• Tidak ada hasil yang ditemukan

REKONTRUKSI HISTORIOGRAFI ISLAM PERIODE KLASIK

C. Rekonstruksi Historiografi Islam Periode Klasik

120

dan Khulafa al-Rasyidin, maka dapat dikatakan bahwa inti pembelajaran agama terpusat langsung dari sumber aslinya yakni memahami dan mengamalkan ajaran al-Qur‘an dan al Hadis.

121

sejarah.111 Pengaruh hadits dalam sejarah dapat dilihat pada karya-karya sejarah yang ada pada masa perkembangan hadits.

Pada perkembangan selanjutnya, pengaruh hadits mulai sedikit memudar baik secara metode maupun gaya penulisan.

Perubahan kondisi sosial, politik dan keagaamaan mempengaruhi umat Islam pada masa ini. Beberapa tahun setelah kematian Nabi, umat Islam mulai mengalami perubahan kondisi sosial. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya loyalitas dan kepercayaan kepada pemimpin pengganti Nabi. Perpecahan terjadi di tubuh umat Islam. Umat Islam terbelah menjadi beberapa kelompok.

Maka pada saat seperti itu umat Islam memerlukan otensitisas sumber rujukan yang pokok yaitu hadits Nabi baik qauli, fi‘li maupun taqriri sebagai pemandu dalam kehidupan umat Islam.

Dalam keadaan seperti inilah sejarah sebagai bagian dari hadits muncul.

Ciri dari pengaruh hadits dalam sejarah ada pada dua hal;

pertama pada metode dan kedua pada isi:

1) Metode, semua jenis karya sejarawan awal ini lebih layak disebut dengan hadits dari pada sejarah karena mencantumkan panjangnya sanad dan riwayat. Bahkan secara susunanya serupa buku hadits.

111 Badri Yatim. Historiografi Islam,..., Hal 41

122

2) Isi, hampir kebanyakan sejarawan awal menuliskan tentang kehidupan Nabi dan para sahabat, maka muncul karya seperti sirah dan al-maghazi.

Para sejarawan generasi awal Islam menuliskan riwayat- riwayat yang berkenaan dengan perang Nabi yang disebut dengan al-maghazi. Penulisan al-maghazi ini melapangkan jalan bagi penulisan biografi Nabi yang disebut dengan sirah.112 Tokoh-tokoh yang dianggap menuliskan sejarah dalam bentuk suhuf adalah Aban Ibn Utsman dan al-Zuhri. Aban ibn Utsman bin Affan merupakan orang yang pertama menyusun kumpulan khusus tentang al-Maghazi. Az Zuhri dianggap sebagai peletak dasar sejarah dalam Islam. Karena dialah yang menempatkan sejarah pada landasan yang jelas dan menggambarkan orientasi studi sejarah.113

Pada fase kedua, tiga aliran sejarah pada masa klasik mengalami pertemuan, maka yang terjadi adalah semakin beragamnya aliran sejarah pada masa pertengahan. Pada masa ini sejarawan mulai mencoba mengklasifikasikan karya-karya sejarah dalam tema-tema tertentu, sesuai informasi sejarah yang dikandungnya. Badri Yatim mengklasifikasikan karya-karya Islam pada masa klasik dan pertengahan menjadi tiga, yaitu

112 Ibid, hal 45.

113 Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontemporer, hal. 175-176.

123

sejarah dinasti, biografi, dan nasab.114 Sejarawan yang terkenal pada masa ini adalah Ad-Dzahabi. Ia menulis kitab al-Ansab Al- Asyrof, kitab yang berisi informasi tentang nasab orang-orang yang berpengaruh pada masanya. Setelah mencapai masa kejayaanya, umat Islam mengalami kemunduran. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi umat Islam mengalami hal tersebut, salah satu faktor eksternalnya adalah penyerangan pasukan mongol ke wilayah Umat Islam. Pada saat itu khazanah keilmuan umat Islam diluluh lantakkan. Perpustakaan dihancurkan dan koleksi buku-bukunya dihancurkan. Maka umat Islam mengalami fase kemunduran beberapa dekade kemudian.115

Pada akhir abad ke-18 umat Islam mulai memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan. Mesir merupakan negeri muslim pertama yang mengalami kebangkitan. Ditandai dengan munculnya beberapa orang penulis Mesir dari berbagai disiplin ilmu, salah satunya yaitu Abd al-Rahman al-Jabrati yang dianggap sebagai pelopor dan perintis kebangkitan kembali Arab- Islam di Mesir pada abad ke-19 dalam bidang sejarah. Terkait dengan penulisan awal, kitab-kitab seperti sirah telah dituliskan, nama-nama seperti al-Waqidi dan Ibnu Ishaq adalah nama besar yang kitabnya sampai hari ini dianggap sebagai karya besar yang sampai pada kita hari ini.

