METODE PELAKSANAAN DAN PEMBONGKARAN KONTRUKSI GEDUNG
Disusun Oleh:
SYAHYA FAHMI FIRMANSYAH 20150034
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI RONGGOLAWE CEPU 2023/2024
DAFTAR ISI
BAB I ... 3
METODE PELAKSANAAN PROYEK ... 3
1.1 Pengertian Metode Pelaksanaan Konstruksi ... 3
1.2 Manfaat Penerapan Manajemen Kontruksi ... 3
1.3 Peranan Konsultan Manajemen Konstruksi Dalam Membangun Proyek .... 4
1.4 Rencana Pelaksanaan Kegiatan ... 4
1.5 Peran Pengelola Proyek Pada Tahap Pelaksanaan ... 4
1.6 Uraian Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Pelaksanaan Proyek... 5
1.7 Pelaksanaan Pekerjaan Galian dan Urugan ... 5
1.8 Persyaratan Pekerjaan ... 6
1.9 Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Beton ... 7
BAB II ... 9
PEMBONGKARAN PROYEK ... 9
2.1 Identifikasi Pembongkaran ... 9
2.2 Analisis dan Simulasi Struktur Bangunan Gedung yang akan dibongkar ... 10
2.3 Penyusunan Laporan Hasil Kajian Teknis dan Menyampaikan ke Kabupaten/Kota ... 10
2.4 Penetapan Pembongkaran Bangunan Gedung ... 11
2.5 Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam Pembongkaran Gedung ... 12
2.6 Tahapan Pembongkaran ... 12
2.7 Pemilihan Penyedia Jasa Pembongkaran Bersertifikat (Peralatan Berat/Peledak) ... 15
BAB I
METODE PELAKSANAAN PROYEK
1.1 Pengertian Metode Pelaksanaan Konstruksi
Metode adalah suatu perosedur atau cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu, pelaksanaan adalah suatu usaha atau kegiatan tertentu yang dilakukan untuk mewujudkan rencana atau program dalam kenyataan, konstruksi adalah suatu kegiatan membangun sarana maupun prasarana. Metode palaksanaan konstruksi dapat diartikan suatu kegiatan pembangunan sarana ataupun prasarana dengan cara tertentu demi mencapai suatu tujuan. Manajemen proyek adalah merencanakan, menyusun organisasi, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah dilakukan.
1.2 Manfaat Penerapan Manajemen Kontruksi
Manajemen konstruksi digunakan karena mamiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan sistem konvensional. Keuntungan penerapan manajemen konstruksi dapat ditinjau dari beberapa aspek Aspek Biaya Dengan menggunakan Manajemen Konstruksi, pekerjaan pembangunan proyek dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat, hal ini dapat memberikan penghematan biaya kepada pemilik proyek. Aspek Mutu Pada proyek yang tergolong besar, penerapan sistem manajemen konstruksi akan sangat membantu dalam hal pengawasan mutu bangunan. Aspek Waktu Dengan diterapkan sistem manajemen konstruksi maka pelaksanaan pembangunan dapat dilakukan lebih awal, walaupun perencanaan belum seluruhnya selesai.
1.3 Peranan Konsultan Manajemen Konstruksi Dalam Membangun Proyek Proses membangun proyek terdiri dari lima tahapan yaitu :
a. Peranan Konsultan Manajemen Konstruksi (MK) dalam tahap perencanaan b. Peranan Konsultan MK dalam tahapan perencanaan
c. Peranan Konsultan Manajemen Konstruksi (MK) dalam tahapan Pelelangan d. Peranan Konsultan Manajemen Konstruksi (MK) dalam Tahap Pelaksanaan e. Peranan Konsultan Manajemen Konstruksi (MK) dalam tahap setelah pelaksanaan 1.4 Rencana Pelaksanaan Kegiatan
Unsur-unsur dalam rencana pelaksana kegiatan yang akan menjadi landasan atau tolak ukur dalam proses pengendalian pelaksanaan proyek yaitu :
a. Rencana Kerja
b. Rencana Kebutuhan Tenaga c. Rencana Kebutuhan Bahan d. Rencana Kebutuhan Peralatan
e. Rencana Anggaran Biaya Pelaksanaan f. Rencana Waktu Pelaksanaan
g. Network Planning
1.5 Peran Pengelola Proyek Pada Tahap Pelaksanaan
Peran pengelola proyek pada tahap pelaksanan secara umum menurut Association General Contractors of America (AGC)sebagai berikut:
1. Melakukan pengendalian Proyek
2. Melakukan pengawasan terhadap konstruksi 3. Pengendalian biaya
4. Mengembangkan dan menerapkan sistem penyiapan, review dan pemrosesan order perubahan.
5. Mengembangkan dan menerapkan prosedur untuk review, pemrosesan pembayaran kemajuan dan akhir pelaksanaan pekerjaan bagi kontraktor.
