Siklus I Siklus II
Tahap 3 Membimbing
B. Saran-saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian-uraian sebelumnya agar proses mengajar IPA lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Untuk melaksanakan Model
Pembelajaran Inquiri memerlukan
persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan Model Pembelajaran Inquiri dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
2. Dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran yang sesuai, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa hendaknya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep-konsep dan ketrampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut.
4. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan- perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik.
DAFTAR RUJUKAN
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Balai Pustaka.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Hamalik, Oemar. 1994. Metode Pendidikan.
Bandung: Citra Aditya Bakti.
Hamalik, Oemar. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Hauser, Jane, 2007. Science Inquiry: The Link to Accessing the General Education Curriculum, The Acces
Center (Online),
(http://www.K4accesscenter.org/
document/scienceInquiry-PDF.pdf, diakses 12 April 2010).
Kuhlthau, C.C., Maniotes, L.K. & Caspari, A.K. 2007. Guided Inquiry: Learning in the 21st Century. London:
Libraries Unlimited.
Mangunwijaya. 2007. Kurikulum yang Mencerdaskan. Jakarta: Kompas.
Moleong. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Nasution. 1982. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar.
Bandung: PT. Bina Aksara.
Nurhadi, Yasin, Senduk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerepannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Rusyan, Kusdinar, dan Arifin. 1989.
Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Karya.
Silberman. 2006. Active Learning. Bandung:
Nusamedia.
Uno, Hamzah. 2004. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA
SISWA KELAS VII A SMP PAWYATAN DAHA 1 KEDIRI
Emy Rachmawati SMP Pawyatan Daha 1 Kediri Email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini didasari oleh hasil refleksi awal terhadap proses dan hasil belajar siswa kelas VII-A SMP Pawyatan Daha 1 Kediri masih rendah yakni keaktifan belajar siswa baru mencapai 41,38%
dan kriteria ketuntasan belajar minimal hanya 55,17%. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran IPA sangat kurang. Melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa dikondisikan untuk secara aktif terlibat dalam setiap tahapan yang terdiri dari (1) numbering (penomoran), (2) questioning (pengajuan pertanyaan), (3) heads together (berpikir bersama), dan (4) answering (pemberian jawaban). Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus, dimana setiap siklus meliputi kegiatan: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT keaktifan belajar siswa mengalami peningkatan 62,07% pada siklus pertama dan menjadi 75,86% pada siklus kedua.
Demikian pula rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari 72,41% pada siklus pertama menjadi 86,21% pada siklus kedua.
Kata kunci: NHT, keaktifan belajar, hasil belajar PENDAHULUAN
Dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan :”Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Maksudnya pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan pengetahuan siswa sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pembelajaran yang didukung dengan sumber belajar.
Proses pembelajaran di SMP Pawyatan Daha 1 Kediri masih berakibat rendahnya hasil belajar dan kurangnya keaktifan belajar siswa dalam bidang IPA disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain (1) siswa kurang aktif dalam pembelajaran IPA, (2) kurangnya kesadaran siswa untuk memahami pelajaran secara mandiri, (3) kurangnya keberanian siswa dalam bertanya, dan (4) kurangnya kepedulian siswa dalam pembelajaran IPA. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan siswa sekaligus hasil belajarnya.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community).
Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesame siswa (Rusmaryanti dalam Fitri Ria Nur ‘Aini dkk, 2016:87).
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah tipe NHT (Numbered Heads Together). Pembelajaran kooperatif tipe NHT
dikembangkan oleh Spencer
Kagen(Isjoni:2011) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam satu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Menurut Trianto dalam Syarfuni, 2014:96 Pembelajaran kooperatif tipe NHT memuat langkah-langkah sebagai berikut.
Pertama : Numbering (penomoran); guru membagi siswa ke dalam kelompok yang beranggotakan 3 sampai 5 siswa dan kepada siswa diberi nomor 1 sampai 5 (jika anggota kelompok 5 siswa)
Kedua : Questioning (mengajukan pertanyaan); guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, pertanyaan disini berupa lembar masalah yang berhubungan dengan pokok bahasan. Pertanyaan dapat bervariasi dari yang bersifat spesifik sampai pada hal yang bersifat umum. Kemudian siswa diarahkan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan berdiskusi bersama anggota kelompoknya.
Ketiga : Heads together (berpikir bersama);
siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tersebut.
Keempat: Answering (menjawab); guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Kemudian guru bertanya kepada siswa yang bernomor sama pada kelompok lain untuk menanggapi jawaban tersebut.
Fitri Ria, 2016:88 menyatakan Aktif berarti giat (bekerja atau berusaha), sedangkan keaktifan diartikan sebagai hal atau keadaan dimana siswa dapat aktif. Keaktifan siswa merupakan suatu keadaan dimana siswa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran.
Dalam hal ini keaktifan siswa terlihat dari merespon pertanyaan atau perintah dari guru, mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, berani mengemukakan pendapat, berani bertanya apabila ada penjelasan guru yang kurang jelas dan aktif mengerjakan soal yang diberikan guru. Dari keaktifan siswa tersebut maka diharapkan akan berdampak juga pada hasil belajar siswa. Dalam prakteknya, hasil belajar diukur dengan tes evaluasi dimana tes tersebut siswa diberikan pertanyaan permasalahan yang menuntut siswa untuk berpikir kritis dengan tujuan membiasakan siswa untuk mengembangkan pola pikir mereka sehingga hasil belajar siswa meningkat.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan secara kolaboratif dengan menggunakan model Kemmis and Taggart (Arikunto, 2006). Tahapan-tahapan dari model ini adalah perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini dilakukan dua siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-A SMP Pawyatan Daha 1 Kediri pada tahun
ajaran 2017/2018 sebanyak 29 siswa yang terdiri dari 16 siswa putra dan 13 siswa putri.
Penelitian ini dilakukan di kelas VII-A SMP Pawyatan Daha 1 Kediri pada semester ganjil tgl 28 Agustus – 16 September 2017.
Instrumen yang digunakan adalah Silabus, RPP, LKS, lembar observasi, Daftar hadir siswa dan soal test. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode observasi dan tes hasil belajar.
Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang terdiri atas paparan data, pembahasan, dan penarikan kesimpulan.
Instrumen penelitian yang digunakan antara lain: (1) tes akhir siklus untuk mengukur hasil belajar siswa , dan (2) lembar observasi untuk mengukur keaktifan belajar siswa.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keaktifan Siswa
Aktifitas siswa pada penelitian ini mengacu pada aspek keaktifan siswa dalam pembelajaran.
Berikut ini adalah hasil dari keaktifan siswa:
Tabel 1. Hasil Keaktifan Belajar Siswa Keaktifan
Belajar
Pra Siklus
Siklus I Siklus II Bertanya 34,48% 55,17% 68,97%
Menjawab 44,83% 72,41% 86,21%
Kerjasama 62,07% 75,86% 86,21%
Mengemukakan Ide
24,14% 44,83% 62,07%
Rata-rata 41,38% 62,07% 75,86%
Tabel 1 menunjukkan hasil observasi dari keaktifan belajar siswa, Rata-rata mulai dari pra siklus 41,38%, siklus I 62,07% dan siklus II 75,86%. Dari hasil tersebut keaktifan belajar siswa mulai ada peningkatan. Meskipun siswa masih belum secara maksimal bisa aktif di dalam kelas, dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT ini,
keaktifan siswa yang dahulunya sangat rendah sedikit demi sedikit akan mengalami
peningkatan.