• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II

BAB III: POTRET SANTRI TAH ̠ FIZH AL-QUR’ÂN DI PONDOK

2. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama kali didirikan oleh Almagfurlah DR. K.H. Noer Muhammad Iskandar, SQ3 putra dari salah satu kyai besar Jawa Timur yang berasal dari Banyuwangi yaitu KH. Iskandar, pada bulan Rabiul Awal 1460 H (1 Juli 1985 M). Di atas tanah yang di waqafkan oleh H. Abdul Ghoni Dja’ani (Haji Oon), putra dari KH. Abdul Shiddiq di kawasan Kelurahan Kedoya Selatan, Kebon Jeruk yang saat itu dipenuhi rawa dan sawah.

Pemilihan nama Asshiddiqiyah untuk Pondok Pesantren yang didirikan oleh Almagfurlah KH. Noer Muhammad Iskandar didasarkan pada siddiq gelar yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada khalifah Abu Bakar As-Shidiq atas keberanian dan kejujuran Abu Bakar dalam kehidupan sehari-hari. Jujur yang dimaksud adalah jujur kepada Allah Swt, jujur kepada diri sendiri, dan jujur kepada kedua orang tua, serta jujur kepada setiap tugas dan tanggung jawab yang diemban. Harapan Kyai Noer agar santri-santri lulusan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah dapat mengikuti perilaku baik khalifah Abu

3 Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ adalah pria kelahiran Banyuwangi 5 Juli 1955 dari pasangan Kyai Iskandar dengan Nyai Rabiatun. KH. Noer Muhammad Iskandar memulai pendidikannya di Pesantren Tradisional Jawa Timur untuk kemudian sekolah di Jakarta dan mengembangkan Pondok Pesantren di Kota besar dengan karakter budaya yang berbeda dengan kultur dasarnya. Yang uniknya dari tokoh ini adalah, ia mendirikan sebuah pesantren seperti dalam tradisi “intelektualisasi” santri-santri jawa. Artinya ia tidak saja berhadapan dengan publik atau audiens yang seluruhnya abstrak dan anonim, tetapi juga suatu publik yang konkret yaitu para santrinya sendiri. 13 Desember 2020 merupakan hari yang paling tidak bisa terbayangkan bagi keluarga Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, hari dimana seluruh keluarga Asshiddiqiyah menelan pil pahit ditinggal selama-lamanya oleh orang tua sekaligus guru yang selama ini menemani langkah semua keluarga Pondok Pesantren Asshiddiqiyah untuk setapak demi setapak untuk memperjuangkan bendera agama Allah, dan selangkah demi selangkah berjalan mengenal Allah dan Nabi-Nya. Namun pada hari itu mau tidak mau harus diterima bahwa Allahh ta’ala jauh lebih sayang terhadap ayahanda ketimbang sayangnya kita semua terhadap beliau. “Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Tangerang”, https://www.asshiddiqiyah2.com/index.php/visi-dan-misi/itemlist/tag/asshiddiqiyah?start=8 diakses tanggal 23 Januari 2021

Bakar As-Shidiq, terutama dalam hal tanggung jawab, kejujuran, dan lainnya.

Dalam membangun Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Almagfurlah Kyai Noer menggunakan beberapa cara: yang pertama, diawali dengan membangun sebuah mushola kecil dengan menggunakan triplek.

Modal awal untuk membangun sebuah mushola kecil dan pondok pesantren dari H. Abdul Ghani, putra ketiga dari H. Abdul Ghoni Dja’ani. Seperti kisah sukses pada umumnya Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pun merintis dengan keprihatinan. Namun, dalam keprihatinan tersebut Kyai Noer punya keyakinan yang cukup kuat, bahwa kelak lembaga pendidikan pondok pesantren ini akan bisa maju dan berkembang pesat.

