• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

5.2. SARAN

BAB V

Pada pihak redaksi Tribunnews.com untuk menulis peristiwa kekerasan anak dalam bentuk tulisan feature, agar lebih dapat menggali unsur mengapa (why). Dengan demikian tulisan menjadi lebih komprehensif dan mendalam, sehingga menyentuh hati pembaca untuk peduli pada anak dan masa depannya.

DAFTAR RUJUKAN

Andini, Thatit Manon dkk. Identifikasi Kejadian Kekerasan pada Anak di Kota Malang. Jurnal Perempuan dan Anak Vol. 2 No 1. Februari 2019.

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/JPA/article/view/5636

Badara, Aris. 2012. Analisis Wacana. Teori, Metode, dan Penerapannya pada Wacana Media.

Jakarta: Kencana.

Eriyanto. 2002. Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

Hamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta:Granit.

Iskandar, Maskun dan Atmakusumah (ed.). 2014. Panduan Jurnalistik Praktis: Mendalami Penulisan Berita dan Feature. Memahami Etika dan Hukum Pers.

Jakarta:LPDS dan Djarum Foundation Bakti pada Negeri.

Kode Etik Jurnalistik dalam RH, Priyambodo dan Indria Prawtitasari (penyusun). 2014. Buku Saku Wartawan. Jakarta LPDS dan The Norwegian Embassy.

Kriyantono, Rahmat. 2014. Teknik Praktis Riset Komunikasi Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta:Kencana.

Kyuna, Hirumi. 2019. Analisis Berita Kekerasan Seksual pada Anak dalam SKH Kompas Periode Januari-Februari 2018. Yogya: Universitas Pembangunan Nasional. Skripsi tidak diterbitkan. URL: http://eprint.upnyk.ac.id/id/eprint/20028.

McQuail, Dennis. 2005. Mass Communication Theory. 5th edition. London: Sage Publications.

Mustika, Sri dan Rita Pranawati. 2018. Anak sebagai Pelaku Kekerasan dalam Wacana di Media Daring Tribunnews.com. Prosiding Seminar Nasional Penguatan Riset dan Luarannya sebagai Budaya Akademik di PT Memasuki Era 5.0 Jakarta: Lemlit UHAMKA. https://prosiding.uhamka,ac.id/index.php/riset/index

Nurudin. 2009. Jurnalisme Masa Kini. Jakarta: Rajawali Pers.

Praditama, Sandhi, Nurhadi, dan Atik Catur Budiarti. Kekerasan terhadap Anak dalam Keluarga Perspektif Fakta Sosial. Jurnal FKIP Universitas Negeri Surakarta. 2016.

Rakhmawati, Yuniar Fariza. 2015. Jurnalisme Advokatif: Solusi Pemberitaan Anak Korban Kekerasan Seksual. Jurnal Komunikasi Islam Vol 7 No. 1, 2015

Siregar, Anggi Azhari, 2015. Media dan Kekerasan terhadap Anak (Analisis Isi Berita Kekerasan terhadap Anak dalam Harian Medan Pos). Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3 No 2 Tahun 2016.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dalam www.kpai.go.id

Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dalam www.kpai.go.id

BAB VI

LUARAN PENELITIAN WAJIB

Implementasi Panduan Pemberitaan Ramah Anak di Media Daring Tribunnews.com

Abstract: This study examines how Tribunnews.com implements the Child Friendly News Guideline (PPRA) in child violence news. PPRA basically protecs children, both as victims and perpetrators of violence. The research aims to understand the application of PPRA. Data collection techniques was carried out by observation, in-depth interviews, and documentation studies. Data were analyzed with filling the system. The results show that tribunnews.com has implemented PPRA. Nevertheless, the news that is too short makes the information incomplete. Sometimes, the title does not match with the news body and tends to be sensational.

Keywords: children, children violance news, violence, Child Friendly News Guidelines

Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana Tribunnews.com mengimplementasikan Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) dalam berita kekerasan anak. PPRA intinya melindungi anak, baik sebagai korban maupun pelaku kekerasan. Penelitian ini bertujuan memahami penerapan PPRA.

Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan filling system. Hasilnya, Tribunnews.com sudah menerapkan PPRA. Kendati demikian, berita-berita yang terlalu singkat membuat informasinya kurang lengkap. Judul adakalanya tidak sesuai dengan tubuh berita dan cenderung sensasional.

Kata Kunci: anak, berita kekerasan anak, kekerasan, Panduan Pemberitaan Ramah Anak

Kekerasan terhadap anak hingga saat ini masih terus terjadi. Sejalan dengan peristiwa tersebut, media massa seakan berlomba-lomba untuk memberitakannya. Berita kekerasan anak termasuk berita yang disukai pembaca, mengingat di dalam terdapat unsur konflik antara pelaku dan korban dan juga unsur kedekatan (proximity) psikologis.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, kekerasan anak di Indonesia selama Januari-April 2019 mayoritas berupa perundungan dalam wujud kekerasan fisik, psikis, dan kekerasan seksual. Berdasarkan pengaduan masyarakat pada KPAI, korban kekerasan psikis dan perisakan (bullying) hingga saat ini juga masih tinggi.

(www.kpai.go.id, KPAI: Angka Kekerasan pada Anak Januari-April 2019 Masih Tinggi, diunggah 2 Mei 2019, diakses pada 20 Februari 2020 pukul 18.00).

Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) juga mencatat kenaikan kasus kekerasan terhadap anak perempuan. Selama 2019, terdapat 2.341 kasus atau naik 65% dibandingkan tahun sebelumnya 1.417 kasus. Terbanyak adalah kasus

inses: 770 kasus, kekerasan seksual: 571 kasus, dan kekerasan fisik: 536 kasus (www.tempo.co, Kekerasan terhadap Anak Perempuan Naik 65% di 2019 diunggah pada 6 Maret 2020. Diakses pada 18 April 2020 pukul 17.00).

Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2014, kekerasan terhadap anak adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan dengan cara melawan hukum (www.bphn.go.id diakses pada 6 Maret 2020 pukul 09.30). Sedangkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Permeneg P3A) No 1 Tahun 2010 Bab I tentang Ketentuan Umum poin 4 menyebutkan, kekerasan terhadap anak adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, mental, seksual, psikologis, termasuk penelantaran dan perlakuan buruk yang mengancam integritas tubuh dan merendahkan martabat anak (www.jdih.kemenpppa.go.id diakses pada 7 Maret 2020 pukul 10.00)

Sejatinya, setiap anak memiliki hak mendapat perlindungan. Anak yang berhadapan dengan hukum, seperti anak yang menjadi korban kekerasan atau anak yang berkonflik dengan hukum, yaitu anak sebagai pelaku kekerasan berhak mendapat perlindungan khusus dari pemerintah dan lembaga lainnya. Perlindungan khusus pada anak tertera dalam UU No 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak yang menggantikan UU No 23 Tahun 2002 (www.kpai.go.id diakses pada 7 Maret 2020 pukul 10.15).

Di Indonesia batasan mengenai anak masih berbeda-beda. Menurut Undang- Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah (www.bphn.go.id diakses pada 7 Maret 2020 pukul 11.00).

Undang-Undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) mendefinisikan anak adalah mereka yang belum berusia 18 tahun, belum atau sudah menikah, hidup atau sudah meninggal (www.kpai.go.id diakses pada 20 Februari 2020 pukul 18.15). Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) yang disahkan Dewan Pers pada 9 Februari 2019 batasan anak mengacu pada UU No 11 Tahun 2012, yaitu mereka yang belum berusia 18 tahun, belum atau sudah menikah. Batasan inilah yang harus digunakan oleh wartawan di dalam menulis berita tentang anak.

Di antara media massa yang sering memberitakan kekerasan anak adalah media daring. Di Indonesia media daring jumlahnya mencapai 47.000 (www.amsi.or.id Asosiasi Media Siber Indonesia: Dari 47 Ribu baru 2.700 Media Online Terverifikasi Dewan Pers, diunggah pada 6 April 2019 diakses pada 6 Januari 2020 pukul 07.00). Media daring memberitakan kekerasan anak secara gencar, karena memiliki nilai berita yang tinggi, yaitu unsur konflik (antara pelaku dan korban), simpati, dan kedekatan (proximity) (Iskandar dan Atmakusumah, ed., 2014; Nurudin, 2009).

