Rantai pasok hijau pada proses konstruksi Bangunan Gedung Hijau (BGH) yang di dapat dari pemasok dan sub-pelaksana/sub kontraktor yang berkontribusi melaksanakan produksi konstruksi dengan mempertimbangkan prinsip daur hidup (life cycle time) dari pasokan tersebut dengan mempertimbangkan hal penggunaan material, proses pemilihan pemasok/sub kontraktor, konservasi energi.
Penggunaan material yang dimaksud dalam persyaratan ini adalah penggunaan material pada proses konstruksi. Sehingga material yang dipergunakan pada bangunan gedung tidak diperhitungkan.
a. Penggunaan Material Konstruksi
Penggunaan material pada pelaksanaan konstruksi harus dilakukan seoptimal mungkin agar pemakaian sumber daya lebih efisien, dan mengurangi limbah konstruksi berupa sisa material.
Penilaian Kinerja Hasil Pemeriksaan dokumen untuk Penggunaan Material Konstruksi akan diberikan jika:
Dalam proses konstruksi menggunakan material yang bahan baku berasal dari Indonesia,
Dalam Proses konstruksi menggunakan material yang ramah lingkungan,
Material yang digunakan memiliki sedikit kemasan pembungkus.
b. Pemilihan Pemasok dan/atau Sub Kontraktor
Rantai pasok hijau pada BGH dapat dipantau dari pemilihan pemasok material yang dekat dengan lokasi proyek. Pada tahap perencanaan penggunaan material ramah lingkungan diperlukan bukti pelaksanaan yang membuktikan bahwa material benar dibeli dan dipasang pada proyek.
c. Konservasi Energi
Konservasi energi pada pelaksanaan rantai pasok dilakukan, baik melalui pemilihan material maupun pemasok dan sub kontraktor yang menjalankan prinsip-prinsip penghematan energi.
Penilaian Kinerja Hasil Pemeriksaan dokumen untuk Konservasi Energi akan diberikan jika:
Pernah melakukan dan memiliki laporan audit energi dari peralatan,
Memiliki aturan mengenai konservasi energi,
Alat berat yang digunakan pada proses konstruksi hemat energi.
Analisa Bangunan Gedung Hijau Tahap Pelaksanaan Konstruksi 1. Proses Konstruksi Hijau
Konsep konstruksi hijau (Green Construction) pada dasarnya merupakan strategi dalam proses pelaksanaan konstruksi yang mengedepankan konstruksi ramah lingkungan baik melalui metode kerja, penggunaa material, penggunaan peralatan konstruksi, manajemen, pengawasan dsb. Pada dasar konsep konstruksi hijau merupakan tahap pelaksanaan yang merupakan proses lanjutan dari konsep desain yang ramah lingkungan.
Kriteria penerapan green construction yang dapat diimplementasikan oleh kontraktor di bawah pengawasan konsultan manajemen konstruksi pada Konsultansi Pengawasan Konstruksi Pembangunan Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Karangasem dan Konsultansi Pengawasan Konstruksi Pembangunan Wantilan Budaya yakni :
a. Metode Pelaksanaan Konstruksi Hijau
Memiliki Jadwal Pelaksanaan Konstruksi
Jadwal pelaksanaan konstruksi digunakan sebagai alat pengendalian prestasi pelaksanaan proyek secara menyeluruh agar pelaksanaan proyek tersebut dapat diperhitungkan terkait dengan tingkat akurasi dan estimasi detail.
Pada proses konstruksi, time schedule atau jadwal pelaksanaan konstruksi digunakan sebagai pedoman untuk mengevaluasi, mengatur kecepatan suatu pekerjaan dan memperkirakan biaya yang harus disediakan dalam jangka waktu tertentu, serta memperkirakan jumlah tenaga kerja, jumlah dan macam peralatan, serta material yang digunakan pada proses pelaksanaan konstruksi.
Melakukan Evaluasi Kinerja Secara Berkala
Evaluasi kinerja secara berkala dilaksanakan dengan tujuan untuk menilai tingkat pencapaian indikator dan sasaran kinerja pada tiap masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak sehingga dapat diidentifikasi permasalahan yang dihadapi, mengidentifikasi pemecahan masalah dilapangan, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat keberhasilan proyek.
