• Tidak ada hasil yang ditemukan

Riset Pengembangan Media Promosi Kesehatan

Bab 3 Tahapan Pengembangan Media Promosi Kesehatan

3.4 Riset Pengembangan Media Promosi Kesehatan

3.4 Riset Pengembangan Media

penyakit akibat paparan second hand smoke pada anak dan upaya preventif dan promotif yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan second hand smoke pada anak (Jatmika.dkk, 2019).

Penelitian lainnya mengenai media promosi kesehatan adalah Pengembangan Media Promosi Kesehatan Tentang Keselamatan Berkendara Sepeda Motor Pada Siswa SMA oleh Tino Oktario Yosendha dan Sri Widati tahun 2016.

Penelitian ini bertujuan untuk membuat media keselamatan berkendara yang sesuai di SMA Budi Sejati Surabaya. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dan rancangan penelitian cross sectional, yaitu dengan memberikan pre test menggunakan kuesioner, selanjutnya dibuat sebuah media, dan hingga dilakukan uji media. Sampel populasi terdiri dari SMA Budi Sejati Surabaya yang berjumlah 40 siswa dan yang dapat di teliti oleh responden adalah 32 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan berusia 16–18 tahun, memiliki pengetahuan, sikap, motivasi dan tindakan yang baik tentang keselamatan berkendara sepeda motor. Responden juga merasa rentan terhadap kecelakaan sepeda motor.

Media yang digunakan adalah poster tentang pentingnya memiliki SIM saat berkendara sepeda motor dan media sosial facebook (Jatmika.dkk, 2019).

Bab 4

Tahapan Pelaksanaan Promosi Kesehatan

Sebelum istilah promosi kesehatan diperkenalkan, masyarakat lebih mengenal istilah pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan menurut Green (1980) adalah “any combination of learning’s experiences designed to facilitate voluntary adaptations of behavior conducive to health” (kombinasi dari pengalaman pembelajaran yang didesain untuk memfasilitasi adaptasi perilaku yang kondusif untuk kesehatan secara sukarela). Definisi pendidikan kesehatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan tidak hanya sekedar memberikan informasi pada masyarakat melalui penyuluhan. Definisi pendidikan kesehatan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman pembelajaran meliputi berbagai macam pengalaman individu yang harus dipertimbangkan untuk memfasilitasi perubahan perilaku yang diinginkan. Istilah pendidikan kesehatan tersebut seringkali disalahartikan hanya meliputi penyuluhan kesehatan saja sehingga istilah tersebut saat ini lebih populer diperkenalkan dengan istilah promosi kesehatan.

Tahun 1984, World Health Organization (WHO) mengubah istilah pendidikan kesehatan menjadi promosi kesehatan. Perbedaan kedua istilah tersebut yaitu pendidikan kesehatan merupakan upaya untuk mengubah perilaku sedangkan promosi kesehatan selain untuk mengubah perilaku juga mengubah lingkungan sebagai upaya untuk memfasilitasi ke arah perubahan perilaku

tersebut. Istilah Health Promotion (promosi kesehatan) ini secara resmi disampaikan pada Konferensi Internasional tentang Health Promotion di Ottawa, Kanada padattahunm1986. Pada Konferensi tersebut health promotion didefinisikan sebagai “the process of enabling peoples to increase controls over, and to improved their health” yaitu proses yang memungkinkan seseorang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan. Definisi ini mengandung pemahaman bahwa upaya promosi kesehatan membutuhkan adanya kegiatan

Pemberdayaan masyarakat sebagai cara untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan baik perorangan maupun masyarakat.

Pada tahun 1994 Indonesia mendapat kunjungan dari Direktur Health Promotion WHO yaitu Dr. Ilona Kickbush. Kemudian Indonesia ditunjuk sebagai penyelenggara Konferensi Internasional Health Promotion yang keempat sehingga Depkes berupaya untuk menyamakan konsep dan prinsip tentang promosi kesehatan serta mengembangkan beberapa daerah menjadi daerah percontohan. Dengan demikian, penggunaan istilah promosi kesehatan di Indonesia pada dasarnya mengacu pada perkembangan dunia internasional.

