PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Oleh karena itu, saya tertarik untuk meneliti tradisi Barus Geleng di Desa Jerowaru dari perspektif komunikasi Islam. Maka penelitian ini berjudul Tinjauan Komunikasi Islam Terhadap Implementasi Tradisi Barus Geleng (Keris) Dalam Membangun Solidaritas Sosial. Gambaran komunikasi Islam pada tradisi Barus Geleng dalam membangun solidaritas dan pemahaman masyarakat terhadap tradisi Barus Geleng.
Simbol dalam pelaksanaan tradisi Barus Geleng adalah simbol yang berwujud benda. Oleh karena itu masyarakat Desa Jerowaru mengenalnya dengan tradisi Barus Geleng yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Rumusan Masalah
Tujuan dan Manfaat
- Tujuan
- Manfaat
Khususnya mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang mendalami ilmu dakwah dan dapat memberikan gambaran tentang komunikasi Islam untuk arah utama komunikasi siaran Islam untuk kepentingan efektifitas dan efisiensi.
Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Telaah Pustaka
Peneliti sebelumnya membahas pentingnya Rebo Bontong dalam kehidupan masyarakat, namun penelitian ini akan fokus pada pemahaman masyarakat tentang tradisi Barus Geleng. Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi, serta penelitian tentang tradisi. 2Erwinda Febriani Afandi, Tradisi Rebo Bontong di Dusun Ketapang Desa Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, (Skripsi, FUSA Uin Mataram, Mataram, 2020), hal.
Kerangka Teori
- Tinjauan Komunikasi Islam
- Tradisi Barus Geleng
- Solidaritas Sosial
Masyarakat suku Sasak khususnya Desa Jerowaru masih mempertahankan atau melestarikan salah satu tradisi yang disebut dengan tradisi Barus Geleng. Tradisi Barus Geleng merupakan salah satu tradisi leluhur yang dilakukan oleh masyarakat desa Jerowaru dan hingga kini masih dilestarikan dan dilestarikan dalam kehidupan masyarakat. Tradisi Barus Geleng merupakan tradisi yang dapat menangkal segala macam musibah atau menangkal bahaya.
Metode Penelitian
- Pendekatan Penelitian
- Kehadiran Peneliti
- Lokasi Penelitian
- Sumber Data
- Prosedur Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Pengecekan Keabsenan Data
Sistematika Pembahasan
PAPARAN DATA DAN TEMUAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Sejarah Desa Jerowaru
- Letak Geografis
- Kondisi Perekonomian
- Kondisi Sosial Budaya
- Kondisi Sarana dan Prasarana Desa
- Deskripsi Informasi Penelitian
Kampung Jerowaru lahir sebelum Perang Kemerdekaan dengan melalui masa penjajahan Belanda dan Jepang kemudian melalui masa G 30S/PKI. Sebagian wilayah Desa Jerowaru merupakan kawasan pesisir yaitu Jor, Telong-Elong, Poton Bako, Tutuk dan pembuangan limbah dimana satu. Desa Jerowaru merupakan salah satu dari 15 desa yang ada di Kecamatan Jerowaru yang terletak 0,5 km sebelah utara kota kecamatan dengan luas 16,73 km2 atau 1.673,00 ha (sekitar 12% dari luas wilayah Kecamatan Jerowaru).
Penggunaan lahan di desa Jerowaru sebagian besar dialokasikan untuk lahan pertanian, sedangkan sisanya untuk lahan kering yaitu untuk bangunan dan fasilitas lainnya. Desa Jerowaru terletak pada ketinggian + 0-54 meter di atas permukaan laut (dpl). Jerowaru dimana pada akhir tahun buku 2020 terdapat aset sebesar 10,4 Milyar ALL, BUMDes LKM Desa Jerowaru dengan total pendapatan tahun 2020 sebesar Rp.
Sektor perikanan dan kelautan juga menjadi salah satu peluang yang bisa dilampaui sehingga pemerintah kabupaten Desa Jerowaru masuk dalam kawasan pengembangan kawasan Minapolitan. Tingkat pendidikan masyarakat Desa Jerowaru tergolong tinggi, dengan lulusan SD sebanyak 1.901 orang, lulusan SMA sebanyak 1.458 orang, lulusan SMA sebanyak 1.558 orang, dan diploma/lulusan sebanyak 383 orang, magister/magister sebanyak 19 orang, doktor sebanyak 1 orang. 7 bidan Selain itu, 99,99% masyarakat Desa Jerowaru memiliki akses penerangan listrik PLN dan rata-rata telah menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar memasak.
