• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasionalisasi Pengembangan Media Pembelajaran Peer Tutorial Berbasis Aplikasi Android

A. Deskripsi Hasil Studi Pendahuluan

1. Rasionalisasi Pengembangan Media Pembelajaran Peer Tutorial Berbasis Aplikasi Android

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (Community Learning Centre) merupakan salah satu satuan pendidikan nonformal yang telah tumbuh dan

0 10 20 30 40 50 60 70 80

1 2 3 4 5

Tidak Pernah Kadang-Kadang Selalu

Laporan Unggulan Perguruan Tinggi 36 berkembang dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat sejak tahun 1994. Sejalan dengan upaya pemerintah untuk pencapaian dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan secara wajar dan proporsional, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) kini muncul dan diberdayakan untuk berperan menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan paket A setara SD/MI, paket B setara SMP/MTs dan paket C setara SMA/MA (Kamil: 2009).

Peningkatan peran PKBM sebagai satuan pendidikan non formal didasarkan pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, terutama dalam peningkatan pelayanan pendidikan kesetaraan program paket A, B dan C, yang semakin kini dibenah penyelenggaraanya, kurikulumnya dan tutornya. Hal ini seiring dengan keinginan untuk memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan BSNP. Maka atas dasar ini lahirlah beberapa peraturan yang memayungi pendidikan kesetaraan antara lain: (1) Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0131/U/1994 Tentang paket A dan Paket B, (2) Keputusan Mentri Pendidikan Nasional RI Nomor: 132/U/2004 tentang program paket C, (3) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk SD/MI/Paket A, SMP/MTs./Paket B dan SMA/MA/Paket C, dan (4) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi untuk program paket A, program paket B, dan program paket C.

Penyelenggaraan program paket A, B dan C pada PKBM dimaksudkan untuk membuka kesempatan bagi warga masyarakat mencapai pendidikan dasar 9 tahun, bahkan tidak menutup kemungkinan wajib belajar kita di tingkatkan menjadi 12 tahun, dengan pertimbangan bahwa: (1) warga masyarakat umumnya adalah mereka yang telah lulus pendidikan formal tingkat SMP/paket B, dan putus sekolah SMU, (2) ketersedianya tutor yang cukup, dengan kualifikasi pendidikan S1 dan atau Diploma IV untuk melaksanakan pembelajaran program paket C pada PKBM tersebut dan (3) mengusai pemanfaatan Media Berbasis Aplikasi Android dalam melaksanakan tugas pembelajaran di program paket C.

Untuk tercapainya pembelajaran yang efektif dan berkualitas dalam program paket C di PKBM, salah satu komponen utama yang menentukan adalah tersedianya tutor yang profesional, memiliki kompetensi yang memadai sesuai standar kompetensi tutor yang ditentukan. Namun demikian pada kenyataannya PKBM sendiri tidak

Laporan Unggulan Perguruan Tinggi 37 mampu merekrut tutor secara selektif dari masyarakat yang dipandang lebih profesional karena kelemahan finansial PKBM, sehingga pada umumnya PKBM penyelenggara program paket C lebih mengutamakan melakukan pemberdayaan tenaga tutor yang ada.

Di tinjau secara kuantitatif tutor paket C pada PKBM jelas memadai dengan latar belakang pendidikan beragam dan umumnya berlatar belakang non-kependidikan, dan secara kualitatif mereka mungkin kompetensinya mumpuni dalam melaksanakan tugas pembelajaran pada pendidikan kesetaraan paket C di PKBM dengan teknik dan metode pembelajaran mengandalkan pengalaman, keberanian dan kebiasaan. Tetapi kalau ditelaah lebih jauh dalam implementasi program paket C, sekalipun secara kuantitatif tutor memadai, tetapi latar belakang keahlian tutor program paket C dipandang masih terjadi miss-match. Sehingga secara kualitatif, kompetensi mereka harus dikembangkan sesuai tuntutan kurikulum program paket C, yang menuntut pengembangan berbagai teknik dan metode serta penggunaan media pembelajaran pada program paket C di PKBM perlu untuk memperoleh perhatian.

