BAB 2 Risiko Utama Pengkinian NRA TPPU 2015
2.1 Risiko Domestik
Berdasarkan UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa hasil tindak pidana TPPU adalah Harta Kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana sebagai berikut2:
a. korupsi;
b. penyuapan;
c. narkotika;
d. psikotropika;
e. penyelundupan tenaga kerja;
f. penyelundupan migran;
g. di bidang perbankan;
h. di bidang pasar modal;
i. di bidang perasuransian;
j. kepabeanan;
k. cukai;
l. perdagangan orang;
m. perdagangan senjata gelap;
n. terorisme3; o. penculikan;
p. pencurian;
q. penggelapan;
r. penipuan;
s. pemalsuan uang;
t. perjudian;
u. prostitusi;
v. di bidang perpajakan;
w. di bidang kehutanan;
x. di bidang lingkungan hidup;
y. di bidang kelautan dan perikanan; atau
z. tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih.
2 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Pemerintah Indonesia 2010
3 Juga termasuk Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme, organisasi teroris, atau teroris
perorangan (Pasal 2 ayat (2) UU No 8 Tahun 2010), Pemerintah Indonesia 2010
24
Formulasi penilaian risiko dalam NRA TPPU 2015 mengikuti panduan dari FATF Guidance mengenai “National Money Laundering and Terrorist Financing Risk Assessment”
disebutkan bahwa: “risk can be represented as: R=f[(T)(V)] x C, where T represents threat, V represents vulnerability, and C represents consequence”. Berdasarkan panduan tersebut, formulasi untuk melakukan penilaian risiko dapat dirumuskan sebagai berikut4:
Merujuk kepada FATF Guidance disebutkan bahwa:
a. Ancaman (threats) adalah orang atau sekumpulan orang, objek atau aktivitas yang memiliki potensi menimbulkan kerugian. Dalam konteks pencucian uang ancaman meliputi tindak pidana, kelompok teroris dan pendanaannya.
b. Kerentanan (vulnerabilities) adalah hal–hal yang dapat dimanfaatkan atau mendukung ancaman atau dapat juga disebut dengan faktor – faktor yang menggambarkan kelemahan dari sistem anti pencucian uang/pendanaan terorisme baik yang berbentuk produk keuangan atau layanan yang menarik untuk tujuan pencucian uang atau pendanaan terorisme.
c. Dampak (consequences) adalah akibat atau kerugian yang ditimbulkan dari tindak pidana pencucian uang dan atau pendanaan terorisme terhadap lembaga, ekonomi dan sosial secara lebih luas termasuk juga kerugian dari tindak kriminal dan aktivitas terorisme itu sendiri.
NRA TPPU 2015, menggunakan formulasi matematis setiap faktor risiko yang memiliki berberapa variabel dan sub-variabel pembentuk, dengan perincian sebagai berikut:
a. Ancaman TPPU berdasarkan Tindak Pidana Asal:
1) Ancaman Riil:
a) Penelusuran transaksi terindikasi TPPU:
4 Dokumen Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015, Pemerintah Indonesia 2015
Risiko = ( KerentananAncaman+ (
x
Dampak25
➢ Jumlah LTKM.
➢ Jumlah Laporan Hasil Analisis.
➢ Jumlah Laporan Hasil Pemeriksaan.
b) Pemeriksaan terindikasi TPPU oleh Penyidik:
➢ Jumlah kasus yang diinvestigasi pada tindak pidana asal.
➢ Jumlah kasus TPPU yang diinvestigasi.
c) Penuntutan TPPU:
➢ Jumlah kasus TPPU yang dituntut.
d) Pemeriksaan TPPU di Pengadilan:
➢ Jumlah putusan TPPU yang diputus pengadilan.
2) Ancaman Potensial:
➢ Persepsi Penegak Hukum terkait tingkat potensi TPPU menurut TPA.
b. Kerentanan TPPU:
1) Kerentanan Pihak Pelapor:
a) Kerentanan Internal:
➢ Ketersediaan Program Anti Pencucian Uang.
