BAB I PENDAHULUAN
J. Sistematika Pembahasan
2. Ranah Afektif
Ranah efektif berkenaan dengan sikap dan nilai.Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi.
Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar.Kategorinya dimulai dari tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkat kompleks.
a) Reciving/attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang didalam siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dll.
74Ibid., 27.
Dalam tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, kontrol, dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
b) Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar.
Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepadanya.
c) Valuing atau penilaian, yakni berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini termasuk didalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang, atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.75
d) Organisasi, yakni pengembangan dari nilai kesuatu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai yang lain, pemantapan, dan prioritas nilai yang dimilikinya. Yang termasuk dalam organisasi adalah konsep tentang nilai, organisasi sistem nilai, dll.
e) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.n
3) Ranah Psikomotoris
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan keterampilan, yakni:
a) Gerakan reflex (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar)
b) Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar
c) Kemampuan perseptual, termasuk didalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris, dan lain-lain76
d) Kemampuan dibidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan keterampilan
e) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks f) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi, non-
decursive seperti gerakan ekspresif dan kompleks
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar.Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah Karenna berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.77
76Ibid., 31.
79 Ibid., 32.
4. Kajian tentang Metode Pembelajaran dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar
a. Pengaruh Metode Pembelajaran terhadap Hasil Belajar
Untuk memilih metode mengajar tidak bisa sembarangan banyak faktor yang mempengaruhinya dan patut dipertimbangkan.
Misalnya seperti yang dikemukakan oleh Winarto Surakhmad sebagai berikut: (a) tujuan dengan berbagai jenis fungsinya, (b) anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya, (c) situasi dengan berbagai keadaannya, (d) fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya, (e) pribadi guru serta kemampuan profesinya yang berbeda-beda.
Karena banyaknya mata pelajaran maka tujuan untuk setiap mata pelajaran pun berbeda-beda pula.Hal ini memungkinkan seorang guru untuk memilih metode yang dapat mencapai tujuan tersebut.
Pemilihan metode yang salah akan menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. Guru jangan sesuka hati memilih metode, guru harus berpedoman pada tujuan pembelajaran.
Secara teori, hubungan metode mengajar dengan prinsip- prinsip belajar sangat erat. Kerelevansian metode mengajar dengan prinsip-prinsip mengajar akan dapat membangkitkan gairah belajar anak didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Mansyur mengatakan, bahwa metode mengajar berhubungan erat dengan prinsip-prinsip belajar.Salah satu prinsip-prinsip belajar yaitu motivasi.
Jika bahan pelajaran disajikan secara menarik besar kemungkinan motivasi belajar anak didik akan semakin meningkat.
Motivasi berhubungan erat dengan emosi, minat, dan kebutuhan anak didik.78
b. Pengaruh Motivasi terhadap Hasil Belajar
Menurut Mc Clelland dalam teorinya mengatakan bahwa pada dasarnya manusia mempunyai bermacam-macam motivasi, baik manusia itu sebagai mahluk biologis maupun sebagai mahluk sosial, lebih lanjut dikemukakan bahwa manusia berinteraksi dengan lingkungan dipengaruhi oleh tiga macam motivasi yaitu (a) motivasi untuk bersahabat (b) motivasi untuk berkuasa (c) motivasi untuk berprestasi. Ketiga motivasi tersebut disebut sebagai motif dasar, sehingga Mc Clelland menarik suatu kesimpulan bahwa ada korelasi positif antara kebutuhan motivasi berprestasi dengan prestasi belajar.
Teori konsep berprestasi mula-mula dicetuskan oleh David Mc Clelland, menurut Mc Clelland pengertian motivasi berprestasi didefinisikan sebagai kesuksesan mencapai sukses atau berhasil dalam kompetisi dengan suatu ukuran keunggulan yang dapat berupa prestasi orang lain atau prestasi diri sendiri. Lindgren mengemukakan hal senada bahwa motivasi berprestasi sebagai suatu dorongan yang ada pada seseorang sehubungan dengan prestasi, yaitu menguasai, memanipulasi serta mengatur lingkungan sosial maupun fisik, mengatasi segala rintangan-rintangan dan memelihara kualitas kerja
78Syaiful Bahri Djamarah, Guru & Anak Didik Dalam Berinteraksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 222-223.
yang tinggi, bersaing melalui usaha-usaha untuk melebihi perbuatannya yang lampau, serta mengungguli perbuatan orang lain.
