BAB IV BAB IV
5.2 Saran
5.2.1 Bagi subyek penelitian I
Diharapkan (Tn.T) dapat melakukan terapi kompres hangat secara rutin ketika nyeri sendi muncul dengan menambahkan frekuensi pemberian kompres hangat menjadi 2 kali sehari pagi dan malan hari dengan durasi 20 menit sehingga intensitas nyeri bisa berkurang secara maksimal. Rutin konsumsi obat yang telah diberikan dan kurangi konsumsi kacang-kacangan serta perhatikan kebutuhan nutrisi yang seharusnya dikonsumsi.
5.2.2 Bagi subyek penelitian II
Diharapkan (Ny.K) dapat melakukan terapi kompres hangat secara rutin ketika nyeri sendi muncul dengan menambahkan frekuensi pemberian kompres hangat menjadi 2 kali sehari pagi dan malam hari dengan durasi 20 menit sehingga intensitas nyeri bisa berkurang secara maksimal. Hindari makanan tinggi purin dan kurangi konsumsi jeroan serta perhatikan kebutuhan nutrisi yang seharusnya dikonsumsi, rutin lakukan pemeriksaan kadar asam urat secara berkala agar kondisi dapat terpantau dengan baik.
5.2.3 Bagi peneliti selanjutnya
Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan penelitian yang serupa dengan merubah variable dan sampel yang lebih besar dan beragam baik dari segi usia, jenis kelamin maupun latar belakang social ekonomi serta menambah durasi kompres air hangat sehingga hasil penelitian yang didapatkan jauh lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Alfiah, K. (2024). Asuhan Keperawatan pada Pasien Tn.“D” dengan Post Operasi Benigna Prostatic Hyperplasia (BPH) di Ruang Setyaki RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Aminah, E., Saputri, M. E., & Wowor, T. J. (2022). Efektivitas Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Pada Penderita Gout Arthritis Di Wilayah Kerja Puskesmas Pulosari Kabupaten Pandeglang Banten Tahun 2021. Jurnal Keperawatan, 10(1), 1.
Andriani, L. W., Wahyu Ningsih, B., & Merbawani, R. (2024). Pengaruh Senam Ergonomik Terhadap Kadar Asam Urat Pada Lansia Di Desa Pohjejer KecamatanGondangKab. Mojokerto.
Anisa, S. R. R. (2023). hubungan hiperurisemia dengan keluhan psikosomatik pada ibu menopause di dusun dongkelan tirtonirmolo kasihan bantul tahun
2022.
Assyakurrohim, D., Ikhram, D., Sirodj, R. A., & Afgani, M. W. (2023). Metode studi kasus dalam penelitian kualitatif. Jurnal Pendidikan Sains Dan Komputer, 3(01), 1–9.
Desreza, N., Azrah, K., Widiyawati, E., Handarista, S., Naja, V. H., Aprillia, N., Ulfa, M., Erna, E.,Hikmah, N., & Sinaga,S. (2023). pendidikankesehatan tentang penyakit gout di desa cot yang aceh besar. jurnal pengabdian kepada masyarakat bidangkesehatan, 5(2), 155–158.
Diky, P. H. (2024). pengaruh bekam basah terhadap penurunan skala nyeri leher belakangpada pasien hipertensi di pmk omah caringkebumen.
Dwi Dava Deswina, P. (2024). asuhan keperawatan gerontik pada pasien gout arthritisdengan masalah nyeri akut di uptpstwhusnul khotimah.
Aminah, E., Saputri, M. E., & Wowor, T. J. (2022). Efektivitas Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Pada Penderita Gout Arthritis Di Wilayah Kerja Puskesmas Pulosari Kabupaten Pandeglang Banten Tahun 2021. Jurnal Keperawatan, 10(1), 1.
