• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan Pasar Butung

Dalam dokumen disertasi perempuan bugis di ranah bisnis (Halaman 157-163)

BAB I PENDAHULUAN

D. Sejarah Perkembangan Pasar Butung

dikeluarkan untuk menjamin tertatanya pasar ini dengan baik. Surat edaran itu bernomor 15 dan yang menjadi pengesah surat itu adalah W. Fryling. Pokok pengaturannya adalah pendayagunaan lingkungan pasar dengan model penarikan retribusi. Retribusi dalam surat itu di tulis dengan bahasa lokal „sussung pasara‟

dengan pengawasan yang ketat dan penggunaan yang maksimal untuk berbagai kepentingan tata kelola pasar lokal.

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Pulau Buton (kadang disebut Butung), pernah menjadi tempat pelarian Arung Palakka dari kejaran pasukan Sultan Hasanudin. Pelajaran sejarah yang pernah singgah tatkala kecil dulu paling hanya menjabarkan kalau si pangeran berambut panjang ini hanyalah seorang pengkhianat.Ia berlari mencari bantuan VOC dan melawan pahlawan Indonesia. Tapi apakah kita tahu bahwa ternyata buat sebagian orang, khususnya orang Bone dan Buton; Arung Palakka bukanlah sosok jahat, yang seperti didiskreditkan sekarang ini.Alkisah, sekitar tahun 1660, Bone dan Gowa bertikai. Arung Palakka sebagai salah seorang pemimpin Bone tidak bisa menerima perlakuan para bangsawan Gowa yang menindas rakyatnya. perlakuan kerja paksa untuk membangun benteng di perkubuan daerah Makassar jelas membuat rasa siri (harga diri)-nya tercabik-cabik, apalagi setelah para bangsawan Bone juga dipaksa ikut kerja paksa tersebut.Akhirnya bersama Tobala, pemimpin Bone yang ditunjuk oleh Gowa, mereka melakukan perlawanan dengan melarikan orang-orang Bugis dari kerja paksa tersebut.

Sebenarnya para prajurit Gowa hanya mencari Tobala karena dianggap tidak mampu

mengawasi budak dari Bone tersebut. Namun Arung Palakka yang merasa tidak memiliki tempat lagi di bumi yang disebut Belanda Celebes memutuskan pergi saja untuk mencari orang yang dapat menolong mengembalikan siri mereka.

Sebelum ia pergi ke Pulau Jawa, terlebih dahulu ia berlari ke Buton untuk mencari perlindungan Raja Buton X yang waktu itu bernama La Sombata atau lebih dikenal bergelar Sultan Aidul Rahiem.Pada saat pasukan Gowa mencari Arung Palakka hingga ke Buton. Sultan Buton bersumpah bahwa mereka tidak menyembunyikan Arung Palakka di atas pulau mereka.”Apabila kami berbohong, kami rela pulau ini ditutupi oleh air,” ucap Sultan Buton yang diucapkan kembali oleh salah seorang penerusnya. Ternyata sumpah tersebut dianggap sah karena pada kenyataannya Pulau Buton memang tidak pernah tenggelam hingga saat ini. Lalu di mana letak kebenaran sejarah yang menyatakan bahwa benar lokasi yang sekarang dijadikan sebagai salah satu objek wisata sejarah disana, merupakan tempat Arung Palakka bersembunyi?

Ceruk Sistem batuan di daerah Buton bisa jadi merupakan salah satu alasan yang jelas mengenai hal ini. Daerah batuan berkarang dengan ceruk-ceruk kecil di sepanjang bukitnya, sangat menggambarkan kebenaran sejarah tersebut.Pernyataan Sultan Buton pada saat menyembunyikan Arung Palakka dianggap benar. Mereka tidak menyembunyikan Arung Palakka di atas dataran tanah mereka. Namun di antara ceruk-ceruk tersebut. Yang menurut pendapat orang Buton bukanlah sebuah dataran, melainkan goa, yang berada di dalam tanah. Kepintaran bersilat lidah Sultan Buton inilah yang akhirnya menyelamatkan Arung Palakka dari pengejaran pasukan

Gowa.Hal ini juga dibenarkan oleh pemuka adat setempat yang bernama La Ode Hafi‟i. Ia menjelaskan bahwa antara kesultanan Buton dan Bone sejak dahulu memang telah terikat dalam perjanjian sebagai saudara. ”Bone raja di darat, Buton raja di laut”.Hal itu juga yang mendasari mengapa Sultan Buton memutuskan menolong Arung Palakka dan turut membiayai Arung Palakka bersama 400 lebih pengikutnya menuju Batavia. Ceruk bersejarah tersebut kini berada di sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Bau-Bau. Tak sulit mencarinya karena berada tak jauh dari benteng Wolio, yang terletak di daerah paling tinggi di Pulau Buton. Menuju ke ceruk tersebut juga tidak sulit. Hanya daerahnya yang agak terjal membuat kita harus agak berhati-hati melewatinya. Tempat persembunyian Arung Palakka tersebut lebih pantas bila dikatakan ceruk dengan air yang terus menetes-netes dari atapnya.Kemudian ada sedikit daerah yang kini diberi plesteran semen, yang disinyalir sebagai tempat Arung Palakka duduk bersembunyi. Tak bisa kita berdiri tegak di sini, agak bungkuk untuk menghindari bagian tajam yang menghiasi atas ceruk. Namun dapat dipastikan, banyaknya air yang terus menetes dari atas ceruk yang bisa membuat Aru Palakka bisa bertahan lama di sana.

