BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Reputasi KAP
Indonesia Banking School
ΔCash it = Uang kas pada tahun t minus uang tunai pada tahun t–1
ΔDLT it = Bagian hutang jangka panjang yang lancar pada tahun t minus bagian hutang jangka panjang yang lancar pada tahun t–1 Dep it = Penyusutan pada tahun t
Indonesia Banking School
Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah badan usaha yang telah mendapatkan izin dari Menteri sebagai wadah bagi Akuntan Publik dalam memberikan jasanya (Undang–Undang Nomor 5 Tahun 2011 dan PMK NOMOR: 17/PMK.01/2008). Tanggung jawab KAP khususnya auditor adalah menyediakan informasi yang memadai dengan kualitas yang tinggi guna pengambilan keputusan oleh para pengguna. KAP yang memiliki kualitas lebih tinggi cenderung akan mengeluarkan opini audit apabila terdapat masalah going concern pada klien, (Santosa dan Wedari, 2007).
Kualitas KAP sering diproksikan dengan reputasi KAP. KAP diklasifikasikan menjadi dua yakni KAP Big four dan KAP non–Big four.
Perhitungan reputasi KAP ini terfokus pada identitasnya yang menurut Arens, Elder J. dan Beasly S. dalam buku Auditing and Assurance Services (2014 : 46) yaitu, berdasarkan besarnya jumlah revenue yang dihasilkan dan banyakya jumlah auditor yang professional sebagai KAP Big four atau KAP non–Big four, kemudian dapat dilihat juga dari banyaknya klien yang melakukan kerjasama dengan KAP tersebut dalam mengaudit laporan keuangan dan perusahaannya. Ketika kantor akuntan publik mengklaim dirinya sebagai KAP bereputasi baik seperti Big four firms, maka mereka berusaha keras untuk menjaga nama baik dan menghindari tindakan–tindakan yang mengganggu nama baik KAP tersebut, (Fanny dan Saputra, 2012).
Indonesia Banking School
Beberapa alasan perusahaan dalam menggunakan jasa Kantor Akuntan Publik Big four, antara lain (Tuanakotta, 2007):
Para pemegang saham menginginkan Big Four firm;
Perusahaan ingin mendapatkan kepercayaan dari para investor atau dukungan dari pasar modal;
The Big Four firm mempunyai sumber daya keuangan yang kuat untuk mempertahankan pekerjaan mereka;
Perusahaan publik memang dituntut untuk menggunakan The Big four firm dan kualitas jasa perusahaan The Big four firm alasannya karena besarnya jumlah dan ragam klien yang ditangani KAP, banyaknya ragam jasa yang ditawarkan, luasnya cakupan geografis termasuk adanya afiliasi international dan banyaknya jumlah staf audit dan klien yang berkerjasama dalam suatu KAP.
Maythew (2011) mengartikan reputasi dalam pengauditan sebagai mekanisme yang menghasilkan upaya audit yang maksimal dan sejalan dengan kualitas audit yang tinggi. Upaya auditor dalam suatu KAP dinilai mempengaruhi secara langsung keakuratan laporan audit. Menurut Efraim Ferdinan Giri (2010), tidak mudah menjaga reputasi yang melekat pada suatu KAP karena hal tersebut merupakan jaminan yang dapat mendukung dan meningkatkan kualitas audit. Ketika sebuah KAP membentuk suatu reputasi audit yang baik dimana KAP tersebut dianggap memberikan audit berkualitas tinggi, maka KAP yang bersangkutanakan menawarkan upaya audit yang maksimal secara berkelanjutan. Hal ini
Indonesia Banking School
dilakukan untuk memelihara reputasi baik terhadap audit berkualitas tinggi yang dimiliki KAP tersebut. KAP dengan reputasi tinggi memiliki dorongan untuk menyediakan kualitas audit yang tinggi secara terus–
menerus untuk mencegah hal–hal yang membahayakan atau merusak reputasi mereka, (Douglas, S. J., & Suraj, S., 2012).
Pada tahun 2001 terjadi kasus antara Arthur Andersen yang merupakan KAP dengan reputasi tinggi dengan kliennya yakni Enron.
