هملاك نذبنا اهافن نمو ٭ ةماركلا إيلولال نتبثاو
C. Konsepsi Tentang Sihir
1. Sebenarnya Adakah Sihir Itu?
Sebagaimana yang disinggung di depan, bahwa terdapat persilangan pendapat tentang kebenaran hakikat sihir. ‘Apakah sihir hakiki?’, ‘Apakah orang yang terkena sihir, benar-benar merasakan pengaruhnya?’, ‘Atau kah sihir hanya sebatas tipuan mata dan tipu muslihat semata?’ Abu Abdillah Ar Rozi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan “Kelompok Mu’tazilah mengingkari adanya sihir dalam aqidah mereka. Bahkan mereka tidak segan-segan mengkafirkan orang yang meyakini kebenaran sihir. Adapun ahli sunnah wal jama’ah, meyakini bahwa mungkin saja ada orang yang bisa terbang di angkasa, bisa merubah manusia menjadi keledai, atau sebaliknya. Akan tetapi meskipun demikian ahli sunnah meyakini bahwa segala kejadian tersebut atas izin dan taqdir dari Allah ta’ala”. Allah ta’ala berfirman (yang
28
artinya), “Dan mereka itu (para tukang sihir) tidak akan memberikan bahaya kepada seorang pun melainkan dengan izin dari Allah” (QS. Al-Baqarah: 102). Al Qurthubi rahimahullahu mengatakan, “Menurut ahli sunnah wal jama’ah, sihir itu memang ada dan memiliki hakikat, dan Allah Maha Menciptakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya, keyakinan yang demikian ini berbeda dengan keyakinan kelompok Mu’tazilah.”
Inilah keyakinan yang benar, insya Allah. Banyak sekali kejadian, baik di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau pun masa-masa setelahnya yang menunjukkan secara kasat mata bahwa sihir memiliki hakikat dan pengaruh. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disihir oleh Lubaid bin Al A’shom Al Yahudi hingga beliau jatuh sakit? Kemudian karenanya Allah ta’ala menurunkan surat al-Falaq dan surat al- Nās (al-mu’awidaztain) sebagai obat bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sangat jelas menunjukkan bahwa sihir memiliki hakikat dan pengaruh terhadap orang yang terkena sihir. Namun tidaklah dipungkiri, bahwa ada jenis-jenis sihir yang tidak memiliki hakikat, yaitu sihir yang hanya sebatas pengelabuan mata, tipu muslihat, “sulapan”, dan yang lainnya. Jenis-jenis sihir yang demikian inilah yang dimaksudkan oleh perkataan beberapa ulama yang mengatakan bahwa sihir tidaklah memiliki hakikat.
Sihir termasuk dosa besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah dari kalian tujuh perkara yang membinasakan!” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Apakah tujuh perkara tersebut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “[1] menyekutukan Allah, [2] sihir, [3] membunuh seorang yang Allah haramkan untuk dibunuh, kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat, [4] mengkonsumsi riba, [5] memakan harta anak yatim, [6] kabur ketika di medan perang, dan [7] menuduh perempuan baik-baik dengan tuduhan zina” (HR. Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Nabi Sulaiman tidaklah kafir, akan tetapi para syaitan lah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia” (Al-Baqarah: 102).
Imam Adz Dzahabi rahimahullah berdalil dengan ayat di atas untuk menegaskan bahwa orang yang mempraktekkan ilmu sihir, maka dia telah kafir. Karena tidaklah para syaitan mengajarkan sihir kepada manusia melainkan dengan tujuan agar manusia menyekutukan Allah ta’ala. Syaikh al-Sa’diy rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu sihir dapat dikategorikan sebagai kesyirikan dari dua sisi.
1. Orang yang mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang meminta bantuan kepada para syaitan dari kalangan jin untuk melancarkan aksinya, dan betapa banyak orang yang terikat kontrak perjanjian dengan para syaitan tersebut akhirnya menyandarkan hati kepada
29 mereka, mencintai mereka, ber-taqarrub kepada mereka, atau bahkan sampai rela memenuhi keinginan-keinginan mereka.
