• Tidak ada hasil yang ditemukan

GITA MAYLANI SHANDY KARYA TULIS ILMIAH 2025

N/A
N/A
ara

Academic year: 2025

Membagikan "GITA MAYLANI SHANDY KARYA TULIS ILMIAH 2025"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN IMPLEMENTASI KOMPRES HANGAT TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA LANSIA DENGAN KADAR ASAM URAT YANG TINGGI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGPLOSO

KABUPATEN MALANG (STUDI KASUS)

LAPORAN TUGAS AKHIR

GITA MAYLANI SHANDY NIM.P17210221027

KEMENTRIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III KEPERAWATAN MALANG 2025

(2)

GAMBARAN IMPLEMENTASI KOMPRES HANGAT TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA LANSIA DENGAN KADAR ASAM URAT YANG TINGGI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGPLOSO

KABUPATEN MALANG

Laporan Tugas Akhir Berupa Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus Ini Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Malang Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes

Malang

GITA MAYLANI SHANDY NIM.P17210221027

(3)

KEMENTRIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III KEPERAWATAN MALANG 2025

(4)

LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Tugas Akhir berupa Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus berjudul

Gambaran Implementasi Kompres Hangat Terhadap Intensitas Nyeri Pada Lansia Dengan Kadar Asam Urat Yang Tinggi Di Wilayah Kerja Puskesmas Karangploso Kabupaten Malang “ yang ditulis oleh Gita Maylani Shandy NIM.P17210221027 telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan

Malang, 09 Mei 2025 Pembimbing

Dr. Roni Yuliwar, S.Kep, Ns, M. Ked NIP. 197007111994031002

(5)

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Tugas Akhir dengan judul “Gambaran Implementasi Kompres Hangat Terhadap Intensitas Nyeri Pada Lansia Dengan Kadar Asam Urat Yang Tinggi Di Wilyah Kerja Puskesmas Karangploso Kabupaten Malang telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 15 Mei 2025

Dewan Penguji Penguji Ketua

Joko Wiyono,S.Kp.,M.Kep.,Sp.KOM NIP. 196909021992031002

Penguji Anggota

Dr.Roni Yuliwar, S.Kep.,Ns.,M.Ked NIP. 197007111994031002

Mengetahui

Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Dr. Erlina Suci Astuti., S.Kep., Ns., M.Kep . NIP. 19760810200212200

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan baik. Karya tulis ini disusun untuk memenuhi syarat pengajuan gelar ahli madya keperawatan pada program studi D-III Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang dengan judul " Gambaran Implementasi Kompres Hangat Terhadap Intensitas Nyeri Pada Lansia Dengan Kadar Asam Urat Yang Tinggi Di Wilayah Kerja Puskesmas Karangploso Kabupaten Malang”

Atas terselesaikannya proposal ini, penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan inspirasi yang sangat berharga, selalu setia mendukung, mendoakan, dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. Moh Wildan, A.Per.Pen., M.Pd., selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang yang telah membantu dalam proses pembelajaran dan penyediaan sarana prasarana

2. Ibu Dr. Erlina Suci Astuti, S.Kep., Ns., M.Kep., selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang yang telah membantu dalam proses pembelajaran dan penyediaan sarana dan prasarana

3. Ibu Dyah Widodo S.Kp., M.Kes., Selaku ketua program studi D-III Keperawatan Malang Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang yang telah mengarahkan penulis selama mengikuti pembelajaran di program studi D- III Keperawatan Malang

4. Bapak Dr. Roni Yuliwar S.Kep. Ns., M.Ked selaku pembimbing pendamping yang selalu memberikan bimbingan, saran, dan semangat kepada penulis

(7)

5. Bapak Joko Wiyono, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom selaku dosen penguji yang telah memeberikan bimbingan, saran, dan dukungan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.

6. Kepada orang tua tercinta bapak Andik Purwanto dan ibu Muasih serta keluarga besar yang telah memberikan dukungan serta kasih sayang penuh kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

7. Kepada rekan-rekan penulis yang senantiasa mendengar dan memeberi semangat kepada penulis untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah ini

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan di masa yang akan datang. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menjadi sumbangsih dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Akhir kata, penulis berharap semoga karya tulis ini dapat memberikan kontribusi yang positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan menjadi bahan referensi yang bermanfaat

(8)

ABSTRAK

Gita Maylani Shandy (2025). Gambaran Implementasi Kompres Hangat Terhadap Intensitas Nyeri Pada Lansia Dengan Kadar Asam Urat Yang Tinggi Di Wilayah Kerja Puskesmas Karangploso Kabupaten Malang. Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus, Program Studi D-III Keperawatan Malang, Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Pembimbing:

Dr.RoniYuliwar.,S.Kep..,Ns.,M.Ked

Peningkatan kadar asam urat yang tinggi pada lansia kerap menyebabkan nyeri sendi yang mengganggu kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk

menggambarkan implementasi kompres hangat sebagai terapi non-farmakologis dalam mengurangi intensitas nyeri pada lansia penderita gout arthritis. Penelitian ini penting karena banyak lansia yang belum memahami manfaat terapi

sederhana ini sebagai alternatif pendamping obat. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif kualitatif dengan dua subyek penelitian berusia 70 dan 75 tahun yang mengalami nyeri akibat kadar asam urat tinggi. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pengukuran skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah terapi kompres hangat yang dilakukan selama dua minggu (8 kali pertemuan). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skala nyeri yang pada kedua subyek, dari skala nyeri sedang menuju ringan. Kompres hangat terbukti meningkatkan sirkulasi darah,

merelaksasi otot, dan mengurangi transmisi impuls nyeri ke otak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terapi kompres hangat efektif sebagai upaya keperawatan komplementer untuk menurunkan intensitas nyeri lansia dengan kadar asam urat tinggi. Penelitian ini memberikan kontribusi pada

pengembangan praktik keperawatan komunitas dan menyarankan penelitian lebih lanjut dengan jumlah subyek yang lebih besar untuk memperkuat temuan.

Kata kunci: Kompres hangat, nyeri, lansia, gout arthritis, asam urat

(9)

vi

ABSTRACT

Gita Maylani Shandy (2025). Description of the Implementation of Warm Compresses on Pain Intensity in the Elderly with High Uric Acid Levels in the Karangploso Health Center Work Area, Malang Regency. Scientific Paper Case Study, D-III Nursing Study Program Malang, Nursing Department, Health Polytechnic, Ministry of Health, Malang. Advisor: Dr. Roni Yuliwar., S.Kep., Ns., M.Ked

High uric acid levels in the elderly often cause joint pain that interferes with quality of life. This study aims to describe the implementation of warm compresses as a non-pharmacological therapy in reducing pain intensity in elderly people with gout arthritis. This study is important because many elderly people do not understand the benefits of this simple therapy as an alternative to drugs. The method used is a qualitative descriptive case study with two research subjects aged 70 and 75 years who experienced pain due to high uric acid levels. Data were collected through interviews, observations, and pain scale measurements using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after warm compress therapy which was carried out for two weeks (8 meetings). The results showed a significant decrease in pain scale in both subjects, from moderate to mild pain scale. Warm compresses have been shown to increase blood circulation, relax muscles, and reduce the transmission of pain impulses to the brain. The conclusion of this study is that warm compress therapy is effective as a complementary nursing effort to reduce pain intensity in the elderly with high uric acid levels. This study contributes to the development of community nursing practice and suggests further research with a larger number of subjects to strengthen the findings.

Keywords: Warm compress, pain, elderly, gout arthritis, uric acid

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN ……….. i

HALAMAN SAMPUL DALAM ……… ii

HALAMAN PERSETUJUAN……….....iii

LEMBAR PENGESAHAN………...v

KATA PENGANTAR………v

ABSTRAK………....vii

DAFTAR ISI………...viii

DAFTAR TABEL………...ix

DAFTAR GAMBAR……….x

DAFTAR LAMPIRAN……….xi

DAFTAR GRAFIK………..xii

BAB I PENDAHULUAN………...1

1.1 Latar Belakang Masalah……….1

1.2 Rumusan Masalah………..5

1.3 Tujuan………5

1.3.1 Tujuan Umum………...5

1.3.2 Tujuan Khusus………5

1.4 Manfaat……….6

1.4.1 Manfaat Teoritis……….………..………..6

1.4.2 Manfaat Praktis………...…6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………...7

1.1 Kajian Lansia……….7

1.1.1 Pengertian Lansia………7

1.1.2 Batasan Usia Lansia………7

1.1.3 Masalah-Masalah Kesehatan Pada Lansia………..8

2.1 Kajian Tentang Gout Arthritis……….10

2.1.1 Pengertian Gout Arthritis………...10

2.1.2 Penyebab Gout Arthritis………10

2.1.3 Gejala Gout Arthritis……….11

2.1.4 Patofisiologi Gout Arthritis………...11

2.1.5 Bagan Patofisiologi Gout Arthritis………13

2.1.6 Penatalaksanaan Gout Arthritis……….14

2.3 Kajian Tentang Hiperurisemia………15

2.3.1 Pengertian Hiperurisemia………..15

2.3.2 Penyebab Hiperurisemia………15

2.3.3 Batasan Kadar Hiperurisemia………15

2.3.4 Masalah Kesehatan Yang Muncul Akibat Hiperurisemia……….16

2.4 Kajian Tentang Kompres Hangat………16

2.4.1 Pengertian Kompres Hangat………..16

2.4.2 Tujuan Kompres Hangat………17

2.4.3 SOP Kompres Hangat………18

(11)

