• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usulan Inovasi Pelaksanaan Pekerjaan Pengawasan Konstruksi

N/A
N/A
Ayu Praba

Academic year: 2024

Membagikan " Usulan Inovasi Pelaksanaan Pekerjaan Pengawasan Konstruksi"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV. GAGASAN BARU

4.1. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ... 545

4.2. Implementasi Pelaksanaan Building Information Modeling (BIM) ... 571

4.3. Tahap Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung Hijau ... 581

4.4. Protocol Pencegahan COVID-19 ... 600

4.5. Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Untuk Penyandang Cacat ... 606

4.6. Pemanfaatan Teknologi Dalam Melakukan Pemetaan, Monitoring dan Pengawasan. ... 620

(2)

Secara umum Kerangka Acuan Kerja Pekerjaan Konsultansi Pengawas telah menjelaskan lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan Konsultan sebagaimana diuraikan dalam pokok-pokok penjelasan dimuka. Berdasarkan pemahaman tersebut pada bagian ini Konsultan memberikan usulan – usulan berupa inovasi yang berupa modifikasi atau gagasan baru yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja untuk menghasilkan Pekerjaan Manajamen Konstruksi yang optimal.

Adapun usulan inovasi Konsultan terhadap pelaksanaan pekerjaan pengawasan ini adalah:

4.1. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)

Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) adalah suatu nilai yang menunjukkan prosentase penggunaan produk barang/jasa dalam negeri yang ada pada suatu produk.

Nilai ini juga bisa digunakan sebagai indikator dari kemampuan industri lokal dalam memanfaatkan potensi sumber daya lokal untuk memproduksi suatu produk. Produk yang dimaksud bisa dalam bentuk barang, jasa, ataupun gabungan antara barang dan jasa.

Awal mula dibentuknya kebijakan TKDN ini dikarenakan banyaknya produk-produk impor yang masuk sehingga menghambat pertumbuhan industri dalam negeri. Di samping itu, semakin banyak barang impor yang masuk maka sumber devisa negara juga akan semakin berkurang.

Perpres 16 Tahun 2018 tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri yaitu : Pasal 66

1) Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah wajib menggunakan produk dalam negeri, termasuk rancang -bangun dan perekayasaa nasional.

GAGASAN BARU

IV

(3)

2) Kewajiban penggunan produk dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan jika terdapat peserta yang menawarkan barang/jasa dengan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ditambah nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) paling rendah 40% (empat puluh persen).

3) Perhitungan TKDN dan BMP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dicantumkan dalam RUP, spesifikasi teknis/KAK, dan Dokumen Pemilihan.

5) Pengadaan barang impor dapat dilakukan, dalam hal:

a. barang tersebut belum dapat diproduksi di dalam negeri; atau b. volume produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan.

6) LKPP dan/atau Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah memperbanyak pencantuman produk dalam negeri dalam katalog elektronik.

Pasal 67

1) Preferensi harga merupakan insentif bagi produk dalam negeri pada pemilihan Penyedia berupa kelebihan harga yang dapat diterima.

2) Preferensi harga diberlakukan untuk Pengadaan Barang/Jasa yang bernilai paling sedikit di atas Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

3) Preferensi harga diberikan terhadap barang/jasa yang memiliki TKDN paling rendah 25% (dua puluh lima persen).

4) Preferensi harga untuk barang/jasa paling tinggi 25% (dua puluh lima persen).

5) Preferensi harga untuk Pekerjaan Konstruksi yang dikerjakan oleh badan usaha nasional paling tinggi 7,5% (tujuh koma lima persen) di atas harga penawaran terendah dari badan usaha asing.

6) Preferensi harga diperhitungkan dalam evaluasi harga penawaran yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis.

7) Penetapan pemenang berdasarkan urutan harga terendah Hasil Evaluasi Akhir (HEA).

8) HEA dihitung dengan rumus HEA=(1−KP)×HP dengan: KP = TKDN × preferensi tertinggi KP adalah Koefisien Preferensi HP adalah Harga Penawaran setelah

(4)

9) Dalam hal terdapat 2 (dua) atau lebih penawaran dengan HEA terendah yang sama, penawar dengan TKDN lebih besar ditetapkan sebagai pemenang.

Pengawasan Internal Pasal 76

1) Menteri/kepala lembaga/kepala daerah wajib melakukan pengawasan Pengadaan Barang/Jasa melalui aparat pengawasan internal pada Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah masing-masing.

2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui kegiatanaudit, reviu, pemantauan, evaluasi, dan/atau penyelenggaraan whistleblowing system.

3) Pengawasan Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sejak perencanaan, persiapan, pemilihan Penyedia, pelaksanaan Kontrak, dan serah terima pekerjaan.

4) Ruang lingkup pengawasan Pengadaan Barang/Jasa meliputi:

a. pemenuhan nilai manfaat yang sebesar-besarnya;

b. kepatuhan terhadap peraturan;

c. pencapaian TKDN;

PERPRES 12 TAHUN 2021

27. Ketentuan ayat (21, ayat (3) dan ayat (4) Pasal 66 diubah, dan diantara ayat (3) dan ayat (4) disisipkan 1 (satu) ayat 7 Yakni ayat (3a), sehingga Pasal 56 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 66

1) Kementerian/LembagafPerangkat Daerah wajib menggunakan produk dalam negeri, termasuk rancang bangun dan perekayasaan nasional.

2) Kewajiban penggunaan produk dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabila terdapat produk dalam negeri yang memiliki penjumlahan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ditambah nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) paling sedikit 4O% (ernpat puluh persen).

3) Nilai TKDN dan BMP sebagaimana dimaksud pada ayat (21 rnengacu pada daftar inventarisasi barang/jasa produksi dalam negeri yang diterbitkan oleh

(5)

kementeiian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian.

(3a) Kewajiban penggunaan produk dalam negeri sebagaimana dimaksud pacla ayat (2) dilakukan pada tahap Perencanaan Pengadaan, PersiapanPengadaan, atau Pemilihan Penyedia.

4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3a) dicantumkan dalam RUP, spesifikasi teknis/KAK, dan Dokurnen Pemitihan.

5) Pengadaan barang impror dapat dilakukan, dalam hal:

a. barang tersebut belum dapat diproduksi di dalam negeri; atau b. volume produksi dalam negefi tidak mampu rnemenuhi kebutuhan.

6) LKPP dan/atau Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah memperbanyak pencantuman produk dalam negeri dalam katalog elektronik.

28. Ketentuan Pasal 67 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 67

1) Preferensi harga merupakan insentif bagi produk dalam negeri pada pemilihan Penyedia berupa kelebihan harga yang dalrat diterima.

2) Preferensi harga diberlakukan untuk Pengadaan Barang/Jasa dengan nilai HPS paling Hps 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

3) Preferensi harga diberikan pada pengadaan Barang dengan ketentuan sebagai berikut:

a. diberikan terhadap Barang yang merniliki TKDN paling rendah 25% (dua puluh lima persen);

b. diberikan paling tinggi 25% (dua puluh lima persen);

c. Ciperhitungkan dalam e'raluasi harga penawaran yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis;

d. penetapan pemenang berdasarkan urutan harga terendah Hasil Evaluasi Akhir (HEA);

e. HEA drhitung dengan rumus HEA = (1 KP) x HP dengan:

KP = TKDN x preferensi tertinggi KP mempakan Koefisien Preferensi

(6)

f. daiam hal terdapat2 (dua) atau lebih penawaran dengan HEA terendah yang sama, penawar dengan TKDN lebih besar ditetapkan sebagai pemenang.

4) Untuk Pekerjaan Konstruksi pada metode pemilihan Tender Internasional, preferensi harga diberikan paling tinggi 7,5% (tujuh koma lima persen) kepada badan usaha nasional di atas harga penawaran terendah dari badan usaha asing.

29. Ketentuan ayat (21, ayat (3) dan ayat (5) Pasal 72 diubah, serta ayat (41 Pasal 72 dihapus, sehingga Pasal 72 berbunyi sebagai berikut:

Pasal,72

1) Katalog elektronik dapat berupa katalog elektronik nasional, katalog elektronik sektoral, dan katalog elektronik lokal.

2) Katalog elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat informasi berupa daftar, jenis, spesifikasi teknis, TKDN, produk dalam negeri, produk SNI, produk ramah lingkungan hidup, negara asal, harga, Penyedia, dan informasi lainnya terkait barang/jasa.

3) Pengelolaan katalog elektronik dilaksanakan oleh Kementerian/LembagalPemerintah Daerah atau LKPP.

4) Dihapus.

5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan katalog elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Lembaga.