➢ Manajemen Program Anti Pencucian Uang.
➢ Kebijakan dan Prosedur Program Anti Pencucian Uang.
➢ Pengawasan Internal Program Anti Pencucian Uang.
➢ Kehandalan Sistem Informasi Program Anti Pencucian Uang.
➢ Kecukupan dan Kapabilitas SDM Program Anti Pencucian Uang.
➢ Persepsi terhadap Isu Program Anti Pencucian Uang.
➢ Kemampuan mengidentifikasi tindak pidana asal dalam transaksi keuangan mencurigakan.
b) Kerentanan Pelaporan:
➢ Rasio jumlah LTKM terhadap jumlah nasabah/pengguna jasa berisiko tinggi TPPU.
2) Kerentanan Penegak Hukum:
a) Kerentanan Internal:
➢ Kebijakan Strategis dalam Penanganan Perkara TPPU.
➢ Dukungan Manajemen Tertinggi terkait Rezim Anti Pencucian Uang.
➢ Kebijakan dan Prosedur dalam Penanganan Perkara TPPU.
➢ Kehandalan Sistem Informasi dalam Penanganan Perkara TPPU.
➢ Kecukupan dan Kapabilitas SDM dalam Penanganan Perkara TPPU.
26
➢ Pengawasan Internal Rezim Anti Pencucian Uang.
➢ Persepsi terhadap isu terkait Penanganan Perkara TPPU.
b) Kerentanan Tindak Lanjut Penanganan Perkara TPPU:
➢ Persentase tindak lanjut atas penyampaian Laporan Hasil Analisis dan/atau Laporan Hasil Pemeriksaan kepada Penyidik TPPU.
c. Dampak TPPU:
1) Dampak Riil:
➢ Rata-rata Nilai Transaksi Keuangan Mencurigakan
➢ Rata-rata Nilai yang terindikasi TPPU dalam Laporan Hasil Analisis PPATK
➢ Rata-rata Nilai yang terindikasi TPPU dalam Laporan Hasil Pemeriksaan PPATK
➢ Rata-rata Nilai yang terindikasi TPPU dalam Berkas Penyidikan TPPU
➢ Rata-rata Nilai yang terindikasi TPPU dalam Berkas Penuntutan TPPU
➢ Rata-rata Nilai yang diputus terkait TPPU dalam Berkas Putusan Pengadilan perkara TPPU
2) Dampak Potensial:
➢ Persepsi Penegak Hukum terkait tingkat rata-rata nilai TPPU menurut TPA.
NRA TPPU 2015 mengidentifikasi TPA yang berpotensi menjadi TPPU, antara lain TP Narkotika, TP Korupsi, TP Perpajakan, TP Perbankan, TP Kehutanan dan TP Pasar Modal5.
5 Dokumen Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015, Pemerintah Indonesia 2015
27
Pada tahun 2017, Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan telah mengeluarkan hasil penilaian risiko nasional Indonesia terhadap pencucian uang dalam bentuk White Paper TP Perpajakan sebagai bentuk pembaharuan pengkinian terhadap risiko pencucian uang di Indonesia, khususnya terkait dengan tindak pidana asal domestik yang berpotensi menjadi tindak pidana pencucian uang.
Pada dasarnya hasil nilai risiko TPPU di bidang perpajakan disusun atas variabel penyusun risiko yang terdiri dari ancaman, kerentanan, serta dampak. Dari ketiga variabel tersebut faktor kerentanan merupakan faktor yang cukup dapat dikendalikan oleh pemilik risiko dengan melakukan treatment yang yang tepat pada kerentanan dimaksud.
Setelah dokumen NRA TPPU 2015 ditetapkan, sektor perpajakan telah melakukan banyak upaya untuk meningkatkan kepatuhan perpajakan, diantaranya pengesahan kebijakan-kebijakan yang dapat mempengaruhi kerentanan baik kerentanan dari pihak penegak hukum maupun pihak pelapor.
