BAB I DINAMIKA DAN PROSPEK PEREKONOMIAN GLOBAL
1.3. Risiko Global
7 didorong oleh lebih terkendalinya inflasi seiring efektifnya kebijakan pengetatan moneter yang dijalankan European Central Bank (ECB) sejak tahun 2022. Selain didorong oleh peningkatan permintaan domestik yang didukung pelonggaran kebijakan moneter, pertumbuhan ekonomi zona Eropa di tahun 2024 juga akan didorong oleh kuatnya kinerja pertumbuhan negara-negara Asia, seperti India dan ASEAN. Prospek perekonomian Eropa diperkirakan terakselerasi jika tercapai resolusi dari konflik Rusia – Ukraina. Eropa juga menjadi salah satu kawasan yang diperkirakan memberi perhatian tinggi pada pertumbuhan ekonomi hijau dan energi terbarukan untuk memperkuat resiliensi ke depan.
Sektor energi terbarukan menjadi potensi sumber pertumbuhan baru global pascapandemi. Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), pengalaman krisis energi global pada tahun 2022 dan peningkatan ambisi iklim negara-negara di dunia telah mendorong akselerasi akuisisi sumber energi terbarukan. Kapasitas total energi terbarukan diperkirakan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan, menggantikan batu bara sebagai sumber pembangkit listrik. Peningkatan tren penggunaan energi terbarukan tidak hanya diperkirakan terjadi di Eropa yang selama ini memang telah memimpin transisi menuju energi bersih, melainkan juga di negara besar lain seperti Tiongkok, AS, dan juga India. Negara-negara tersebut saat ini sedang menggalakkan implementasi kebijakan dan mengakselerasi reformasi untuk mencapai diversifikasi sumber energi demi pembangunan yang lebih berkelanjutan.
8
masih berpotensi menimbulkan disrupsi pada perekonomian global yang dapat memicu kenaikan harga komoditas. Konflik geopolitik yang berkepanjangan tentunya akan mengganggu rantai pasok global, bahkan jika tensinya meningkat dapat mengarah pada geoeconomic-fragmentation serta deglobalisasi. Hal ini dapat memperburuk kinerja perdagangan dan investasi global yang dapat berdampak negatif terutama pada negara berkembang termasuk Indonesia.
Grafik 7 Pergerakan Indeks Harga Saham Perbankan
(Februari 2021 = 100)
Sumber: Bloomberg
Grafik 8 Indeks Volatilitas Global
Sumber: Bloomberg
Perang dagang AS – Tiongkok yang berlangsung sejak tahun 2017 juga telah mendorong terjadinya fenomena “the US – China Decoupling” yang akan berdampak signifikan pada negara-negara berkembang. Fenomena decoupling merujuk pada situasi di mana AS dan Tiongkok semakin terpisah sehingga semakin tidak saling bergantung satu dengan lainnya.
Dua faktor utama yang memicu meningkatnya fenomena decoupling adalah terkait isu keamanan (security concern) dan defisit perdagangan di AS. Terkait isu keamanan, selama ini AS memandang Tiongkok sebagai kompetitor strategis dan merasa terancam dengan berbagai aktivitas Tiongkok yang dapat membahayakan keamanan AS, seperti mata-mata melalui aktivitas internet (cyber-espionage), pencurian hak intelektual (property right), serta ekspansi militer di Laut China Selatan. Sementara itu, terkait defisit perdagangan, AS menganggap Tiongkok melakukan praktik-praktik yang tidak fair seperti manipulasi nilai tukar (currency manipulation), subsidi besar-besaran terhadap BUMN, dan hambatan- hambatan terhadap investasi asing. Oleh karena itu, AS menerapkan sejumlah tarif pada produk-produk Tiongkok untuk mengurangi defisit perdagangannya. Meningkatnya fenomena decoupling memiliki potensi dampak signifikan pada negara-negara berkembang.
Bagi negara-negara yang memiliki pangsa ekspor besar pada kedua negara tersebut akan terdampak signifikan jika terjadi disrupsi pasar pada kedua negara tersebut. Selain itu, decoupling akan mendorong pergeseran rantai pasok global karena banyak korporasi asing akan melakukan diversifikasi pabrik-pabriknya dan melakukan relokasi dari Tiongkok untuk menghindari sanksi dari AS. Di satu sisi, hal ini menjadi kesempatan bagi negara berkembang untuk menarik investasi asing dan pabrik-pabrik yang melakukan relokasi dari Tiongkok. Di sisi lain, kompetisi di antara negara berkembang juga meningkat. Dampak yang paling dikhawatirkan adalah jika fenomena decoupling semakin mendorong meningkatnya ketegangan geopolitik atau bahkan melahirkan ketegangan baru yang akan menambah kerumitan pada negara-negara berkembang.
0 50 100 150 200
Feb-21 Apr-21 Jun-21 Aug-21 Oct-21 Dec-21 Feb-22 Apr-22 Jun-22 Aug-22 Oct-22 Dec-22 Feb-23 Apr-23
JP Morgan SVB Equity
Signature Bank Credit Suisse
0 50 100 150 200 250
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Jan-19 Apr-19 Jul-19 Oct-19 Jan-20 Apr-20 Jul-20 Oct-20 Jan-21 Apr-21 Jul-21 Oct-21 Jan-22 Apr-22 Jul-22 Oct-22 Jan-23 Apr-23
VIX Index MOVE Index (rhs)
9 Tekanan inflasi global mulai mereda, namun tingkat inflasi masih cukup tinggi. Secara global, penurunan harga komoditas energi dan pangan serta perbaikan supply chain telah mendorong penurunan tekanan inflasi. Meskipun demikian, laju inflasi di AS dan Eropa masih berada di atas rata-rata jangka menengah – panjangnya. Oleh karena itu, the Fed and ECB diperkirakan masih melanjutkan kebijakan moneter yang ketat. Sementara itu, reopening policy oleh Tiongkok berpotensi kembali memberikan tekanan inflasi global mengingat Tiongkok merupakan negara dengan aktivitas manufaktur sangat besar dengan konsumsi minyak terbesar kedua di dunia. Dengan adanya potensi kenaikan inflasi akibat konflik geopolitik dan pulihnya aktivitas ekonomi global, kebijakan moneter secara global diperkirakan masih akan ketat dalam waktu yang relatif lama (high for longer).
