• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1 Hasil Penelitian

5.2. Saran

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang di lakukan dapat di simpulkan, bahwa pada buah rotan mengandung besi (Fe) dan kalsium (Ca). Kadar besi yang didapatkan sebesar 0,002525%. Lalu, pada kadar kalsium didapatkan sebesar 0,2912% yang diukur dengan alat Spektrofotometri Serapan Atom (SSA).

DAFTAR PUSTAKA

Agen T. (2016). Skrining Fitokimia Dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Buah Selekop (Lepisanthes amoena Hassk. Leenh) Dan Rotan Manau (Calamus manan Miq). [Skripsi], Samarinda : Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Almatsier, S. (2001). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 228, 233-235, 249.

Andi Tantra Tellu. (2008). Sifat Kimia Jenis-Jenis Rotan Yang Diperdagangkan Di Provinsi Sulawesi Tengah. Palu: UNTAD.

Arifin W. (2005). Rotan Jernang: Tanaman Konservasi Bernilai Ekonomi. Jambi:

Gita Buana.

Barasi, M.E. (2007). Nutrition At Glance. Penerjemah: Halim, H. 2009. At Glance Ilmu Gizi. Jakarta: Erlangga. Hal. 131.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1979). Materia Medika Indonesia jilid III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1986). Sediaan Galenik. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1989). Materia Medika Indonesia Jilid V. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat Tradisional.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Farmakope Herbal Indonesia, Edisi I. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Djamal, R. 2010. Kimia Bahan Alam: Prinsip-prinsip Dasar Isolasi dan Identifikasi. Padang: Universitas Baiturrahmah.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia, Edisi Keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Farhana Alam Ripa. (2015). CNS Depressant, Analgesic And Anti-Inflammatory Activities Of Methanolic Seed Extract Of Calamus Rotang Linn. Fruits In Rat. Journal Of Pharmacognosy And Phytochemistry; 3(5): 121-125 Firmansyah dkk. (2009) . Mudah dan aktif belajar Biologi . Jakarta : Pusat

Perbukuan

Gandjar, I.G., dan Rohman, A. (2012). Kimia Farmasi Analisis. Cetakan I.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 298, 305-307, 309, 310-312, 319.

Grober, U. (2009). Mikronutrien. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, Hal. 91.

Harborne, J. (1987). Metode Fisikokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Bandung: ITB.

Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol. I, No. 3, Desember.

Harris, D. C. (2007). Quantitative Chemistry Analysis. USA: Craig Bleyer. Hal.

455

Irawan, D., Wijaya, C. H., Limin, S. H., Hashidoko, Y., Osaki, M & Kulu, I. P.

(2006). Ethnobotanical Study And Nutrient Potency of Local Tradditional Vegetables in Central Kalimantan Tropics. 15(4): 441-448. DOI:

10.3759/tropics.15.441

Januminro. (2000). Rotan Indonesia: Potensi, Budidaya, Pemanenan, Pengolahan, Standar Mutu Dan Prospek Pengusahaan.Yogyakarta:

Kanisius

Kalima T. (1991). Beberapa Jenis Daemonoras Penghasil Jernang dan Permasalahannya. Sylva Tropika. 6(1): 15-18

Kealey, D. dan Haines, P.J. (2002). Analytical Chemistry. London: BIOS Scientific Publishers Ltd.

Khopkar, S. M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Lieberman, S., dan Bruning. N. (2001). The Real Vitamin and Mineral Book 4th Edition. USA: Pinguin Group. Hal. 16, 199.

Mitayanti, dan Sartika, W. (2010). Ilmu Gizi. Jakarta: Trans Info Media. Hal. 27, 28.

Pawera, Lukas. (2018). Buku Panduan untuk Masyarakat Keanekaragaman Hayati Lokal untuk Gizi dan Kesehatan Masyarakat (Tanaman Pangan Masyarakat Minang dan Mandailing di Kabupaten Pasaman-Sumatera Barat).Jakarta: Kemenristekdikti. Hal. 138

Poedjiadi,A. (1994). Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press. Hal. 420.

Rachman O, Jasni. (2008). Rotan: Sumber daya, sifat dan pengolahannya. Bogor:

Badan penelitian dan pengembangan kehutanan.

Raimon. (1993). Perbandingan Metoda Destruksi Basah dan Kering Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Yogyakarta: Lokakarya Nasional.Jaringan Kerjasama Kimia Analitik Indonesia.

Rand, M. L., dan Murray, R. K. (2000). Plasma Protein, Imunoglobulin, and blood Coagulation. Dalam: Harper’s Biochemistry. Edisi 25. Muray,R. K., Sediaoetama, A.D. (2008). Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Dian Rakyat. Hal. 179.

Sjaifullah. (1996). Petunjuk Memilih Buah Segar, Cetakan I. Jakarta: Penebar Swadaya. Hal. 6.

Underwood, E. J., dan Suttle, N. F. (2010). Mineral Nutriton of Livestock.3th Edition. UK: CABI. Hal. 3, 92

Vogel. (1979). Textbook of Marco anf Semimicro Qualitative Inorganic Analysis.

Penerjemah: Setiono, L., dan Pudjaatmaka, A. H. (1985). Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Edisi Kelima.

Bagian Kedua. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka. Hal. 300; 302-311 Winarno, F.G. (1992). Kimia Pangan Dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka

Utama. Hal. 150.

Winarni I, Waluyo TK, Hastoeti P. 2005. Sekilas Tentang Jernang Sebagai Komoditi yang Layak Dikembangkan. Di dalam: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Mutu dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan. Prosiding Ekspose Hasil - Hasil Litbang - Hasil Hutan. Bogor, 14 Desember 2004. Bogor: Pusat penelitian dan

Pengembangan Hasil Hutan. hlm173-177.

LAMPIRAN Lampiran 1. Foto buah rotan (Calamus sp)

Gambar 3. Foto Buah rotan (Calamus sp)

Lampiran 2. Surat Identifikasi Buah Rotan (Calamus sp)

Gambar 4. Surat Identifikasi Buah Rotan (Calamus sp)

Lampiran 3. Skema Kerja Pembuatan dan Pemeriksaan Ekstrak Buah Rotan

 Dihaluskan

 Direndam dengan etanol 96% selama 3 hari lalu disaring

 Diuapkan dengan rotary evaporator

Gambar 5. Skema Kerja Pembuatan dan Pemeriksaan Ekstrak Buah Rotan Pemeriksaan Ekstrak Buah Rotan

Maserat 1 Kg Buah Rotan

Ekstrak kental

Pemeriksaan Organoleptis

Uji Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Buah Rotan dan Ca (Kalsium)

Penentuan Rendemen Oganoleptis

Pemeriksaan Susut Pengeringan

Pemeriksaan Kadar Abu

Lampiran 4. Pemeriksaan organoleptis Ekstrak buah rotan (Calamus sp) Tabel 1. Pemeriksaan Organoleptis Ekstrak Etanol Buah Rotan (Calamus sp)

No Pemeriksaan Pengamatan

1 Bentuk Ekstrak kental

2 Warna Coklat Tua

3 Bau Khas

4 Rasa Pahit

Gambar 6. Ekstrak Buah Rotan (Calamus sp)

Lampiran 5. Pemeriksaan Rendemen Ekstrak Buah Rotan (Calamus sp) Tabel 2. Perhitungan Rendemen Ekstrak Etanol Buah Rotan (Calamus sp)

No Pemeriksaan Pengamatan

1 Rendemen(%) 3,82 %

Perhitungan rendemen ekstrak :

Diketahui : Berat ekstrak yang diperoleh (A) = 38,2647 g Berat buah rotan sebelum diekstrak (B) = 1000 g

% Rendemen = A x 100%

B

= 38,2647 g x 100%

1000 g = 3,82 %

Lampiran 6. Pemeriksaan Susut Pengeringan Ekstrak Etanol Buah Rotan (Calamus sp)

Tabel 3. Perhitungan Susut Pengeringan Ekstrak Etanol Buah Rotan (Calamus sp)

No Pemeriksaan Pengamatan

1 Pengeringan (%) 7,01 %

Perhitungan susut pengeringan ekstrak :

Diketahui : Berat krus kosong (A) = 40,7632 g Berat krus + sampel sebelum dipanaskan (B) = 41,8073 g Berat krus + sampel setelah dipanaskan (C) = 41,7341 g Susut pengeringan = ( ) ( )

( ) x 100%

= (41,8073 – 40,7632) - (41,7341 – 40,7432) x 100%

(41,8073-40,7632) = 7,01 %

Lampiran 7. Pemeriksaan Kadar Abu Ekstrak Etanol Buah Rotan (Calamus sp)

Tabel 4. Perhitungan Kadar Abu Ekstrak Etanol Buah Rotan (Calamus sp)

No Pemeriksaan Pengamatan

1 Kadar Abu (%) 2,25 %

Perhitungan kadar abu ekstrak :

Diketahui : Berat krus kosong (A) = 40,7632 g

Berat krus + sampel sebelum dipanaskan (B) = 43,5489 g Berat krus + sampel setelah dipanaskan (C) = 40,8259 g Kadar abu = ( )

( ) x 100%

= 40,8259 – 40,7632 x 100%

43,5489 – 40,7632 = 2,25%

Lampiran 8. Uji Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Buah Rotan (Calamus sp)

Tabel 5. Pemeriksaan Kandungan Kimia

No. Kandungan Kimia Pereaksi Hasil

1. Alkaloid Mayer +

2. Flavonoid Mg/HCl +

3 Fenolik FeCl3 +

4. Terpenoid Anhidrat asetat/H2SO4 -

5. Steroid Anhidrat asetat/H2SO4 +

6. Saponin Air +

Keterangan :

+ = Mengandung senyawa kimia - = Tidak mengandung senyawa kimia

Gambar 7. Flavonoid Gambar 8. Fenolik

Lampiran 8. (Lanjutan)

Gambar 10. Alkaloid

Gambar 9. Steroid Gambar 11. Saponin

Lampiran 9. Skema Proses Destruksi Ekstrak Buah Rotan

 5 Gram sampel larutkan dalam 5 mL HNO3 dan HCL (1:1) dalam labu ukur kemudian tambahkan aqua demineralisata ad 100 mL

 Saring dengan dengan kertas saring Whatman No. 42

Gambar 12. Skema Proses Destrkusi Ekstrak Buah Rotan Ekstrak Etanol

Buah Rotan

Filtrat

Analisis Kualitatif Analisis Kuantitatif

Lampiran 10. Skema analisis Kualitatif Besi (Fe) Pada Ekstrak Buah Rotan

 Larutan Amonium Tiosianat 10% b/v

Gambar 13. Skema analisis Kualitatif Besi Pada Ekstrak Buah Rotan Larutan Sampel

Ekstrak Buah Rotan

Larutan Merah Analisis Kualitatif

Besi

Lampiran 11. Hasil Analisis Kualitatif Besi (Fe) Pada Ekstrak Buah Rotan

Gambar 14. Analisis Kualitatif Fe Besi pada Ekstrak Buah Rotan

Lampiran 12. Skema Kualitatif Kalsium (Ca) Pada Ekstrak Buah Rotan

- Kawat Ni/Cr - pada object glass ditetesi dengan HCl (p) asam sulfat 1 N

- etanol 96% v/v

Gambar 15. Skema analisis Kualitatif Kalsium (Ca) Pada Ekstrak Buah Rotan Larutan Sampel Ekstrak

Etanol Buah Rotan Analisis Kualitatif

Kalsium

Nyala Merah Bata

Kristal berbentuk Jarum

Uji Nyala Uji Kristal

Mikroskop

Lampiran 13. Hasil Analisis Kualitatif Kalsium (Ca) Pada Ekstrak Buah Rotan

Gambar 16. Uji Nyala Gambar 17. Uji Kristal Kalsium dengan Asam Sulfat 1N

Lampiran 14. Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan Standar Besi (Fe) dan Kalsium (Ca)

 Pipet 1 mL masukkan ke labu ukur ad aqua demineralisata 100 mL

- Pipet 2,5 mL - Pipet 5 mL - Pipet 7,5 mL - Pipet 10 mL - Pipet 12,5 mL

ad 25 mL ad 25 mL ad 25 mL ad 25 mL ad 25 mL

 Spektrofotometri Serapan Atom

Panjang Gelombang Panjang Gelombang

Fe 248,3 nm Ca 422,7 nm

Lampu Katoda Fe Lampu Katoda Ca

Gambar 18. Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan Standar Besi dan Kalsium Larutan Standar Fe / Ca

(1.000 mg/L)

Larutan 10 mg/L

1 mg/L

2 mg/L

3 mg/L

4 mg/L

5 mg/L

Ukur absorbansi dengan nyala udara-asetilen

Absorban Larutan Standar

Besi

Absorban Larutan Standar

Kalsium

Lampiran 15. Deret Larutan Standar Fe (Besi) Tabel 6. Kurva Kalibrasi Besi (Fe)

Gambar 19. Kurva Hubungan Konsentrasi Dan Absorban Besi (Fe) y = 0,070x + 0,023

R = 0,9981 0

0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 0,4

0 1 2 3 4 5 6

ABSORBAN

KONSENTRASI

KURVA HUBUNGAN KONSENTRASI DAN ABSORBAN Fe Baku

Kosentrasi (mg/L)

Absorban Fe

1 0,0845

2 0,1705

3 0,2430

4 0,3008

5 0,3699

Lampiran 16. Penetapan Kadar Besi (Fe) Pada Ekstrak Buah Rotan

 Panjang Gelombang Fe 248,3 nm

 Lampu Katoda Fe

Gambar 20. Penetepan Kadar Fe Pada Ekstrak Buah Rotan Larutan Sampel Ekstrak

Buah Rotan Penetapan Kadar

Fe

Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Absorban Fe pada Ekstrak Buah Rotan

Kadar Fe pada Ekstrak Buah Rotan

Lampiran 17. Perhitungan Persamaan Regresi Besi (Fe) Tabel 7. Tabel Perhitungan Persamaan Regresi Fe

N O

X Y X2 Y2 X.Y

1 1 0.0845 1 0.00714 0.0845

2 2 0.1705 4 0.02907 0.341

3 3 0.243 9 0.059049 0.729

4 4 0.3008 16 0.090481 1.2032

5 5 0.3699 25 0.136826 1.8495

 x=15 y= 1,1687 x2= 55 y2= 0.3225 xy= 4,2072

Keterangan :

x = Konsentrasi Fe (ppm) y = Absorban

Persamaan Regresi y = a + bx Dimana:

x = Kadar y = Absorban

a + b = Koefisien Regresi

Lampiran 17. (Lanjutan) Koefisien korelasi Besi (Fe) a. Koefisien korelasi (r)

∑ (∑ ∑ )

√ ( ∑ (∑ ) ( ∑ (∑ )

( )

√ ( ( ) )( ( ) )

√ ( )( )

√ ( )( )

b. Koefisien regresi (b) ( )

( )

( ) ( )

Lampiran 17 (Lanjutan) c. Konstanta (a)

Jadi persamaan regresi yang diperoleh adalah:

y = a + b x

y = 0,02341 + 0,07011 x

Lampiran 18. Penentuan Kadar Besi (Fe) Sampel Tabel 8. Tabel Penentuan Kadar Fe Sampel

Perhitungan Konsentrasi Fe Pengulangan 1

y = a + bx

y = 0,02341 + 0,07011 x 0,1152 = 0,02341 + 0,07011 x 0,1152 - 0,02341 = 0,07011 x 0,07011 x = 0,09179

x = 0,09179 0,07011

= 1,3092 mg/L

Sampel Absorban Konsentrasi (mg/L)

Kadar Fe

Kadar Rata Rata Fe

Buah Rotan 1 0.1152 1,3092 0,002618%

Buah Rotan 2 0.1130 1,2778 0,002555%

Buah Rotan 3 0.1134 1,2835 0,002567% 0,002525%

Buah Rotan 4 0.1099 1,2336 0,002467%

Buah Rotan 5 0.1082 1,209 0,002418%

Lampiran 18. (Lanjutan) Perhitungan Kadar Fe Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 1,3092 mg/L x 0,1 L x 100%

5.10 3 mg = 0,002618 %

Pengulangan 2 y = a + bx

y = 0,02341 + 0,07011 x 0,1130 = 0,02341 + 0,07011 x 0,1130 - 0,02341 = 0,07011 x 0,07011 x = 0,08959

x = 0,08959 0,07011

= 1,2778 mg/L

Perhitungan Kadar Fe Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 1,2778 mg/L x 0,1 L x 100%

5.103 mg = 0,002555%

Lampiran 18. (Lanjutan) Pengulangan 3

y = a + bx

y = 0,02341 + 0,07011 x 0,1134 = 0,02341 + 0,07011 x 0,1134 - 0,02341 = 0,07011 x 0,07011 x = 0,08999

x = 0,08999 0,07011

= 1,2835 mg/L

Perhitungan Kadar Fe Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 1,2835 mg/L x 0,1 L x 100%

5.103mg = 0,002567%

Lampiran 18. (Lanjutan) Pengulangan 4

y = a + bx

y = 0,02341 + 0,07011 x 0,1099 = 0,02341 + 0,07011 x 0,1099 - 0,02341 = 0,07011 x 0,07011 x = 0,08649

x = 0,08649 0,07011

= 1,2336 mg/L

Perhitungan Kadar Fe Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 1,2336 mg/L x 0,1 L x 100%

5.103 mg = 0,002467%

Lampiran 18. (Lanjutan) Pengulangan 5

y = a + bx

y = 0,02341 + 0,07011 x 0,1082 = 0,02341 + 0,07011 x 0,1082 - 0,02341 = 0,07011 x 0,07011 x = 0,0847

x = 0,08479 0,07011

= 1,209 ppm

Perhitungan Kadar Fe Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 1,209 mg/L x 0,1 L x 100%

5.103mg = 0,002418%

Lampiran 19. Penentuan Presisi Besi (Fe) Tabel 9. Tabel Penentuan Presisi Fe

Sampel Absorban Rata-Rata ± SD RSD %

Buah Rotan 1 0,1152

Buah Rotan 2 0,1130

Buah Rotan 3 0,1134 0,11194 ± 0,0028 2,50%

Buah Rotan 4 0,1099 Buah Rotan 5 0,1082

Perhitungan Presisi a. Standar Devisiasi SD =

(xinx1)2

= 5 1

2 ) 11194 , 0 1082 , 0 ( 2 ) 11194 . 0 1099 , 0 (

2 ) 11194 , 0 1134 , 0 ( 2 ) 11194 , 0 1130 , 0 ( 2 ) 11194 , 0 1152 , 0 (

=

= 4

00003201 ,

0

=

= 0,0028

1 5

) 00001398 ,

0 ( ) 000004161 ,

0 ( ) 000002131 ,

0 ( ) 000001123 ,

0 ( ) 00001062 ,

0 (

b. Relative Standard Deviation

RSD = 100%

X SD

= 100%

11194 , 0

0028 , 0

= 2,50%

Lampiran 20. Deret Larutan Standar Kalsium (Ca) Tabel 10. Kurva kalibrasi Ca Standar

Konsentrasi (mg/L) Absorban Ca

1 0,0085

2 0,0175

3 0,0286

4 0,0430

5 0,0592

Gambar 21. Kurva Hubungan Konsentrasi dan Absorban Ca y = 0,012x - 0,006

R = 0,9931

0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07

0 1 2 3 4 5 6

Absorban

Konsentrasi

KURVA HUBUNGAN KONSENTRASI DAN ABSORBAN Ca BAKU

Lampiran 21. Penetapan Kadar Kalsium (Ca) Pada Ekstrak Buah Rotan

 Pipet 1 mL dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml ad aqua

demineralisata

 Panjang Gelombang Ca 422,7 nm

 Lampu Katoda Ca

Gambar 22. Penetapan Kadar Ca Pada Ekstrak Buah Rotan Larutan Sampel Ekstrak

Etanol Buah Rotan Penetapan Kadar

Ca

Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Absorban Ca pada Ekstrak Buah Rotan

Kadar Ca pada Ekstrak Buah Rotan

Lampiran 22. Perhitungan Persamaan Regresi Kalsium (Ca) Tabel 11. Tabel Perhitungan Persamaan Regresi Ca

N O

X Y X2 Y2 X.Y

1 1 0,0085 1 0,00007225 0,0085

2 2 0,0175 4 0,000306 0,035

3 3 0,0286 9 0,000818 0,0858

4 4 0,043 16 0,001849 0,172

5 5 0,0592 25 0,003505 0,296

 x =15 y= 0,1568 x2= 55 y2=0,00655025 xy= 0,5973

Keterangan :

x = Konsentrasi Ca (ppm) y = Absorban

Persamaan Regresi y = a + bx Dimana:

x = Kadar y = Absorban

a + b = Koefisien Regresi

Lampiran 22. (Lanjutan) Koefisien korelasi Ca a. Koefisien korelasi (r)

∑ (∑ ∑ )

√ ( ∑ (∑ ) ( ∑ (∑ )

( )

√ ( ( ) )( ( ) )

√ ( )( )

√ ( )( )

b. Koefisien regresi (b) ( )

( )

( ) ( )

Lampiran 22. (Lanjutan) c. Konstanta (a)

Jadi persamaan regresi yang diperoleh adalah:

y = a + b x

y = -0,00671 + 0,01269 x

Lampiran 23. Penentuan Kadar Kalsium(Ca) Sampel Tabel 12. Tabel Penentuan Kadar Ca Sampel

Perhitungan Konsentrasi Ca Pengulangan 1

y = a + bx

y = -0,00671 + 0,01269 x 0,0299 = -0,00671 + 0,01269 x 0,0299 – (-0,00671) = 0,01269 x 0,01269 x = 0,03661

x = 0,03661 0,01269

= 2,8849 mg/L

Sampel Absorban Konsentrasi (mg/L)

Kadar Kadar Rata- Rata

Buah Rotan 1 0,0299 2,8849 0,2884%

Buah Rotan 2 0,0302 2,9085 0,2908%

Buah Rotan 3 0,0305 2,9322 0,2932% 0,29128%

Buah Rotan 4 0,0302 2,9085 0,2908%

Buah Rotan 5 0,0305 2,9322 0,2932%

Lampiran 23. (Lanjutan) Perhitungan Kadar Ca Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 2,8849 mg/L x 0,1 L x 50/1 x 100%

5.103 mg = 0,2884%

Pengulangan 2 y = a + bx

y = -0,00671 + 0,01269 x 0,0302 = -0,00671 + 0,01269 x 0,0302 – (-0,00671) = 0,01269 x 0,01269 x = 0,03691

x = 0,03691 0,01269

= 2,9085 mg/L

Perhitungan Kadar Ca Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 2,9085 mg/L x 0,1 L x 50/1 x 100%

5.103 mg = 0,2908%

Lampiran 23 (Lanjutan) Pengulangan 3

y = a + bx

y = -0,00671 + 0,01269 x 0,0305 = -0,00671 + 0,01269 x 0,0305 – (-0,00671) = 0,01269 x 0,01269 x = 0,03721

x = 0,03721 0,01269

= 2,9322 mg/L

Perhitungan Kadar Ca Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 2,9322 mg/L x 0,1 L x 50/1 x 100%

5.103 mg = 0,2932%

Pengulangan 4 y = a + bx

y = -0,00671 + 0,01269 x 0,0302 = -0,00671 + 0,01269 x 0,0302 – (-0,00671) = 0,01269 x 0,01269 x = 0,03691

x = 0,03691 0,01269

Lampiran 23 (Lanjutan)

= 2,9085 mg/L

Perhitungan Kadar Ca Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 2,9085 mg/L x 0,1 L x 50/1 x 100%

5.103 mg = 0,2908%

Pengulangan 5 y = a + bx

y = -0,00671 + 0,01269 x 0,0305 = -0,00671 + 0,01269 x 0,0305 – (-0,00671) = 0,01269 x 0,01269 x = 0,03721

x = 0,03721 0,01269

= 2,9322 mg/L

Perhitungan Kadar Ca Kadar = C x V x Fp x 100%

Bs

= 2,9322 mg/L x 0,1 L x 50/1 x 100%

5.103 mg = 0,2932%

Lampiran 24. Penentuan Presisi Kalsium (Ca) Tabel 13. Tabel Penentuan Presisi Ca

Sampel Absorban Rata-Rata ± SD RSD %

Buah Rotan 1 0,0299

Buah Rotan 2 0,0302

Buah Rotan 3

0,0305

0,03026 ± 0,0001839

0,6%

Buah Rotan 4 0,0302 Buah Rotan 5 0,0305

Perhitungan presisi a. Standar Devisiasi SD =

(xinx1)2

= 5 1

2 ) 03026 , 0 0305 , 0 ( 2 ) 03026 , 0 0302 , 0 (

2 ) 03026 , 0 0305 , 0 ( 2 ) 03026 , 0 0302 , 0 ( 2 ) 03026 , 0 0299 , 0 (

=

1 5

) 0000000576 ,

0 ( ) 0000000036 ,

0 (

) 0000000576 ,

0 ( ) 0000000036 ,

0 ( ) 000000129 ,

0 (

= 4

0000001353 ,

0

=

= 0,0001839

Lampiran 24. (Lanjutan)

a. Relative Standard Deviation RSD = 100%

X SD

= 100%

03026 , 0

0001839 ,

0

= 0,6%

Lampiran 25. Skema Validasi Data

Gambar 23. Skema Validasi Data Validasi Data

Standar Deviasi

Simpangan Baku Relatif

Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

Lampiran 26. Perhitungan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi Besi (Fe) Tabel 14. Perhitungan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi Fe

No. Konsentrasi (x)

Absorban

(y) yi y-yi (y-yi)2

1 1 0.0845 0.093 -0.0085 0.0000722

2 2 0.1705 0.163 0.0075 0.0000563

3 3 0.243 0.233 0.01 0.0001000

4 4 0.3008 0.303 -0.0022 0.0000048

5 5 0.3699 0.373 -0.0031 0.0000096

Ʃ = 0,0002429

Perasamaan regresi : y = a + bx

y = 0,02341 + 0,07011x Ket :

y = serapan

ab = korelasi regeresi x = kadar

Lampiran 26. (Lanjutan) a. Simpangan baku

SBr = √ ( )

SBr =

SBr = 0,008944 mg/L

b. Batas deteksi BD =

( )

BD = ( )

BD = 0,38271 mg/L

c. Baku kuantitasi BK =

BK = ( )

BK = 1,27570 mg/L

Lampiran 27. Perhitungan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi Kalsium (Ca) Tabel 15. Perhitungan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi Ca

No. X Y yi y-yi (y-yi)2

1 1 0.0085 0.006 0.0025 0.00000625

2 2 0.0175 0.018 -0.0005 0.00000025

3 3 0.0286 0.03 -0.0014 0.00000196

4 4 0.043 0.042 0.001 0.000001

5 5 0.0592 0.054 0.0052 0.00002704

Ʃ = 0,0000365

Perasamaan regresi : y = a + bx

y = -0.00671 + 0.01269x Ket :

y = serapan

ab = korelasi regeresi x = kadar

a. Simpangan baku SBr = √ ( )

SBr =

SBr = 0,00347 mg/L

b. Batas deteksi BD =

( )

BD = ( )

BD = 0,8203 mg/L

c. Baku kuantitasi BK =

BK = ( )

BK = 2,73 mg/L

Dokumen terkait