PERLEM LKPP 12 Tahun 2021 1) Proses

PPK melakukan reviu spesifikasi teknis/KAK yang telah disusun pada tahap perencanaan Pengadaan Barang/Jasa. Reviu dilakukan berdasarkan data/informasi pasar terkini untuk mengetahui ketersediaan barang/jasa, harga, pelaku usaha dan alternatif barang/jasa sejenis. Dalam melakukan reviu ketersediaan barang/jasa perlu memperhatikan:

a. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mengacu pada daftar inventarisasi barang/jasa produksi dalam negeri;

b. memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI);

(7)

c. produk usaha mikro dan kecil serta koperasi dari hasil produksi dalam negeri; dan

d. produk ramah lingkungan hidup

. Dalam hal barang/jasa yang dibutuhkan tidak tersedia di pasar maka PPK mengusulkan alternatif spesifikasi teknis/KAK untuk mendapatkan persetujuan PA/KPA. PPK dapat menetapkan tim ahli atau tenaga ahli yang bertugas membantu PPK dalam penyusunan spesifikasi teknis/KAK.

Reviu Dokumen Persiapan Pengadaan

Pokja Pemilihan melakukan reviu dokumen persiapan pengadaan yang meliputi:

a. Spesifikasi Teknis/KAK dan gambar (jika diperlukan) Reviu spesifikasi teknis/KAK untuk memastikan bahwa spesifikasi teknis/KAK telah menggunakan barang/jasa yang memiliki Tingkat komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mengacu pada daftar inventarisasi barang/jasa produksi dalam negeri, memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), produk usaha mikro dan kecil serta koperasi dari hasil produksi dalam negeri, dan produk ramah lingkungan hidup, sehingga peserta pemilihan dapat memahami spesifikasi teknis/KAK dan merespon untuk menyusun penawaran dengan baik.

Evaluasi Teknis

Apabila dalam evaluasi penawaran teknis terdapat hal-hal yang kurang jelas atau meragukan, Pokja Pemilihan dapat melakukan klarifikasi dengan peserta. Dalam klarifikasi, peserta tidak diperkenankan mengubah substansi penawaran.

1) Pengadaan Barang

a) Dalam hal terdapat produk yang memiliki TKDN+BMP paling rendah 40%

(empat puluh persen) maka produk dari luar negeri digugurkan. Hal ini dapat dilakukan dalam hal hanya terdapat 1 (satu) jenis barang dalam 1 (satu) paket.

Evaluasi Harga Pengadaan Barang

a) Untuk pengadaan dengan nilai paling sedikit di atas Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah) diperhitungkan preferensi untuk produk yang memiliki

(8)

DASAR HUKUM YANG MENGATUR KEBIJAKAN TKDN

UUD No. 3 Tahun 2014 Tentang Perindustrian

Untuk pemberdayaan Industri dalam negeri, Pemerintah meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. (Pasal 85)

Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2018 Tentang “Pemberdayaan Industri”

Produk Dalam Negeri Wajib Digunakan oleh pengguna produk dalam negeri sebagi beriku:

a. Lembaga negara, kementrian, Lembaga pemerintah non kementrian, Lembaga pemerintahan lainna dan satuan kerja perangkat daerah dalam pengadaan Barang/Jasa apabila sumber pembiayaannya berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara, anggaran pendapatan dan belanja daerah, termasuk pinjaman atau hibah dari dalam negeri atau luar negeri; dan

b. Badan usaha milik negara, badan hukum lainnya yang dimiliki negara, badan usaha milik daerah, dan badan usaha swasta dalam pengadaan barang/ jasa yang :

1. Pembiayaan berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara atau anggaran pendapatan da belanja daerah

2. Pekerjaannya dilakukan melalui pola kerja sama antara pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah dengan badan usaha dan/atau

3. Mengusahakan sumber daya yang dikuasai negara (Pasal 57)

1) Dalam Pengadaan Barang/Jasa, pengguna produk salam negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 57 wajib menggunakan produk dalam negeri apabila terdapat produk dalam negeri yang memiliki penjumlahan nilai TKDN dan nilai bobot manfaat perusahaan minimal 40% (empat puluh person)

2) Produk dalam negeri yang wajib digunakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki nilai TKDN paling sedikit 25% (dua puluh lima persen)

PerPres 12 Tahun 2021 Tentang “Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah”

Kewajiban penggunaan produk dalam negeri dilakukan apabila terdapat produk dalam negeri yang memiliki penjumlahan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri

(9)

(TKDN) ditambah nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) paling sedikit 40%

(empat puluh persen) Pasal 66 (2)

Permen Perin No. 3 Tahun 2014

Pedoman Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengdadaan Barang/Jasa Pemerintahan Yang Tidak Dibiayai Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan Dab Belanaja Daerah.

Penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang/jasa pemerintah yang tidak dibiayai dari APBN/APBD berlaku bagi pengdaan barang/jasa yang mempengaruhi keuangan negara, yang meliputi:

a. Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah

b. Lembaga Pemerintah Non Kementrian, Bank Indonesia, Lembaga Penjaminan, Dan Otoritas Jasa Keuangan

c. Badan Layanan Umum (BLU)

d. Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum e. Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS)

f. Badan usaha pemegang izin usaha pertambangan (IUP) atau Kontrak Karya /Perjanjian kerja pengusaha pertambangan batu bara (PKP2B)

g. Pola kerjasama Pemerintah dan Swasta

PermenPerin No. 57 Tahun 2006 Tentang “Pertunjukan Surveyor Independen Sebagai Pelaksana Verifikasi Capaian (TKDN)”

(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)

(16)
(17)

iaya jasa terkait tenaga kerja langsung dinilai berdasarkan biaya jasa terkait tenaga kerja yang digunakan untuk melakukan proses produksi 1 (satu) satuan produk, contoh Tunjangan, Asuransi, Makan, Safety Equipment, dsb.

1. Material habis pakai (consumable) Misal : gas, solar, pelumas, dll 2. Upah tenaga kerja tidak langsung

#AssureYourConfidence

Misal: manajer produksi, supervisor produksi, manajer QA/QC, tim engineering

(18)

5. Biaya Perawatan, Perbaikan dan Suku cadang

6. Asuransi (Tenaga kerja tidak langsung, gedung, mesin) 7. Lisensi dan paten untuk produk

8. Telepon, Listrik dan Biaya lainya.

9. Pajak Penghasilan untuk tenaga kerja tidak langsung dan Pajak Bumi & Bangunan (PBB) 10. Biaya pengujian produk

11. Biaya handling & transportasi untukconsumable 12. Biaya untuk K3L atau HSE

13. Biaya untuk program mutu

(19)
(20)
(21)

Catatan Verifikasi :

 Biaya Produksi dihitung sampai di lokasi pengerjaan (pabrik/workshop) untuk produk barang yang bersangkutan

(22)

 Dalam hal data yang digunakan dalm perhitungan TKDN yang tidak dapat dipertanggungjawabkan nilai TKDN untuk komponen tersebut dinilai NHL (0)

Checklist Dokumen Verifikasi TKDN Barang

Catatan :

 Sertifikasi TKDN barangf ditanda sahkan oleh kepala pusat peningkatan penggunaan produk dalam negeri kementrian perindustrian

 Satu sertifikat TKDN mewakili satu jenis produk

 Jenis produk yang dapat di tanda sahkan sesuai dengan komoditi izin usaha industry perusahaan

 Sertifikat TKDN barang berlaku selama 3 tahun

(23)

STANDAR OPERATION PROSEDUR TKDN

 Alur Proses Penerbitan Sertifikat TKDN

(24)

Tata Cara Perhitungan BMP - Bobot Manfaat Perusahaan

(25)

Berlaku selama 3 tahun (PermenPerin no. 02/M-IND/PER/1/2014 Pasal 28 ayat (2) - Dokumen Pendukung BMP

- Sertifikat BMP

(26)

- Harga Evaluasi Akhir

*) Pemberian Refrensi harga tidak mengubah harga penawaran dan hanya digunakan panitia lelang untuk keperluan perhitungan harga evaluasi akhir (HEA)

*)Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 Pasal 67

Refrensi harga diberlakukan untuk Pengadaan Barang/Jasa dengan nilai HPS paling sedikit di atas Rp. 1.000.000.000.00 (satu miliar rupiah)

(27)

Contoh Perhitungan :

(28)