Di dalam memberitakan anak, wartawan harus mengikuti Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Undang-Undang SPPA. Selain itu juga mengikuti Panduan Pemberitaan Ramah Anak (PPRA). PPRA yang berisi 12 poin intinya bahwa wartawan harus merahasiakan identitas anak korban, anak yang diduga, didakwa melakukan pelanggaran hukum.

Wartawan harus memberitakan secara faktual dengan kalimat/narasi/visual/video yang bernuansa positf, empati, dan atau tidak membuat deskripsi/rekonstruksi peristiwa yang bersifat seksual dan sadistis.

Penelitian mengenai berita kekerasan anak dalam media daring cukup banyak seiring dengan meningkatnya kasus kekerasan anak. Di antaranya penelitian Andini dkk (2019) yang mengidentifikasi kekerasan pada anak SD di Kota Malang. Mereka menemukan bahwa kekerasan terdiri atas kekerasan fisik, kekerasan verbal, emosional, dan

seksual. Usia korban mulai dari 8 tahun (14%), 9 tahun (23%), 10 tahun (31%), 11 tahun (21%), 12 tahun (8%), dan 13 tahun (3%). Mereka merupakan anak satu-satunya dalam keluarga atau tiga bersaudara. Ibunya adalah istri yang tidak bekerja. Kondisi stres ibu ikut memicunya melakukan kekerasan anak.

Menurut hasil penelitian Praditama dkk. (2016), penyebab kekerasan terhadap anak dalam keluarga di Wonogiri, Solo adalah pewarisan kekerasan antargenerasi, sulitnya mengungkap kekerasan anak ke ruang publik, dan latar belakang budaya keluarga yang menempatkan anak pada posisi terbawah. 9 tahun (23%), 10 tahun (31%), 11 tahun (21%), 12 tahun (8%), dan 13 tahun (3%). Mereka merupakan anak satu-satunya dalam keluarga atau tiga bersaudara. Ibunya adalah istri yang tidak bekerja. Kondisi stres ibu ikut memicunya melakukan kekerasan anak.

Pada kenyataannya anak tidak hanya menjadi korban kekerasan, namun anak juga dapat menjadi pelaku kekerasan. Mengenai hal ini Elvina dkk. (2016) meneliti anak-anak yang dititipkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Hasilnya adalah bahwa penyebab anak menjadi pelaku kekerasan bukan hanya satu faktor, melainkan banyak faktor dan merupakan akumulasi dari berbagai kondisi yang dialaminya. Seperti, faktor gagalnya fungsi pengasuhan dalam keluarga. Studi ini juga menunjukkan bahwa ketiadaan fungsi pengasuhan dalam keluarga berdampak pada perilaku kenakalan remaja. Anak rawan menjadi pelaku tindakan kejahatan dari kasus yang ringan hingga berat, seperti pembunuhan sangat berhubungan dengan pola pengasuhan dan peran masyarakat.

Sebagian besar anak pelaku kekerasan yang berada di LPKA merupakan anak-anak korban kekerasan fisik dan psikis dari keluarganya. Selain itu, meskipun secara umum pengasuhan anak pelaku itu baik, namun ternyata terdapat masalah dalam hal aktivitas bersama keluarga. Minimnya kebersamaan anak dengan orang tua merupakan faktor

pendukung baginya sebagai pelaku kekerasan. Hal ini disebabkan lemahnya kelekatan hubungan anak dengan orangtuanya.

Lemahnya kelekatan anak dengan orang tua berdampak pada kenakalan remaja, baik pada remaja laki-laki maupun perempuan (Stams et all, 2012). Rendahnya tingkat kelekatan anak dengan ibu berdampak lebih besar pada kenakalan remaja dibandingkan dengan kurangnya kelekatan pada ayahnya. Hubungan kelekatan anak dan orang tua dengan kenakalan remaja terletak pada problem hubungan antara orang tua dan anak yang berjenis kelamin sama dibandingkan dengan relasi orang tua dan anak yang berlawanan jenis kelaminnya. Selain itu, hubungan kelekatan dan kenakalan remaja lebih kuat pada usia anak yang lebih muda dibandingkan dengan anak yang lebih tua. Untuk itu, intervensi yang dapat dilakukan adalah membangun kelekatan antara ayah dengan anak laki-laki dan anak perempuan dengan ibunya.

