Seperti yang dirumuskan oleh Gerald E. Caiden, yang telah direfisi oleh Miftah Thoha dalam bukunya ‘Dimensi-dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara’, ruang lingkup studi public policy yaitu meliputi hal-hal sebagai berikut:
Adanya partisipasi masyarakat (
1. public participation)
Adanya kerangka kerja (
2. policy frame work)
Adanya strategi-strategi policy (
3. policy strategy)
Adanya kejelasan tentang kepentingan rakyat (
4. public
interest)
Adanya pelembagaan lebih lanjut dan kemampuan public 5.
policy
Adanya isi policy dan evaluasinya.
6.
Public Partisipation a.
Ruang lingkup publik policy yang pertama yakni membangkitkan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama
memikirkan cara-cara yang baik untuk mengatasi persoalan- persoalan masyarakat.
Dalam masyarakat modern, demokratis dan yang kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat, adalah partisipasi dari rakyat (masyarakat) sangat penting sekali dalam urusan publik policy.
Tanpa adanya partisipasi masyarakat dan rakyat banyak, maka publik policy kurang bermakna. Itulah sebabnya partisipasi merupakan lingkup kajian dalam publik policy.
Partisipasi dalam publik policy merupakan aktivitas yang dilakukan oleh warga Negara, baik secara pribadi ataupun berkelompok yang direncanakan untuk mempengaruhi pembuatan keputusan pemerintah.
Partisipasi dapat dilakukan baik terorganisasi atau spontanitas, baik terus menerus ataupun sporadis, baik secara damai ataupun kekerasan, baik legal maupun tidak legal, baik dilakukan secara tidak efektif ataupun efektif.
Dari sekian banyak macam partisipasi seperti itu, hanya partisipasi yang mencoba untuk mendukung kebijaksanaan dengan cara terorganisir yang dapat berhasil dan efektif.
Partisipasi adakalanya dilakukan secara mandiri dan adakalanya dilakukan dengan mobilisasi. Partisipasi mandiri, adalah suatu usaha peran serta yang dilakukan sendiri oleh pelakunya untuk mempengaruhi policy yang akan dibuat. Hal ini dapat dilakukan oleh rakyat dengan inisiatif sendiri mengajukan usul kepada pemerintah ataukah dengan mengirim delegasi, menulis di mass media, surat kabar, kampanye, pengajian dan sebagainya. Sedangkan Partisipasi Mobilisasi, adalah keikut sertaan rakyat dalam berperan serta untuk mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah dengan cara dimobilisasikan oleh orang lain.
Misalnya; keikutsertaan para ulama berperan serta dalam proses pelembagaan program Keluarga Berencana, para ulama tersebut dimobilisasikan oleh pihak pemerintah.
Itulah banyak cara yang dilakukan untuk berpartisipasi dalam mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah, dengan adanya kesempatan partisipasi, maka publik polcy akan menunjukkan esensinya dan keputusan-keputusan kebijaksanaan yang diambil akan mantap karena banyaknya dukungan informasi yang masuk.
Policy Frame Work b.
Kerangka kerja yang dimaksudkan adalah diharapkan dapat memberikan batas kajian yang dilakukan oleh Publik policy.
Kerangka ini diharapkan sebagai pola untuk menkonstruksikan faktor-faktor potensial dalam proses pembuatan policy (decision maker). Kerangka kerja public policy dibentuk oleh faktor-faktor sebagai berikut:
Tujuan, apa yang ingin dicapai dari policy yang akan dibuat, -
Nilai-nilai, nilai-nilai apa dan bagaimana nilai-nilai itu dapat -
dipertimbangkan dalam public policy.
Sumber-sumbar, sumber-sumber apakah yang tersedia dan -
dapat dimanfaatkan untuk mendukung policy.
Personil, siapakah yang terlibat sebagai pelaku-pelaku public -
policy dan apakah mereka mampu melaksanakannya.
Faktor lingkungan, apakah lingkungan yang mempengaruhi -
policy yang akan dibuat, mendukung, menolak atau pasif.
Strategy, bagaimana strategi yang semestinya dijalankan -
didalam membuat, melaksanakan dan mengevaluasi public policy.
Waktu, dan faktor-faktor lainnya juga merupakan faktor- -
faktor yang dapat dimasukkan dan menjadi pertimbangan dalam kerangka kerja policy.
Dengan kerangka kerja seperti ini, adalah menjadi salah satu ciklis (ciklist) yang sebagai dasar pengujian seacara empiris, membangun kerangka teori, dan memperlakukan masa berlakunya (validation). Selain itu dapat menempatkan diri pembuat policy lebih baik dari pada dalam keadaan untuk mencapai keadaan kacau tanpa adanya batas-batas yang jelas (unknown territory).