4.2. Implementasi Pelaksanaan Building Information Modeling (BIM)

Angka keamanan dalam desain struktur (pondasi, kolom/balok, lantai dan atap0 harus dipastikan sudah memenuhi kaidah teknis yang berlaku. Selain itu kualitas pelaksanaan dilapangan dan pengawasan juga menjadi factor penentu. Sebaiknya mungkin tingkat keamanan (mutu beton) yang telah direncanakan apabila pelaksanaan dilapangan tidak dilakukan dengan baik maka mutu beton tersebut tidak tercapai yang berakibat kepada failure structure (struktur gagal). Dalam lingkup manajemen konstruksi diperlukan implementasi pelaksanaan BIM (Building Information Modeling). BIM merupaka seperangkat teknologi, proses kebijakan yang seluruh prosesnya berjalan secara terintegrasi dalam sebuah model digital, yang kemudia diterjemahkan sebagai gambar 3 dimensi 3D, real- time, dan pemodelan dinamis untuk meningkatkan produktifitas dalam desain dan konstruksi bangunan. Selaku konsultan pengawas, pemodelan dengan menggunakan BIM dapat diterima dari perhitungan kontraktor dan perencanaan sebelumnya, sehingga implementasi BIM akan meningkatkan efisiensi dan tranparansi biaya. Sebagai contoh, dengan pemakaian BIM akan terlihat volume proyek (additional volume dan cost) secara gambling sehingga akan meminimalisir kecurangan seperti mark up proyek. Dengan demikian, BIM akan memudahkan konsultan pengawas dalam mengaudit pelaksanaan konstruksi Konsultansi Pengawasan Konstruksi Pembangunan Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Karangasem dan Konsultansi Pengawasan Konstruksi Pembangunan Wantilan Budaya Salah satu contoh pemodelan yang sudah selesai dikerjakan, dalam tahapan ini semua model pembesian di calculate, seperti pembesian di kolom, balok, pile cap, maupun slab, yang kemudian perhitungan dimasukan ke BOQ untuk dilakukan perhitungan selanjutnya.

(29)

Pada tahap awal adalah informasi project yaitu Konsultansi Pengawasan Konstruksi Pembangunan Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Karangasem dan Konsultansi Pengawasan Konstruksi Pembangunan Wantilan Budaya dan penentuan axis grid ukuran bangunan seperti gambar berikut:

Selanjutnya diawali dengan gambar struktur yaitu pemodelan pile cap dan tulangan nya berdasarkan dokumen gambar. Dapat dilihat pada berikut:

(30)
(31)

Setelah pemodelan tulangan pile cap dan jumlah selanjutnya pada penulangan sloof, kolom dan balok berdasarkan dokumen perencanaan. Dapat dilihat pada gambar berikut:

(32)

Pemodelan kolom, balok dan sloof akan dikombinasikan untuk dilanjutkan pada penulangan plat lantai berdasarkan dokumen perencanaan. Penulangan plat lantai dilakukan dengan sistem wiremesh 2 lapis. Dapat dilihat pada gambar berikut:

Pemodelan penulangan kolom, balok, sloof dan plat ini akan diulangi pada lantai berikut nya sehingga menjadi hasil yang utuh. Sebagai salah satu contoh berikut model struktur lantai 1;

Setelah penulangan kolom , balok, dan plat dipadukan maka akan dilanjutkan pada tahap penulangan atap. Dapat dilihat pada gambar berikut:

(33)

Dari permodelan pile cap, kolom, balok, sloof, plat dan atap akan dilanjutkan pada fase keseluruhan lantai sehingga menghasilkan sebuah model bangunan struktur 5D beserta volume tulangan nya yang dapat dihitung secara akurat dan diterapkan pada rencana anggaran biaya. Dapat dilihat pada gambar berikut:

(34)

Setelah permodelan struktur dilanjutkan pada fase arsitektural untuk menghitung volumetric finishing dinding , lantai, plafon, dan kusen-kusen. Data yang diserap dari dokumen perencanaan akan diaplikasikan pada pemodelan dengan sistem terintegrasi antara degan arsitektural. Tahap pertama yaitu memasukan volume dinding pada model, dapat dilihat pada gambar berikut:

(35)

Lubang-lubang pintu dan jendela akan diaplikasikan untuk menghitung pengurangan-pengurangan volume dinding akibat pintu dan jendela seperti gambar berikut:

(36)

Setelah pemasangan dinding dan lubang pintu dilanjutkan pada tahap berikutnya yaitu aplikasi finishing lantai, dinding dan plafon berdasarkan data-data yang diserap. Dapat dilihat pada gambar berikkut:

(37)

Pada tahap akhir sama seperti struktur adalah penerapan volume dari lantai basement hingga lantai 4 sehingga menghasilkan suatu desain yang utuh secara permodelan dan akan dihitung volumetric nya seperti gambar berikut:

(38)

4.3. Tahap Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung Hijau 1. Penjelasan Umum

Tahap pelaksanaan kosntruksi adalah tahap rangkaian kegiatan pelaksanaan untuk mewujudkan fisik bangunan gedung hijau telah ditetapkan dalam tahap perencanaan teknis.

Gambar Inovasi Pelaksanaan Konstruksi Hijau Tahap pelaksanaan konstruksi meliputi kegiatan:

a. Penyusunan dokumen rencana pelaksanaan konstruksi dan dokumen gambar kerja pelaksanaan (shop drawing)

b. Pengajuan perizinan

c. Pelaksanaan konstruksi bangunan gedung hijau

d. Koordinasi dalam rangka pemeriksaan kelayakan fungsi, dan sertifikasi bangunan gedung hijau,

e. Penyusunan manual operasional dan pemanfaatan sebagai bangunan gedung hijau dan

f. Penyusunan laporan akhir tahap pelaksanaan konstruksi

Persyaratan tahap konstruksi bangunan gedung hijau terdiri dari:

a. Proses Konstruksi Hijau, dilakukan melalui:

- Penerapan metode pelaksanaan konstruksi hijau - Pengoptimalan penggunaan peralatan

- Penerapan manajamen pengelolaan air limbah konstruksi - Penerapan konservasi air pada pelaksanaan konstruksi, dan - Penerapan konservasi energy pada pelaksanan konstruksi

(39)

b. Praktik Perilaku Hijau, dilakukan melalui:

- Penerapan Sistem Manajamen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) - Penerpan perilaku ramah lingkungan

c. Rantai Pasok Hijau, dilakukan melalui:

- Penggunaan material konstruksi

- Pemilihan pemasok dan/atau sub-kontraktor - Konservasi energi

2. Persyaratan Bangunan Gedung Hijau Tahap Pelaksanaan Konstruksi

Setiap tingkat pengenaan bangunan gedung memiliki fungsi dan kompleksitas yang berbeda, sehingga persyaratan bangunan gedung hijau yang wajib dipenuhi akan berbeda. Dalam pengenaan bangunan gedung hijau pada bangunan mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 02/PRT/M/2015 tentang bangunan Gedung Hijau dan Surat Edaran Nomor 86/SE/DC/2016 tentang petunjuk Teknis

Penyelenggaraan Bangunan Gedung Hijau sebagai pedoman dalam pelaksanaan penilaian persyaratan, tata cara penilaian kinerja dan penerbitan sertifikat dan plakat Bangunan Gedung Hijau.

Berdasarakan Surat Edaran Nomor 86/SE/DC/2016 tentang petunjuk Teknis Penyelenggaran Bangunan Gedung Hijau, daftar simak penilaian kinerja bangunan gedung hijau menggunakan daftar simak dan form penilaian kinerja bangunan gedung hijau tahap pelaksanaan konstruksi seperti berikut:

a. Daftar Simak Tahap Pelaksanaan Konstruksi

b. Form Penilaian Kinerja Tahap Pelaksanaan Konstruksi Tata Cara Penilaian Kinerja Tahap Pelaksanaan Konstruksi

Tata cara penilaian kinerja Bangunan Gedung HIjau pada tahap pelaksanaan teknis meliputi 3 aspek, yaitu: Proses Konstruksi Hijau, Praktik Perilaku Hijau dan Rental Pasok Hijau. Pemeriksaan dilakukan terhadap dokumen teknis pelaksanaan Bnagunan Gedung terhadap aspek Bangunan Gedung Hijau yang ada pada bangunan dan metode dalam proses konstruksinya terkait dengan lingkungan.