Indeks Kualitas Pengasuhan yang disusun oleh KPAI, yang bernilai 0-5, menunjukkan bahwa pengetahuan orang tua tentang mengasuh anak sebelum mereka memiliki anak masih kurang (3,53), kurangnya komunikasi (3,84), akses anak terhadap media digital (3,45), dan pencegahan dari kekerasan (3,82) (Pranawati, 2015). Indeks keseluruhan bernilai 3,81. Ini berarti kualitas pengasuhan anak Indonesia masih belum sepenuhnya baik. Walaupun banyak orang tua telah memberikan pengasuhan terbaik, namun masih ada gap antara pengasuhan dengan fakta yang dirasakan anak.

Aspek lain dari anak pelaku atau anak berkonflik dengan hukum (ABH) adalah kurangnya penghargaan. Penghargaan kepada anak akan mempengaruhi kepercayaan diri dan pengembangan potensi dirinya. Kurangnya pendampingan orang tua saat anak mengonsumsi bacaan, tontonan, dan mainan yang mengandung unsur kekerasan juga dapat menyebabkan anak berhadapan dengan hukum (Elvina dkk., 2018). Faktor lain adalah

kurangnya pencegahan terhadap penggunaan narkoba yang seringkali membawa anak terlibat dalam tindak pidana narkoba.

Faktor pengaruh pergaulan, kebebasan dalam bermedia sosial tanpa literasi digital yang baik, kurangnya landasan agama, dan paparan pornografi juga berkontribusi pada keterlibatan anak sebagai pelaku tindak pidana (Elvina dkk, 2018). Disamping itu, faktor orang tua yang memiliki riwayat penahanan, juga memiliki risiko yang tinggi dalam kejahatan anak.

Studi yang dilakukan (Aaron & Dallaire, 2010) menyebutkan bahwa riwayat penahanan orang tua diperkirakan dapat menyebabkan terjadinya viktimisasi keluarga, perilaku kenakalan remaja, dan pengalaman berrisiko lainnya. Situasi ini membutuhkan solusi yang holistik integratif, khususnya pada anak pelaku.

Siregar (2016) meneliti tentang Media dan Kekerasan terhadap Anak di Harian Medan Pos. Ia menemukan bahwa selama periode Agustus-Desember 2013 terdapat 17 berita kekerasan terhadap anak. Adapun temanya tentang pelecehan seksual 11 kali (64,70%), penganiayan 3 kali (17,64%), pembunuhan 2 kali (11,76%) dan yang tidak jelas karena isi tidak sesuai judul (5,88%).

Penelitian lain tentang berita kekerasan seksual anak di SKH. Kompas (1 Januari 2018-28 Februari 2018) dilakukan oleh Hiromi (2019). Ia menemukan bahwa Kompas cenderung dominan menulis berita dengan gaya straight news dan mencantumkan banyak narasumber agar beritanya tampil aktual. Tipe liputannya dua sisi, sehingga berimbang, menggunakan ilustrasi sebagai pelengkap. Berita-beritanya tidak menyebut nama anak korban, sehingga tidak melanggar Kode Etik Jurnalistik.

Mustika dan Pranawati (2018) juga mengkaji wacana tentang berita kekerasan yang dilakukan anak di media daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mewacanakan kekerasan oleh anak media daring cenderung menulis dalam berita lempang (straight news)

dan mewacanakannya seperti halnya kekerasan tersebut dilakukan oleh orang dewasa.

Wartawan tidak menelusuri latar belakang anak, meskipun jelas bahwa perilaku anak merupakan hasil pola asuh keluarga. Wartawan menempatkan korban, koleganya, dan polisi pada posisi dominan dibandingkan pelaku anak dan wartawan mengidentifikasi diri sebagai korban, sehingga lebih banyak menyuarakan korban daripada anak pelaku.

