BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Proses penularan penyakit
Transmisi virus, bakteri, protozoa, cacing dan pathogen yang menyebabkan penyakit saluran pencernaan manusia dapat dijelaskankan melalui teori ” 4 F
“ yaitu Fluids, Fields, Fliesdan Fingers, siklus ini dimulai dari kontaminasi oleh tinja manusia melalui pencemaran air dan tanah, penyebaran serangga dan tangan yang kotor yang dipindahkan ke makanan sehingga dikonsumsi oleh manusia.
Cara penularan seperti ini disebut fecal - oral transmission. Proses penularan penyakit diperlukan beberapa faktor yaitu adanya kuman penyebab penyakit, sumber infeksi. cara keluar dari sumber, cara berpindah dari sumber ke inang baru
yang potensial, cara masuk ke inang baru dan penjamu yang peka (Adisasmito, 2007).
Selain itu proses penularan penyakit juga dipengaruhi oleh karakteristik dan perilaku penjamu termasuk imunitas, status gizi, status kesehatan, usia, jenis kelamin, kebersihan diri dan kebersihan makanan. Secara umum mikroorganisme patogen menular melalui sumber (reservoir) ke inang baru melalui beberapa jalan yaitu kontak langsung dari orang ke orang atau melalui perantara seperti makanan, air atau vector serangga. Adapun mata rantai infeksi penyakit diawali adanya agens mencakup virus, bakteri dan cacing yang tumbuh subur, berkembang biak dan memperbanyak diri pada media atau habitat sebagai reservoir, begitu agens meninggalkan reservoir melalui salah satu cara penularan maka patogen akan masuk dan menginfeksi tubuh manusia yang rentan melalui jalan masuk, yang dapat di jelaskan pada gambar berikut (Soeparman dan S, 2007).
Gambar 1 : jalur perpindahan penyakit dari tinja manusia.
Skema tersebut di atas tampak jelas bahwa peranan tinja dalam Tinja Sumber
infeksi
Air
Tangan
Tanah Serangga
Inang baru Makanan,
susu dan sayuran
Mati
Ketidakmam puan
karena tinja dan mengisolasi agar tinja yang mengandung kuman penyakit tidak sampai kepada inang baru, perlu dilakukan pembuangan tinja yang sehat sebagai penghalang sanitasi. Hal ini dapat di jelaskan dalam gambar sebagai berikut :
Gambar 2. Pembuangan tinja yang sehat sebagai penghalang pemindahan kuman dari tinja ke pejamu yang potensial (Soeparman S, 2007)
2.8 Faktor - faktor yang mempengaruhi perilaku Buang Air Besar Sembarangan
2.8.1 FaktorHost
Karakteristik manusia dan sosiodemografi meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status ekonomi. Menurut teoriHealth Belief Model faktor sosiodemografi sebagai latarbelakang yang mempengaruhi persepsi terhadap ancaman suatu penyakit dan upaya mengurangi ancaman penyakit.
a. Umur Sumber infeksi
P E N G H A L A N G
Host/inang terlindungi
Makanan Tangan
Air
Umur berkaitan dengan perubahan perilaku, perkembangan pengetahuan manusia didasarkan atas kematangan dan belajar. Membuang kotoran dari tubuh manusia termasuk sistem ekskresi yang fisiologis yang sudah ada sejak manusia dilahirkan. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran, membedakan benar dan salah dan mengembangkan hati nurani adalah beberapa tugas pekembangan manusia sejak masa bayi dan anak – anak. Seiring dengan bertambahnya umur maka akan mencapai tingkat kematangan yang tinggi sesuai dengan tugas perkembangan. Perilaku membuang kotoran di sembarang tempat adalah perilaku salah dan tidak sehat yang seharusnya sudah dapat diketahui dan diajarkan kepada seseorang sejak bayi dan anak - anak. Anak lebih cenderung meniru model yang sama dalam jangkauannya baik anak yang seusia ataupun orang dekat yang ada disekitarnya (Kandun IN, 2006).
b. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang termasuk faktor predisposisi terhadap perilaku kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa tingkat pendidikan tidak ada hubungannya dengan pemanfaatan jamban keluarga. Meskipun pada beberapa penelitian tidak menunjukkan adanya hubungan dengan perilaku, namun tingkat pendidikan mempermudah untuk terjadinya perubahan perilaku, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah seseorang untuk menerima informasi baru yang sifatnya membangun (Soleh M, 2010).
c. Status ekonomi
Status ekonomi seseorang termasuk faktor predisposisi terhadap perilaku kesehatan. Semakin tinggi status ekonomi seseorang menjadi faktor yang
penghasilan yang rendah berpengaruh 4 kali terhadap penggunaan jamban (Simanjuntak D, 2009).
2.8.2 Faktor Lingkungan A.Lingkungan Fisik
1.Ketersediaan sarana air bersih
Air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan yaitu jernih, tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa ( tawar ). Menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I Nomor 416 / MENKES / PER /IX /1990, pasal 1 (c) Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila dimasak. Kebutuhan air bersih di Indonesia diperkirakan 100 liter per orang perhari. Tersedianya air bersih sangatlah penting guna keberhasilan program Pemanfaatan penggunaan jamban. Pemanfaatan penggunaan jamban tergantung dari ketersediaan dari air bersih untuk menggelontorkan / menyiram membersihkan kotoran. Tersedianya air bersih menurut responden adalah kecukupan air guna menyiram dan membersihkan sehabis buang air besar, hasil wawancara pendahuluan dengan perangkat desa dan beberapa responden bahwa kebutuhan air untuk menyiram dan membersihkan sehabis buang air besar adalah 10 - 20 liter air atau setara dengan satu ember sampai dua ember (Indan E, 2006).
B.Lingkungan Sosial 1.Dukungan Sosial
Peran penyuluh oleh petugas kesehatan, tokoh masyarakat dan kader di Desa adalah dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan
jamban juga memberikan kontribusi dalam perubahan perilaku masyarakat tentang buang air besarsembarangan ( Notoatmodjo, 2010).
2.Kebudayaan
Kebiasaan buang air besar sembarangan yang terjadi dimasyarakat umumnya karena adanya perasaan bahwa buang air besar sembarangan itu lebih mudah dan praktis, buang air besar sembarangan sebagai identitas masyarakat dan budaya turun - temurun dari nenek moyang sehingga menjadi kebiasaan.
Mengubah kebiasaan adalah sebuah hal yang terlihat sepele, tetapi amat sulit jika ingin kita lakukan, terutama ketika sebuah kebiasaan telah berganti menjadi sebuah kenyamanan tentunya kita akan merasa risih/tidak nyaman, jika kebiasaan kita tersebut tidak kita laksanakan (Bhisma M, 2011).
Ketika perilaku masyarakat berubah dalam hal buang air besar maka akan dampak ikutan kearah yang lebih baik. Sanitasi yang aman mampu menurunkan resiko diare hingga 36%. Biaya pengobatan pun akan berkurang, hanya perlu komitmen yang kuat dari masyarakat dan pemerintah untuk harus mendorong upaya peningkatan sanitasi (Atika, 2012).
2.9 Program Pendekatan STBM ( Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)