Ketentuan penilaian kinerja Bangunan Gedung Hijau pada tahap pelaksanaan

(40)

1. Proses Konstruksi Hijau

Proses konstruksi hijau harus memiliki cara kerja dan teknologi yang dapat memaksimalkan nilai yang ingin dicapai dengan meminimalkan pemborosan atau limbah yang dihasilkan pada setiap proses konstruksi.

a. Metode Pelaksanaan Konstruksi Hijau

 Memiliki jadwal pelaksanaan konstruksi

 Melakukan evaluasi konerja secara berkala

 Melakukan perbaikan atas dasar hasil evaluasi

 Memiliki bukti yang menunjukkan inovasi-inovasi dalam proses konstruksi

b. Pengoptimalan Penggunaan Peralatan

Pelaksanaan Konstruksi hijau tidak terlepas dari faktor keselamatan terhadap manusia, sebagai bagian dari lingkungan. Pembuktian berupa sertifikat dan izin diperlukan sebagai jaminan keabsahan penggunaan perlatan yang aman pada saat pembangunan Bangunan Gedung Hijau.

Penilaian Kinerja Hasil Pemeriksaan dokumen untuk pengoptimalan penggunaan peralatan akan diberikan, jika:

 Memiliki jadwal operasi alat-alat berat

 Seluruh alat berat memiliki jadwal pemeliharaan

 Seluruh alat berat memiliki izin kelaikan fungsi

 Seluruh operator alat berat memiliki sertifikat/ijin

 Berhasil meminimalkan waktu jeda operasional.

(41)

c. Penerapan Manajemen Pengelolaan Limbah Konstruksi

Manajamen pengelolaan limbah konstruksi ditujukkan untuk meminimalkan limbah yang dihasilkan selama konstruksi berlangsung, baik berupa sisa material maupun sampah dilingkungan proyek.

 Penilaian Kinerja Hasil Pemeriksaan dokumen untuk penerapan Manajamen Pengelolaan Limbah Konstruksi akan diberikan, jika

 Berhasil melakukan optimasi dalam pemakaian material sehingga menciptakan pengurangan timbulan sampah konstruksi,

 Memiliki area pemilahan dan pengumpulan sampah konstruksi

 Memiliki tempat penyimpanan material yang aman sehingga yang dapat meningkatkan usia material,

 Terdapat laporan pendaurulangan sampah konstruksi.

d. Penerapan Konservasi Air pada Pelaksanaan Konstruksi

Pengoptimalan penggunaan air ini dilakukan dengan pendekatan prinsip 3R (reuse, reduce and recycle) serta semaksimal mungkin melakukan peresapan air kembali ke dalam tanah.

Penilaian Kinerja Hasil Pemeriksaan dokumen untuk penerapan konservasi air pada pelaksanaan konstruksi akan diberikan jika:

(42)

 Lokasi proyek konstruksi memiliki sumur resapan,

 Lokasi proyek konstruksi memiliki kolam penampungan air hujan,

 Kolam penampungan air hujan memiliki kapasitas yang besar

(43)

 Air hujan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih untuk konstruksi

 Lokasi proyek konstruksi memiliki system penahanan air permukaan sehingga memiliki waktu yang cukup untuk dapat diserapkan ke tanah, dan

 Untuk proyek yang melakukan kegiatan dewatering harus memenuhi persyaratan seperti izin serta memeiliki skenario proses dewatering.

e. Penerapan Konservasi Energi pada Pelaksanaan Konstruksi

Hal ini dilakukan dengan mengimplementasikan manajemen energy yang terdiri atas efisiensi dan pengoptimalan penggunaan peralatan yang hemat energi, penilaian akan diberikan jika:

 Memiliki rencana penggunaan energi saat konstruksi,

 Memiliki SOP manajamen sesuai dengan ketentuan di atas,

 Melaksanakan SOP, dibuktikan dengan hasil penggunaan energy sesuai dengan rencana,

 Melakukan manajamen energy pada pelaksanaan konstruksi,

 Menggunakan perlatan yang telah lulus uji emisi (jika menggunakan genset)

 Memasang KWh meter pada panel induk dan panel distribusi.

 Dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala beserta

(44)

2. Praktik Perilaku Hijau

Proses Konstruksi hijau harus memiliki cara kerja dan teknologi yang dapat memaksimalkan nilai yang ingin dicapai dengan meminimalkasn pemborosan atau limbah yang dihasilkan pada setiap proses konstruksi.

a. Penerapan Sistem Manajamen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3)

Kesehatan dan keselamatan kerja harus menjamin keamanan yang terbaik untuk menghindari terjadinya kecelakan kerja dan gangguan kesehatan pekerja konstruksi akibat pelaksanaan proyek konstruksi.

Penilaian Kinerja Hasil Pemeriksaan dokumen untuk penerapan SMK3 akan diberikan jika:

 Dalam dokumen rencana K3L memiliki metode pengingatan K3L melalui suara secara berkala.

 Dalam dokumen rencana standar K3L menjelaskan tentang ketentuan baju dan peralatan pengaman, disertai dengan bukti foto pelaksanaan di lapangan.

 Dalam dokumen rencan K3 memiliki SOPuntuk setiap jenis pekerjaan

 Terdapat rambu-rambu K3 di proyek konstruksi

Gambar Contoh Penerapan K3 Konstruksi b. Penerapan Perilaku Ramah Lingkungan

Perilaku ramah lingkungan merupakan perilaku yang harus diterapkan oleh setiap individu pekerja yang terlibat pada tahap pelaksanaan konstruksi guna mengurangi dampak negatif dari pelaksanaan

(45)

konstruksi terhadap lingkungan. Perilaku ini dilakukan dengan menitik beratkan pada prinsip-prinsip penghematan energi, air dan penggunaan sumber daya.

Penilaian Kinerja Hasil pemeriksaan dokumen untuk pernerapan perilaku ramah lingkungan akan diberikan jika:

 Aktivitas konstruksi memperhitungkan potensi dampak negative terhadap lingkungan.

 Melakukan kegiatan penghematan energi

 Melakukan kegiatan konservasi air

 Melakukan kegiatan penghematan sumber daya.

3. Rantai Pasok Hijau

Rantai pasok hijau pada proses konstruksi Bangunan Gedung Hijau (BGH) yang di dapat dari pemasok dan sub-pelaksana/sub kontraktor yang berkontribusi melaksanakan produksi konstruksi dengan mempertimbangkan prinsip daur hidup (life cycle time) dari pasokan tersebut dengan mempertimbangkan hal penggunaan material, proses pemilihan pemasok/sub kontraktor, konservasi energi.

Penggunaan material yang dimaksud dalam persyaratan ini adalah penggunaan material pada proses konstruksi. Sehingga material yang dipergunakan pada bangunan gedung tidak diperhitungkan.

a. Penggunaan Material Konstruksi

Penggunaan material pada pelaksanaan konstruksi harus dilakukan seoptimal mungkin agar pemakaian sumber daya lebih efisien, dan mengurangi limbah konstruksi berupa sisa material.

Penilaian Kinerja Hasil Pemeriksaan dokumen untuk Penggunaan Material Konstruksi akan diberikan jika:

 Dalam proses konstruksi menggunakan material yang bahan baku berasal dari Indonesia,

 Dalam Proses konstruksi menggunakan material yang ramah lingkungan,

(46)

 Material yang digunakan memiliki sedikit kemasan pembungkus.

b. Pemilihan Pemasok dan/atau Sub Kontraktor

Rantai pasok hijau pada BGH dapat dipantau dari pemilihan pemasok material yang dekat dengan lokasi proyek. Pada tahap perencanaan penggunaan material ramah lingkungan diperlukan bukti pelaksanaan yang membuktikan bahwa material benar dibeli dan dipasang pada proyek.

c. Konservasi Energi

Konservasi energi pada pelaksanaan rantai pasok dilakukan, baik melalui pemilihan material maupun pemasok dan sub kontraktor yang menjalankan prinsip-prinsip penghematan energi.

Penilaian Kinerja Hasil Pemeriksaan dokumen untuk Konservasi Energi akan diberikan jika:

 Pernah melakukan dan memiliki laporan audit energi dari peralatan,

 Memiliki aturan mengenai konservasi energi,

 Alat berat yang digunakan pada proses konstruksi hemat energi.

Analisa Bangunan Gedung Hijau Tahap Pelaksanaan Konstruksi 1. Proses Konstruksi Hijau

Konsep konstruksi hijau (Green Construction) pada dasarnya merupakan strategi dalam proses pelaksanaan konstruksi yang mengedepankan konstruksi ramah lingkungan baik melalui metode kerja, penggunaa material, penggunaan peralatan konstruksi, manajemen, pengawasan dsb. Pada dasar konsep konstruksi hijau merupakan tahap pelaksanaan yang merupakan proses lanjutan dari konsep desain yang ramah lingkungan.