Konsep promosi kesehatan tersebut ternyata juga sesuai dengan perkembangan pembangunan kesehatan di Indonesia yaitu mengarah pada paradigma sehat (Nurianti, 2015).

Visi, misi, dan strategi promosi kesehatan di Indonesia sudah sangat yang jelas sebagai suatu lembaga atau institusi atau suatu program. Melalui visi dan misi tersebut lembaga atau program memiliki arah dan tujuan yang akan dicapai.

Oleh karena itu, visi promosi kesehatan di Indonesia tidak terlepas dari visi pembangunan kesehatan di Indonesia, seperti yang terdapat dalam Undang- Undang Kesehatan RI No. 366 Tahun 2009, yaitu:

“Meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi–tingginya, sebagai investasi sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi”.

Promosi kesehatan yang menjadi bagian dari program kesehatan masyarakat di Indonesia harus mampu mewujudkan visi pembangunan kesehatan di Indonesia, sehingga promosi kesehatan dapat dirumuskan sebagai

“Masyarakat yang mau dan mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya”.

Adapun visi promosi kesehatan menurut Fitriani (2011), yaitu:

a. Mau (willingness) memelihara dan meningkatkan kesehatannya b. Mampu (ability) memelihara dan meningkatkan kesehatannya

c. Meningkatkan kesehatan, berarti mau dan mampu meningkatkan kesehatannya.

Memelihara kesehatan artinya mau dan mampu dalam melakukan pencegahan penyakit serta melindungi diri dari gangguan-gangguan kesehatan. Selain itu, kesehatan perlu ditingkatkan karena derajat kesehatan, baik individu, kelompok, maupun masyarakat itu bersifat dinamis ‘tidak statis’.

Diperlukan upaya untuk mewujudkan visi promosi kesehatan tersebut agar masyarakat mau dan mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai visi tersebut disebut misi promosi kesehatan.

Promosi kesehatan merupakan suatu proses yang memungkinkan orang untuk meningkatkan pengendalian atas kesehatannya dan meningkatkan status kesehatan mereka. Untuk mencapai keadaan fisik, mental dan sosial yang paripurna, individu atau kelompok harus mampu mengidentifikasi aspirasinya, memenuhi kebutuhan dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Ottawa Charter, 1986). berdasarkan Ottawa Charter, promosi kesehatan mempunyai lima aksi antara lain:

1. Menciptakan kebijakan kesehatan kesehatan masyarakat 2. Menciptakan lingkungan yang mendukung

3. Memperkuat aksi komunitas (strengthen community actions) 4. Mengembangkan keahlian program (develop personal skills) 5. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services)

Menurut Yayasan Kesehatan dari Victoria Australia (VicHealth, 1996) promosi kesehatan merupakan proses untuk melakukan perubahan perilaku, organisasi, komunitas dan lingkungannya. Sedangkan WHO (2003) memberi batasan bahwa promosi kesehatan merupakan suatu proses untuk membuat individu dan masyarakat mampu dalam meningkatkan serta mengendalikan faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mereka sehingga terjadi peningkatan kesehatan pada individu maupun masyarakat (Depkes, 2008).

Serta dalam melakukan suatu promosi kesehatan, terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan agar promosi berjalan dengan baik dan lancar. Promosi Kesehatan merupakan proses untuk menarik minat masyarakat. Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikel sebagai daya tarik kepada masyarakat, dan dapat memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang dianjurkan. Oleh karena itu, cara pembuatan promosi kesehatan harus menarik, sederhana, dan tepat. Namun, ternyata ada prinsip dan langkah langkah tersendiri untuk membuat promosi kesehatan ini.

4.1 Tahap-tahap Pelaksanaan Promosi Kesehatan

1. Tahap Pengkajian

Tahapan pertama dalam perencanaan promosi kesehatan adalah pengkajian tentang apa yang dibutuhkan klien atau komunitas untuk menjadi sehat.

Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi, dan komunikasi data tentang klien, baik individu maupun komunitas. Fase keperawatan ini mencakup dua langkah yaitu pengumpulan data, dari sumber primer (klien) dan sumber sekunder (keluarga, tenaga kesehatan), dan analisa data sebagai dasar untuk diagnosa keperawatan (Bandman dan Bandman, 1995).

Pengkajian bertujuan untuk menetapkan dasar data tentang kebutuhan, masalah kesehatan, pengalaman yang terkait, praktik kesehatan, tujuan, nilai dan gaya hidup yang dilakukan klien. Informasi yang terkandung dalam dasar data adalah dasar untuk menetapkan proses asuhan keperawatan selanjutnya.

Pengkajian komunitas merupakan suatu proses; merupakan upaya untuk dapat mengenal masyarakat. Warga masyarakat merupakan mitra dan berkontribusi terhadap keseluruhan proses.

Tujuan keperawatan dalam mengkaji komunitas adalah mengidentifikasi faktor-faktor (baik positif maupun negatif) yang memengaruhi kesehatan warga masyarakat agar dapat mengembangkan strategi promosi kesehatan.

Hancock dan Minkler (1997), mengemukakan bahwa bagi profesional kesehatan yang peduli tentang membangun masyarakat yang sehat. Ada dua

alasan dalam melakukan pengkajian kesehatan komunitas, yaitu sebagai informasi yang dibutuhkan untuk perubahan dan sebagai pemberdayaan.

2. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan penting untuk memastikan bahwa promosi kesehatan yang akan dilakukan terfokus pada prioritas kerja yang sesuai dengan tujuan/goal.

Yaitu memberikan layanan keperawatan terbaik pada klien meliputi individu, kelompok maupun masyarakat. Model perencanaan diperlukan dalam promosi kesehatan karena perencanaan menyediakan cara untuk memandu pilihan.

Sehingga keputusan yang dibuat mewakili cara terbaik untuk mencapai hasil yang diinginkan. Pendekatan rasional menunjukkan bahwa seluruh jajaran atau option harus diidentifikasi dan dipertimbangkan sebelum program komprehensif disusun.

Model perencanaan rasional (Rational planning model) memberikan pedoman pilihan dalam mengambil keputusan yang mewakili langkah terbaik untuk mencapai tujuan yang akan dicapai.

Perencanaan memiliki keuntungan supaya tujuan yang akan dicapai jelas oleh karena itu dalam tahap perencanaan memerlukan:

1. Pengkajian kebutuhan promosi kesehatan.

2. Penentuan tujuan mengenai apa yang akan dicapai.

3. Penentuan taget berhubungan dengan tepat hasil.

4. Target harus SMART; Sesific, Measurable, Achieveable, Realistic, Time-limited.

5. Pemilihan metode atau strategi yang akan digunakan dalam pencapaian tujuan.

6. Evaluasi hasil.

4.2 Identifikasi Kebutuhan

Strategis menjelaskan hasil yang diinginkan dan cara dalam pencapaian tujuan yang akan dicapai pada hasil pelaksanaan tetapi tidak selalu masuk ke detail tentang metode atau mengukur hasil. Perencanaan strategis mengacu pada perencanaan sebuah kegiatan berskala besar yang melibatkan berbagai

intervensi pada patner yang berbeda dan bertahap. Pada “English white paper on Public Health” disebutkan bahwa perencanaan strategis mengacu pada kebutuhan yang telah digabungkan dan kebijakan yang terkait. Simnett (1995) menggambarkan beberapa tingkat/taraf dalam pengembangan strategi meliputi:

1. Identifikasi kegemaran patner.

2. Diagnosa

3. Visi, yaitu terkait dengan hasil yang diharapkan.

4. Pembangunan, kebutuhan untuk merubah permintaan sesuai dengan apa yang dicitakan dan apakah program yang ada sejalan dengan harapan.