Pada proses pelaksanaan dipertimbangkan melakukan evaluasi kinerja berkaitan dengan item-item pelaksanaan sesuai dengan pedoman persyaratan penerapan banguna ghedung hijau.
Melakukan Perbaikan Atas dasar hasil evaluasi
Mengacu pada proses evaluasi kinerja secara berkala maka dapaat diidentifikasi terkait dengan kendala-kendala dan pemasalahan di lapangan pada tahap pelaksanaan konstruksi. Perbaikan yang dilakukan berdasarkan instruksi hasil dari rapat evaluasi kinerja secara berkala sehingga dapat dianalisa dengan bukti perbaikan.
Analisa bukti perbaikan pada rapat evaluasi kinerja secara berkala yang dilaksanakan terdapat masukkan dan saran untuk memperhatikan
dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit akibat kerja.
b. Pengoptimalan Penggunaan Peralatan
Memiliki Jadwal Operasi Alat-alat Berat
Fungsi dari jadwal operasi alat-alat berat adalah merencanakan penggunaan alat berat secara efisien agar tingkat produktivitas dari alat berat tersebut tercapai sesuai dengan jadwal. Sehingga guna terciptanya penggunaan alat berat secara efisien, penggunaanya perlu mengetahui kemampuan alat, jenis dan fungsi alat berat, keterbatasan alat dan biaya operasional alat.
Seluruh Alat berat memiliki jadwal pemeliharaan
Tujuan dari manajamen perawatan atau pemeliharaan alat berat adalah untu menjaga agar kondisi dan untuk kerja alat berat tersebut selalu dalam kondisi prima sesuai dengan spesifikasinya.
Seluruh Alat berat memiliki izin kelaikan fungsi
Alat berat yang digunakan direncanakan dilengkapi dengan izin kelaikan fungsi dengan tujuan untuk memastikan alat berat yang digunakan sudah memperhatikan katentuan-ketentuan sesuai dengan peraturan, sehingga dengan kelengkapan izin kelaikan fungsi tersebut dapat memperhatikan keselamatan dan keamanan pada lokasi proyek baik dari sumber daya maupun lingkungan sekitar proyek.
Seluruh Operator alat berat memiliki sertifikat/ijin
Sebelum menggunakan setiap alat berat dan perlengkapannya dilakukan pemeriksaan serta dioperasikan oleh operator yang berkemampuan dan cukup keterampilannya.
c. Penerapan Manajamen Pengelolaan Limbah Konstruksi
Berhasil melakukan optimasi dalam pemakaian material sehingga menciptakan pengurangan timbulan sampah konstruksi
Dalam dokumen SOP diidentifikasi untuk mengakomodir terkait dengan pemahaman umum yang dimaksud dengan sampah atau limbah konstruksi, penanganan sampah atau limbah konstruksi, dan pertanggung jawaban sampah atau limbah konstruksi pada area proyek. Pada Pelaksanaan
Konstruksi, optimasi yang dilakukan direncanakan dengan langkah- langkah sebagai berikut:
1) Pemanfaatan sisa potongan besi dan bekisting
Gambar Pemanfaatan sisa potongan besi untuk sambungan tulangan 2) Optimalisasi penggunaan material besi
Gambar Pengoptimalan material besi dengan wiremash 3) Pemanfaatan sisa cor
Gambar Pemanfaatan Sisa cor menjadi kanstein
4) Memanfaatkan material bongkaran untuk urugan
Gambar Sisa Material bongkaran didaur ulang
Memiliki area pemilihan dan pengumpulan sampah konstruksi Pemilahan dan pengumpulan sampah bertujuan untuk memisahkan jenis limbah atau sampah konstruksi yang dihasilkan sehingga dapat dikelompokkan berdasarkan jenis sampah yang dihasilkan pada proses pelaksanaan konstruksi. Terkait dengan pemilihan tersebut direncanakan untuk dilakukan kerjasama dengan pihak ketiga untuk diolah.
Gambar Analisa Tempat Pemilahan dan Pengumpulan Sampah Konstruksi pada area proyek.
Memiliki tempat penyimpanan material yang aman untuk meningkatkan usia material
Tempat penyimpanan material pada proyek bersifat sementara, namun dalam pembuatan tempat penyimpanan material atau gudang material dipertimbangkan dibuat dengan memperhitungkan agar material tidak rusak sebelum digunakan sehingga tidak menimbulkan kerugian dan melakukan optimasi pada penggunaan material selain itu dapat menghemat
ruang penyimpanan dan mempermudah dalam melakukan pengecekan stok barang/material.