Dengan adanya penguatan rezim perpajakan dan rezim anti pencucian uang pasca NRA TPPU 2015 dan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak melalui perkembangan regulasi dan kebijakan di bidang perpajakan dan bidang rezim Anti Money Laundering (AML), telah berdampak pada perubahan peta risiko TPPU menurut tindak pidana asal yaitu dalam hal tindak pidana perpajakan yang semula berisiko tinggi menjadi risiko menengah.
Langkah mitigasi yang telah dilakukan Direktorat Jenderal Pajak tahun 2015 s.d. 2018 yaitu melalui penguatan rezim perpajakan dan anti pencucian uang melalui:
1. Penguatan Rezim Perpajakan dan Rezim AML Pasca NRA TPPU 2015:
a. Pembenahan Organisasi Internal (Reformasi Perpajakan)
Pembenahan organisasi internal di bidang perpajakan dilakukan melalui program reformasi perpajakan. Program ini dicanangkan pada tanggal 9 Desember 2016 dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 885/KMK.03/2016 tentang Pembentukan Tim Reformasi Perpajakan. Reformasi perpajakan adalah perubahan sistem perpajakan yang menyeluruh, termasuk di dalamnya adalah pembenahan administrasi perpajakan, perbaikan regulasi, dan peningkatan basis perpajakan. Sasaran program ini adalah petugas pajak, pembayar pajak, instansi terkait, dan masyarakat.
28
Program ini diwujudkan melalui transformasi lima pilar perpajakan Indonesia:
1) Organisasi
Untuk meningkatkan efektivitas organisasi melalui penajaman dan peningkatan fungsi organisasi, pengorganisasian dan peningkatan organisasi.
2) Sumber daya manusia
Untuk membentuk sumber daya manusia yang kuat, akuntabel, dan berintegritas.
3) Teknologi Informasi dan Basis Data
Memastikan sistem teknologi informasi dan database yang andal, mendukung proses bisnis DJP, dan menghasilkan keluaran yang akurat dan dapat diandalkan.
4) Proses Bisnis
Menyederhanakan proses bisnis menjadi lebih efektif, efisien, akuntabel, berbasis teknologi informasi, dan mencakup semua tugas DJP.
5) Perundang-undangan
Menetapkan kebijakan perpajakan yang memperluas basis pajak, memberikan kepastian hukum, mengurangi biaya kepatuhan, dan meningkatkan penerimaan pajak.
b. Pembenahan Regulasi/Kebijakan, yaitu:
1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2017 tentang Akses Informasi Keuangan untuk Kepentingan Perpajakan
UU ini memberikan akses yang luas bagi otoritas pajak (DJP) untuk menerima dan memperoleh informasi keuangan untuk tujuan perpajakan, baik untuk kebutuhan dalam negeri, maupun memenuhi standar persyaratan komitmen internasional Indonesia.
UU 9 Tahun 2017 merupakan perwujudan komitmen Indonesia untuk mendukung transparansi dan pertukaran informasi dalam upaya memberantas dan mencegah penghindaran pajak dan pengelakan pajak.
Sejak 2009, dunia telah mengumumkan berakhirnya era kerahasiaan perbankan.
Dari perspektif domestik, UU 9 Tahun 2017 akan mengintegrasikan informasi keuangan dari Wajib Pajak (dari SPT mereka) dan dari lembaga
29
keuangan. Informasi terpadu ini meningkatkan akurasi dan keandalan database perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak.
UU 9 Tahun 2017 diatur lebih lanjut melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70/PMK.03/2017 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.03/2017 tentang Petunjuk Teknis Mengenai Akses Informasi Keuangan untuk Kepentingan Perpajakan.
PMK 70/PMK.03/2017 mencakup kepentingan pajak dalam negeri dan juga komitmen internasional Indonesia dalam transparansi dan pertukaran informasi untuk tujuan perpajakan.
