BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
Dari penelitian ini disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat menggunakan metoda lain seperti histopatologi untuk melihat kerapatan serabut kolagen dari bekas luka tersebut. Disarankan jugauntuk dapatmelanjutkan pengujian penyembuhan luka dengan mengisolasi senyawa aktif pada tumbuhan meniran yang paling berperan dalam proses penyembuhan luka.
67 DAFTAR PUSTAKA
Amanda, N. 2017. Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Piladang (Solenostemon scutellarioides (L.) Codd) Secara Topikal Penyembuhan Luka Eksisi Pada Tikus Putih Jantan. Skripsi. Padang:
STIFI.
Arbain, D., Amri Bakhtiar, Deddi Prima Putra dan Nurainas. 2014. Tumbuhan Obat Sumatera. Kampus Unand Limau Manis Padang: UPT Sumber Daya Hayati Sumatera Universitas Andalas.
Aria, M., Arel, A., & Monika, 2015, Uji Efek Antiinflamasi Fraksi Daun Piladang (Solenostemon scutellarioides (L.) Codd) Terhadap Mencit Putih Betina,Jurnal Scientia, 5(2): 84–91
Arifin, B., dan Sanusi Ibrahim. 2018. Struktur, Bioaktivitas dan Antioksidan Flavonoid. Jurnal Zarah, 6(1), 21-29.
Aspan, R. 2010. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2004. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia (volume 2). Jakarta: Badan POM.
Cahaya., Herson, H., Pramono., Dwi, AR. 2017. Uji Farmakologis Ekstrak Kental Daun Meniran (Phyllanthus niruru L.) Untuk Membantu Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih Jantan. Jurnal Farmamedika. 2(1): 25-31.
Dalimartha, S. 2008. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia (edisi 2). Jakarta: Trubus Agriwidya, Anggota IKAPI PT. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia IV..
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat Tradisional.
Diarini, N.N., 2014, Aktivitas Imunostimulan Kombinasi Ekstrak Etanolik Umbi Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme(Lodd.) Blume), Herba Meniran (Phyllanthus niruriL.), dan .) Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz. & Pav.) Terhadap Proliferasi Limfosit pada Mencit Balb/C yang Diinduksi Vaksin Hepatitis B, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
68 FeriskaRama p. 2020. Uji pengaruh pemberian salep fraksi etil asetat daun meniran (phyllanthus niruri l.) Terhadap gambaran histopatologi luka eksisi tikus putih jantan selama 10 hariSkripsi. Padang: STIFI.
Gholib, Ibnu Gandjar., Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gusriyani Sri. 2019. pengaruh pemberian fraksi etil asetat ekstrak daun meniran terhadap proses penyembuhan luka terhadap luas diameter penyembuhan luka, waktu epitelisasi, dan kadar hidroksiprolin pada tikus putih jantan. Skripsi. Padang: Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia.
Hakim, K., Obydul, H. 2016.A review on ethnomedicinal, phytochemical and pharmacological properties of Phyllanthus niruri.Journal of Medicinal Plants Studies.4(6): 173-180.
Harborne, J., 1987. Metoda Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Bandung: ITB.
Harmita. 2015. Analisis Fisikokimia Potensiometri & Spektroskopi. Jakarta:
Erlangga.
Hostettmann, K., & Marston, A. 1994. Search for Nem Antifungal Compounds from Higher Plants. Pure and Appl, 232-234.
Karakata, S. dan Bachsinar B.1995. Bedah Minor. Jakarta: Hipokrates.
Kardinan A dan Rahman F. (2004). Meniran menambah daya tahab tubuh alami, Jakarta; Agromedia Pustaka.
Kartika. R. W. Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing. Jakarta:RS Gading Pluit. DK-230/ vol. 42 no. 7, th. 2015.
Kaur, Navneet, Baljinder Kaur and Geetika Sirhindi. 2017. Phytochemistry and Pharmacology of Phyllanthus niruri L. Review Phytotherapy Research. DOI:10.1002.
Kusmiati., Rachmawati, F., Siregar, S.,Nuswantara, S., Malik, A. 2006. Produksi Beta 1-3 Glukan dari Agrobakterium dan Aktifitas Penyembuhan Luka Terbuka Pada tikus Putih.Makara Sains. 1(10): 24-29.