2. Orang yang mempelajari dan mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang mengaku- ngaku mengetahui perkara ghaib. Dia telah berbuat kesyirikan kepada Allah dalam pengakuannya tersebut (syirik dalam rububiyah Allah), karena tidak ada yang mengetahui perkara ghaib melainkan hanya Allah ta’ala semata.
Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah merinci bahwa orang yang mempraktekkan sihir, bisa jadi orang tersebut kafir, keluar dari Islam, dan bisa jadi orang tersebut tidak kafir meskipun dengan perbuatannya tersebut dia telah melakukan dosa besar. Pertama, Tukang sihir yang mempraktekkan sihir dengan memperkerjakan tentara-tentara syaitan, yang pada akhirnya orang tersebut bergantung kepada syaitan, ber-taqarrub kepada mereka atau bahkan sampai menyembah mereka. Maka yang demikian tidak diragukan tentang kafirnya perbuatan semacam ini. Kedua, Adapun orang yang mempraktekkan sihir tanpa bantuan syaitan, melainkan dengan obat-obatan berupa tanaman ataupun zat kimia, maka sihir yang semacam ini tidak dikategorikan sebagai kekafiran.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah suatu ketika, di akhir kekhalifahan beliau, mengirimkan surat kepada para gubernur, sebagaimana yang dikatakan oleh Bajalah bin
‘Abadah radhiyallahu ‘anhu, “Umar bin Khattab menulis surat (yang berbunyi): ‘Hendaklah kalian (para pemerintah gubernur) membunuh para tukang sihir, baik laki-laki ataupun perempuan”. Dalam kisah Umar radhiyallahu ‘anhu di atas memberikan pelajaran bagi kita, bahwa hukuman bagi tukang sihir dan ‘antek-antek’-nya adalah hukuman mati. Terlebih lagi terdapat sebuah riwayat, meskipun riwayat tersebut diperselisihkan oleh para ulama tentang status ke-shahihan-nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang.”
Dalam kisah Umar di atas pun juga memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa menjadi kewajiban pemerintah tatkala melihat benih-benih kekufuran, hendaklah pemerintah menjadi barisan nomor satu dalam memerangi kekufuran tersebut dan memperingatkan masyarakat tentang bahayanya kekufuran tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.
Inilah yang mungkin menjadi kerancuan di benak masyarakat, yang kemudian kerancuan ini menjadikan mereka membolehkan belajar sihir, karena alasan “keadaan darurat”.
Terlebih lagi tatkala sihir yang digunakan untuk mengobati sihir terkadang terbukti manjur dan mujarab. Bukankah segala sesuatu yang haram pada saat keadaan darurat, akan menjadi mubah? Bukankah ketika di tengah hutan, tidak ada bahan makan, bangkai pun menjadi boleh
30
kita makan? Memang syariat membolehkan perkara yang haram tatkala keadaan darurat, sampai-sampai para ulama membuat sebuah kaidah fiqhiyah, “Keadaan yang darurat dapat merubah hukum larangan menjadi mubah.” Namun kita pelu cermati bahwa para ulama pun juga memberikan catatan kaki terhadap kaidah yang agung ini. Terdapat sedikitnya dua syarat yang harus dipenuhi untuk mengamalkan kaidah ini, yaitu:
1. Tidak ada obat lain yang dapat menyembuhkan sihir, selain dengan sihir yang semisal.
Pada kenyataannya tidaklah terpenuhi syarat pertama ini. Syariat telah memberikan obat dan jalan keluar yang lebih syar’i untuk menangkal dan mengobati gangguan sihir.
Bukankah syari’at telah menjadikan Al Quran sebagai obat, lah ada dan teruqyah-ruqyah syar’i yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Sihir yang digunakan harus terbukti secara pasti dapat menyembuhkan dan menghilangkan sihir. Dan setiap dari kita tidaklah ada yang dapat memastikan hal ini, karena semua hal tersebut adalah perkara yang ghaib.
Maka dengan ini jelaslah bahwa mempelajari sihir, apapun alasannya adalah terlarang, bahkan diancam dengan kekufuran, Allah ta’ala telah tegaskan di dalam firmannya (yang artinya), “Dan tukang sihir itu tidaklah menang, dari mana pun datangnya.” (QS. Ath Thaahaa:
69). Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah berkata dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini mencakup umum, segala macam kemenangan dan keberuntungan akan ditiadakan dari para tukang sihir, terlebih lagi Allah tekankan dengan firman-Nya, ‘dari mana pun datangnya’. Dan secara umum, tidaklah Allah meniadakan kemenangan dari seseorang, melainkan dari orang kafir.