Kriteria penerapan green construction yang dapat diimplementasikan oleh kontraktor di bawah pengawasan konsultan manajemen konstruksi pada Konsultansi Pengawasan Konstruksi Pembangunan Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Karangasem dan Konsultansi Pengawasan Konstruksi Pembangunan Wantilan Budaya yakni :

(47)

a. Metode Pelaksanaan Konstruksi Hijau

Memiliki Jadwal Pelaksanaan Konstruksi

Jadwal pelaksanaan konstruksi digunakan sebagai alat pengendalian prestasi pelaksanaan proyek secara menyeluruh agar pelaksanaan proyek tersebut dapat diperhitungkan terkait dengan tingkat akurasi dan estimasi detail.

Pada proses konstruksi, time schedule atau jadwal pelaksanaan konstruksi digunakan sebagai pedoman untuk mengevaluasi, mengatur kecepatan suatu pekerjaan dan memperkirakan biaya yang harus disediakan dalam jangka waktu tertentu, serta memperkirakan jumlah tenaga kerja, jumlah dan macam peralatan, serta material yang digunakan pada proses pelaksanaan konstruksi.

Melakukan Evaluasi Kinerja Secara Berkala

Evaluasi kinerja secara berkala dilaksanakan dengan tujuan untuk menilai tingkat pencapaian indikator dan sasaran kinerja pada tiap masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak sehingga dapat diidentifikasi permasalahan yang dihadapi, mengidentifikasi pemecahan masalah dilapangan, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat keberhasilan proyek.

Pada proses pelaksanaan dipertimbangkan melakukan evaluasi kinerja berkaitan dengan item-item pelaksanaan sesuai dengan pedoman persyaratan penerapan banguna ghedung hijau.

Melakukan Perbaikan Atas dasar hasil evaluasi

Mengacu pada proses evaluasi kinerja secara berkala maka dapaat diidentifikasi terkait dengan kendala-kendala dan pemasalahan di lapangan pada tahap pelaksanaan konstruksi. Perbaikan yang dilakukan berdasarkan instruksi hasil dari rapat evaluasi kinerja secara berkala sehingga dapat dianalisa dengan bukti perbaikan.

Analisa bukti perbaikan pada rapat evaluasi kinerja secara berkala yang dilaksanakan terdapat masukkan dan saran untuk memperhatikan

(48)

dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit akibat kerja.

b. Pengoptimalan Penggunaan Peralatan

Memiliki Jadwal Operasi Alat-alat Berat

Fungsi dari jadwal operasi alat-alat berat adalah merencanakan penggunaan alat berat secara efisien agar tingkat produktivitas dari alat berat tersebut tercapai sesuai dengan jadwal. Sehingga guna terciptanya penggunaan alat berat secara efisien, penggunaanya perlu mengetahui kemampuan alat, jenis dan fungsi alat berat, keterbatasan alat dan biaya operasional alat.

Seluruh Alat berat memiliki jadwal pemeliharaan

Tujuan dari manajamen perawatan atau pemeliharaan alat berat adalah untu menjaga agar kondisi dan untuk kerja alat berat tersebut selalu dalam kondisi prima sesuai dengan spesifikasinya.

Seluruh Alat berat memiliki izin kelaikan fungsi

Alat berat yang digunakan direncanakan dilengkapi dengan izin kelaikan fungsi dengan tujuan untuk memastikan alat berat yang digunakan sudah memperhatikan katentuan-ketentuan sesuai dengan peraturan, sehingga dengan kelengkapan izin kelaikan fungsi tersebut dapat memperhatikan keselamatan dan keamanan pada lokasi proyek baik dari sumber daya maupun lingkungan sekitar proyek.

Seluruh Operator alat berat memiliki sertifikat/ijin

Sebelum menggunakan setiap alat berat dan perlengkapannya dilakukan pemeriksaan serta dioperasikan oleh operator yang berkemampuan dan cukup keterampilannya.

c. Penerapan Manajamen Pengelolaan Limbah Konstruksi

Berhasil melakukan optimasi dalam pemakaian material sehingga menciptakan pengurangan timbulan sampah konstruksi

Dalam dokumen SOP diidentifikasi untuk mengakomodir terkait dengan pemahaman umum yang dimaksud dengan sampah atau limbah konstruksi, penanganan sampah atau limbah konstruksi, dan pertanggung jawaban sampah atau limbah konstruksi pada area proyek. Pada Pelaksanaan

(49)

Konstruksi, optimasi yang dilakukan direncanakan dengan langkah- langkah sebagai berikut:

1) Pemanfaatan sisa potongan besi dan bekisting

Gambar Pemanfaatan sisa potongan besi untuk sambungan tulangan 2) Optimalisasi penggunaan material besi

Gambar Pengoptimalan material besi dengan wiremash 3) Pemanfaatan sisa cor

Gambar Pemanfaatan Sisa cor menjadi kanstein

(50)

4) Memanfaatkan material bongkaran untuk urugan

Gambar Sisa Material bongkaran didaur ulang

Memiliki area pemilihan dan pengumpulan sampah konstruksi Pemilahan dan pengumpulan sampah bertujuan untuk memisahkan jenis limbah atau sampah konstruksi yang dihasilkan sehingga dapat dikelompokkan berdasarkan jenis sampah yang dihasilkan pada proses pelaksanaan konstruksi. Terkait dengan pemilihan tersebut direncanakan untuk dilakukan kerjasama dengan pihak ketiga untuk diolah.

Gambar Analisa Tempat Pemilahan dan Pengumpulan Sampah Konstruksi pada area proyek.

Memiliki tempat penyimpanan material yang aman untuk meningkatkan usia material

Tempat penyimpanan material pada proyek bersifat sementara, namun dalam pembuatan tempat penyimpanan material atau gudang material dipertimbangkan dibuat dengan memperhitungkan agar material tidak rusak sebelum digunakan sehingga tidak menimbulkan kerugian dan melakukan optimasi pada penggunaan material selain itu dapat menghemat

(51)

ruang penyimpanan dan mempermudah dalam melakukan pengecekan stok barang/material.

Tempat penyimpanan material pada area proyek bersifat semnetara, namun dalam pembuatan tempat penyimpanan material atau gudang amterial dipertimbangkan dibuat dengan memperhitungkan agar tidak rusak sebelum digunakan sehingga tidak menimbulkan kerugian dan melakukan optimasi pada penggunaan material.

Gambar Analisa gudang material dan penempatan material

Manajemen Limbah Konstruksi

Pembangunan proyek konstruksi akan selalu menghasilakn limbah dalam jumlah yang cukup besar, sehingga kalau tidak dilakukan manajemen terhadap limbah konstruksi tersebut dapat menjadi permasalahan yang serius bagi lingkungan, sebaliknya apabila dilakukan manajemen dengan baik dapat menghasilkan keuntungan.

(52)

Pada prinsipnya setiap material bangunan mempunyai siklus hidup, dimulai dari pengambilan bahan baku di tempat asal dan berakhir di tempat pembuangan. Dalam konsep pembangun proyek hijau, siklus hidup tidak boleh berakhir di tempat pembuangan begitu saja, namum material tersebut sedapat mungkin dimanfaatkan kembali dengan cara digunakan kembali(reuse), diolah kembali (recycling), dan apabila memang tidak dapat untuk hal tersebut diatas maka harus dibuang dengan cara yang ramah lingkungan.

Kualitas udara Tahap Kosntruksi

Udara segar tanpa ada kandungan polutan berbahaya sangat dibutuhkan untuk seluruh pekerja konstruksi selama proses konstruksi dan orang- orang yang tinggal disekitar pelaksanaan proyek konstruksi selama proses konstruksi itu berlangsung. Salah satu cara adalah pemasangan jaring pengaman debu yang dihasilkan selama proses konstruksi tidak menyebar keluar area proyek yang dapat menggangu aktifitas orang-orang di sekitar proyek konstruksi tersebut. Pada prakteknya juga telah dilakukan penyemprotan air di area yang terlihat banyak mengandung debu dan memasang stiker/papan dilarang merokok di lokasi konstruksi.

(53)

Efisiensi dan Konservasi Energi

Penghematan energi dapat dicapai dengan penggunaan energi secara efisien dimana manfaat yang sama diperoleh dengan menggunakan energi lebih sedikit, ataupun dengan mengurai konsumsi dan kegiatan yang menggunakan.

