• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sengketa Pertanahan

Dalam dokumen MANGADIL MASMUR SAMP - Universitas Bosowa (Halaman 44-49)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Sengketa Pertanahan

Menurut Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI) No. 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan, Pengkajian, dan Penanganan Kasus Pertanahan. sengketa tanah atau yang biasa dikatakan sengketa adalah perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, badan hukum, atau lembaga yang tidak berdampak luas secara sosio-politis. Secara singkat, masyarakat umumnya mengenal sengketa merupakan permasalahan kepemilikan antar dua pihak, yang umumnya terjadi karena kedua pihak mengklaim kepemilikan atas suatu tanah.28

Menurut Prof. Boedi Harsono, sengketa tanah adalah sengketa yang diakibatkan oleh dilakukannya perbuatan hukum atau terjadinya peristiwa hukum mengenai suatu bidang tanah tertentu.29

Menurut Kamus Besar Indonesia, Sengketa adalah segala sesuatu yang menyebabkan perbedaan pendapat, pertikaian, dan perbantahan. Sedangkan Konflik adalah percecokan atau perselisihan.

Menurut Rusmadi Murad, Pengertian sengketa tanah atau sengketa hak atas tanah, yaitu timbulnya sengketa hukum yang bermula dari pengaduan suatu pihak (orang atau badan) yang berisi keberatan-keberatan dan tuntutan hak atas tanah, baik terhadap status tanah, prioritas, maupun kepemilikannya dengan harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.30

28 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Indonesia No. 3 Tahun 2011

29 Boedi Harsono, Sengketa-Sengketa Tanah serta Penanggulangannya, Jakarta, Djambatan , 2005, hal. 18.

30 Rusmadi Murad, 1991, Penyelesaian Sengketa Hukum atas Tanah, Jakarta, Alumni, hal. 22

Dalam Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional ( BPN ) Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1999 tentang Tata Cara Penanganan Sengketa Pertanahan juga diatur mengenai istilah sengketa pertanahan. Sengketa pertanahan adalah perbedaan pendapat mengenai:

a. Keabsahan suatu hak;

b. Pemberian hak atas tanah;

c. Pendaftaran atas tanah termasuk peralihan dan penerbitan tanda bukti haknya, antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan instansi di lingkungan Badan Pertanahan Nasional.

Perbedaan pendapat antara pihak yang berkepentingan mengenai keabsahan suatu hak, pemberian hak atas tanah, pendaftaran hak atas tanah, termasuk peralihan dan penerbitan tanda bukti haknya serta pihak yang berkepentingan yang merasa mempunyai hubungan hukum dan pihak lain yang berkepentingan terpengaruh oleh status hukum tanah tersebut.

Suatu sengketa tanah tentu subyeknya tidak hanya satu, namun lebih dari satu, antar individu, kelompok, organisasi bahkan lembaga besar sekalipun seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ataupun negara. Status hukum antara subyek sengketa dengan tanah yang menjadi obyek sengketa bisa berupa pemilik, pemegang hak tanggungan, pembeli, penerima hak, penyewa, pengelola, penggarap, dan sebagainya. Sedangkan objek sengketa tanah meliputi tanah milik perorangan atau badan hukum, tanah aset negara atau pemda, tanah negara, tanah adat dan ulayat, tanah eks hak nasional, tanah perkebunan, serta kepemilikan lainnya.