Melihat permasalahan seperti dijelaskan di atas, tentu kondisi pembelajaran tutor pada program paket C di PKBM untuk lebih ditingkatkan lagi, dengan harapan dapat memenuhi standar kompetensi tutor yang ditetapkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005. Manakala semua pihak menginginkan program paket C dijadikan aksesibilitas pemerataan pendidikan dasar 12 tahun, karena PKBM memiliki nilai strategis untuk membantu aksesibilitas pemerataan tersebut. Hal yang dianggap sangat penting sekarang adalah diperlukan adanya upaya pengembangan model- model pembelajaran, agar tutor program paket C di PKBM dapat melaksanakan pembelajaran secara berkualitas. Salah satu alternatifnya adalah melalui pengembangan model pembelajaran berbasis Media Berbasis Aplikasi Android yang dapat meningkatkan kemandirian warga belajar paket C di PKBM, mengingat pola pembelajaran di program paket C terbagi tiga yaitu (1) klasikal, (2) tutorial dan (3) mandiri.

Upaya ke arah peningkatan kemandirian belajar ini perlu dilakukan melalui pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi pada PKBM yang mempunyai perangkat komputer yang memiliki akses jaringan internet, namun masih sangat terbatas dan jarang lembaga PKBM yang mempunyai perlengkapan komputer dipakai dalam pembelajaran program paket C. Pembelajaran yang dilakukan pada umumnya masih bersifat konvensional, kurang memenuhi kebutuhan belajar dan

Laporan Unggulan Perguruan Tinggi 38 kurang bisa menjawab permasalahan faktual yang dihadapi para tutor dalam pembelajaran. Pembelajaran yang selama ini dilakukan sering menjadi kurang efektif dan menimbulkan kebosanan bagi para warga belajar dalam melaksanakan pembelajaran program paket C di PKBM.

Keadaan sebagaimana tersebut di atas, menjadikan kegiatan pembelajaran menjadi kurang kondusif, karena: (1) rendahnya keterlibatan warga belajar dalam proses pembelajaran. Warga belajar dalam pembelajaran tidak ditempatkan sebagai subyek belajar (learner centered), sedangkan tutor berperan sebagai satu-satunya sumber belajar;

(2) secara empirik warga belajar belum dapat terfasilitasi belajamya dengan menggunakan Media Berbasis Aplikasi Android. Kondisi seperti ini menimbulkan adanya kebosanan dan kurangnya kemandirian para warga belajar dengan kondisi seperti ini agaknya sulit terjadi peningkatan efektivitas pembelajaran yang mereka lakukan. Para tutor masih merasakan adanya hambatan yang tidak terfasilitasi dalam usahanya untuk meningkatkan keterampilan melaksanakan pembelajaran. Hal tersebut dianggap bertolak belakang dengan upaya untuk meningkatkan kemandirian warga belajar pada program kesetaraan paket C di PKBM.

Untuk peningkatan kemandirian belajar secara ideal bagi warga belajar, dan terpenuhinya kebutuhan belajar pada tingkat pendidikan kesetaraan paket C diperlukan intervensi yang diorientasikan untuk memfasilitasi warga belajar dengan pendekatan pembelajaran yang berbasis Aplikasi Android untuk peningkatan kemandirian warga belajar. Intervensi tersebut dilakukan dalam upaya menanggulangi kesenjangan pembelajaran konvensional dengan pembelajaran yang berbasis Aplikasi Android dalam pembelajaran kesetaraan paket C di PKBM.