2.4.4 Mekanisme Penurunan Nyeri Setelah Kompres Hangat………19

2.4.5 Bagan Mekanisme Penurunan Nyeri Dengan Kompres Hangat………20

2.4.6 Hasil Penelitian Efek Kompres Hangat……….21

2.5 Kajian Tentang Nyeri………..22

2.5.1 Pengertian Nyeri………22

2.5.2 Klasifikasi Nyeri………22

2.5.3 Pengukuran Skala Nyeri………24

2.5.4 Pengkajian Nyeri………27

BAB III METODE STUDI KASUS………. ………...29

3.1 Desain Studi Kasus………..29

3.2 Subyek Penelitian………30

3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian………...30

3.3.1 Lokasi Penelitian………30

3.3.2 Waktu Penelitian………30

3.4 Fokus Studi………...31

3.5 Definisi Operasional……….31

3.6 Instrumen Penelitian……….31

3.7 Langkah-Langkah Pengumpulan Data……….32

3.7.1 Tahap Persiapan……….32

3.7.2 Tahap Pelaksanaan……….32

3.8 Pengolahan Data………...33

3.9 Penyajian Data……….33

3.10 Etika Penelitian………..34

BAB IV HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN……….36

4.1 Hasil Studi Kasus………36

4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian……….36

4.1.2 Karakteristik Subyek Penelitian………37

4.1.3 Hasil Fokus Studi………..39

4.2 Pembahasan……….58

4.3 Keterbatasan Studi Kasus………....60

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………..61

5.1 Kesimpulan………..61

5.2 Saran………61

5.2.1 Bagi Subyek Penelitian I………...61

5.2.2 Bagi Subyek Penelitian II……….……….61

5.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya……….…..61

DAFTAR PUSTAKA………...63

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Batasan Kadar Hiperurisemia...16 Tabel 2. 2 Mekanisme Penurunan Nyeri Dengan Kompres Hangat...20 Tabel 3. 1 Definisi

Operasional……….3 1

(13)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.2 Patofisiologi GoutArthritis(Dwi Dava Deswina, 2024)... 13

Gambar 2.2 VisualAnalogScale(Marpaunget al., 2023)...23

Gambar 3.2 Verbal RatingScale(Tambunan, 2024)... 24

Gambar 4.2 Numeric RatingScale(Pardede & Mochtar, 2024)...25

Gambar 5.2 WongBaker Pain RatingScale(Sholihah et al., 2024)...25

Gambar 4 1 pengukuran tekanan darah subyek I Februari 2025...42

Gambar 4 2 Implementasi kompres hangat subyek I Februari 2025...45

Gambar 4 3 Melakukan cek tekanan darah Subyek II Februari 2025...53 Gambar 4 4 Melakukan implementasi kompres hangat Subyek II Februari 2025.56

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Izin Pendahuluan...70

Lampiran 2 Lembar Konsultasi...71

Lampiran 3 Lembar konsultasi setelah pengambilan dat...72

Lampiran 4 Lembar SOP Kompres Hangat...73

Lampiran 5 Skala Numeric Rating Scale...75

Lampiran 6 Lembar Observasi Kegiatan Subyek I...76

Lampiran 7 Hasil observasi kegiatan subyek II...79

Lampiran 8 Lembar Pedoman Wawancara...82

Lampiran 9 Inform Consent...84

Lampiran 10 Surat Izin Penelitian Institusi...86

Lampiran 11 Izin Penelitian Bangkesbang...87

Lampiran 12 Izin penelitian Dinkes...88

Lampiran 13 Surat Keterangan selesai penelitian...89

Lampiran 14 Lembar hasil wawancara subyek I...90

Lampiran 15 Hasil wawancara subyek II...92

Lampiran 16 Hasil Dokumentasi Penelitian...94

(15)

xi

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1 Penurunan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan kompres hangat... 50 Grafik 2 Penurunan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan kompres hangat... 58

(16)

DAFTAR DIAGRAM

Diagaram Batang 1.4 Perbedaan Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Dilakukan Kompres Hangat...59

(17)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Lansia atau lanjut usia adalah masa dimana seorang individu yang usia 60 tahun keatas akan melewati proses penurunan fungsi organ dan penurunan perkembangan fisik yang tidak dapat dihindari. Menjadi tua merupakan suatu alamiah yang dilalui oleh setiap manusia dalam hidupnya. Menua atau proses penuaan adalah proses sepanjang hidup tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. (Manasikana & Gati, 2024)

Indonesia menjadi salah satu negara dengan total lansia terbanyak.Tercatat bahwa jumlah lanjut usia pada tahun 2022 hingga 10,48% dari total penduduk Indonesia. Lansia sangat rentan mengalami penyakit degeneratif serta penurunan kualitas hidup yang dapat dilihat dari penurunan kemampuan untuk melakukan aktifitas secara mandiri seperti mandi, memakai pakaian dan beraktifitas sosial di masyarakat.

Adanya perubahan fisik dan biologis pada lansia akan memberikan dampak pada psikologis seperti stres, depresi, gangguan tidur hingga berlanjut pada peningkatan kolestrol, terjadinya asam urat karna pola makan yang tidak baik kondisi tersebut akan mengganggu aktifitas bersama keluarga serta hubungan sosial di masyarakat. Maka dari itu dibutuhkan upaya penanganan yang komprehensif dan berkesinambungan agar lansia mempunyai kualitas hidup yang

(18)

lebih baik dan peningkatan status kesehatan melalui kegiatan promotive, preventif dalam menunjang kesejahteraan lansia (Purba,Apay, et al., 2023)

Kadar asam urat ditandai oleh adanya kesimbangan antara produksi dan eksresinya. Apabila produksi asam urat dalam tubuh meningkat, akan tetapi pengeluaran melalui ginjal menurun akibat menurunnya fungsi ginjal, maka terjadilah kondisi hiperurisemia atau peningkatan asam urat di dalam darah. Asam urat yang tinggi di dalam darah dapat menyebkan kristal di sendi-sendi terutama sendi perifer yang dapat menimbulkan keluhan seperti bengkak, nyeri dan terasa panas serta kemerahan. Maka dari itu diperlukan adanya skrining kesehatan untuk pemantauan kesehatan lansia, skrining bisa melalui pemeriksaan tekanan darah, asam urat, gula darah dan juga pemeriksaan kolesterol. Jika didapatkan hasil yang melebihi ambang batas normal, bisa dijadikan sebagai peringatan awal untuk perlunya perubahan gaya hidup. (Hutasoit et al., 2024)

Gout (arthritis gout) merupakan penyakit sendi yang disebabkan oleh tingginya asam urat di dalam darah. Kadar asam urat yang tinggi di dalam darah melebihi batas normal menyebabkan penumpukan asam urat di dalam persendian serta organ tubuh lainnya. Penyebab gout arthritis antara lain karena faktor genetik, gangguan monogenik yang menimbulkan kelebihan produksi asam urat, melalui kecacatan enzim dalam memetabolisme purin. (Desrezaet al., 2023)

Nyeri asam urat timbul secara tiba-tiba dengan sensasi terbakar, bengkak kemerahan, hangat dan kaku pada sendi yang terkena. Pada umumnya, asam urat menyerang jari terlebih dahulu akan tetapi tidak menutup kemungkinan dapat terjadi dimanapun. Nyeri yang biasanya terjadi karena adanya kristal Monosodium Urat Monohidrat dalam sendi yang menggerakan sendi, sehingga

(19)

menyebabkan otot terasa robek dan meradang pada jaringan sekitarnya, ini menyebabkan terjadinya gesekan tipis dari selimut yang menimbulkan nyeri yang luar biasa menyakitkan. (Hazin, 2023)

Prevalensi global gout berkisar antara 0,6% hingga 10%, sedangkan insidennya berkisar antara 0,3 hingga 6 kasus pada setiap 1.000 penduduk per tahun. Negara-negara maju dilaporkan memiliki beban penyakit gout yang tinggi dengan peningkatan populasi lansia.(Santoso et al., 2024)

Prevalensi penyakit sendi menurut diagnosis dokter pada usia 65-74 tahun sebesar 15,02% dan usia 75+ sebesar 13,79%. Prevalensi gout berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 11,9% serta prevalensi gout berdasarkan diagnosis atau gejala sebesar 24,7%, dengan data tertinggi pada usia 75 tahun (Khairina & Septiany, 2024)

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 09 Desember-20 Desember 2024 diperoleh informasi dari pihak puskesmas Karangploso bahwa data kunjungan masyarakat di puskesmas Karangploso dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2024 tercatat bahwa ada 143 orang yang menderita gout arthritis dengan peningkatan tertinggi terjadi pada bulan November yang berjumlah 29 orang.

Hiperiresumia berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler sering ditemui pada penderita hipertensi,penyakit ginjal,sinfrom metabolik.Orang yang pertama meneliti mengenai hipertensi esensial mengemukakan bahwa hipertensi sering berhubungan dengan gout, tekanan darah arteri yang tinggi disebabkan oleh gout atau substansitoksik dalam darah yang meningkatkan tonus pembuluh darah.