Sihir tidak akan luput dari kehidupan manusia sehari-hari yang digunakan oleh orang- orang yang tidak mengerti atau tidak paham mengenai dampak dari perbuatan tersebut. Sihir ini telah tersebar di tengah-tengah peradaban manusia masa kini maupun masa lalu. Mulai dari sihir berupa pelet, santet, gendam dan lain sebagainya. Padahal telah jelas dalam Al-Quran bahwasannya sihir ini dapat membuat seseorang yang melakukan perbuatan tersebut menjadi kafir (musyrik). Pada hakikatnya kita tidak boleh takut akan adanya sihir ini, karena segala sesuatu itu terjadi hanyalah atas izin Allah Swt semata bukan karena hal lainnya terutama sihir.
Akan tetapi banyak orang yang salah dalam memahami sihir sehingga bentuk kebodohan serta kemusyrikan terjadi, orang-orang tersebut beramai-ramai mempraktekan sihir untuk mempermudah suatu urusan di dalam kehidupan sehari-hari.
Syetan selalu berusaha untuk memasukan suatu kesan kepada ummat muslim bahwa sihir ini bukanlah suatu perbuatan yang berdampak kepada dosa yang sangat besar. Bahkan Syetan memberikan pelajaran yang dapat menyentuh perasaan kepada manusia, sehingga
31 mereka menganggap bahwa sihir adalah suatu perbuatan yang harus ditempuh oleh manusia untuk mencari kebaikan. Misalnya untuk memikat hati seorang wanita ataupun laki-laki yang dilakukan dengan cara guna-guna atau zaman sekarang sering disebut dengan pelet, itu semua diperbolehkan oleh agama karena digunakan untuk kebaikan dengan dalih (menyatukan ummat manusia dalam sebuah perjodohan) sehingga sebagian ummat yang terpedaya mengatakan bahwa semua hal tersebut merupakan muhabbah. Padahal menurut Syara sihir itu merupakan perbuatan kufur dan orang yang bermain-main dengan sihir adalah kafir.
Sihir berarti sesuatu yang lembut dan halus (tidak terlihat). Secara terminologis, sihir adalah suatu perbuatan oleh orang tertentu (disebut tukang sihir) dengan syarat-syarat tertentu mempergunakan peralatan yang tidak lazim untuk dipakai, serta dengan cara yang sangat rahasia, untuk menimbulkan efek jahat dalam diri orang lain yang menjadi korbannya. Sihir dapat dinamai juga santet, teluh, magic, vodoo dan lain sebagainya. Pada umumnya sasaran sihir ini ada dua, ada yang langsung dikenakan kepada diri korban dengan mempengaruhi hati, jiwa dan badannya, untuk disakiti ataupun dibunuh. Ada juga yang dikenakan terhadap harta benda korban untuk dirusak ataupun dimusnahkan serta sihir ini digunakan untuk memutuskan cinta kasih sepasang suami istri (kekasih). Sebelum melakukan sihir biasanya ada kesepakatan antara tukang sihir dengan syetan, syaratnya adalah tukang sihir harus melakukan perbuatan syirik atau kufur. Baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Sementara syetan harus melayani tukang sihir, atau menundukan orang yang melayaninya. Oleh karena itu, tukang sihir menundukan jin tersebut untuk melakukan pekerjaan jahat yang dia inginkan. Dan jika jin tersebut membangkang, maka tukang sihir akan mendekati pemimpin kelompoknya dengan menggunakan sang pemimpin serta meminta pertolongan kepadanya, bukan kepada Allah Swt.