Menurut Heckhausen motivasi beprestasi merupakan motif mendorong individu untuk mencapai sukses dan bertujuan untuk berhasil dalam berkompetisi dengan beberapa ukuran keunggulan.
Ukuran keunggulan digunakan untuk standar keunggulan prestasi yang dicapai orang lain sebelumnya dan perbandingan prestasi dicapai sendiri sebelumnya dan layak seperti dalam suatu kompetisi.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki motivasi memiliki prestasi tinggi.Mc Clelland mengemukakan bahwa ada pengaruh antara motivasi dengan prestasi atau hasil belajar yang tinggi.79
c. Pengaruh Metode Pembelajaran dan Motivasi terhadap Hasil Belajar
secara teori, belajar adalah suatu kegiatan yang digunakan untuk mengadakan perubahan didalam diri seseorang yaitu: perubahan tingkah laku, perbuatan, sikap, kebiasaan, ketrampilan, dan sebagainya.80 Guru dapat menyesuaiakan metode-metode pembelajaran yang tepat pada tujuan pembelajaran.
Menurut Dessy Mulyani dalam jurnalnya menyatakan baha siswa yang mempunyai kesiapan belajar yang baik maka akan menunjukkan prestasi belajar yang tinggi, begitu pula sebaliknya
siswa yang tidak memiliki kesiapan yang baik maka prestasi belajarnya cenderung rendah. Jadi, tinggi rendahnya prestasi belajar ditentukan oleh kesiapan belajar yang dimiliki oleh siswa.81
Menurut Setyowati dalam skripsinya menyatakan bahwa motivasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Dengan adanya motivasi siswa akan terdorong untuk belajar mencapai sasaran dan tujuan karena yakin dan sadar akan kebaikan akan kepentingan dan manfaatnya dari belajar. 82
Menurut Afrizal putra Bajuri dalam jurnalnya mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempngaruhi prestasi belajar diantaranya adalah motivasi belajar dan kesiapan belajar.Motivasi belajar merupakan dorongan atau kkuatan seseorang dalam mencapai dalam sebuah tujuan. Siswa yang memiliki keinginan yang kuat dalam mempelajari dan memahami sesuatu kan terdorong untuk belajar dengan sungguh-sungguh baik di rumah maupun disekolah.83
Dari uraian teori diatas maka dapat disimpulkan siswa yang memiliki kesiapan dan motivasi yang tinggi, baik itu motivasi yang terdapat dalam diri individu (intrinsik) maupun motivasi yang terdapat dari luar individu (ekstrinsik) maka akan memperoleh hasil belajar yang baik.
81Dessy Mulyani, “Hubungan Kesiapan belajar dengan prestasi belajar volume 2”.http //
ejournal.unp.ac.id/index. Php. Konselor, diakses 13 mei 2016.
82Setyowati, “ Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa kelas VII di SMP N 13 Semarang”, (Skripsi, Universitas Negeri Semarang, 2007), 62.
83Afrizal Putra Bajuri, “ Pengaruh Motivasi Belajar dan Kesiapan Belajar terhadap prestasi belajar geografi SMA Swadhipa,” http://jurnal. Fkip.Unila.Ac.id/index.php/ JPG/article/view/8421.
Diakses tanggal 25 mei 2016.
BAB III
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. Deskripsi Data Hasil Penelitian
Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya dengan tujuan dan kegunaan tertentu.84 Oleh karena itu, metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan untuk mencari dan menemukan data yang diperoleh dalam penelitian dan membuat analisi dengan maksud agar penelitian dan kesimpulan yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Dalam mendapatkan data primer ini peneliti menggali informasi dari dari santri-santri Pondok Pesantren Darul Hikam untuk mendapatkan data dari santri.
Tentang metode pembelajaran dan motivasi belajar kitab Fathul Muin santri. Data primer ini diperoleh langsung dari santri-santri Pondok Pesantren Darul Hikam yang menggunakan angket. Angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang lain yang diberi angket tersebut dapat bememberikan respons seuai dengan permintaan pengguna.
Oleh karena itu, angket atau kuesioner adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respons (respon) sesuai dengan permintaan pengguna.85 Angket yang akan disebarkan di
Pondok Pesantren Darul Hikam bererupa angket tertutup digunakan untuk mengungkapkan persepsi santri tentang pengaruh metode pembelajaran dan motivasi terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di Pondok Pesantren Darul Hikam tahun ajaran 2016/2017.