114 Badri Yatim, Historiografi Islam,..., hal. 191

115 Ibid.

124

Namun demikian dalam konteks kitab siroh yang memuat secara khusus tentang peperangan pada masa Rasulullah saw, al- Waqidi dianggap sebagai penulis al-maghazi yang paling populer, Ibnu Sa‘ad merupakan murid dari al-Waqidi. Dari al-waqidilah Ibnu Sa‘ad mendapatkan salah satu insprirasi dalam menuliskan kitab nya tentang biografi para sahabat dan selain pada Muhammad bin Asad dalam menuliskan kitab al-Ansab al-Asraf.

Al-Waqidi sendiri merupakan sejarawan yang dikenal selain Ibn Ishaq dalam kategori penulis sirah. Karyanya al-Magazi dianggap sebagai karya yang cukup baik dan lebih baik dari apa yang dituliskan oleh Ibn Ishaq dan edisi revisinya oleh Ibn Hisyam, meskipun dipercaya dia menggunakan kitab Ibn Ishaq sebagai salah satu referensinya. Al-Waqidi lebih banyak dikenal lewat sirah dan magazinya.

Ada beberapa alasan mengapa kitab ini layak diteliti:

pertama; dalam kajian historiografi di jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, kitab ini menjadi rujukan yang penting, melengkapi khazanah keilmuan karya atau kajian mengenai historiografi Islam awal adalah karya mengenai kitab sirah Ibn Ishaq dan juga Tarikh al-Khulafa karya Jalaluddin as-Syuti.

Kedua, karya sirah dan magazi merupakan salah satu dari karya awal historiografi Islam dan al-Waqidi adalah tokoh yang

125

menulis karya siroh116 dan al-maghazi. Ketiga, sumber yang tersedia memungkinkan kegiatan penelitian ini dilakukan karena hanya cukup membandingkan kitab edisi modernnya.

Terakhir, karena keterbatasan waktu, kajian seperti ini dirasa cukup karena dilakukan tanpa mengambil waktu yang cukup untuk mengambil sumber lainya. Ini terjadi karena hanya dilakukan melalui studi pustaka dan dilakukan pada tempat yang bisa dijangkau.

Dalam karya Sejarawan Islam jika diteliti terdapat corak penulisan yang berbeda. Menurut Badri Yatim terdapat tiga corak penulisan dalam karya-karya Sejarawan Islam, yaitu corak khabar, corak hawliyat (kronologi berdasarkan tahun), dan corak mawdhuiyat (tematik).117 Para Sejarawan Islam menggunakan metode dalam menuliskan karya-karyanya.

Di dalam buku Badri Yatim, Effat al-Sharqawi berpedapat bahwa perkembangan metode penulisan sejarah dalam Islam dibagi menjadi dua : pertama historiografi dengan riwayat dan historiografi dengan dirayat.118 Sebagai sebuah karya sejarah, Al- Maghazi Al-Waqidi akan ditempatkan pada zamannya. Maka akan tampak posisi karya Al-Waqidi dalam Historiografi Islam

116 Sartono Kartodirdjo. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia : Suatu Alternatif, (Jakarta : Gramedia, 1982), hal. 13-17

117 Tarif Khalidi, Arabic Historical Tought in The Classical Period, Cambridge: Cambridge University Press, 1996, hal. 11-13

118 Badri Yatim, Historiografi Islam,..., hal 100

126

secara keseluruhan. Ada dua persoalan yang menjadi fokus utama dalam kajian historiografi Islam klasik, yaitu persoalan materi (kandungan isi) bahasan dan metodologi. Yang pertama berkaitan dengan dua persoalan yang saling berkaitan; persoalan politik oriented yang kemudian memunculkan sejarah politik dan materialisme sejarah. Sedangkan yang kedua berkaitan dengan penggunaan periwayatan (hadith), hauliyat (sejarah berdasarkan tahun) sebagai metode dalam penulisan histoiografi Islam klasik.119

Sejarah yang berorientasikan politik (sejarah politik) memiliki latar belakang kesejarahan dan hubungan kontinyuitas yang saling berkaitan antara aspek konseptual, sumber-sumber kesejarahan, para sejarawan awal Islam, jiwa zaman dan pandangan dunia akhir abad ke-1 H. sampai akhir abad ke-3 H.

yang ditandai oleh peran sentral dan dominasi kerajaan Islam klasik (Kerajaan Umayyah dan Abbasiyah). Keseluruhan aspek ini memiliki hubungan timbal balik dan pengaruh- mempengaruhi terhadap kemunculan dan perkembangan historiografi Islam klasik yang politik oriented.