Seseorang yang mendatangi tukang sihir (dukun, peramal, paranormal) lalu bertanya kepadanya, dia terkena ancaman tidak diterima shalatnya selama 40 telah jatuh kepada dosa kafir (Syirik kepada Allah Swt).Sedangkan dalam kamu Mu’zam Al-Mufradat karya Al-Ragib Al-Ashfahani dikatakan terdapat beberapa arti dari kata “Sahara”. Pertama, gambaran atau tipuan imajinasi yang tidak nyata, seperti halnya yang dilakukan oleh pesulap yang dapat memalingkan pandangan dengan kecepatan tangannya dan juga seperti yang dilakukan oleh seorang pengadu domba, memfitnah dengan ucapan-ucapan manis yang dapat mempengaruhi pandangan orang lain mengenai suatu perkara. Kedua, meminta pertolongan kepada syetan dengan cara melakukan sebuah ritual mendekatkan diri kepadanya. Ketiga, suatu perbuatan yang dapat membuat seseorang menjadi sedih, senang, takut, penurut dan lain sebagainya yang
32
denganya dapat merubah suatu karakter seseorang. Seperti khimar (hipnotis) akan tetapi hal ini tidak bersifat nyata, hanyalan sebuah ilussi.
Dari ragam dan fenomena pemaknaan tentang sihir, kiranya masih layak untuk dikaji lebih jauh, bagaimana sesungguhnya sihir dalam pandangan para mufasir, ketika menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang berbicara masalah sihir. Sebenarnya, sihir ini telah ada sejak zaman Nabi Sulaiman As. Allah Swt memberikan seatu mukjizat kepada Nabi Sulaiman As yaitu dapat memerintahkan manusia, hewan dan jin sebagai pasukan kerajaannya. Seperti firman Allah Swt dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah 102:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syetan-syetanlha yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan:
“Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu pa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir. Kalau mereka mengetahui.”
Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 102 disebutkan bahwa dengan segala kebolehan (Mu‟jizat) yang diberikan Allah Swt kepda Nabi Sulaiman, akan tetapi orang-orang kafir menuduh bahwa Nabi Sulaiman tidak lain hanyalah seorang ahli sihir yang mengajarkan ilmu sihirnya terhadap pengikutnya, padahal semua itu semata-mata hanyalah perbuatan syetan.
Sihir dalam kehidupan masa lalu bisa dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang keagamaan dan yang kedua dari sudut pandang non keagamaan. Dalam perkembangannya sudut pandang non keagamaan ini lebih banyak dikedepankan oleh aspek ilmu pengetahuan atau keilmuan di masa modern, dimana ada pergeseran makna yang semula pada dasarnya adalah sihir namun menurut pandangan mereka ini di identikan dengan sulap.
Berbeda halnya menurut ajaran atau pengetahuan keislaman bahwa sulap adalah sulap, sihir
33 adalah sihir. Sihir tetap saja merupakan suatu perbuatan yang dapat merusak aqidah dan tauhid seorang muslim karena dekat sekali dengan kesyirikan.
Jika dilihat dalam konteks zaman sekarang dibanyak Negara, termasuk di Barat dan di Timur Tengah, sihir biasanya digambarkan sebagai suatu perbuatan yang memungkinkan pelakunya dapat mengubah sesuatu menjadi benda lain yang di inginkannya. Dalam kisah Nabi Musa As, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran. Para penyihir firaun dapat mengubah tali menjadi ular. Sementara dalam film-film atau novel Barat, seorang penyihir yang biasanya digambarkan bertopi runcing dan bertampang yang buruk dan mengerikan, dapat mengubah seseorang menjadi hewan, ataui apa saja dengan mantra-mantra dan ramuan yang mereka buat.
Mereka juga memiliki sapu terbang untuk membawanya terbang kemana saja.
Peradaban modern masa kini hanya percaya bahwa orang yang dapat membuat keajaiban itu hanyalah seorang pesulap, bukanlah seorang penyihir. Dan, sekelompok pesulap itu tidak menggunakan kekuatan magis. Mereka melakukan keanehan-keanehan secara murni sekaligus menggunakan trik atau tipuan mata, dan tidaklah lebih dari semua itu. Sesuatu yang tidak dapat dijawab dengan ilmu pengetahuan, biasanya langsung dikaitkan dengan ketidaklaziman. Dan, ketidaklaziman mudah dikaitkan dengan kekuatan sihir. Oleh karena itu, berkaitan dengan penafsiran terhadap ilmu sihir perlu dilakukan secara hati-hati dengan terlebih dahulu meninjau masalah sihir melalui sudut ilmu pengetahuan masa kini. Sihir dalam paradigma masa kini telah memunculkan ambiguitas, disatu sisi dipandang sebagai sebuah trik ataupun tipuan karena disamakan dengan sulap akan tetapi dipihak lain menurut sudut pandang agama sihir adalah dimensi kesyirikan yang akan merusak aqidah. Oleh karenanya realitas ini harus diselsaikan, dimurnikan supaya tidak subhat atau tercampur antara sihir dengan sulap.