5. Rencana pelaksanaan, yaitu rencana mengenai apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Menurut Elwes dan Simnett (1999), kerangka kerja perencanaan promosi kesehatan dapat meliputi:

1. Identifikasi kebutuhan dan prioritas

Identifikasi kebutuhan dan prioritas memerlukan penelitian dan penyelidikan, atau mungkin dengan menyeleksi sebagian klien dilihat dari kasus yang menjadi problem. Identifikasi kebutuhan dapat dilakukan dengan melakukan penyelidikan/penelitian secara berurutan terhadap keadaan klien, bertanya langsung kepada klien tentang topik terkait informasi dan nasehat yang mereka perlukan. Selain itu, identifikasi dapat juga melihat pada catatan kasus untuk dapat mengidentifikasi topik yang bersifat umum. Contoh: tim kesehatan mungkin mengetahui bahwa banyak orangtua bermasalah dengan pola tidurnya. Oleh karena itu pimpin atau beri arahkan kepada mereka untuk melakukan set up di klinik masalah tidur. Model perencanaan lainnya dimulai dari perbedaan pint, contoh: pada Model perencanaan Tone’s (Tones, 1974) memulai dengan menetapkan tujuan promosi kesehatan yang kemudian dianalisa untuk menentukan intervensi pendidikan/promosi kesehatan yang tepat. Intervensi yang dilakukan dimodifikasi dengan merujuk karakteristik pada kelompok target, dan detail rencana program pendidikan.

Model perencanaan Tone’s fokus pada intervensi pendidikan, keberlangsungan dari strategi nasional pada promosi kesehatan melengkapi tujuan promosi kesehatan dalam pelaksanaan. Menurut Berry (1986) model

perencanaan dimulai dengan menyusun atau mengatur sebuah kelompok kerja untuk mengkaji ulang (review) masalah dan identifikasi proyek promosi kesehatan yang sesuai dengan kasus/masalah yang ada

2. Menentukan tujuan dan target

Tujuan mengacu pada goal dengan meningkatkan kesehatan di beberapa area, contoh: mengurangi konsumsi alkohol karena berhubungan dengan terjadinya gangguan kesehatan. Objek atau sasaran membutuhkan pernyataan spesifik dan harus merupakan pernyataan yang mengaktifkan objek bekerjasama dalam pencapaian tujuan yang dicita-citakan bersama.

Objek atau sasaran kemudian diarahkan untuk diberi pendidikan, menciptakan kebiasaan yang sehat, mengacu pada kebijakan yang terkait, dan menganalisa proses serta hasil ke lingkungan.

Pendidikan objek/sasaran mungkin memutuskan beberapa kategori meliputi:

a. Level pengetahuan klien (objek) bertambah, terkait dengan masalah yang dibahas dalam promosi kesehatan

b. Afektif klien (objek) mengalami perubahan menuju pola hidup lebih sehat, yang dapat dilihat pada perubahan tingkah laku dan kepercayaan

c. Kebiasaan atau ketrampilan klien bertambah/ semakin mahir pada kompetensi dan ketrampilan baru

d. Target promosi kesehatan dapat meliputi tambahan sebagai berikut:

e. Perubahan kebiasaan, meliputi perubahan gaya hidup dan peningkatan pelayanan. Contoh: mengurangi kebiasaan merokok f. Perubahan pada kebijakan kesehatan klien

g. Peningkatan partisipan dalam proses pelaksanaan dan kemampuan untuk bekerjasama. Contoh: meningkatkan/menggerakkan komunitas (partisipan) dan sektor dalam guna mendukung program Indonesia sehat 2010

h. Perubahan lingkungan menjadi lebih sehat, contoh membudayakan membuang sampah pada tempatnya.