(20)

Penanganan nyeri pada asam urat difokuskan pada bagaimana mengurangi rasa sakit, mengurangi kerusakan sendi serta bagaimana mempertahankan dan memperbaiki kualitas hidup. (Aminah et al., 2022). Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi sensasi nyeri secara non farmakologi yaitu pemberian kompres hangat. Pemberian kompres hangat adalah memberikan rasa hangat dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukannya. Penurunan tingkat nyeri yang terjadi setelah diberikan terapi kompres hangat sesuai dengan mekanisme Gate Control Theory oleh Melzack dan Wall (1965), yang menyatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat pertahanan ditutup. Upaya menutup pertahanan terjadi saat dilakukan kompres hangat yang dapat menghambat impuls nyeri yang akan disampaikan ke otak untuk dipersepsikan. Kompres hangat dapat membantu mengurangi nyeri melalui beberapa mekanisme fisiologis yang terjadi di tubuh. Kompres hangat membantu meredakan nyeri dengan meningkatkan aliran darah ke area yang terkena, yang dapat mengurangi kekakuan otot dan mempercepat proses penyembuhan. Peningkatan suhu juga dapat menenangkan saraf yang teriritasi, mengurangi transmisi sinyal nyeri ke otak, dan mempromosikan relaksasi otot.

Berdasarkan hasil wawancara oleh salah satu lansia yang menderita gout arthritis diperoleh informasi bahwa lansia yang menderita gout arthtritis cenderung bergantung dan hanya mengonsumsi obat yang diperoleh dari pihak puskesmas ataupun obat yang diperjual belikan secara bebas di luar. Lansia belum paham bahwa dengan menerapkan terapi kompres air hangat secara rutin dapat

(21)

membantu menurunkan intensitas nyeri yang disebabkan oleh kadar asam urat yang tinggi

Berdasarkan paparan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang gambaran implementasi kompres hangat terhadap intensitas nyeri pada lansia dengan kadar asam urat yang tinggi yang bertujuan untuk membuka wawasan subyek penelitian (lansia) bahwa dengan bantuan terapi komplementer kompres hangat ini dapat membantu menurunkan intensitas nyeri karena kadar asam urat yang tinggi.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana gambaran implementasi kompres hangat untuk mengurangi intensitas nyeri pada lansia dengan kadarasam urat yang tinggi?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk menguraikan bagaimana gambaran kompres hangat terhadap nyeri pada subyek penelitian (lansia) dengan kadar asam urat yang tinggi di wilayah kerja puskesmas Karangploso kabupaten Malang.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran implementasi kompres hangat pada subyek penelitian dengan kadar asam, urat yang tinggi di wilayah kerja puskesmas Karangploso kabupaten Malang.

(22)

2. Mengetahui perubahan intensitas nyeri pada subyek penelitian dengan kadar asam urat yang tinggi di wilayah kerja puskesmas Karangploso kabupaten Malang.

1.4 Manfaat

1.4.1 ManfaatTeoritis

Manfaat teoritis dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk menguraikan efektifitas terapi non-farmakologis mengenai wawasan kompres hangat sebagai alternatif atau tambahan dalam mengelola nyeri serta peradangan pada subyek penelitian (lansia) dengan kadar asam urat yang tinggi.

1.4.2 Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penulisan karya tulis ilmiah bagi puskesmas adalah sebagai referensi dengan diberikannya terapi komplementer kompres hangat secara rutin dan berkesinambungan dapat membantu menurunkan intensitas nyeri pada subyek penelitian (lansia dengan kadar asam urat yang tinggi

(23)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Kajian Lansia 1.1.1 Pengertian Lansia

Lanjut usia merupakan seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas.

Menua adalah tahap lanjut dari sebuah proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradabtasi dengan lingkungan. Umumnya lansia mengalami tanda-tanda penurunan fungsi-fungsi biologis, psikologis, sosial serta ekonomi. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah

memasuki tahap akhir dari fase kehidupan yang terjadi secara alamiah dan tidak dapat dihindari (Sumarsih& Rahayu, 2023)

1.1.2 Batasan Usia Lansia

Lanjut usia mempunyai batasan usia yaitu seseorang yang usianya lebih dari 60 tahun. Tahapan yang dilalui lansia merupakan tahap terakhir yaitu perkembangan psikososial dengan tercapainya integritas diri yang sempurna.

Tahapan menjadi lansia umumnya mengacu pada fase-fase dalam proses penuaan, baik secara fisik maupun psikologis.

1. Pralansia (Usia 45-60 tahun)

Pada tahap ini, seseorang mulai merasakan perubahan fisik seperti penurunan metabolisme, penurunan kekuatan fisik, atau mulai menghadapi masalah kesehatan ringan seperti hipertensi atau masalah sendi. Namun, secara umum, masih berada dalam fase produktif dan aktif.

(24)

2. Usia Lansia Muda (60-75 tahun)

Pada tahap ini lansia mulai lebih banyak beristirahat. Tanda-tanda penuaan seperti penurunan daya ingat, kekuatan tubuh, dan mobilitas bisa mulaiterasa

3. Usia LansiaTengah (75-85 tahun)

Pada fase ini, banyak lansia yang mengalami penurunan yang lebih signifikan dalam hal kesehatan fisik, seperti penurunan fungsi indera (pendengaran, penglihatan), mobilitas yang terbatas, atau masalah kesehatan kronis.

4. Usia Lansia Tua (85 tahun ke atas)

Lansia pada usia ini seringkali menghadapi tantangan fisik dan mental yang lebih besar, seperti ketergantungan pada perawatan orang lain atau fasilitas kesehatan. (Safitri et al., 2024)

1.1.3 Masalah-Masalah Kesehatan Pada Lansia 1. Hipertensi

Berdasarkan data Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Maret 2019, Sulawesi Utara berada pada peringkat kelima yang memiliki struktur penduduk tua dengan populasi lansia mencapai 11,15% (Badan Pusat Statistik, 2019). Fungsi fisiologis, akan mengalami penurunan akibat bertambahnya umur melalui proses penuaan sehingga penyakit tidak menular banyak muncul pada lanjut usia. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 Kementerian Kesehatan RI yang dikutip dalam Info Data dan Informasi (DATIN) Lansia 2016, Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang paling banyak dialami oleh lansia di Indonesia. sebanyak

(25)

57,6% lansia yang berusia 65-74 tahun dan 63.8% lansia yang berusia diatas 75 tahun adalah penderita hipertensi. (Purba, Lolowang, et al.,2023)

2. Gangguan PolaTidur

Gangguan pola tidur dapat terjadi pada lansia karena seiring bertambahnya usia perubahan dalam pola tidur terjadi secara alami, seperti penurunan produksi melatonin (hormon yang mengatur tidur) serta perubahan pada siklus tidur. Pola tidur yang tidak adekuat serta kualitas tidur yang buruk akan mengakibatkan gangguan keseimbangan fisiologis serta psikologis dalam diri seseorang. Lansia membutuhkan pola tidur yang baik untuk meningkatkan kesehatan dan memulihkan kondisi dari sakit.

Pola tidur yang buruk bisa menyebabkan gangguan-gangguan seperti kencendrungan lebih rentan terhadap penyakit, pelupa, konfusi, disorientasi,serta menurunnya kemampuan untuk konsentrasi. Hal ini akan berdampak buruk terhadap kualitas hidup lansia. Oleh karena itu masalah kualitas tidur pada lansia harusditangani (Lestariningtyas, 2023)

3. Kelemahan Fisik

Aktivitas fisik merupakan gerakan tubuh yang dapat meningkatkan pengeluaran tenaga ataupun energi dimana berfungsi untuk pemeliharaan kesehatan fisik, mental, mempertahankan kualitas hidup supaya sehat dan bugar. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi secara berlebih dapat memberikan ketegangan atau beban berlebih pada sendi dan meningkatkan risiko cedera. Seiring bertambahnya usia,tulang rawan yang melapisi sendi mulai mengalami penurunan kualitas dan ketebalan, hal ini menyebabkan

(26)

gesekan antar tulang meningkat yang pada akhirnya menimbulkan peradangan dan rasa sakit. Gangguan sendi atau penyakit sendi adalah gangguan nyeri pada persendian yang disertai kekakuan, merah, dan pembengkakan yang bukan disebabkan oleh benturan maupun kecelakaan (Badan Litbang Kesehatan, 2019). Radang sendi merupakan penyakit yang menyerang sendi dan struktur jaringan penunjang sekitarnya hingga timbul rasa nyeri saat beraktivitas maupun tidak beraktivitas. Gangguan ini sering dialami pada kelompok pra-lansia atau usia setelah 45 tahun. (Muna &

Hartati, 2024)

2.1 Kajian Tentang Gout Arthritis 2.1.1 Pengertian Gout Arthritis

Gout arthritis merupakan jenis radang sendi yang disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat dalam sendi. Asam urat atau yang biasa disebut Gout merupakan sisa metabolisme zat purin yang muncul dari makanan yang kita konsumsi. Asam urat merupakan hasil dari pemecahan sel yang ada di dalam darah, karena tubuh secara berhubungan memecah dan membentuk sel yang baru. Oleh karena itu penyakit gout menyerang sendi (Novitasari &TriWibowo, 2023).

