• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012

Dalam dokumen pengakuan hak masyarakat hukum adat matteko (Halaman 57-61)

45 Adat yang meliputi wilayah Masyarakat Hukum Adat, hukum adatnya, lembaga adat, dan mekanisme penyelesaian sengketa berdasarkan hukum adat;

b) Pengakuan atas Masyarakat Hukum Adat harus dilampiri dengan Peta Wilayah Masyarakat Hukum Adat;

c) Mekanisme penyelesaian konflik;

d) Program dan kebijakan untuk memberdayakan dan memberikan manfaat kepada Masyarakat Hukum Adat terkait hutan adat yang didasarkan dan disesuaikan dengan kepentingan konservasi, lindung, ekosistem, dan penjagaan kawasan hutan sesuai dengan berbagai peraturan perundangan yang berlaku.

46 peran Mahkamah Konstitusi berkorelasi langsung sebagai aparatur penegak hak asasi manusia secara menyeluruh.37

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 memutuskan perkara konstitusi dalam pengujian Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang diajukan oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Kuntu, dan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kesepuhan Cisitu.

Pemohon dalam mengajukan permohonan pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, terlebih dahulu harus jelas kedudukan hukum (Legal Standing) yang dimilikinya. Berkaitan dengan hal tersebut Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi beserta penjelasannya menyebutkan, yang dapat mengajukan permohonan pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mereka yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dirugikan oleh berlakunya suatu undang- undang, yaitu38 :

a. Perorangan warga Negara Indonesia (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama);

37Hendra Nurtjahjo dan Fokky Fuad, Op.Cit.hlm. 75.

38Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, Bab V, Pasal 51.

47 b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang;

c. Badan hukum publik atau privat;

d. Lembaga Negara.

Beberapa pasal yang menjadi dalil pertimbangan hak konstitusional yang dimiliki pemohon adalah Pasal 18B ayat (2), Pasal 28C ayat (2)39, Pasal 28D ayat (1)40 , Pasal 28G ayat (1)41, Pasal 28I ayat (3)42, dan Pasal 33 ayat (3)43 UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Selain itu juga terdapat beberapa pasal dalam Undang-Undang Kehutanan yang menjadi dasar kerugian hak-hak konstitusional pemohon.

Berdasarkan pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi dan putusan-putusan Mahkamah mengenai kedudukan hukum (legal standing) serta dikaitkan dengan kerugian yang dialami oleh para Pemohon, Mahkamah mempertimbangkan kedudukan hukum (legal standing) para

39Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.(Pasal 28C ayat (1) UUD NRI Tahun 1945). 44Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.

(Pasal 28D ayat (1) UUD NRI Tahun 1945).

40 Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. (Pasal 28D ayat (1) UUD NRI Tahun 1945).

41Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.(Pasal 28G ayat (1) UUD NRI Tahun 1945).

42Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.(Pasal 28I ayat (1) UUD NRI Tahun 1945).

43Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.(Pasal 33 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945).

48 pemohon dan menurut Mahkamah, Pemohon I adalah badan hukum privat yang peduli memperjuangkan hak-hak masyarakat hukum adat, sedangkan Pemohon II dan Pemohon III adalah kesatuan masyarakat hukum adat yang secara potensial dirugikan oleh berlakunya pasal-pasal Undang-Undang Kehutanan yang dimohonkan pengujian, dan apabila dikabulkan maka kerugian konstitusionalseperti yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. Oleh karena itu, Mahkamah berpendapat para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo.

Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 memberi pengertian masyarakat hukum adat sebagaimana tertulis dalam Pasal 51 Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, yakni:

“Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-undang”.

Satjipto Rahardjo mengungkakan empat klausula yuridis yang menjadi kriteria eksistensi masyarakat hukum adat tersebut adalah44:

a. “Sepanjang masih hidup”

Kita tidak semata-mata melakukan pengamatan dari luar, melainkan juga dari dalam, dengan menyelami perasaan masyarakat setempat (pendekatan partisipatif).

b. “Sesuai dengan perkembangan masyarakat”

44Hendra Nurtjahjo dan Fokky Fuad, Op. Cit., Hlm. 97.

49 Syarat ini mengandung resiko untuk memaksakan (imposing) kepentingan raksasa atas nama “perkembangan masyarakat”. Tidak memberi peluang untuk membiarkan dinamika masyarakat setempat berproses sendiri secara bebas.

c. “Sesuai dengan prinsip NKRI”

Kelemahan paradigma ini melihat NKRI dan masyarakat adat sebagai dua antitas yang berbeda dan berhadap-hadapan.

d. “Diatur dalam Undang-Undang”

Indonesia adalah Negara berdasar hukum, apabila dalam Negara yang demikian itu segalanya diserahkan kepada hukum, maka kehidupan sehari-hari tidak akan berjalan dengan produktif. Hukum yang selalu ingin mengatur ranahnya sendiri dan merasa cakap untuk itu telah gagal (bila tidak melibatkan fenomena sosial lainnya).

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUUX/2012, hutan berdasarkan statusnya sebagai berikut: “Hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat”. Kata “negara”

dihapuskan oleh Mahkama Konstitusi sehingga bunyi Pasal 1 angka 6 menjadi sebagai berikut: “Hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat”.

Dalam dokumen pengakuan hak masyarakat hukum adat matteko (Halaman 57-61)