanian, sedangkan sisanya merupakan lahan kering yang digunakan untuk bangunan dan fasilitas lainnya. Desa Jerowaru terletak di ketinggian + 0-54 meter. Desa Jerowaru merupakan sebuah desa di Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur dengan luas wilayah 1376,30 ha. Dimana sejak kelahirannya yaitu sekitar tahun 1930 sampai dengan tahun 2021 di usia +91 tahun telah banyak mengalami perubahan baik fisik, sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan serta budaya.31 Batas-batas wilayah desa Jerowaru adalah sebagai berikut: Sebelah Utara: Desa Sepapan, Desa Dane Rase dan Desa Mt.Belae Selatan: Desa Pemongkong dan Desa Paremas.

Jerowaru dimana pada akhir tahun buku 2020 terdapat aset sebesar 10,4 Milyar ALL, BUMDes LKM Desa Jerowaru dengan total pendapatan tahun 2020 sebesar Rp. Sektor perikanan dan kelautan juga menjadi salah satu potensi yang bisa digelorakan, sehingga Pemerintah Kabupaten Desa Jerowaru masuk dalam kawasan pengembangan Kawasan Minapolitan. Secara umum mata pencaharian penduduk desa Jerowaru didominasi oleh petani 3319 orang, dan sisanya adalah buruh tani 819 orang, TKI/TKW 298 orang, tukang kayu 246 orang, peternak 227 orang, nelayan 210 orang, pedagang 179 orang, pegawai. 9 guru 81 TNI/POLRI 13 transportasi 120 dan lainnya 32.

Tingkat pendidikan masyarakat Desa Jerowaru tergolong tinggi, dengan lulusan SD sebanyak 1.901 orang, lulusan SMA sebanyak 1.458 orang, lulusan SMA sebanyak 1.558 orang, dan diploma/lulusan sebanyak 383 orang, magister/magister sebanyak 19 orang, doktor sebanyak 1 orang. 7 bidan Selain itu, 99,99% masyarakat Desa Jerowaru memiliki akses penerangan listrik PLN dan rata-rata telah menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar memasak. Secara umum kondisi sarana dan prasarana Desa Jerowaru masih kurang memadai terutama pada jalan desa +18 km dan jalan lingkungan +7,5 km.

Pada tahun 2014 dibangun jembatan penyeberangan sepanjang 40 meter di Ratu untuk membuka akses masyarakat terhadap pendidikan (anak sekolah) dan memperpendek jangkauan masyarakat ke Puskesmas, dan hal ini belum sepenuhnya terselesaikan. Kantor Desa Jerowaru sebagai pusat pelayanan masyarakat kondisi bangunannya kurang memadai dan tidak representatif.

Diagram 04 : Mata Pencaharian Penduduk
Diagram 04 : Mata Pencaharian Penduduk

Pemahaman Masyarakat Desa Jerowaru Terhadap Tradisi Barus Geleng

Dari perkenalan informan di atas, mereka menyampaikan bahwa dalam sejarah tradisi Barus Geleng, ada wali yang pertama kali melaksanakan tradisi ini agar masyarakat Jerowaru terhindar dari bencana buruk di dusun atau desa tersebut. Barus Geleng sudah ada sejak para wali sebelumnya, tradisi Barus Geleng merupakan perpaduan antara tradisi dan unsur religi yang wajib dilakukan setiap tahun. Dari para informan di atas, tradisi Barus Geleng tidak bisa dipisahkan dari unsur religi dan merupakan salah satu pemersatu masyarakat, karena tradisi.

Barus Geleng sangat penting karena memiliki tujuan yang baik yaitu memohon keselamatan dan dijauhkan dari segala macam musibah. Dengan melakukan tradisi Barus Geleng, masyarakat Jerowaru merasa aman dan terlindungi dari segala macam musibah dan merupakan bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT yang telah menjamin kelancaran acara tersebut. Salah satu bentuk budaya yang masih dilestarikan oleh setiap suku adalah dengan melakukan tradisi atau adat atau kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun di desa Jerowaru yaitu dengan melakukan tradisi Barus Geleng.

Berdasarkan hasil wawancara dengan peneliti, sebelum acara adat Barus Geleng dilaksanakan, masyarakat desa Jerowaru mengadakan diskusi yang dimoderatori oleh Suhur selaku tokoh masyarakat desa Jerowaru. Dari informan di atas, tradisi tersebut dilakukan oleh sebagian masyarakat Jerowaru, maka sebelum melaksanakan acara adat Barus Geleng sebaiknya diadakan musyawarah agar proses berjalan lancar dan mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan. Dari informan di atas, pada tahap pelaksanaan, masyarakat sudah menentukan kapan dan dimana akan melaksanakan tradisi Barus Geleng, dan masyarakat desa Jerowaru telah belajar dari nenek moyang kita.

