• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROFIL PONDOK PESANTREN DARUL ‘ULUM DAN

1. Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Darul ‘Ulum

48

berbatasan dengan Desa Rejoso, Kecamatan Peterongan, dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Janti, Kecamatan Jogoroto. Secara umum berdirinya PPDU dibagi menjadi bagian-bagian sesuai dengan perubahan-perubahan struktur dan model kepemimpinan yang ada di PPDU.1

a. Periode Klasik (1885-1937)

Generasi pertama PPDU adalah KH. Tamim Irsyad dan menantunya yang bernama KH. Cholil. Beliau berasal dari Bangkalan, Madura dan merupakan murid dari KH. Syaikhona Cholil Bangkalan, Madura. KH. Tamim Irsyad memiliki niat mantab untuk melakukan syi’ar islam di Dusun Rejoso, Desa Peterongan yang saat itu di tahun 1885 merupakan tempat berkumpulnya orang- orang yang perangainya jauh dari agama islam. Guna mendukung kegiatan belajar, mengaji dan mengajar, maka dibangunlah surau dan pondok pada tahun 1898 dan 1911. Pada masa awal ini ada kurang lebih 200 santri yang berasal dari Jombang, Nganjuk, Mojokerto, Kediri, Surabaya, Madura dan kota-kota lain di Jawa Tengah.

Seiring berjalannya waktu, dan berkembangnya PPDU, maka didatangkanlah KH. Syafawi yang merupakan adik KH.

Cholil dari Demak yang merupakan ahli di bidang ilmu tafsir dan ilmu alat. Belum lama beliau bergabung dengan PPDU, Allah memiliki kehendak lain dengan memanggil beliau keharibaan-Nya pada tahun 1904. Pada tahun 1930 PPDU kembali ditinggal oleh pemrakarsanya yaitu KH. Tamim Irsyad, dan sepeninggal dua kyai tersebut, kelangsungan PPDU diteruskan oleh KH. Cholil dan

1Pondok Pesantren Darul ‘Ulum: Buku saku Pondok Pesantren Darul ‘Ulum, (Jombang: T.p., 2017), h.7-9

dibantu oleh KH. Romly Tamim yang merupakan putra kedua KH.

Tamim Irsyad. Setelah KH. Cholil wafat pada tahun 1937, kepemimpinan PPDU dilanjutkan oleh KH. Romly Tamim dan KH.

Dahlan Cholil yang merupakan putra dari KH. Cholil.2 b. Periode Pertengahan (1937-1958)

KH. Romly Tamim tampil seusai belajar di Tebuireng dibawah asuhan KH. Hasyim Asyari dan berguru kepada KH.

Akhmad Jufri Karangkates Kediri serta KH. Zaid Buntet Cirebon.

Putra kedua Kyai Tamim Irsyad itulah yang kemudian meneruskan tugas dan tanggung jawab ayahnya dalam pengajaran ilmu syari’at.

KH. Dahlan Cholil yang sempat mengenyam pendidikan agama di Makkah usai belajar di Tebuireng menjadi tokoh yang amat disegani karena keilmuannya. KH. Romly Tamim dan KH. Dahlan Cholil kemudian memimpin perkembangan pondok pesantren pada periode 1937-1958. Di tangan kedua tokoh muda inilah, lembaga pendidikan dakwah Islamiyah itu mulai menunjukkan identitasnya. Mereka memberikan nama untuk pesantren ini dengan sebutan Pondok Pesantren Darul ‘Ulum yang berarti rumah ilmu dari yang sebelumnya memiliki identitas sebagai Pondok Njoso.

Penamaan Darul ‘Ulum sejatinya bukan hanya sekedar mengambil nama besar madrasah Darul ‘Ulum yang ada di Makkah, Saudi Arabia, nama yang disematkan lebih dari sekadar penggantian nama, namun mengambil contoh sebagai wadah sarana pendidikan yang mempunyai corak khas di antara pendidikan yang ada pada masa itu yang identik dengan mencetak manusia-manusia muslim yang “tahan banting”, serta tidak mudah terguncang akan

2https://ponpesdarululum.id/periode-klasik-antara-tahun-1885-1937-m/, diakses Selasa, 19 Juli 2022.

bergantinya masa dan model dan tetap erat di sisi Allah walau bagaimanapun keadaannya.