Rahmawati (2015) mencoba menawarkan jurnalisme advokatif sebagai solusi pemberitaan anak korban kekerasan seksual yang berempati pada anak. Dengan jurnalisme advokatif, redaksi menjadi representasi kepentingan spesifik publik dan memandang kekerasan anak sebagai suatu ketidakadilan dalam masyarakat.

Kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang dewasa terdekat, seperti ayah, kakak, atau guru yang belakangan ini marak menjadi pemberitaan media jelas bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dalam UU No 35 ini anak berhak mendapatkan perlindungan.

Dari berbagai penelitian di atas kajian yang melihat penerapan PPRA dalam berita kekerasan anak belum banyak dilakukan. Penelitian ini mengkaji bagaimana media daring Tribunnews.com menerapkan PPRA dalam memberitakan kekerasan terhadap anak. Sejauh ini penelitian tentang berita kekerasan anak lebih memfokuskan pada penerapan Kode Etik Jurnalistik.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui data yang sedetail mungkin (Kriyantono, 2010).

Media yang diteliti adalah Tribunnews.com, milik PT Indopersda Prima Media.

Tribunnews.com dipilih karena menempati peringkat tiga pada situs pemeringkat media daring, Alexa.com. Selain itu, Tribunnews.com selalu memberitakan tentang kekerasan anak.

Berita yang diteliti adalah semua berita yang diunggah pada 15 Januari 2020-15 Februari 2020. Data dikumpulkan dengan studi dokumentasi dan wawancara mendalam. Studi dokumentasi di sini adalah yang berorientasi pada teks. Analisis data dilakukan dengan analisis isi kualitatif.

HASIL

Di bawah ini daftar judul berita yang ditayangkan selama 15 Januari-15 Februari 2020:

No Edisi Judul Berita

1. 15 Januari 2020 Pukul 20.58

Polisi Tangkap Penjual Es Krim di Sawangan, Diduga Lecehkan Anak di Bawah Umur

2. 22 Januari 2020 Pukul 13.40

Diduga Perkosa Balita 16 Bulan, Pria di Tasikmalaya Diamuk Massa, Pelaku Kini Disembunyikan Keluarga

3 23 Januari 2020 Pukul 23.16

Ibu Ikat Kaki Anaknya dan Menggantungnya dengan Posisi Kepala di Atas, Polisi Cari Si Penyebar Video

4. 24 Januari 2020 Pukul 19.47

Paksa Anak Kandung Lakukan Oral Seks saat Istri sedang Tidur, Seorang Ayah Dipenjara 10 Tahun

5. 25 Januari 2020 Pukul 11.24

Fakta Baru Ayah di Trenggalek Cabuli 2 Putri Kandung, Anaknya Harus Menjalani Perawatan Medis

6. 29 Januari 2020 Pukul 23.18

Kasus Ayah Perkosa Anaknya di Mamasa Terancam Hukuman Pidana dan Adat, Hukum Adat Lebih Ngeri

7. 30 Januari 2020 Pukul 12.07

Kasus Remaja Dijadikan Budak Seks: Disiksa, Dicekoki Miras, dan Dipaksa Layani 4 Pria Sehari

8. 30 Januari 2020 Pukul 13.21

Di Cianjur 8 Anak Dicabuli Ayah Kandung, dan 12 Anak Lainnya oleh Ayah Tiri

9. 30 Januari 2020 Cabuli Anak Kandung dan Anak Tiri, Seorang Pria di Pontinak Ditembak Polisi

Pukul 16.55 10 30 Januari 2020

Pukul 19.30

Anak di Bawah Umur Asal Sikka Diusir dari Kampung Usai Dihamili Sepupu

11. 31 Januari 2020 Pukul 07.43

9 Pria Paruh Baya Pedofilia Ditangkap di Cianjur, Cabuli Bocah di Bawah Umur, Korban Termuda 6 Tahun

12 13 Februari 2020 Pukul 06.12

Viral Video Siswa SMP di Purworejo Membully Siswi Temannya, Polisi Langsung Menyidik 13 13 Februari 2020