Lestari, I. A. S., 2015. Pemeriksaan Makroskopis dan Mikroskopis Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri L.). Medan: Universitas Sari Mutiara Indonesia.
Lestari, I. A. S., 2015. Pemeriksaan Makroskopis dan Mikroskopis Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri L.). Medan: Universitas Sari Mutiara Indonesia.
Maharani, A. 2015.Penyakit Kulit, Perawatan, Pencegahan dan
69 Pengobatan.Pustaka Baru Press.Yogyakarta.
Nagori BD, Solanki, R. Role of medicinal plants in wound healing. Research Journal of Medicinal Plant. 2011;5(4):392-405.
Nasution, N. 2015. Uji aktivitas ekstrak etanol umbi talas jepang (Colocasia esculenta (L.) Schoot var. antiquorum) terhadap Penyembuhan Luka terbuka pada Tikus Putih (rattus norvegicus) Jantan Galur Sprague Dawley. UIN Syarif Hidayatullah.
Ozaki, Y., Sekita, S., Soedigdo, S., Harada, M., 1989, Antiinflammatory effect of Graptophyllum pictum (L.) Griff., Chem Pharm. Bul.l (Tokyo), 37 (10), 2799-802.
Poole, C., & Salwa, K.1991. Chromatography Today. Amsterdam: Elsevier Scien62ce Publisher.
Pramudiarja, A.N Uyung. Penyebab Luka Penderita Diabetes Susah Sembuh.
Artikel Detik Health. 2010. 21.
Priyandari Y, Maulidah SAT. Getah Pohon Jarak (Jatropha Curcas) Topical Mempercepat Lama Penyembuhan Luka Eksisi Mencit (Effect Of Jarak Tree Topical Increase Wound Healing Excision Period Of Mice). Journals Ners Community. 2015;6(2).
Rut, T.G. 2019. Pengaruh Pemberian Salep Fraksi Etil Asetat DaunMeniran (Phyllanythus niruri L.) Terhadap Gambaran Histopatologi Luka Eksisi Tikus Putih Jantan Selama 20 Hari. Skripsi. Padang: STIFI.
Samuelsson, Gunnar, 1999, Drug Of Natural Origin A Teexbook Of Pharmacognosy, Swedish Pharmacetical Press, Sweden.
Shila, G & Natasa, S. B. 2008. Wound Healing Properties of Carica Pepaya Laetex: In Vivo Evaluation in Mice Burn Model. Journal of Ethnopharmacology 121,338-341.
Singer, A.J & Dagum, A.B. 2008.Current Management of Acute Cutaneous Wounds. N Eng I Med, 359(10): 1037-46.
Soni H, Singhai AK. A recent update of botanicals for wound healing activity. Int Res J Pharm. 2012;3:1-6.
Thakur, R., Jhain, N., Phatak, R., and Shandu, S. S.2011. Practices in Wound Healing Studies Plants.India: Jurnal Hindawi Publishing Corporation.
Theoret C. 2017. Chapter 1 Physiology of wound healing in Equine Wound Management. 3thEd. John Wiley and Sons Inc.
70 Wahyuni, S. 2016. Pengaruh Pemberian Salep Fitoplankton Chlorella Vulgaris Terhadap Penyembuhan Luka Sayat (Incisi) Pada Mencit (Mus Musculus Albinus). Skripsi. Makasar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar.
Wilbraham, A. C., & Matta, M. S. 1984. Introduction to Organic and Biological Chemistry. Menlo Park, Calif.: Benjamin/Cummings Pub. Co.
Yufri Aldi, 2013. Uji Aktifitas Beberapa Subfraksi Etil Asetat Dari Herba Meniran (Phyllanthus niruri Linn.) Terhadap Reaksi Hipersensitivitas Kutan Aktif.Unand:Padang.
Zulfa, E., Nurkhasanah dan L.H. Nurani. 2014. Aktivitas antioksidan kea J.Ilmu Farmasi.Vol.2(1) pp:7-14.
71 Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian
Gambar 13. Gambar Meniran
1
3 2
Gambar 14. Gambar Seperangkat Alat Rotary Evaporator Keterangan :
1. Kondensor 2. Labupelarut 3. Labu rotary
72 Lampiran 1. (lanjutan)
2 1
Gambar 15. Gambar Seperangkat Alat Spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu)
Keterangan
1. Tempat Kuvet 2. Monitor
Gambar 16. Fraksi Etil Asetat Daun Meniran (Phyllanthus niruri L.)
