BAB I DINAMIKA DAN PROSPEK PEREKONOMIAN GLOBAL
1.2. Prospek Ekonomi Global
4
Tingkat inflasi telah melewati puncaknya, meskipun masih berada pada level yang relatif tinggi. Sejalan dengan tren menurunnya harga komoditas global khususnya energi, laju inflasi global secara umum mengalami penurunan. Laju inflasi di AS telah menurun dari puncaknya di tingkat 9,1 persen pada bulan Juni 2022 menjadi 5,0 persen di bulan Maret 2023. Demikian juga dengan tingkat inflasi Eropa yang turun dari 10,6 persen di bulan Oktober 2022 menjadi 7,0 persen di bulan April 2023. Meskipun demikian, tingkat inflasi di negara maju masih relatif tinggi dibandingkan dengan tingkat rata-rata inflasi periode prapandemi dan sasaran inflasi jangka menengahnya.
Kebijakan moneter di sebagian besar negara-negara maju cenderung masih ketat. Secara keseluruhan, sejak tahun 2022, the Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 500 basis points (bps) dari sebelumnya 0,25 persen di bulan Februari 2022 menjadi 5,25 persen pada bulan Mei 2023. Laju kenaikan suku bunga di AS terlihat sudah mulai melambat, dari kenaikan 50 bps menjadi hanya 25 bps pada tiga FOMC terakhir, seiring dengan mulai meredanya tekanan inflasi. Pengetatan moneter yang agresif juga terjadi di Eropa, dimana suku bunga acuan secara total telah naik 375 bps dari nol persen di bulan Juni 2022 menjadi 3,75 persen pada bulan Mei 2023. Laju kenaikan suku bunga acuan di Eropa diperkirakan masih cukup cepat, di tengah tekanan inflasi yang relatif lebih tinggi dibanding kawasan lain.
Banyak negara berkembang, seperti Meksiko (575 bps), Brazil (450 bps), Afrika Selatan (400 bps), dan India (250 bps), juga telah menaikkan suku bunga acuannya secara cukup signifikan sejak tahun 2022. Secara umum, tingkat suku bunga global diperkirakan relatif masih tinggi di dalam jangka waktu yang cukup lama (high for longer).
Grafik 6 Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Acuan Beberapa Negara (Inflasi dalam % yoy; Suku Bunga Acuan dalam %)
Sumber: Bloomberg
5 pertumbuhan volume perdagangan internasional juga diperkirakan rebound ke tingkat 3,5 persen di 2024, setelah hanya tumbuh rendah 2,4 persen di tahun 2023. Kelompok negara berkembang dan khususnya wilayah Asia diperkirakan menjadi motor pertumbuhan dan perdagangan internasional di tahun 2024. Pembukaan kembali aktivitas ekonomi Tiongkok (reopening) pascakebijakan Zero-Covid yang sudah dimulai sejak 2023 serta potensi ekonomi yang besar di India dan ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam) menjadi beberapa faktor positif yang menopang pertumbuhan global ke depan.
Tekanan inflasi global diperkirakan terus mereda di 2024 yang diikuti pelonggaran moneter. Tekanan inflasi di banyak negara diperkirakan sudah melewati puncaknya sejak tahun 2023, dan terus termoderasi hingga tahun 2024. Meskipun demikian, untuk beberapa negara maju inflasi diperkirakan masih di atas target jangka menengah. Beberapa faktor pendukung moderasi inflasi global yakni disrupsi suplai yang telah pulih pascapandemi dan krisis geopolitik serta harga komoditas yang mengalami normalisasi. Dengan tekanan inflasi yang mereda, tren pengetatan moneter agresif juga terus berkurang dan bahkan diperkirakan terjadi pelonggaran di banyak negara utama. Namun demikian, tingkat suku bunga diprediksi relatif masih tinggi walaupun sudah terjadi pembalikan arah kebijakan moneter menjadi lebih longgar.