Eka, W. A. N., & Maryatun, M. (2024). Penerapan Kompres Hangat Pada Lansia Pada Penurunan Nyeri Gout Arthithis di Puskesmas Sukoharjo. Vitalitas Medis:
Jurnal Kesehatan Dan Kedokteran, 1(4), 65–76.
Elon, Y. (2018). Tindakan kompres hangat pada temporal lobe dan abdomen terhadap reaksi suhu tubuh pasien dengan typhoid fever. Jurnal Skolastik Keperawatan, 4(1), 73–81.
Lestari, P. D., Prastiwi, S., & Septyasih, R. (n.d.). Implementasi Kompres Hangat Dalam Menurunkan Intensitas Nyeri Pada Lansia Dengan Arthritis Gout (Study Kasus).
Putri, P. A. S. (2024). IMPLEMENTASI TERAPI KOMPRES HANGAT DAUN KELOR PADA LANSIA UNTUK MENURUNKAN TINGKAT NYERI AKIBAT GOUT ARTHRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 1 DENPASAR SELATAN.
Hazin, F. (2023). penerapan kompres hangat pada lansia asam urat dengan masalah nyeri akut di balai pelayanan sosial tresna werdha abiyoso yogyakarta
Hidayat, T., & Indaryani, I. (2023). penerapan kompres hangat terhadap penurunan nyeri gout arthritis pada lansia di panti sosial tresna werdha kota bengkulu.
Hutasoit, M., Yati, D., Trisetiyaningsih, Y., & Utami, K. D. (2024). Skrining Masalah Kesehatan dan Penyuluhan Kesehatan Pada Lansia di Panti Wreda GKJ Gondokusuman Yogyakarta. journal of philanthropy: The Journal of CommunityService, 2(2), 43–48.
Khairina, R., & Septiany, M. (2024). Pengaruh Intervensi Massage Teknik Effleurage dengan Minyak Zaitun terhadap Penurunan Nyeri Gout Arthritis Ny. Z di Desa Sungai Rangas Hambuku. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara, 5(2), 2653–2659.
Laeli, H. U.,Yuanta,Y., & Firdaus,A. W. (2023). hubungan aktivitas fisik, asupan purin dan status gizi terhadap kadar asam urat pasien hiperurisemia. harena:jurnal gizi, 4(1), 30–39.
lestariningtyas, r. (2023). gambaran pola tidur pada lansia penderita hipertensi di posyandu lansia kelas hipertensi desa bendung.
Lisa Putri, M., Tri Wibowo, H., & Merbawani, R. (2024). asuhan keperawatan dengan masalah nyeri kronis pada penderita gout arthritis di upt puskesmas gempol kabupaten pasuruan.
Manasikana,A.A., & Gati, N. W. (2024). PenerapanTerapi Latihan Buerger Allen terhadap Tekanan Darah pada Lansia Penderita Hipertensi di Kelurahan
Joyotakan.An-Najat, 2(3), 294–326.
Mardillah, H., Mulfianda, R., & Desreza, N. (2023). Perbedaan Efektivitas Kompres Hangat Kayu Manis Dan Kompres Air Hangat Terhadap Skala Nyeri Pada Penderita Arthritis Gout. Journal of healthcare technology and medicine, 9(2), 866–874.
Marpaung, A. P., Gurning, C. I., & Siagian, L. O. (2023). hubungan lingkar pinggang dan indeks massa tubuh dengan derajat nyeri penderita low back pain
berdasarkan visual analog scale pada lansia di puskesmas helvetia. majalah ilmiah methoda, 13(3), 323–331.
Maulana, M. I. (2022). asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien fraktur ekstermitas bawah dalam mengatasi nyeri akut dengan tindakan pembidaian di rumah sakit umum banten
Muna, N. D., & Hartati, E. (2024). Hubungan Tingkat Nyeri Sendi dengan Aktivitas Fisik pada Lansia Gangguan Sendi. Journal of Telenursing (JOTING), 6(1), 200–
207.