Pada tahun 1986 cara kedua yang ditempuh Kyai Noer dalam mengembangkan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yaitu dengan membuka SMP Manba’ul Ulum Asshiddiqiyah, Madrasah Aliyah Manba’ul Ulum Asshiddiqiyah dan Ma’had ‘Aly Saa’idusshiddiqiyah (Sekolah Tinggi Agama Islam, setara Strata 1) di kawasan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta. Nama Manba’ul ‘Ulum digunakan untuk penamaan Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Nama tersebut diambil dari nama pondok pesantren yang dibangun oleh ayah Kyai Noer yaitu Kyai Iskandar di daerah Sumber Beras, Banyuwangi Jawa Timur.4

Sebelum lembaga pendidikan ini resmi berdiri, Asshiddiqiyah justru mengawali pendidikannya dengan sistem pengajaran Ribathiah, yakni sebuah kholaqah salaf. Para santri Ribathiah ini belajar dan

4 Muhammad Fathulhaj, “Usaha KH. Noer Muhammad Iskandar SQ dalam Pengembanagan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta Tahun 1985-2010”, Skripsi, (Sarjana, Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2017), h. 28

mengaji kepada guru dan Kyai sambil memegang salah satu bidang pekerjaan di pondok itu. Selain itu, juga diadakan pengajian mingguan.

Anak-anak remaja dan pemuda banyak yang tertarik dan ikut ke pengajian itu. Dari bekal santri Ribathiah dan santri mingguan, Kyai Noer mencoba mendirikan lembaga pendidikan formal.

Di awal berdirinya, antusias masyarakat sangat minim. Tampaknya masyarakat untuk masuk dan mengenal Pondok Pesantren Asshiddiqiyah sangat jarang. Meskipun minimnya minat masyarakat terhadap Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kyai Noer tetap berjuang untuk membuka lembaga pendidikan Islam. Murid pertama yang mengikuti lembaga pendidikan Islam berasal dati santri Ribathiah.

Santri pertama berjumlah 30 santri putra dan putri.

Setahun sudah Madrasah Tsanawiyah berjalan. Ternyata kepercayaan masyarakat mulai meningkat, banyak orang berdatangan untuk menyantri di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah. Kepercayaan ini adalah amanat yang Kyai Noer terima dan wajib menjalankannya dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga. Pada tahun kedua Kyai Noer sudah harus membuka Madrasah Aliyah untuk menampung semua santri yang ada di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.5

Dalam usianya yang telah seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka sebelas cabang yang terbesar di beberapa daerah, yaitu: Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat, Kebon Jeruk Jakarta Barat. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II, Batuceper Tangerang Banten. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah III, Cilamaya Karawang Barat. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah IV, Serpong

5Muhammad Fathulhaj, “Usaha KH. Noer Muhammad Iskandar SQ dalam Pengembanagan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta Tahun 1985-2010”, Skripsi, (Sarjana, Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2017), h. 29

Tangerang Banten. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah V, Cijeruk Bogot Jawa Barat. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah VI, Sukabumi Jawa Barat. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah VII, Way Kanan Lampung.

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah VIII, Musi Banyuasin, Palembang Sumatera Selatan. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah IX, Putra Buyut Lampung Tengah. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah X, Cianjur Jawa Barat, 6 dan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah XI, Way Kanan Lampung.

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan untuk mendidik santri agar memperoleh tambahan ilmu pengetahuan agama sebagai bekal nanti dalam kehidupan bermasyarakat. Penataan pendidikan yang diterapkan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah selain untuk menjamin penguasaan materi, pelajaran yang disajikan juga memelihara ketertiban atau kedisiplinan bagi penghuni Pondok Pesantren Asshiddiqiyah dan masyarakat pada umumnya. Hal ini merupakan wujud nyata dari pemuda dan pemudi khususnya para kader-kader pemimpin bangsa, negara, dan agama dalam proses menuntut ilmu di Pondok Pesantren.7

Salah satu cabang dari Pondok Pesantren Asshiddiqiyah adalah Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II yang berada di Batu Ceper Tangerang. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II berdiri pada tahun 1994, pendirinya adalah K.H. Noer Muhammad Iskandar. Serta pimpinan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II adalah KH. Muhammad

6 Eko Purwanto, “Strategi Komunikasi Pemasaran Pondok Pesantren asshiddiqiyah dalam Penerimaan Siswa Baru tahun 2014”, Tesis, (Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana, 2015), h. 85

7Muhammad Fathulhaj, “Usaha KH. Noer Muhammad Iskandar SQ dalam Pengembanagan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta Tahun 1985-2010”, Skripsi, (Sarjana, Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2017), h. 30