6. Mendapatkan izin dari pihak yang berwenang.
1.6 Uraian Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Pelaksanaan Proyek
Tahap pelaksanaan Pembangunan Ruang Kelas dimulai pada bulan Januari-2018 sampai sekarang ini dalam pengerjaan struktur. Adapun pekerjaan yang akan dilaksanakan pada pekerjaan Pembangunan Ruang Kelas, adalah sebagai berikut : a. Pekerjaan persiapan, prasarana penunjang
b. Project manajemen dan administrasi c. Mobilisasi dan demobilisasi
d. Bangunan pelengkap e. Listrik kerja
f. Pembongkaran Bangunan Kantin
g. Pekerjaan Pembangunan Ruang Kelas SMK Santa Familia : 1. Pekerjaan Arsitektur
2. Pekerjaan Awal Bouwplank
3. Pekerjaan struktur: Pondasi Telapak, Sloof, Kolom, Balok dan Pelat Lantai h. Pekerjaan Mekanikal Elektrikal dan Plumbing
1.7 Pelaksanaan Pekerjaan Galian dan Urugan Lingkup Pekerjaan:
1. Penyediaan tenaga kerja dalam proyek ini di ambil tenaga kerja dari Pulau Jawa.
Bahan, fasilitas pelaksanaan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan tanah yang sesuai dengan gambar dan spesifikasi.
2. Pekerjaan galian tanah meliputi pekerjaan penggalian atau pembuangan tanah, puing beton dari pembongkaran ruko lama, batu-batuan atau material lain yang tidak berguna dari tempat proyek, pembuangan lapisan tanah atas, pembuangan bekasbekas longsoran, yang kesemuanya disesuaikan dengan spesifikasi ini.
3. Pekerjaan pengurugan kembali sesuai lingkup pekerjaan sampai pada elevasi yang telah ditentukan di dalam Gambar Kerja.
1.8 Persyaratan Pekerjaan
1. Tata Letak Kontraktor bertanggung jawab atas tata letak yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan. Sebelum penataan, Kontraktor harus menyerahkan rencana tata letak untuk mendapat persetujuan dari Direksi. Oleh karena itu langkah awal yang dilakukan adalah pemetaan terlebih dahulu, Inilah gunanya Ilmu Ukur Tanah. Proses ini sebaiknya dilakukan sebelum alat- alat proyek masuk, dan dari pemetaan ini dapat diperoleh suatu patokan yang tepat antara koordinat pada gambar kerja dan kondisi lapangan kemudian di tempatkan titik Bench Mark yang bersifat tetap maupun sementara yang harus dijaga dari kemungkinan gangguan atau pemindahan karna titik ini merupakan titik referensi awal proyek.
2. Pengawasan Dalam pekerjaan ini, Kontraktor harus diwakili oleh seorang pengawas ahli yang sudah berpengalaman dalam bidang pekerjaan penggalian/pengurugan, yang mengetahui semua aspek pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai kontrak.
3. Pekerjaan Pembersihan dan Pembongkaran Semua benda di permukaan seperti pohon, akar dan tonjolan, serta rintanganrintangan dan lain-lain yang berada di dalam batas daerah pembangunan yang tercantum dalam gambar, harus dibersihkan dan/atau dibongkar kecuali untuk hal-hal di bawah ini:
a. Sisa-sisa pohon yang tidak mengganggu dan akar-akar serta benda-benda yang tidak mudah rusak, yang letaknya minimal 1 (satu) meter di bawah dasar pondasi.
b. Pembongkaran tiang-tiang, saluransaluran dan selokan-selokan hanya sedalam yang diperlukan dalam penggalian di tempat tersebut.
c. Kecuali pada tempat-tempat yang harus digali, lubang-lubang bekas pepohonan dan lubang-lubang lain, harus diurug kembali dengan bahan bahan yang baik dan dipadatkan.
d. Kontraktor bertanggung jawab untuk membuang sendiri tanaman-tanaman dan puingpuing ke tempat yang ditentukan Direksi.
e. Kontraktor harus melestarikan semua benda-benda yang ditentukan tetap berada pada tempatnya.
1.9 Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Beton
Terdapat dua bagian besar di dalam proses pekerjaan kolom, yaitu pelaksanaan pengecoran kolom, dan pelaksanaan bongkar pasang bekisting kolom.