Asia menjadi salah satu motor utama pertumbuhan global. Perekonomian Asia yang relatif lebih resilien dibanding wilayah lain membuatnya tetap menjadi bright spots di tengah lesunya perekonomian global. Dalam jangka pendek, berakhirnya kebijakan Zero-Covid di Tiongkok akan memberi daya ungkit pada pertumbuhan global. Dalam jangka menengah- panjang, pertumbuhan kelas menengah di Asia membuat kawasan ini terus menjadi pasar potensial. Pertumbuhan ekonomi Asia yang cukup solid selain bermanfaat untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat juga terus memperbesar kelompok masyarakat kelas menengah, yang menjadi pasar potensial bagi ekonomi secara global. Semakin meningkatnya ukuran kelas menengah di wilayah Asia diperkirakan akan mendongkrak permintaan barang-barang konsumsi dan mendorong investasi yang merupakan sumber penting pertumbuhan ekonomi global.
Tabel 1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global dan Negara-negara Utama (dalam %)
Negara 2019 2020 2021 2022 2023F 2024F
Global 2,2 -3,1 6,2 3,4 2,8 3,0
Eropa 1,6 -6,1 5,3 3,5 0,8 1,4
AS 2,3 -2,8 5,9 2,1 1,6 1,0
Tiongkok 6,0 2,2 8,5 3,0 5,2 4,5
India 3,9 -5,8 9,1 6,8 5,9 6,3
ASEAN-5 4,3 -4,4 3,8 5,5 4,5 4,6
Indonesia 5,0 -2,1 3,7 5,3 5,0 - 5,3 5,3 - 5,7
Malaysia 4,4 -5,5 3,1 8,7 4,5 4,5
Filipina 6,1 -9,5 5,7 7,6 6,0 5,8
Thailand 2,1 -6,2 1,6 2,6 3,4 3,6
Singapura 1,3 -3,9 8,9 3,7 1,5 2,1
Sumber: IMF dan Kemenkeu RI
6
Tiongkok diprediksi terus pulih meskipun tidak sekuat periode prapandemi. The International Monetary Fund (IMF) memperkirakan reopening dan peningkatan mobilitas Tiongkok akan mendorong akselerasi pertumbuhan ke tingkat 5,2 persen di 2023. Akan tetapi, pertumbuhan tersebut diperkirakan turun ke level 4,5 persen pada 2024 dan terus melambat di bawah 4,0 persen dalam jangka menengah. Kebijakan Pemerintah akan berorientasi pada penguatan konsumsi pascapandemi serta melanjutkan strategi pertumbuhan yang lebih rebalance pada sisi konsumsi. Di sisi lain, Tiongkok belum bisa menghindari tantangan sektor properti yang telah menjadi sumber kerentanan dan telah memberi dampak rambatan perlambatan sektor terkait seperti besi, baja, semen, dan lainnya.
Krisis sektor properti juga memberikan exposure pada stabilitas sistem keuangan dan perbankan, serta sumber pendapatan dan keberlanjutan utang pemerintah daerah.
India menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan global, didukung oleh konsumsi domestik yang kuat. Pertumbuhan ekonomi India di tahun 2023 dan 2024 diproyeksikan masing-masing pada tingkat 5,9 persen dan 6,3 persen. Pertumbuhan ekonomi India akan menjadi yang paling tinggi di antara negara G20, sekaligus menggeser dominasi Tiongkok.
Meski di jangka pendek dibayangi pelemahan permintaan global, namun kekuatan ekonomi domestik India sangat besar didukung oleh jumlah penduduk yang besar dan bonus demografi yang diperkirakan bertahan hingga periode tahun 2050-2060. Strategi kebijakan dan reformasi yang diarahkan pada penguatan infrastruktur, investasi, manufaktur, dan teknologi menjadi salah satu daya dukung pertumbuhan negara tersebut.