Untuk mengetahui lebih lanjut hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada deskripsi sebagai berikut:
1. Data nama-nama santri pesantren Darul Hikam yang menjadi sampel penelitian dengan responden sebanyak 50 santri dimana didalamnya sebanyak 30 santri yang digunakan sebagai responden.
2. Data hasil angket persepsi santri tentang pengaruh metode pembelajaran dan motivasi terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di Pondok Pesantren Darul Hikam tahun ajaran 2016/2017. Untuk menentukan nilai dari hasil angket adalah dengan menjumlah skor jawaban angket dari responden sesuai dengan frekuensi jawaban.
B. Penyajian Data
Penelitian ini dilakukan terhadap santri Pondok Pesantren Darul Hikam. Berdasarkan hasil penelitian jumlah dapat disajikan di sini bahwa jumlah santri di Pondok Pesantren Darul Hikam tahun pelajaran 2016/2017 berjumlah 50 santri dimana didalamnya sebanyak 50 santri yang digunakan sebagai responden. Semua kelas tersebut tidak diambil menjadi sampel semua karena jumlahnya kurang dari 100 orang.
Berikut ini adalah nama-nama responden yang menjadi populas.
Tabel 3.1
Daftar Nama-Nama Responden
No Nama Responden Kelas
1 2 3
1 Hanifatul Istiqomah Wustho
2 Dewi Wardani Wustho
3 Qoni’ Wustho
4 Lisa Insani Wustho
5 Umi Mua’rifah Wustho
6 Halimatus Sa’diyah Wustho
7 Mar’atus Soleha Wustho
8 Nafis Wustho
9 Sofi Wustho
10 Mega Wustho
11 Ma’rifatul Khoiroh wustho
12 Umi Mawadah Wustho
13 Wahyu Wustho
14 Rifatul Hasanah Wustho
15 Anisa Fikriyah Ula
16 Elok Faiqotul Hidayah Ula
17 Umi Fatikhatul Janah Ula
18 Lusdiyana Ula
19 Hilyatus Sholiha Ula
20 Hamidatur Rizki Ula
21 Novi Kamelia Ula
22 Lulu’ul Mukharomah Ula
23 Rini Ula
24 Nabila Ula
25 Nabilatus Sholihah Ula
26 Happy Hafidzoh Ula
27 Vina Ula
28 Atti Murtafiah Ula
29 Inayah Ula
30 Diana Maslahatin Ula
31 Cips Aini Ula
32 Laili Sofiyatun Ula
33 Mudawamatul Fikriyah Ula
34 Septiyana Nur Suyanti Ula
35 Nur Farida Amalia Ula
36 Dewi Istifada Ula
40 Sofiyah Zahro Sifir
41 Anisti Sifir
42 Khodijah Sifir
43 Lilis Sifir
45 Lin Istiqomah Sifir
46 Ayu Putri Zakiya Sifir
47 Anik Sumiyanti Ningsih Sifir
48 Dian Cahyani Sifir
49 Cahyani Sifir
50 Arini Sifir
Sumber Data: Dokumentasi
Untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran dan motivasi terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di Pondok Pesantren Darul Hikam tahun pelajaran 2016/2017, maka diperlukan perincian tentang soal angket sebagai berikut :
1. Jumlah soal mengenai metode pembelajaran kitab sebanyak 18 item soal yang terdiri dari:
a. Sorogan sebanyak 2 item soal b. Bandhongan sebanyak 2 item soal c. Halaqoh sebanyak 2 item soal d. Hafalan sebanyak 2 item soal e. Hiwar sebanyak 2 item soal
f. Batsul Masail sebanyak 2 item soal g. Fathul Kutub sebanyak 2 item soal h. Muqoronan sebanyak 2 item soal i. Muhaqarah sebanyak 2 item soal
2. Jumlah soal mengenai motivasi belajar santri sebanyak 14 item soal yang terdiri dari:
Motivasi instrinsik:
a. Hasrat sebanyak 2 item soal b. Cita-cita sebanyak 2 item soal c. Minat sebanyak 2 item soal d. Kebutuhan sebanyak 3 item soal Motivasi ekstrinsik:
a. Hadiah sebanyak 2 item soal b. Pujian sebanyak 2 item soal c. Hukuman sebanyak 1 item soal
3. Skor atau nilai untuk setiap jawaban yang telah disediakan memiliki ketentuan:
a. Untuk jawaban selalu atau sangat tinggi memiliki nilai 5 b. Untuk jawaban sering atau tinggi memiliki nilai 4
c. Untuk jawaban kadang-kadang atau cukup tinggi memiliki nilai 3 d. Untuk jawaban jarang atau rendah memiliki nilai 2
e. Untuk jawaban tidak pernah atau rendah sekali memiliki nilai 1 C. Analisis dan Pengujian Hipotesis
1. Uji Analisis Klasik a. Uji Normalitas
Cara yang paling digunakan untuk menentukan apakah suatu
dilakukan dengan menggunakan grafik yaitu histogram dan normal p- plot.Karena dengan melihat histogram residual apakah memiliki bentuk seperti “lonceng” atau tidak.Cara ini menjadi fatal karena penggambilan keputusan data berdistribusi normal atau tidak hanya berpatok pada pengamatan gambar saja. Ada cara lain untuk menentukan data distribusi normal atau dengan menggunakan rasio swekness dan rasio kurtoris.