Fenomena mistis, tentang sihir juga sampai ke masa kita sekarang. Masyarakat sangat menggandrungi tayangan-tayangan televisi yang menyiarkan acara-acara mistis. Mulai dari tayangan yang dikemas dalam film-film sejarah klasikal hingga telenovela-telenovela kehidupan modern. Selain itu, kemunculan tokoh-tokoh mistis seperti Dedi Corbuzer, Romi Rafael dan David Cover Field, menyebabkan antusias masyarakat kepada dunia mistik semakin tajam dan menjurus kepada kesesatan. Bahkan pengaruh tayangan-tayangan tersebut meresap sampai ke anak-anak kecil, yang notabenenya adalah penerus-penerus perjuangan agama dan bangsa.
Adapun sihir, sebagaimana tinjauan makna bahasa yang lalu, hanyalah sebuah tipuan pandangan mata. Kemampuan sihir muncul dari seorang yang kafir, fasik dan munafik. Allah Swt., memang memberikan kelebihan tersebut kepada mereka sebagai istidrâj. Yaitu agar mereka tetap tenggelam dalam kekufuran, kefasikan dan kemunafikannya. Kemampuan sihir
34
seseorang sering digunakan untuk menghancurkan atau menipu. Oleh karenanya, kemampuan sihir ada yang didapatkan dari proses pembelajaran atau latihan dan ada juga lewat bantuan setan.
Ada sekelompok orang yang meyakini eksistensi black magic dan white magic. Bila sesuatu yang luar biasa tersebut keluar dari seorang nabi, wali, ulama atau orang yang shalih, maka mereka mengatakan hal itu adalah white magic. Begitu juga sebaliknya, bila muncul dari seorang dukun, peramal atau non muslim dinamakan black magic. Dari pengertian ini tampak ada kesimpang siuran, sehingga sangat perlu dicari pengertian yang lebih logis.
Dalam memahami kenyataan dan pengaruh yang dikeluarkan dari sihir, pendapat para ulama terbagi dalam dua kelompok, yaitu:
1. Kelompok yang meyakini bahwa sihir mempunyai pengaruh dan benar-benar nyata.
Pendapat ini diusung oleh mufassir-mufassir dari kelompok ahl al-sunnah wa al-jamā’ah.
Mereka berpedoman kepada surat al-Baqarah (2): 102 dan riwayat asbāb al-nuzūl surat al-Falaq (113): 4 yaitu, hadis yang diriwayatkan oleh Zaid ibn al-Arqam tentang seorang Yahudi yang bernama Labîd ibn al-A’sham menyihir Nabi Muhammad saw., sehingga beliau sakit dan merasa berbuat sesuatu, padahal tidak.
2. Kelompok yang tidak meyakini keberadaan dari fakta sihir dan juga tidak percaya bahwa sihir itu berpengaruh. Pendapat ini diusung oleh mufassir-mufassir dari kelompok Muktazilah. Mereka berpedoman kepada surat al-A’rāf (7): 116 dan Thāhā (20): 66-69.
Mereka juga berpendapat bahwa jika sihir dapat membuat sesuatu yang luar biasa, seperti berjalan di atas air, terbang di udara atau merubah tanah menjadi emas, maka kehebatan mukjizat akan sirna, sebab keduanya sama-sama sebuah perbuatan yang dilakukan dengan luar biasa. Di samping itu, manusia tidak perlu susah-susah bekerja, cukup dengan sihir saja maka kebutuhan hidup terpenuhi.