34

Menurut Suyud Margono, Sengketa biasanya bermula dari suatu situasi dimana ada pihak yang merasa dirugikan oleh pihak lain yang diawali oleh perasaan tidak puas yang bersifat subyektif dan tertutup. Kejadian ini dapat dialami oleh perorangan maupun kelompok. Perasaan tidak puas akan muncul ke permukaan apabila terjadi konflik kepentingan. Proses sengketa terjadi karena tidak adanya titik temu antara pihak-pihak yang bersengketa. Secara potensial, dua pihak yang mempunyai pendirian atau pendapat yang berbeda berpotensi beranjak ke situasi sengketa.31

Hampir di setiap daerah di Indonesia tidak pernah lepas dari sengketa tanah, baik rakyat sesama rakyat, rakyat dengan perusahaan, maupun rakyat dengan pemerintah itu sendiri. Sengketa tanah merupakan salah satu perkara yang paling banyak diajukan ke pengadilan. Masalah tanah yang terjadi di tengah- tengah masyarakat terus mengalami peningkatan dan semakin kompleks, sehingga di pengadilan terjadi ketidak-seimbangan antara masalah yang diajukan dengan proses penyelesaian yang dianggap lambat. Sengketa tanah pada hakikatnya memiliki beberapa sifat, diantaranya; pertama, sengketa tanah bersifat administratif, kedua sengketa tanah bersifat perdata, dan ketiga sengketa tanah bersifat pidana. Sengketa tanah yang bersifat perdata merupakan sengketa yang melibatkan individu dengan individu lain dengan karakteristik yang berbeda dengan sengketa perdata pada umumnya. Di mana masing-masing individu saling menuntut hak dan kewajibannya.32

31 Suyud Margono, 2000, Alternative Dispute Resulution dan Arbitrase, Jakarta, Ghalia Indonesia, hal. 34.

32Kurniati, K., Madiong, B., & Makkawaru, Z. (2021). Analisis Penyelesaian Sengketa Tanah Melalui Jalur Mediasi di Desa Bontomanai Kecamatan Manngarabombang Kabupaten

Ada beberapa jenis penyelesaian sengketa tanah menurut Undang-undang Nomor 30 tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa tanah:

a. Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.

b. Penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui alternatif penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselesaikan dalam pertemuan langsung oleh para pihak dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dan hasilnya dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis.

Di kabupaten Toraja Utara dimana hukum adat masih kental dalam kalangan masyarakat, peranan Tongkonan dibawah pimpinan oleh seorang To Parenge’ masih kuat. Konsekuensi dari hal tersebut di atas yaitu bahwa semua tanah yang termasuk wilayah Tongkonan adalah milik dari Tongkonan yang bersangkutan dan pemanfaatannya diatur oleh To Parenge’. Permasalahan utama dari tanah Tongkonan adalah :33

1. Pertama karena umumnya tanah Tongkonan tidak memiliki sertifikat karena merupakan kepemilikan keluarga Tongkonan secara kolektif.

2. Kedua adalah ketidakjelasan batas-batas tanah Tongkonan.

Takalar. Jurnal Paradigma Administrasi Negara, 3(2), 144–151. Hal. 144

33Abdullah, S., Sultan, S., & Matande, R. S. (2020). Makna kearifan lokal To Parenge dalam penyelesaian konflik lahan di Tana Toraja. Jurnal Sosiologi Dialektika, 13(2), hal. 128

36

3. Ketiga adalah ketidakjelasan mengenai pemilik yang sah

mengakibatkan adanya saling mengklaim atas kepemilikan tanah.

Sebagai seorang pemimpin tentunya To Parenge’ memiliki peran dan tanggungjawab yang besar dalam masyarakat. Masyarakat yang dipandang sebagai arena konflik membutuhkan suatu penanganan apabila terjadi konflik agar tidak meluas. To Parenge’ sebagai pemimpin dalam suatu kelompok mempunyai pengaruh besar untuk memediasi pihak yang berkonflik. Dalam kasus sengketa tanah yang terjadi, To Parenge’ juga memiliki andil dalam menyelesaikan konflik tersebut apalagi sebagai orang yang dituakan To Parenge’ didengar oleh segenap rumpun keluarga terutama mereka yang terlibat dalam konflik.

37

Dalam dokumen MANGADIL MASMUR SAMP - Universitas Bosowa (Halaman 44-49)

Dokumen terkait