Novitasari, R. F., & Tri Wibowo, H. (2023). Analisis Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Nyeri Akut Pada Kasus Gout Arthritis Dengan Penerapan Intervensi Napas Dalam Di Dusun Keraton Kabupaten Mojokerto.
Nuraeni, A., Darni, Z., Rahayu, H. S., Dewi, D. S., Nelwetis, N., Ngasirotun, N., Syukri, D. Z. W., Anugrah, R. T., Vrisilia, S. A., & Tyas, D. S. (2023). cegah penyakit gout arthritis melalui deteksi dini. bernas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 1280–1286.
Pardede, D. K. B., & Mochtar, F. (2024). Pain Assessment and Management in Critically Ill Patients Admitted to Intensive Care Unit. Jurnal Medika Hutama, 5(02 Januari), 3907–3918.
Purba, E., Apay, F., Swastika, I. K., Felle, Z. R., Rumaseb, E., Manangsang, F., Suriyani, S., Gentidatu, S., Suweni, K., & Sulistyani, S. (2023). Upaya Peningkatan Lansia Sehat dan Sejahtera Di Panti Werdha Tat Twam Asi Jayapura:Indonesia.
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia, 2(4), 498–503.
Purba, E., Lolowang, N. L., Enggune, M., & Sompotan, R. (2023). Pengetahuan Lansia Tentang Pentingnya Diet Hipertensi. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 9(1), 313–320.
Putri, P. A. S. (2024). implementasi terapi kompres hangat daun kelor pada lansia untuk menurunkan tingkat nyeri akibat gout arthritis di wilayah kerja puskesmas1 denpasar selatan.
Rejeki, S. (2020). Buku Ajar Manajemen Nyeri Dalam Proses Persalinan (Non Farmaka).
Safitri,A., Destoro, K. T., Kholifah, N., Damayanti, N. R., Yulianti, F. D., Wahyu, D. R., Wulandari, D., Ningsih, I. A., Aprilia, T., & Setyorini, n. f. (2024). terapi aktivitas kelompok (tak) estafet bola untuk meningkatkan konsentrasi dan mengurangi kecemasan pada lansia di ruang wisma jeruk panti werdha budi mulia 2. medic nutricia:jurnal ilmu kesehatan, 3(2), 53–64.
Santoso, A. H., Gunawan, S., Lo, G. C., Jaya, I. M. S. P., & Lumintang, V. G.
(2024). pencegahan hiperuresemia dan obesitas melalui skrining kadar asam urat dan status gizi pada dewasa usia produktif di jakarta barat. jurnal serina abdimas, 2(2), 536–544
Sari, N. N., Warni, H., Kurniasari, S., Herlina, H., & Agata, A. (2022). Upaya pengendalian kadar asam urat pada lansia melalui deteksi dini dan penyuluhan kesehatan. SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 6(4), 1666–1671.
Selviana, D. S., Ayubbana, S., & Pakarti, A. T. (2024). Implementasi Kompres Hangat Dengan Warm Water Zack (WWZ) Terhadap Nyeri Pasien Dispepsia.
Jurnal Cendikia Muda, 4(4), 518–525.
Selviani, N. (2024). Asuhan Keperawatan Keluarga Ny. M dan Ny. S pada Gerontik dengan Arthritis Gout yang Dilakukan Kompres Hangat Kayu Manisdi PuskesmasTalun Kabupaten Cirebon.
Sholihah, S. H., Retnowati, E., & Darto, D. (2024). Hubungan penggunaan obat double anti nyeri pada swamedikasi gout artrhitis terhadap skala nyeri.
Pharmasipha:Pharmaceutical Journal of Islamic Pharmacy, 8(1), 1–11.
Sumarsih, G., & Rahayu, A. (2023). Membangun Koneksi Spiritual dalam Kesepian:Petunjuk PraktisBagi Lansia.