Sesuai dengan surat edaran Nomor; 86/Se/Dc/2016 Tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bangunan Gedung Hijau, Kementrian Pekerjaan Umum dan Peumahan Rakyat Direktorat Jenderal Cipta Karya. Tata cara penilaian kinerja BGH pada tahap pelaksanaan teknis meliputi 3 aspek, yaitu : proses konstruksi hijau, praktik perilaku hijau, dan rantai pasok hijau. Pemeriksaan dilakukan terhadap dokumen teknis pelaksanaan Bangunan Gedung terhadap aspek GBH yang ada pada bangunan dan metode dalam proses konstruksinya terkait dengan lingkungan. Sertifikasi bangunan gedung hijau diberikan pada bangunan gedung yang telah menerapkan prinsip bangunan gedung hijau dalam rangka tertib pembangunan dan mendorong penyelenggaraan bangunan gedung yang memiliki kinerja terukur secara signifikan, efisien, aman, sehat, mudah, nyaman, ramah lingkungan, hemat energi dan air, dan sumber daya lainnya.

Pemenuhan persyaratan nbangunan gedung hijau dilakukan dengan tertib administrasi. Penilaian dilakukan dengan menggunakan daftar simak penilaian kinerja bangunan gedung hijau dibawah ini.:

(54)

Penilaian tersebut difasilitasi oleh konsultan pengawas yang memiliki kompetensi tenaga ahli green profesional, dengan membuat dokumen pernyataan seperti dibawah ini:

No Persyaratan Poin

A

1 Metoda Pelaksanaan

Konstruksi Hijau 4

2 pengoptimalan

penggunaan peralatan 5 3

penerapan manajemen pengelolaan limbah konstruksi

13

4 konservasi air pada

pelaksanaan 20

5 Konservasi energi pada

pelaksanaan konstruksi 14 B

1

penerapan sistem

manajemen kesehatan dan keselamatan kerja

9 penerapan dan prilaku

ramah lingkungan 12

C

1 penggunaan material

konstruksi 10

2 Pemulihan Pemasok

Material dan Alat 9

3 Konservasi Energi dalam

Rantai Pasok 4

Total 100

Capaian kinerja sesuai permen PUPR 02/PRT/M/2015 Lebih dari 85% s.d 100% Capaian kinerja sesuai permen PUPR 02/PRT/M/2015 Proses Konstruksi Hijau

Praktek Prilaku Hijau

Rantai Pasok Hijau

70% s.d 75% Capaian Kinerja Sesuai SLF Lebih Dari 75% s.d 85%

BGH Pratama

BGH Madya

BGH Utama

(55)
(56)
(57)

4.4. Protocol Pencegahan COVID-19

Coronavirus atau virus corona (COVID-19) merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu. Siapa pun dapat terinfeksi virus corona. Akan tetapi, bayi dan anak kecil, serta orang dengan kekebalan tubuh yang lemah lebih rentan terhadap serangan virus ini.

Selain itu, kondisi musim juga mungkin berpengaruh. Infeksi corona disebabkan oleh virus corona itu sendiri. Kebanyakan virus corona menyebar seperti virus lain pada umumnya, seperti:

- Percikan air liur pengidap (bantuk dan bersin).

- Menyentuh tangan atau wajah orang yang terinfeksi.

- Menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona.

- Tinja atau feses (jarang terjadi)

Virus corona bisa menimbulkan beragam gejala pada pengidapnya. Gejala yang muncul ini bergantung pada jenis virus corona yang menyerang, dan seberapa serius infeksi yang terjadi. Berikut beberapa gejala virus corona yang terbilang ringan:

- Hidung beringus.

- Sakit kepala.

- Batuk.

- Sakit tenggorokan.

- Demam.

- Merasa tidak enak badan.

Hal yang perlu ditegaskan, beberapa virus corona dapat menyebabkan gejala yang parah. Infeksinya dapat berubah menjadi bronkitis dan pneumonia (disebabkan oleh COVID-19 ), yang mengakibatkan gejala seperti:

- Demam yang mungkin cukup tinggi bila pasien mengidap pneumonia.

- Batuk dengan lendir.

- Sesak napas.

- Nyeri dada atau sesak saat bernapas dan batuk.

(58)

Gambar Penerapan 601ating601601 kesehatan dalam penyelenggaraan jasa konstruksi

Perkembangan pandemik Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan menindak lanjuti arahan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 15 Maret 2020 terkait upaya pencegahan COVID-19 serta mempertimbangkan adanya penetapan wabah Corona sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia perlu dilakukan upaya pencegahan penyebaran dan dampak COVID- 19 dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksi, dan dalam upaya pencegahan dampak COVID-19 tersebut diperlukan protokol Pencegahan Penyebaran COVID-19 dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksi bagi Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa, yang merupakan bagian dari keseluruhan kebijakan untuk mewujudkan keselamatan konstruksi termasuk keselamatan dan kesehatan kerja, keselamatan publik, dan keselamatan lingkungan pada setiap tahapan penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

Berikut adalah ringkas dari Instruksi Menteri PUPR No 02 /IN/M/2020 tentang Protokol Pencegahan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

1. Protokol ini dimaksudkan sebagai panduan umum bagi Pemilu Pengguna/

Penyelenggara bersarna Konsultan, Kontraktor, Subkontraktor, Vendor/ Supplier dan Fabrikator, Mandor serta para Pekerja dalam mencegah wabah COVID-19 di proyek konstruksi.

2. Protokol ini merupakan bagian dari keseluruhan kebijakan untuk mewujudkan keselamatan konstruksi. Keselamatan konstruksi adalah keselamatan dan kesehatan kerja; keselamatan publik; dan keselamatan lingkungan dalam setiap

(59)

tahapan penyelenggaraan konstruksi (life cycleof building and infrastructure developmenf).

3. Protokol ini berlaku di proyek konstruksi yarg diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dan/ atau BUMN, maupun investasi swasta dan/ atau gabungan. Masing-masing pihak pemangku amanah di proyek konstruksi dapat menindak lanjuti implementasi dari protokol ini sesuai dengan kebijkan perusahaan masing-nasing.

A. Skema Protokol Pencegahan COVID-19 Dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

1. Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan COVID-19

a. Pengguna Jasa dan Penyedia Jusa wajib membentuk Satgas Pencegahan COVID- 19 yang menjadi bagian dari Unit Keselamatan Konstruksi:

b. Satgas Pencegahan COVID-19 sebagaimana dimaksud pada huruf a dibentuk oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut:

c. Satgas Pencegahan COVID-19 sebagaimana dimaksud pada huruf a berjumlah paling sedikit 5 (lima) orang yang terdiri atas:

 1 (satu) Ketua merangkap anggota , dan

 4 (empat) Anggota yang mewakili Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa

d. Satgas Pencegahan COVID-19 memiliki tugas, tanggung jawab, dan kewenangan untuk melakukan:

 Sosialisasi:

 Pembelajaran (edukasi)

 Metode / pelaksanaan pencegahan COVID-19 di lapangan

e. Berkoordinasi dengan Satgas Penanggulangan COVID-19 Kementerian PUPR melakukan Identifikasi Potensi Bahaya COVID-19 di lapangan

f. Pemerikaaan kesehatan terkait potensi terinfeksi COVID-19 kepada semua pekerja dan tamu proyek

g. Pemantauan kondisi kesehatan pekerja dan pengendalian mobilisasi/demobilisasi pekerja;

(60)

j. Melaporkan kepada PPK dalam hal telah ditemuken pekerje yang positif dan/atau beretatus Panien Dalam Pengawasan (PDP) dan merekomendasikan dilakukan penghentian kegintan sementera.

2. Identifikasi Potensi Bahaya COVID-19 di lapangan.

a. Satgas Pencegahan COVID-19 berkoordinasi dengan satgas Penanggulangun COVID-19 Kementerian PUPR untuk menentukan:

 Identifikasi potenai risiko lokasi proyek terhadap pusat sebaran penyebaran COVID-19 di daerah yang bersangkutan

 Kesesuaian fasilitas kesehatan di Lapangan dengan 603ating603603 penanganan COVID-19 yang dikeluarkan oleh Pemerintah;

 Tindak lanjut terhadap Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

b. Dalam hal Penyelenggaraan Jasa Konstruksi tersebut teridentifikasi:

 Memiliki risiko tinggi akibat lokasi proyek berada di pusat sebaran;

 Telah ditemukan pekerja yang positif dan/atau berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP): atau

 Pimpinan Kementerian/Lembaga/Intansi/Kepala Daerah telah mengeluarkan peraturan untuk menghentikan kegiatan sementara akibat keadaan kahar Maka Penyelenggaraan Jasa Konstruksi tersebut dapat diberhentikan sementara akibat keadaan kahar

c. Penghentian Penyelenggaraan Jasa Konstruksi sebagaimana di maksud huruf b diatas dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Instruksi Menteri (Inmen) No 02/IN/M/2020 tentang Protokol Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

d. Dalam hal Penyelenggaraan Jasa Konstruksi tersebut karena sifat dan urgensinya tetap harus dilaksanakan sebagai bagian dari penanganan dampak 603ating dan ekonomi dari COVID-19, maka Penyelenggaraan Jasa Konstruksi tersebut dapat diteruskan dengan ketertuan:

 Mendapatkan persetujuan dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,

 Melaksanakan 603ating603603 pencegahan COVID-19 dengan disiplin tinggi dan dilaporkan secara berkala oleh Satgas Pencegahan COVID-19

(61)

 Menghentikan sementara ketika untuk melakukan penanganan sesuai 604ating604604 Pemerintah.