Kasus Enron ini membuktikan bahwa tidak semua KAP Big four menghindari tindakan–tindakan yang mempengaruhi nama baiknya (Hartadi, 2009). Natawidyanata (2008), menjelaskan bahwa Kasus Enron telah menyeret Arthur Andersen, yang mengaudit laporan keuangan Enron. Kantor akuntan Arthur Andersen didakwa melawan hukum karena menghancurkan dokumen–dokumen yang berkaitan dengan pengauditan Enron, dan menutup–nutupi kerugian jutaan dolar. Hasil keputusan hukum secara efektif menyebabkan kebangkrutan global dari bisnis Arthur Andersen. Kantor akuntan di seluruh dunia yang berada di bawah bendera Arthur Andersen seluruhnya dijual dan kebanyakan menjadi anggota kantor akuntan internasional lainnya. Setelah kejadian Enron, KAP skala internasional tersebut menyusut menjadi empat atau lebih dikenal dengan istilah KAP Big four. KAP Big four ini akan berafiliasi dengan kantor akuntan publik lokal yang ada di Indonesia.
Indonesia Banking School
Urutan KAP Big four beserta afiliasinya menurut Arens, et al.
dalam buku Auditing and Assurance Services (2014 : 46) terdiri atas:
1. Deloitte Touche Tohmatsu berafiliasi dengan KAP Osman Bing Satrio.
2. Price Waterhouse Coopers berafiliasi dengan KAP Tanudiredja, Wibisana dan Rekan.
3. Ernst & Young berafiliasi dengan KAP Purwantono, Suherman dan Surja.
4. KPMG berafiliasi dengan KAP Sidharta dan Widjaja.
2.4 Audit Tenure
Audit tenure atau yang sering didengar dengan perotasian Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah lamanya hubungan auditor dan klien yang diukur dengan jumlah tahun, (Chih–Ying et al., 2008). Dalam penelitan Efraim Ferdinan Giri (2010) menjelaskan bahwa audit tenure dikaitkan dengan dua konstruksi yakni keahlian auditor dan insentif ekonomi, yaitu pertama, audit tenure dikaitkan dengan keahlian auditor yang dimiliki.
Auditor dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dari proses bisnis klien, dan risiko. Kedua, audit tenure dapat menciptakan insentif ekonomi bagi auditor sehingga menjadi kurang mandiri. Adanya hubungan antara auditor dan klien dalam jangka waktu yang lama dikhawatirkan akan menimbulkan hilangnya independensi auditor, Elisha Mulyani (2010).
Selain itu, dalam penelitian Kumala Sari (2012), audit tenure berhubungan dengan kewaspadaan terhadap keakraban auditor dengan klien. Semakin
Indonesia Banking School
tinggi kualitas auditor maka perikatan akan dipersingkat dengan melakukan perotasian auditor agar menjaga independensinya. Hilangnya independensi dapat dilihat dari semakin sulitnya auditor untuk memberikan opini audit, (Manry et al, 2006).
Pemerintah telah mengatur tentang perotasian atau jangka waktu perikatan audit (tenure) dalam Undang–Undang Nomor 5 Tahun 2011 dan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008 tentang “Jasa Akuntan Publik” pasal 3 dimana terdapat aturan pemerintah mengenai lamanya waktu seorang auditor atau KAP berkerja dalam kontrak (audit tenure) (Febriana, 2012). Peraturan Menteri Keuangan No.
17/PMK.01/2008 ini menjelaskan bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas atau perusahaan dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 tahun buku berturut–turut dan oleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 tahun buku berturut–turut. Akuntan Publik dapat menerima kembali penugasan audit untuk klien tersebut setelah 1 tahun buku tidak memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien tersebut, Hartadi (2009).
Berikut ini isi dari Pasal 3 dalam Peraturan Menteri Keuangan No.
17/PMK.01/2008 tersebut:
Pasal 3:
(1) Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut–turut dan oleh
Indonesia Banking School
seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut–turut.
(2) Akuntan Publik sebagaimana di maksud pada ayat (1) dapat menerima kembali penugasan audit umum untuk klien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah 1 (satu) tahun buku tidak memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien tersebut.
(3) Jasa audit umum atas laporan keuangan dapat diberikan kembali kepada klien yang sama melalui KAP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah 1 (satu) tahun buku tidak diberikan melalui KAP tersebut.