Secara konseptual, konsep sejarah Islam klasik yang dibangun oleh para sejarawan awal Islam mengacu kepada pandangan bangsa Arab pra-Islam (Jahiliyah) tentang sejarah

119Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah,. hal.103-104.

127

sebagai suatu peristiwa penting, elitis dan politik. Konsep ini melestarikan corak penulisan sejarah awal Islam yang sarat dengan tema-tema politik, sehingga penulisan sejarah politik menjadi main stream dalam karya-karya kesejarahan awal Islam.

Dari sisi sumber rujukan pula, ternyata sumber-sumber primer yang menjadi rujukan utama para sejarawan awal Islam dalam penulisan karya sejarah mereka mayoritasnya berasal dari dokumen-dokumen politik. Para sejarawan awal Islam, seperti Ibn Ishaq, al-Wakidi dan al-Tabari selain terpengaruh oleh konsep dan sumber-sumber kesejarahan Islam yang berasal dari dokumen dokumen politik, pada saat yang sama mereka memiliki hubungan timbal balik dengan kerajaan/raja (Bani Umayyah dan Abbasiyah) dan terpengaruh pula oleh pandangan dunia dan mazhabnya.120

Hubungan timbal balik antara kerajaan dan para sejarawan itu terdapat dalam hubungan yang saling memerlukan di antara kerajaan atau raja dan sejarawan, pengaruh kerajaan atau raja terhadap sejarawan dan corak penulisan sejarah yang berpusat pada kerajaan. Sedangkan hubungan timbal balik antara sejarawan dan pandangan dunianya ialah keterlibatan teologi (mazhab keagamaan) dan pengaruhnya terhadap karya sejarawan tersebut. Kesemua hubungan ini memberikan kontribusi pula

120Badri Yatim, Historiografi Islam,..., 157

128

terhadap corak penulisan sejarah Islam klasik yang politik oriented, sehingga frame work dalam penulisan sejarah Islam klasik tidak pernah lepas dari main stream sejarah politik.

Pembahasan sejarah awal Islam yang melulu politik oriented ini memunculkan persoalan materialisme sejarah, karena peristiwa- peristiwa kesejarahan awal Islam yang bertemakan sejarah politik seperti peperangan-peperangan, (al-maghazi), pembukaan/perluasan wilayah (al-futuhat) , peristiwa thaqifah, al-fitnah al-kubra (Perang Jamal dan Perang Shiffin), dan al- khilafah, yang semuanya menjadi tema sentral dalam historiografi Islam klasik hanya dipaparkan dari aspek peristiwa per peristiwa secara lahirnya saja, tanpa menjelaskan motif utama, arah tujuan, maksud dan makna dari peristiwa-peristiwa tersebut, sehingga peristiwa-peristiwa seperti peperangan dan perluasan wilayah menjadi bagian dari persoalan materialisme sejarah.121

Tetapi persoalan yang paling utama dalam kaitannya dengan materialisme sejarah ini justeru terdapat dalam karya mayoritas orientalis seperti H.A.R. Gibb, D.S. Margoliouth, W.

Montgomery Watt, William Muir dan yang lainnya yang mengkaji dan menulis karya historiografi Islam klasik. Karya- karya mereka selain sarat dengan bahasan yang politik oriented dan materialisme sejarah, juga sarat dengan bias teologi, ideologi

121 Badri Yatim, Historiografi Islam,..., Hal. 20

129

(Marxism) dan tafsir (interpretasi) dalam memahami sejarah awal Islam, khususnya dalam bahasan-bahasan tentang sejarah dan biografi Nabi Muhammad s.a.w. (Sirah al-Nabi), meskipun kajian mereka cukup analitis.

Sejarawan Muslim yang datang kemudian, seperti Muhammad Husain Haikal, sungguhpun telah melakukan kritik terhadap karya-karya sejarah orientalis dan interpretasi sejarah, tetapi pada saat yang sama beliau terjebak pula dalam penulisan sejarah yang politik oriented dan penafsiran sejarah yang berlebihan dan karenanya menjadi bias pula. Hasan Ibrahim Hasan, sejarawan Muslim modern yang lain, walaupun menulis karya sejarah awal Islam dari berbagai aspeknya (politik, agama, budaya dan sosial), tapi persoalan penulisan sejarah politik dalam karya beliau lebih kompleks lagi, karena di samping banyak menukil sumber sejarah dari al-Ya‘qubi (Tarikh al-Ya‘qubi) yang bermazhab Shi‘ah dan anti Muawiyah (Krajaan Bani Umayyah), beliau banyak pula terpengaruh oleh karya orientalis Nicholson yang memiliki pandangan bias politik termasuk terhadap Kerajaan Bani Umayyah.

D. Perkembangan Historiografi Islam Periode Klasik