73 Lampiran 1. (lanjutan)
(a) (b) (c)
Gambar 17. (a)sediaan salep subfraksi etil asetat 10%,(b)sediaan basis salep kontrol,(c)sediaan pembanding (Salep T®).
Gambar 18. pH Salep konsentrasi subfraksi etil asetat daun meniran 10%.
Gambar 19. Subfraksi3 Etil Asetat
74 Lampiran 1. (lanjutan)
(a) (b) (c)
(d) (e)
Gambar 20. Plat KLT (Kromatografi Lapis Tipis)
Keterangan :a) eluen n-heksan:etil asetat(2:1)=ekstrak:fr.heksan:fr.etil,tinggi plat=5,5cm,panjang lintasan=5cm,tampak noda=sinar UV 254 nm.
b) eluen n-heksan:etil asetat(2:1)=fr.heksan:fr.etil:sub
no.20:I:II,tinggi plat=5,5cm,panjang lintasan=5cm,tampak noda=sinar UV 254 nm.
c) eluen n-heksan:etil asetat(2:1)=subfraksi etil asetat no.01-19, tinggi plat=5,5cm, panjang lintasan=5cm, tampak noda=sinar UV 254 nm.
d) eluen n-heksan:etil asetat(3:7)=ekstrak:fr.heksan:fr.etil, tinggi plat 5,5cm, panjang lintasan=5cm, tampak noda=sinar UV 254 nm.
75 (e) eluen n-heksan:etil asetat(3:7)=subfraksi etil asetat no.20-30,
tinggi plat=5,5cm, panjang lintasan=5cm, tampak noda=sinar UV 254 nm.
Lampiran 1. (Lanjutan)
Gambar 21. Kromatografi Kolom
76 Lampiran 2. Identifiikasi Sampel
Gambar 22. Surat Identifikasi Tumbuhan
77 Lampiran 3. Ethical Clearance
Gambar 23. Surat Keterangan Lolos Kaji Etik
78 Lampiran 4. Ekstraksi, Fraksi,dan Subfraksi Etil Asetat Daun Meniran
Gambar 24. Skema Kerja Pembuatan Ekstrak Etanol Kental Daun Meniran (Phyllanthus niruri L.)
Sampel meniran (Phyllanthus niruri L.)
Serbuk daun meniran
Filtrat 1 Ampas
Gabungan semua filtrat Ampas
Ekstrak etanol kental
Dibersihkan dan dirajang halus sebanyak 5 kg
Dikeringkan dan diserbukkan
Dimaserasi dengan etanol 70%
selama 24 jam
Dimaserasi kembali dengan etanol 70%
selama 2X24 jam
Lakukan hingga
diperoleh filtrat terakhir yang sudah berwarna agak pucat
Rotary Evaporator Filtrat 2
79 Lampiran 4.(Lanjutan)
Gambar 25. Skema Kerja Pembuatan Subfraksi Etil AsetatDaun Meniran (Phyllanthus niruri L.)
Ekstrak kental
Terbentuk 2 lapisan
Fraksi n-heksana Fraksi air
Fraksi etil asetat Fraksi air
Encerkan dengan aquadest (1:5)
Fraksinasi dengan pelarut n-heksana (2:1) secara berulang hingga diperoleh fraksi n- heksana yang tidak berwarna lagi
Pisahkan
Fraksinasi dengan etil asetat (2:1) secara berulang, hingga diperoleh fraksi etil yang tidak berwarna lagi
Rotary Evaporator
Subfraksi Fraksi etil asetat
kental
Evaluasi
Pemeriksaan kandungan kimia Pembuatan salep
masukan ke kromatografi kolom, menggunakan pelarut Heksan : Etil Asetat (2:1) sebagai fase gerak, dan silica gel sebagai fase diam, tampung hasi kromatografi menggunakan vial 100 ml
80 Lampiran 4. (Lanjutan)
Gambar 26. Skema KerjaPemeriksaan Uji Fitokimia Subfraksi Daun Meniran(Phyllanthus niruri L.)
Subfraksi Etil Asetat Daun Meniran (Phillanthus niruri L.)