(4) Dalam hal KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas melakukan perubahan komposisi Akuntan Publiknya, maka terhadap KAP tersebut tetap diberlakukan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(5) KAP yang melakukan perubahan komposisi Akuntan Publik yang mengakibatkan jumlah Akuntan Publiknya 50% (lima puluh per seratus) atau lebih berasal dari KAP yang telah me nyeleng garakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas, diberlakukan sebagai kelanjutan KAP asal Akuntan Publik yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Indonesia Banking School
(6) Pendirian atau perubahan nama KAP yang komposisi Akuntan Publiknya 50% (lima puluh per seratus) atau lebih berasal dari KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas, diberlakukan sebagai kelanjutan KAP asal Akuntan Publik yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
2.5 Ukuran Perusahaan Klien
Istilah perusahaan dalam buku Pokok–Pokok Hukum Bisnis (2011) mulai dikenal pada saat disusunnya Rancangan Wetboek van Koophandel (Kitab Undang–Undang Hukum Dagang) yang berlaku di Netherland (Belanda) sejak tahun 1838. Berdasarkan asas konkordansi, Wetboek van Koophandel dinyatakan pula berlaku di Hindia Belanda (Indonesia) sejak tahun 1848 hingga saat ini. Dalam Rancangan Undang–Undang Wetboek van Koophandel, yang disebut dengan perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara tidak terputus–putus, dengan terang–
terangan, dan dalam kedudukan tertentu untuk mencari laba.
Selain pengertian tersebut, beberapa sarjana dalam buku ini juga memberikan pengertian tentang perusahaan. Menurut Prof. Mr. W.L.P.A.
Molengraff, pengertian perusahaan dari sudut pandang ekonomi adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus–menerus, bertindak keluar untuk mendapatkan penghasilan dengan cara memperniagakan
Indonesia Banking School
barang–barang, menyerahkan barang–barang, atau mengadakan perjanjian–
perjanjian persediaan. Menurut Mr. M. Polak, perusahaan ada apabila diperlukan adanya perhitungan–perhitungan tentang laba rugi yang dapat diperkirakan dan segala sesuatu itu dicatat dari pembukuan.
Abdul Kadir M. dalam bukunya Pengantar Hukum Perusahaan di Indonesia menyatakan bahwa berdasarkan tinjauan hukum, istilah perusahaan mengacu pada badan hukum dan perbuatan badan usaha dalam menjalankan usahanya. Lebih lanjut, perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi. Kemudian, dalam UU No 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan Pasal 1 huruf b, dirumuskan bahwa perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berdudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.
Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan. Terdapat berbagai proksi yang biasanya digunakan untuk mewakili ukuran perusahaan, yaitu jumlah karyawan, total aset, total penjualan bersih, dan kapitalisasi pasar. Semakin besar aset maka semakin banyak modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin banyak perputaran uang dan laba perusahaan dan semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat (Sudarmadji dan Sularto, 2007 dalam Ningsaptiti, 2010). Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi dalam tiga kategori yaitu perusahaan besar (large
Indonesia Banking School
firm), perusahaan menengah (medium–size), dan perusahaan kecil (small firm). Sedangkan menurut Yusuf dan Soraya (2004) Vol. 7, No.1, ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset yang dimiliki perusahaan, ditunjukan oleh natural logaritma total aktiva.
Francis (1986), Grubber dan Elton (1995) serta Fama dan French (1995) yang dikutip dalam penelitian Panjaitan (2004) berpendapat bahwa perusahaan yang mempunyai nilai skala kecil cenderung kurang menguntungkan dibandingkan dengan perusahaan yang berskala besar.
Perusahaan besar memiliki faktor–faktor pendukung untuk memproduksi barang dengan jumlah optimal. Oleh karena itu, perusahaan yang berskala besar mempunyai risiko yang lebih besar daripada perusahaan berskala kecil. Perusahaan yang mempunyai risiko yang besar biasanya menawarkan return yang besar untuk menarik investor sehingga banyak investor yang tertarik menanamkan dananya. Semakin besar ukuran perusahaan, maka memiliki informasi yang lengkap dan relevan untuk para investornya sehingga perusahaan akan lebih berhati–hati dalam melakukan palaporan keuangan.