• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Tata Ruang Wilayah

Dalam dokumen Potensi SDA 4 BBWS - 2014amsnalsfna (Halaman 142-154)

Rencana Tata Ruang Wilayah di WS Brantas sebagian besar digunakan untuk sawah irigasi (35%), dan lainnya digunakan untuk tanah embung, semak belukar, sawah tadah hujan, rawa, pemukiman, pasir darat, padang rumput tanah kosong, kebun, hutan, empang, dan air tawar. Seperti yang dapat dilihat pada gambar D-6 berikut :

Gambar 1-6 Rencana Tata Ruang Wilayah WS Brantas

133 POTENSI SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI

2.1 Potensi Air 2.1.1 Air Hujan

Data curah hujan yang dipakai dalam studi ini berasal dari pengukuran dan pencatatan beberapa stasiun penakar hujan on line dan off line yang tersebar di WS Kali Brantas. Jumlah stasiun penakar hujan yang digunakan sebagai acuan dalam studi ini sebanyak 49 stasiun dengan panjang pencatatan selama 15 tahun (mulai tahun 1991 – 2005).

WS Kali Brantas berada di kawasan Jawa Timur dengan temperatur tertinggi di bulan Nopember 35,6°C dan terendah C, dengan kelembaban di bulan Juli 18 ,132 sampai 98 persen. Kondisi berawan (mendung) paling banyak terjadi di bulan Februari dan Desember.

Rata-rata lama penyinaran matahari pada bulan Februari sebesar 52 persen, sedangkan pada bulan Desember sebesar 46,1 persen.

Tekanan udara tertinggi mencapai 1.012,4 milibar yang terjadi di bulan September dan terendah 1.009,2 milibar yang terjadi di bulan Pebruari. Kecepatan angin tertinggi 7,4 knot pada bulan Juli yang berhembus ke arah Timur dan terendah 4,3 knot pada bulan Maret yang berhembus ke arah Timur.

Gambar 1-7 Curah Hujan Rata-rata WS Brantas

381 408 465

247

54 45

0 0 0

93 258

494

0 200 400 600

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

Curah Hujan Rata-rata WS Brantas

(mm))

133

134 2.1.2 Air Tanah

Wilayah Sungai Brantas merupakan daerah yang memiliki potensi air tanah yang tinggi. Pengisian air tanah di WS Brantas adalah sebesar 4.038,84 x 106 m3.

Tabel 1-4 Pengisian Air Hujan WS Brantas N

o

Wilayah Sungai Kabupaten/Kota

Pengisian Air Tanah (106 m3)

1 Kabupaten Malang 1.010,75

2 Kota Malang 43,98

3 Kota Batu 45,76

4 Kabupaten Blitar 598,38

5 Kota Blitar 10,43

6 Kabupaten Tulungagung 420,27

7 Kabupaten Trenggalek 457,12

8 Kota/Kabupaten Kediri 345,39

9 Kabupaten Nganjuk 278,08

10 Kabupaten Jombang 304,14

11 Kota/Kabupaten Mojokerto 222,01

12 Kabupaten Sidoarjo 173,23

13 Kota Surabaya 129,3

Jumlah 4.038,84

134

135 Gambar 1-8 Curah Hujan, Run-off (= Direct Run Off + Interflow + Baseflow) WS Brantas

Potensi air yang tersedia di WS Brantas adalah 13, 232 milyar m3/tahun, dimana pemanfaatnya 28 % untuk keperluan irigasi, air rumah tangga dan sisanya sebanyak 72 % terbuang ke laut.