Pukul 08:48

Bullying Siswi SMP di Purworejo Masih Hangat, Kini Beredar Video Guru Pukuli Siswa di SMA Bekasi

14 13 Februari 2020 Pukul 11:34

Pria Muarojambi Rudapaksa Anak Tirinya di Kebun, Dilakukan Saat Tangan dan Kaki Korban Diikat

15. 13 Februari 2020 Pukul 15.17

Fakta Terbaru! Inilah Pengakuan Siswa Korban Bullying di Purworejo, Mengeluh Badan Sakit Semua

16. 13 Februari 2020 Pukul 13.20

Viral! Siswi SMP Dibully Temannya, Pelaku Kini Ditetapkan jadi Tersangka, Dijerat Pasal Pengeroyokan

17. 13 Februari 2020 Pukul 18.22

3 Pelaku Bully di SMP Purworejo Terancam Diberi Sanksi Berat, Ganjar Pranoowo: Apa Sanksinya?

18. 15 Februari 2020 Pukul 13.43

4 Aksi Kekerasan di Sekolah: Siswa di Malang Harus Diamputasi hingga Siswa Disabilitas Dipukuli

Tabel 1

Judul-judul Berita Kekerasan Anak

Ke-18 judul berita kekerasan anak di atas dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok:

kasus pelecehan seksual sebanyak 11 kasus (61%) dan berita kekerasan 7 kasus (39%). Peneliti menganalisis setiap berita untuk melihat apakah berita tersebut mematuhi atau melanggar

PPRA. Selain itu, dari segi jurnalistik apakah berita tersebut memenuhi kaidah penulisan yang benar.

Di bawah ini salah satu sampel berita yang dimua dan dianalisis:

Berita edisi Rabu, 15 Januari 2020 yang dimuat Pukul 20:58 WIB

https://www.tribunnews.com/metropolitan/2020/01/15/polisi-tangkap-penjual-es-krim-di- sawangan-diduga-lecehkan-anak-di-bawah-umur

.

Ilustrasi

Judul: Polisi Tangkap Penjual Es Krim di Sawangan, Diduga Lecehkan Anak di Bawah Umur

Editor: Imanuel Nicolas Manafe

TRIBUNNEWS.COM, DEPOK - Terjadi kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur di Kota Depok.

Korbannya adalah seorang siswi yang bersekolah di bilangan Sawangan. SA salah seorang petugas keamanan di perumahan yang menjadi lokasi aksi bejat tersebut mengatakan, pelakunya merupakan seorang pedagang es krim di sekolah tempat korban mengenyam pendidikan.

SA juga berujar, pelaku sudah diamankan oleh polisi pada Jumat (10/1/2020) beberapa hari yang lalu. “Sudah diamankan, kami kerjasama dengan petugas kepolisian Depok,” tambahnya.

Sementara itu, Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Iptu Isa Fajar pun membenarkan adanya kejadian tersebut ketika dikonfirmasi.“Iya betul mas pelakunya sudah kami amankan di Polres Metro Depok,” jelas Isa. Namun, Isa belum bisa menjelaskan kronologi pelecehan tersebut, lantaran kasusnya tengah dalam t

ahap penyelidikan oleh pihaknya.

Analisis

Berita ini menyembunyikan identitas anak dengan baik, sesuai dengan pasal 1 PPRA bahwa wartawan merahasiakan identitas anak dalam memberitakan informasi tentang anak,

khususnya yang diduga, disangka, didakwa melakukan. Redaksi tidak menggunakan nama singkatan, nama sekolah, dan alamat rumahnya. Bahkan nama petugas keamaan di perumahan tempat kejadian perkara disingkat. Demikian pula nama perumahannya tidak disebutkan.

Berita ini juga tidak menjelaskan kejadian secara detil, sehingga tidak menjadi vulgar.