Tempat penyimpanan material pada area proyek bersifat semnetara, namun dalam pembuatan tempat penyimpanan material atau gudang amterial dipertimbangkan dibuat dengan memperhitungkan agar tidak rusak sebelum digunakan sehingga tidak menimbulkan kerugian dan melakukan optimasi pada penggunaan material.
Gambar Analisa gudang material dan penempatan material
Manajemen Limbah Konstruksi
Pembangunan proyek konstruksi akan selalu menghasilakn limbah dalam jumlah yang cukup besar, sehingga kalau tidak dilakukan manajemen terhadap limbah konstruksi tersebut dapat menjadi permasalahan yang serius bagi lingkungan, sebaliknya apabila dilakukan manajemen dengan baik dapat menghasilkan keuntungan.
Pada prinsipnya setiap material bangunan mempunyai siklus hidup, dimulai dari pengambilan bahan baku di tempat asal dan berakhir di tempat pembuangan. Dalam konsep pembangun proyek hijau, siklus hidup tidak boleh berakhir di tempat pembuangan begitu saja, namum material tersebut sedapat mungkin dimanfaatkan kembali dengan cara digunakan kembali(reuse), diolah kembali (recycling), dan apabila memang tidak dapat untuk hal tersebut diatas maka harus dibuang dengan cara yang ramah lingkungan.
Kualitas udara Tahap Kosntruksi
Udara segar tanpa ada kandungan polutan berbahaya sangat dibutuhkan untuk seluruh pekerja konstruksi selama proses konstruksi dan orang- orang yang tinggal disekitar pelaksanaan proyek konstruksi selama proses konstruksi itu berlangsung. Salah satu cara adalah pemasangan jaring pengaman debu yang dihasilkan selama proses konstruksi tidak menyebar keluar area proyek yang dapat menggangu aktifitas orang-orang di sekitar proyek konstruksi tersebut. Pada prakteknya juga telah dilakukan penyemprotan air di area yang terlihat banyak mengandung debu dan memasang stiker/papan dilarang merokok di lokasi konstruksi.
Efisiensi dan Konservasi Energi
Penghematan energi dapat dicapai dengan penggunaan energi secara efisien dimana manfaat yang sama diperoleh dengan menggunakan energi lebih sedikit, ataupun dengan mengurai konsumsi dan kegiatan yang menggunakan.
Sesuai dengan surat edaran Nomor; 86/Se/Dc/2016 Tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bangunan Gedung Hijau, Kementrian Pekerjaan Umum dan Peumahan Rakyat Direktorat Jenderal Cipta Karya. Tata cara penilaian kinerja BGH pada tahap pelaksanaan teknis meliputi 3 aspek, yaitu : proses konstruksi hijau, praktik perilaku hijau, dan rantai pasok hijau. Pemeriksaan dilakukan terhadap dokumen teknis pelaksanaan Bangunan Gedung terhadap aspek GBH yang ada pada bangunan dan metode dalam proses konstruksinya terkait dengan lingkungan. Sertifikasi bangunan gedung hijau diberikan pada bangunan gedung yang telah menerapkan prinsip bangunan gedung hijau dalam rangka tertib pembangunan dan mendorong penyelenggaraan bangunan gedung yang memiliki kinerja terukur secara signifikan, efisien, aman, sehat, mudah, nyaman, ramah lingkungan, hemat energi dan air, dan sumber daya lainnya.