Media pembelajaran peer tutorial yang dikembangkan dengan basis aplikasi Android, menawarkan suatu alternatif pembelajaran dalam peningkatan kemandirian warga belajar, dengan tujuan jangka pendek yaitu untuk memberdayakan tutor agar mampu melakukan pembelajaran yang lebih efektif, utamanya dalam pemanfaatan media sosial dalam pembelajaran kesetaraan paket C di PKBM. Sedangkan tujuan jangka panjangnya yaitu pada gilirannya akan membantu percepatan pemerataan pendidikan bagi masyarakat, agar mampu beradaptasi terhadap transformasi sosial budaya, sehingga diharapkan dapat

Laporan Unggulan Perguruan Tinggi 39 mempercepat menuju terciptanya masyarakat yang gemar belajar (learning society).

Tujuan dari model media pembelajaran ini, diorientasikan pada upaya memenuhi kebutuhan pembelajaran warga belajar paket C di PKBM untuk menjembatani yang tadinya melakukan pembelajaran secara konvensional menuju kepada model media pembelajaran yang berbasis teknologi informasi. Upaya tersebut diarahkan untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran kesetaraan paket C di PKBM. Secara khusus tujuan ini sebagai upaya untuk mengembangkan kegiatan belajar praktek bagi tutor dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran untuk meningkatkan kemandirian warga belajar dalam melaksanakan tugas sebagai pembelajar.

2. Asumsi Pengembangan Model Pembelajaran

Beberapa asumsi yang melandasi pengembangan model media pembelajaran, berawal dari kondisi empirik penyelenggaraan pembelajaran program paket C sescara faktual kondisi tutor dalam pembelajaran kesetaraan paket C di PKBM masih konvensional. Atas dasar kondisi empirik seperti yang telah dijelaskan di atas, perlu adanya pengembangan model media pembelajaran berbasis aplikasi android. Pengembangan model pembelajaran ini diarahkan pada kegiatan penggunaan handphone sebagai media pembelajaran yang pada akhirnya adanya peningkatan kemandirian warga belajar program kesetaraan paket C di PKBM.

Asumsi ini dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut: (1) warga belajar pendidikan kesetaraan paket C di PKBM, memiliki potensi dan peluang untuk ditingkatkan kemandirian belajarnya melalui pemanfaat handphone sebagai media pembelajaran langsung. Peningkatan kemandirian tersebut, pada gilirannya akan mampu meningkatkan hasil belajar; (2) adanya program-program pembelajaran yang dilakukan oleh tutor dalam peningkatan kemandirian warga belajar, tetapi pelaksanaannya masih sangat terbatas. Di samping itu penyelenggaraan pembelajaran masih konvensional, strategi pembelajaran yang digunakan belum optimal sesuai kontekstual kebutuhan belajar nyata yang dihadapi warga belajar; (3) keberhasilan dalam mencapai tujuan belajar bergantung pada kegiatan pembelajaran yang dilakukan, sedangkan efektivitas pembelajaran bergantung pada kebutuhan belajar dan sumber belajar; (4) tutor dalam melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan

Laporan Unggulan Perguruan Tinggi 40 kebutuhan peningkatan kemandirian, dan (5) tutor kesetaraan paket C di PKBM adalah orang dewasa yang siap dan dapat melaksanakan belajar sesuai kebutuhan, sepanjang adanya upaya fasilitasi kegiatan belajar mereka.

Sesuai dengan karakterismedia berbasis aplikasi android belajar orang dewasa, yang didasarkan pada asumsi: (1) orang dewasa dapat belajar sesuai dengan kebutuhannya; (2) belajar adalah proses internal, dan (3) pembelajaran orang dewasa meliputi kondisi umum dan berfokus pada prinsip-prinsip pembelajaran yang kondusif yang memungkinkan terjadinya hasil pembelajaran yang optimal. Oleh sebab itu pembelajaran dalam meningkatkan kemandirian warga belajar akan lebih sesuai jika menggunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa, dan menekankan pada upaya memfasilitasi warga belajar agar melakukan kemandirian dalam belajar.

Dokumen terkait