1) Kurva Histogram
pada kurva histogram, model memenuhi asumsi normalitas jika bentuk krva simetris atau tidak melenceng ke kiri maupun kekanan. Berikut ini hasil uji normalitas dengan menggunakan kurva histogram.
Gambar 3.2
Hasil Uji Normalitas Data (Kurva Histogram)
hasil kurva histogram menunjukkan bahwa bentuk kurva bergeser kekanan. Berdasarkan Raharjo mengatakan bahwa grafik berdistribusi yang melenceng ke kanan artinya data berdistribusi normal.86
2) Grafik Normal P-P Plot
pada grafik normal p-p plot model memenuhi asumsi normalitas jika titik-titik pada kurva berhimpit mengikuti garis diagonalnya. Berikut ini hasil uji normalitas dengan menggunakan grafik p-p plot:
Gambar 3.3
Hasil Uji Normalitas Data (Grafik P-PPlot)
Berdasarkan grafik normal plot diatas terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal.Jadi, dapat disimpulkan bahwa model regresi layak dipakai karena memenuhi asumsi normalitas.87
b. Uji Multikolonieritas
Pengujian terhadap asumsi multikolonieritas bertujuan untuk mengetahui apakah ada atau tidaknya korelasi antar variabel independen dalam model regresi.Uji asumsi klasik multikolonieritas hanya dapat dilakukan jika terdapat lebih dari satu variabel independen dalam model regresi.Cara umum yang digunakan oleh peneliti untuk mendeteksi ada tidaknya problem multikolonieritas pada model regresi adalah dengan melihat nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor). Nilai yang direkomendasikan untuk menunjukkan tidak adanya problem multikolonieritas adalah nilai tolerance harus < 0,10 dan VIF > 10.88
Gambar 3.4
Hasil Uji Multikolonieritas
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardize d Coefficients
T Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 3.604 .465 7.754 .000
METODE -.056 .037 -.224 -1.534 .132 .949 1.054
MOTIVASI -.006 .044 -.019 -.132 .896 .949 1.054
a. Dependent Variable: HASIL
87Imam Ghozali, Aplikasi Multivariante dengan Progran SPSS,(Semarang: UNDIP: 2001), 86.
88Henky Latan, Analisis Multivariante Teknik dan Aplikasi Menggunakan Program IMB SPSS 20.0 (Bandung: Alfabeta, 2012), 63.
Dari hasil uji mltikolonieritas diatas diperoleh nilai Tolerance untuk semua variabel < 0.10 dan VIF untuk semua variabel > 10. Oleh karena itu tidak ada nilai Tolerance yang > 0,10 dan VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa data memenuhi uji asumsi klasik multikolonieritas.
c. Uji Heteroskedastistas
Pengujian terhadap asumsi klasik heteroskedastias bertujuan untuk mengetahui apakah variance dan residual data satu observasi ke observasi lainnya berbeda ataukah tetap. Jika variance dan residual data sama disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastias. Model regresi yang diinginkan adalah yang homokedastisitas atau yang tidak terjadi heteroskedastias. Ada beberapa cara untuk mendeteksi problem tersebut, salah satunya dengan melihat grafik Scatterplot yaitu jika titik-titik menyebar secara acak (tidak berkumpul) dalam satu tempat, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi problem heteroskedastias.