Seorang wartawan seharusnya memang tidak menceritakan secara detail kejadian kekerasan sesksual, terlebih yang korbannya adalah anak-anak. Penulisan yang detail mengenai peristiwa ini akan menyebabkan pembaca merasa ngeri, terganggu psikologisnya, dan terusik hati nuraninya. Berita ini menggunakan ilustrasi anak perempuan sedang duduk dengan kepala menunduk. Ilustrasi ini melengkapi tulisan agar tidak membosankan. Dengan demikian redaksi telah menerapkan PPRA secara benar, karena menyembunyikan identitas anak, mulai dari nama, nama sekolah, hingga alamat rumahnya.

Berita-berita lain juga pendek-pendek, tidak lebih dari 5 alinea. Ini sesuai dengan format berita di media daring yang bersifat hyperlink. Kendati demikian, karena terlalu singkat, informasinya menjadi kurang lengkap. Dalam kaidah jurnalistik, kelengkapan berita merupakan hal yang harus dipenuhi, agar pembaca tidak bertanya-tanya lagi.

Menurut Mangiang (dalam Iskandar dan Atmakusumah, ed., 2014) untuk menyusun berita yang berkualitas wartawan perlu memperhatikan beberapa hal. Di antaranya berita tidak boleh menyisakan pertanyaan bagi pembacanya. Untuk itu wartawan harus memberikan jawaban yang cukup dan yang relevan untuk unsur 5W + 1H. Relevansi fakta yang disajikan menjadi hal penting untuk dipertimbangkan oleh wartawan.

Selain itu, berita ini tidak memiliki angle (sudut pandang) yang jelas atau tajam. Sudut pandang merupakan alat bagi wartawan untuk membantu pembaca melihat suatu kejadian dari satu posisi, sehingga bisa lebih jelas memandang. Sudut pandang juga akan membantu pembaca melihat kejadian dari posisi tertentu. Misalnya, wartawan bisa menggunakan angle kemanusiaan, karena peristiwa ini merusak masa depan seorang anak. Atau menggunakan

angle psikologi, karena korban kemungkinan besar mengalami trauma atas kejadian ini.

Wartawan bisa menambahkan wawancara dengan psikolog, agar tulisannya dapat memberi wawasan pada pembaca. Contohnya, feature mengenai pentingnya mengatasi trauma bagi korban kekerasan. Tribunnews.com sebagai media daring terkemuka, seharusnya dapat melakukan hal ini. Hasil penjelasan ahli dapat dibuat dalam platform video. Dengan demikian ada nilai tambah bagi berita kekerasan anak yang diunggah.

Media daring umumnya mempublikasikan suatu berita tidak hanya sekali. Berita pertama biasanya masih belum lengkap unsur 5W+1H nya, Mungkin baru memenuhi unsur apa (what) dan siapa (who), dan kapan (when). Pada publikasi berikutnya yang sudah mengalami pemutakhiran data, unsur di mana (where) dan mengapa (why), serta bagaimana (how) sudah ada. Meski kadang kala unsur mengapa peristiwa tersebut terjadi memerlukan waktu lama untuk mengetahuinya. Contohnya, kasus pembunuhan terhadap seseorang. Untuk memperoleh jawaban unsur mengapa ia dibunuh, bahkan siapa yang membunuh, terkadang membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan suatu peristiwa pembunuhan, seperti kasus wartawan Udin yang terjadi pada 1996 hingga saat ini polisi belum dapat mengungkap siapa pelakunya dan mengapa ia melakukan perbuatan jahat tersebut.

Sekalipun demikian, wartawan sebagai pihak yang melayani kebutuhan informasi masyarakat akan terus berupaya memenuhi informasi yang diperlukan. Terlebih lagi media daring yang secara teknis lebih mudah melakukan pembaruan terhadap berita-beritanya setiap satu jam sekali.

Dalam menyusun berita tentang kekerasan terhadap anak pun demikian. Awalnya wartawan mendapat informasi serba singkat dari pihak kepolisian yang menjadi beat-nya.

Misalnya, informasi mengenai seorang anak remaja ditemukan tewas di sebuah bantaran sungai di kota X. Berdasarkan keterangan ini wartawan menulis berita pertama yang hanya berisi unsur apa (what), di mana (where) dan kapan (when). Dalam menjelaskan unsur siapanya pun

Dokumen terkait