ASEAN terus menjadi salah satu kawasan dengan prospek pertumbuhan paling menjanjikan. Secara agregat, ASEAN-5 diperkirakan mencatat pertumbuhan 4,5 persen di tahun 2023 dan 4,6 persen di tahun 2024, atau di atas tingkat pertumbuhan global maupun kelompok negara berkembang secara agregat. Selain terimbas dari peningkatan permintaan negara Asia lain seperti Tiongkok dan India, perekonomian ASEAN-5 masih ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat. Seiring kehidupan pascapandemi yang terus mengalami normalisasi, aktivitas ekonomi negara-negara ASEAN-5 juga akan mendapat daya dorong dari sektor pariwisata. Di sisi lain, industrialisasi akan menjadi kunci penting untuk menciptakan daya saing yang lebih tinggi serta pembangunan yang lebih berkesinambungan, khususnya di negara-negara yang masih memiliki ketergantungan pada sumber daya alam (SDA).
Perekonomian AS diproyeksikan melambat sebagai dampak dari kebijakan pengetatan moneter dan tingginya inflasi. Outlook pertumbuhan ekonomi AS berada dalam tren perlambatan untuk tahun 2023 dan 2024 di tingkat 1,6 persen dan 1,0 persen. Dampak dari pengetatan moneter agresif serta tingkat suku bunga yang masih tinggi membuat AS tidak bisa menghindari moderasi pertumbuhan. Dari sisi yang lebih positif, pasar tenaga kerja serta aktivitas konsumsi AS telah menunjukkan resiliensi, dan negara tersebut juga telah mampu bangkit dari resesi teknikal secara cepat di tahun 2022. Dalam jangka lebih panjang, Pemerintah AS telah menunjukkan komitmen besar untuk meredam inflasi serta mendorong beberapa sektor potensial seperti energi terbarukan maupun teknologi. Meski demikian, perlu terus dicermati secara saksama dampak negatif dari langkah AS tersebut pada proteksionisme dan tensi geopolitik.
Pemulihan ekonomi Eropa diperkirakan mulai terjadi di 2024. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Zona Eropa di tahun 2023 sangat rendah di tingkat 0,8 persen, namun kemudian membaik di tahun 2024 dengan tumbuh 1,4 persen. Perbaikan di tahun 2024
7 didorong oleh lebih terkendalinya inflasi seiring efektifnya kebijakan pengetatan moneter yang dijalankan European Central Bank (ECB) sejak tahun 2022. Selain didorong oleh peningkatan permintaan domestik yang didukung pelonggaran kebijakan moneter, pertumbuhan ekonomi zona Eropa di tahun 2024 juga akan didorong oleh kuatnya kinerja pertumbuhan negara-negara Asia, seperti India dan ASEAN. Prospek perekonomian Eropa diperkirakan terakselerasi jika tercapai resolusi dari konflik Rusia – Ukraina. Eropa juga menjadi salah satu kawasan yang diperkirakan memberi perhatian tinggi pada pertumbuhan ekonomi hijau dan energi terbarukan untuk memperkuat resiliensi ke depan.
Sektor energi terbarukan menjadi potensi sumber pertumbuhan baru global pascapandemi. Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), pengalaman krisis energi global pada tahun 2022 dan peningkatan ambisi iklim negara-negara di dunia telah mendorong akselerasi akuisisi sumber energi terbarukan. Kapasitas total energi terbarukan diperkirakan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan, menggantikan batu bara sebagai sumber pembangkit listrik. Peningkatan tren penggunaan energi terbarukan tidak hanya diperkirakan terjadi di Eropa yang selama ini memang telah memimpin transisi menuju energi bersih, melainkan juga di negara besar lain seperti Tiongkok, AS, dan juga India. Negara-negara tersebut saat ini sedang menggalakkan implementasi kebijakan dan mengakselerasi reformasi untuk mencapai diversifikasi sumber energi demi pembangunan yang lebih berkelanjutan.