3. Identifikasi metode yang tepat dalam pencapaian tujuan

Pemilihan metode disesuaikan dengan tujuan promosi kesehatan yang akan dicapai dan memperhatikan segi objek. Artinya metode yang digunakan mampu memberi reflek pada objek/target yang dituju.

a) Metode Individu

Dalam promosi kesehatan, metode yang bersifat individual ini digunakan untuk membina perilaku baru atau membina seseorang yang telah tertarik untuk mengubah perilakunya. Misalnya seorang bapak yang merokok, tertarik berhenti merokok setelah mendengarkan penyuluhan kesehatan mengenai bahaya rokok. Pendekatan yang digunakan agar bapak tersebut benar-benar berhenti adalah ia harus didekati secara perorangan. Perorangan di sini tidak harus hanya kepada bapak tersebut, melainkan juga bisa melalui anggota keluarga lain atau juga temannya. Contoh dari metode promosi perorangan adalah penyuluhan perorangan, konseling dan wawancara

b) Metode Kelompok

Metode ini bisa digunakan bagi kelompok dengan anggota yang memiliki kesamaan latar belakang baik dari segi umur, pendidikan, profesi dan sebagainya, misalnya antara sesama ibu usila. Metode ini bertujuan agar anggota kelompok sebagai sasaran dapat mengenal jauh arti dan manfaat pesan kesehatan yang diinformasikan. Contoh dari metode ini adalah diskusi kelompok terarah, curah pendapat, bola salju, kelompok-kelompok kecil, bermain peran dan simulasi.

c) Metode Media Massa

Metode promosi kesehatan massa adalah metode yang dipakai untuk mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat luas yang bersifat massa. Tujuannya menggugah kepedulian masyarakat terhadap suatu inovasi baru dalam kesehatan. Manfaatnya adalah dapat menyampaikan informasi secara cepat dan dapat menjangkau banyak orang, sehingga diharapkan terjadinya perubahan perilaku. Beberapa contoh dari metode promosi kesehatan massa adalah ceramah umum, pidato-pidato/diskusi, tulisan di majalah, website atau koran, billboard, spanduk poster, menitipkan pesan pada khotbah agama dan lain-lain

4. Identifikasi sumber yang terkait

Ketika objek dan metode telah diputuskan, tingkat perencanaan selanjutnya adalah mempertimbangkan mengenai sumber spesifik yang dibutuhkan dalam mengimplementasi strategi pelaksanaan. Sumber dapat berupa dana, ketrampilan dan keahlian, bahan seperti selebaran atau kotak pembelajaran, kebijakan yang menarik, rencana, fasilitas dan pelayanan.

5. Menyusun metode rencana evaluasi

Evaluasi harus berhubungan tujuan/sasaran yang telah disusun sebelumnya tetapi dapat diusahakan lebih dari tujuan yang telah ditetapkan atau kurang dari yang dicita-citakan. Evaluasi dapat kita lakukan dengan menanyakan pada partisipan mengenai pemahaman informasi pada akhir sesi. Atau dapat juga dalam bentuk lebih formal seperti dengan membagikan kuisioner kepeda peserta/partisipan untuk diisi sesuai apa yang dipahami atau dimengerti setelah pelaksanaan promosi kesehatan.

6. Menyusun rencana pelaksanaan

Penyusunan rencana pelaksanaan merupakan tindakan yang meliputi penulisan detail rencana pelaksanaan. Seperti identifikasi topik/masalah, orang yang akan menyampaikan informasi terkait dengan topic, sumber yang akan digunakan, rentang waktu hingga tahap rencana evaluasi.

7. Pelaksanaan atau Implementasi dari perencanaan

Merupakan tahap yang penting untuk selalu diperhatikan mengenai hal yang harus dan tidak harus dilakukan. Sehingga tidak terjadi masalah yang tidak diharapkan Pelaksanaan atau implementasi promosi kesehatan perlu direncanakan supaya dalam kenyataannya partisipan diharapkan mampu menyerap atau menerima, mengerti, memahami dan mau serta mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga diperoleh perubahan perilaku menjadi lebih sehat. Hasil atau output yang ditunjukkan oleh partisipan setelah dilaksanakan promosi kesehatan menjadi bahan dalam penyusunan evaluasi Pemilihan metode disesuaikan dengan tujuan promosi kesehatan yang akan dicapai dan memperhatikan segi objek.