Pemenuhan persyaratan nbangunan gedung hijau dilakukan dengan tertib administrasi. Penilaian dilakukan dengan menggunakan daftar simak penilaian kinerja bangunan gedung hijau dibawah ini.:
Penilaian tersebut difasilitasi oleh konsultan pengawas yang memiliki kompetensi tenaga ahli green profesional, dengan membuat dokumen pernyataan seperti dibawah ini:
No Persyaratan Poin
A
1 Metoda Pelaksanaan
Konstruksi Hijau 4
2 pengoptimalan
penggunaan peralatan 5 3
penerapan manajemen pengelolaan limbah konstruksi
13
4 konservasi air pada
pelaksanaan 20
5 Konservasi energi pada
pelaksanaan konstruksi 14 B
1
penerapan sistem
manajemen kesehatan dan keselamatan kerja
9 penerapan dan prilaku
ramah lingkungan 12
C
1 penggunaan material
konstruksi 10
2 Pemulihan Pemasok
Material dan Alat 9
3 Konservasi Energi dalam
Rantai Pasok 4
Total 100
Capaian kinerja sesuai permen PUPR 02/PRT/M/2015 Lebih dari 85% s.d 100% Capaian kinerja sesuai permen PUPR 02/PRT/M/2015 Proses Konstruksi Hijau
Praktek Prilaku Hijau
Rantai Pasok Hijau
70% s.d 75% Capaian Kinerja Sesuai SLF Lebih Dari 75% s.d 85%
BGH Pratama
BGH Madya
BGH Utama
4.4. Protocol Pencegahan COVID-19
Coronavirus atau virus corona (COVID-19) merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu. Siapa pun dapat terinfeksi virus corona. Akan tetapi, bayi dan anak kecil, serta orang dengan kekebalan tubuh yang lemah lebih rentan terhadap serangan virus ini.
Selain itu, kondisi musim juga mungkin berpengaruh. Infeksi corona disebabkan oleh virus corona itu sendiri. Kebanyakan virus corona menyebar seperti virus lain pada umumnya, seperti:
- Percikan air liur pengidap (bantuk dan bersin).
- Menyentuh tangan atau wajah orang yang terinfeksi.
- Menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona.
- Tinja atau feses (jarang terjadi)
Virus corona bisa menimbulkan beragam gejala pada pengidapnya. Gejala yang muncul ini bergantung pada jenis virus corona yang menyerang, dan seberapa serius infeksi yang terjadi. Berikut beberapa gejala virus corona yang terbilang ringan:
- Hidung beringus.
- Sakit kepala.
- Batuk.
- Sakit tenggorokan.
- Demam.
- Merasa tidak enak badan.
Hal yang perlu ditegaskan, beberapa virus corona dapat menyebabkan gejala yang parah. Infeksinya dapat berubah menjadi bronkitis dan pneumonia (disebabkan oleh COVID-19 ), yang mengakibatkan gejala seperti:
- Demam yang mungkin cukup tinggi bila pasien mengidap pneumonia.
- Batuk dengan lendir.
- Sesak napas.
- Nyeri dada atau sesak saat bernapas dan batuk.
Gambar Penerapan 601ating601601 kesehatan dalam penyelenggaraan jasa konstruksi
Perkembangan pandemik Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan menindak lanjuti arahan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 15 Maret 2020 terkait upaya pencegahan COVID-19 serta mempertimbangkan adanya penetapan wabah Corona sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia perlu dilakukan upaya pencegahan penyebaran dan dampak COVID- 19 dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksi, dan dalam upaya pencegahan dampak COVID-19 tersebut diperlukan protokol Pencegahan Penyebaran COVID-19 dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksi bagi Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa, yang merupakan bagian dari keseluruhan kebijakan untuk mewujudkan keselamatan konstruksi termasuk keselamatan dan kesehatan kerja, keselamatan publik, dan keselamatan lingkungan pada setiap tahapan penyelenggaraan Jasa Konstruksi.
Berikut adalah ringkas dari Instruksi Menteri PUPR No 02 /IN/M/2020 tentang Protokol Pencegahan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.
1. Protokol ini dimaksudkan sebagai panduan umum bagi Pemilu Pengguna/
Penyelenggara bersarna Konsultan, Kontraktor, Subkontraktor, Vendor/ Supplier dan Fabrikator, Mandor serta para Pekerja dalam mencegah wabah COVID-19 di proyek konstruksi.
2. Protokol ini merupakan bagian dari keseluruhan kebijakan untuk mewujudkan keselamatan konstruksi. Keselamatan konstruksi adalah keselamatan dan kesehatan kerja; keselamatan publik; dan keselamatan lingkungan dalam setiap
tahapan penyelenggaraan konstruksi (life cycleof building and infrastructure developmenf).
3. Protokol ini berlaku di proyek konstruksi yarg diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dan/ atau BUMN, maupun investasi swasta dan/ atau gabungan. Masing-masing pihak pemangku amanah di proyek konstruksi dapat menindak lanjuti implementasi dari protokol ini sesuai dengan kebijkan perusahaan masing-nasing.
A. Skema Protokol Pencegahan COVID-19 Dalam Penyelenggaraan Jasa