Rumah Adat Hal keberadaan singgahnya Aru Palakka kemudian dikuatkan juga oleh pernyataan ahli waris kesultanan Buton. Keluarga istana yang rumah tinggalnya kini dijadikan rumah adat. Yang bisa didatangi siapa saja untuk menjelaskan keberadaan rakyat Buton, juga tidak menyangkal hal tersebut. Di rumah adat berkamar enam dan berlantai dua itu, juga terpampang foto dan patung Arung Palakka. Ini menandakan memang benar keberpihakan kesultanan Buton pada Arung

Palakka. Bahkan mereka tidak merasa itu sebuah kesalahan, karena memang perjanjian adat yang ada sudah mengikat mereka dengan Bone. Terlepas dari benar tidaknya sejarah tersebut. Satu yang harus dicatat, adalah mengenai tingginya perhatian masyarakat Buton terhadap masa lalunya. Bahkan dengan Arung Palakka yang relatif orang luar Buton (dan dianggap pengkhianat pada masa Orde Baru), mereka tetap mengenang keberadaannya di sana.Lalu timbul pertanyaan, masih tersisakah rasa penghormatan itu pada diri manusia Indonesia pada umumnya kini?

Di tahun 1980an hingga 1990an logika ekonomi Negara adalah pertumbuhan (economic growth). Dalam teori ini, ekonomi diharapkan tumbuh pesat melalui perusahaan raksasa (konglomerat) yang mampu memainkan uang dalam jumlah besar dengan penghasilan atau keuntungan yang besar pula. Untuk mencapai hal itu, maka Negara bertindak sebagai penentu kebijakan yang memudahkan perusahaan- perusahaan pilihan untuk meraup keuntungan. Dari keuntungan yang berhasil diraup itu lalu akan dikumpulkan oleh Negara dan diteteskan ke seluruh pihak yang bernaung di bawahnya dalam hal ini seluruh rakyat Indonesia di mana mayoritas mereka adalah pelaku ekonomi sektor informal. Efek ini, dalam teori ekonomi pertumbuhan adalah „efek menetes‟ atau trickle down effect. Krisis masih terus berlanjut dan pilihan model ekonomi kita belum lepas dari kerangka pasar bebas di mana peran Negara direduksi sedemikian rupa dalam ragam praktek deregulasi, privatisasi, dan hukum permintaan dan penawaran yang tidak berjalan. Pilihan Negara ini buklan tanpa sebab, karena 3 poin kebijakan di atas adalah sebentuk pemaksaan dari aktor di luar Negara dalam hal ini World Bank dan IMF dan aktor

ekonomi Negara lain yang sekian lama menyeret Indonesia ke dalam sistem ekonomi pertumbuhan yang sebenarnya membuat Negara sangat tergantung dari aspek financial yang berimplikasi pada politik.

Sebenarnya, bila merujuk pada 3 model kebijakan di atas, Negara bukanlah kehilangan peran, namun keberpihakannya telah salah sasaran. Deregulasi dan privatisasi adalah sebentuk kebijakan yang menguntungkan pemodal besar. Awalnya mereka harus mengeluarkan anggaran untuk bekerja di Indonesia melalui ragam regulasi, kini mereka hampir tak perlu khawatir dengan bea masuk ke dalam negeri karena deregulasi. Dahulu mereka tak mampu menguasai asset publik, kini pergerakan mereka lebih longgar dalam mengelola asset tersebut melalui privatisasi.

Dan yang lebih parah, Negara begitu percaya bahwa mekanisme penentuan harga akan berlaku sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, padahal dalam kenyataannya, pengusaha besar dapat semena-mena mempermainkan harga sembila bahan pokok di pusat perbelanjaan seperti Hypermarket, Supermarket, dan Mal sebagai penarik minat bagi konsumen dan mengancam banyak pedagang kecil di pasar lokal.

Di saat yang sama, kebijakan pemerintah kota dari periode satu ke periode lainnya terus berpihak kepada „pasar luar‟ atau kerap disebut „pasar moderen‟.

Akibatnya pusat perbelanjaan dan aneka toko moderen mulai dari rumah toko hingga pusat pertokoan dan mal menjamur hingga mengurangi keindahan kota dan yang terparah mengurangi daya tarik pasar lokal yang tidak diperhatikan dengan baik.

Konsumen menengah yang dulu memenuhi pasar Induk Terong, pasar penunjang seperti Pabaeng-baeng, Panampu, Sambung Jawa, dan Pusat Niaga Daya dan berbagai pasar lokal lain di Makassar, kini memilih beralih ke pasar luar. Aneka pasar luar atau moderen ini, semisal Carrefour, Hypermart, Diamond, Giant, dan lain-lain berhasil menawarkan bukan hanya kebutuhan sehari-hari, namun juga memadukan konsep rileksasi melalui aneka fasilitas hiburan dan jasa lainnya dalam satu area. Ditambah lagi berbagai fasilitas sekunder yang menjamin kebersihan lokasi, kenyamanan konsumen, dan gaya hidup..

Untuk itu, keberpihakan Negara dalam hal ini pemerintah kota sangat dibutuhkan. Namun, berbeda dengan keberpihakan ala pemerintah Orde Baru, keberpihakan pemerintah harus ditarik untuk lebih melindungi pedagang kecil dan mikro serta eksistesi pasar lokal sebagai ciri khas kota Makassar melalui penerapan regulasi yang adil, perlakuan yang adil, dan pemberdayaan yang maksimal bagi mereka. Bagi pelaku ekonomi di level menengah, besar, dan raksasa, regulasi tetap akan mengatur mereka sesuai dengan kemampuan mereka dalam bersaing di dunia usaha yang adil dan fair.

Dalam dokumen disertasi perempuan bugis di ranah bisnis (Halaman 157-163)