KH. Romly Tamim memegang kebijakan umum pesantren serta ilmu thasawuf dan thareqat Qodiriyah Wannaqsyabandiyah.

Sementara KH. Dahlan Cholil berperan pada kebijakan khusus siasah atau manajemen dan pengajian syariat plus Al-Qur’an. KH.

Ma’soem Cholil yang juga masih keluarga KH. Dahlan Cholil mengemban tugas organisasi sekolah dan manajemen. Sementara adik KH. Romli Tamim, yakni KH. Umar Tamim sebagai pembantu aktif di bidang ketarekatan. Semua tugas tersebut masing-masing dibantu santri-santri senior, seperti KH. Ustman Al Isyaqi yang berasal dari Surabaya dalam praktikum tarekat Qodiriyah Wannaqsyabandiyah.

Pada tahun 1938 M didirikan sekolah klasikal yang pertama di Darul ‘Ulum yang diberi nama madrasah ibtidaiyyah Darul

‘Ulum. Sebagai tindak lanjut sekolah tersebut pada tahun 1949 M didirikan arena belajar untuk para calon pendidik dan dakwah, dengan nama madrasah Mu’allimīn (untuk siswa putra) dan pada tahun 1945 M berdirilah sekolah yang sama bernama Mu’allimāt (untuk siswa putri) yang jika ditotal semuanya memiliki murid sekitar 3000 orang. Pada bagian lain keluarga besar PPDU yakni Jam’iyah tarekat Qodiriyah Wanaqsyabandiyah yang memiliki puluhan ribu pengikut di seluruh pulau jawa hingga pulau sumatera selalu mendatangi PPDU sebagai tempat memperoleh ilmu.

Jam’iyah ini rutin melakukan kegiatan yang lazim dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan Sya’ban, bulan Muharram dan bulan Robiul Akhir di PPDU. Periode pertengahan ini ditutup pada tahun 1958 M, yang ditandai dengan kematian dua tokohnya, yaitu

KH. Dahlan Cholil pada bulan sya’ban, kemudian disusul oleh KH.

Romly Tamim pada bulan Ramadhan 1958 M.3 c. Periode Baru Fase Pertama (1958-1985)

Kesenjangan kepemimpinan terjadi sepeninggal KH. Romly Tamim dan KH. Dahlan Cholil, namun transisi di tahun 1958-1961 sejatinya tidak begitu lama karena ada KH. Bishri Cholil dan KH.

Musta’in Romly yang menjadi motor penggerak baru PPDU. Pada masa ini PPDU banyak mengalami pembaharuan dalam bidang struktur organisasi, bidang pendidikan dan sarana fisik. Bidang struktur organisasi yang sebelumnya hanya berbentuk ketokohan dan tanpa memiliki struktur komando yang jelas diubah dan dijabarkan menjadi empat dewan, yakni; pertama adalah Dewan Kyai, yang berisikan para sesepuh yang ada di PPDU, dewan ini merupakan penentu kebijaksanaan prinsipal di PPDU serta dipimpin oleh KH. Musta’in Romly dan KH. Bishri Cholil. Kedua adalah Dewan Guru, yang merupakan badan pelaksana dalam hal pendidikan yang berisikan guru-guru dan dimpimpin oleh KH.

Musta’in Romly. Ketiga adalah Dewan Harian, yang merupakan pelaksana manajemen kegiatan sosial sehari hari, berisikan santri senior, guru junior dan dipimpin oleh KH. Achmad Badawi Cholil.

Terakhir adalah Dewan Keuangan yang baru dibentuk pada tahun 1986, yang berfungsi untuk menertibkan administrasi keuangan dan ditangani langsung oleh KH. As’ad Umar.