(a) Pelaksanaan pengecoran kolom 1. Mengatur jarak sabuk kolom
2. Mengecek sudut-sudut bekisting sambungan disetiap sudut harus kuat 3. Pembersihan dan pelumasan plywood
4. Memasang sabuk kolom dan penopang bekisting 5. Melakukan pengecoran
6. Melakukan penggetaran agar komposisi campuran beton di setiap segmen merata
7. Melakukan pemukulan pada kolom bagian luar sebagai eksternal vibrator untuk memadatkan beton sewaktu melakukan pengecoran
8. Menggunakan mortar utama jika diperlukan
Pelaksanaan Pekerjaan Pengecoran Plat Lantai Pekerjaan pengecoran adalah pekerjaan penuangan beton segar ke dalam cetakan suatu elemen struktur yang telah dipasangi besi tulangan. Sebelum pekerjaan pengecoran dilakukan, harus dilakukan inspeksi pekerjaan untuk memastikan cetakan dan besi tulangan telah terpasang sesuai rencana.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan pada pekerjaan pengecoran adalah sebagai berikut:
1. Setiap pekerja harus memakai pakaian pelindung, sepatu safety, helm, dan pelindung mata jika diperlukan.
2. Ketepatan ukuran dan elevasi harus diperhatikan dan dicheck.
3. Zone pengecoran harus direncanakan dan ukurannya ditentukan
4. Bekisting harus kuat dan instalasi M/E di bawah plat atau balok, pastikan ini terpasang sebelum dicor
5. Ketika mengecor, hati-hati jangan sampai merusak atau merubah bekisting dan tulangan
6. Delay diakibatkan oleh cuaca panas, atau angin yang kencang, sehingga beton mengeras lebih cepat. Juga diakibatkan oleh keterlambatan pengiriman karena kurangnya prencanaan atau hal lain yang tidak bisa dihindari. Untuk mencegah delay maka tenaga kerja, peralatan, dan cuaca dalam keadaan terkendali
7. Jangan menambahkan air pada beton untuk memudahkan pelaksanaan cor. Jika terpaksa gunakanlah campuran air dan semen
BAB II
PEMBONGKARAN PROYEK
2.1 Identifikasi Pembongkaran
Bangunan dapat dibongkar apabila memilki beberapa kriteria sebagai berikut:
1. Tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki.
Kriteria tidak laik fungsi ini salah satunya dapat dilihat atau dinilai dari ada atau tidaknya Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sebagaimana yang telah di atur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 25 Tahun 2007 Tentang Pedoman Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung.
Beberapa syarat teknis untuk mendapatkan SLF adalah sebagai berikut:
Bangunan Gedung memiliki konstruksi, peralatan serta perlengkapan mekanikal elektrikal sesuai dengan standar yang telah ditetapkan;
Memperhatikan aspek keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan pada struktur, peralatan dan perlengkapan bangunan gedung. Adapun kriteria bangunan tidak dapat diperbaiki apabila bangunan tersebut jika diperbaiki memerlukan pembiayaan yang lebih tinggi dan tidak dapat memeberikan manfaat sebesar biaya yang telah dikeluarkan untuk melakukan perbaikan.
2. Dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan gedung atau dampak terhadap lingkungan.
Pada bagian ini yang dimaksud bangunan memiliki dampak yang
membahayakan baik terhadap pengguna maupun terhadap lingkungan apabila ketika suatu bangunan tersebut dimanfaatkan dapat menimbulkan kerugian dari segi pengguna bisa jadi abngunan tersebut memilki konstruksi yang kurang kuat
sehingga sewaktu-waktu dapat mencelakakan yang mengakibatkan cidera pada pengguna, sedangkan dampak terhadap lingkungan lebih disebabkan karena fungsi dari suatu bangunan tersebut, sebagai contoh apabila terdapat bangunan yang memiliki fungsi sebagai bangunan industri yang berada pada kawasan persawahan, sehingga hasil dari kegiatan yang berada di dalam bangunan gedung tersebut dapat mencemari lingkungan sekitar.
3. Tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
IMB merupakan salah satu syarat penting berdiriya suatu bangunan, apabila bangunan tersebut tidak memilki IMB maka dapat diragukan dari segi legalitas berdirinya suatu bangunan tersebut.