Gambar 3.5 Hasil Uji Heteroskedastistas
Dari grafik diatas terlihat ttik-titik terlihat secara acak, ha ini mengindikasikan bahwa data tidak terjadi problem heteroskedastias atau data memenuhi asumsi klasik heteroskedastias.
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Berdasarkan hasil perhitungan data regresi linier berganda mnggunakan program SPSS for windows maka dapat diperoleh hasil dan disimpulkan persamaan regresi linier berganda tersebut sebagai berikut:
Tabel 3.6 Hasil Output Anova
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 5.165 2 2.583 1.296 .283b
Residual 93.655 47 1.993
Total 98.820 49
a. Dependent Variable: HASIL
b. Predictors: (Constant), MOTIVASI, METODE
Tabel 3.7 Hasil Uji Regresi
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 3.604 .465 7.754 .000
METODE .056 .037 224 1.534 .132
MOTIVASI .006 .044 .019 .132 .896
a. Dependent Variable: HASIL
Dilihat dari tabel diatas maka persamaan regresinya adalah : Y = a + b1 X1 + b2 X2
Y= 3.604 + .056 + 006
Keterangan :
Y = variabel terikat (hasil belajar) a = konstanta
b1b2 = koefisien regresi X1 X2 = Variabel bebas
Nilai koefisiensi regresi diatas diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Jika variabel bebas (metode dan motivasi) memiliki nilai 0 maka variabel terikat (hasil belajar) sebesar 3,604
2. Jika variabel X1 (metode) akan bertambah satu satuan, maka Y (hasil belajar) akan bertambah sebesar 0,056 dengan syarat X2 (motivasi) konstan.
3. Jika variabel X2 (motivasi) akan bertambah satu satuan, maka Y (hasil belajar) akan bertambah sebesar 0,006 dengan syarat X1 (metode) konstan.
3. Uji Koefisiensi Determinasi (R2)
Uji koefisiensi determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi dependen. nilai determinasi tersebut antara 0-1. Koefisiensi tersebut ditunjukkan dengan nilai Adjusted R Square pada tabel berikut:
Tabel 3.8
Hasil Output Summary Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .229a .052 .012 1.41161
a. Predictors: (Constant), MOTIVASI, METODE b. Dependent Variable: HASIL
Berdasarkan tabel diatas nilai Adjusted R Square adalah 0,012 hal ini berarti bahwa hasil belajar dapat dijelaskan oleh metode dan motivasi adalah sebesar 1,2 % sedangkan sisanya sebesar 98,8% dijelaskan variabel lain yang tidak diterangkan dalam penelitian ini.
4. Pengujian Hipotesis
a) Pengujian Hipotesis secara parsial (uji T) Tabel 3.9
Uji T Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 2.569 .666 3.857 .001
METODE .005 .053 .018 .090 .929
MOTIVASI .006 .061 .021 .103 .919
a. Dependent Variable: HASIL
Berdasarkan data output SPSS (tabel 3.9) dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
1. Metode pembelajaran (X1) tidak berpengaruh terhadap hasil belajar uji secara individual pada tabel 3.9 hasil koefisiensi X1 adalah 0,018.
Hipotesis yang diruskan adalah:
Ha :Metode pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar Ho :Metode pembelajaran tidak berpengaruh terhadap hasil belajar Syarat dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a) Apabila t hitung > t tabel maka Ho ditolak Ha diterima (variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen).
b) Apabila t hitung < t tabel maka Ho diterima Ha ditolak (variabel independen secara individual tidak mempengaruhi variabel dependen).
Berdasarkan perhitungan SPSS tabel 3.9 diperoleh nilai, t hitung pada variabel metode (X1) sebesar 0,090 dengan sig. 0,929 artinya t hitung 0,090 < t tabel 2,406 dan sig. 0,929 > 0,01 maka Ho diterima. Dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar.
2. Motivasi belajar (X2) tidak berpengaruh terhadap hasil belajar uji secara individual pada tabel 3.9 hasil koefisiensi X2 adalah 0,021.
Hipotesis yang diruskan adalah:
Ha :Motivasi belajar berpengaruh terhadap hasil belajar Ho :Motivasi belajar tidak berpengaruh terhadap hasil belajar Syarat dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a) Apabila t hitung > t tabel maka Ho ditolak Ha diterima (variabel independen secara individual mempengaruhi variabel
b) Apabila t hitung < t tabel maka Ho diterima Ha ditolak (variabel independen secara individual tidak mempengaruhi variabel dependen).