Pemeriksaan Flavonoid
Pereaksi : Lapisan air +
Mg dan HCL(p)
Timbulnya warna orange
+
Pemeriksaan Fenolat
Pemeriksaan Saponin
Pemeriksaan Steroid/Terpenoid
Pemeriksaan Alkaloid
Pereaksi : Lapisan air +
FeCl3
Timbulnya warna biru
+
Pereaksi : Lapisan air + dikocok kuat
Terbentuknya busa permanen (±15 menit)
Pereaksi : Lapisan kloroform+norit
, as.asetat anhidrat, H2SO4(p)
Steroid warna biru-hijau
- -
Pereaksi : Lapisan kloroform+klor
oform ammonia,H2SO4
2 N,Mayer
Pereaksi : Adanya kabut
putih hingga gumpalan putih
-
81 Pembuatan Luka
Sayat
Pemberian sediaan pada masing-masing kelompok secara topikal dengan 2x pengolesan dalam sehari yai tu pagi dan
sore pada kelompok hari ke-5, ke-10, dan hari ke-15 Pengukuran Parameter Uji:
% Luas penyembuhan luka
Waktu epitelisasi
Kadar hidroksiprolin
Analisa Data
Lampiran 5. Pengaruh Pemberian Sediaan Terhadap Penyembuhan Luka
Gambar 27. Skema Kerja Pengaruh Pemberian Sediaan Terhadap Penyembuhan Luka.
Tikus Putih jantan
Kelompok I (kontrol) diberikan
basis salep vaselin
Kelompok III (perlakuan) diberikan
salep subfraksi etil asetat daun meniran
10%
Kelompok II (pembanding) diberikan
sediaan salep yang beredar yaitu tekasol
Aklimatisasi selama 7 hari
Dicukur bulu pada punggung tikus
Bersihkan dengan kapas yang diberi alcohol 70%
Anastesi dengan eter
Lukai dengan diameter ±2 dan kedalaman ±1 mm
Tikus dibagi 3 kelompok
82 Lampiran 6.Penentuan Panjang Gelombang SerapanMaksimum Hidroksiprolin.
Gambar 28. SkemaKerjaPenentuan Panjang Gelombang SerapanMaksimum Hidroksiprolin.
Hidroksiprolin
Diinkubasi pada suhu 80˚C selama 5 menit
Larutan inkubasi
Ukur masing-masing panjang gelombang pada kelima konsentrasi untuk pembuatan kurva kalibrasi, panjang gelombang maksimum diambil pada konsentrasi 6 ppm
Larutan induk 500 ppm
2 ppm 4 ppm 6 ppm 8 ppm 10 ppm
Didapatkan panjang gelombang maksimum 559 nm
Timbang 50 mg hidroksiprolin masukkan dalam labu ukur 100 ml larutkan dengan aquabidest
Dilakukan pengenceran menjadi 5 konsentrasi
ad aquabidest hingga 1 ml masukkan kedalam labu ukur 10 ml ditambah 1 ml CuSO4 0,01 N, 1ml NaOH 2,5 N dan 1 ml H2O2 6%
Dinginkan, tambahkan 4 ml H2SO4 3 N dan 4-
dimetilaminobenzaldehid 5%
Inkubasi kembali pada suhu 70 ˚C selama 16 menit.
Dinginkan pada suhu 20 ˚C
83 Lampiran 7.Penentuan Kadar Hidroksiprolin Dalam Jaringan Bekas
LukaKulit Tikus.
1 ml NaOH 2,5
Gambar 29. Skema KerjaPenentuan Kadar Hidroksiprolin Dalam Jaringan Bekas LukaKulit Tikus.
Sampel netral
Diinkubasi pada suhu 80˚C selama 5 menit
Ukur serapannya dengan Spektrofotometer UV-Vis pada
panjang gelombang 559 nm Kulit tikus bekas luka
Biopsi pada hari ke-5
Keringkan pada subu 60˚C selama 12 jam
Hidrolisa dengan HCL 6N selama 24 jam pada suhu 110˚C
Dipipet 200 μl ad aquadest hingga 1 ml, diencerkan dengan 1 ml CuSO4 0,01 N ml NaOH 2,5N dan 1 ml H2O2 6%
Dinginkan, tambahkan 4 ml H2SO4 3 N dan 2 ml 4- dimetilaminobenzaldehid 5%
Inkubasi kembali pada suhu 70
˚C selama 16 menit.