3. Penyediaan Fasilitas Kesehatan di Lapangan

a. Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi wajib menyediakan ruang klinik kesehatan di lapangan yang dilengkapi dengan sarana kesehatan yang memadai, antara lain tabung oksigen, pengukur suhu badan nir-sentuh (thermoscan, pengukur tekannn darah, obat-abatan, dan petagas medis;

b. Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi wajib memiliki kerjasama operasional perlindungan kesehatan dan pencegahan COVID-19 dengan rumah sakit dan/atau pusat kesehatan masyarakat terdekat untuk tindakan darurat(emergency)

c. Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi wajib menyediakan fasilitas tambahan antara Iain: pencuci tangan (air, sabun dan hand sanitizer, tisu, masker dikantor dan lapangan, bagi seluruh pekerja dan tamu; dan

d. Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi wajib menyediakan vaksin, vitamin dan nutrisi tambahan guna peningkatan imunitas pekerja.

4. Pelaksanaan Pencegahan COVID-19 di lapangan

a. Satgas Pencegahan COVID-19 memasang poster (flyers) baik digital maupun fisik tentang himbauan/anjuran pencegahan COVID-19 untuk disebarluaskan atau dipasang di tempat-tempat strategis di lokasi proyek;

b. Satgas Pencegahan COVID-19 bersama petugas medis harus menyampaikan penjelasan, anjuran, kampanye, promosi 604ating pencegahan COVID-19 dalam setiap kegiatan penyuluhan K3 pagi hari (safety morning talk):

c. Petugas medis 604ating604 para Satuan Pengaman (Security Staff) melaksanakan penguikuran suhu tubuh kepada seluruh pekerja, dan karyawan setiap pagi, siang, dan sore;

d. Satgas Pencegahan COVID-19 melarang orang (seluruh pekerja dan tamu) yang terindikasi memilki suhu tubuh ≥ 38 deraiat Celcius 604ating ke lokasi pekerjaan e. Apabila ditemukan pekerja di lapangan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19 , pekerjaan harus diberhentikan sementara oleh Pengguna Jasa

(62)

f. Petugas Medis dibantu Satuan Pengaman (Security Staff) melakukan evaluasi dan penyemprotan disinfektan pada seluruh tempat, fasilitas dan peralatan kerja; dan g. Penghentian sementara dilakukan hinga proses evakuasi dan penyemprotan

disinfektan, serta pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan isolasi tenaga kerja yang pernah melakukan kontak fisik dengan tenaga kerja yang terpapar telah selesai.

B. Mekanisme Protokol Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

Gambar Mekanisme Protokol Pencegahan Penyebaran COVID-19

(63)

Gambar Mekanisme Penghentian Sementara Pekerjaan

4.5. Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Untuk Penyandang Cacat A. JALUR PEDESTIAN

Jalan yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda bagi penyandang cacat, dirancang berdasar perbedaan terbesar orang untuk bergerak aman, bebas dan tak terhalang.

Syarat:

(64)

a. Permukaan

Permukaan jalan harus stabil, kuat, tahan cuaca, bertekstur halus tetapi tidak licin. Hindari sambungan atau konstraksi pada permukaan, kalaupun terpaksa ada, tingginya harus tidak lebih dari 1,25 cm. Apabila menggunakan karpet ujungnya harus kencang dan mempunyai trim yang permanen.

b. Kemiringan/gradient

Gradient di bawah 5% dan tiap-tiap 90 m terdapat pemberhentian untuk istirahat.

c. Area istirahat

Membantu pengguna jalan terutama bagi mereka yang menggunakan alat.

d. Cahaya/penerangan

Berkisar antara 15-150 cm, kandela tergantung pada intensitas pemakaian, tingkat bahaya dan kebutuhan relatif keamanan.

e. Perawatan

Diharuskan untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan karena adanya kerusakan.

f. Drainasi

Tidak mengganggu dan membahayakan. Dibuat tegak lurus dengan arah jalan dengan lubang maksimal 1,5 cm. Mudah dibersihkan dan lubang dijauhkan dari tepi ramp sehingga tidak mendatangkan bahaya.

g. Ukuran dan penghalang

Lebar minimum 95 cm untuk jalur searah dan 150 cm untuk dua arah. Jalur pedestrian bebas dari pohon, rambu dan benda-benda pelengkap jalan yang melintang.

h. Tepi ramp dan trailing tongkat tuna netra

Penting bagi penghentian roda kendaraan dan tongkat tuna netra ke arah area yang berbahaya. Penyetop dibuat setinggi minimum 10 cm dan lebar 15 cm sepanjang jalur pedestrian.

i. Bebas dari pohon, rambu, dan benda-benda pelengkap jalan B. PRINSIP JALUR PEDESTRIAN

1. JALUR PEMANDU

(65)

Jalur yang memandu tuna netra untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan tekstur ubin peringatan terhadap situasi di sekitar jalur yang bisa membahayakan tuna netra.

Syarat-syarat:

a. Tekstur ubin garis-garis menunjukkan arah yang benar untuk diikuti.

b. Tekstur ubin dot (bulat) memberi peringatan terhadap situasi di sekitar jalur pemandu.

c. Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding blocks):

- Di depan jalur lalu-lintas kendaraan.

- Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai.

- Di pintu masuk/keluar pada terminal transportasi umum atau area penumpang.

- Pada pedestrian yang menhubungkan antara jalan dan bangunan.

- Pada pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum terdekat.

d. Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah ada perlu memperhatikan tekstur dari ubin eksisting sedemikian sehingga tidak terjadi kebingungan tuna netra dalam merasakan tekstur ubin pemandu dan tekstur ubin lainnya.

C. AREA PARKIR

Fasilitas parkir adalah tempat parkir kendaraan yang dikendarai oleh penyandang cacat, sehingga diperlukan tempat yang lebih luas untuk naik turun kursi roda, daripada tempat parkir yang biasa. Sedangkan daerah untuk menaik-turunkan penumpang (Passenger Loading Zones) adalah tempat bagi semua penumpang, termasuk penyandang cacat, untuk naik atau turun dari kendaraan.

Syarat-syarat:

a. Fasilitas parkir kendaraan :

- Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju

(66)

- Atau jika parkir tidak berhubungan langsung dengan bangunan, misalnya pada parkir taman dan tempat terbukla lainnya, maka tempat parkir harus diletakkan sedekat mungkin dengan pintu gerbang masuk dan jalur pedestrian.

- Area parkir harus cukup mempunyai ruang bebas di sekitarnya sehingga pengguna berkursi roda dapat dengan mudah masuk dan keluar dari kendaraannya.

- Area parkir khusus penyandang cacat ditandai dengan simbol/tanda umum yang berlaku.

- Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ramp trotorir di kedua sisi kendaraan.

- Ruang parkir mempunyai lebar 370 cm untuk parkir tunggal atau 670 cm untuk parkir ganda dan sudah dihubungkan dengan ramp dan jalan menuju fasilitas-fasilitas lainnya.

- Dilarang meletakkan kursi roda di belakang mobil yang diparkir.

b. Daerah menaik-turunkan penumpang:

- Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur lalu-lintas sibuk adalah 360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm.

- Dilengkapi dengan fasilitas ramp, jalur pedestrian dan tanda-tanda bagi penyandang tuna netra.

- Kemiringan maksimal 1: 20 dengan permukaan yang rata di semua bagian.

- Diberi rambu yang biasa digunakan untuk mempermudah dan membedakan dengan fasilitas serupa bagi umum

(67)

Gambar . Tipikal ruang parkir

A. PINTU

Pintu adalah bagian dari suatu tapak, bangunan atau ruang yang merupakan tempat untuk masuk dan keluar. Pada umumnya dilengkapi dengan penutup (daun pintu).

Syarat :

a. Pintu pagar ke tapak bangunan harus mudah dibuka dan ditutup oleh penyandang cacat.

b. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm, dan pintu-pintu yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm.

c. Di sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai.

d. Jenis pintu yang penggunaannya tidak dianjurkan : - Pintu geser.