Artinya metode yang digunakan mampu memberi reflek pada objek/target yang dituju. Hasil atau out-put yang ditunjukkan oleh partisipan setelah dilaksanakan promosi kesehatan menjadi bahan dalam penyusunan evaluasi.

4.3 Tahap Implementasi

Tahap implementasi atau pelaksanaan adalah tindakan penyelesaian yang diperlukan untuk memenuhi tujuan. Yakni untuk mencapai kesehatan yang optimal, implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana perawatan terhadap perilaku yang digambarkan dalam hasil individu yang diusulkan.

Pemilihan intervensi keperawatan tergantung pada beberapa faktor:

1. hasil yang diinginkan klien.

2. karakteristik dari diagnosa keperawatan.

3. penelitian yang berkaitan dengan intervensi.

4. kelayakan pelaksanaan intervensi.

5. penerimaan intervensi oleh individu.

6. kemampuan perawat.

Tahap implementasi atau pelaksanaan adalah tindakan penyelesaian yang diperlukan untuk memenuhi tujuan yakni untuk mencapai kesehatan yang optimal, implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana perawatan terhadap perilaku yang digambarkan dalam hasil individu yang diusulkan.

Promosi Kesehatan ini dapat diimplementasikan dalam berbagai tatanan, yaitu sebagai berikut:

1. Promosi kesehatan melalui pengorganisasian dan pengembangan masyarakat. Pelaksanaan Promosi Kesehatan di masyarakat adalah sebagai berikut:

a. Persiapan Pelaksanaan, dalam tahapan ini pelaksana menyusun jadwal ulang apabila dalam melaksanakan kegiatan tidak sesuai lagi dengan kondisi terkini, menyusun organisasi pelaksanaan promosi kesehatan, berdasar atas rencana yang telah disusun, mendapatkan media komunikasi yang diproduksi oleh Dinas Kesehatan (apabila ada).

b. Fasilitasi, petugas promkes melaksanakan pelatihan kepada LKM (seksi kesehatan) melalui pelatihan sambil bekerja (on the job training), agar mampu melaksanakan kegiatan promosi kesehatan, kemudian melakukan pemantauan terhadap perkembangan hasil.

c. Implementasi Kegiatan, merupakan tahap pelaksanaan kegiatan pelatihan yang berkaitan dengan promosi kesehatan.

2. Promosi kesehatan di sekolah

Promosi kesehatan di sekolah pada prinsipnya adalah menciptakan sekolah sebagai komunitas yang mampu meningkatkan kesehatannya (Health Promoting School). Oleh karena itu, pelaksanaan promosi kesehatan di sekolah mencakup 3 kegiatan pokok, yaitu:

a. Menciptakan lingkungan yang sehat (Healthful School Living), dalam hal ini tidak hanya lingkungan fisik yang bersih, akan tetapi juga lingkungan sosialnya juga harus harmonis dan kondusif , sehingga perilaku sehat dapat tumbuh dengan baik.

b. Pendidikan kesehatan (Health Education), dilakukan untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat agar dapat bertanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri dan lingkungannya serta ikut aktif dalam usaha-usaha kesehatan.

c. Pemeliharaan dan pelayanan kesehatan di sekolah, penyuluhan kesehatan juga dapat dijadikan salah satu cara untuk mempromosikan kesehatan di sekolah.

3. Promosi kesehatan di Tempat Kerja

Promosi Kesehatan di tempat kerja diartikan oleh Li dan Cox sebagai kesempatan pembelajaran terencana yang ditujukan kepada masyarakat di tempat kerja dan dirancang untuk memfasilitasi pengambilan keputusan dan memelihara kesehatan yang optimal.

Pengimplementasian dari promosi kesehatan ini dapat dilakukan dengan:

a. Pemberian informasi, misalnya dengan membuat media cetak atau menyelenggarakan pameran kesehatan di tempat kerja.

b. Penjajakan risiko kesehatan, pelaksanaannya berupa pemeriksaan kesehatan secara rutin.

c. Pemberian resep, misalnya dengan melakukan pelayanan konseling bagi pekerja agar mampu berperilaku sehat.

d. Membuat system dan lingkungan yang mendukung.