Tambunan, M. S. F. (2024). Sikap Caring Perawat dalam Memberikan Tindakan Relaksasi Nafas Dalam untuk Mengurangi Kegawatan Nyeri Akut pada Pasien Appendicitis di IGD RS TK II Moh Ridwan Meuraksa Jakarta Timur.
Waruwu, M. (2023). Pendekatan penelitian pendidikan: Metode penelitian kualitatif, metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kombinasi (Mixed Method). Jurnal PendidikanTambusai, 7(1),2896–2910.
Widyastuti, A. P., Aziz, A., Hapsari, A. R., & Moebari, M. (2021). Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Gout Arthritis. Journal of Nursingand Health, 6(2), 84–94.
Wilantari, N. W. (2023). hubungan konsumsi purin, status gizi dan status hiperurisemia pada pasien rawatjalan di puskesmasi denpasar timur
Zahra, T. T. (2023). Studi Kasus Penurunan Kadar Asam Urat Pada Pasien Gout Arthritis Dengan Pemberian Jus Sirsak Ditatanan Keluarga. Repository Universitas Muhammadiyah Kendal
Lampiran 1 Surat Izin Pendahuluan
Lampiran 2 Lembar Konsultasi
Lampiran 3 Lembar konsultasi setelah pengambilan data
Lampiran 4 Lembar SOP Kompres Hangat
STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR
PROSEDUR KOMPRES HANGAT UNTUK MEREDAKAN NYERI ASAM URAT
Pengertian
Kompres hangat adalah teknik pengobatan yang menggunakan suhu hangat untuk meredakan rasa sakit, mengurangi peradangan, dan meningkatkan sirkulasi darah di area tubuh yang cedera atau sakit. Biasanya, kompres hangat dilakukan dengan cara membasahi kain atau handuk dengan air hangat, kemudian menempelkannya pada bagian tubuh yang membutuhkan perawatan.
Terapi ini sering digunakan untuk mengatasi nyeri otot, sendi, atau ketegangan otot.
Tujuan 1. Relaksasi Otot dan Sendi:
2. Meningkatkan Sirkulasi
3. Mengurangi Stres pada Area Tertentu
Persiapan Alat dan Bahan
Alat dan Bahan :
1. Air hangat 2 liter dengan kehangatan 40- 45ºC
2. Baskom besar 1 buah 3. Handuk kecil 2 buah 4. Perlak/Pengalas 1 buah Persiapan Pasien
dan Lingkungan
1. Menganjurkan klien duduk dengan nyaman 2. Menjelaskan tujuan dan langkah – langkah
prosedur
3. Mengatur pencahayaan
4. Mengatur suasana yang nyaman (tenang dan tidak berisik)
Pelaksanaan 1. Menganjurkan klien duduk di kursi dengan rileks dan bersandar
2. Rendam handuk pada air hangat dengan suhu 40-45ºC
3. Peras handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat
4. Letakkan perlak pada bagiann bawah sebelum melakukan pengompresan
5. Letakkan handuk pada bagian sendi yang terasa nyeri .
6. Proses pengompresan dilaksanakan selama
20 menit Hal – Hal yang
Perlu Diperhatikan
1. Tanya jawab pada responden apakah memiliki penyakit kontraindikasi seperti penyakit jantung dengan kondisi yang parah, tekanan darah yang rendah, diabetes mellitus..
Evaluasi
1. Menanyakan perasaan responden setelah melakukan terapi rendaman air hangat 2. Memberikan reinforcement positif terhadap
responden yang sudah membaik penurunan intensitas nyerinya.
3. Menganjurkan klien melakukan kompres air hangat selama satu minggu empat kali dan dilakukan dalam dua minggu kedepan Referensi (Putri, 2024)
Lampiran 5 Skala Numeric Rating Scale
Berikut adalah penjelasan tiap level pada skala 1-10:
Skala 1: Nyeri sangat ringan, hampir tidak terasa, seperti ketidak nyamanan ringan.