Ulil Abshor, Al-Hafidz yang merupakan suami dari anak pertamanya yang bernama Hj. Noor Eka Fatimatuzzahro,8 hingga saat ini.9

Adanya Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II ini karena bagian dari Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama di Kebun Jeruk. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama berdiri dengan jumlah santri yang semakin banyak, akhirnya KH. Noer Muhammad Iskandar mendirikan Pondok Pesantren cabang kedua yang jaraknya tidak terlalu jauh posisinya dari Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yang pertama. Untuk visi, misi, dan tujuannya tidak ada perbedaan hanya sebagai perluasan dari pada Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama. Pemilihan tempat pada Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II di Batuceper ini karena memang Allah saja yang mentakdirkan, dengan cara memberi jalan kepada KH. Noer Muhammad Iskandar. Kemudian pada akhirnya didirikanlah Pondok Pesantren Asshiddiqiyah cabang kedua ini.

Sebenarnya, pada saat itu KH. Noer Muhammad Iskandar sudah menerima tanah wakaf di Serpong yang sekarang sudang menjadi Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Serpong cabang keempat sebelum memilih tanah di Batuceper ini. Tetapi kembali lagi karena jaraknya lebih dekat dengan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama sehingga KH. Noer Muhammad Iskandar lebih memilih lokasi di Batuceper sebagai cabang kedua.10

8 Ibu Nyai Noeer Eka Fatimatuzzahra adalah putri dari pasangan KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ dengan Ibu Nyai Hj. Nur Djazilah. Beliau lahir di Jakarta, 13 April 1998 yang merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Wawancara dengan Atika Lestari, Tangerang, 14 Agustus 2021

9 Naufal fadhlurrohman, “Aktivitas Komunikasi di Pondok Pesantren (Studi Etnografi Komunikasi Mengenai Aktivitas Komunikasi Kyai kepada Santri di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Tangerang)”, Skripsi, (Sarjana, fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia, Bandung, 2019), h. 2

10 Wawancara dengan Ibu Nyai Noor Eka Fatimatuzzahro, Tangerang, 12 Agustus 2021

Dalam kesehariannya, seluruh kegiatan tidak lepas dari komando dari pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II yaitu, KH.

Muhammad Ulil Abshor. Karena hanya beliaulah yang memimpin seluruh kegiatan seperti proses belajar mengajar, salat berjamaah, termasuk alur kegiatan komunikasi. Apapun yang beliau sampaikan, seluruh aspek di dalam Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II pasti mengikuti arahanya.

Santri pun percaya dengan menuruti apa yang diperintahkan Kyai, karena dengan itu akan berbuah kebajikan dan memudahkan penyerapan Ilmu yang disampaikan oleh Kyai. Maka dari itu tokoh sentral dalam kehidupan di Pondok Pesantren ialah keberadaan seorang Kyai yang menjadi sosok pemimpin.11

Sudah 27 Tahun Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II hadir mencetak generasi yang Islami berlandasan Imtaq dan Iptek, berbahasa internasional dan berakhlakul karimah sesuai dengan trilogi Pondok Pesantren Asshiddiqiyah. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II merupakan sekolah dengan sistem Asrama Pondok Pesantren atau Islamic Boarding School yang menghendaki seluruh siswa sebagai santri untuk bermukim dalam lingkungan pesantren bersama para Kyai, pimpinan dewan guru dan santri lainnya dari berbagai daerah dalam suatu sistem kepondok pesantrenan yang menggabungkan antara pendidikan formal dan pendidikan kepesantrenan. Sistem seperti ini unggul soal pola bimbingan dan asuhan serta pengawasan selama 24 jam penuh. Pendidikan dan pengajaran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan menjadi perhatian khusus dalam pendidikan Pondok

11 Naufal fadhlurrohman, “Aktivitas Komunikasi di Pondok Pesantren (Studi Etnografi Komunikasi Mengenai Aktivitas Komunikasi Kyai kepada Santri di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Tangerang)”, Skripsi, (Sarjana, fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia, Bandung, 2019), h. 2

Pesantren Asshiddiqiyah II. Kyai sebagai pengasuh utama bersama Ibu Nyai yang mengambil peran sebagai orang tua, bapak dan ibu serta dibantu oleh para pimpinan dewan guru dan wali-wali asuh.