2.1.2 Penyebab Gout Arthritis

Adanya gangguan metabolik yang terjadi dengan manifestasi arthritis inflamasi akut yang disebabkan oleh kristalisasi asam urat dalam sendi. Gout terjadi sebagai respons terhadap produksi secara berlebihan atau ekresi asam urat yang kurang sehingga mempengaruhi kadar asam urat dalam darah. Ini ditandai dengan penumpukan kristal monosodium asam urat di dalam ataupun di sekitar

(27)

persendian. Gout arthritis disebabkan antara lain karena faktor genetik, gangguan monogenik yang menimbulkan kelebihan produksi asam urat, melalui kecacatan enzim dalam memetabolisme purin, gaya hidup dengan mengonsumsi daging terutama daging merah, makanan laut dan alkohol (Nuraeni et al., 2023).

2.1.3 Gejala Klinis Gout Arthtritis

Setiap orang secara alami memiliki asam urat, tetapi tidak boleh melebihi kadar normal. Kadar asam urat setiap orang berbeda dengan kadar asam urat normal, yaitu 3,5-7 mg/dl untuk pria dan 2,6-6 mg/dl untuk wanita. Berikut tanda d an gejala asam urat menurut (Hermayudi, 2017):

1. Nyeri sendi, nyeri, kesemutan, bahkan bengkak dan kemerahan (inflamasi).

2. Biasanya nyeri sendi dirasakan pada pagi hari (baru bangun tidur) atau pada malam hari.

3. Nyeri sendi terjadi berulangkali.

4. Persendian yang umum adalah jari kaki, jari tangan, lutut, tumit, pergelangan tangan dan siku (Zahra, 2023)

2.1.4 Patofisiologi Gout Arthtritis (Lisa Putri et al., 2024)

Gangguan metabolisme purin dalam tubuh, bahan yang mengandung asam urat tinggi masuk kedalam tubuh dan ketidakkuatan pengeluaran asam urat menyebabkan penumpukan asam urat berlebih pada plasma darah (hiperurisemia), sehingga terjadi penumpukan kristal asam urat dalam tubuh, sehingga timbul iritasilokal dan respon inflamasi.

Ada berbagai macam faktor yang menjadi peran penting dalam terjadinya gout arthritis. Salah satu contohnya yaitu konsentrasi asam urat dalam darah. Gout

(28)

arthritis terjadi dalam beberapa tahap secara beruntun yaitu di mulai dari terjadinya pengendapan kristal monosodium urat dapat terjadi pada jaringan apabila dalam plasma konsentrasi berjumlah 9 mg/dl.

Pada tulang rawan, sonovium, jaringan para artikular seperti bursa, tendon serta membran akan terjadi pengendapan. Kristal urat yang bermuatan negatif akan terbungkus berbagai protein. Membungkus dengan IgG akan merangsang neutrofil untuk memberikan respon pembentukan kristal. Berikutnya akan terjadi fagositosiskristal oleh leukosit.

Sesudah selaput protein dirusak, menyebabkan terikatnya hidrogen dan permukaan Kristal membran lisosom. Sehingga menimbulkan rusaknya membran, enzim-enzim menjadi terlepas serta menyebabkan rusaknya jaringan akibat dari oksidase radikal yang ada pada sitoplasma. Setelah terjadi kerusakan sel,enzimenzim lisosom di lepaskan ke dalam cairan sinovial, yang menyebabkan kenaikan intensitas inflamasi dan kerusakan jaringan

(29)

2.1.5 Bagan Patofisiologi Gout

Diet tinggi purin Peningkatan

pemecahan sel Asam urat dalam serum

Katabolime purin Asam urat dalam sel keluar

Tidak diekresi melalui urin

Asam urat dalam serum meningkat (hiperurisernia)

Kemampuan ekresi asam urat terganggu/menuru

n

Penyakit ginjal (Glomerulonephrit

is dan gagal ginjal)

Hipersaturasi dalam plasma dan

garam urat di cairan tubiuh

Peningkatan asam laktat sebagai produk samping

metabolism

Konsumsi alkohol

Terbentuk kristal monosodium urat

Dibungkus oleh berbagai rotein (termasuk igG)

Merangsang neutrofil

Di jaringan lunak dan persendian

Terjadi fagositosis kristal oleh

leukosit

Terbentuk fagolisosom

Merusak selaput protein Penumpukan dan

pengendapan MSU

Terbentuk thopus Respon inflamasi meningkat

Terjadi ikatan hydrogen antara permukaan kristal dengan membrane

lisosom

Hipertermis (D.

0130)

Pembesaran dan penonjolan sendi

Membrane lisosom robek, terjadi pelepasan

enzyme dan oksida radikal

(30)

Gambar 1.2 Patofisiologi Gout Arthritis(Dwi Dava Deswina, 2024)

2.1.6 Penatalaksanaan Gout Arthtritis (Mardillah et al., 2023)

Penataan gout arthritis dalam kesehatan fokus pada proses yang melibatkan pengelolaan serta pengawasan terhadap penggunaan obat-obatan untuk memastikan bahwa pengobatan yang diberikan kepada pasien tepat, aman, dan efektif. Penataan ini mencakup berbagai aspek, antaralain:

1. Pemilihan Obat yangTepat

Pemberian NSAID (Non-Steroidal Anti-Inflammtory) membantu mengurangi rasa sakit selama serangan gout terjadi (ibuprofen,naproxen), Allopurinol membantu menghambat enzim xantin oksidase digunakan untuk mencegah serangan gout dan menurunkankadar asam urat.

2. Pemberian Obat yang Tepat:

Menentukan dosis obat, dosis obat harus disesuaikan dengan kebutuhan subyek penelitian, tergantung pada berat badan, serta riwayat medis yang dimiliki. Pertimbangkan kontraindikasi dan interaksi obat karena

Nyeri akut (D.

0077) Deformitas sendi Peningkatan

kerusakan jaringan

Terjadi saat

malam hari Kontraktur sendi Kelakuan sendi

Gangguan pola tidur (D.0055)

Fibrosis dan/atau arkilosisi tulang

Gangguan mobilitas fisik

(D.0054)

Gangguan rasa nyaman (D.0074)

Gangguan integritas jaringan

(D.0129)

(31)

beberapa subyek penelitian mungkin memiliki kondisi medis yang mempengaruhin pemilihan obat seperti gangguan ginjal, penyakit jantung atau yang lainnya.

Untuk mengurangi nyeri, terapi komplementer kompres air hangat disarankan (Literatur & Keperawatan, 2021). Selain itu, para peneliti sebelumnya telah memberikan kompres hangat pada penderita arthritis gout.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala nyeri sebelum kompres hangat adalah 5,00, dan untuk skala nyeri setelah kompres hangat adalah 2,30. Oleh karena itu, terdapat hubungan antara pemberian kompres hangat dengan skala nyeri pada penderita arthritis gout.

2.3 Kajian Tentang Hiperurisemia 2.3.1 Pengertian Hiperurisemia

Hiperurisemia adalah keadaan meningkatnya kadar asam urat dalam darah.

Hiperurisemia dapat terjadi jika kadar asam urat dalam darah melebihi batas normal. Asam urat merupakan hasil akhir dari metabolisme purin. Penumpukan asam urat akan menimbulkan radang disertai pembengkakan sendi (umumnya terjadi padalutut dan kaki). (Wilantari, 2023)

2.3.2 Penyebab Hiperurisemia

Asupan makanan tinggi purin menjadi salah satu penyebab yang harus diwaspadai akan terjadinya peningkatan kadar asam urat. Peran asupan makan yangmemiliki kandungan zat purin terhadap pembentukan asam urat dalam tubuh sebesar 70-80%. makin rendah konsumsi asupan makan yang mengandung purin, m aka semakin rendah kadar asam urat. Peningkatan asam laktat dapat

(32)

memberikan pengaruh penurunan ekskresi asam urat maka jika berlangsung lama akan mengakibatkan penumpukan kristal. (Laeli et al., 2023).

2.3.3 Batasan Kadar Hiperurisemia

Hiperurisemia merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan kadar asam urat di atas normal, disebut hiperurisemia jika kadar asam urat laki-laki lebih dari 7 ,0 mg/dl dan perempuan lebih dari 6,0 mg/dl. Klasifikasi batasan kadar hiperurisemia (Andriani et al., 2024)

(33)

Tabel 2. 1Batasan Kadar Hiperurisemia Laki-laki dewasa 3,4-7,0 mg/dl Wanita dewasa 2,4-6,0 mg/dl Laki-laki >60tahun 4,2-8,0 mg/dl Perempuan>60tahun 2,5-6,5 mg/dl

Anak-anak 2,0-5,5 mg/dl

2.3.4 Masalah Kesehatan Yang Muncul Akibat Hiperurisemia (Anisa, 2023) 1. Batu ginjal dikarenakan proses penyaringan didalam ginjal menjadi

terhambat. Dengan terhambat atau tersumbatnya proses penyaringan tersebut maka dapat memicu timbulnya batu ginjal.

2. Peradangan dan kerusakan jaringan kadar asam urat yang berlebih dapat menyebabkan peradangan sistemik yang merusak berbagai jaringan tubuh ini dapat mempengaruhi fungsi organ dan memperburuk kondisi peradangan lainnya.

3. Sindrom Metabolik Hiperurisemia dapat menjadi bagian dari sindrom metabolik yang mencakup serangkaian faktor resiko untuk penyakit jantung, stroke.

2.4 Kajian Tentang Kompres Hangat 2.4.1 Pengertian Kompres Hangat

Kompres hangat merupakan tindakan pemberian rasa atau sensasi rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan kantung yang terisi air hangat sehingga menimbulkan rasa hangat pada bagian tubuh yang memerlukan. Kompres hangat yang digunakan umumnya dengan suhu Suhu yang ideal untuk kompres air hangat berkisar antara 37°C hingga 40°C. Suhu ini cukup nyaman dan efektif untuk membantu meredakan nyeri otot, peradangan, atau kekakuan tubuh tanpa risiko

(34)

terbakar atau iritasi pada kulit. Penting untuk memperhatikan hal-hal berikut saat melakukan kompres air hangat:

1. Jangan terlalu panas: Suhu yang terlalu tinggi bisa menyebabkan luka bakar pada kulit.

2. Periksa suhu air sebelum digunakan, terutama jika Anda menggunakan handuk atau kain yang direndam, pastikan air tidak terlalu panas untuk sentuhan kulit.

3. Durasi kompres biasanya sekitar 15-20 menit agar tidak menyebabkan iritasi kulit atau ketegangan otot yang berlebihan.(Elon, 2018)

Kompres hangat adalah pemberian rasa hangat atau panas di daerah tertentu terutama didaerah yang terdapat rasa nyeri (Hidayat & Indaryani, 2023)

2.4.2 Tujuan Kompres Hangat (Aminah et al., 2022) Kompres hangat ini dilakukan dengan tujuan : 1. Mengurangi Nyeri Otot dan Sendi

Kompres hangat membantu merelaksasikan otot yang tegang dan mengurangi nyeri pada sendi yang kaku.

2. Meningkatkan Sirkulasi Darah

Kehangatan mampu melebarkan pembuluh darah, meningkatkan aliran darah ke area yang terkompresi

3. Relaksasi dan Mengurangi Stress

Sensasi hangat bisa memberikan rasa nyaman dan menenangkan, yang bisa membantu mengurangi stress dan kecemasan.

(35)

2.4.3 SOP Kompres Hangat (Putri, 2024) 1. Pengertian Kompres Hangat

Kompres hangat adalah teknik pengobatan yang menggunakan suhu hangat untuk meredakan rasa sakit, mengurangi peradangan, dan meningkatkan sirkulasi darah di area tubuh yang cedera atau sakit. Biasanya, kompres hangat dilakukan dengan cara membasahi kain atau handuk dengan air hangat, kemudian menempelkannya pada bagian tubuh yang membutuhkan perawatan. Terapi ini sering digunakan untuk mengatasi nyeri otot, sendi, atau ketegangan otot.

2. Tujuan Kompres Hangat a. Relaksasi Otot dan Sendi b. Meningkatkan Sirkulasi

c. Mengurangi Stres pada area tertentu 3. Persiapan Kerja

Persiapan Alat

a. Air hangat 2 liter dengan kehangatan 40-45ºC b. Baskom besar 1 buah

c. Handuk kecil 2 buah d. Perlak/Pengalas 1 buah Persiapan Subyek Penelitian

a. Menganjurkan klien duduk dengan nyaman

b. Menjelaskan tujuan dan langkah – langkah prosedur c. Mengatur pencahayaan

d. Mengatur suasana yang nyaman (tenang dan tidak berisik)

(36)

4. Tahapan Kerja

a. Menganjurkan klien duduk di kursi dengan rileks dan bersandar b. Rendam handuk padaair hangat dengan suhu 40-45ºC

c. Peras handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat

d. Letakkan perlak pada bagian bawah sebelum melakukan pengompresan

e. Letakkan handuk pada bagian sendi yang terasa nyeri . f. Proses pengompresan dilaksanakan selama 15-20 menit 5. Evaluasi

a. Menanyakan perasaan responden setelah melakukan terapi rendaman air hangat

b. Memberikan reinforcement positif terhadap responden yang sudah membaik penurunan intensitas nyerinya.

c. Menganjurkan klien melakukan kompres air hangat selama satu minggu empat kali dan dilakukan dalam dua minggu kedepan

2.4.4 Mekanisme Penurunan Nyeri Setelah Kompres Hangat

Prinsip fisiologi pada pemberian terapi kompres hangat akan terjadi pelebaran pembuluh darah, sehingga akan membantu memperbaiki peredaran darah di dalam jaringan. Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan atau merangsang sinyal hypothalamus, sistem efektor mengeluarkan sinyal untuk memulai berkeringat dan vasodilator perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah akan memperlancar sirkulasi oksigenasi, mencegah terjadinya spasme otot, memberikan rasa hangat, membuat otot tubuh lebih rileks dan menurunkan rasa nyeri. (Selviana etal., 2024)

(37)

2.4.5 Bagan Mekanisme Penurunan Nyeri Dengan Kompres Hangat Tabel 2. 2 Mekanisme Penurunan Nyeri Dengan Kompres Hangat

Gout Artrhitis Gout arthritis merupakan jenis radang sendi yang disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat dalam sendi. Asam urat atau yang biasa disebut Gout merupakan sisa metabolisme zat purin yang muncul dari makanan yang kita konsumsi. Asam urat merupakan hasil dari pemecahan sel yang ada di dalam darah, karena tubuh secara berhubungan memecah dan membentuk sel yang baru. Oleh karena itu penyakit gout menyerang sendi (Novitasari

&TriWibowo, 2023).

Etiologi 1. Faktor genetik 2. Faktor hormonal 3. Konsumsi akanan

yang tinggi purin

Terapi Farmakologi Intensitas Nyeri

1.Kompres Hangat

1. Analgetik

2. Pemberian NSAID (Non Steroidal Inflamatory Drugs) Mekanisme Penurunan Nyeri Kompres

Hangat ada beberapa tahapan yaitu : 1. Meningkatkan Aliran Darah:

Kompres hangat membantu

melebarkan pembuluh darah di area yang diberi panas. Pembuluh darah yang lebih lebar memungkinkan darah mengalir lebih lancar, membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan yang terluka atau tegang.

2. Meningkatkan Fleksibilitas Jaringan:Panas dapat meningkatkan elastisitas jaringan tubuh, seperti ligamen dan tendon

3. Mengurangi Sensasi Nyeri: Panas dapat mempengaruhi cara tubuh merasakan nyeri. Sebagai contoh, panas dapat merangsang ujung saraf yang mengirimkan sinyal ke otak dan dapat mengurangi pengiriman nyeri (Widyastuti et al.,2021)

Terapi Non Farmakologi 1. Distraksi

2. Kompres Air Hangat 3. Relaksasi

4. Istirahat Fisik

(38)

2.4.6 Hasil Penelitian Efek Kompres Hangat (Aminah et al., 2022)

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Roihatul & Ni’matul) menggunakan kompres hangat untuk menurunkan intensitas nyeri pada penderita gout arthritis didapatkan bahwa tindakan nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri berupa kompres hangat dapat diaplikasikan perawat dalam mengatasi masalah keperawatan nyeri yang muncul pada pasien gout arthritis. Desain pada penelitian ini merupakan Quasi Experimental pre-test dan post test one grup design. Populasi penelitian adalah seluruh penderita gout arthritis di wilayah kerja Puskesmas Pulosari, Sampel dalam penelitian ini menggunaan total sample 44 responden, atau keseluruhan dari populasi dengan kriteria inklusi bersedia menjadi responden dan kriteria eksklusinya nyeri yang bukan disebabkan karena gout arthritis. Instrumen penelitian ini dengan menggunaan NRS (Numerical Rating Scale) untuk menunjukan tingkat nyeri sesuai NRS hasil penelitian yang telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pulosari Kabupaten Pandeglang Banten pada bulan Desember – Januari bahwa tedapat perbedaan nyeri sebelum dan sesudah kompres hangat pada penderita gout arthritis diketahui bahwa uji Wilcoxon Signed Rank menggunakan program SPSS didapatkan hasil Asymp. sig. (2-tailed) 0,00 < α = 0,05 sehingga Ha diterima yang berarti efektifitasnya kompres hangat pada penderita gout arthriti sebelum dan sesudah dilakukan. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh (Risal) bahwa berdasarkan Analisa statistik dengan menggunakan uji Wilcoxon, Muncul hasil yang signifikan, terlihat perbedaan pada angka rata-rata antara penurunan skala nyeri sebelum dan sesudah diberikan kompres hangat. Skala nyeri rata-rata sebelum diberikan kompres hangat adalah 6,24 dengan standar deviasi 1,548 perbandingannya setelah diberikan kompres hangat adalah 3.30 dengan standar deviasi 1,621. Dengan p = 0,000 dan α = 0,05.

(39)

Jadi p kurang dari α, hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara skala nyeri sebelum dan sesudah diberikan terapi komplementer kompres hangat.

2.5 Kajian Tentang Nyeri 2.5.1 Pengertian Nyeri

Menurut para ahli mengenai definisi nyeri adalah merupakan suatu pengalaman pribadi, subjektif, yang didasari oleh budaya, persepsi seseorang, perhatian serta variabel-variabel psikologis lain, yang berdampak pada perilaku berkelanjutan dan mendorong untuk mencoba menghentikan rasa sakit. Nyeri juga merupakan suatu pengalaman secara emosional yang berhubungan dengan perasaan kurang nyaman yang dihubungkan dengan kerusakan jaringan secara nyata atau (Rejeki, 2020)

2.5.2 Klasifikasi Nyeri (Maulana, 2022) 1. Berdasarkan sumber nyeri

a. Nyeri somatik luar Nyeri yang stimulusnya muncul dari kulit, jaringan subkutan dan membran mukosa. Biasanya terasa seperti terbakar, jatam dan terlokalisasi.

b. Nyeri somatik dalam nyeri tumpul (dullness) dan tidak terlokalisasi dengan baik akibat rangsangan pada otot rangka, tulang, sendi, jaringan ikat

c. Nyeri viseral ada karena perangsangan organ viseral atau organ yang menutupinya (pleura parietalis, pericardium, peritoneum). Nyeri tipe ini dibagi menjadi nyeri viseral terlokalisasi, nyeri parietal terlokalisasi,

(40)

2. Berdasarkan lima aksin (Maulana, 2022) a. Aksin I:lokasi anatomi nyeri.

b. Aksin II:sistem organ primer ditubuh yangberhubungan dengan nyeri c. Aksin III:karakteristik nyeri (tunggal, regular, kontinu).

d. Aksin IV:awalan terjadinya nyeri e. Aksin V:etiologi nyeri

3. Berdasarkan jenis nyeri (Maulana, 2022)

a. Nyeri nosiseptif terjadi karena kerusakan jaringan baik somatic maupun viseral. Stimulasi nosiseptor baik secara langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan pengeluaran mediator inflamasi dari jaringan, sel imun dan ujung saraf sensoris dan simpatik.

b. Nyeri neurogenik nyeri yang disebabkan oleh lesi maupun disfungsi primer pada system saraf perifer. Hal ini disebabkan oleh cidera pada jalur serat saraf perifer, infiltrasi sel kanker pada serabut saraf, dan terpotongnya saraf perifer. sensasi yang timbul adalah rasa panas dan seperti ditusuk-tusuk kadang disertai hilangnya rasa atau adanya rasa tidak enak pada perabaan.

c. Nyeri psikogenik nyeri ini ada hubungannya dengan adanya gangguan jiwa misalnya cemas dan depresi. Nyeri akan hilang apabila keadaan kejiwaan pasien tenang dan stabil.

(41)

2.5.3 Pengukuran Skala Nyeri 1. Visual Analog Scale

Gambar 2.2 Visual Analog Scale (Marpaung et al., 2023)

Visual analog scale (VAS) merupakan cara yang paling banyak digunakan untuk menilai nyeri. Skala linier ini menggambarkan secara visual gradasi tingkat nyeri yang mungkin dialami seorang pasien. Rentang nyeri diwakilkan sebagai garis sepanjang 10 cm, dengan atau tanpa tanda pada tiap sentimeter. Tanda pada kedua ujung garis ini dapat berupa angka maupuan pernyataan deskriptif. Ujung yang satu mewakili tidak ada nyeri, sedangkan ujung yang lain mewakili rasa nyeri terparah yang mungkin terjadi. Skala dapat dibuat vertikal ataupun horizontal. VAS juga dapat diadaptasi menjadi skala hilangnya/berkurangnya rasa nyeri. Manfaat utama VAS adalah penggunaannya sangat mudah dan sederhana (Marpaunget al., 2023)

2. Verbal Rating Scale

Gambar 3.2 Verbal Rating Scale(Tambunan, 2024)

(42)

Verbal Rating Scale (VRS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yangsama di sepanjang garis. Pendeskripsian ini rangking dari "tidak terasa nyeri" sampai "nyeri tidak tertahan". VRS lebih sesuai jika digunakan pada pasien pasca operasi bedah karena prosedurnya yang tidak begitu bergantung pada koordinasi motorik dan visual.

Tenaga medis menunjukkan ke klien tentang skala tersebut dan meminta klien untuk memilih skala nyeri terbaru yang dirasakan. Hal lain yang juga ditanyakan adalah seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa tidak menyakitkan. Alat VRS memungkinkan klien untuk memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri (Alfiah, 2024)

3. Numeric Rating Scale

NRS ditandai dengan garis angka 0 sampai 10 dengan interval yang sama dimana 0 menunjukkan tidak ada nyeri, 5 menunjukkan nyeri sedang, dan 10 menunjukkan nyeri berat. NRS biasanya dijelaskan kepada pasien secara verbal, namun dapat disajikan secara visual. Ketika disajikan secara visual, NRS dapat ditampilkan dalamorientasi horizontal atau vertikal. Alat ukur skala nyeri NRS telah menunjukkan sensitivitas terhadap pengobatan dalamintensitas nyeri.

(Diky,2024)

Gambar 4.2 Numeric Rating Scale (Pardede & Mochtar, 2024)

(43)

Nyeri skala 1 hingga 10 adalah cara untuk mengukur intensitas atau tingkat keparahan rasa nyeri yang dirasakan oleh seseorang. Skala ini digunakan oleh tenaga medis untuk lebih memahami seberapa parah nyeri yang dialami pasien, sehingga mereka bisa memberikan penanganan yang tepat. Berikut adalah penjelasan tiap level pada skala 1-10:

1. Skala 1: Nyeri sangat ringan, hampir tidak terasa, seperti ketidaknyamanan ringan.

2. Skala 2: Nyeri ringan yang terasa.

3. Skala 3: Nyeri cukup terasa tetapi bisa diabaikan.

4. Skala 4: Nyeri terasa dan mengganggu.

5. Skala 5: Nyeri sedang,sulit diabaikan,mempengaruhi aktivitas.

6. Skala 6: Nyeri parah tetapi masih bisa melakukan aktivitas dengan usaha.

7. Skala 7: Nyeri sangat berat susah untuk fokus.

8. Skala 8: Nyeri sangat hebat, aktivitas sangat terbatas.

9. Skala 9: Nyeri nyaris tidak tertahan.

10. Skala 10: Nyeri parah yang mungkin dapat menyebabkan hilang kesadaran hingga histeris.

(44)

4. Wong Baker Pain Rating Scale

Gambar 5.2 Wong Baker Pain Rating Scale (Sholihah et al., 2024)

Wong-Baker Pain Rating Scale merupakan metode penghitungan skala nyeri yang diciptakan dan dikembangkan oleh Donna Wong dan Vonny Baker.

Cara mendeteksi skala nyeri dengan metode ini yaitu dengan melihat ekspresi wajah yang sudah dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan rasa nyeri. Skala tersebut terdiri dari enam wajah dengan profil kartun yang menggambarkan wajah dari wajah yang sedang tersenyum (tidak merasakan nyeri) kemudian secara bertahap meningkat menjadi wajah yang kurang bahagia., wajah yang sangat sedih, sampai wajah yang sangat ketakutan (nyeri yang hebat).(Alfiah, 2024)

3.5.4 Pengkajian Nyeri (Sari et al., 2022)

1. P: Provokasi (penyebab terjadinya nyeri). Tenaga kesehatan harus mengkaji faktor penyebab yang menimbulkan nyeri muncul pada pasien, bagian tubuh mana yang terasa nyeri termasuk menghubungkan antara nyeri dan faktor psikologis. Karena terkadang nyeri dapat muncul tidak karena luka tetapi karena faktor psikologisnya.

2. Q : Quality (kualitas nyeri) merupakan ungkapan subyektif yang diungkapkan oleh klien dan mendeskripsikan nyeri dengan kalimat seperti ditusuk, disayat, ditekan, sakit nyeri atau superfisial.

(45)

3. R : Region (untuk mengkaji lokasi nyerinya). Tenaga kesehatan meminta klien untuk menyebutkan bagian mana yang dirasakan tidak nyaman.

Dengan tujuan untuk mengetahui lokasi nyeri yang spesifik.

4. S : Severe (untuk mengetahui dimana tingkat keparahan nyeri). Hal ini yang paling subyektif dirasakan oleh penderita, karena akan diminta bagaimana kualitasnyeri. Kualitasnyeri ini bisa digambarkan melalui skala nyeri.

5. T : Time (waktu). Yang harus dilakukan pada pengkajian waktu adalah durasi dan rangkaian nyeri yang dialami. Perlu ditanyakan kapan mulai muncul rasa nyeri, berapa lama nyeri itu muncul serta seberapa sering untuk kambuh.

(46)

BAB III

METODE STUDI KASUS

3.1 Desain Studi Kasus

Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif, dengan pendekatan Studi Kasus. Deskriptif Kualitatif merupakan suatu teknik penelitian yang menggunakan narasi atau kata-kata dalam menjelaskan dan memaparkan makna dari setiap fenomena, gejala, dan situasi sosial tertentu. Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen kunci untuk memaknai dan menginterpretasikan setiap fenomena, gejala dan situasi sosial tertentu. Karena itu peneliti perlu menguasai teori untuk menganalisis kesenjangan yang muncul antara konsep teoritis dengan fakta yang terjadi (Waruwu, 2023). Studi kasus sendiri adalah suatu pemahaman mengenai permasalahan atau situasi tertentu dengan amat mendalam dan dimana peneliti dapat mengidentifikasi kasus yang kaya akan informasi , kaya dalam pengertian bahwa suatu persoalan besar dapat dipelajari dari beberapa contoh fenomena dan umunya dalam bentuk pertanyaan (Assyakurrohim et al.,2023). Dalam penelitian ini yangmenjadi fokus studi kasus adalah Gambaran implementasi kompres hangat untuk mengurangi intensitas nyeri pada lansia dengan kadar asam urat yang tinggi di wilayah kerja puskesmas Karangploso kabupaten Malang.

(47)

3.2 Subjek Penelitian

Subjek dalam studi kasus kasus kali ini adalah 2 subyek penelitian (laki-laki dan perempuan) dengan kasus yang sama yaitu pada lansia yang menderita asam urat dengan masalah nyeri.

1. Kriteria inklusi

a. Klien yang didiagnosa memiliki Gout Artrhritis dengan skala nyeri sedang menuju skala nyeri ringan.

b. Klien dengan usia lanjut > 50-80 tahun

c. Klien yang bersedia menjadi subyek penelitian 2. Kriteria Eksklusi

a. Subyek penelitian yang mengalami nyeri berat b. Subyek penelitian yang tidak kooperatif

c. Subyek penelitian yang tidak melanjutkan terapi kompres hangat 3.3 Lokasi dan Waktu

3.3.1 Lokasi Penelitian

Tempat studi ini dilaksanakan di Dusun Dawuhan Rt 18 Rw 05 Desa Tawangargo kecamatan Karangploso kabupaten Malang.

3.3.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 17 Februari 2025 sampai 02 Maret tahun 2025

(48)

3.4 Fokus Studi

Fokus studi dari penelitian ini adalah penerapan kompres hangat untuk mengurangi intensitas nyeri pada lansia dengan kadar asam urat yang tinggi di wilayah kerja Puskesmas Karangploso Kabupaten Malang.

3.5 Definisi Operasional

Tabel 3. 1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Instrumen Penelitian Gambaran Implementasi

Kompres Hangat

Terhadap Nyeri Pada Lansia Dengan Kadar Asam Urat Yang Tinggi Di Wilayah Kerja Puskesmas Karangploso Kabupaten Malang

Terapi kompres hangat ini dilakukan selama 15- 20 menit pada 4 kali dalam 1 minggu, yang akan dilaksanakan selama 2 minggu atau 8 kali pertemuan.

Pengukuran penurunan intensitas nyeri pada

penelitian ini

menggunakan skala Numeric Rating Scale (NRS)

Instrumen penelitian ini

berupa lembar

wawancara, SOP

kompres hangat , Numeric Rating Scale

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk pengumpulan data,instrument dapat berupa wawancara (daftar pertanyaan) yang meliputi Identitas subyek penelitian, Riwayat penyakit, dan konsumsi makanan lembar observasi, atau formulir lainnya yang berkaitan dengan pencatatan data. Instrumen penelitian ini berupa lembar wawancara, SOP kompres hangat , Numeric Rating Scale untuk mengevaluasi intensitas nyeri asam urat pada lansia, serta lembar observasi kegiatan (terlihat pada lampiran).

(49)

3.7 Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode ini merujuk pada suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui kuisioner Numeric Rating Scale , wawancara, pengamatan, dokumentasi, dan lain sebagainya.

3.7.1 Tahap Persiapan

1. Pengajuan surat izin dari institusi pendidikan untuk dilakukan penelitian yang ditujukan pada lansia dengan masalah nyeri asam urat di lingkup Puskesmas Karangploso kabupaten Malang.

3.7.2 Tahap Pelaksanaan

1. Menentukan subyek yang sesuai dengan syarat dan kriteria penelitian.

2. Subyek penelitian didapat pada saat melakukan kegiatan rutin posyandu lansia di desa Tawangargo. Mengidentifikasi subyek sesuai syarat dan kriteria penelitian.

3. Memberikan penjelasan serta edukasi kepada pihak keluarga dan lansia yang bersangkutan mengenai tujuan,teknik pelaksanaan,kerahasiaan data,keuntungan dari penelitian yang diimplementasikan pada subyek, penjelasan yang diberikan ini dilakukan di rumah masing-masing dari subyek penelitian. selanjutnya meminta persetujuan keterlibatannya dalam penelitian dengan menandatangani informed consent Selanjutnya peneliti mempersiapkan alat-alat untuk terapi kompres hangat yang terdiri dari, Air hangat dengan suhu 40-45°C, Baskom besar 1 buah, Handuk kecil 2 buah, Alat cek asam urat, alat pengukur tekanan darah ( tensi ), Termometer air.

(50)

4. Mengukur intensitas nyeri dengan melakukan wawancara serta pengisian lembar observasi sebelum dilakukan kompres hangat.

5. Memberikan kompres hangat setiap 1 minggu 4 kali dalam 2 minggu ( 8 kali pertemuan )

6. Mengukur intensitas nyeri setelah dilakukan kompres hangat dengan wawancara serta pengisian lembar observasi oleh responden.

7. Memeriksa kelengkapan data.

3.8 Pengolahan Data

Metode pengolahan data menggunakan cara pengolahan data secara Analisa kualitatif. Analisa kualitatif ini dapat dilakukan melalui cara induktif, yakni pengambilan Kesimpulan umum melalui hasil-hasil observasi khusus. Dalam analisa ini tidak diperlukan perlukan perubahan data kualitatif ke dalam data. Dari hasil wawancara yang nantinya diperoleh kesimpulan secara umum dan diharapkan dapat memberikan jawaban bagaimana penerapan pemberian kompreshangat untuk mengurangi intensitasnyeri Gout Arthritis pada lansia,

3.9 Penyajian Data

Dalam penelitian ini peneliti memilih menyajikan data dalam bentuk teks naratif yang menggambarkan tentang kesimpulan dan hasil implementasi yang telah dilakukan. Penyajian data ini diolah serta dipaparkan dari pengalihan data dengan wawancara dan observasi.

(51)

3.10 Etika Penilitian

Etika penelitian menunjuk pada prinsip-prinsip etis yang telah diterapkan dalam penelitian, dari proposal penelitian hingga dengan publikasi hasil penelitian. Ada tiga prinsip etis yang ada dalam penelitian antara lain sebagai berikut :

1. Prinsip Manfaat

a. Bebas dari penderitaan

Peneliti tidak melaksanakan subyek untuk melakukan kompres hangat yang dianggap subyek sulit.

b. Bebas dari eksploitasi

Peneliti meyakinkan subyek bahwa informasi mengenai identitas serta informasi yang telah diberikan tidak disebar luaskan.

c. Resiko (Benefits Ratio)

Peneliti mempertimbangan resiko dan keuntungan kompreshangat yang dilaksanakan selama seminggu 4 kali dalam 2 minggu. Prinsip menghargai hak asasi manusia (respect human dignity).

d. Prinsip Menghargai HakAsasi Manusia

 Hak untuk ikut/tidak menjadi responden (right to self determination) Peneliti memberikan serta menjelaskan inform consent serta tujuan dari penelitian serta tujuan dari penelitian “Penerapan Kompres

Hangat Untuk Mengurangi Intensitas Nyeri Gout Artrithis Pada Lansia di wilayah kerja puskesmas Karangploso kabupaten Malang” kepada

(52)

subyek untuk bersedia menjadi responden dan apabila subyek tidak bersedia itu adalah hak subyek.

 Hak untuk mendapatkan jaminan dari yangperlakuan yangdiberikan (right to full disclosure) Peniliti menjelaskan dan bertanggung jawab apabila subyek kelelahan saat dilakukan kompres hangat.

Informed Consent (persetujuan setelah penjelasan) Subyek mmendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian

“Penerapan Kompres Hangat Untuk Mengurangi Intensitas Nyeri Gout Arthrithis diwilayah kerja Puskesmas Karangploso Kabupaten Malang”, Mempunyai hak untuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden. Pada lembar persetujuan setelah penjelasan dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan digunakan untuk pengembangan ilmu.

e. Prinsip Keadilan

 Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil (right for treatment }Peneliti memperlakukan secara adil kepada subyek. Sebelum kompres hangat, subyek diberikan pertanyan yang sama

mengenai identitas, kegiatan yangdilakukan setiap harinya. Selama terapi, perlakuan peniliti sama terhadap subyek.

 Hak dijaga kerahasiannya (right to privacy) Peniliti menggunakan inisial sebagai pengganti identitas responden untuk menjaga kerahasiaan serta privasi subyek penelitian

(53)

BAB IV

HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian dan pembahasan studi kasus Gambaran Implementasi Kompres Hangat Terhadap Intensitas Nyeri Pada Lansia Dengan Kadar Asam Urat Yang Tinggi Di Wilayah Kerja Puskesmas Karangploso Kabupaten Malang akan diuraikan pada bab ini. Data yang disajikan merupakan hasil penelitian studi kasus meliputi gambaran umum lokasi penelitian, gambaran umum subyek penelitian, dan pemaparan fokus studi kasus.

4.1 Hasil Studi Kasus

4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di posyandu lansia wilayah kerja puskesmas Karangploso tepatnya di desa Tawangargo kecamatan Karangploso kabupaten Malang. Jumlah lansia yang datang untuk pemeriksaan rutin pada tanggal 15 Februari 2025 sebanyak 48 orang, terdiri dari 32 perempuan, dan 16 laki-laki.

Puskesmas Karangploso berdiri mulai tahun 1969 program yang diunggulkan oleh puskesmas ini adalah PILARMAS ( Peduli ibu dan anak, lansia, remaja serta Masyarakat ).

Posyandu lansia desa TawangArgo didirikan pada tanggal 15 januari 2020.

Posyandu lansia TawangArgo berada dibawah naungan Puskesmas Karangploso.

Puskesmas Karangploso menaungi 9 posyandu lansia, diantaranya yaitu posyandu desa Girimoyo, posyandu desa Ngijo, posyandu desa Kepuharjo, posyandu desa Bocek. Posyandu desa Ngenep. Posyandu desa Donowarih, posyandu desa TawangArgo, posyandu desa Ampeldento, posyandu desa Tegalgondo.

(54)

Kegiatan posyandu lansia desa Tawangargo rutin dilaksanakan pada tanggal 15 setiap bulannya. Sebelum masa pandemi covid-19 terdapat beberapa kegiatan meliputi senam lansia yang biasa dilakukan pagi hari dengan instruktur senam salah satu pihak puskesmas Karangploso. Selanjutnya terdapat kegiatan screening kesehatan yang dilakukan oleh pihak puskesmas, jika ada lansia yang membutuhkan penanganan lebih lanjut maka lansia mendapatkan rujukan ke puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Screening kesehatan yang dilakukan meliputi screening PTM, cek gula darah, cek asam urat, cek kolesterol, mengukur berat badan serta mengukur tekanan darah.

Penelitian dilakukan di rumah masing-masing subyek penelitian, yang terletak di dsn Dawuhan Rt 18 Rw 05 desa Tawangargo. Keadaan rumah subyek I tampak bersih, terdapat 3 kamar tidur, 1 dapur, 1 kamar mandi, dinding terbuat dari batu bata, lantai nampak sudah berkeramik. Sedangkan untuk subyek II keadaan rumah tampak bersih, rumah memiliki pagar besi, dengan 2 kamar tidur, 1 dapur, 1 kamar mandi, dinding terbuat dari batu bata, lantai tampak berkeramik. Fasilitas komunikasi kedua subyek sudah memadai yaitu masing-masing subyek di jembatani oleh keluarga untuk berkomunikasi dengan peneliti.

4.1.2 Karakteristik Subyek Penelitian 1. Subyek I

a) Identitas dan Riwayat Subyek

Subyek I dengan identitas Tn. T berusia 70 tahun, beragama islam dengan suku/kebangsaan jawa. Subyek sudah berkeluarga dan memiliki 3 orang anak, Subyek tinggal bersama dengan istri dan anaknya yang terakhir di desa Tawangargo. Pendidikan terakhir SMP, Subyek sekarang bekerja

(55)

sebagai Petani. Subyek tidak memiliki Riwayat penyakit dahulu, Subyek juga tidak memiliki Riwayat penyakit keluarga. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan subyek:

“ Usia saya sudah 70 tahun mbak”

“ Saya punya 3 orang anak , ini yang tinggal sama saya anak yang terakhir”

“ Saya dulu lulusan SMP, sekarang saya kerjanya tiap hari ke sawah “

“ Alhamdulillah kalau riwayat penyakit saya sendiri dan keluarga tidak ada mbak “

b) Pola Kebiasaan

Subyek I tidak merokok, tidak mengonsusmsi alkohol akan tetapi subyek I mengonsumsi kopi. Dan untuk makanan sehari-hari subyek masih sering mengonsumsi makanan tinggi purin. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan subyek:

“ Saya alhamdulillah juga tidak merokok mbak “

“ Waduh apalagi alkohol mbak, ga pernah saya ”

“ Nah, kalau kopi saya mengonsumsi mbak “

“ Kalau makanan sehari-hari ya biasanya sering itu anak saya masak sayur bayam lauknya tempe sama telur mbak”

2. Subyek II

a) Identitas dan Riwayat Subyek

Subyek II dengan identitas Ny. K berusia 75 tahun, beragama islam dengan suku/kebangsaan jawa. Subyek sudah berkeluarga akan tetapi suami meninggal karena peristiwa kecelakaan 2020 lalu, Subyek memiliki 2 anak yang sekarang merantau di Jakarta. Subyek tinggal dirumah sendiri ( desa Tawangargo) akan tetapi untuk kehidupan sehari-hari subyek dibantu oleh keponakannya yang rumahnya tidak jauh dari rumah Subyek. Pendidikan

(56)

terakhir SD sekarang bekerja sebagai buruh tani. Subyek tidak memiliki riwayat penyakit menular. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan subyek :

“ Usia saya sekarang 75 tahun mbak “

“ Kalo anak saya ada 2 mbak tapi merantau semua ke Jakarta pulangnya idul fitri gitu, suami saya suda meninggal kecelakaan tahun 2020 mbak “

“ Saya sehari-hari yang kirimin makan sama nganter kemana-mana ya ponakan saya itu, anaknya adik saya ini loh didepan saya rumahnya mbak “

“ Saya lulusan SD mbak “

“ Gaada riwayat penyakit si mbak saya ataupun keluarga “ b) Pola Kebiasaan

Subyek tidak merokok ataupun mengonsumsi alkohol, akan tetapi subyek memiliki kebiasaan mengonsumsi kopi pada pagi hari dan masih sering mengonsumsi makanan tinggi purin seperti jeroan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan subyek :

“ pagi hari biasanya saya minum kopi satu gelas mbak, kalau merokok atau minum alkohol tidak sama sekali “

“ Sama saya sering makan ati ampela itulo mbak favorit saya itu hehehe”

4.1.3 Hasil Fokus Studi

Data yang disajikan berasal dari hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan meliputi (1) Mengetahui gambaran implementasi kompres hangat pada subyek penelitian dengan kadar asam urat yang tinggi. (2) Mengetahui perubahan intensitas nyeri pada subyek penelitian dengan kadar asam urat yang tinggi. Berikut ini merupakan penyajian data yang telah diolah dan disajikan dalam bentuk textular/narasi.

1. Subyek Pertama sebelum dilakukan kompres air hangat ( pertemuan I Tanggal 17-Februari-2025 )

(57)

1. Implementasi Kompres Hangat.

Pada tanggal 17 Februari 2025 peneliti mendatangi rumah subyek I yang berada di dusun Dawuhan desa Tawangargo untuk melakukan implementasi kepada subyek penelitian mengani kompres hangat dengan tujuan untuk membantu menurunkan skala nyeri subyek penelitian yang disebabkan karena tingginya kadar asam urat yang terjadi. Peneliti datang ke rumah subyek penelitian I pada pukul 15.00 setelah itu peneliti berbincang-bincang dengan subyek penelitian dan melakukan tanda tangan persetujuan atau inform consent atas dilaksanakannya terapi kompres hangat ini. Setelah subyek penelitian menandatangani surat persetujuan peneliti menyiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan kompres hangat persiapan alat ini berupa air hangat dengan derajat kehangatan 4

Gambar

Gambar 1.2 Patofisiologi Gout Arthritis(Dwi Dava Deswina, 2024)
Tabel 2.  1Batasan Kadar Hiperurisemia Laki-laki dewasa                3,4-7,0 mg/dl Wanita dewasa                   2,4-6,0 mg/dl Laki-laki &gt;60tahun           4,2-8,0 mg/dl Perempuan&gt;60tahun             2,5-6,5 mg/dl
Gambar 3.2 Verbal Rating Scale(Tambunan, 2024)
Gambar 2.2 Visual Analog Scale (Marpaung et al., 2023)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan : Untuk mengetahui pelaksanaan Fisioterapi dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi, menurunkan oedema, dan

Merokok, terutama pada perempuan yang sudah dimulai sejak remaja, akan menurunkan kadar estrogen di dalam darah sehingga pencapaian densitas puncak tulang akan berkurang,

Kesimpulan dari praktikum ini adalah penentuan kadar basa dapat ditentukan dengan meggunakan konsentrasi larutan asam dan sebaliknya, proses titrasi yang terjadi merupakan

Jenis terapi herbal yang dapat digunakan dalam mengurangi nyeri dan menurunkan kadar asam urat pada penderita gout arthritis yaitu rebusan daun salam (Syzygium

Kesimpulan dari penelitian yang dilaksanakan di Puskesmas Maospati, Kabupaten Magetan pada lansia yang melakukan pemeriksaan asam urat pada bulan Januari sampai Maret 2020

"HUBUNGAN KADAR ASAM URAT DENGAN KADAR KREATININ PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016", JURNAL

ii GAMBARAN RESPON NYERI PADA PASIEN YANG DILAKUKAN KANULASI HEMODIALISIS DENGAN TINDAKAN GUIDED IMAGERY DAN KOMPRES DINGIN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai persyaratan

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti Menambah ilmu pengetahuan tentang pemberian terapi minum air putih untuk menurunkan intensitas nyeri sendi dan asam urat pada