- Pintu yang berat, dan sulit untuk dibuka/ditutup.

- Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil - Pintu yang terbuka kekedua arah (dorong dan Tarik

- Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama bagi tuna netra

e. Penggunaan pintu otomatis diutamakan yang peka terhadap bahaya kebakaran karena sangat praktis bagi penyandang cacat. Pintu tersebut

(68)

g. Alat-alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat menutup dengan sempurna. Pintu terbuka sebagian berbahaya bagi penyandang cacat.

h. Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna kursi roda.

Gambar . Ukuran pintu dua daun B. RAMP

Merupakan alternatif rute/ jalan untuk orang-orang yang tidak bias menggunakan tangga.

Syarat-syarat :

a. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi rasio 1:12, perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan/ akhiran ramp (curb ramps/landing). Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan adalah 1:15.

b. Maksimum panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 1:12) tidak boleh lebih dari 900 cm. Ramp dengan kemiringan yang lebih rendah bisa menjadi lebih panjang.

c. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya, sedemikian sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut, atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri-sendiri. Untuk ramp atau ramp dengan fungsi ganda melayani angkutan barang, harus diperhitungkan secara tersendiri.

(69)

d. Landing atau muka datar pada awalan atau akhiran ramp dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan, sekurang-kurangnya untuk memutar kursi dengan ukuran minimum 150 cm.

e. Permukaan datar darilanding (baik awalan atau akhiran ramp) harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan atau tidak.

f. Pembatas rendah pinggir ramp (low curb) dirancang untuk menghalangi roda kursi roda agar tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp. Apabila berbatasan langsung dengan lalu- lintas jalan umum atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum.

g. Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup yang akan membantu penggunaan ramp saat malam hari. Penerangan khususnya disediakan pada bagian- bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian- bagian yang membahayakan.

h. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan (handrail) yang dijamin kekuatannya dan dengan ketinggian yang sesuai untuk pengguna ramp.

Gambar . Kemiringan ramp

(70)

Gambar . Bentuk-bentuk Ramp

Gambar . Pegangan Rambat pada Ramp

(71)

Gambar . Kemirigan Sisi Lebar Ramp

Gambar . Pintu Di Ujung Ramp

e. Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan.

f. Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm, dirancang untuk menghalangi roda dari kursi roda atau stretcher agar tidak terperosok atau ke luar dari jalur ramp.

Apabila berbatasan langsung dengan lalu lintas jalan umum atau persimpangan, harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum.

g. Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp saat malam hari. Pencahayaan disediakan pada bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian-bagian yang membahayakan.

(72)

C. KAMAR KECIL

Merupakan fasilitas sanitasi yang disediakan untuk semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) yang sedang mengunjungi suatu bangunan atau fasilitas umum.

Syarat-syarat :

a. Toilet/kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan tanda/gambar simbol universal (kursi roda) pada bagian luarnya.

b. Toilet/kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda.

c. Ketinggian dari tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda.

d. Toilet/kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Pegangan disarankan merupakan bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan/perpindahan menyamping dari tubuh pengguna kursi roda.

e. Letak kertas tissu, air, kran air atau shower dan perlengkapan- perlengkapan seperti tempat sabun, pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan-keterbatasan fisik/cacat dan bisa dijangkau dengan baik oleh pengguna kursi roda.

f. Wastafel harus aksesibel dan disesuaikan dengan ketinggian pengguna kursi roda.

g. Kran pengungkit sebaiknya dipasang pada wastafel h. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin

i. Pintu harus membuka keluar untuk memudahkan pengguna kursi roda untuk membuka dan menutup.

j. Kunci-kunci toilet atau grendel dirancang/dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat.

(73)

Gambar . Tinggi perletakan closed untuk difabel

D. WASTAFEL

Fasilitas cuci tangan, cuci muka, berkumur atau gosok gigi yang bisa digunakan untuk semua orang, khususnya bagi pengguna kursi roda. Syarat-syaratnya adalah:

a. Wastafel harus dipasang sedemikian sehingga posisinya baik tinggi maupun lebarnya dapat dimanfaatkan oleh pengguna kursi roda.

b. Ruang gerak bebas yang cukup harus disediakan di depan wastafel.

c. Wastafel harus memiliki ruang gerak di bawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki pengguna kursi roda.

d. Pemasangan ketinggian cermin harus juga diperhitungkan terhadap pengguna kursi roda

Gambar . Ruang gerak wastafel

(74)

Gambar . Closed dan Wastafel untuk difabel

PERLENGKAPAN DAN PERALATAN

Merupakan perlengkapan-perlengkapan tambahan yang bisa mempermudah semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua, dan ibu-ibu hamil) untuk melakukan suatu kegiatan tertentu.

Syarat-syarat:

a. Sistem alarm/ peringatan

- Harus tersedia peralatan peringatan yang dapat terdiri dari dari sistem peringatan suara (vocal alarms), sistem peringatan bergetar (vibrating alarms) dan berbagai petunjuk dan penandaan untuk melarikan diri pada situasi darurat.

- Stop kontak harus dipasang dekat tempat tidur untuk mempermudah pemasangan sistem alarm, termasuk peralatan bergetar (vibrating devices) di bawah bantal,

- Semua peralatan pengontrol peralatan listrik harus dapat dioperasikan dengan satu tangan dan tidak memerlukan pegangan yang sangat kencang atau sampai dengan memutar lengan.

b. Tombol dan stop kontak

Tombol dan stop kontak dipasang pada tempat yang posisi dan tingginya sesuai dan mudah dijangkau oleh pengguna kursi roda

(75)

c. Pencahayaan

Semua ruang harus memiliki pencahayaan yang merata dan cukup yang tidak menimbulkan silau. Ruang tangga harus dilengkapi dengan peralatan pencahayaan yang cukup

E. PERABOT

Perletakan barang-barang perabot/ furniture dengan menyisakan ruang gerak dan sirkulasi yang cukup bagi penyandang cacat.

Syarat-syarat :

a. Sebagian dari perabot yang tersedia dalam bangunan dapat digunakan oleh pengguna yang berkursi roda, termasuk dalam keadaan darurat.

b. Dalam bangunan yang digunakan untuk penggunaan oleh masyarakat banyak, seperti bangunan pertemuan, konferensi, pertunjukan dan kegiatan yang sejenis maka jumlah tempat duduk aksesibel yang harus disediakan adalah :

Perbandingan tempat duduk yang aksesibilitas Kapasitas total

tempat duduk Jumlah tempat duduk yang aksesibel

4 – 25 26 – 50 51 – 300 301 – 500

> 500

1 2 4

6 6, +1 untuk setiap

ratusan F. RAMBU

Fasilitas dan atau elemen yang digunakan untuk untuk memberikan informasi, arah, penanda atau petunjuk.

Syarat :

a. Penggunaan rambu, terutama dibutuhkan pada:

- Arah dan tujuan jalan pedestrian

Gambar

Gambar Inovasi Pelaksanaan Konstruksi Hijau  Tahap pelaksanaan konstruksi meliputi kegiatan:
Gambar Contoh Penerapan K3 Konstruksi  b.  Penerapan Perilaku Ramah Lingkungan
Gambar Pemanfaatan sisa potongan besi untuk sambungan tulangan  2) Optimalisasi penggunaan material besi
Gambar Pemanfaatan Sisa cor menjadi kanstein
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk itu perlu adanya evaluasi terhadap pengawasan oleh auditor internal yang telah melakukan pemeriksaan konstruksi yang dilaksanakan baik ketika proses pelaksanaan

Konsultan memahami bahwa lingkup pekerjaan konsultan untuk pekerjaan Pengawasan Konstruksi Paket A.III.4 Perbaikan dan Penataan Ruang Dinas Pekerjaan Umum Cipta

Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangka ian kegiatan ian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencaku5. perencanaan

Pada hakekatnya tugas Konsultan Pengawas adalah membantu Pengguna Jasa dalam pengendalian/ pengawasan kualitas, kuantitas maupun waktu pelaksanaan pekerjaan yang

Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangka ian kegiatan ian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencaku.. perencanaan

Metodologi Pelaksanaan Penugasan: memberikan gambaran umum tentang ruang lingkup layanan Konsultan Pengawasan Konstruksi dan bagan alur proses/tahap pekerjaan terkait dalam melaksanakan

Dokumen ini berisi tata cara penjaminan mutu dan pengendalian mutu pekerjaan konstruksi di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Dokumen ini berisi laporan harian pekerjaan konstruksi gedung layanan IT dan Perpustakaan di Politeknik Kesma