2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyampaian Data dan Informasi Oleh Instansi Pemerintah dan/atau Lembaga Swasta Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyampaian Data dan Informasi Oleh Instansi Pemerintah dan/atau Lembaga Swasta Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang merupakan amanat Pasal 41 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
3) Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2017 tentang Optimalisasi Pemanfaatan Laporan Hasil Analisis dan Laporan Hasil Pemeriksaan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan pada tanggal 10 Maret 2017 (INPRES- 02/2017).
Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana lain terkait dengan tindak pidana pencucian uang serta meningkatkan penerimaan negara dari sektor perpajakan, telah diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2017 tentang Optimalisasi Pemanfaatan Laporan Hasil Analisis dan Laporan Hasil Pemeriksaan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan pada tanggal 10 Maret 2017 (INPRES-02/2017).
INPRES-02/2017 pada intinya berisi instruksi kepada Menteri Keuangan, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian, dan Kepala Badan Narkotika Nasional selaku pimpinan dari penyidik yang berwenang melakukan penyidikan tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana asal berdasarkan tugas dan kewenangan masing-masing untuk memanfaatkan secara optimal Laporan
30
Hasil Analisis (LHA) dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) yang disampaikan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
2. Pelaksanaan Kegiatan di Bidang Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang Melalui Optimalisasi Kerja Sama PPATK dan Direktorat Jenderal Pajak.
Kerjasama penegakan rezim AML di bidang perpajakan telah dimulai sejak tahun 2011, yaitu ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara PPATK dan DJP nomor NK-51/I.02/PPATK/10/11 atau Nomor KEP-268/PJ/2011 tanggal 19 Oktober 2011. Ruang lingkup kesepakatan meliputi: pertukaran data dan/atau informasi, perumusan peraturan perundang-undangan, penanganan perkara tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana di bidang perpajakan, pengembangan sistem teknologi informasi, penugasan pegawai, pelaksanaan kajian, sosialisasi, penyuluhan, pendidikan, dan pelatihan.
Sejak tahun 2015, untuk mengoptimalkan pemanfaatan data transaksi keuangan, Kementerian Keuangan dan PPATK membentuk beberapa Satuan Tugas yaitu Tim Satuan Tugas Penanganan Data dan/atau Informasi Transaksi Keuangan dalam rangka Optimalisasi Penegakan Hukum Perpajakan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 487/KM.1/2015 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1456/KM.1/2016; Tim Satuan Tugas Penanganan Data dan/atau Informasi dalam rangka Optimalisasi Penegakan Hukum di Bidang Penagihan Pajak melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 488/KM.1/2016 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1456.1/KM.1/2016. Satuan tugas tersebut dibentuk untuk mengoordinasikan dan mengoptimalkan penanganan data dan/atau transaksi keuangan dalam rangka penegakan hukum maupun penagihan perpajakan. Pelaksanaan tugas Tim tersebut telah mendukung penerimaan Negara.
Pada tahun 2018, melalui KEP-174/PJ/2018, DJP bersama dengan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus telah melakukan amandemen perjanjian kerja sama untuk optimalisasi penegakan hukum pidana di bidang perpajakan dan tindak pidana pencucian uang. Kerjasama tersebut diwujudkan diantaranya melalui pembentukan satuan tugas yang disahkan dalam KMK-24/KMK.3/2019 tentang Pembentukan Satuan Tugas Asistensi Penanganan Perkara Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, Tindak Pidana Pencucian Uang, dan Penelusuran Kekayaaan Hasil Tindak Pidana. Satuan Tugas ini melibatkan DJP, Kejaksaan RI, PPATK, dan POLRI. Selain pengoptimalan data dan/atau informasi melalui satuan tugas, Direktorat Jenderal
31
Pajak juga mengoptimalkan kerjasama dengan PPATK melalui penyelenggaraan kegiatan pengembangan kapasitas SDM.