Imam al-Zamakhsyâri dalam tafsir al-Kasysyāf mewakili kelompok Muktazilah, menyatakan bahwa sihir sebenarnya sesuatu tipuan yang tidak pernah terjadi dengan sebenar- benarnya. Ini ditemukan ketika dia menafsirkan surat al-falq pada ayat yang mengandung kata al-naffātsāt. Secara zahir, apa yang dilakukan orang-orang yang meniup tali temali dengan membaca mantera-mantera menurutnya tidak mempengaruhi apa-apa. Jika seseorang ingin mempelajarinya, tentu ia akan mampu dan bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh para tukang sihir tersebut. Imam al-Zamakhsyāri juga menukil sebuah sya'ir yang menyebutkan bahwa mempelajari sihir bukan untuk diamalkan, tetapi untuk mencari kelemahannya. Menurut penulis, ungkapan Imam al-Zamakhsyāri ini, menjadi salah satu sebab yang membuat Imam al-Rāzi termotivasi untuk melakukan penafsiran maksimal terhadap ayat-ayat tentang sihir.
35 Adapun Syeikh Muhammad Abduh dalam tafsir al-Manār mengingkari keberadaan sihir. Ini ditemukan ketika dia menafsirkan surat al-Falaq pada ayat yang berbunyi, wa min syarr al-naffātsāt fi al-'uqad. Menurutnya, yang dimaksud dengan al-naffātsāt adalah orang- orang yang mengadu domba antar sesama. Merekalah orang-orang yang memutuskan persaudaraan dan tali silaturrahim. Mereka juga membakar semangat dendam di antara kelompopk- kelompok orang yang telah menjalin ikatan persaudaraan. Mereka ini dinamakan al-namīmah. Sedangkan al-namīmah menurutnya merupakan salah satu cabang dari ilmu sihir.
Di samping itu, perbuatan al-namīmah membawa kepada kesesatan, karena orang yang berbuat demikian akan cenderung ingin menyesatkan orang lain. Pengkaburan kebenaran menjadi kesesatan menurut Syeikh Muhammad Abduh adalah perbuatan sihir.
Begitu juga Syeikh Rasyîd Ridha. Sebagai murid Muhammad Abduh, dan banyak memberi komentar dalam tafsir al-Manâr berpendapat bahwa ilmu sihir hanya sebuah kebohongan dan tipu daya belaka. Dia sependapat dengan gurunya Muhammad Abduh dan mengusung pendapat kelompok Muktazilah. Ini ditemukan dalam penafsirannya terhadap surat al-An'ām: 7. Menurutnya, ayat tersebut sangat jelas menerangkan bahwa sihir merupakan perbuatan tipuan dan kebohongan dan tidak dapat memberi manfa'at atau mudharat. Sedangkan terhadap hadis Imam Bukhari yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah tersihir, Rasyid Ridhâ mentakwilkannya. Bahwa Rasul tidak tersihir tetapi pandangan istri-istrinya yang tersihir sehingga melihat Nabi saw seolah-olah melakukan sesuatu padahal beliau tidfak melakukannya. Selain itu, menurutnya perawi hadis tersebut dinilai cacat oleh mayoritas ulama. Ibn Kastīr dalam Tafsīr al-Qurān al-'Azhīm menyatakan bahwa ilmu sihir dapat dipelajari dan nyata keberadaannya. Bahkan seseorang yang mahir sihir dapat merubah sesuatu kepada sesuatu yang lain. Tetapi mempelajari ilmu sihir menurutnya makruh karena hanya akan mendatangkan bahaya.
Al-Marāghi dalam penafsirannya terhadap surat al-Baqarah: 102 menyatakan bahwa para penyihir sanggup melakukan sesuatu yang luar biasa karena menggunakan perantara. Ada yang menggunakan jin dan ada juga yang menggunakan alat-alat yang dibacakan mantera.
Semuanya ini membuktikan bahwa sihir ada dan bisa dipelajari. Hanya terdapat perbedaan ulama dalam hukum mempelajarinya. Imam Fakhr al-Dīn al-Rāzi tampil dengan kitab tafsirnya Mafātih al-Ghaib mewakili kalangan mufassir-mufassir ahl al-sunnah wa al-jamā’ah banyak memberikan kontribusi pemikiran dan perhatian terhadap masalah sihir. Pendapat Imām al- Rāzi tentang kenyataan sihir berbeda dengan mazhab yang dianutnya, yaitu mazhab ahl al- sunnah wa al-jamā’ah. Bahkan, di sisi lain Imām al-Rāzi mewajibkan belajar ilmu sihir, sebagaimana wajib belajar terhadap ilmu-ilmu Agama yang lain. Upayanya ini sangat terlihat