• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENERAPAN CDOB

B. QUALITY SYSTEM

1.1 Within an organization, quality assurance serves as a management tool. There must be a documented quality policy describing the overall intentions and requirements of distribution facilities regarding quality,

yang berkaitan dengan mutu, sebagaimana dinyatakan dan disahkan secara resmi oleh manajemen.

1.2 Sistem pengelolaan mutu harus mencakup struktur organisasi, prosedur, proses, dan sumber daya, serta kegiatan yang diperlukan untuk memastikan bahwa obat dan/atau bahan obat yang dikirim tidak tercemar selama penyimpanan dan/atau transportasi. Totalitas dari tindakan ini digambarkan sebagai sistem mutu.

1.3 Sistem mutu harus mencakup ketentuan untuk memastikan bahwa pemegang izin edar dan Badan POM segera diberitahu dalam kasus obat dan/atau bahan obat palsu atau dicurigai palsu. Obat dan/atau bahan obat tersebut harus disimpan di tempat yang aman/terkunci, terpisah, dengan label yang jelas untuk mencegah penyaluran lebih lanjut.

as formally expressed and authorized by management.

1.2 The quality management system must include the organizational structure, procedures, processes, and resources, as well as activities necessary to ensure that the pharmaceutical products and/or pharmaceutical starting materials delivered are not contaminated during storage and/or transportation.

The totality of these actions is described as the quality system.

1.3 The quality system must include provisions to ensure that the holder of the marketing authorization and Indonesian FDA are immediately informed in the case of confirmed or suspected falsified pharmaceutical products and/or pharmaceutical starting materials. Such pharmaceutical products and/or pharmaceutical starting materials must be stored in a secure/locked, segregated area with clear label attached thereto to prevent further distribution.

1.4 Manajemen puncak harus menunjuk penanggung jawab untuk tiap fasilitas distribusi, yang memiliki wewenang dan tanggung jawab yang telah ditetapkan untuk memastikan bahwa sistem mutu disusun, diterapkan, dan dipertahankan.

1.5 Manajemen puncak fasilitas distribusi harus memastikan semua bagian dari sistem mutu diperlengkapi dengan sumber daya yang kompeten dan memadai, dan sumber daya lain (misal bangunan, peralatan, dan fasilitas) yang memadai.

1.6 Lingkup dan kompleksitas kegiatan fasilitas distribusi harus dipertimbangkan ketika mengembangkan sistem manajemen

mutu atau memodifikasi sistem manajemen mutu yang sudah ada.

1.7 Sistem mutu harus didokumentasikan secara lengkap dan dipantau efektivitasnya. Semua kegiatan yang terkait dengan mutu harus didefinisikan dan didokumentasikan.

Harus ditetapkan adanya sebuah panduan mutu tertulis atau dokumen lainnya yang setara.

1.4 A responsible person must be appointed by the top management for each distribution facilities, who should have defined authority and responsibility for ensuring that a quality system is arranged, implemented, and maintained.

1.5 Top management of the distribution facilities must ensure that all parts of the quality system are adequately resourced with competent personnel, and other sufficient resources (e.g.

premises, equipment, and facilities).

1.6 The scope and complexity of a distribution facilities activities should be taken into consideration when developing a quality management system or modifying an existing one.

1.7 The quality system must be fully documented and its effectiveness monitored. All quality-related activities must be defined and documented. A written quality manual or equivalent document must be established.

1.8 Fasilitas distribusi harus menetapkan dan mempertahankan prosedur untuk identifikasi, pengumpulan, penomoran,pencarian,penyimpanan, pemeliharaan, pemusnahan, dan akses ke semua dokumen yang berlaku.

1.9 Sistem mutu harus diterapkan dengan cara yang sesuai dengan ruang lingkup dan struktur organisasi fasilitas distribusi.

1.10 Harus tersedia sistem pengendalian perubahan yang mengatur perubahan proses kritis. Sistem ini harus mencakup prinsip manajemen risiko mutu.

1.11 Sistem mutu harus memastikan bahwa:

a) obat dan/atau bahan obat diperoleh, disimpan, disediakan, dikirimkan, atau diekspor dengan cara yang sesuai dengan persyaratan CDOB;

b) tanggung jawab manajemen ditetapkan secara jelas;

c) obat dan/atau bahan obat dikirimkan ke penerima yang tepat dalam jangka waktu yang sesuai;

1.8 The distribution facilities must establish and maintain procedures for the identification, collection, indexing, retrieval, storage, maintenance, disposal, and access to all applicable documentation.

1.9 The quality system should be organized in a way that conforms with the scope and organizational structure of the distribution facilities.

1.10 A change control system that manages changes to critical process must be in place. This system must incorporate the quality risk management principles.

1.11 The quality system must ensure that:

a) pharmaceutical products and/or pharmaceutical starting materials are procured, stored, supplied, delivered, or exported in accordance with the requirements of GDP;

b) management responsibilities are clearly specified;

c) pharmaceutical products and/or pharmaceutical starting materials are delivered to the right

d) kegiatan yang terkait dengan mutu dicatat pada saat kegiatan tersebut dilakukan;

e) penyimpangan terhadap prosedur yang sudah ditetapkan

didokumentasikan dan diselidiki;

f) tindakan perbaikan dan pencegahan (CAPA) yang tepat diambil untuk memperbaiki dan

mencegah terjadinya penyimpangan sesuai dengan

prinsip manajemen risiko mutu.

1.12 Direkomendasikan untuk dilakukan inspeksi, audit, dan sertifikasi kepatuhan terhadap sistem mutu (misalnya seri International Organization for Standardization (ISO) atau Pedoman Nasional dan Internasional lainnya) oleh Badan eksternal. Meskipun demikian, sertifikasi tersebut tidak dianggap sebagai pengganti sertifikasi penerapan pedoman CDOB dan prinsip CPOB yang terkait dengan obat dan/atau bahan obat.

recipients within a satisfactory time period;

d) quality-related activities are recorded at the time they are performed;

e) deviations from the established procedures are documented and investigated;

f) appropriate corrective and preventive actions (CAPA) are taken to correct and prevent deviations in line with the quality risk management principles.

1.12 Conducting inspection, audit, and certification of compliance with a quality system (such as the International Standardization Organization (ISO) series, or other

national or international guidelines) by external bodies is recommended.

Such certification should not, however, be seen as a substitute for certification of implementation of GDP guidelines and GMP principles relating to pharmaceutical products and/or pharmaceutical starting materials.

C. PENGELOLAAN KEGIATAN

Dokumen terkait