Secara umum kondisi sarana dan prasarana di Desa Jerowaru masih kurang memadai terutama pada jalan desa +18 km dan jalan lingkungan +7,5 km.
Pemahaman Masyarakat Desa Jerowaru Terhadap Tradisi Barus Geleng
- Simbol atau bahan- bahan yang digunakan
Narasumber ke-5 adalah tokoh agama yang juga berperan dalam tradisi Barus Geleng, beliau memimpin dari awal acara adat sampai akhir. Dari perkenalan informan di atas, mereka menyampaikan bahwa dalam sejarah tradisi Barus Geleng, ada wali yang pertama kali melaksanakan tradisi ini agar masyarakat Jerowaru terhindar dari bencana buruk di dusun atau desa tersebut. Tradisi Barus Geleng sudah ada sejak para wali sebelumnya, tradisi Barus Geleng merupakan perpaduan antara tradisi dan unsur religi yang harus dilakukan setiap tahun.
Dari para informan di atas, tradisi Barus Geleng tidak dapat dipisahkan dari unsur religi dan merupakan salah satu pemersatu masyarakat, karena tradisi. Pemahaman tokoh agama Islam tentang tradisi Barus Geleng merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat desa Jerowaru dan tradisi ini mengandung unsur Islam. Tradisi Barus Geleng ini sangat penting karena memiliki tujuan yang baik yaitu memohon keselamatan dan dijauhkan dari segala macam bencana.
Pendapat saya tentang tradisi Barus Geleng ini memiliki banyak arti, antara lain diyakini dapat menjauhkan dari segala sesuatu. Dengan melaksanakan tradisi Barus Geleng, masyarakat Jerowaru merasa aman dan terlindungi dari segala macam musibah dan merupakan bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT yang telah memberikan kelancaran untuk melaksanakan acara adat tersebut hingga saat ini. Dari informan diatas, tradisi Barus Geleng sangat penting bagi masyarakat desa Jerowaru dan menganggap tradisi ini sebagai syarat untuk dijauhkan dari berbagai macam musibah dan juga tradisi Barus Geleng. dan masih percaya bahwa mereka hanya meminta perlindungan. dari Allah SWT.
Dalam tradisi Barus Geleng, kami menggunakan bahan yang telah kami siapkan sebelumnya yaitu kambing hitam halus, ayam bin kuning, jeruk nipis, daun nao, daun pria, dupa, kain putih bersih, nampan janggak, mangkuk putih halus dan bunga 38.
Tinjauan Komunikasi Islam terhadap tradisi Barus Geleng (keris) dalam
Informan di atas mengatakan bahwa tradisi ini dilakukan oleh sebagian masyarakat Jerowaru, maka sebelum pelaksanaan acara adat Barus Geleng harus diadakan musyawarah agar proses berjalan lancar, serta alat dan bahan yang digunakan harus disiapkan. . Jika kita berbicara tentang bentuk komunikasi Islam, ada dua bentuk komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.Peralatan yang digunakan adalah kambing hitam halus, ayam bin kuning, jeruk nipis, mangkuk putih halus, daun jantan-jantan, sirih daun, dulang janggak, bunga, kemenyan dan daun nao. Dari informan di atas, simbol-simbol dalam komunikasi Islam menunjukkan bahwa simbol ini memiliki arti menurut masyarakat desa Jerowaru.
Tempat pelaksanaan biasanya tidak terlepas dari peran masyarakat, sehingga yang terlibat dalam tradisi Barus Geleng adalah tokoh agama, tokoh adat, kepala desa, tokoh daerah dan masyarakat. Dari informan diatas, pada tahap pelaksanaan, masyarakat sudah menentukan kapan dan dimana akan melakukan tradisi Barus Geleng, dan masyarakat desa Jerowaru sudah diajarkan oleh nenek moyang kita. Tradisi Barus Geleng dilakukan mulai pukul 10.00 hingga 19.30 sebelum acara dipandu oleh tokoh adat dan tokoh agama.