Skala 2: Nyeri ringan yang terasa.
Skala 3: Nyeri cukup terasa tetapi bisa diabaikan.
Skala 4: Nyeri terasa dan mengganggu.
Skala 5: Nyeri sedang,sulit diabaikan,mempengaruhi aktivitas.
Skala 6: Nyeri parah tetapi masih bisa melakukan aktivitas dengan usaha.
Skala 7: Nyeri sangat berat susah untuk fokus.
Skala 8: Nyeri sangat hebat, aktivitas sangat terbatas.
Skala 9: Nyeri nyaris tidak tertahan.
Skala 10: Nyeri parah yang mungkin dapat menyebabkan hilang kesadaran hingga histeris.
Lampiran 6 Lembar Observasi Kegiatan Subyek I
NO Hari/Tgl Kegiatan Evaluasi
1 Senin 17 Februari 2025
1.Kunjungan rumah subyek penelitian I
2.Menjelaskan apa yang akan dilakukan
3.Tanda tangan persetujuan
kegiatan pemberian kompres hangat 4.Melakukan kompres hangat 5.Mengobservasi skala nyeri
1.Subyek penelitian dan keluarga bersedia dilakukan penelitian mengenai tindakan pemberian kompres hangat 2.Subyek penelitian bersedia dilakukan penelitian 3.Skala nyeri 6 2 Selasa 18
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan 1 2.melakukan tindakan pemberian kompres hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1.Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitian kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 5 3 Rabu 19
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan 2 2.Melakukan pemberian terapi kompres hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1. Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitian kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 5
4 Kamis
20 Februari
1.Mengobservasi hasil pertemuan 3 2.Melakukan pemberian terapi kompres hangat
1.Ada kenaikan skala nyeri yang dirasakan
2025 3.Mengobservasi skala nyeri subyek penelitian 2.Subyek penelitian kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 6 5. Senin 24
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan sebelumnya
2.Melakukan pemberian terapi air hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1.Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitian kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 4 6 Selasa 25
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan sebelumnya
2.Melakukan pemberian terapi hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1.Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitian kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 4 7 Rabu 26
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan sebelumnya
2.Melakukan pemberian terapi kompres hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1.Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitian kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 3
8 Kamis 27 Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan sebelumnya
2.Mengobservasi skala nyeri 3.Berpamitan dan mengakhiri penelitian
1.Pada
pertemuan yang telah dilakukan subyek
penelitian mengalami adanya perubahan intensitas nyeri antara sesudah dan sebelum dilakukan terapi kompres hangat 2.Skala nyeri subyek diakhir penelitian adalah 3.Peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada subyek penelitian dan keluarga begitupun dengan subyek penelitian kepada peneliti
Lampiran 7 Hasil observasi kegiatan subyek II
NO Hari/Tgl Kegiatan Evaluasi
1 Senin 17 Februari 2025
1.Kunjungan rumah subyek penelitian II
2.Menjelaskan apa yang akan dilakukan
3.Tanda tangan persetujuan
kegiatan pemberian kompres hangat 4.Melakukan kompres hangat 5.Mengobservasi skala nyeri
1.Subyek penelitian dan keluarga bersedia dilakukan penelitian mengenai tindakan pemberian kompres hangat 2.Subyek penelitian bersedia dilakukan penelitian 3.Skala nyeri 6 2 Selasa 18
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan 1 2.melakukan tindakan pemberian kompres hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1.Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitian kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 5 3 Rabu 19
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan 2 2.Melakukan pemberian terapi kompres hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1.Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitisn kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 4
4 Kamis
20
1.Mengobservasi hasil pertemuan 3 2.Melakukan pemberian terapi
1.Ada sedikit perubahan skala
Februari 2025
kompres hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitisn kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 4 5. Senin 24
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan sebelumnya
2.Melakukan pemberian terapi air hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1.Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitisn kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 3 6 Selasa 25
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan sebelumnya
2.Melakukan pemberian terapi hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1.Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitisn kooperatif mengikuti tindakan kompres hangat 3.Skala nyeri 3 7 Rabu 26
Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan sebelumnya
2.Melakukan pemberian terapi kompres hangat
3.Mengobservasi skala nyeri
1.Ada sedikit perubahan skala nyeri yang dirasakan subyek penelitian 2.Subyek penelitisn kooperatif mengikuti tindakan
kompres hangat 3.Skala nyeri 3
8 Kamis
27 Februari 2025
1.Mengobservasi hasil pertemuan sebelumnya
2.Mengobservasi skala nyeri 3.Berpamitan dan mengakhiri penelitian
1.Pada
pertemuan yang telah dilakukan subyek
penelitian mengalami adanya perubahan intensitas nyeri antara sesudah dan sebelum dilakukan terapi kompres hangat 2.Skala nyeri subyek diakhir penelitian adalah 3.Peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada subyek penelitian dan keluarga begitupun dengan subyek penelitian kepada peneliti.