Dinginkan pada suhu 20˚C
84 Lampiran 8. Hasil Karakterisasi Fraksi dan Subfraksi Etil Asetat Daun
Meniran
Tabel9. Hasil Pemeriksaan Organoleptis Fraksi Etil Asetat Daun Meniran
Organoleptis Hasil Pengamatan
Bentuk Cairan Kental/Setengah Padat
Warna Hijau Kehitaman
Bau Khas
Tabel10. Hasil Pemeriksaan Organoleptis Subfraksi Etil Asetat Daun Meniran
Organoleptis Hasil pengamatan
Bentuk Kristal
Warna Hijau Tua
Bau Menyengat dan Tajam
Tabel 11. Hasil Penentuan Rendemen Fraksi Etil Asetat Daun Meniran Berat Ekstrak Etanol
Daun Meniran
Berat Fraksi Etil Asetat Daun Meniran
% Rendemen
505,257 gr 87,545 gr 17,32 %
% Rendemen =
x 100%
=
x 100%
= 17,32 %
Tabel 12. Hasil Penentuan Rendemen Subfraksi Etil Asetat Daun Meniran Berat Fraksi Kental Daun
Meniran
Berat Subfraksi Daun Meniran
% Rendemen
87,54 g 2,75 g 3,141 %
85
= 3,141 %
Tabel 13. Hasil Pemeriksaan Uji Fitokimia Subfraksi Etil Asetat Daun Meniran
No Kandungan Kimia
Pereaksi Hasil
Pengamatan
Kesimpulan 1. Flavonoid Lapisan air + Mg dan
HCl (p)
Merah muda +
2. Fenolik Lapisan air + FeCl3 Biru +
3. Saponin Lapisan air dikocok kuat
Tidak terbetuk busa
- 4. Terpenoid/Steroid Lapisan kloroform +
norit, as.
Asetatanhidrat, H2SO4 pekat
Tidak terbentuk warna merah/biru
-/-
5. Alkaloid Lapisan kloroform + kloroform amoniak , H2SO4 2N, mayer
Tidak terdapat kabut/gumpalan
putih
- Keterangan : + = Terjadi Reaksi
- = Tidak Terjadi Reaksi
Lampiran 9.Evaluasi Salep Subfraksi Daun Meniran
Tabel14. Hasil Pengamatan Secara Organoleptis Salep Subfraksi 10% Daun Meniran
Organoleptis Hasil Pengamatan
K0 K1 (10%)
Bentuk Semisolid Semisolid
Warna Kuning Hijau pekat
Bau Khas vaselin Khas meniran Keterangan :
K0 = Sediaan Basis Salep K1= Perlakuan Subfraksi 10%
86 Tabel 15. pH Salep Subfraksi Etil Asetat Daun Meniran
No Formula pH
1. K1 (10%) 5
Keterangan :
K1 = Perlakuan Subfraksi 10%
Contoh perhitungan persentase penyembuhan luka :
% Luas Penyembuhan Luka = ( Luas luka awal- Luas luka akhir ) X 100%
Luas luka awal Kontrol HP 1
Diameter luka awal = 2,5cm
Diameter luka akhir = 1,8cm
Jari-jari (r) awal Jari-jari (r) = r = = 1,25 cm
Jari-jari (r) akhir Jari-jari (r) = r = = 1,9 cm
π = 3,14 Luas luka awal : L = π x r²
L = 3,14 x (1,25) 2cm L = 4,906 cm²
87 Luas luka akhir :
L = π x r²
L = 3,14 x (0,9) 2 cm L = 2,543 cm²
% Luas Penyembuhan Luka
% Luas Penyembuhan Luka =
= –
= 48,16%
Lampiran10. Hasil Pengkuran Panjang Gelombang Maksimum Hidroksiprolin.
Gambar 30.Spektrum Kurva Panjang Gelombang Serapan Maksimum Hidroksiprolin Pada Konsentrasi 3 ppm Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis.
88 Tabel 16. Hasil Pengukuran Absorban Larutan Standar Hidroksiprolin
pada = 559 nm
No Konsentrasi
( g/mL) Absorban
1 2 0.29
2 4 0.406
3 6 0.53
4 8 0.633
5 10 0.779
Lampiran 10. (Lanjutan)
Gambar 31. Kurva Kalibrasi Larutan Hidroksiprolin pada = 559 nm
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
0 2 4 6 8 10 12
absorban
konsentrasi µg/mL