Sebelum tradisi Barus Geleng dilaksanakan, saya sebagai ketua adat melakukan sholat Istikharah terlebih dahulu agar Allah swt. memperlancar jalannya acara.”44. Pelaksanaan acara tradisi Barus Geleng harus melaksanakan sholat istikhara untuk menentukan kapan akan dilaksanakan, karena sholat istikhara merupakan syarat untuk menentukan pelaksanaan tradisi Barus Geleng. Informan di atas menunjukkan bahwa sebelum melakukan tradisi Barus Geleng para tokoh adat dan tokoh agama terlebih dahulu melakukan sembahyang istikharoh agar acara berjalan dengan lancar. kediaman TG Abdul Mukid.
Menurut informan di atas, proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng memiliki makna tersendiri yang sangat penting dan dianggap berkah oleh masyarakat Jerowaru.
PEMBAHASAN
Pemahaman Masyarakat Desa Jerowaru Terhadap Tradisi Barus Geleng
- Simbol- sumbol yang digunakan
Inti dari tradisi Barus Geleng adalah ritual meminta pertolongan agar dijauhkan dari segala macam musibah. Jadi, pemahaman masyarakat Jerowaru tentang tradisi Barus Geleng adalah adanya perpaduan antara tradisi dan unsur religi yang dilakukan setahun sekali. Kelanjutan acara adat Barus Geleng membutuhkan persiapan yang sangat matang dan melibatkan banyak pihak.
Dalam perundingan adat Barus Geleng, tujuannya adalah mencari titik terang untuk mencapai kesepakatan bersama. Untuk mementaskan tradisi Barus Geleng diperlukan persiapan yang matang, mengingat acara ini melibatkan banyak orang. Sebelum pelaksanaan tradisi Barus Geleng, masyarakat Jerowaru mengadakan musyawarah untuk menentukan hari, tanggal dan waktu terlebih dahulu agar menjadi tradisi.
Kemudian jamaah membacakan syair kursi dan para pemuka agama memimpin pembacaan doa-doa yang digunakan dalam tradisi Barus Geleng. Kami mempraktekkan tradisi Barus Geleng dengan menggunakan dulang janggak dan tidak menggunakan dulang biasa. Tradisi Barus Geleng merupakan kegiatan yang tidak lepas dari peran masyarakat dan orang-orang yang terlibat dalam tradisi Barus Geleng yaitu.
Kepala desa dan kepala daerah Jerowaru sebagai tokoh penyambutan untuk hadir dalam acara pementasan tradisi Barus Geleng tersebut.
Tinjauan Komunikasi Islam Dalam Pelaksanaan Tradisi
- Proses pelaksanaan tradisi Barus Geleng
PENUTUP
Kesimpulan
Pemahaman masyarakat tentang tradisi Barus Geleng adalah bahwa tradisi Barus Geleng berarti menyelamatkan keris yang diyakini masyarakat desa Jerowaru dapat menjauhkan dari segala macam malapetaka atau menghindari bahaya. Tradisi ini harus dilakukan setahun sekali pada awal bulan Maulid pada tanggal 6 bulan Hijriah dan jika tradisi ini tidak dilakukan maka bencana akan menimpa masyarakat Jerowaru. Tinjauan komunikasi Islam terhadap pelaksanaan tradisi Barus Geleng dalam membangun solidaritas sosial ditandai dengan sebelum acara dilaksanakan, para tokoh yang berperan dalam tradisi ini terlebih dahulu harus melakukan shalat Istikharah untuk menentukan hari dan hari. tanggal. sebelum mengadakan acara, masyarakat desa Jerowaru terlebih dahulu mengadakan musyawarah dan setelah menetapkan hari dan tanggal, masyarakat desa Jerowaru mengumpulkan uang untuk membeli kambing dan perlengkapan lainnya.
Sebelum dimulainya acara, masyarakat Jerowaru harus dalam keadaan wudhu, membaca ayat-ayat dari kursi dan membaca ayat-ayat suci Alquran.
Saran
Al-Qur'an Yunus: 16 Al-Mubin, Al-Qur'an dan Artinya, Jakarta Timur: Perpustakaan Al-Mubin. Annisa Rizky Amalia, “Adat Perkawinan Suku Sasak di Lombok”, (Skripsi, SA Uin Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2017). Aulia Harridhi Khilal, https://www.kompasiana.com/amp/ilal/5-dekatan-dalam-research-qualitative diakses pada tanggal 15 Desember 2020 pukul 22.14.
Muhamad Hamdi, “Tradisi Bejambek dalam Adat Perkawinan Suku Ssak di Desa Selong Belanak, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Timur”, (Skripsi, HKI UIN MATARAM, Mataram, 2019).