Lampiran 8 Lembar Pedoman Wawancara
Judul : Gambaran Implementasi Kompres Hangat Untuk Mengurangi Intensitas Nyeri Pada Lansia Dengan Kadar Asam Urat YangTinggi
Tanggal Wawancara : IdentitasResponden
1. Nama : 2. Umur : 3. Agama :
4. PendidikanTerakhir : 5. Pekerjaan :
6. Suku/Kebangsaan : Pertanyaan Peneliti
1. Apakah bapak/ibu memiliki riwayat penyakit dahulu?
2. Apakah bapak/ibu ada riwayat penyakit keluarga?
3. Apakah bapak/ibu memiliki riwayat penggunaan obat?
4. Apakah bapak/ibu mengonsumsi rokok?
5. Apakah bapak/ibu mengonsumsi alkohol?
6. Apakah bapak/ibu mengonsumsi kopi?
7. Apakah bapak/ibu mengonsumsi makanan tinggi purin?
8. Bagaimana rasa nyeri yang dirasakan bapak/ibu? Seperti ditusuk,tertekan/tertindih benda berat,diri seperti diremas, terbakar, nyeri berat,atau kaku?
9. Dimana Lokasi nyeri yang dirasakan?
10. Apakah nyeri menyebar ke daerah lainnya?
11. Seperti apa sakitnya (skala nyerinya)?
12. Bapak/ibu biasanya merasakan nyeri pada saat kapan?
13. Apakah bapak/ibu merasakan nyeri muncul pada saat malam hari?
14. Seberapa seringkeluhan nyeri terjadi?
15. Apakah bapak/ibu pernah melakukan kompreshangat untuk myeri sebelumnya?
Pewawancara
Gita Maylani Shandy
Lampiran 9 Inform Consent
Lampiran 10 Surat Izin Penelitian Institusi
Lampiran 11 Izin Penelitian Bangkesbang
Lampiran 12 Izin penelitian Dinkes
Lampiran 13 Surat Keterangan selesai penelitian
Lampiran 14 Lembar hasil wawancara subyek I
Judul : Gambaran Implementasi Kompres Hangat Untuk Mengurangi Intensitas Nyeri Pada Lansia Dengan Kadar Asam Urat Yang Tinggi
Tanggal Wawancara : 15 Februari 2025 Identitas Responden
1. Nama : Tn.T 2. Umur : 70 tahun 3. Agama : Islam
4. Pendidikan Terakhir : SMP 5. Pekerjaan : Petani
6. Suku/Kebangsaan : Jawa/Indonesia Pertanyaan Peneliti
1. Apakah bapak memiliki riwayat penyakit dahulu?
“ Alhamdulillah saya tidak ada Riwayat penyakit sebelumnya “ 2. Apakah bapak ada riwayat penyakit keluarga?