Grafik 9 Rasio Utang Terhadap PDB Negara-Negara (dalam %)
Sumber: IMF
Di tengah kebijakan moneter yang masih ketat, ruang fiskal semakin terbatas. Selama tiga tahun pandemi, berbagai negara di dunia menggunakan kebijakan fiskal sebagai instrumen countercyclical untuk penanganan pandemi Covid-19, mitigasi dampak yang ditimbulkan secara pemulihan ekonomi. Membengkaknya belanja dan menurunnya pendapatan di sisi lain akibat lemahnya aktivitas perekonomian menyebabkan defisit fiskal melebar signifikan sehingga akibatnya utang pemerintah membengkak. Akibatnya, sebagian besar negara menghadapi ruang fiskal yang semakin sempit untuk mendorong akselerasi pemulihan ekonomi.
Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah tren Green Subsidy Race di negara-negara maju dalam rangka merespon isu perubahan iklim. Tren tersebut merujuk pada kecenderungan munculnya kompetisi antarnegara dalam memberikan subsidi terhadap pembangunan teknologi hijau dan energi bebas karbon. Sebagai contoh, AS menerapkan Inflation Reduction Act (IRA) yang dimaksudkan untuk mempromosikan penggunaan clean energy, clean vehicles dan clean manufacturing, melalui pemberian berbagai insentif pajak. Sementara itu, Eropa menerapkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang merupakan tarif pada karbon yang dikenakan atas produk tinggi karbon yang masuk ke Eropa. Hal itu dimaksudkan untuk mendorong aktivitas produksi yang lebih hijau dari negara asal produk.
Kebijakan-kebijakan tersebut berpotensi memperparah fragmentasi perdagangan dan investasi global yang saat ini cenderung meningkat. Risiko keberhasilan kebijakan pengembangan energi terbarukan di Indonesia berpotensi meningkat dengan bertambahnya
22 14 33 41 30 42 53 37 47 41 57 59 56 89 60 75 88 90 84 97 109 128 134 236
24 25 35 36 39 55 56 57 59 61 67 67 72 76 82 83 88 105 106 111 122 135 140 258
SAU RUS TUR VNM IDN KOR MEX PHL AUS THA MYS DEU ZAF ARG CHN IND BRA CAN GBR FRA USA SGP ITA JPN
2019 2023F
10
fragmentasi perdagangan dan investasi global. Hal tersebut pada gilirannya dapat menjadi beban ekonomi dan fiskal mengingat masih adanya kebutuhan yang cukup besar atas investasi swasta, baik asing maupun domestik, dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Dampak negatif dari perubahan iklim juga merupakan risiko nyata yang perlu terus diwaspadai. Cuaca ekstrem dan bencana alam, khususnya banjir, yang mulai sering terjadi menjadi bukti nyata dari dampak perubahan iklim. Beberapa peristiwa cuaca ekstrem seperti badai tropis, musim kemarau panjang, maupun musim hujan ekstrem telah berdampak signifikan pada kinerja ekonomi di banyak negara. Sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta pariwisata merupakan sektor-sektor yang sangat rentan terdampak oleh perubahan iklim. Dampak dari perubahan iklim tidak hanya terlihat pada menurunnya produktivitas beberapa sektor tertentu saja, tetapi juga meliputi kesehatan masyarakat, kerusakan permukiman, dan kerusakan infrastruktur. Oleh karena itu, kerugian akibat dampak perubahan iklim juga memiliki konsekuensi pada anggaran pemerintah untuk penanganan dan mitigasi dampak yang terjadi, termasuk untuk perlindungan pada masyarakat yang terdampak serta pendanaan rekonstruksi dari kerusakan yang timbul.
Pesatnya perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), juga memunculkan peluang sekaligus risiko. Perkembangan teknologi tersebut perlu dimitigasi dengan respon kebijakan yang tepat dan berdimensi jangka panjang. Hilangnya berbagai jenis pekerjaan seiring dengan kemajuan teknologi dan AI dapat berdampak negatif bagi tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan pemanfaatan peluang perkembangan teknologi akan sangat tergantung pada keberhasilan membangun soft dan hard infrastucture, termasuk brainware, terkait teknologi informasi dan AI, yang sangat membutuhkan intervensi kebijakan fiskal karena menyangkut pemenuhan kebutuhan dan infrastruktur dasar. Prioritas peningkatan kualitas sumber daya manusia, melalui pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial, dalam jangka panjang perlu terus diperkuat.
Pembangunan infrastruktur terkait teknologi juga perlu dipercepat dan diperluas untuk menyediakan akses yang adil bagi seluruh penduduk Indonesia. Iklim bisnis dan investasi yang ramah teknologi juga perlu terus diciptakan untuk meningkatkan arus investasi dan alih teknologi ke Indonesia. Kegagalan mempersiapkan soft dan hard infrastructure dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi akan menghilangkan potensi Indonesia dalam mempercepat transformasi ekonomi menjadi negara maju.
11