Policy Strategy c.
Suatu masalah sosial yang tampil atas permukaan public policy tidak lagi dipandang hanya berasl dari satu bidang kajian saja. Masalah tersebut saling kait mengait dengan bidang lainnya.
Oleh karena itu pembuat kebijaksanaan (Descision maker) sebelum menetapkan strategis yang akurat, maka ia harus secara jeli dan mampu mengamati masalah-masalah itu, dan mempertanyakan hal-hal sebagai berikut:
Apakah yang menjadi persoalan sebenarnya, sehingga darinya -
patut dibuat policynya.
Bagaimanakah persoalan dan kemungkinan pemecahannya -
berkaitan dengan persoalan dan pemecahannya nanti.
Apakah ada kepentingan-kepentingan gabungan yang bakal -
merasa puas karena terpenuhi dengan adanya policy tersebut.
Hal-hal manakah yang dapat mewujudkan kepentingan- -
kepentingan masyarakat banyak?
Sampai berapa jauhkah kompromi dimungkinkan untuk -
menjamin adanya keterbukaan pilihan-pilihan di masa depan atau memperhitungkan masa lalu dengan mengharapkan masa depan lebih cerah.
Pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut diatas dipertimbang- kan secermat mungkin untuk menetapkan strategi yang patut bagi public policy.
Public Interest d.
Teori public interest dalam suatu sistem demokrasi tidaklah hanya merupakan ihtiar dari kepentingan-kepentingan pribadi dan melibatkan kepentingan-kepentingan orang lain. Karena orang lain simpati. Akan tetapi public interest lebih merupakan suatu obyek kepentingan yang setiap orang merasa member andil bersama-sama dengan orang lain dalam suatu Negara tertentu.
Singkatnya, bahwa public interest itu hendaknya dirumuskan dengan memasukkan baik kepentingan-kepentingan pribadi dan kepentingan-kepentingan masyarakat umu dan juga hendaknya memberikan keseimbangan pada kepentingan pribadi yang terorganisasikan sebelum hal tersebut diputuskan sebagai kebijaksanaan pemerintah.
Unsur lain yang perlu dipertimbangkan dalam pengertian umum (public interest) ialah adanya kegiatan kerjasama. Kegiatan ini perlu dipertimbangkan karena kegiatan menunjukkan adanya masyarakat (community). Maka jelaslah bahwa teori kepentingan masyarakat (public interest) yang demokratis walaupun tidak seluruhnya sama, adalah sama dengan teori demokrasi.
Pelembagaan Kemampuan Public Policy e.
Beberapa studi yang dilakukan dibidang public policy, pernah menyatakan bahwa struktur lembaga-lembaga yang telah ada, tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan kontemporer yang timbul dan tidak mampu mengatasi halangan-halangan konstitusional untuk mendapatkan policy yang lebih baik.
Hasil studi tersebut memandang perlu adanya suatu lembaga riset policy yang bersifat independent, yang diharapkan mampu menggali implikasi jangka panjang dari sesuatu policy dengan cara menggambarkan pernyataan-pernyataan gambaran masa depan yang realistic, menciptakan unit-unit baru pembuat kebijaksanaan, merancang kembali organisasi yang mencapai program dan persoalan-persoalan pokok, penilaian dan evaluasi dari kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ada, perencanaan kebijaksanaan, sistem anggaran yang inivatif dan sistem sensorsif yang agak retak, dan lain sebagainya.
Dengan lembaga demikian sangat dibutuhkan untuk menutup kesenjangan antara teori dan praktek. Selain itu dapat pula dipergunakan sebagai reservoir untuk melatih analisis- analisis kebijaksanaan yang nantinya mampu merencanakan dan mengevaluasi policy, proses dan teknik pembuatan kebijaksanaan, dan kebutuhan-kebutuhan policy pada masyarakat.
Isi Policy Dan Evaluasinya f.
Pada awalnya studi public policy mempunyai isi, antara lain:
Penelitian mengenai permainan kekuasaan.
-
Partisipasi-partisipasi dalam public policy.
-
Pelaku-pelaku pembuat kebijaksanaan yang menjelaskan -
variabel-variabel policy.
Namun pada akhirnya/sekarang ini isi public policy banyak mengamati tentang hal-hal sebagai berikut:
Pelaku-pelaku public policy.
-
Hubungan-hubungan diantara mereka.
-
Strategi-strategi policy.
-
Hasil-hasil yang dapat mempengaruhi sistem sosial dan tujuan- -
tujuan yang akan dicapai.
Namun demikian halnya, baik isi public policy dahulu maupun yang sekarang, telah memberikan andilnya dalam men-