381 408

465

247

54 45

93

258

494

85 89 96

67

41 40

34 34 34 47

69

100

0 100 200 300 400 500 600

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

CH Rata-rata (mm) Air Tanah Air Permukan

(mm))

Curah Hujan, Run-off (= Direct Run Off + Interflow + Baseflow)

135

136 Gambar 1-9 Neraca Air WS Brantas

136

137 Tabel 1-5 Tabel Pemanfaatan Air WS Brantas

PEMANFAATAN TAHUN PROYEKSI

2005 2020 2030

Irigasi (juta m3/th) 3.610 3.765 3.718

Domestik/Non Domestik (m3/det) 65,044 81,336 90,51

PDAM (m3/det) 12,399 20,732 25,239

Industri (m3/det) 4,74 6,38 7,48

Tambak (m3/det) - 2,1 2,3

2.2 Aspek Pengelolaan Sumber Daya Air 2.2.1 Aspek Konservasi Sumber Daya Air

Konservasi air yang baik yaitu menyimpan air di kala berlebihan dengan menggunakannya seefisien mungkin untuk keperluan tertentu yang produktif. Konservasi air dapat dilakukan dengan cara

1. Perlindungan dan Pelestarian SDA, dilaksanakan dengan menggunakan metode vegetatif dan sipil teknis melalui pendekatan sosial, ekonomi dan budaya serta GNKPA dan GNRHL.

2. Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air, untuk mempertahankan, memulihkan kualitas air serta mencegah terjadinya pencemaran sumber air

138 2.2.2 Aspek Pendayagunaan Sumber Daya Air

Konsep kebijakan operasional pada aspek pendayagunaan SDA di WS Brantas diarahkan untuk tujuan sebagai berikut :

1. Memantau dan mengevaluasi pengambilan air, mensosialiasikan pemakaian air secara efisien dan mengembangkan pemakaian teknologi untuk efisiensi air serta memberi sangsi bagi yang mengambil air secara liar.

2. Menyusun peraturan perundangan air tanah di tingkat operasional, memberi pembinaan atau sanksi bagi masyarakat yang mengambil air tanah tanpa ijin.

3. Memperbaiki, meningkatkan dan memelihara jaringan irigasi yang ada, melakukan kegiatan O&P waduk secara rutin dan berkala sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, serta mengembangkan budidaya padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification).

2.2.3 Aspek Pengendalian Daya Rusak Air

Potensi yang dapat dikembangkan dalam aspek pengendalian daya rusak air adalah:

1. Rehabilitasi bangunan waduk dan bangunan air lainnya 2. Rehabilitasi konstruksi tebing sungai dan tanggul-tanggul.

3. Pengerukan waduk.

4. Normalisasi sungai.

2.2.4 Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air

Potensi yang dapat dikembangkan dalam aspek sistem informasi sumber daya air adalah:

1. Pengembangan sistem informasi 2. Pengembangan sumber daya manusia

139 2.2.5 Aspek Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha

Potensi yang dapat dikembangkan dalam aspek pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha adalah:

A. Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA), Melalui kegiatan:

 Struktural : gully plug, check dam, drainase, dll.

 Non Struktural : reboisasi, biogas

B. Membentuk Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA), Anggota TKPSDA terdiri dari:

 Pemerintah Pusat

 Pemerintah Propinsi

 Pemerintah kabupaten

 LSM

 Professional

 Ikatan Ahli Teknik

 Pemberdayaan HIPPA C. Pemberdayaan Masyarakat di daerah kritis daya rusak air

139

140 MASALAH SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI

3.1 Konservasi Sumber Daya Air

Kondisi DAS di WS Kali Brantas yang telah banyak mengalami kerusakan dan penurunan fungsi, banyak dijumpai di DAS Kali Brantas, khususnya di sub DAS Kali Brantas Hulu, sub DAS Kali Lekso, sub DAS Kali Konto Hulu dan sub DAS Kali Brangkal. Karena kondisinya yang sangat parah, keempat sub DAS tersebut telah ditetapkan sebagai target area untuk pelaksanaan Rencana Induk Konservasi DAS yang dihasilkan dari Studi Water Resources Existing Facilities Rehabilitation and Capacity Improvement Project (WREFR&

CIP) yang disusun pada tahun 2005. Beberapa isu terkait dengan erosi dan sedimentasi yang terjadi di WS Bengawan Solo antara lain:

1. Belum jelas batas wilayah kawasan penyangga dan kawasan lindung 2. Penurunan daya dukung lingkungan terhadap kelestarian dan manfaat SDA 3.2 Pendayagunaan Sumber Daya Air