4. Promosi kesehatan di rumah sakit

Pelaksanaan promosi kesehatan di rumah sakit dilakukan dalam rangka membantu orang sakit atau pasien dan keluarganya agar mereka dapat mengatasi masalah kesehatannya, khususnya mempercepat kesembuhan dari penyakitnya. Promosi kesehatan di rumah sakit sebaiknya harus menciptakan kesan rumah sakit tersebut menjadi tempat yang menyenangkan, tempat untuk beramah tamah, dan sebagainya.

Oleh karena itu, pelaksanaan promkes yang dapat dilakukan adalah:

a. Pemberian contoh

b. Penggunaan media. Media promosi atau penyuluhan kesehatan di rumah sakit merupakan alat bantu dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan pada para pasien dan pengunjung rumah sakit lainnya.

Begitu banyak perhatian dapat ditujukan untuk tujuan-tujuan, isi, strategi, dan metode program promosi keperawatan sehingga 'proses' pelaksanaan sering kali diabaikan.

Parkinson (1982) mengklasifikasikannya dengan tiga pendekatan;

a. The pilot approach. Ini adalah langkah pertama yang penting dalam melaksanakan program promosi kesehatan. Green (1986) menyebutnya sebagai site response, yaitu mendapatkan umpan balik dari para peserta yang terlibat dalam program, serta dari staf perencana, pada kualitas program dalam semua dimensi-dari bahan- bahan pendidikan (misalnya, pamflet atau menampilkan ) dari kelayakan staf yang dipilih untuk menyampaikan program. Umpan balik yang berharga dari fase pilot ini juga dikenal sebagai proses evaluasi, evaluasi dari suatu proses termasuk kedalam fase pelaksanaan.

b. The phased-in approach. Hal ini terjadi ketika program tersebut dilaksanakan di berbagai tempat, daerah atau wilayah. Sebuah program percontohan mungkin menghasilkan proses evaluasi yang positif, dan / atau evaluasi mungkin telah menghasilkan penyesuaian program. Keputusan ini kemudian dibuat untuk membuat atau memfasekan program tersebut menjadi berbagai pengaturan dari

waktu ke waktu karena keterbatasan sumber daya, kebutuhan akan bahan-bahan yang lebih tepat, atau timelinenya.

c. Immediate implementation of the total program. Program yang telah efektif di masa lalu, atau program yang mempunyai pendekatan yang standar, sering diimplementasikan secara totalitas.

Secara keseluruhan suatu pendekatan pilot pada setiap program yang baru dikembangkan adalah suatu keharusan. Pendekatan ini berfungsi untuk melibatkan komunitas Anda dalam desain, proses evaluasi dan pelaksanaan, sehingga memastikan komitmen dari masyarakat itu sendiri.

4.4 Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi pada promosi kesehatan pada dasarnya memiliki kesamaan dengan tahap evaluasi pada proses keperawatan secara umum. Di dalam tahapan evaluasi hal penting yang harus diperhatikan adalah standar ukuran yang digunakan untuk dijadikan suatu pedoman evaluasi. Standar ini diperoleh dari tujuan dan hasil yang diharapkan diadakannya suatu kegiatan tersebut.

Kedua standar ini selalu dirumuskan ketika kegiatan ataupun tindakan keperawatan belum diberikan. Selain itu, dalam tahapan evaluasi juga dilakukan pengkajian lagi yang lebih dipusatkan pada pengkajian objektif dan subjektif klien atau objek kegiatan setelah dilakukan tindakan promosi kesehatan

Standar evaluasi pada promosi kesehatan yang mencakup tujuan serta hasil yang diharapkan selalu dibuat berdasarkan latar belakang kegiatan. Tujuan dari kegiatan promosi kesehatan selalu ditetapkan berdasarkan apa yang hendak dicapai dengan kegiatan promosi kesehatan. Hal ini menjadi penting karena segala tujuan dari kegiatan promosi kesehatan memiliki aspek yang sangat penting dari suatu kegiatan promosi kesehatan.