2.2 Analisis dan Simulasi Struktur Bangunan Gedung yang akan dibongkar Pertimbangan analisa dan simulasi teknis pembongkaran dilakukan oleh tim ahli bangunan gedung yang disusun secara tertulis dan profesional terkait dengan pemenuhan persyaratan teknis pembongkaran bangunan gedung dan mengevaluasi rencana dampak pembongkaran dengan menganalisa dokumen rencana yang terdapat dalam dokumen perencanaan dan menetapkannya sesuai dengan kondisi lapangan.
2.3 Penyusunan Laporan Hasil Kajian Teknis dan Menyampaikan ke Kabupaten/Kota
Pelaksanaan pembongkaran bangunan disertai dengan pembuatan laporan mulai pembongkaran bangunan sederhana sampai bangunan cukup komplek. Sistem pembongkaran bangunan komplek harus dikaji secara teknis supaya dampak yang akan timbul tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat sekitarnya.
Persetujuan rencana teknis bongkar diberikan oleh Pemerintah Daerah kepada Pemilik bangunan gedung atas perencana teknis untuk membongkar atau merobohkan seluruh atau sebagian bangunan gedung.
Sebelum dilaksanakan pembongkaran bangunan gedung harus dikaji secara teknis dan dituangkan dalam dokumen Rencana Teknis Pembongkaran. Untuk menilai rencana
teknis pembongkaran bangunan gedung tersebut yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan, meliputi:
1. Pengkajian rencana teknis pembongkaran berdasarkan prinsip-prinsip keselamatan kerja dan keselamatan lingkungan;
2. Pengkajian metode rencana teknis pembongkaran dengan prinsip efektivitas, efisiensi dan aman terhadap dampak limbah ke lingkungan.
Penyusunan analisis untuk perumusan masukan sebagai pertimbangan dalam pemutusan perkara di pengadilan yang terkait dengan penyelenggaraan bangunan gedung, meliputi:
1. Pengkajian aspek teknis penyelenggaraan bangunan gedung yang menjadi kasus;
2. Pengkajian aspek-aspek lainnya yang terkait.
Rencana teknis pembongkaran sebagaimana disebutkan diatas harus disetujui oleh pemerintah daerah, kecuali bangunan gedung fungsi khusus oleh Pemerintah, setelah mendapat pertimbangan dari tim ahli bangunan Gedung.
2.4 Penetapan Pembongkaran Bangunan Gedung
Sebagaimana tahapan dalam penetapan pembongkaran bangunan gedung, pada proses pelaksanaan pembongkaran juga terdiri dari beberapa tahapan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pembongkaran bangunan gedung dapat dilakukan oleh pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dan dapat menggunakan penyedia jasa pembongkaran bangunan gedung yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundangundangan.
2. Khusus untuk pembongkaran bangunan gedung yang menggunakan peralatan berat dan/atau bahan peledak harus dilaksanakan oleh penyedia jasa pembongkaran bangunan gedung.
3. Dalam hal pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung yang pembongkarannya ditetapkan dengan surat tidak melaksanakan pembongkaran dalam batas waktu yang ditetapkan, surat persetujuan pembongkaran dicabut kembali.
4. Pembongkaran bangunan gedung yang pelaksanaannya dapat menimbulkan dampak luas terhadap keselamatan umum dan lingkungan harus dilaksanakan berdasarkan rencana teknis pembongkaran yang disusun oleh penyedia jasa perencanaan teknis yang memiliki sertifikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
5. Rencana teknis pembongkaran harus disetujui oleh pemerintah daerah, kecuali bangunan gedung fungsi khusus oleh Pemerintah, setelah mendapat pertimbangan dari tim ahli bangunan gedung.
6. Pelaksanaan pembongkaran bangunan gedung mengikuti prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
2.5 Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam Pembongkaran Gedung
Kegiatan pembongkaran gedung, merupakan kegiatan yang cukup riskan mengingat banyak pihak dan dampak yang dapat ditimbulkan dari kegiatan pembongkaran. Oleh sebab itu sebelum melakukan pembongkaran terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan, untuk meminimalisir dampak maupun hal-hal yang tidak diinginkan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan ketika akan melakukan kegiatan pembongkaran:
a. Surat kepemilikan bangunan;
b. Surat Izin Mendirikan Bangunan;
c. Identifikasi jenis bangunan yang akan dibongkar;
d. Identifikasi jenis material bangunan;
e. Identifikasi struktur bangunan; dan
f. Rencana pembungan bongkaran bangunan 2.6 Tahapan Pembongkaran
Sebelum melaksanakan pekerjaan pembongkaran maka pemasukan arus listrik kelokasi kerja/bangunan harus benar benar dalam kondisi mati. Adapun tahapan pembongkaran selanjutnya antara lain:
1. Pembongkaran penutup atap seng genteng metal roof;
2. Pembongkaran rangka kuda kuda kayu, reng dan list plank;
3. Pembongkaran dinding bata bagian dalam;
4. Pembongkaran keramik;
5. Pembongkaran plat lantai sesuai volume, bestek dan gambar kerja;
6. Pembongkaran AC split lantai 1;
7. Pembongkaran keraming lantai dasar;
8. Retrofitting kolom lantai dasar; dan
9. Galian lantai dan sekeliling setiap kolom yang akan di retrofitting mencapai ke dalam yang dikehandaki.
Material hasil bongkaran harus ditempatkan di lokasi yang terlindung, aman dan mendapat persetujuan dari pengawas atau owner. Dalam hal terdapat bagian- bagian/material-material/bahan-bahan dari sisa pembongkaran tersebut yang akan dipergunakan kembali, maka hal tersebut harus persetujuan Pengawas.
Pembongkaran bangunan lama, dilaksanakan dengan tidak mengganggu/merusak bangunan lain yang telah ada. Sebelum memulai pekerjaan baru, Kontraktor wajib membersihkan lokasi dari puing-puing, tumbuh-tumbuhan, batu-batuan serta benda lainnya yang dianggap dapat mengganggu pelaksanaan pembongkaran. Sebelum melakukan pembongkaran terhadap bangunan gedung, terdapat berbagai tahapan yang harus diperhatikan, lebih rincinya adalah sebagai berikut :
1. Pemerintah daerah mengidentifikasi bangunan gedung yang akan ditetapkan untuk dibongkar berdasarkan hasil pemeriksaan dan/atau laporan dari masyarakat.
2. Pemerintah daerah menyampaikan hasil identifikasi kepada pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung yang akan ditetapkan untuk dibongkar
3. Berdasarkan hasil identifikasi pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung, kecuali rumah tinggal tunggal khususnya rumah inti tumbuh dan rumah sederhana sehat, wajib melakukan pengkajian teknis bangunan gedung dan
menyampaikan hasilnya kepada pemerintah daerah, kecuali bangunan gedung fungsi khusus kepada Pemerintah
4. Apabila hasil pengkajian teknis bangunan gedung memenuhi kriteria, pemerintah daerah menetapkan bangunan gedung tersebut untuk dibongkar dengan surat penetapan pembongkaran.
5. Untuk bangunan gedung yang tidak Memiliki Izin Mendirikan Bangunan, pemerintah daerah menetapkan bangunan gedung tersebut untuk dibongkar dengan surat penetapan pembongkaran.
6. Isi surat penetapan pembongkaran, prosedur pembongkaran, dan ancaman sanksi terhadap setiap pelanggaran.
7. Dalam hal pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung tidak melaksanakan pembongkaran dalam batas waktu, pembongkaran dilakukan oleh pemerintah daerah yang dapat menunjuk penyedia jasa pembongkaran bangunan gedung atas biaya pemilik kecuali bagi pemilik rumah tinggal yang tidak mampu, biaya pembongkaran ditanggung oleh pemerintah daerah.
8. Pemilik bangunan gedung dapat mengajukan pembongkaran bangunan gedung dengan memberikan pemberitahuan secara tertulis kepada pemerintah daerah, kecuali bangunan gedung fungsi khusus kepada Pemerintah, disertai laporan terakhir hasil pemeriksaan secara berkala.
9. Dalam hal pemilik bangunan gedung bukan sebagai pemilik tanah, usulan pembongkaran harus mendapat persetujuan pemilik tanah.
10. Penetapan bangunan gedung untuk dibongkar dilakukan melalui penerbitan surat penetapan atau surat persetujuan pembongkaran oleh bupati/walikota, kecuali Daerah Khusus Ibukota Jakarta oleh Gubernur dan bangunan gedung fungsi khusus oleh Menteri
11. Penerbitan surat persetujuan pembongkaran bangunan gedung untuk dibongkar dikecualikan untuk bangunan gedung rumah tinggal.
2.7 Pemilihan Penyedia Jasa Pembongkaran Bersertifikat (Peralatan Berat/Peledak)
Penyedia jasa konstruksi bangunan gedung dalam pelaksanaan pembongkaran adalah penyedia jasa pelaksanaan konstruksi yang mempunyai pengalaman dan kompetensi untuk membongkar bangunan gedung, baik secara umum maupun secara khusus dengan menggunakan peralatan dan/atau teknologi tertentu, misalnya dengan menggunakan bahan peledak.