“ Riwayat penyakit keluarga juga tidak ada mbak “ 3. Apakah bapak memiliki riwayat penggunaan obat?
“ Gaada mbak saya ga pernah konsumsi obat apa-apa “ 4. Apakah bapak mengonsumsi rokok?
“ Tidak merokok mbak saya “
5. Apakah bapak mengonsumsi alkohol?
“ Waduh apalagi alkohol mbak, alhamdulillah engga “ 6. Apakah bapak mengonsumsi kopi?
“ Kalau kopi iya mbak saya konsumsi “
7. Apakah bapak/ibu mengonsumsi makanan tinggi purin?
“ Ya makanan yang sering itu sayur bayem sama tempe goreng itu mbak “
8. Bagaimana rasa nyeri yang dirasakan bapak? Seperti ditusuk, tertekan/tertindih benda berat,diri seperti diremas, terbakar, nyeri berat, atau kaku?
“ Kaya kebas gitu mbak geringginyen kaya ditusuk “ 9. Dimana Lokasi nyeri yang dirasakan?
“ Kalo saya ya mbak di bagian pergelangan sama ruas jari kaki “ 10. Apakah nyeri menyebar ke daerah lainnya?
“ Engga sih mbak menurut saya ya pergelangan sama ruas jari kaki itu
“
Lampiran 15 Hasil wawancara subyek II
Judul : Gambaran Implementasi Kompres Hangat Untuk Mengurangi Intensitas Nyeri Pada Lansia Dengan Kadar Asam Urat YangTinggi
Tanggal Wawancara : 15 Februari 2025 Identitas Responden
1. Nama : Ny.K 2. Umur : 75 tahun 3. Agama : Islam
4. PendidikanTerakhir : SD 5. Pekerjaan : Buruh Tani
6. Suku/Kebangsaan : Jawa/Indonesia Pertanyaan Peneliti
1. Apakah ibu memiliki riwayat penyakit dahulu?
“ Insyaallah gaada mbak “
2. Apakah ibu ada riwayat penyakit keluarga?
“ Gaada mbak “
3. Apakah ibu memiliki riwayat penggunaan obat?
“ Gaada mbak saya ga pernah konsumsi obat apa-apa “ 4. Apakah ibu mengonsumsi rokok?
“ Engga juga mbak gapernah saya merokok “ 5. Apakah ibu mengonsumsi alkohol?
“ Apalagi itu mbak ga pernah saya “ 6. Apakah ibu mengonsumsi kopi?
“ Kalau kopi iya mbak pagi biasanya “
7. Apakah ibu mengonsumsi makanan tinggi purin?
“ Saya lumayan sering mbak makan jeroan kaya ati ampela gitu orang itu favorite saya hehehe
8. Bagaimana rasa nyeri yang dirasakan ibu? Seperti ditusuk, tertekan/tertindih benda berat,diri seperti diremas,terbakar,nyeri berat,atau kaku?
“ Kaya geringgingen gitu mbak sama cekot-cekot “ 9. Dimana Lokasi nyeri yang dirasakan?
“ Dibagian pergelangan kaki mbak yang terasa banget “ 10. Apakah nyeri menyebar ke daerah lainnya?
“ Untuk saat ini yang saya rasakan ya di pergelangan ini si mbak “
Lampiran 16 Hasil Dokumentasi Penelitian
Mengukur Tanda-Tanda Vital subyek I
Memberikan Kompres Hangat Pada Sendi yang Terasa Nyeri pada kaki kanan
Memberikan Kompres Hangat Pada Sendi yang Terasa Nyeri pada kaki kiri
Mengukur Tanda-Tanda Vital subyek II
Mengukur Kadar Asam Urat
subyek II Memberikan Kompres Hangat
Pada Sendi yang Terasa Nyeri pada kaki