Berdasarkan perhitungan SPSS tabel 3.9 diperoleh nilai, t hitung pada variabel motivasi (X2) sebesar 0,103 dengan sig.
0,919 artinya t hitung 0,103 < t tabel 2,406 dan sig. 0,919 > 0,01 maka Ho diterima. Dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar.
b) Pengujian Hipotesis secara simultan (uji f)
1) Metode pembelajaran dan motivasi secara simultan tidak berpengaruh terhadap hasil belajar.
Berdasarkan hasil pengolahan data SPSS pada tabel 3.6 (uji anova), hipotesis yang dirumuskan adalah:
Ha : Metode pembelajaran dan motivasi berpengaruh secara simultan terhadap hasil belajar
Ho : Metode pembelajaran dan motivasi tidak berpengaruh secara simultan terhadap hasil belajar
Untuk dasar pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:
a) Ho diterima dan Ha ditolak apabila f hitung < f tabel artinya semua variaabel bebas secara bersama-sama bukan merupakan variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.
b) Ho ditolak dan Ha diterima apabila f hitung > f tabel artinya semua variaabel bebas secara bersama-sama merupakan variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.89
Berdasarkan perhitungan SPSS hasil uji f diperoleh f hitung sebesar 1, 296 dengan sig. 0,283 oleh karena sig. jauh lebih besar dari 0,01 (0,283 > 0,01) dan f hitung < f tabel (1,296 < 0,361) maka dapat dinyatakan bahwa metode pembelajaran dan motivasi secara simultan atau bersama-sama tidak mempengaruhi hasil belajar.
c) Rangkuman Hipotesis
1) Metode pembelajaran tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di pondok pesantren Darul Hikam tahun pelajaran 2016/2017.
2) Motivasi belajar tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di pondok pesantren Darul Hikam tahun pelajaran 2016/2017.
3) Metode pembelajaran dan motivasi tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di pondok pesantren Darul Hikam tahun pelajaran 2016/2017.
D. Pembahasan
Sebelum membahas hasil pengujian hipotesis, maka terlebih dahulu mengemukakan tentang rekapitulasi nilai hasil pengujian hipotesis sebagai mana tabel berikut
Tabel 3.10
Pengaruh Metode Pembelajaran dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar kitab Fathul Muin di Pondok Pesantren Darul
Hikam tahun pelaja ran 2016/2017
Variabel T hitung T tabel Sig. Interpretasi Pengaruh metode
pembelajaran terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di pondok pesantren Darul Hikam tahun pelajaran 2016/2017
0,090 2, 406 0, 929 Tidak berpengaruh
signifikan
Pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di pondok pesantren Darul Hikam tahun pelajaran
2016/2017
0,103 2, 406 0, 919 Tidak berpengaruh
signifikan
Pengaruh metode pembelajaran dan motivasi terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di pondok pesantren Darul Hikam tahun pelajaran
2016/2017
1, 296 0, 361 0,283 Tidak berpengaruh
signifikan
1. Pengaruh metode pembelajaran terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di pondok pesantren Darul Hikam tahun pelajaran 2016/2017
Berdasarkan temuan peneliti menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang diukur oleh hasil belajar tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil belajar santri. Hal tersebut dikarenakan dalam satu pertemuan tatap muka ustad yang mengajar menggunakan lebih dari satu metode pembelajaran, penggunaan metode yang berlebihan dapat mempengaruhi daya minat santri hal tersebut sesuai dengan pernyataan Ardiyansah (2014) yang mengatakan bahwa kurangnya minat santri didalam proses pembelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar. Karena minat itu termasuk psikologi santri.
Menurut Prasetyo (2011) mengemukakan bahwa medote yang baik digunakan adalah metode bandhongan dan sorogan akan tetapi penggunaan metode tersebut dipilih salah satu dalam satu kali tatap muka.
Jadi dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan dalam satu kali tatap muka kurang efektif sehingga kesiapan dan minat santri akan berkurang dan menyebabkan hasil belajar yang rendah.
2. Pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar kitab Fathul Muin di pondok pesantren Darul Hikam tahun pelajaran 2016/2017
Berdasarkan temuan peneliti menunjukkan bahwa motivasi belajar yang diukur oleh hasil belajar tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap