• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS BESI (Fe) DAN KALSIUM (Ca) DALAM EKSTRAK ETANOL BUAH ROTAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISIS BESI (Fe) DAN KALSIUM (Ca) DALAM EKSTRAK ETANOL BUAH ROTAN "

Copied!
97
0
0

Teks penuh

Saya menyerahkan hak cipta tesis kepada Universitas Perintis Indonesia Padang untuk kepentingan akademik. Kepada seluruh pengajar dan staf Universitas Perintis Indonesia, terima kasih atas ilmunya yang sangat bermanfaat, semoga bermanfaat di kemudian hari. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana di Universitas Perintis Indonesia.

Farida Rahim, S.Si, M.Farm selaku pembimbing akademik yang membimbing, memotivasi dan mengarahkan kegiatan akademik penulis di Fakultas Farmasi Universitas Perintis Indonesia. Bapak/Ibu Dosen yang sampai saat ini telah mendidik dan memberikan ilmu kepada penulis dan karyawan serta analis kerja Fakultas Farmasi Universitas Perintis Indonesia Padang.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Selama ini belum ada literatur yang menjelaskan kandungan Fe dan Ca pada buah rotan. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan analisis Fe dan Ca yang terkandung dalam ekstrak buah rotan (Calamus sp) dengan menggunakan metode spektrofotometri serapan atom (AAS).

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

  • Klasifikasi
  • Tinjauan Kimia
  • Tinjauan Farmakologi
  • Tinjauan Farmasetik

Buah rotan terdiri dari penutup luar berupa sisik-sisik (pericarp) yang berbentuk trapesium dan tersusun vertikal dari toksin buah. Bentuk permukaan rotan halus (laevis) atau berbulu kasar (glaberous), dan bentuk rotan umumnya bulat, lonjong atau berbentuk telur. Kulit buah rotan yang sudah matang berwarna coklat, merah kecokelatan dan kemerahan, di dalamnya terdapat turunan buah berupa damar berwarna merah dan dikenal dalam perdagangan internasional sebagai produk darah naga atau “dragon’s blood”.

Setiap biji rotan memiliki 1 sampai 3 embrio yang ditutupi dengan lapisan membran kertas untuk melindungi embrio. Penelitian farmakologi pada buah rotan telah menunjukkan sifat antidepresan, antiinflamasi, analgesik (baik sentral maupun perifer), antidiare dan antidiabetes (Farhana, 2015).

Gambar 1. Buah Rotan (Januminro, 2000)  2.1.3 Asal Tumbuhan
Gambar 1. Buah Rotan (Januminro, 2000) 2.1.3 Asal Tumbuhan

Mineral

  • Besi (Fe)
  • Kalsium (Ca)

Besi merupakan mikromineral yang paling banyak terdapat pada tubuh manusia dan hewan yaitu sebanyak 3-5 g dalam tubuh manusia. Ini terjadi di lingkungan asam di perut dengan adanya HCl dan vitamin C dalam makanan. Zat besi sangat penting dalam tubuh manusia karena keberadaannya di banyak hemoprotein, seperti hemoglobin, mioglobin, dan sitokrom.

Besi bebas merupakan unsur beracun dalam tubuh, tetapi pengikatannya pada transferin akan mengurangi potensi toksisitasnya dan mengarahkan besi ke tempat yang dibutuhkan di dalam tubuh (Rand dan Murray, 2000). Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh, yaitu 1,5 - 2% dari berat badan orang dewasa atau kurang lebih 1 kg.

Ekstrak

  • Ekstraksi
  • Cairan Penyarian
  • Metode Ekstraksi

Maserasi adalah proses ekstraksi sederhana dengan cara merendam bahan alam atau tumbuhan dalam pelarut dan waktu tertentu dengan pengocokan atau pengadukan beberapa kali pada suhu ruang. Perkolasi adalah proses ekstraksi dengan melewatkan pelarut secara perlahan di atas simplisia dalam perkolator pada suhu kamar. Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada suhu didihnya untuk waktu tertentu dan pelarut dalam jumlah terbatas yang relatif konstan dengan adanya refluks.

Pencernaan adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan terus menerus) pada suhu lebih tinggi dari suhu kamar, biasanya dilakukan pada suhu 40-50oC. Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi simplisia sayuran dengan air pada suhu 90oC selama waktu tertentu (15-20 menit).

Metode Destruksi

Cara ini dapat digunakan untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri atau simplisia yang mengandung bahan yang tahan panas.

Spektrofotometri Serapan Atom

  • Instrumentasi Spektrofotometer Serapan Atom Sistem peralatan spektrofotometer serapan atom sebagai berikut

Dalam analisis dengan spektrofotometer serapan atom, sampel yang akan dianalisis harus dipisahkan menjadi atom netral. Pada spektrofotometer serapan atom, monokromator berfungsi untuk memisahkan dan memilih panjang gelombang yang digunakan untuk analisis. Di dalam monokromator terdapat alat yang digunakan untuk memisahkan panjang gelombang yang disebut chopper, yaitu alat yang berputar dengan frekuensi atau kecepatan yang berputar (Gandjar & Rohman, 2012).

Interferensi dalam spektrofotometri serapan atom adalah peristiwa yang menyebabkan pembacaan absorbansi unsur yang dianalisis menjadi lebih rendah atau lebih tinggi dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya dalam sampel (Gandjar dan Rohman, 2012). Cara untuk mengatasi gangguan ini adalah bekerja pada panjang gelombang yang lebih panjang atau pada suhu yang lebih tinggi.

Validasi Metoda Analisis

Interferensi berasal dari matriks sampel, yang dapat mempengaruhi jumlah sampel yang mencapai nyala api. Jika kedua metode ini masih tidak dapat membantu menghilangkan gangguan tersebut, maka satu-satunya cara adalah dengan mengukur jumlah serapan non-atom menggunakan sumber cahaya yang menyediakan spektrum kontinu (Gandjar dan Rohman, 2012). Akurasi (akurasi) adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kedekatan hasil analisis dengan kadar analit yang sebenarnya.

Dalam metode simulasi, sejumlah analit zat murni ditambahkan ke dalam campuran sediaan farmasi kemudian campuran tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar analit yang ditambahkan (kadar aktual) (Harmita, 2004). Dalam metode penambahan standar, sampel dianalisis dan kemudian sejumlah analit yang diteliti ditambahkan ke sampel, dicampur dan dianalisis lagi. Dalam kedua metode tersebut, persentase pemulihan dinyatakan sebagai rasio hasil yang diperoleh dengan hasil aktual.

Metode penambahan dapat dilakukan dengan cara menambahkan sejumlah analit dengan konsentrasi tertentu ke dalam sampel yang diteliti kemudian dianalisis dengan metode tersebut. Persentase perolehan kembali ditentukan dengan menentukan berapa persen analit yang ditambahkan dapat diperoleh kembali (Harmita, 2004). Presisi (presisi) adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kesesuaian antara hasil tes individu, diukur dengan distribusi hasil individu dari rata-rata jika prosedur tersebut diterapkan berulang kali pada sampel yang diambil dari campuran homogen.

Presisi adalah ukuran pengulangan suatu metode analisis dan biasanya dinyatakan sebagai standar deviasi relatif dari jumlah sampel yang secara statistik berbeda secara signifikan (Harmita, 2004). Limit of detection (LOD) adalah jumlah analit terkecil dalam suatu sampel yang dapat dideteksi dan masih memberikan respon yang berarti dibandingkan dengan blanko. Limit of quantitation (LOQ) didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan secara akurat dan tepat.

Alat dan Bahan .1 Alat .1 Alat

  • Bahan

Prosedur Penelitian .1 Pengambilan Sampel .1 Pengambilan Sampel

  • Identifikasi Sampel
  • Pembuatan Ekstrak Buah Rotan (Depkes RI, 2011)
  • Pemeriksaan Ekstrak Buah Rotan

Keringkan tutup porselen dan tutup dalam oven pada suhu 105°C selama 30 menit dan biarkan dingin lalu timbang. Tuang ekstrak ke dalam toples hingga beratnya 1 gram dari berat toples bertutup yang diketahui sebelumnya. Goyangkan tutupnya dengan lembut untuk mendistribusikan ekstrak secara merata dan masukkan kembali ke dalam oven, lepaskan tutupnya dan biarkan tutupnya di dalam oven.

Ekstrak ditimbang sebanyak 2 gram, dimasukkan ke dalam krusibel yang telah dinyalakan dan dialirkan aspal, kemudian diratakan. Kemudian arang dimasukkan ke dalam oven selama 4 jam dengan suhu 600°C sehingga terbentuk abu, didinginkan dalam desikator dan ditimbang berat abu yang diperoleh. Teteskan 1-2 tetes aqueous layer pada drop plate, tambahkan sedikit serbuk logam Mg dan beberapa tetes HCl(p), munculnya warna kuning jingga hingga merah menandakan adanya senyawa flavonoid.

Lapisan berair ditempatkan dalam tabung reaksi kemudian dikocok jika terbentuk busa permanen (± 15 menit) yang menunjukkan adanya saponin. Lapisan kloroform disaring dengan norit, hasil saringan dipipet 2-3 tetes dan dikeringkan pada plat tetes, setelah kering ditambahkan 2 tetes. Tambahkan 2-3 tetes lapisan kloroform yang mengandung 10 ml amoniak kloroform dan 1 tetes asam sulfat 2N, lalu kocok kuat-kuat dan diamkan hingga terbentuk dua lapisan. Ambil lapisan asam (bagian atas) kemudian tambahkan 1-2 tetes pereaksi Mayer, reaksi alkaloid positif ditunjukkan dengan adanya kabut putih hingga gumpalan putih.

Pembuatan Pereaksi

Proses Dektruksi Ekstrak Buah Rotan

Hasil pembilasan dimasukkan ke dalam labu takar dan diisi air demineralisasi sampai tanda garis. 42 dimana 5 ml filtrat pertama dibuang untuk menjenuhkan kertas saring, kemudian filtrat dibotolkan.

Analisis Kualitatif

  • Analisis Kualitatif Besi (Fe)
  • Analisis Kualitatif Ca (Kalsium)

Analisis Kuantitatif

  • Pengukuran Deret Larutan Strandar Fe (Besi)
  • Pengukuran Deret Larutan Strandar Ca (Kalsium)
  • Penetapan Kadar Besi (Fe) Dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
  • Penetapan Kadar Kalsium (Ca) Dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Selanjutnya, serapan pada panjang gelombang 422,7 nm diukur dengan spektrofotometer serapan atom yang disesuaikan dengan kondisi nyala udara asetilena. Kandungan mineral Fe (Besi) dan Ca (Kalsium) dalam sampel dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

Validasi Data .1 Standar Deviasi .1 Standar Deviasi

  • Relative Standart Deviation
  • Penentuan Batas Deteksi (Limit of Detection) dan Batas Kuantitasi (Limit of Quantitation) (Limit of Quantitation)

Batas deteksi adalah jumlah analit terkecil dalam suatu sampel yang dapat dideteksi dan masih memberikan respon yang berarti. Sedangkan limit kuantisasi adalah jumlah terkecil analit dalam suatu sampel yang masih dapat memenuhi kriteria secara cermat dan teliti.

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1 Hasil Penelitian

Pembahasan

Sampel penelitian diambil dari hutan di Desa Jambu, Kecamatan Merigi Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu. Alasan memilih buah rambutan karena buah rambutan mengandung Ca dan Fe yang cukup tinggi untuk mineral dalam tubuh. Keuntungan penggunaan ekstrak kental dibandingkan dengan simplisia asli adalah dapat digunakan lebih mudah dan penggunaan yang lebih sedikit dibandingkan simplisia karena ekstrak kental sudah mengandung senyawa-senyawa yang diinginkan.

Evaluasi terhadap ekstrak etanol buah rotan (Calamus sp) terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan organoleptik, didapatkan ekstrak kental berwarna coklat tua, berbau khas dan berasa pahit. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan susut pengeringan yang diperoleh sebesar 7,01%, pengukuran zat sisa setelah pengeringan pada suhu 105°C sampai berat konstan (tidak lebih dari 10%), tujuannya adalah untuk memberikan batas maksimum jumlah senyawa yang hilang selama proses pengeringan. Pemeriksaan kadar abu diperoleh sebesar 2,25% masih memenuhi baku mutu kadar abu (tidak lebih dari 5%). Tujuan kadar abu ini adalah untuk memberikan gambaran kandungan mineral yang diperoleh pada proses awal hingga terbentuk ekstrak, dimana senyawa organik dan turunannya dihancurkan dan diuapkan hanya menyisakan unsur mineral dan senyawa anorganik (Departemen Kesehatan RI, 1979).

Selanjutnya uji kualitatif terhadap ekstrak etanol buah rotan memberikan hasil positif dari ekstrak tersebut. Langkah pertama adalah menyiapkan larutan standar besi dan kalsium dengan menggunakan larutan standar besi dan kalsium (konsentrasi 1000 mg/L) dipipet 1 mL, dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditepatkan sampai tanda garis dengan aqua demineralisa (konsentrasi 10 mg/L). Solusi untuk kurva kalibrasi besi dan kalsium disiapkan dengan memipet 2,5 mL; 5 ml; 7,5 ml; 10 mL dan 12,5 mL (larutan standar 10 μg/mL) kemudian ditempatkan dalam labu ukur 25 mL dan diisi sampai garis tanda dengan aqua demineralisasi (larutan ini mengandung zat besi dan kalsium dengan konsentrasi 1 mg/L; 2 mg/mL; 3 mg/L; 4 mg/L; 4 mg/L; 4 mg/L adalah larutan yang diserap pada target dan 5 mg/L) dan di mana larutan yang diserap diukur dalam 5 mg/L . 248,3 nm dan untuk larutan standar kalsium diukur pada panjang gelombang 422,7 nm menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS).

Konsentrasi besi dan kalsium dalam sampel ditentukan berdasarkan persamaan regresi kurva kalibrasi dengan rumus y = a + bx. Pada saat penentuan kadar mineral besi dan kalsium didapatkan hasil kandungan besi pada sampel sebesar 0,002525% dimana dalam 1 kg sampel terdapat 0,002525 mg besi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa buah rotan mengandung zat besi (Fe) dan kalsium (Ca).

Saran

Skrining fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak buah Selekop (Lepisanthes amoena Hassk. Leenh) dan Manau Rattan (Calamus manan Miq).

Gambar 3. Foto Buah rotan (Calamus sp)
Gambar 3. Foto Buah rotan (Calamus sp)

Gambar

Gambar 1. Buah Rotan (Januminro, 2000)  2.1.3 Asal Tumbuhan
Gambar 3. Foto Buah rotan (Calamus sp)
Gambar 4. Surat Identifikasi Buah Rotan (Calamus sp)
Gambar 5. Skema Kerja Pembuatan dan Pemeriksaan Ekstrak Buah Rotan Pemeriksaan Ekstrak Buah Rotan
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Assalamualaikum, Wr.Wb., Alhamdulillah, segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis diberikan kelancaran dan

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji syukur bagi ALLAH SWT dan Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mendapatkan kemudahan-kemudahan

KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirrahim,saya panjatkan segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT,yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dalam memberikan kesempatan dan

KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah senantiasa Kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini untuk

viii KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan dan mencurahkan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat

ix KATA PENGANTAR Bersyukur Alhamdulillah senantiasa Peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga Peneliti dapat menyelesaikan

vii KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt yang senantiasa melimpahkan petunjuk, berkat, dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang

iv KATA PENGANTAR Alhamdulilah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, shalawat serta salam semoga senantiasa