Permasalahan pada pendayagunaan sumber daya air adalah

1. Kurang koordinasi antar institusi dan daerah dalam pemanfaatan SDA 2. Baru + 25% yang termanfaatkan

3. Sangat dipengaruhi perubahan iklim 4. Efisiensi pemakaian air masih rendah

5. Penegakan hukum terhadap pelanggaran eksploitasi air tanah masih lemah 6. Belum semua daerah di WS Kali Brantas mempunyai Perda tentang air tanah 3.3 Pengendalian Daya Rusak Air

Permasalahan pada aspek pengendalian daya rusak air adalah

1. Bangunan pengendali banjir yang sudah berumur lebih dari 30 tahun 2. Meningkatnya daerah rawan banjir di WS Brantas

3. Biaya pemeliharaan yang tinggi untuk menerapkan Flood Forecasting Warning System

140

141 Sumber: Analisis

Gambar 1-10 Peta Daerah Rawan Banjir WS Brantas

142 3.4 Sistem Informasi Sumber Daya Air

Permasalahan pada aspek sistem informasi sumber daya air adalah belum terintegrasinya data-data hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi.

3.5 Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha

Permasalahan pada aspek pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha adalah banyak instansi dan masyarakat termasuk LSM yang peduli dalam pengelolaan SDA.

SOLUSI SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI 4.1 Konservasi Sumber Daya Air

A. Perlindungan dan Pelestarian SDA

Kegiatan perlindungan dan pelestarian SDA di WS Kali Brantas dilaksanakan dengan menggunakan metode vegetatif dan sipil teknis melalui pendekatan sosial, ekonomi dan budaya.

B. Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air

Untuk mempertahankan, memulihkan kualitas air serta mencegah terjadinya pencemaran sumber air, maka dilakukan kegiatan:

1. Pelaksanaan kegiatan Prokasih (Program Kali Bersih) secara intensif dan berkelanjutan;

2. Pemantauan, penyelidikan terhadap pelanggaran dan evaluasi kualitas air;

3. Pengendalian dan pengawasan pembuangan limbah domestik dan industri;

4. Sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat sepanjang bantaran sungai;

5. Evaluasi dan audit lingkungan;

6. Penyusunan rencana kerja pemantauan kualitas air.

4.2 Pendayagunaan Sumber Daya Air

1. Mendayagunakan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air secara berkelanjutan.

2. Mengupayakan penyediaan air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan.

3. Mengupayakan penataan sumber air secara layak.

142

143 4. Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan, ketertiban dan keadilan, ketepatan penggunaan, keberlanjutan penggunaan dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan.

5. Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air.

6. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemgelolaan sumber daya air dengan prinsip meningkatkan efisiensi alokasi dan distribusi kemanfaatan sumber air.

4.3 Pengendalian Daya Rusak Air

1. Mengurangi tingkat resiko dan periode genangan banjir yang sering terjadi di anak-anak sungai.

2. Mengupayakan keberlangsungan aktifitas masyarakat dan terlindunginya sarana dan prasarana pendukung aktifitas masyarakat.

3. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. Meningkatkan sistem penanggulangan bencana.

4. Memulihkan fungsi sarana dan prasarana guna pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.

5. Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air.

6. Memelihara dan mengembangkan Flood Forecasting Warning System (FFWS).

4.4 Sistem Informasi Sumber Daya Air

Pengelolaan sistem informasi sumber daya air di WS Kali Brantas yang meliputi kegiatan perencanaan, pengoperasian, pemeliharaan, dan evaluasi. Sistem informasi sumber daya air dilakukan melalui tahapan:

1. Pengambilan dan pengumpulan data;

2. Penyimpanan dan pengolahan data; dan 3. Penyebarluasan data dan informasi.

4. Selanjutnya pengelolaan sistem informasi sumber daya air di WS Kali Brantas diselenggarakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya

143

Dalam dokumen Potensi SDA 4 BBWS - 2014amsnalsfna (Halaman 142-154)

Dokumen terkait