Bidang pendidikan menjadi sorotan utama dari PPDU karena ditengah masyarakat yang haus akan ilmu agama, masyarakat juga mementingkan bagaimana ilmu umum dapat dikuasai, itulah

3https://ponpesdarululum.id/periode-pertengahan-antara-tahun-1937-sampai-1958- m/, diakses Selasa, 19 Juli 2022.

sebabnya PPDU menganut sistem hybrid yang menggabungkan pondok modern dan pondok klasik, sehingga siapa saja yang menjadi santri di PPDU bukan hanya handal dalam ilmu pengetahuan agama yang mengedepankan iman dan taqwa, melainkan cakap juga dalam ilmu umum yang mengedepankan pengetahuan dan teknologi.

Bidang sarana fisik juga menjadi perhatian khusus pada masa ini, hal ini menjadi penting saat semakin banyak santri yang bermukim dan PPDU menjadi pilihan bagi orang-orang yang ingin memperdalam ilmu, Pada 1965 M didirikanlah Universitas Darul Ulum sebagai kelanjutan wadah pendidikan. Universitas ini memiliki enam Fakultas, Alim Ulama (Ushuluddin), Hukum, Sosial-Politik, Pertanian, Ekonomi, serta Ilmu Pendidikan. Di PPDU pusat antara tahun 1959 – 1982 telah pula disempurnakan fasilitas belajar, ibadah maupun asrama tempat tinggal dan semakin berkembang pesat seiring bertambahnya pula santri yang belajar di PPDU.

Pembaharuan dan perubahan yang terjadi pada periode ini diikuti juga dengan tambal sulam kepemimpinan, seperti yang terjadi pada tahun 1969 M sepeninggal KH. Bisri Cholil yang wafat, kedudukan beliau diambil alih oleh adiknya yaitu KH. Sofyan Cholil sebagai partner utama KH. Musta’in Romly. Pada tahun 1978 M KH. Sofyan Cholil wafat, kedudukannya diganti oleh KH. Muh As’ad Umar.4

d. Periode Baru Fase Kedua (1985-1993)

4 https://ponpesdarululum.id/periode-baru-fase-pertama-antara-tahun-1958-1985-m/, diakses Selasa, 19 Juli 2022.

Periode ini merupakan periode kebangkitan dan keemasan PPDU dalam hal pembangunan. Tuntutan masyarakat akan kelayakan dalam penyelenggaraan pendidikan menyebabkan pimpinan Darul ‘Ulum berupaya secara maksimal membangun sarana fisik demi menunjang siswa didik mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Usaha pembangunan fisik bisa dilihat dari penambahan ruang kelas dan perkuliahan, asrama dan ruang penunjang. Pada tahun 1986 dibangun gedung perkuliahan Fakultas Hukum dan Teknik di jombang, pada tahun 1987 gedung Fakultas Tarbiyah di Jl. Rejoso Peterongan, pada tahun 1990 gedung pertemuan UNDAR berdiri dengan kapasitas 2.000 orang.

Sementara di pondok pesantren Darul ‘Ulum selama berturut-turut dibangun gedung SMA Darul ‘Ulum tahun 1986 bersamaan gedung asrama ibnu siena, pada tahun 1987 dibangun SMA putri bersama dengan asrama raden rahmat, pada tahun 1989 dibangun gedung MAN Rejoso 7 lokal di MTsN 5 lokal bersamaan dengan asrama Bani Tamim dan Al-Ghozali. Dan terakhir pada tahun 1992 dibangun gedung Akademi Keperawatan Darul ‘Ulum.

kepemimpinan Darul ‘Ulum pada periode ini tetap menggunakan sistem keluarga, artinya baik di pondok, di universitas maupun di tarekat qodiriyah wannaqsyabandiyah unsur pimpinannya terdiri atas unsur keluarga besar pendiri Darul ‘Ulum yaitu KH. Tamim Irsyad, beliau mempunyai tiga anak, Pertama Nyai Hj. Fatimah istri KH. Cholil, Kedua, KH. Romly Tamim, Ketiga, KH. Umar Tamim. Dari ketiga putra inilah secara tradisional mewarisi kepemimpinan Darul ‘Ulum sampai pada fase kedua, sesuai dengan kemampuan dan keilmuan yang dimiliki. Di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum, kepemimpinan dipegang oleh lembaga

Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul ‘Ulum, di Universitas Darul ‘Ulum dipegang oleh pimpinan Yayasan dan Rektorium, sedangkan di tarekat dipegang oleh Al-Mursyid.5