Tradisi Barus Geleng dilakukan mulai pukul 10.00 hingga 19.30, sebelum acara digelar oleh tokoh adat dan tokoh agama. Barus Geleng saya jadikan sebagai tokoh adat untuk berdoa istikharah terlebih dahulu agar Allah SWT datang. Barus Geleng ini harus melaksanakan sholat istikharaoh untuk menentukan kapan akan dilaksanakan, karena sholat istikharaoh merupakan syarat untuk menentukan pelaksanaan tradisi Barus Geleng 45.

Dari para informan di atas, proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng memiliki makna tersendiri yang sangat penting dan dianggap berkah oleh masyarakat Jerowaru.

PEMBAHASAN

Proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng

Salah satu bentuk budaya yang masih terjaga dan dilestarikan hingga saat ini adalah tradisi Barus Geleng. Persiapan ini dibentuk dengan menggandeng masyarakat yang terlibat dalam acara adat ini dengan mengikuti musyawarah dalam rangka pelaksanaan tradisi Barus Geleng yang dilaksanakan pada awal bulan Maulid yang bertepatan dengan tanggal 6 bulan Hijriyah. Beberapa perlengkapan yang akan digunakan selama acara adat Barus Geleng antara lain kambing hitam halus, ayam bin kuning, jeruk nipis, dulang janggak, mangkok halus, bunga, kemenyan, mans-man dan daun nao.

Perasaan simpati kemudian diwujudkan dengan memberikan sesuatu materi yang merupakan simbol verbal dan nonverbal dalam tradisi Barus Geleng. Sebelum pelaksanaan tradisi Barus Geleng, masyarakat Jerowaru mengadakan musyawarah untuk menentukan hari, tanggal dan waktu terlebih dahulu agar menjadi tradisi. Setelah mengadakan musyawarah, masyarakat Jerowaru memutuskan siapa yang harus terlibat dalam tradisi Barus Geleng, yaitu tokoh agama, tokoh adat, Kepala Desa Jerowaru, Lurah Jerowaru, dan masyarakat.

Saat melaksanakan tradisi Barus Geleng, Anda harus menyediakan kambing hitam halus dan ayam koshi kuning, yang harus disembelih dan dibersihkan kemudian dicat dengan jeruk nipis. Tradisi Barus Geleng merupakan kegiatan yang tidak lepas dari peran masyarakat dan orang-orang yang terlibat dalam tradisi Barus Geleng masing-masing. Tokoh adat memiliki peran penting dalam pelaksanaan tradisi Barus Geleng, karena tokoh adatlah yang mempersiapkan pelaksanaan tradisi ini dari awal hingga akhir.

Kepala desa dan kepala daerah Jerowaru sebagai tokoh penyambutan untuk hadir dalam acara pementasan tradisi Barus Geleng tersebut. Dari beberapa proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng, masyarakat desa Jerowaru tentunya membutuhkan waktu untuk mempersiapkan peralatan yang akan digunakan agar pelaksanaannya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala saat tradisi ini dilakukan. Bentuk-bentuk komunikasi Islami terhadap tradisi Barus Geleng terlihat ketika proses pelaksanaannya berlangsung bernuansa Islami sejelas pembacaan ayat Al-as ayat kursi.

Pemahaman masyarakat tentang tradisi Barus Geleng adalah bahwa tradisi Barus Geleng berarti penyelamatan keris yang diyakini masyarakat desa Jerowaru dapat mencegah segala macam malapetaka atau menangkal bahaya.

PENUTUP

Kesimpulan

Tradisi ini harus dilakukan setahun sekali di awal bulan Maulid pada tanggal 6 bulan Hijriyah, dan jika tradisi ini tidak dilakukan, bencana akan menimpa masyarakat Jerowaru. Tinjauan komunikasi Islam terhadap pelaksanaan tradisi Barus Geleng dalam membangun solidaritas sosial ditandai dengan sebelum acara dilaksanakan, tokoh-tokoh yang terlibat dalam tradisi ini terlebih dahulu melakukan doa istikharah untuk menentukan hari dan tanggal, sebelum acara berlangsung. acara dilaksanakan, masyarakat desa Jerowaru mengadakan musyawarah terlebih dahulu, dan setelah hari dan tanggal ditetapkan, masyarakat desa Jerowaru mengumpulkan uang untuk membeli kambing dan perlengkapan lainnya. Sebelum acara dimulai, masyarakat Jerowaru harus dalam keadaan wudhu, membaca ayat kursi dan membaca ayat suci allen.

Saran

Ahda Sabila, n Adat Sasak di Desa Saribaye, Kec. Alo Liliweri, Dasar-dasar Komunikasi Islam, Yogyakarta: Perpustakaan Mahasiswa, 2009. Aulia Harridhi Khilal, https://www.kompasiana.com/amp/ilal/5-approach-in-qualitative-research diakses pada 15 Desember 2020, di 22.14.

Gambar

Diagram 04 : Mata Pencaharian Penduduk
Tabel 01 : Sarana Pendidikan

Referensi

Dokumen terkait

«Optimization of preparation technology of stowing mixtures with ultrafine grinding based on the production of waste», стр.. «Alternative replacement constitutes the filling mixture and